Where the world comes to study the Bible

Tuhan itu Roh

Tuhan Yesus sedang dalam perjalanannya ke Galilee dengan Para muridnya. Ia tidak mengambil rute yang umum bagi orang Yahudi dimasanya — menyebrangi Jordan melalui Jericho, diutara sepanjang sisi timur sungai, kemudian kembali ke Galilee. Sebagai gantinya, Ia berkata bahwa Ia harus lebih dulu melewati Samaria ( Yohanes 4:4). Para murid tidak memahaminya tetapi mereka pergi tanpa menggerutu. Mereka akan segera belajar mengapa perlu untuk pergi melewati jalan itu. Ada jiwa-jiwa haus yang siap untuk menerimaNya.

Selama perjalanan melalui Samaria Yesus mengajar salah satu dari hal-hal paling mendasar tentang kebenaran Tuhan didalam Alkitab. Bayangkan diri anda pada suatu sumur disisi jalan dekat desa Sychar yang kecil dan mendengarkan percakapan Tuhan dengan seorang Perempuan Samaria, suatu karakter menjijikkan. Dia telah dinikahi 5 kali, dan pada saat itu hidup bersama dengan seorang laki-laki yang tidak menikahinya.

Yesus mengarahkan percakapan disekitar hal rohani dan sedang menjawab komentar wanita tentang dimana orang-orang hendaknya beribadah: “ Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” ( Yohanes 4:21-23). Pada saat itulah Yesus berkata sesuatu tentang Tuhan yang belum pernah dengan jelas dinyatakan sebelumnya. Kebenaran yang sudah dinyatakan sejak PL, tetapi belum pernah dinyatakan sejelas itu. “ Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” ( Yohanes 4:24).

Tuhan adalah roh. Tidak ada artikel didalam teks Yunani didepan kata roh, dan itu menekankan inti sari atau mutu kata itu. Lagipula, kata roh muncul pertama kali dalam kalimat untuk penekanan. Gagasan harafiahnya kira-kira, “sungguh roh didalam Inti sarinya adalah Tuhan.” Yesus tidak meninggalkan keraguan apapun tentang kebenaran ini. Tuhan adalah roh!

Tetapi apa artinya? Beberapa mempunyai suatu gagasan aneh tentang apa itu roh. Itu terjadi pada anak-anak. Bagi mereka roh berarti hantu. Ketika dua para putra saya masih kecil kami mendengar mereka membicarakan tentang hantu. Umur lima tahun berkata, “ Apakah kamu tahu kalau Tuhan adalah hantu? Dia itu Roh Kudus.” Saudaranya umur 4 tahun menjawab dengan pengertian yang mendalam mengenai agama, “ Ya, tetapi dia seperti Casper, hantu yang ramah” ( suatu karakter film karton televisi populer). Apakah itu benar-benar makna dari Tuhan adalah roh? Mari kita selidiki apa artinya, dan juga bagaimana mengaplikasikannya dalam hidup kita

    Tetapi apa artinya? Beberapa mempunyai suatu gagasan aneh tentang apa itu roh. Itu terjadi pada anak-anak. Bagi mereka roh berarti hantu. Ketika dua para putra saya masih kecil kami mendengar mereka membicarakan tentang hantu. Umur lima tahun berkata, “ Apakah kamu tahu kalau Tuhan adalah hantu? Dia itu Roh Kudus.” Saudaranya umur 4 tahun menjawab dengan pengertian yang mendalam mengenai agama, “ Ya, tetapi dia seperti Casper, hantu yang ramah” ( suatu karakter film karton televisi populer). Apakah itu benar-benar makna dari Tuhan adalah roh? Mari kita selidiki apa artinya, dan juga bagaimana mengaplikasikannya dalam hidup kita.

Dia adalah Pribadi yang Hidup

Kita bisa MengenalNya

Sungguh jelas nyata kalau roh itu hidup. Tuhan kita bukanlah suatu obyek mati, seperti suatu berhala penyembah berhala dengan suatu mulut yang tidak bisa berbicara, memandang tapi tidak bisa lihat, telinga yang tidak bisa dengar, dan tangan yang tidak bisa memenuhi apapun ( cf. Mazmur 115:47). Ia dalam keadaan hidup. Seluruh kata roh juga berarti “ nafas,” dan nafas adalah bukti hidup. Seluruh AlKkitab ia disebut Tuhan yang hidup ( e.g. Joshua 3:10; Mazmur 84:2; 1 Thessalonians 1:9).

Tetapi roh juga seseorang pribadi, bukan suatu kekuatan bertindak tanpa tujuan atau alasan. Saya membaca surat kabar bahwa pengadilan British Columbia telah menetapkan Tuhan menjadi bukan pribadi. Orang yang dicurigai diamati oleh kamera yang tersembunyi sedang berdoa, dan didalam doanya ia mengakui ia bersalah. Pengadilan menetapkan kalau itu percakapan pribadi, yang dipengadilan tidak dapat diterima, harus berlangsung antara dua orang, tetapi bahwa karena Tuhan tidaklah seseorang pribadi, komentar yang dibuatnya dianggap sebagai bukti dapat diterima.

Hakim yang memutuskannya sepertinya agak tidak biasa dengan pernyataan Tuhan tentang Dirinya. Natur inti dari suatu pribadi adalah kesadaran diri dan keinginan diri, dan Tuhan mempunyai kedua-duanya. Ia sadar akan dirinya. Ia menceritakan kepada Musa bahwa Namanya adalah, “ aku AM [SIAPA] YANG aku AM” ( Kepergian banyak orang 3:14). Hanya pribadilah yang menyadari dirinya yang bisa membuat statemen itu. Ia juga mempunyai kebebasan untuk memilih tindakannya menurut apa yang ia pertimbangkan baik. Ia mempertunjukkannya ketika Ia menyuruh Musa untuk kembali ke Mesir, mengumpulkan tua-tua, dan menginformasikan mereka bahwa bangsa itu akan dibebaskan dari perbudakan orang mesir (Kel3:15,17). Suatu kekuatan yang bukan pribadi tidak berbicara dan memberi arahan logis seperti itu.

Tuhan juga mempunyai karakteristik dasar pribadi — intellect, emosi, dan kehendak. Dia berpikir, Ia merasakan, dan Ia bertindak. Dan itu adalah berita gembira. Sebab Ia adalah seorang orang hidup dan kita dapat berusaha mengenalNya secara pribadi dan berkomunikasi denganNya secara bebas. Jika Ia adalah suatu obyek mati atau suatu kekuatan bukan suatu pribadi maka tidak akan ada harapan untuk berhubungan secara pribadi denganNya.

Dia tidak Terlihat

Kita bisa MengenalNya diluar fisik kita

Semua orang mengetahui bahwa suatu roh tidak bisa dilihat. Kita tidak bisa melihat roh manusia. Teman karibpun tidak bisa melihat roh masing-masing dan tak seorangpun dapat melihat Tuhan. Paulus menyebutNya “ Tuhan yang tak kelihatan” ( Colossians 1:15), dan “ Raja abadi, abadi, tak kelihatan” ( 1 Timothy 1:17).

Yohanes meyakinkan kita/kami bahwa “ Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah” ( Yohanes 1:18). Manusia pernah melihat manifestasi yang digunakan Tuhan untuk mengungkapkan Dirinya kepada mereka dan untuk berkomunikasi dengan mereka, seperti ketika Allah Anak mengambil rupa manusia dalam suatu palung di Betlehem. Tetapi mereka belum pernah melihatNya secara penuh dalam keberadaan rohaninya. Mereka tidak bisa melihat itu. Roh itu tak kelihatan.

Bukannya menakuti kita, merupakan sesuatu yang sangat menghibur. Sebab Tuhan tak kelihatan, tidak hanya kita dapat mengenalNya, tetapi kita dapat mengenalNya terlepas dari phisik kita. Kita tidak harus melihatNya atau merasakanNya untuk bisa mengenalNya. Kita mempunyai roh juga. Tuhan adalah roh, tetapi kita mempunyai roh yang berdiam didalam badan phisik kita. Dan ketika roh kita dibuat hidup kearah Tuhan melalui kelahiran baru, kita mempunyai kapasitas untuk bergaul denganNya didalam roh, kapanpun, di manapun, dan dalam keadaan apapun.

Persekutuan dengan Tuhan tidak tergantung pada berbagai hal eksternal sebab itu berlangsung secara internal didalam bagian rohani dari kita. Itu adalah maksud perkataan Yesus kepada perempuan di sumur. Karena Tuhan adalah roh kita harus memujaNya didalam roh. Pemujaan tidaklah terutama semata sesuatu yang penempatan phisik, lingkungan, format, upacara agama, doa liturgi, atau upacara. Itu bukanlah sesuatu yang menciptakan semacam suasana hati atau atmospir tertentu. Ini merupakan hal rohani. Pemujaan adalah tanggapan roh kita kepada Tuhan yang sudah menyatakan diriNya.

Sulit bagi kita untuk menyerap kebenaran ini karena roh kita tinggal di badan phisik dan phisik kita tinggal dalam lingkungan phisik. Urusan kita dengan phisik membuat kita mencoba untuk menaruh hubungan kita dengan Tuhan kedalam lingkungan yang sama. Kita diilhami memujaNya melalui katedral, seni, bunyi menyenangkan, bau harum menyenangkan, dan doa liturgi dengan indahnya dinyatakan. Alam Manusia kita menjerit untuk lambang religius, gambaran, dan membantu kita menciptakan suatu suasana hati pemujaan. Kita berpikir kita harus didalam suatu bangunan gereja dan mengikuti prosedur tertentu. Tuhan katakan, “ Kamu tidak bisa mengurangi aku kebentuk phisik dan berbagai hal yang dapat dirasa dengan pikiranmu. Aku tinggal dunia roh dan disitulah tempat dimana aku ingin menemui kamu.” Hal Phisik boleh mengarahkan perhatian kita ke Tuhan, terutama sekali berbagai hal Ia buat. Tetapi kita mengalamiNya didalam) roh. Kita dapat mengalamiNya saat mengendarai mobil pergi bekerja, mendorong penghisap debu diruang tamu, berjalan dari satu kelas kekelas lain, atau di manapun. Kita mengenalNya dan menikmatiNya didalam dunia rohani, diluar phisik.

Dia Immaterial

MengenalNya membebaskan kita dari perbudakan materi

Hal yang utama kita belajar tentang Tuhan sebagai roh adalah bahwa Ia bukan materi. Kita tidak mengatakan kalau Ia tak penting, tetapi, tidak berbadan. Ia tidak mempunyai badan. Yesus menegaskan lagi fakta itu kepada Para murid yang ketakutan tidak lama sesudah kebangkitanNya. Ketika Ia masuk ruangan dengan Badan yang dimuliakan sehingga mereka pikir mereka telah melihat roh. Ia menenangkan mereka dengan mengatakan, “ Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada yang daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” ( Luke 24:39). Roh tidak mempunyai badan.

Ini nampaknya menimbulkan masalah, karena Alkitab kadang-kadang mengacu pada Tuhan seolah-olah Ia mempunyai suatu badan. Sebagai contoh, disebutkan Tangan nya dan TelingaNya ( Isaiah 59:1), Matanya ( 2 Riwayat 16:9), dan Mulutnya ( Matthew 4:4). Teolog menyebutnya anthropomorphisms, berarti “ bentuk manusia.” Itu adalah penyajian simbolis untuk membuat tindakan Tuhan lebih dapat dimengerti pikiran kita yang terbatas. Tetapi Tuhan tidak punya unsur material dan Ia tidak tergantung pada hal material. Ia tinggal di dunia roh.

Itu mempunyai beberapa implikasi bersangkutan dengan hidup kita. Jika kita mengetahui, mencintai, dan melayani Tuhan yang tidak mempunyai unsur material, itu seharusnya mengurangi minat kita pada berbagai hal material. Bukankah itu akan membuat kita berbeda dari orang-orang di sekitar kita? Kita tinggal di suatu kultur yang secara terus menerus mencoba untuk memberi makan keinginan untuk hal yang dapat dibeli dengan uang dan keamanan yang bisa disediakan dengan uang. Hampir mustahil untuk terlepas dari pengaruhnya. Kemewahan kemarin menjadi kebutuhan sekarang. Dan semakin kita mendapatkan, semakin sedikit kepuasannya. Jika kita pernah mendapatkan segalanya yang kita ingin, kita akan temukan bahwa tidak satupun dari hal itu membawa kepuasan riil.

Saya mempunyai sahabat karib menetapkan tujuan hidupnya untuk menjadi jutawan pada saat ia ada diusia 45 tahun. Ia mewujudkannya 2 tahun lebih cepat, tetapi itu tidak memuaskan. Bisnis ya yang yang telah mendesak waktunya untuk Tuhan dan meninggalkan dia kosong dan tak dipuaskan. Aku mengetahui ini di suatu pemakaman. Putranya yang paling tua mati dalam suatu kecelakaan mobil, dan itu menyebabkan dia menjadi lemah semangat dan merasa putus asa. Ia telah memutuskan untuk memberi Tuhan tempat dalam hidupnya lagi setelah tragedi, ia mengakui dirinya benar-benar tidak ingin pergi ke gereja. Tetapi ia tidak ingin tinggal dirumah. Sesungguhnya hanya ada satu hal yang bisa ia pikirkan tentang hidupnya, dan itu adalah untuk mengenal Tuhan lebih baik. Dia tertarik, saya mengatakan kalau pagi itu saya sedang memulai satu rangkaian kothbah tentang atribut Tuhan. Pertumbuhnya dalam pengenalan Tuhan telah membawa dia kepuasan yang tidak pernah dapat disediakan uangnya.

Kita sering dengar cerita seperti itu, namun karena pengenalan kita akan Tuhan sangat tidak mencukupi maka kita mengalami kesulitan untuk percaya bahwa berbagai hal materi tidak bisa memuaskan kita. Kita terus berusaha untuk memperoleh semakin banyak hanya karena itu telah menjadi jalan hidup kita. Kita secara terus menerus bertanya pada diri kita, “ Bagaimana aku menginvestasikan uang ini sehingga memberi aku lebih banyak uang?” Ada ratusan ribu jutawan di negeri kita, banyak dari mereka yang Kristen. Para teman Kristen mereka kadang-kadang mengundang mereka ke pertemuan-pertemuan untuk ceritakan bagaimana Tuhan telah memberkati mereka. Mereka sepertinya menyamakan berkat Tuhan dengan keuntungan bersih. Tetapi itu tidak konsisten dengan Tuhan yang adalah roh.

Tuhan tidaklah menentang dengan uang. Ia mengijinkan kita untuk mendapatkan uang yang kita cari. Ia memberi kita kesehatan, kekuatan, otak, dan peluang untuk memperoleh itu. Tetapi Tuhan yang adalah roh tidak bisa diukur berkatnya dalam bentuk rekening bank, portfolio investasi, atau saham. Ia mengukurnya dalam bentuk kedamai dalam diri, kepuasan, arti hidup, tujuan, hubungan penuh kegembiraan dan penuh kasih dengan orang lain, seperti halnya dengan hubungan dengan Dirinya. Uang tidak bisa membeli berbagai hal itu.

Ada orang-orang membicarakan tentang berapa banyak Tuhan telah memberkati mereka tapi sangat sedikit mengetahui apa itu berkat yang benar. Sungguh sial, mereka mengacaukan banyak dari umat Tuhan yang tidaklah kaya dan metinggalkan mereka merasa seolah-olah Tuhan tidak mengasihi mereka atau memperhatikan mereka. Itu akan lebih menolong untuk bersaksi tentang bagaimana material dan uang hanya memberi kepuasan yang kecil dibandingkan dengan kepuasan dari suatu hubungan pribadi dengan Tuhan. Banyak orang tak beriman juga menghasilkan uang banyak, tetapi itu tidak berarti berkat Tuhan ada atas hidup mereka. Jika uang adalah ukuran berkat, maka kejahatan dan penjual obat harusnya lebih diberkati diatas semuanya. Tuhan yang adalah roh tidak mengukur berkat oleh jumlah berbagai hal material yang kita kuasai.

Dia tidak mengukur keamanan dalam kaitan dengan berapa banyak yang sudah kita timbun untuk masa depan. Ia dapat menghapuskan cadangan juta dolar siapapun dengan cepat seperti ratus dolar (atau cadangan sepuluh dolar, jika itu situasi keuanganmu). Ia ingin kita menemukan keamanan kita didalamNya, bukan didalam uang atau berbagai hal material. Ia ingin segalanya untukNya. Ia mungkin tidak akan meminta semuanya, tetapi Ia mempunyai hak untuk melakukannya jika Ia menginginkannya. Ia minta segalanya pada pemuda kaya, dan orang itu melewatkan kesempatan untuk menerima hidup abadi sebab ia takut terhadap harga dari pemuridan (Luke 18:1827). Tuhan ingin kita menyerahkan apapun milik kita, investasi apapun, apapun yang Ia, dan untuk mempercayakan masa depan kita padaNya. Kita mampu melakukan itu ketika kita mengenal Tuhan yang adalah roh.

Pertanyaan yang paling utama yang kita harus tanyakan bukanlah, “ Bagaimana aku menginvestasikan uangku untuk mendapat uang lebih banyak?” atau bahkan, “ Bagaimana aku menyediakan keamanan keuangan yang lebih besar untuk diri ku dan keluarga ku?” Suatu pertanyaan yang lebih baik, “ Bagaimana mungkin aku menggunakan pendapatanku dan modal yang tersedia untuk memuliakan Tuhan, untuk membantuNya, dan untuk membantu orang lain yang sedang kekurangan?” Tuhanlah yang memberi kita uang. Bagi beberapa ornag Ia memberi lebih dari orang yang lain. Tidak ada dalam Alkitab pelarangan investasi atau menabung. Tetapi Firman Tuhan jelas menekankan bahwa uang tidaklah semata untuk ditimbun atau dibelanjakan untuk kenyamanan kita sendiri. Itu untuk digunakan untuk kemuliaan Tuhan.

Itulah penekanan Kristus dalam cerita perumpamaan orang kaya yang bodoh (Luke 12:16-21). Orang itu menimbun kekayaan untuk dirinya, tetapi Tuhan tidak pernah membiarkan dia hidup untuk menikmatinya. Tuhan berkata ia adalah orang bodoh, dan jiwanya telah diambil dari dia malam itu juga. Setelah menceritakannya Yesus menambahkan, “ Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Luke 12:21). Untuk menjadi kaya dalam Tuhan adalah dengan menginvestasikan apa yang kita kami punya untuk keselamatan jiwa-jiwa, untuk menguatkan rohani umat Tuhan, dan untuk mengurangi penderitaan manusia. Itu adalah berkat dan keamanan yang sejati.

Tuhan Yesus meringkas bahasan ini dengan indahnya didalam Khotbah dibukit: “ Janganlah kamu mengumpulkan harta di Bumi; Di bumi ngengat dan Karat Merusakkannya dan pencuri membongkar serta Mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di Sorga; Di sorga ngengat dan Karat Tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta Mencurinya. Karena di mana hartamu Berada, Di situ juga hatimu Berada” (Matthew 6:1921). Kita dapat membacanya, mengangguk setuju, tapi terus menyimpan harta benda di atas bumi. Apakah kamu mengetahui kenapa? Itu karena belum mengenal Tuhan dengan intim. Kita belum secara penuh mempelajari bahwa, walau Ia tertarik dengan berbagai hal material dan walau Ia dapat menyediakan semua yang kita perlukan, Dia sendiri adalah roh, dan yang berada diatas daftar prioritasnya berhubungan dengan hal rohani. Apakah kamu memberi perhatian dalam mengembangkan hidup kerohanimu sebanyak kamu meningkatkan keuntungan bersihmu?

Tidak lama sesudah Khotbah dibukit Tuhan Yesus memberi para muridnya suatu kesempatan untuk mempraktekannya. Ia mengirim mereka keluar untuk melayani berdua-dua tanpa uang atau persediaan ekstra (Matthew 10:9-10). Mereka mempelajari bahwa ketika mereka mengutamakan pelayanan Ia pasti memenuhi kebutuhan phisik mereka. Kita juga mempunyai peluang untuk mempraktekannya. Ada banyak yang membutuhkan bantuan di sekitar kita. Bagaimana nantinya kita menjawab? Mereka yang dengan intim mengenal Tuhan yang adalah roh akan memberi semakin banyak perhatian mereka kepada dunia rohani dan, sebagai konsekwensinya, mempertunjukkan suatu pertumbuh kesediaan untuk berbagi unsur material mereka melalui pelayanan rohani dan orang-orang sedang membutuhkan. Didalamnya, Tuhan yang adalah roh dimuliakan

Tindakan yang diambil

Karena Tuhan adalah pribadi yang hidup, mulailah untuk berbicara denganNya disepanjang hari. Bagikan tiap-tiap detil hidup denganNya — sukacita, dukacita, kemenangan, kekalahan, permasalahan, kesenangan, ketakutan, frustrasi, dll.

Mengingat nature rohani Tuhan, perubahan apa harus kamu buat? Dalam penggunaan uang?

Related Topics: Pneumatology (The Holy Spirit)