Where the world comes to study the Bible

Hal Mustahil Terjadi— Kisah Zakaria dan Elizabeth

Hampir disetiap budaya dalam sejarah memiliki perbedaan kelas, dan budaya Yahudi pada masa Yesus juga demikian. Kelas yang lebih tinggi terdiri dari keturunan Harun, bertugas sebagai imam. Mereka ada sekitar 20,000 orang dsekitar Yerusalem saat itu, dan sayangnya mereka sombong, fanatic, terlalu puas diri, mementingkan diri sendiri, mereka hanya rohani dalam hal eksternal untuk mengesankan orang. Imam dalam perumpamaan orang Samaria yang baik merupakan salah satu contoh. Dia menganggap dirinya terlalu tinggi untuk menolong korban perampokan.

Tapi ada beberapa orang yang berbeda diantara mereka dan diantaranya seorang imam tua bernama Zakarias, yang berarti “Tuhang mengingat” Karena Hukum Musa menuntut seorang imam hanya menikahi seorang wanita yang bereputasi baik, maka Zakarias memilih anak perempuan seorang imam menjadi istrinya. Perempuan itu tidak hanya keturunan Harun, tapi dia membawa nama istri Harun yaitu Elisheba atau Elisabet, yang berarti “janji Tuhan” Nama mereka akan nyata benar pada masa tua mereka.

Kita pertama akan melihat, teladan ketaatan mereka, “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (Luke 1:6). Hidup Zakaria dan Elizabeth menyenangkan Tuhan. Mereka berserah pada kehendak Tuhan dan taat pada Firman Tuhan. Dan mereka melakukan itu “dihadapan Tuhan,” yaitu hanya meninggikan Tuhan saja tanpa memamerkannya dihadapan orang lain. Disitulah mereka berbeda dari sebagian besar kaum mereka. Mereka bahkan tidak peduli hal yang bisa mereka dapat dari status mereka. Mereka hidup didesa kecil diperbukitan selatan Yerusalem, sementara imam lainnya tinggal didaerah elit dikota. Kesederhanaan mereka bukanlah untuk pamer, itu hasil dari hubungan dengan Tuhan. Mereka lebih peduli terhadap apa yang dipikirkan Tuhan daripada manusia. Dan itu merupakan dasar penting untuk membangun hubungan perkawinan yang baik. Kualitas perjalanan kita dengan Tuhan menentukan kemampuan kita berjalan dalam harmoni dengan pasangan kita. Dan perjalanan dengan Dia hanya bertumbuh saat kita ingin menyenangkan Dia daripada mengesankan manusia.

Itu bukan berarti bahwa Zakarias dan Elizabeth tidak ada masalah sama sekali. Walau banyak masalah kita datang dari dosa kita, Tuhan bisa mengijinkan beberapa masalah untuk memasuki hidup kita yang bertujuan untuk menolong kita bertumbuh. Dia ingin hal itu ada, dan tidak ada ketaatan yang bisa membawa kekebalan pada mereka. Zakaria dan Elizabeth seperti itu, dan masalah yang mereka hadapi sangat besar. “Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.” (Luke 1:7). Sulit bagi kita untuk membayangkan stigma yang melekat kalau tidak mempunyai anak. Sebagian besar Imam Yahudi berpendapat bahwa hal itu merupakan bukti Tuhan tidak berkenan. Walau Zakaria dan Elizabeth bisa benar dihadapan Tuhan, sebagian teman mereka mencurigai mereka melakukan dosa tersembunyi yang serius. Dan tidak ada cara menghapus aib itu. Perkataan “lanjut umurnya” berarti umur 60 tahun, kemungkinan melahirkan sudah kecil. Situasinya tidak ada harapan.

Zacharias bisa melepaskan diri dengan menceraikan Elizabeth. Dalam masyarakat mereka, kemandulan sudah jadi alasan umum untuk perceraian. Zakaria bisa menyingkirkannya, menikahi wanita muda, mendapatkan anak dari istri barunya, dan menyingkirkan kutuk atas dirinya. Itu merupakan jalur yang biasa dilakukan banyak pria. Tapi tidak Zakaria. Sebaliknya dia berdoa (cf. Luke 1:13). Dia menyerahkan situasi itu pada seseorang yang bisa melakukan sesuatu terhadap hal ini. Dan walau saya tidak bisa membuktikannya, saya bisa membayangkan dia berdoa tentang hal itu bersama dengan Elizabeth, dan melaluinya melayani kebutuhan rohani Alizabeth. Dia juga pria yang berpegang pada Firman, seperti yang kemudian dikatakan “Benediktus” (cf. Luke 1:67-79). Jadi Zakarias mungkin berbagi dengan istrinya bagian PL yang bisa menghibur Elizabeth dan mendorongnya dalam permohonan.

Itulah tanggung jawab suami sebagai pemimpin rohani dalam pernikahannya. Waktu yang singkat pengenalannya akan Tuhan pada awalnya menghalangi dia memenuhi perannya secara efektif, tapi saat dia bertumbuh dalam pengertian Firman, dia lebih nyaman mendorong istrinya melalui Firman. Istri terlalu sering menyeret suami jadi rohani; dia merayu, memohon, dan mengganggunya setiap sang suami segan mengambil langkah pertumbuhan iman. Tuhan tidak ingin setiap kita mencoba menyeret orang lain jadi rohani, tapi dia ingin para suami ada didepan, mengambil kepemimpinan rohani dan melayani para istri dan anak tentang Kristus.

Setelah Zakaria mengakui masalahnya pada Tuhan, dia meneruskan tugas yang telah Tuhan berikan padanya. Dia tidak berhenti berdoa dan mogok karena situasinya tidak ada harapan. Dan kita juga seharusnya begitu. Tuhan kita adalah Tuhan yang bisa merubah hal itu! Dia senang melakukan hal yang tidak mungkin bagi kita saat Dia tahu kita akan memuliakanNya. Lebih mudah berhenti dan melarikan diri dari keadaan, tapi itu umumnya menumpuk masalah. Tuhan ingin kita menghadapi kesulitan kita padaNya dalam doa, cari Firmannya bersama untuk penghiburan dan arahan, dan kemudian sabar menunggu karyaNya.

Hal berikut adalah hari yang paling diingat mereka. Hari itu dimulai dengan semangat oleh Zakaria. “Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ” (Luke 1:8, 9). Saat itu gilirannya melayani sebagai imam. Imam dibagi kedalam 24 bagian oleh Raja Daud, dan kaum Abijah merupakan kaum Zakaria, diurutan 8. Setiap bagian akan dipanggil untuk melayani dalam bait hanya 2 kali selama setahun, setiap kesempatan lamanya 1 minggu. Dengan hampir seribu imam setiap bagian, menjadikan tugas masuk keruang maha suci dan menyalakan ukupan suatu pengalaman seumur hidup. Hari itu merupakan giliran Zakaria.

Pertama dia akan menunjuk 2 temannya untuk membantunya. Seorang akan membersihkan abu dari korban malam sebelumnya. Kemudian orang kedua akan masuk dan meletakan bara baru dialtar. Akhirnya, Zakaria masuk ketempat kudus sendirian, mengenakan jubah emas, dan saat diberi tanda menyebarkan ukupan diatas bara. Saat ukupan terbakar dan wewangian naik dari altar, doa penyembah diluar akan menaikan pujian pada Tuhan (cf. Luke 1:10). Itu merupakan simbolik pengalaman memuji yang indah.

Ritual selesai sekarang dan sudah saatnya meninggalkan Tempat Maha Kudus. Tiba-tiba malaikan Tuhan menampakan diri pada Zakaria, berdiri disebelah kanan altar. Kunjungan pribadi malaikan Tuhan jarang sekali dialami dalam sejarah manusia. Dan seperti anda bayangkan, itu suatu pengalaman mengerikan. Tapi malaikan langsung bicara: “Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu” (Luke 1:13, 14). Tuhan bisa melakukan hal yang tidak mungkin, dan itulah yang dilakukanNya saat menjanjikan sesuatu pada Zakaria dan Elizabeth. Dia akan menjadi pendahulu Mesias yang dijanjikan oleh nabi Maleaki (Luke 1:15-17; cf. Mal. 3:1; 4:5, 6).

Semua ini terlalu besar untuk ditangkap Zakaria. Dia sudah berdoa untuk mendapatkan anak, tapi harus mengakui kalau imannya melemah. Sekarang Firman dari Tuhan—terlalu bagus untuk dipercaya. Sebelum dia mendapat kesempatan untuk menyatukan pikirannya, dia sudah menyembur, “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya” (Luke 1:18). Zakaria adalah orang yang didalam Tuhan, tapi dia seorang manusia, dan dia memiliki kelemahan manusia. Tuhan mengerti kelemahan seperti ini, yaitu iman yang melemah. Dia tidak senang dengan itu, tapi Dia mengerti, dan Dia mendorong dan menguatkan iman itu. Itulah salah satu alasan dia memberikan FirmanNya, dan alasan kenapa Dia memasukan peristiwa sejarah ini dalam FirmanNya. Firman Tuhan menimbulkan iman saat kita merenungkannya dan melakukannya dalam hidup kita. “jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rom. 10:17).

Zakaria mengenal PL. Dia mengetahui bagaimana Tuhan telah memberikan seorang anak pada Sarah dimasa tuannya. Tapi dia tidak berpikir kalau hal itu bisa terjadi padanya. Bahkan pria yang berpegang pada Firman bisa gagal mengerti hal ini. Tapi Tuhan melakukan kemurahan pada Zakarias untuk menolong dia percaya. Dia memberikannya suatu tanda. “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya” (Luke 1:20). Tidak menyenangkan kehilangan suara, dan pendengarannya, dan dia mengalaminya (cf. Luke 1:62). Tapi menurut saya Zakarias tidak terlalu memikirkannya. Ketidakmampuannya bicara dan mendengar merupakan peneguhan Tuhan atas FirmanNya, dan itu bertujuan untuk menguatkan imannya terhadap janji Tuhan.

Saat Zakaria keluar dari tempat Maha Kudus, dia jadi orang yang berbeda. Dia sudah lama jadi manusia dalam Tuhan, tapi pertemuannya dengan malaikat Gabriel menimbulkan kesadaran baru akan kebesaran Tuhan, kepekaan baru akan ketidaklayakannya, dan iman yang kuat. Saat tugas seminggunnya selesai, dia buru-buru pulang dan membagikannya dengan Elizabeth setiap detil hari itu, dan mereka bersukacita bersama dalam anugrah Tuhan.

“Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri” (Luke 1:24). Mengandung itu sendiri suatu mujizat. Hal yang tidak mungkin terjadi! Dan Tuhan tetap sama selamanya (cf. Mal. 3:6; Josh. 1:17). Dia bisa menyelesaikan masalah kita, dan Dia menaruh kisah ini dalam Firman untuk membuktikannya dan menguatkan iman kita.

Pengatahuan akan mujizat ini menguatkan iman Maria. Tuhan mengatakan kalau dia akan mengandung seorang anak tanpa hubungan dengan seorang pria. Itu sulit dipercaya. Tapi mendengar pesan malaikat padanya: “Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil!” (Luke 1:36, 37). Dan terhadap berita luar biasa ini, Maria menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luke 1:38).

Sebagian orang akan protes, “Tapi anda tidak mengerti. Situasi saya benar-benar tidak memungkinkan.” “Suami saya tidak pernah berubah.” Istri saya tidak pernah belajar.” “Kita tidak pernah keluar dari hutang.” “Saya tidak akan bisa baik lagi.” “Kekasih saya yang belum percaya tidak akan mengenal Kristus.” “Pekerjaan ini tidak pernah berkembang.” Dengar Firman Tuhan: “Karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.. Taati Dia. Kemudian terus berjalan..

Peristiwa besar berikutnya, dalam hidup pasanagan ini adalah mendapat kunjungan Maria, sepupu muda Elizabeth dari Nazareth, dan melalui kunjungan itu kita mendapat pengertian tentang karakter Elizabeth. Saat itu kandungannya sudah 6 bulan, dan saat Maria menyapanya, bayi dalam kandungannya melompak seperti diarahkan Roh Kudus untuk menyalami Anak Allah. Kemudian, diiluminasikan oleh Roh yang sama, dia menyatakan perkataan ini: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luke 1:42, 43).

Perkataannya tidak umum dengan beberapa alasan. Satu, itu menunjukan dia mengerti siapa anak yang dikandung Maria. Dia menyebut Maria “ibu dari Tuhanku.” “Tuhanku” adalah sebutan mesias yang diambil dari Psalm 110:1: “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku ....” Dia mengakuinya melalui pernyataan ilahi bahwa Maria akan melahirkan Mesias, Anak Allah. Tapi yang lebih luar biasa lagi prilakunya terhadap Maria. Walau dia tahu dirinya juga diberi kehormatan oleh Tuhan, dia sadar kalau Maria lebih diberi kehormatan; kenyataannya, lebih diberi kehormatan dari semua wanita dibumi. Dia bahkan tidak merasa layak dikunjungi Maria. Kerendahan hati seperti itu merupakan kualitas yang jarang. Dan walau dia lebih tua dari Maria dan memiliki hak untuk bertanya, “Tuhan, kenapa tidak memilih aku?” tidak ada catatan rasa iri atau mementingkan diri sendiri dalam rohnya. Kita mengerti kenapa Tuhan memberkatinya sangat limpah.

Iri hati merupakan emosi yang merusak. Itu menggerogoti jiwa kita, menciptakan suasana bermusuhan dalam rumah kita, dan menghancurkan hubungan kita dengan teman kita. Tapi tidak ada iri hari dalam hidup orang yang percaya dan berharap pada Tuhan, seperti Elizabeth. Jika kita percaya bahwa Tuhan melakukan yang terbaik dalam hidup kita, dan jika kita berharap Dia mengatasi masalah yang tidak mungkin menurut waktu dan caraNya, bagaimana kita bisa iri pada orang lain? Kita tahu bahwa kita adalah alat yang tidak layak yang dipilih Tuhan untuk memenuhi tujuannya bagi kita. Kita tahu bahwa Dia sedang berkarya dalam hidup kita untuk mencapai tujuanNya, dan tidak ada panggilan yang lebih tinggi dari melakukan kehendakNya. Keyakinan itu memberi kita kepuasan dalam diri, dan kepuasan menghilangkan iri hati. Belajar untuk percaya kalau Tuhan akan menghilangkan iri hati dari hidup kita.

Hal terakhir yang kita lihat dari hidup Zakaria dan Elizabeth adalah anak mujizat mereka. Saya yakin mereka menuangkan PL selama bulan-bulan kehamilan Elizabeth, membaca setiap bagian yang bisa memberikan mereka hal tentang Mesias dan pendahulunya. Bangsa ini sudah menantikan hal ini selama berabad-abad, dan Tuhan telah memilih pasangan ini untuk peristiwa itu. Perasaan mereka meluap setiap hari, sampai “genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki” (Luke 1:57).

Seperti kebiasaan masa itu, saudara dan tetangga mereka berkumpul bersukacita atas peristiwa luar biasa ini, dan itu berlangsung 8 hari, sampai saat anak mereka disunat, mereka mencoba menamainya Zakaria sesuai nama ayahnya. Tapi Elizabeth protes, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes” (Luke 1:60). Kenapa Yohanes? Ini belum pernah didengar. Tidak ada yang bernama seperti itu dalam keluarga mereka. Mungkin ini hanya canda Elizabeth. Mereka lebih baik bertanya kepada Zakaria. “Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: Namanya adalah Yohanes. Dan merekapun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah” (Luke 1:62-64).

Yohanes berarti “Tuhan yang Pemurah.” Dan Dia begitu murah hati pada mereka. Mereka hanya meminta anak untuk meneruskan nama keluarga mereka serta keimaman mereka. Tuhan memberikan mereka pendahulu Mesias, anak yang atasnya tangan Tuhan nyata sejak awal hidupnya, seorang manusia yang Yesus Kristus sebut sebagai yang terbesar diantara manusia (cf. Matt. 11:11). Tuhan tidak selalu memberi sesuai permintaan kita, dan jelas tidak menurut kelayakan kita. Dia memberi menurut kekayaan kasih karuniaNya. Dia melakukannya “melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (Eph. 3:20). Dan dia senang melakukannya pada orang yang percaya dan taat padaNya, bahkan dalam situasi yang tidak memungkinkan.

Keagungan kasih karunia Tuhan membuat Zakaria menaikan lagu pujian pada Tuhan, Dia dipenuhi dengan Roh Kudus dan berkata, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, --seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus-- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita” (Luke 1:68-73). Sumpah yang diberikan Tuhan pada Abraham menunjuk pada Perjanjian dengan Abraham dimana Tuhan berjanji memberkati keturunan Abraham dan melalui mereka Dia memberkati seluruh bumi. Sebagian besar Yahudi mulai berpikir kalau Tuhan sudah melupakan janjiNya, dimana situasi bangsa mereka tidak ada harapan. Tapi Zakaria dan Elizabeth tidak berpikir seperti itu. Nama mereka berdua merupakan pengingat bahwa “Yehova ingat akan janjiNya.” Dan pengalaman luar biasa mereka membuktikan kebenaran itu. Tuhan tidak hanya ingat akan janjiNya, Dia memenuhinya!

Mungkin anda pikir Tuhan telah melupakan anda melihat situasi anda yang tidak ada harapan. Tidak. Dia bisa melakukan hal yang tidak mungkin setiap hari pada setiap orang, dan anda mungkin yang berikutnya. Jadi jangan marah-marah karena beban itu. Percayalah. Tetap setia hidup bagiNya dan dengan sabar menantikan karyaNya, seperti Zakaria dan Elizabeth. Walau nama mereka tidak disebut lagi setelah kelahiran Yohanes, mereka sudah meninggalkan kita warisan iman atas janji Tuhan, Tuhan atas hal-hal yang tidak mungkin.

Mari Kita Bicara

    1. Zacharias dan Elizabeth “benar dihadapan Tuhan.” Apa yang menghalangi anda mengaplikasikan pernyataan itu dalam hidup anda? Apakah anda berjanji dengan Tuhan untuk berhasil melakukannya?

    2. Menurut anda kenapa sangat sedikit suami Kristen yang mengambil kepemimpinan rohani dalam keluarga? Bagaimana seorang istri mendukung suami terhadap hal ini tanpa mengganggu?

    3. Apakah anda menemukan iri hari dalam hidup anda? Jika demikian, coba hitung hal tertentu yang Tuhan lakukan pada anda.

    4. Janji Tuhan apa yang sulit anda percaya? Ingatlah itu, renungkan, dan minta hal itu dari Tuhan.

    5. Apakah ada situasi dalam hidup anda yang kelihatannya tidak mungkin? Serahkan itu pada Tuhan dan doakan bersama serta minta kesabaran untuk menghidupinya sampai Dia mengubahnya.

Related Topics: Christian Home, Marriage