Where the world comes to study the Bible

Apakah Engkau Mempercayaiku?— Kisah Yusuf dan Maria

Nazareth merupakan kota kecil yang indah terletak dalam lembah didataran subur Esdraelon. Kotanya terdiri dari beberapa rumah batu putih yang kecil, sebuah sinagoge dibangun dibukit tertinggi, dan sebuah pasar dijalan masuk desa. Saat era PB dimulai, populasinya lebih dari 1.000 orang, kebanyakan petani, tapi ada juga beberapa pengrajin yang tokonya bisa ditemukan dalam pasar—tukang pot, tukang anyam, tukang besi, dan tukang kayu. Peristiwa paling bersejarah dalam sejarah manusia melibatkan orang-orang yang berhubungan dengan toko kayu di Nazaret.

Tukang kayu itu sendiri, pria yang kuat bernama Yusuf, sedang bertunangan dengan gadis bernama Maria, mungkin masih remaja. Dia seorang gadis yang mendapat anugrah yang besar (“yang dikaruniai,” Luke 1:28). Dia juga orang berdosa seperti kita semua, dan dia mengakui ketidaklayakannya dan butuh keselamatan dari Tuhan (cf. Luke 1:47, 48). Tapi dia berespon secara antusias terhadap tawaran pengampunanNya dan setiap hari bertumbuh dalam anugrah. Dia dikaruniai Tuhan dengan sangat. Dan dia hidup dengan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Tuhan bersama dengan dia (Luke 1:28). Dia menikmati waktu-waktu persekutuan dengan Tuhan.

Selain pengenalannya yang dalam dengan Tuhan, tetap pertemuan dengan malaikan merupakan pengalaman yang mengejutkan, dan Gabriel berkata: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Luke 1:30-33). Dia bertanya pada malaikat : “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luke 1:34). Dan Gabriel menjelaskan fenomena supranatural yang akan terjadi. “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luke 1:35). Itu suatu yang luar biasa, keajaiban yang tiada tanding dalam sejarah manusia, tapi itu hanya bisa terjadi melalui kuasa supernatural dari Tuhan, dan kehamilah Elizabeth yang ajaib dinyatakan dengan pemunculan malaikat. Sekarang keputusan ada pada Maria: keputusan untuk menolak kehendak Tuhan, atau menjadi pelayan yang menyerahkan diri sehingga melaluinya Tuhan bisa menjalankan rencanaNya. Dan keputusan ini berdasar atas kepercayaan. Seperti yang dinyatakan cerita, kita melihat kalau Maria percaya pada Tuhan.

“Betapa suatu kehormatan,” kata anda, “dipilih sebagai ibu dari Mesias. Bagaimana dia bisa menolaknya?” Tunggu sebentar. Anda mengatakan itu karena anda sudah tahu akhir ceritanya, tapi coba meletakan diri anda ditempat Maria. Apakah anda kira orang akan percaya kalau anak ini dikandung dari Roh Kudus? Tidakkah anda pikir orang bisa mengira Maria sedang menutupi petualangannya dengan seorang prajurit Roma? Tempat pemerintahan Roma hanya 4 mil keutara Nazaret di Sepphoris, dan prajurit Roma sering terlihat dijalan Nazaret. Apakah anda tidak berpikir kalau orang lain bisa mencurigai Maria dan Yusuf sudah berhubungan terlalu jauh dan tidak mentaati hukum Tuhan? Dan, apakah tidak ada kemungkinan kalau Maria akan dilempar batu sampai mati karena perzinahan?

Dan bagaimana dengan Yusuf? Dia tahu kalau dia tidak bertanggung jawab atas kondisi Maria. Apa yang harus dikatakannya? Apakah dia tetap mau menikahinya? Apakah Maria mau merelakannya jika dia melakukannya? Dan bagaimana dengan anak itu? Bukankah dia nantinya membawa stigma anak haram diseluruh hidupnya? Dalam waktu yang singkat dengan malaikat, semua mimpi Maria dimasa depan lewat dipikirannya, dan dia melihat semuanya hancur.

Sebuah pertanyaan dalam diri Maria: “Bisakah saya percaya Tuhan mengatasi setiap masalah yang saya hadapi jika saya menyerahkan diri kepada kehendakNya?” Maria telah menikmati kasih karunia Tuhan yang berlimpah. Dia telah menyatakannya dalam hubungan pribadinya dengan Tuhannya. Tapi sekarang Dia memintanya menghadapi pertanyaan terbesar dalam hidup sebagai orang percaya untuk berjalan dalam hubungan denganNya: “Maria, apakah engkau mempercayaiku?”

Maria seorang wanita yang perenung. Dua kali dikatakan dia menyimpan dan merenungkannya dalam hati (cf. Luke 2:19, 51). Tapi dia tidak butuh waktu lama untuk memutuskan hal ini. Dia langsung menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luke 1:38). Keputusan yang diambilnya adalah tunduk pada kehendak Tuhan dan mempercayakan semua akibat padaNya. Tunduk pada kehendak Tuhan hampir selalu berisiko. Tapi Tuhan berjanji akan mengerjakan semua hal untuk kebaikan, dan kita tidak ada pilihan lain selain percaya jika kita ingin menikmati kedamaian dan kuasaNya.

Keinginan untuk taat pada Tuhan dan percaya padaNya dengan semua akibatnya merupakan betu dasar pernikahan. Setiap pria yang mengabaikan istrinya dan berkumpul dengan temannya, mengejar gaya terbaru, atau memainkan akusisinya yang terbaru. Tapi Tuhan menghendaki suami Kristen untuk meletakan istri diatas semuanya kecuali Kristus dan mengasihinya seperti kasih Kristus pada gererja, mempercayakanNya untuk membuat konsekuansinya lebih memuaskan daripada hobi atau rekreasi apapun. Suasana hati wanita bisa terasa seharian, tapi Tuhan menginginkan istri Kristen untuk tunduk pada suaminya, percaya kalau Tuhan akan memperkaya pernikahannya dan memenuhi hidupnya melaluinya. Tuhan mungkin menanyakan hal yang sama seperti Maria: “Apakah engkau mempercayaiku?”

Percaya pada Tuhan hanyalah permulaan dari pernikahan yang baik. Harus ada kepercayaan diantara mereka, dan tidak ada pria yang diminta mempercayai gadis yang dinikahinya lebih daripada pria dalam kisah ini. Kita kemudian melihat, kepercayaan Yusuf pada Maria. Urutannya disini tidak jelas. Apakah Yusuf sudah tahu atau tidak kehamilan Maria sebelum Maria pergi ke Elizabeth diYudea, tidak terlalu jelas. Tapi setelah Maria kembali 3 bulan kemudia, rahasia ini tidak bisa disembunyikan lagi (cf. Luke 1:56 and Matt. 1:18). Apakah Maria mengatakan pada Yusuf tentang kehamilan ajaib ini? Apakah Yusuf sulit mempercayai cerita Maria walau dia mengasihinya ? atau apakah dia sudah menerimanya? Apakah keputusannya untuk memutuskan pertunangan karena meragukan perkataan Maria, atau apakah karena dia melihat dirinya tidak layak menikahi ibu dari Mesias, atau apakah karena dia pikir Maria harus membesarkan anak dalam Bait? Motivasinya tidak pasti.

Tapi ada satu hal yang pasti. Ada konflik yang berkecamuk dalam jiwa Yusuf, apakah dia mempercayai cerita Maria atau tidak, orang lain dipastikan tidak percaya, dan dia akan hidup dengan gossip tentang istrinya yang tidak setia seumur hidup. Tapi Yusuf pria yang ada dalam Tuhan dan murah hati. Apapun yang diputuskannya akan mencerminkan hikmat dari Tuhan dan pertimbangan atas diri Maria. Dan walau hatinya pecah, dia diam-diam ingin memutuskan hubungan dan menghindarkan Maria dari dipermalukan masyarakat (Matt. 1:19). Setidaknya dia terbuka terhadap arahan Tuhan, dan saat malaikan muncul dia masih sedang memikirkan arah tindakannya, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matt. 1:20, 21). Ingat malaikat ini lain dari yang muncul didepan Maria, muncul dalam mimpi. Apakah itu suatu mimpi yang didapat dari harapan atau itu benar-benar pesan dari Tuhan? Bagi kita jelas pesan dari Tuhan, karena Alkitab mengatakan itu. Tapi Yusuf tidak mengetahui hal itu. Pertama kali mungkin dia meragukannya. Tapi kepastian yang berkembang mulai menyadarkan dirinya dan kepercayaan memperkukuh pencarian jiwanya. Masalahnya selesai—tidak penting apa kata lidah; Yusuf percaya! “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus” (Matt. 1:24, 25). Itu mungkin suatu tindakan percaya terbesar antara pria dan wanita.

Kenyataannya memang, setiap pernikahan adalah hubungan saling percaya. Saat kita berdiri dialtar dan mendengar pasangan kita berjanji setia, kita percaya, Saat kita mendengar janji pasangan kita untuk mengasihi kita disaat baik maupun buruk sampai kematian memisahkan kita, kita percaya. Dan karena kita percaya, kita membuat janji yang sama sebagai balasannya dan menyerahkan diri kita untuk hubungan seumur hidup. Saling percaya merupakan batu dasar lainnya dalam pernikahan, dan itu harus bertumbuh dalam waktu.

Percaya berarti mampu menyatakan pada pasangan kita pemikiran dan perasaan kita terdalam, percaya mereka tidak akan berkhianat, percaya mereka akan mengasihi dan menerimanya, karena kejujuran kita. Percaya adalah perasaan tanpa marah atau iri hati saat kita melihat pasangan kita bicara dengan orang lain yang berlawanan jenis. Percaya berarti mempercayai pasangan kita saat mereka mengatakan dari mana atau saat mereka menjelaskan maksud dari perkataan mereka sebelumnya.

Percaya meletakan kita diatas belas kasihan suami atau istri. Itu benar-benar membuat kita rentan, dan kita bisa disakiti dalam keadaan ini! Saat kita benar-benar percaya pada seseorang dan kemudian mengetahui sudah dicurangi, itu membuat kita merasa bodoh dan dipermalukan. Tapi pilihan apa lagi yang kita miliki? Tanpa kepercayaan kita tidak punya hubungan. Jadi minta Tuhan anugrah untuk tetap saling percaya, dan kita percaya Tuhan akan menggunakan kepercayaan kita untuk membuat pasangan kita lebih bisa dipercaya jika diperlukan. Anda bisa lihat, tidak hanya Tuhan yang menanyakan itu, tapi juga pasangan kita, “Apakah engkau mempercayaiku?”

Malaikat Tuhan muncul dihadapan Yusuf dua kali lagi, dan pemunculan itu menunjukan elemen percaya dalam kisah kelahiran ini—Kepercayaan Maria terhadap Yusuf. Yusuf dan Maria telah menyelesaikan perjalanan keBetlehem, dan ujian melahirkan dikandang sekaran sudah sejarah. Hari kedelapan setelah kelahiran Yesus, mereka menyunatNya sesuai hukum. Empat puluh hari setelah kelahiranNya, Maria memberi korban penyucian diBait. Setelah itu kelihatannya mereka menetap di Betlehem, mungkin merencanakan rumah baru mereka. Beberapa waktu sebelum kedatangan orang majus dari Persia untuk menyembah raja yang baru lahir; dan mereka menemukannya dalam rumah, bukan dipalungan seperti kebanyakan cerita kelahiran Yesus dimainkan (Matt. 2:11).

Orang Majus berhenti diYeursalem dan untuk mencari dimana Mesias sudah dilahirkan, dan itu membuat Raja Herodes waspada akan potensi ancaman terhadap tahtanya. Atas kejadian itulah pesan dari malaikat Tuhan datang keYusuf dalam mimpi: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia” (Matt. 2:13). Walau saat itu masih malam, Yusuf mengumpulkan barang milik mereka, mengantar Maria dan Yesus pergi keMesir, dan menetap disana sampai kematian Herodes. Ini tidak ada artinya. Maria merupakan figure utama dalam kisah Natal, tapi Yusuf yang mendapat perintah Tuhan. Yusuf adalah kepala keluarga, dan dia diperintahkan untuk melindungi Yesus dari kemarahan Herodes. Maria mempercayai keputusannya.

Tolong, ini bukan liburan kedaerah selatan. Ini merupakan perjalanan sejauh 200 mil dengan kaki atau keledai, melewati gunung, belantara, dan padang dengan seorang bayi dibawa 2 tahun. Kebanyakan ibu bisa menerima ketidaknyamanan yang ada. Saya ragu apakah Maria benar-benar ingin pergi. Jika mereka pergi dari Betlehem, kenapa tidak keNazaret? Bukankah mereka aman disana? Tapi tidak ada indikasi dalam Alkitab kalau Maria meragukan keputusan Yusuf. Dan itu terjadi lagi. Setelah Herodes meninggal, malaikat bicara pada Yusuf diMesir: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” (Matt. 2:20). Sekali lagi, Yusuf langsung taat; dan sekali lagi, Maria percaya kalau Yusuf melakukan hal yang benar.

Seperti yang telah kita lihat dalam hidup Abraham dan Sarah, ketaatan istri berarti percaya Tuhan bekerja melalui suaminya melakukan apa yang terbaik baginya. Dan itu termasuk percaya pada keputusannya. Tapi itu tidak begitu sulit kalau istri mengetahui suaminya bertindak untuk kebaikannya dan mentaati arahan Tuhan, seperti Yusuf. Terlihat bahwa Yusuf ingin kembali keBetlehem, tapi takut karena mendengar anak Herodes memerintah menggantikannya. Sekali lagi Tuhan memberikannya arahan, dan dia kembali keNazaret dimana orangtua Maria tinggal (Matt. 2:22, 23). Yusuf membuat keputusannya selaras dengan kehendak Tuhan.

Para pria, kita tidak punya hak meminta istri kita untuk tunduk saat kita semaunya menyatakan pendapat sendiri, menyatakan keinginan egois kita, atau melakukan apa yang baik untuk kita sendiri. Tapi saat kita memiliki kejelasan arah dari Tuhan kalau itu terbaik untuk semua maka kita bisa membagikan semuanya pada istri kita, dan mereka akan tunduk tanpa keraguan. Kita memiliki tanggung jawab mengarahkan mereka kejalur yang Tuhan pilih, bukan kita. Kita harus belajar bertanya pada Tuhan tentang setiap keputusan kita, memberi waktu dalam doa meminta hikmatNya, mencari dalam FirmanNya, prinsip yang bisa membimbing kita, dan menanti kepastian kedamaianNya. Dan jika ada keraguan melakukan kehendak Tuhan, lebih memilih keinginan kita, Dia akan melindungi kita agar tidak membuat keputusan menyakitkan yang akan membawa ketidakbahagiaan dalam keluarga. Kalau itu terjadi maka istri akan dengan bebas mengikuti kepemimpinan kita dengan kepercayaan. Percaya bukan respon yang mudah dan otomatis. Itu butuh dikembangkan, terutama dengan mereka yang dilukai sangat dalam. Kita bisa menolong orang lain membangun kepercayaan yang kuat dalam kita melalui komitmen kita pada kehendak Tuhan. Saat mereka melihat kita berserah padaNya, mereka bisa mempercayai kita.

Mari kita bicara

    1. Coba letakan diri anda ditempat Maria, menghadapi kehamilah ajaib dengan semua akibatnya. Apa yang anda rasakan?

    2. Apakah dalam hidup anda sudah memberikan masa depan dan mimpi anda untuk digunakan sesukaNya? Apakah anda perlu meneguhkan kembali keputusan itu?

    3. Apakah ada bagian dalam hidup anda yang tidak diserahkan pada Tuhan karena takut akan akibatnya? Maukah anda menyerahkan itu padaNya dan minta Dia menolong anda percaya padaNya?

    4. Coba letakan diri anda ditempat Yusuf, menghadapi pernikahan dengan gadis yang mengandung bayi yang katanya dikandung oleh Roh Kudus. Apa perasaan anda?

    5. Biasakah anda memikirkan bagian yang tidak saling percaya dalam hubungan anda dengan orang lain? Bagikan itu dengan mereka secara jujur,tapi baik. Apakah anda merasa bersalah menghianati kepercayaan pasangan anda? Apa yang bisa anda lakukan untuk meningkatkan saling percaya?

    6. Bagi suami: apakah anda pernah merasa bersalah menyatakan pendapat sendiri dan berharap istri tunduk? Apakah anda sudah belajar bertanya pada Tuhan tentang semua keputusan anda?

    7. Apakah anda membantu yang lain membangun kepercayaan yang lebih kuat terhadap anda melalui penyerahan yang lebih kuat pada kehendak Tuhan? Bagaimana anda meningkatkan hal itu?

Related Topics: Christian Home, Marriage