Where the world comes to study the Bible

Hal Terpenting

Apakah tidak indah jika tidak ada yang mengkritik anda, tidak pernah menyalahkan anda, memojokan kelemahan kita, atau mengingatkan kesalahan kita? Sebagian besar dari kita akan sangat senang hidup tanpa kritik negative. Tapi kita tidak mungkin begitu! Kita tidak sempurna, dan disuatu saat, seseorang pasti akan menyalahkan kita. Saya tahu kalau Tuhan berkata bahwa mereka sebenarnya tidak bisa menghakimi kita, tapi mereka mungkin tidak peduli apa kata Tuhan. Mereka akan melakukannya juga. Kamudian, mungkin ada wilayah dimana kita perlu dinasehati. Pertanyaannya, bagaimana kita meresponnya?

Musa adalah seorang manusia yang mendapat kritik. Dia baru ingin melakukan apa yang Tuhan inginkan, tapi orang-orang terus cerewet padanya. Saya menghitung 6 peristiwa terpisah yang ditulis dalam Alkitab saat Israel mengeluh terhadapnya. Kata mengeluh berarti “menyatakan kemarahan, tidak puas, dan keluhan melalui nada yang tidak enak …”4 Dengan kata lain, itu artinya kritik. Saya tidak mengetahui ada orang selain Yesus Kristus yang merasakan kritik yang lebih tajam daripada Musa. Dia tidak sempurna dalam menanganinya, tapi dia jelas lebih baik dari kita, dan kita bisa belajar dari teladannya.

Apa yang kita perlukan adalah suatu rencana, suatu prosedur yang dengan seksama dipikirkan sebelumnya dimana kita bisa ingat dan menjalankannya saat kritik menyerang. Mungkin kata PLAN sendiri bisa menjadi kunci mengingat prinsip yang dinyatakan dalam hidup Musa:

P—Pray (Doa)
L—Listen and learn (Mendengar dan Belajar)
A—Answer positively (Menjawab Secara Positif)
N—Note the critic’s needs (Perhatikan kebutuhan yang mengkritik)

Pray (Doa)

Apa reaksi pertama anda saat orang yang bicara dengan anda sebenarnya mencari-cari kesalahan? Jika anda manusia normal, reaksi anda sama dengan saya—membela diri. Itu sealami menutup mata saat seseorang tak sengaja mencolokan jarinya, atau menjauh saat seseorang memegang pisau dan membahayakan anda. Kritik itu sakit; itu mengiris roh kita dan kita otomatis tersentak mundur darinya.

Musa juga sama tidak sukanya dengan kita, tapi dia kelihatannya belajar bereaksi dengan berbeda. Daripada membela diri, dia mengembangkan kebiasaan menghadap Tuhan dalam doa. Itu kelihatan sudah menjadi respon otomatis. Kita melihat hal ini pertama kali di Marah. Umat Israel telah menyebrangi Laut Merah dan menyanyikan lagu keselamatan. Kemudian kita membaca, “Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?” (Exodus 15:23,24). Saya mungkin menjawab, “Hey, jangan salahkan saya. Bukan saya yang membuat air itu pahit. Setidaknya kamu sudah tidak lagi dipecut oleh Mesir. Hitung berkatmu.” Musa tidak melakukan itu. Sebaliknya kita membaca, “Musa berseru-seru kepada TUHAN …” (Exodus 15:25a). Pikirannya ada pada Tuhan, jadi respon pertamanya adalah berdoa.

Kita melihat pola yang sama terus berulang dalam kehidupan Musa. Dikejadian berikut dia bersujud dihadapan Tuhan dalam doa (cf. Numbers 14:5; 16:4). Dia dengan rendah hati menyerahkan diri kepada Tuhan. Dia menyadari bahwa ketika dia berusaha melakukan kehendak Tuhan, dan orang-orang mengkritik dia karena itu, itu masalah Tuhan, bukan dia. Jadi dia menghadap Tuhan untuk hikmat.

Dia bahkan mengatakan jika dia dikritik dikemudian hari itu masalah Tuhan. Tempatnya disebutkan dengan tepat yaitu belantara Dosa. Kali ini mereka memarahi dia karena tidak ada makanan: “…Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan” (Exodus 16:3). Ouch! Itu sakit. Betapa sengit dan menyayat hal itu, dan mereka jelas mengetahui kalau itu tidak benar. Kita mungkin akan mengatakan pada mereka betapa bodoh tuduhan mereka. Tapi Musa menyerahkannya pada Tuhan. “…karena TUHAN telah mendengar sungut-sungutmu yang kamu sungut-sungutkan kepada-Nya--apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN!” (Exodus 16:8b). Pada dasarnya dia berkata, “Kita bukan siapa-siapa. Keluhanmu itu bukan pada kita. Tapi Tuhan. Dia yang mengatur keadaannya.”

Baiklah kita menyerahkan situasinya pada Tuhan dan secara langsung menghadapNya dalam doa saat kritik menghantam kita, seperti yang Musa lakukan. Kita bisa percaya bahwa Dia yang mengatur apa yang akan terjadi, bahkan penghinaan yang akan kita alami saat itu, dan kita bisa menyerahkannya dalam doa. Kita bisa meminta Dia menolong kita dengan mendengarkan, untuk bisa peka terhadap keinginanNya, untuk mengatur kemarahan kita, untuk berespon secara positif dan sensitive terhadap kebutuhan yang mengkritik. Kita bahkan bisa berdoa agar Tuhan memberkati orang yang mengkritik. Yesus menyuruh kita melakukan itu. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matthew 5:44).

Musa melakukan itu! Di Kadesh Barnea setelah 10 mata-mata kembali membawa berita putus asa, kritik datang lagi. “Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: "Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!” (Numbers 14:2). Mereka bahkan mengancam membakar Musa, memilih kapten baru dan kembali ke Mesir. Kali ini Tuhan sangat marah kepada mereka. Dia ingin memusnahkan semuanya dan menjadikan Musa bangsa yang terbesar dan hebat. Tapi Musa berdoa, “Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari” (Numbers 14:19). Dan Tuhan mengampuni. Suatu teladan bagi kita!

Ada satu kejadian dimana Musa berdoa untuk orang yang mengkritik dia, dan kali ini mereka anggota keluarganya sendiri. Harun dan Miriam mengkritik Musa karena dia mengambil seorang Cushite menjadi istri dank arena merasa berlebihan merasa berkuasa. Tuhan menghajar Miriam dengan kusta karena roh tidak taatnya. Seseorang bisa berkata, “Itu bagus. Sekarang kita tahu siapa yang berkuasa disini.” Tapi Musa tidak begitu. Dia menghadap Tuhan dan berdoa untuk kesembuhannya (Numbers 12). Prilaku seperti itu bisa membawa harmoni dan menguatkan hubungan kita, bahkan dengan orang yang mengkritik kita.

Kita perlu belajar menjaga pikiran kita pada Tuhan. Kemudian saat kritik mencoba menggunakan hal itu pada kita. Reaksi pertama kita adalah bicara padaNya daripada membela diri. Dan itu akan meredakan situasi yang bisa meledak. Hal pertama yang perlu kita lakukan, dan yang paling penting adalah berdoa!

Listen and Learn (Dengar dan Belajar)

Tidak mudah mendengar saat seseorang memotong kita dengan kata-kata pedas, atau saat mereka memberikan kita teguran yang pedas. Sebelum kalimat pertama mereka selesai, sebagian besar dari kita sudah berpikir betapa salah mereka tentang kita, dan alasan yang baik melakukannya. Kita sudah membuat jawaban sebelum mereka selesai berkata-kata, dan kita mungkin memotong mereka untuk membela diri, yang kenyataannya bukan ide yang baik. Salomo berkata, “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya” (Proverbs 18:13).

Orang yang mengkritik mungkin sudah memikirkan masalah itu. Dia tahu tidak akan enak mengatakannya pada kita, tapi dia peduli pada kita untuk menahan ketidak enakan itu agar kita tertolong. Dia tahu itu bisa menimbulkan permusuhan, tapi dia perduli sehingga mengambil kesempatan itu. Itu sebenarnya suatu kehormatan. Walau dia bersalah karena emosinya, dia mungkin sudah menetapkan dalampikiran sebelum melakukannya. Jadi dengar dan belajar! Seperti Salomo peringatkan pada kita, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik” (Proverbs 27:6).

Musa mendengar dan belajar. Saat mertuanya mengkritik cara dia menghakimi orang-orang dan menyarankan cara lain, kita membaca, “Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya” (Exodus 18:24). Kita bisa melakukan hal yang sama. Biarkan mereka selesai bicara. Memotongnya hanya menghalangi kita mendengar apa kata hatinya. Perhatikan apa yang dia katakan. Saat sudah selesai, pastikan apakah dia sudah mengatakan semuanya sebelum menjawab. Anda bisa berkata, “Apakah ada hal lain yang ingin dibagikan pada saya?” atau, “Saya tidak sadari itu. Bisakah anda mengatakan kenapa anda merasa seperti itu?” Komunikasikan dengan lembut dan jujur bahwa anda tertarik mendengar perkataannya.

Penting menyadari bahwa pengalaman ini bukan kebetulan, apapun itu. Bahkan saat kritik tidak dibenarkan pun, Tuhan tetap mengatur keadaan kita. Dia tahu apa yang akan terjadi, dan dia bisa menghentikannya jika itu kehendakNya. Tapi Dia mengijinkannya, dan Dia berjanji mendatangkan tujuan yang baik melaluinya (cf. Romans 8:28). Jadi lihat itu sebagai kesempatan belajar. Itu mungkin cara Tuhan mendapat perhatian kita dan menunjukan kita sesuatu yang kita tidak ingin akui—suatu kebiasaan membela diri atau kebiasaan yang bisa menyebabkan orang lain tersandung.

Orang lain bisa melihat hal yang kita tidak bisa lihat. Anggota keluarga kita secara khusus ahli dalam melihat kesalahan. Dan sesulit apapun kita mendengarnya dari mereka, dengar dan belajar. Penghargaan membuat kita bahagia, tapi kritik menolong kita bertumbuh. Sayangnya, beberapa dari kita memilih dihancurkan oleh pujian daripada dikuatkan melalui kritik. Tapi jika orang sehebat Musa bisa belajar dan bertumbuh melalui kritik, kita juga pasti bisa.

Answer Positively (Menjawab secara Positif)

Sampai sekarang kita bicara tentang apa yang terjadi dalam jiwa kita, pikiran dan prilaku kita—doa, suatu keinginan untuk mendengar dan belajar. Tapi sekarang saatnya berespon, dan Tuhan ingin kita menjawab secara positif. Artinya, yang terutama, kita menjawab dengan lembut dan tenang. Seperti kata Amsal, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman” (Proverbs 15:1). Jika yang mengkritik marah dan bermusuhan, roh yang lemah lembut bisa digunakan Tuhan untuk menenangkan dia dan membuat seluruh diskusi lebih menguntungkan. Jawaban yang marah dan menghina sangat negative; itu menyulut api dan membuat komunikasi yang menguntungkan tidak mungkin terjadi. Jawaban yang lemah lembut merupakan respon yang positif.

Kita mengingat roh lemah lembut Musa dalam salah satu serangan yang dialaminya, yaitu dari saudaranya, Harun dan Miriam. Setelah kemarahan dan tuduhan mereka dan sebelum kita belajar disiplin Tuhan, Roh Kudus memasukan kata-kata ini: “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (Numbers 12:3). Jadi ikuti teladan Musa. Jaga kelemah lembutan dan roh rendah hati.

Elemen kedua dalam respon secara positif adalah pastikan anda mengerti apa yang dia katakan. Banyak sakit hati dirasakan orang percaya karena orang lain berasumsi mereka mengerti apa yang dikatakan padahal sebenarnya tidak. Kadang kata-katanya kurang dipilih, atau dalam kemarahan terlalu ditekankan dan berlebihan. Lebih baik berkata seperti ini, “Apakah yang anda katakan adalah ________. Apakah saya sudah menangkapnya dengan tepat?” Berikan dia kesempatan mengklarifikasi. Ulangi kedua kali untuk menolong dia menyatakannya lebih lembut dan kurang marah. Orang yang menghadapi keluhan lewat telepon diajarkan untuk secara sopan meminta pelanggan mengulangi keluhannya. Hal itu bisa lebih jelas dan lembut untuk kedua kalinya. Dengan tulus minta klarifikasi merupakan cara positif dalam menjawab.

Sekarang kita mengerti apa yang tidak disukain pengkritik dari kita, dan kita harus melakukan evaluasi diri yang jujur dan objektif. Allah yang Maha Kuasa mengijinkan manusia menyatakan apa yang ditangkap sebagai kesalahan. Kita tidak bisa menganggap remah hal itu. Faktor ketiga dalam menjawab secara positif adalah menemukan kebenaran dalam apa yang telah dikatakan dan menyetujui semua yang bisa kita setujui. Yesus berkata, “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan” (Matthew 5:25, KJV). Setuju dengan pengkritik bisa menumpulkan ketajaman semangatnya.

Kebanyakan dari kita tidak ingin mengakui kesalahan. Kita berpikir begitu rupa sehingga kita mengakui kalau kita salah jika menyerahkan harga diri kita. Kita percaya orang akan merendahkan kita. Kita ingin menyapunya kebawah lantai dan melupakannya. Sangat menyakitkan untuk mengakui kesalahan. Tapi akibat kalau mengakuinya adalah menyegarkan, kita tidak bisa tidak. Tidak ada yang bisa lebih mengembalikan harmoni dan menyembukan hubungan secara efektif daripada mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Jika ada kebenaran didalamnya, akui itu. Pengkritik berkata, “Kerjamu jelek sekali!” Anda bisa menjawab, “Saya tahu bisa melakukannya lebih baik.” Pengkritik berkata, “Kamu hanya memikirkan diri sendiri.” Anda bisa menjawab, “Saya akui memiliki keegoisan.” Itu semua merupakan jawaban positif yang menjinakan ledakan serangan.

Kadang secara jujur kita tidak bisa melihat bahwa kritik cukup disitu. Daripada membela diri, lebih baik berkata, “Saya menghargai peringatan anda. Saya memerlukan waktu untuk berpikir.” Kemudian lakukan itu. Pikirkan itu. Minta Tuhan menunjukan kebenaran didalamnya. Kemudian kembali dan akui itu kepada orang yang menyatakan kritik. Jarang sekali kita bisa begitu sempurna sehingga tidak bisa menemukan kebenaran dalam setiap kritik yang dilontarkan kepada kita. Itu pasti ada! Temukan, dan akui.

Respin positif keempat adalah meminta pertolongan orang yang mengkritik untuk mencari solusi masalah atau cara mengkoreksi kelemahan. Tanyakan, “Menurut anda apa yang harus saya lakukan?” Itu bisa menghancurkan batasan dan mendekatkan kita, daripada saling berdebat dan membela diri. Menemukan jalur tindakan yang disetujui bersama bisa menjadi tujuan yang menolong kita mengatasi perbedaan kita.

Ada saatnya dimana kritik sama sekali salah. Itu didasarkan atas kabar angina, pendapat kedua, dugaan. Kita harus memikirkan itu, mengaplikasikan Firman Tuhan kedalam hidup kita, dan minta Tuhan menunjukan kita kebenaran didalamnya. Tapi kita tetap menganggap itu salah. Kita sekarang memiliki 2 pilihan. Kita kembali dan berkata seperti ini, “ Anda salah, dan biar saya katakan sesuatu tentang anda, anda tidak sehebat itu.” Tapi membalas seperti itu hanya akan menambah permusuhan. Akan lebih positif dan menolong jika dengan kasih dan baik menjelaskan tanpa permusuhan atau menuduh kalau kita sudah menyelidiki hati dihadapan Tuhan dan tidak bisa mengakuinya. Kita bisa menambahkan, “Saya menyesal anda merasa demikian, tapi saya harap itu tidak mempengaruhi hubungan kita.” Kemudian kita bisa berdoa agar Tuhan menolong mereka melihat kebenaran dan menyatukan kita.

Perhatikan Kebutuhan Orang yang Mengkritik

Kadang orang yang mengkritik kita memiliki masalah yang lebih dalam dari yang dia tuduhkan. Permusuhan mereka bisa merupakan topeng untuk menyembunyikan kesalahan mereka, atau tangisan terselubung minta pertolongan. Itu bisa keluar dari ketidakamanan mereka, atau kenyataan bahwa mereka tidak menyukai diri mereka sendiri. Melalui kasih karuni Tuhan, kita bisa melihat hal itu. Itu tidak mendatangkan keuntungan sedikitpun bagi mereka dalam membuktikan kalau kita benar dan mereka salah. Hal yang terbesar adalah menunjukan pengampunan, kesabaran, pengertian dan penerimaan. Tuhan ingin kita menjangkau dengan kasih kedalam kebutuhan mereka.

Ada contoh yang indah dalam pengalaman Musa. Saat Korah dan sekitar 250 lebih pangeran di Israel mengkritik Musa terlalu berotoritas, Tuhan mengambil hidup mereka dalam peristiwa disiplin ilahi yang luar biasa (Numbers 16:1-40). Tapi kemudian bangsa itu mengkritik dia lagi. “Tetapi pada keesokan harinya bersungut-sungutlah segenap umat Israel kepada Musa dan Harun, kata mereka: "Kamu telah membunuh umat TUHAN."” (Numbers 16:41). Tuhan sudah cukup dengan itu. “Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah dari tengah-tengah umat ini, supaya Kuhancurkan mereka dalam sekejap mata." Lalu sujudlah mereka’” (Numbers 16:44,45). Saya pikir Musa akan berkata, “Lakukan saja Tuhan.” Itu mungkin yang kita lakukan. Sebaliknya dia meminta Harun ke Tabernakel dan mengorbankan korban penebusan dosa bagi mereka, dan Alkitab mencatat tulah itu berhenti (Numbers 16:48). Inilah manusia yang melihat kritik dan kebutuhan yang mengkritik, kemudian menjangkau dengan aksih untuk melayani kebutuhan mereka.

Saat seseorang mengkritik kita, itu saat yang baik bertanya pada diri sendiri, “Apa yang terjadi dalam hidupnya sehingga dia melontarkan kritik ini? Sakit hati apa yang dirasakannya? Apa kebutuhan yang belum terpenuhi? Bagaimana saya bisa menunjukan bahwa saya peduli terhadapnya?” Itu tidak mudah dilakukan saat seseorang mengiris kita dengan perkataannya. Itu butuh kasih karunia. Tapi bukankah itu yang dijanjikan Tuhan? Dia Allah sumber segala kasih karunia (1 Peter 5:10). Kasih karuniaNya cukup untuk seluruh kebutuhan kita (2 Corinthians 12:9). Jika kita menjadi saluran kasih karunia Tuhan, Dia bisa menggunakan kita untuk membuat hidup orang lain lebih efektif dalam melayaniNya.

Setan bisa menggunakan kritik untuk mematahkan semangat kita dan mengganggu kita dalam melakukan kehendak Tuhan. Jika setiap kali kita mencoba melakukan sesuatu, seseorang menembak kita, kita cenderung berkata, “Cukup sudah, saya berhenti.” Jangan lakukan itu. Nilai kembali arahmu. Jika Tuhan membimbing anda, tetap maju. Jangan biarkan kritik dari orang kecil menghalangi anda dari komitmen anda.

Saya membaca cerita seorang hakim dikota kecil yang sering diejek pengacara egois. Saat ditanya kenapa dia tidak menegurnya, hakim berkata, “Dalam kota kami ada jendela yang memiliki seekor anjing. Kapanpun bulan bersinar, anjing keluar dan menggonggong sepanjang malam.” Kemudian dia mulai bicara hal lain. Seseorang berkata, “Tapi, hakim, apa maksud anjing dan bulan?” “Oh, jawabnya, “bulan terus bersinar.”

Jika kita salah, kita tidak boleh membela diri. Tuhan menyuruh kita terbuka terhadap koreksi. Tapi jika kita benar, kita juga tidak perlu membela diri. Kita terus saja bersinar, terus melakukan kehendak Tuhan dengan ketergantungan yang lebih besar terhadapNya. Kritik tidak menyakiti kita saat kita membiarkan hal itu membawa kita lebih bergantung pada Tuhan. Sebaliknya, itu akan membuat kita melayani Dia dengan semangat yang diperbaharui, determinasi yang diperbaharui dan kuasa dari atas. Maukah anda mengingat PLAN yang sudah kita bahas? Kemudian waspada atas kritik yang ditujukan pada anda dan aplikasikan prinsip yang sudah anda pelajari?


4 From Theological Wordbook of the Old Testament by Laird R. Harris, Gleason Archer and Bruce Waitke. Copyright 1980-81. Moody Press. Moody Bible Institute of Chicago. p. 2.475. Used by permission.

Related Topics: Man (Anthropology), Basics for Christians, Christian Home