Where the world comes to study the Bible

Anugerah yang Besar: Kasih Allah yang Membebaskan!

Related Media

Penerjemah: Yoppi Margianto

Merupakan langkah yang sangat sederhana sebenarnya untuk berpindah dari keberdosaan kita kepada kasih Allah yang dinyatakan di dalam anugerah-Nya. Karena bila Ia mengasihi kita sepenuhnya—dan sesungguhnya Ia sudah melakukannya—pastilah itu merupakan kasih yang berakar di dalam kemurahan-Nya. Ia dapat saja meminta kita untuk memenuhi persyaratan tertentu sebelum Ia memberikan kita segala hal yang baik sebagaimana didambakan di dalam hati-Nya. Jika kejadiannya seperti itu, maka kita tidak akan pernah menikmati kasih-Nya. Karena “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak” (Roma 3:10). Sesungguhnya kasih Allah dinyatakan dengan begitu luar biasa di dalam anugerah-Nya bagi orang-orang berdosa yang sama sekali tidak layak menerimanya. Dan itulah arti anugerah: kasih Allah mengalir dengan bebas kepada orang-orang yang tidak layak dikasihi.

Di dalam bukunya Pursuit, penulis dan penginjil Luis Palau menulis:

Syukurlah bahwa anugerah-Nya “tidak adil”. Beberapa tahun yang lalu, seorang keponakan saya (saya memanggilnya Kenneth) hampir mengalami kematian. Dia terkena AIDS. Selama reuni keluarga di di perbukitan California Utara, Kenneth dan saya berjalan-jalan sebentar. Kulitnya sudah pucat, untuk bernafas pun terasa sulit.

“Kenneth, kamu tahu kamu akan mengalami kematian kapanpun,” kata saya. “Apakah kamu sudah memiliki hidup yang kekal? Orangtuamu sangat menderita, aku tahu itu.”

“Luis, aku tahu Tuhan telah mengampuniku dan aku akan sampai di surga.”

Selama beberapa tahun, sejak ia masih sangat belia, Kenneth sudah menjadi seorang homoseks. Bahkan lebih lagi, dalam pemberontakannya terhadap Allah dan orangtuanya, ia berterus terang dengan gaya hidupnya itu.

“Kenneth, bagaimana kamu dapat berkata seperti itu?” balas saya. “Kamu memberontak terhadap Allah, kamu menertawakan Alkitab, kamu sangat melukai keluargamu. Dan sekarang kamu begitu mudah berkata bahwa kamu memiliki hidup kekal?”

“Luis, ketika dokter mengatakan bahwa aku terkena AIDS, aku baru menyadari betapa bodohnya aku selama ini.”

“Kita tahu itu,” saya bicara dengan blak-blakan, tetapi saya sengaja, karena Kenneth sudah paham sekali bahwa perilaku homoseksual adalah dosa. “Tetapi, apakah kamu sungguh-sungguh bertobat?”

“Aku sungguh-sungguh bertobat, dan aku tahu bahwa Allah berbelas kasihan terhadapku. Tetapi ayah tidak percaya aku.”

“Karena kamu telah memberontak di depan matanya sepanjang hidupmu,” kata saya. “Kamu telah menghancurkan hatinya.”

Kenneth menatap mata secara dalam. “Aku tahu Tuhan telah mengampuni aku.”

“Apakah kamu sudah membuka hati untuk Yesus?”

“Ya, Luis! Ya!”

Kami saling berpelukan dan berdoa dan membicarakan hal yang lain, dan saya menjadi yakin bahwa Yesus telah mengampuni semua pemberontakan Kenneth dan menghapuskan semua dosanya. Beberapa bulan kemudian ia pulang ke rumah Bapa pada usia dua puluh lima tahun. Palau berkata, “Keponakan saya, adalah sama seperti pencuri yang bertobat di sebelah salib Yesus, tidak layak menerima anugerah Allah. Saya juga tidak, kita semua pun tidak. Itulah sebabnya dikatakan sebagai anugerah—kebaikan Allah yang tanpa syarat.”1

Anugerah adalah tema Perjanjian Baru dan kunci untuk memahami isi pesannya, karena semua penulis Perjanjian Baru berbicara tentang keselamatan dan selalu menghubungkannya dengan anugerah Allah. Keselamatan kita dari dosa dan murka Allah adalah inisiatif Allah yang murah hati sejak permulaan jaman (2 Tim 1:9) dan dibawa dijalankan-Nya di dalam sejarah menurut rencana dan panggilan-Nya berdasarkan kemurahan-Nya (Roma 8:30). Kita diselamatkan oleh anugerah Allah, bukan oleh usaha kita (Efesus 2:8-9), dan anugerah Allah mengajarkan kita untuk mengerjakan keselamatan kita di hadapan Allah dengan cara yang terhormat (Titus 2:11-12). Pujian terhadap anugerah Allah yang berkelimpahan itu adalah tujuan akhir dari keselamatan (Efesus 1:6). Pendeknya, dari permulaan sampai akhir, yang ada hanya anugerah-Nya.2

Dan supaya kita dapat mengerti akan begitu luasnya anugerah Allah, Ia memberikan banyak contoh di dalam Alkitab, misalnya dalam kehidupan rasul Paulus. Bukankah hal yang luar biasa bahwa Allah memilih orang Farisi yang paling fanatik ini dan menjadikannya salah satu lambang terbesar akan anugerah? Paulus berkata bahwa Allah telah memilihnya supaya orang-orang dapat belajar melalui dia—seorang pembunuh dan penganiaya jemaat—akan arti yang sesungguhnya dan jangkauan yang sepenuhnya akan anugerah Allah:

1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. 16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. (1 Timotius 1)

Pada waktu kita bermusuhan dengan Allah—sebagai seteru seperti dikatakan Paulus di Roma 5:10—Ia memberikan jalan bagi kita untuk memperoleh anugerah-Nya. Betapa suatu kasih yang luar biasa!

Ketika Perang Dunia II, seorang tentara mati dan dua orang temannya dengan hati yang pedih berusaha untuk menguburkannya dengan pantas. Mereka menemukan sebuah pemakaman di desa tetangga. Itu adalah pemakaman Katholik, sedangkan tentara yang mati itu adalah orang Protestan. Ketika dua orang itu bertemu dengan imam yang mengurusi areal pemakaman itu, mereka meminta ijin untuk menguburkan teman mereka, tetapi imam itu menolak karena orang mati itu bukan seorang Katholik. Ketika imam itu melihat kekecewaan mereka, ia memberitahu bahwa mereka dapat menguburkan temannya itu cepat-cepat di luar pagar. Dan hal ini mereka lakukan.

Suatu hari, mereka kembali untuk mengunjungi kuburan itu, tetapi mereka tidak menemukannya. Akhirnya mereka berjumpa lagi dengan imam itu, dan mereka bertanya apa yang terjadi dengan kuburan teman mereka. Sang imam menjelaskan bahwa sepanjang malam ia tidak dapat tidur. Jadi ia bangun dan memindahkan pagar itu supaya kuburan sang tentara berada di dalam areal.

Begitulah juga dengan Allah. Ia tidak akan bisa tidur sampai Ia membuat jalan untuk orang-orang yang sebenarnya tidak layak untuk dikasihi untuk menerima juga kasih anugerah-Nya. Bahkan Ia tidak hanya memindahkan pagar, melainkan Ia menghancurkan penghalang ke dalam hadirat-Nya yang kudus. Dan Ia melakukannya melalui anugerah Tuhan kita Yesus Kristus dan salib-Nya. Melalui Kristus yang disalib itulah, dan hanya melalui Dia saja, kita dengan leluasa mendekat kepada Bapa (Yohanes 14:6). Pertanyaan yang masih timbul adalah, “Sudahkah Anda melakukannya?” Sudahkah Anda berbalik dari dosa Anda dan menerima Kristus dengan sepenuh hati Anda? Tidak ada waktu yang terbaik selain sekarang! Ia berjanji untuk mencurahkan anugerah-Nya yang sungguh besar itu bagi semua orang yang mau datang kepada-Nya dalam pertobatan dan iman, untuk melimpahkan kasih-Nya kepada orang-orang yang mencari-Nya sebagai Penolong dan Juruselamat mereka. Allah begitu berbelas kasih dalam mencurahkan anugerah-Nya bagi Anda, yakni agar Anda mengalami kasih-Nya yang berlimpah itu secara langsung. Anda sudah mendengar banyak tentang itu, sekarang terimalah!

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. (Yesaya 55:1-2)


1 Luis Palau, “God’s Ocean of Grace,” Pursuit, vol. 4, no. 11.

2 J. I. Packer, Key Bible Themes: Studies of Key Bible Themes (Grand Rapids: Baker, 1981), 94-95.

Related Topics: Devotionals