Where the world comes to study the Bible

Untuk Saat Seperti Ini— Kisah Ahasuerus dan Esther

Situasi hidup kita tidak selalu senang: tempat hidup kita, orang yang berhubungan dengan kita, atau masalah yang kita hadapi. Hal diatas tidak selalu dari kesalahan kita. Kita mungkin menjadi korban situasi, atau kita mungkin telah membuat keputusan yang menurut kita benar tapi tidak berjalan sebagaimana harapan kita. Sebagian orang merasakan hal seperti ini dalam perkawinan mereka—sebagai contoh, wanita yang mengira pria yang dinikahinya seorang percaya. Tapi dia menemukan kemudian bahwa pria itu telah menipunya. Tindakan pria itu terus menerus direfleksikan dalam ketidaktertarikannya tentang Tuhan dan menghasilkan kepahitan yang tiada akhir. Ini merupakan kisah Firman Tuhan yang akan menguatkan orang-orang yang ada dalam situasi seperti ini.

Pria itu tidak lain adalah seorang raja dari kerajaan terbesar dimasanya. Orang Yahudi memanggilnya Ahasuerus, bentuk Yahudi dari nama Yunaninya. Sejarah sekuler lebih mengenalnya dengan nama raja Xerxes I yang memerintah Persia dari 486 sampai 465 B.C. Kerajaannya membentang dari India sampai Ethiopia (Esth. 1:1). Tapi itu belum cukup baginya. Keinginan utama dalam hidupnya adalah melakukan apa yang ayahnya tidak bisa lakukan—yaitu menaklukan Yunani.

Firman Tuhan memberitahu kita bahwa “pada tahun yang ketiga dalam pemerintahannya, diadakanlah oleh baginda perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya; tentara Persia dan Media, kaum bangsawan dan pembesar daerah hadir di hadapan baginda. Di samping itu baginda memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya dan keindahan kebesarannya yang bersemarak, berhari-hari lamanya, sampai seratus delapan puluh hari” (Esth. 1:3, 4). Pertemuan tingkat tinggi yang berakhir dalam 6 bulan, merupakan pesta yang besar. Itu mungkin strategi bagi serangan Xerxes keYunani. Sejarah sekuler mengatakan bahwa dia memulai serangan itu tidak lama setelah pesta besar ini, dalam tahun 481 B.C.

Untuk mengakhiri pertemuan ini, dia merencanakan 7 hari khusus perayaan dan pesta (Esth. 1:5). Saat dia sedikit terpengaruh anggur, dia memanggil ratunya yang cantik, Vasti, agar bisa ditunjukannya didepan para temannya (Esth. 1:11). Vasti menolak untuk menjadi tontonan umum, dan Ahassueros murka. Melalui nasihat konselornya yang dapat dipercaya, keputusan untuk mengeluarkan Vasti dituliskan dalam titah kerajaan—hukum media Persia yang tidak bisa ditarik kembali bahkan oleh raja sendiri (Esth. 1:19). Itu adalah keputusan yang tergesa-gesa yang akan disesalinya, tapi Ahasueros dikenal sebagai pria yang kepala batu dan impulsive.

Selain itu, dia memiliki hal yang lebih penting daripada mengkhawatirkan perempuan piaraannya. Dia sudah siap menaklukan Yunani. Tentaranya lebih kuat dari mereka dan momentum sejarah ada dipihaknya. Tapi dalam pertempuran yang dikenal oleh siswa sejarah (Thermopylae, Salamis, Plataea), tentaranya akhirnya akan hancur, dan dia kembali keibukotanya Susa sebagai orang yang kalah. Dia pasti merindukan penghibur dan ditemani oleh ratunya untuk meredakan malu dan mengembalikan egonya yang rusak. “Sesudah peristiwa-peristiwa ini, setelah kepanasan murka raja Ahasyweros surut, terkenanglah baginda kepada Wasti dan yang dilakukannya, dan kepada apa yang diputuskan atasnya” (Esth. 2:1). Tapi sudah terlambat. Keputusannya tidak bisa diubah.

Itulah mengapa kemudian diusulkan kontes kecantikan Persia untuk menemukan seorang ratu bagi Raja Ahasueros. “Hendaklah orang mencari bagi raja gadis-gadis, yaitu anak-anak dara yang elok rupanya; hendaklah raja menempatkan kuasa-kuasa di segenap daerah kerajaannya, supaya mereka mengumpulkan semua gadis, anak-anak dara yang elok rupanya, di dalam benteng Susan, di balai perempuan, di bawah pengawasan Hegai, sida-sida raja, penjaga para perempuan; hendaklah diberikan wangi-wangian kepada mereka. Dan gadis yang terbaik pada pemandangan raja, baiklah dia menjadi ratu ganti Wasti. Hal itu dipandang baik oleh raja, dan dilakukanlah demikian” (Esth. 2:2-4). Semuanya kelihatan seperti permainan bagi raja, jadi dia memberikan ijin, dan pencarian berlangsung. Kontes kecantikan bukan cara yang buruk untuk menemukan seorang istri, jika muka yang bagus yang anda cari. Tapi Allah kita memberikan Ahasuerus lebih daripada sekedar wajah bagus, apakah dia ingin atau tidak. Tuhan sudah memilihkan istri untuk raja tidak percaya ini, kedaulatan tanganNya jelas nyata, mengatur tindakan manusia.

Ahasuerus tidak tahu kalau ratu Persia berikutnya adalah gadis Yahudi. Gadis ini mungkin lebih memilih di Yerusalem bersama bangsanya, tapi karena alasan tertentu orangtuanya menolak kembali saat Raja Sirus memberikan ijin 50 tahun lalu. Yahudi dipembuangan diijinkan untuk menetap, membuka usaha, dan hidup normal, dan hanya 50,000 orang yang kembali ke Israel dikesempatan itu.

Orantua wanita ini sudah mati dan pamannya, Mordekai yang membesarkannya. Alkitab berkata, “Mordekhai itu pengasuh Hadasa, yakni Ester, anak saudara ayahnya, sebab anak itu tidak beribu bapa lagi; gadis itu elok perawakannya dan cantik parasnya. Ketika ibu bapanya mati, ia diangkat sebagai anak oleh Mordekhai” ( Esth. 2:7). Dia seorang wanita yang indah, dan tidak mungkin lolos dari mata pelayan raja. “Setelah titah dan undang-undang raja tersiar dan banyak gadis dikumpulkan di dalam benteng Susan, di bawah pengawasan Hegai, maka Esterpun dibawa masuk ke dalam istana raja, di bawah pengawasan Hegai, penjaga para perempuan” (Esth. 2:8).

Mordekai memeriksa keadaan Ester setiap hari, karena dia penjaga pintu istana. Dia menyuruh Ester tidak memberitahukan kebangsaannya pada siapapun, mungkin berjaga atas perlakuan yang tidak baik yang dialami mereka ditempat mereka tinggal, diseluruh sejarah mereka, dan dia mentaatinya. Kemudian saat dia diperhadapkan dengan raja, dia tidak meminta apapun yang khusus untuk menarik hati raja, seperti yang dilakukan para gadis lain. Keindahan yang diberikan Tuhan dan keberadaan dirinya menarik hati raja. “Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti” (Esth. 2:17).

Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Ester ingin menikah dengan Ahaswerus. Itu merupakan tawaran yang membanggakan, tapi Ester tahu sang raja bukan suami idamannya, terutama melihat apa yang terjadi dengan Vasti. Tapi bagaimana anda bisa berkata “tidak” pada pemerintahan seperti ini tanpa kehilangan kepala anda? Jadi begitulah ceritanya gadis Yahudi sederhana menjadi ratu kerajaan Persia. Itu cerita tak terkalahkan mengenai orang miskin jadi kaya dalam sejarah manusia.

Kronologi kitab ini menunjukan masalah muncul 5 tahun kemudian dan kita menemukan suatu krisis terhadap umat Tuhan. Orang sesat yang menyebabkan masalah ini pastilah Hitlernya PL. Dia jahat, anti Yahudi bernama Haman, merupakan keturunan Agag, Raja Amalek, yang dibiarkan hidup oleh Saul walau bertentangan dengan perintah Tuhan (1 Sam. 15:8, 9). Saat Ahaswerus menjadikan dia mentri utama, setiap orang diistana membungkuk padanya kecuali Mordekai. Dia membungkuk hanya pada Tuhan saja, dan itu membuat Haman murka. Dia bersumpah tidak hanya menghukum Haman, tapi menghilangkan semua orang Yahudi dikerajaan Persia, dan kebetulan, itu juga termasuk tanah Israel, karena mereka juga bagian dari kerajaan. Haman menemui raja untuk menyetujui rencananya dan dicap dengan cincin raja, hukum Media Persia yang tidak bisa ditarik kembali. Ini satu lagi keputusan terburu-buru dari Ahaswerus yang disesalinya kemudian.

“Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih. Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorangpun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya” (Esth. 4:1-3).

Aneh juga, doa tidak pernah secara spesifik disebutkan dalam kitab ini, seperti kata Tuhan juga tidak pernah disebut, tapi anda bisa yakin kalau orang Yahudi disini berdoa. Berpuasa disebutkan, dan biasanya didalam Alkitab menunjuk pada doa. Ratap tangis menunjukan suatu permohonan sangat pada Tuhan. Orang Yahudi ini terpisah dari tanah mereka karena pilihan mereka sendiri, diluar tanah berkat, terpisah dari tempat beribadah, dan mungkin inilah alasan kenapa kata Tuhan dan doa tidak secara langsung disebut. Tapi mereka berdoa, dan Tuhan mengawasi mereka, mengatur keadaan mereka untuk memuliakan namaNya. Dia melakukan hal yang sama pada kita walau kita tidak menyadarinya.

Disini kita akan menemukan tujuan dari penunjukan Tuhan. Pernyataan ini didapat melalui komunikasi antara Ester dan Mordekai. Ester mengirim pelayannya untuk mencari tahu kenapa Mordekai berduka. Mordekai mengirim jawaban, menjelaskan rencana jahat, yang Ester sendiri tidak tahu dan mendorongnya untuk menghadap raja. Ester langsung menjawab, mengingatkan Mordekai kalau tidak ada yang bisa menghadap raja tanpa diundang kecuali dia memang cari mati, dan saat itu raja sudah tidak mengundangnya selama sebulan penuh. Ada sedikit kemungkinan—jika raja melihat Ester dan mengulurkan tongkatnya, dia bisa masuk.

Mordekai kehilangan hal terbaik dari Tuhan dengan tidak kembali keIsrael, tapi pengertian rohaninya meningkat sejak itu. Dia mulai mengerti tentang anugrah Tuhan dan pemeliharaan ilahi, bisa mulai melihat kalau Tuhan bahkan bisa menggunakan kesulitan hidup untuk mencapai tujuanNya. Dia mengirim pesan pada Ester, “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu?” (Esth. 4:13, 14). Esther jelas tidak lebih aman dari orang Yehudi lainnya. Saat diketahui dia Yahudi, hidupnya juga terancam. Mordekai yakin kalau Tuhan akan menjaga umatNya. Mereka mungkin jauh dariNya, tapi Dia tidak akan membiarkan mereka binasa, karena itu akan bertentangan dengan janjiNya. Jika Dia tidak menggunakan Ester untuk menyelamatkan mereka, Dia akan menggunakan cara lain. Dia adalah Allah yang berdaulat.

Anda lihat, Mordekai menangkap kalau Tuhan mengijinkan mereka tetap di Persia, dan mungkin sekarang siap membalikan keputusan mereka untuk tinggal bagi kemuliaan DiriNya dan keselamatan orang Yahudi. “dan siapa tahu kamu menerima penghargaan disaat seperti ini.” Betapa gambaran yang luar biasa tentang kebesaran Tuhan kita. Dia tidak hanya mengatur keadaan hidup yang diluar control kita, tapi Dia bisa memperbaiki keputusan kita yang salah, dan juga dosa yang kita perbuat, dan menjadikan itu semua jadi baik kembali. Pemazmur berkata, “Sesungguhnya panas hati manusia akan menjadi syukur bagi-Mu” (Psa. 76:10). Jika Tuhan bisa membuat kemarahan manusia jadi pujian, Dia jelas bisa membuat dosa dan kekurangan kita untuk memujinya.

Itu tidak berarti kita harus hidup tidak peduli akan kehendak Tuhan, dan mengharapkan Dia memperbaiki kekacauan yang kita buat. Ada banyak kesedihan dan kepahitan sepanjang jalan, dan diharapkan banyak orang Kristen bisa bersaksi tentang hal itu. Akibat dosa kita sangat besar. Itu berarti saat kita menyerahkan hidup kita ditangan Kristus dan menyerahkan semuanya pada Dia, kita bisa yakin Dia memiliki rencana hebat untuk kita mulai saat itu seterusnya. Dia bisa menggunakan apapun yang terjadi atas kita dimasa lalu dan setiap keadaan yang kita alami sekarang untuk menjalankan rencana itu.

Tuhan memiliki rencana bagi anda, sekarang ini, dimana anda berada, siapapun anda, dimana anda tinggal, siapa yang anda nikahi, apa yang anda alami dimasa lalu, atau yang akan anda hadapi dimasa depan. Kenyataannya, Dia mengijinkan anda sampai saat ini dalam kehidupan anda untuk rencana yang pasti, “untuk saat seperti ini.” Dia memiliki hal yang spesifik untuk anda capai dalam situasi anda sekarang, dan Dia ingin anda mencari kesempatan saat ini.

Anda lihat, orang percaya merupakan bagian dari rencana Tuhan dibumi; mereka harus hidup sebagai orang yang memiliki tujuan. Tuhan tidak ingin kita mengeluh dan melarikan diri. Dia akan dimuliakan saat kita meminta kasih karuniaNya untuk menjadi seperti kehendakNya dan melakukan apa yang dikehendakiNya dalam keberadaan kita sekarang. Kita harus mengambil keuntungan dari kesempatan yang diberikanNya pada kita sekarang. Dia mungkin akan membuka lebih banyak kesempatan dimasa depan, jika itu sesuai dengan tujuanNya. Tanggung jawab kita adalah membiarkan Dia menggunakan kita dimana kita berada.

Esther berespon secara positif terhadap nasihat Modekai. Dia menjawab, “Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” (Esth. 4:16). Permintaannya untuk berpuasan menunjukan keyakinannya akan kuasa doa, terutama hubungan antar orang percaya dalam doa. Jika kita menghadapi cobaan, lebih bijak meminta dukungan doa dari orang Kristen lain. Kita tidak perlu mengumumkan kebobrokan yang anda atau gossip tentang orang dalam masalah ini. Hal yang paling penting adalah mengakui kalau kita membutuhkan sesuatu dan teman kita berdoa bersama kita.

Dengan doa mengelilingi dan menjaga kita, langkah berikutnya adalah menentukan hati kita kalau kita harus melakukan kehendak Tuhan dalam situasi itu, apapun harga dan akibatnya. “Aku akan menghadap raja,” tegas Ester, “dan jika aku mati, aku pasti mati.” Tuhan mungkin ingin kita menjalankan tugas yang tidak menyenangkan. Itu mungkin berupa berurusan dengan seseorang yang ingin kita hindari seperti Ester. Tapi jika kita tahu itu adalah kehendak Tuhan, kita harus melakukannya. Dan Tuhan akan menghargainya. Dia melakukannya pada Ester.

Tuhan bekerja secara misterius. Dia melakukan mujizat untuk menguatkan anda. Pertama, Dia menggerakan hati raja untuk mengulurkan tongkat, dan Ester mendekati tahta. Ester bicara dengan berani bukan dengan kemarahan. Dan daripada menyemburkan masalah, dia mengundang raja dan Haman untuk makan malam. Saat makan, dia kembali tidak mengatakan masalahnya, tapi kembali mengundang mereka makan. Bukannya dia ingin meluluhkan atau memanipulasi raja. Dia menggunakan hikmat, dan para istri bisa belajar dari Ester mengenai bagaimana cara bicara dan kapan bicaranya. Anugrah dan budi bahasa merupakan kunci pendekatannya.

Tuhan bekerja dalam cara yang luar biasa. Dimalam sebelumnya, raja tidak bisa tidur. Dia meminta catatan pemerintahannya dibacakan. Itulah yang bisa membuatnya tertidur kembali. Catatan itu adalah kisah percobaan pembunuhan atas dirinya yang diketahui Mordekai sehingga tidak terjadi, dan tindakan itu belum diberi penghargaan (Esth. 6:1-3). Peristiwa itu menjadi latar belakang hari berikutnya.

Pertama, Hama dipaksa menghormati keberanian Mordekai. Dan sudah waktunya pesta makan malam Ester yang kedua. Saat mereka makan raja bertanya, “Apakah permintaanmu, hai ratu Ester? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan dipenuhi,” Jawaban Ester luar biasa: “Ya raja, jikalau hamba mendapat kasih raja dan jikalau baik pada pemandangan raja, karuniakanlah kiranya kepada hamba nyawa hamba atas permintaan hamba, dan bangsa hamba atas keinginan hamba. Karena kami, hamba serta bangsa hamba, telah terjual untuk dipunahkan, dibunuh dan dibinasakan. Jikalau seandainya kami hanya dijual sebagai budak laki-laki dan perempuan, niscaya hamba akan berdiam diri, tetapi malapetaka ini tiada taranya di antara bencana yang menimpa raja.” Raja sangat terkejut. “Siapakah orang itu dan di manakah dia yang hatinya mengandung niat akan berbuat demikian?” Dan Ester menunjuk Haman, yang sangat takut (Esth. 7:1-6).

Hasil dari pesta makan malam itu luar biasa. Haman digantung ditiang yang dibuat untuk Mordekai, dan Mordekai dipromosikan menjadi mentri pertama Persia. Dan perintah membunuh Yahudi tidak bisa ditarik, mereka diberi ijin untuk membela diri. Sekitar 75,000 musuh mereka dibantai dan umat Tuhan selamat. Itu suatu mujizat! Tuhan melakukan mujizat bagi mereka yang berjalan dalam rencanaNya, yang melihat keadaan mereka sebagai bagian dari penunjukanNya, dan yang hidup melakukan kehendakNya dimana dia berada.

Tapi ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dari cerita ini, ini diingat sepanjang waktu. Baik Mordekai dan Ester begitu bersyukur pada Tuhan akan kasih setiaNya dan mengirim surat pada semua orang Yahudi untuk merayakannya selama 2 hari. Mereka menyebutnya pesta Purim, dari kata Pur, berarti, “undi” atau “dadu”. Haman membuang undi untuk menetukan hari kematian orang Yahudi (cf. Esth. 3:7; 9:24, 26). Tuhan membalikan itu menjadi hari kemenangan, dan mereka bersyukur padaNya atas pembebasan ini. Orang Yahudi masih merayakan pesta Purim sampai sekarang. Itu merupakan peringatan seterusnya bagi kasih setia Tuhan.

Tuhan sedang bekerja dalam hidup kita sejelas dan sepasti Ester. Keadaan kita mungkin tidak seperti kehendak kita. Tapi kita bersyukur pada Tuhan karena hal itu. Itu menyediakan Dia kesempatan menunjukan kasih dan pemeliharaanNya, dan itu menyediakan kita kesempatan memuliakan Dia. Marilah kita percaya kalau Dia akan mengatur keadaan itu untuk kebaikan, dan carilah selalu cara melayani Tuhan didalamnya.

Mari kita bicara

    1. Menurut anda kenapa Tuhan meletakan kitab Ester dalam Alkitab?

    2. Hitung kembali beberapa masalah yang anda hadapi dimasa lalu yang sekarang anda sadari Tuhan bekerja didalamnya untuk kebaikan.

    3. Apa hal disaat ini yang anda harap bisa berbeda? Kesempatan apa yang disediakan situasi itu untuk memuliakan Tuhan? Bagaimana anda bisa melayani Tuhan didalamnya?

    4. Bagaimana anda bisa saling menolong mengatasi situasi hidup?

    5. Apa yang anda pelajari dari hubungan Ahasuerus dan Esther yang akan menguntungkan hubungan anda dengan yang lain?

Related Topics: Christian Home, Marriage