Where the world comes to study the Bible

Masalah Hidup Mati

Apakah anda tahu kalau anda membawa senjata mematikan kemanapun anda pergi? Dan tidak mungkin setiap orang memeriksanya setiap kali anda masuk pintu, karena itu merupakan bagian dari tubuh anda. Roh Tuhan membimbing Salomo untuk menulis, “Hidup dan mati dikuasai lidah” (Proverbs 18:21). Itu merupakan pernyataan yang luar biasa! Dan sangat penting untuk kita pikirkan. Yakobus berpikir lidah penuh dengan racun mematikan (James 3:8). Suatu pemikiran yang menakutkan!

Cerita yang terjadi pada suatu keluarga dikomunitas kecil North Dakota community menggambarkan dengan tepat kebenaran ini. Sang ibu kesehatannya tidak baik sejak kelahiran bayi kedua, tapi setiap orang tahu dia telah berusaha semampunya untuk menciptakan suasana kasih dalam rumah. Tetangga bisa melihat sang bapak disambut setiap sore dengan pelukan dan ciuman dari istri dan kedua anak kecilnya. Dimusim panas saat jendela sedang terbuka, mereka bisa mendengar tawa dan sukacita datang dari dalam rumah.

Kemudian satu hari suatu gossip menyebar didaerah itu bahwa sang bapak tidak setia terhadap istrinya, suatu cerita yang tak berdasar sama sekali. Itu disebarkan dari orang ke orang, dan akhirnya sampai ke telinga istrinya. Hal itu lebih dari yang bisa ditanggungnya. Satu sore saat suaminya datang kerumah, tidak ada yang menyambutnya dipintu. Ada keheningan mencekam. Istrinya telah membunuh diri dan kedua anaknya. Dia tenggelam dalam kepedihan. Ketidakbersalahannya terbukti pada setiap orang, tapi lidah gossip sudah melaksanakan tugasnya. Kematian dan hidup dikuasai oleh lidah. Itu penuh dengan racun mematikan.5

Sebagian besar dari kita yang mengenal Tuhan ingin percakapan kita bisa memuliakan Dia. Kita ingin komunikasi kita untuk menyatakan kasih dan kesatuan dalam Tubuh Kristus. Tapi sering kita menggunakan system senjata yang sudah ada untuk mencapai hasil yang berlawanan. Kemudian kita heran kenapa ada banyak konflik diantara umat Tuhan. Suatu penyelidikan Alkitab bisa menolong kita menemukan penangkal bagi racun gosip.

Penyebab Gosip

Walau kata ini tidak menonjol dalam Alkitab, tapi ide gossip nyata diseluruh Alkitab. Hal ini terdapat talebearers, orang yang membisikan informasi merugikan tentang orang lain. Ini juga termasuk, backbiters, orang yang bicara tentang kesalahan orang lain dibelakang orang itu. Ini juga berbicara tentang tukang fitnah, orang yang bicara melawan orang lain, sering dengan keinginan untuk menyakiti mereka. Ini bicara tentang orang yang jahat atau penfitnah. Kita bisa menyimpulkan semua ini dengan satu kata, gossip. Ini suatu kata yang jelek. Anda bisa mendengar hal ini dibisikan saat anda mengatakannya. Ini sangat buruk, setiap orang jarang ada yang mau mengakui pernah melakukannya. Mereka punya perhatian yang benar. Mereka ingin berbagi hal untuk didoakan. Tapi mereka tidak pernah sama sekali bergosip!

Kita mempelajari roh yang kritis, yaitu yang disibukan dengan kesalahan orang lain. Gosip membicarakan kesalahan orang lain dimana mereka tidak bisa melakukan apapun terhadap orang itu, orang yang bukan bagian dari masalah ataupun bagian dari solusi. Dan bicara tentang mereka kepada yang lain adalah gossip, apakah itu rumor atau fakta, benar atau salah. Tuhan berkata, “Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah” (James 4:11). Perintah ini tidak mengatakan apapun tentang benar atau salah. Ini berarti sama sekali tidak bisa diterima bicara melawan orang lain walaupun ceritannya benar.

Bahkan hal ini juga salah walaupun dalam bentuk permintaan doa: “Beroda untuk John. Dia sedang dengan wanita lain.” Atau bicara dihadapan Tuhan dimuka umum, kita berkata, “Tuhan, tolong John. Engkau tahu dia sedang menyeleweng.” Tidak dibenarkan menyebarkan dosa orang lain, membuat mereka jadi buruk, menyatakan hal yang menyebabkan orang lain tidak menyukai mereka, tidak hormat dan tidak percaya lagi. Gosip didaftar bersamaan dengan dosa terkeji yang pernah ada. Dengarkan Paulus mengurutkan dosa yang memuakan:

“penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,” (Romans 1:29,30). Tapi gossip tetap menjadi salah satu favorit orang Kriten dari dulu. Kenapa?

Kita semua ingin orang lain berpikir hal yang baik tentang kita. Jika kita jujur, kita mau mengakui bahwa pengakuan itu berkaitan dengan tingkat penerimaan kita: “Apakah mereka mengetahui siapa saya? Apakah mereka menyukai saya? Apakah mereka menghormati saya? Apakah mereka menganggap saya menarik? Apakah mereka suka apa yang saya pakai? Apakah mereka ingin bersama dengan saya?” Semakin rendah harga diri kita, semakin khawatir kita terhadap hal seperti itu, tapi kita semua pernah memikirkannya.

Dan itulah alasan kita bergosip. Kita ingin membuat diri kita lebih baik dan mendapat penerimaan yang lebih besar. Jika kita mendapat informasi penting yang orang lain tidak dapatkan, itu membuat kita lebih penting, lebih berpengetahuan dan superior. Orang akan mendengarkan kita. Jika kita takut seseorang akan melebihi kita, menggagalkannya menolong kita beralasan bahwa kegagalan kita untuk mencapai apa yang telah mereka capai. Jika kita iri terhadap perhatian atau pengakuan yang mereka dapatkan, menunjukan kesalahan mereka membuat kita terlihat lebih baik melalui perbandingan. Jika seseorang melukai kita, membuat mereka jadi buruk bagi kita merupakan cara adil untuk membalas, menyeimbangkan skor dan memperbaiki harga diri. Itu juga bisa menjadi cara efektif untuk memenangkan orang kesisi kita dalam konflik. Kita berpikir bahwa lebih banyak orang berpihak pada kita menjadikan kita lebih berharga. Hal yang membuat anda lebih kuat, jika anda menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita dalam Kristus dan melihat kita sebagai bagian penting dari timNya dengan peran yang penting untuk dipenuhi. Kita tidak perlu membuat orang lain jadi buruk untuk membentuk rasa penting kita.

Ada alasan lain kita bergosip. Disatu sisi, kita mungkin memiliki teladan yang buruk. Kita tumbuh mendengar orangtua kita bergosip dan kita menjadi percaya bahwa hal itu merupakan hal yang diterima jadi bagian hidup. Kemungkinan lain lagi adalah kita tidak mengembangkan pemikiran kita sehingga tidak ada hal lain yang bisa dibicarakan selain orang lain. Seseorang pernah menyarankan agar orang yang punya pikiran yang hebat bicara tentang ide, yang sedang saja bicara tentang peristiwa, dan yang kurang bicara tentang orang lain. Itu akan menolong mengembangkan pikiran kita.

Paulu mengatakan bahwa kita bergosip karena kita tidak punya hal lain untuk dilakukan. Dia bicara tentang janda muda yang “membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas” (1 Timothy 5:13). Gosip adalah percakapan yang bodoh, terutama menjelekan orang lain. Gosip mereka berkaitan dengan kemalasan dan kecenderungan mereka mencampuri urusan orang lain. Jika mereka menginvestasikan waktu dan tenaga mereka kedalam kegiatan rohani seperti mengunjungi panti, melayani anak, mereka tidak punya waktu untuk membicarakan orang lain. Tapi penyebab gossip tidak sepenting kerusakan yang diakibatkannya.

Akibat Gosip

Kitab Amsal seperti teks book mengenai lidah, dan didalamnya terdapat beberapa akibat menghancurkan dari gossip. Pertama hal ini memisahkan teman. “Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib” (Proverbs 16:28). “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangki perkara, menceraikan sahabat yang karib” (Proverbs 17:9). Kadang gossip dilakukan dengan sengaja dan jahat oleh seseorang yang iri yang sakit hati terhadap teman yang dimiliki orang lain. Jika dia bisa menggali informasi hina apapun, dia bisa menggunakannya untuk memisahkan mereka dan masuk kedalam cela. Dia melihat lebih mudah memenangkan teman dengan menunjukan kebaikan dan ketidakegoisan kepada yang lain. “Saya tidak bermaksud bicara tentang dia, tapi …” “Saya tidak ingin kamu berpikir saya bergosip, tapi …” Dan itulah pisaunya!

Sebaliknya, mungkin tidak ada maksud jahat. Itu hanya bicara biasa, atau usaha menyatakan “hal didalam” Tapi hasilnya tetap sama. Anda mungkin mendengar tentang percakapan dimana Ellen berkata, “Suzie mengatakan pada saya rahasia kamu dimana saya disuruh tidak mengatakannya padamu.” Jane menjawab, “Mulut payah! Saya menyuruhnya untuk tidak mengatakannya padamu.” Ellen menjawab, “Saya mengatakan padanya kalau saya tidak akan mengatakan ini padamu.” Persahabatan ini sudah hancur. Mereka tidak bisa saling percaya lagi. “Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara” (Proverbs 11:13).

Kita menghilangkan teman dekat kita melalui gosip. Mereka mulai mencurigai bahwa jika kita membicarakan orang lain pada pada mereka, kita juga bisa membicarakan mereka pada orang lain, jadi mereka tidak mau membagikan isi hati mereka pada kita. Dan jika kita memang membicarakan mereka, anda bisa yakin itu akan terdengar oleh mereka, biasanya dilebih-lebihkan. Dan tidak peduli betapa besar kita memprotesnya, persahabatan itu sudah mengalami kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Proverbs 18:21). Jika kita menggunakan lidah kita untuk kebaikan, kita akan menuai kebaikan juga. Jika kita menggunakannya untuk menangkap bayangan, bayangan itu akan menimpa kita.

Akibat lain adalah gossip melukai orang. “Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati” (Proverbs 18:8). Apa yang anda rasakan saat menemukan orang lain sedang membicarakan hal yang tidak baik tentang anda? Mereka mungkin menikmatinya seperti sedap-sedapan, tapi itu melukai anda bukan? Dan sakitnya mencapai kelubuk hati. Walau kita tahu Tuhan ingin kita mengampuni mereka, kita biasanya bimbang, khawatir, jengkel karena itu, merasa bersalah dan marah terhadap mereka. Kadang itu mulai mempengaruhi kemampuan anda berfungsi secara baik. Dan itu memerlukan waktu lama untuk sembuh. Pikir lagi jika disaat berikut anda merasa ingin membagikan sesuatu tentang orang lain. Apakah hal itu juga kalau dikatakan tentang anda bisa anda terima, walaupun itu benar sekalipun?

Gosip tidak hanya melukai, tapi juga menghancurkan. Saya memiliki teman seorang pastor, diakhir 60 tahunnya, dia meletakan tangannya diatas pundak misionaris wanita yang masih single yang baru pulang dari ladang. Beberapa teman lama dalam gereja melihatnya dan hampir mengakhiri pelayanannya. Satu lagi teman pastor saya yang begitu dalam persekutuannya dengan Tuhan dipaksa mengundurkan diri karena adanya kecurigaan dan keraguan akan kemampuannya, bahkan sampai meragukan kewarasannya. Pelayanan telah dihancurkan oleh orang lain dalam pelayanan yang mengira mengenal temannya, tapi salah mengartikannya secara umum dan menyerang secara pribadi. Betapa hal itu mendukakan hati Tuhan!

Gosip menghasut kemarahan. “Angin utara membawa hujan, bicara secara rahasia muka marah” (Proverbs 25:23). Beberapa orang yang paling pemarah yang pernah saya ajak bicara menjadi korban gossip. Mereka jadi murka. Hasil dari kemarahan mereka adalah dosa, dan mereka perlu menyelesaikannya. Tapi orang yang mengatakannya harus tetap mempertanggung jawabkan ketidaktaatannya terhadap Firman Tuhan.

Apakah anda pernah melihat selang air yang tak terkendali? Itu terlempar-lempar, menabrak benda-benda dan membasahi orang didekatnya. Orang-orang itu kemudian tidak begitu senang dengan anda bukankah begitu? Lidah yang terlempar-lempar, menyemburkan gossip, memiliki akibat yang lebih buruk. Suami dan istri telah membuat keluarga dan teman marah terhadap saudaranya melalui pembicaraan tentang kesalahan. Seseorang yang sudah mendengar kekotoran itu tidak bisa melupakannya dan menerima gossip yang dinyatakan. Kemarahan hidup terus.

Itu membawa pada akibat gossip yang terakhir. Itu menyebabkan perselisihan. “Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran” (Proverbs 26:20). Kita semua mengetahui banyak gereja yang hancur karena perselisihan. Tapi ada satu hal dimana perselisihan bisa tidak muncul jika orang berhenti bergosip. “Apakah kamu tahu apa katanya? Sini saya katakan apa pendapat saya tentangnya. Jika saja dia menyelesaikan tugas itu, semua akan baik-baik saja. Apakah kamu tahu apa yang dikejar dewan sekarang?” Blah, blah, blah! Pembicaraan yang bodoh. Tapi ini seperti kayu yang sedang terbakar. Itu membuat orang tergerak, dan mereka membuat orang lain juga tergerak, dan yang mulanya hanya api kecil menjadi amukan api.

Yakobus memberitahu kita dimana api kecil itu datang. Dia berkata, “Itu dinyalakan oleh api neraka” (James 3:6). Dan setan pasti tertawa melihatnya. Gosip adalah permainannya. Iblis menamakannya “fitnah”. Dan dia disebut “pendakwa saudara-saudara kita” (Revelation 12:10). Tapi Tuhan membenci hal ini. Dia mengatakan bahwa orang yang menyebarkan perselisihan diantara saudara merupakan kejijikan bagiNya (Proverbs 6:16-19). Jadi apa yang harus kita lakukan?

Penyembuh Gosip

Usulan pertama untuk menghilangkan gossip dari pembicaraan kita adalah mentaati perintah Kristus dan berhadapan langsung dengan orang itu. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Matthew 18:15). Tuhan ingin kita menegur mereka yang bersalah. Jika seseorang melakukan sesuatu yang menyerang kita, bersalah, mengambil kesempatan atau mengagalkan kita dengan cara apapun, atau jika kita mengetahui ada dosa yang serius yang telah dilakukan, kita harus bicara langsung pada orang itu. Jangan kepada orang lain! Hanya kepada dia. Jika hal itu kecil, mungkin kita langsung mengampuninya dan melupakannya. Tapi jika itu penting, kita harus bicara langsung padanya lebih dulu. Dan jika tidak begitu penting sampai harus bicara langsung padanya, maka jelas hal ini tidak bisa dikatakan pada orang lain.

Saya pernah bertanya pada beberapa orang apakah mereka pernah menegur orang yang menyerang mereka, “Ya, dan tidak ada bedanya.” Jadi mereka merasa dibenarkan untuk mengatakan pada orang lain. Tapi ada langkah kedua yang Tuhan berikan, dan bukannya menyebarkan hal itu diantara teman kita. “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan” (v. 16). Apakah anda melakukan itu?

Kemudian ada langkah berikutnya lagi. “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” (v. 17). Apakah anda sudah melakukannya? Dalam prosedur ini tidak pernah dikatakan, “OK, sekarang kamu bisa menyebarkannya kesemua temanmu.” Itu bukan pilihan yang Alkitabiah! Dan hal yang konsisten dengan Alkitab dalam menyelesaikan masalah.

Usulan kedua dalam menghilangkan gossip adalah menolak mendengarnya. “Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut” (Proverbs 20:19). Jika kita semua mau mengikuti saran ini, gossip tidak bisa menancapkan racunnya. Saat Mrs. Motormouth memanggil temannya dan mulai mengeluarkan kekotoran tentang Gracie Gadabout, temannya sebaiknya berkata, “Itu akan lebih baik jika kamu bicarakan langsung dengan Gracie. Saya tidak nyaman dengan informasi itu.” Dia akan memanggil temannya dan mencoba lagi. Tapi jika dia mendapat respon yang sama sampai 4-5 kali, dia bisa menghilangkan kebiasaan ini atau mencari gereja baru. Demikian juga, gereja itu bisa terhindar kalau melakukan hal yang sama.

Sangat sulit untuk tidak mendengar saat seseorang memberikan kita informasi kelas tinggi dan sangat rahasia. Itu membuat kita merasa penting karena mereka memilih mengatakannya pada kita. Natur dosa kita yang lama mendorong kita untuk melakukannya dan menyimpannya agar suatu hari bisa digunakan untuk meningkatkan derajat kita. Tapi baik pendengar maupun yang mengatakan sama bersalahnya. Orang bicara karena ada yang mendengar. Jika tidak ada yang mendengar, gossip akan hilang.

Usulan ketiga untuk mengatasi gossip adalah lebih terbuka terhadap kelemahan anda. Kita senang menyimpan kelemahan kita untuk menjaga image. Jika kita tidak sedang rukun dengan pasangan, atau salah satu anak lari dari rumah, atau kita kesulitan dalam pekerjaan, kita tidak ingin orang lain mengetahuinya karena itu bisa menghancurkan reputasi kita sebagai orang Kristen yang baik. Tapi rahasia kita tidak hanya menghalangi penyembuhan yang bisa dilakukan anggota Tubuh yang lain, tapi juga menyediakan tempat bagi rumor. Jika kita secara terbuka membagikan masalah dan secara pribadi meminta dukungan doa dari orang percaya lainnya, kita akan sangat tertolong, dan misteri yang merupakan makanan gossip akan lenyap. Tidak ada alasan untuk gossip jika semua orang sudah mengetahuinya.

Tuhan ingin saya terbuka terhadap kelemahan, dan anda juga terbuka terhadap kelemahan anda. Tapi itu berhenti disana. Dia tidak ingin saya terbuka terhadap kelemahan anda, dan anda terbuka terhadap kelemahan saya. Keterbukaan itu sendiri bisa menjadi gossip saat kita salah menggunakannya. Anda sudah mendengar tentang 3 pengkhotbah diperahu mincing. Mereka memutuskan untuk jujur satu sama lain tentang dosa rahasia mereka. Pendeta pertama berkata dia suka berjudi saat pergi dari rumah. Orang kedua berkata dia suka meneguk minuman keras saat orang lain tidak melihat. “Kamu sendiri apa?” mereka bertanya pada orang ketiga. “Saya suka bergosip” jawabnya, “dan saya sudah tidak sabar untuk pergi dari sini.” Itu bukan jenis keterbukaan yang kita bicarakan. Mari kita terbuka terhadap kelemahan kita sendiri.

Usulan keempat adalah belajar mengasihi. Kita belajar hal itu dari kasih Tuhan kepada kita (cf. 1 John 4:19). Dan saat kita sudah belajar, kita tidak akan bergosip lagi. “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran” (Proverbs 10:12). Hal ini dipinjam Petrus saat berkata, “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” (1 Peter 4:8). Hal terburuk dari gossip adalah itu sama sekali tidak mengasihi. Kita tidak menunjukan kasih pada orang yang kita bicarakan. Kita menghancurkannya dihadapan orang lain, dimana kasih seharunya membangun (cf. 1 Corinthians 8:1).

Sebelum kita membuka mulut kita lebih dulu bertanya, “Apakah ini akan membangun orang lain? Apakah ini akan membangun kepercayaan? Apakah ini akan membangun kasih?” Jika tidak, lebih baik tidak dikatakan. Ada banyak hal yang sudah saya katakan, yang saya harap bisa saya tarik kembali. Tapi sudah terlambat! Perkataan yang tidak dipikir, tidak kasih tidak bisa ditarik kembali. Belajarlah mengasihi!

Ada satu usulan lagi, yang paling jelas dan penting, tapi kurang digunakan. Minta Tuhan menolong menjaga lidah anda. Pemazmur berkata. “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku” (Psalm 19:14). “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Psalm 141:3). Tuhan senang menolong orang yang dengan rendah hati mengakui kebutuhan mereka dan meminta pertolonganNya. Maukah anda mencobanya? Dia akan menolong anda menaklukan kebiasaan gossip anda.


5 Our Daily Bread, October 18, 1980.

Related Topics: Man (Anthropology), Basics for Christians, Christian Home