Where the world comes to study the Bible

Dari Kekal ke Kekal

Suatu perjalanan dengan bus disaat Israel modern akan membawa anda kembali lebih dari empat ribu tahun dan memberimu suatu pandangan sekilas tentang suatu fenomena masa lampau — tenda kulit kambing Arab berwarna hitam dipadang, dikenal sebagai Bedouins. Kecuali adanya truk pickup, traktor, atau antena televisi, apa yang kamu lihat sebagian besar tanpa perubahan selama berabad-abad. Gaya hidupnya tetap sama dengan pada masa Abraham.

Tercabut dari rumahnya di Ur dekat pantai Teluk Persia, ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain, tinggal di tenda, menghadapi musuh yang satu kemusuh yang lain, tidak pernah pasti apa yang akan terjadi besok. Hidupnya dipenuhi dengan ketidakpastian dan kegelisahan, dan ia rindu akan sesuatu yang permanen ( cf. Ibrani 11:910). Dekat suatu sumur kota Beershebalah ia menemukan apa yang ia sedang mencari. Disana Tuhan mengungkapkan Dirinya dengan nama El Olam, yang berarti “ Tuhan yang abadi,” pertama kali nama itu disebut dalam Alkitab ( Kej 21:33). Betapa itu menjadi suatu dorongan bagi Abraham untuk belajar bahwa kendati dalam ketidaktetapan, tidak stabil, dan karakter yang berubah dari hidupnya, Tuhan yang ia kenal dan cintai, yang mengawasi tiap-tiap keadaan hidup, yang dekat dikeabadian yang lampau dan akan tetap dekat dikeabadian yang akan datang.

Orang Perjanjian Lama Saleh lainnya bernama Musa hidup sampai umur 120 tahun, lebih sulit diperkirakan dengan table asuransi jika dia hidup sampai hari ini. Tetapi saat ia mendekati akhir hidupnya, ia menjadi sangat terkesan dengan sifat tak tahan lama dan singkatnya hidup diatas bumi ini. Ia menemukan pikirannya semakin banyak berpikir tentang kebenaran yang sama yang telah Tuhan ungkapkan ke Abraham tahun-tahun sebelumnya. Ia menulis suatu mazmur tentang itu, mungkin statemen yang paling jelas tentang keabadian Tuhan dalam Alkitab.

Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah(Psalm 90:1-2).

Para penulis Alkitab lainnya mengambil tema yang sama dan kita temukannya diulangi diseluruh halaman Alkitab. Isaiah memanggil Tuhan “ yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya” ( Isaiah 57:15). Paulus menunjukNya sebagai “ Raja abadi” ( 1 Timothy 1:17). Apa artinya itu semua? Apa implikasi keabadian Tuhan? Apa perbedaannya yang dibuat hal itu bagi kita?

Kita akan belajar saat kita berkembang dalam penyelidikan akan atribut Tuhan, Ia sempurna dan kekal. Dengan kata lain, ia tidak terbatas — tanpa kelemahan dan tanpa akhir. Sebagian orang berpendapat kalau keabadian hanyalah ketidak terbatasan dalam hubungan dengan waktu. Itu benar, tetapi lebih dari itu. Tuhan yang abadi tidaklah hanya tanpa permulaan atau akhir, tetapi juga diluar waktu dan secara total cukup dengan Dirinya. Jika kita benar-benar ingin mengetahui Tuhan dan menikmati persekutuan denganNya maka akan sangat menolong untuk memahami kebenaran ini, tentang diriNya.

Dia Awal dan Akhir

Musa berkata,“. . . dari kekal ke kekal, Engkau Tuhan.” Mari kita menguji bagian pertama dari statemen, “ dari kekal.” Secara teratur, anak-anak akan datang kepada saya dan bertanya, “ Di mana Tuhan datang?” Kita semua telah diajar untuk percaya bahwa segalanya datang dari tempat tertentu. Setiap hal memiliki pembuatnya. Setiap akibat mempunyai penyebab. Seseorang membuat arloji saya. Seseorang membangun rumah saya. Secara manusia, seseorang bahkan bertanggung jawab dalam membawa saya kedalam keberadaan, seorang laki-laki dan seorang perempuan yang saya panggil bapak dan ibu. Kita mengajar anak-anak kita awal hidup mereka bahwa pembuat dan tukang bangunan yang terakhir dari semuanya adalah Tuhan. Ia menciptakan alam semesta, dimana semua hal ada didalamnya. Pertanyaan berikutnya sesuatu yang alami. Kita yang menghasilkannya. Mereka pasti akan menanyakan itu. Mereka tidak tahan. “ Siapa yang membuat Tuhan?”

Jawabannya sulit untuk mereka terima. Mereka tidak punya kerangka acuan untuk dapat menghubungkan itu. Mereka belum pernah mendengar suatu jawaban seperti ini sebelumnya. Mungkin itu membuat mereka bingung pada mulanya, tetapi tidak ada penjelasan lain yang mungkin. Tidak ada orang yang membuat Tuhan. Ia selalu begitu. Alkitab tidak pernah mencoba untuk membuktikan Keberadaan nya atau menjelaskan di mana Ia datang. Selalu berasumsi bahwa Ia ada di sana dan bahwa Ia selalu di sana. Ia tidak punya awal.

Ketika kita membuka halaman pertama Alkitab, kita membaca, “ Pada mulanya Tuhan.” Ia sudah disana! Dan melihat apa yang sedang Ia kerjakan — menciptakan surga dan bumi. Ia sudah ada sebelum semuanya dan Dia yang membawa segalanya menjadi ada. Jika ada yang hidup sebelum Tuhan dan yang bertanggung jawab menciptakan Tuhan, maka Ia adalah Tuhan, dan kita harus bertanya lagi. Siapa yang membuatNya?

Maksud kita sebenarnya adalah karena Tuhan itu kekal maka Dia ada dengan sendirinya, satu-satunya pribadi yang ada tanpa penyebab. Dia tidak tergantung pada apapun atau sebab apapun. Dia ada diluar rantai sebab akibat. Dia tidak dicipta, tidak ada asal mula, tanpa awal, mendapat keberadaannya dengan sendirinya. Seperti kata Yesus, “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (John 5:26). Jika tidak demikian maka Dia bukan Tuhan. Pribadi yang kekal harus ada dengan sendirinya.

Bahkan akal sehat kita mengatakan bahwa, dibalik semua sebab dan akibat, ada Satu yang Dirinya tidak disebabkan dan ada dengan sendirinya. Orang Israel dalam perbudakan di Mesir, merasa tertekan, terlupakan, dan putus asa, mengetahu dibalik semuanya itu, ada Tuhan yang berkuasa kerena diluar semuanya itu. Saat Tuhan menyuruh Musa kembali ke Mesir dan menyelamatkan mereka dari perbudakan, Musa menolak. “apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya: Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (Exodus 3:14). Saat orang Israel mendengar bahwa Satu yang menyuruh Musa adalah Tuhan yang kekal, mereka akan mengakuiNya dan mengikuti kepemimpinan Musa. Itu masuk akal bagi mereka.

Bagaimanapun tidak semua orang menerimanya. Beberapa filsuf dan ilmuwan menolak Tuhan yang kekal dan ada dengan sendirinya karena mereka tidak bisa meletakanNya dalam tabung percobaan dan menelitiNya atau menjelaskan semua jalanNya. Tapi itu hanya dalih semata. Jika mereka bisa menelitiNya secara ilmu dan menjelaskan sepenuhnya tentang Dia, maka Dia pasti bukan Tuhan dan mereka menyadari itu. Masalah utama mereka adalah kesombongan. Untuk bisa percaya pada Tuhan yang kekal, kita harus mengakui kalau semua keberadaan berasal dari Dia. Itu termasuk kita. Kita juga harus sepenuhnya tergantung padaNya untuk setiap detil kehidupan kita. Manusia yang egonya besar, merasa cukup, tidak mau mengakui hal itu. Mereka suka mempercayai kalau mereka tidak memerlukan orang lain, hanya diri mereka.

Mungkin mereka perlu diingatkan bahwa Tuhan tidak memiliki awal dan akhir. Dia tidak hanya “dari kekal” tapi “sampai kekal” (cf. Psalm 102:25-27). Dia menciptakan sesuatu yang kekal seperti, malaikat dan jiwa manusia. Ini berita baik bagi orang percaya. Kita suatu hari akan masuk kedalam hidup kekal yang sudah kita miliki dalam Kristus. Tekanan dari waktu akan hilang dan kita mampu tenang dalam sukacita dan kebahagiaan dihadapan Tuhan yang kekal. Orang yang memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan jelas menikmatiNya selamanya. Seperti kata pemazmur, “Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya” (Psalm 48:14 KJV).

Tapi kekekalan bukan berita baik untuk yang tidak percaya. Tuhan yang kekal selain menciptakan manusia yang kekal juga tempat yang kekal. Salah satunya dibuat untuk iblis dan malaikatnya, tempat “api kekal” (Matthew 25:41), tempat “penyiksaan kekal” (Revelation 20:10). Walau Tuhan tidak membuat tempat ini untuk manusia, tapi orang yang tidak percaya dan menolak tawaran anugrah keselamatanNya akan diletakan disana. “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Revelation 20:15). Tidak ada jalan keluar selain menyembah Allah yang kekal, mengakui kita tidak layak dihadapanNya, mengakui dosa kita dan kebutuhan kita akan pengampunanNya, dan menerima keselamatan yang Dia sediakan saat Dia mengirimkan AnakNya kekayu salib. Kita berserah penuh padaNya, pada belas kasihanNya. Hal ini tidak bisa terjadi jika Tuhan tidak kekal.

Dia diluar Waktu

Salah satu karakteristik waktu adalah bentuk waktu: masa lalu, sekarang, dan masa depan; kemarin, sekarang, dan besok. Kita terikat pada masa kini. Masa lalu hanya dalam ingatan, dan masa depan merupakan penantian yang tidak bisa diperkirakan sepenuhnya. Kita mengukur hal ini. Kita menggunakan jam untuk menolong kita dan dalam beberapa peristiwa seperti Olimpiade, kita membagi waktu kedalam ratusan detik. Tapi kita tidak bisa keluar dari keterbatasan waktu, terikat dalam waktu, dan peristiwa didalamnya.

Kita perlu mengerti kalau kekekalan lebih daripada waktu yang tiada batas. Agar bisa dimengerti, kita bicara dalam istilah kekekalan lampau dan kekekalan kedepan, tapi sebenarnya tidak ada lampau dan masa depan dalam kekekalan. Hal ini tidak terikat waktu, diluar waktu. Tidak ada hal seperti masa lalu, sekarang, dan masa depan dihadapan Tuhan. Dia menciptakan waktu dan Dia bisa bekerja dalam kerangka waktu, tapi Dia sendiri tidak terikat didalamnya. Dia hidup dalam kekakan. Hari kemarin kita sama seperti sekarang dihadapan Dia, karena Dia sudah mengalamiNya.

Semua gambaran manusia tentang kebenaran ini tidak sempurna, tapi bisa menolong. Bayangkan anda sedang menonton Parade Bunga di Pasadena. Anda melihat kendaraan berurutan lewat didepan anda — urutan peristiwa. Saat itu selesai anda bisa melihat pengalaman anda dan berkata, “saya tadi melihat parade.” Sekarang bayangkan anda sedang merenung ditahun baru, membayangkan parade itu dari awal sampai akhir. Anda melihat urutannya, tapi anda bisa melihat langsung keseluruhannya. Itu bagian dari kesadaran anda daripada hanya urutan semata. Demikian juga Tuhan melihat hidup kita, seluruh sejarah manusia dari awal sampai akhir waktu.

Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana (Isaiah 46:9-10a).

Dia tidak membutuhkan pengetahuan peristiwa itu seperti kita. Dia tahu mengetahui awal dan akhir karena dia sudah menjalaninya. Bagi Dia dalam kekekalan hal itu seperti terjadi sekarang.

Ini kebenaran yang harus dipegang orang percaya. Tuhan mengetahui masa depan kita. Tidak ada kejutan dihadapanNya. Kita bisa mengalami kejutan dalam hidup kita, tapi tidak bagi Tuhan. Dia tahu hal bahagia yang akan kita alami, Dia tahu tragedy yang akan kita hadapi. Dia juga tahu dosa yang akan kita lakukan dan Dia sudah berduka atas hal itu. Tapi Dia memiliki rencana untuk membawa semuanya bagi kebaikan. Mengenal Tuhan seperti itu tidak hanya menolong kita yang ingin menyenangkanNya, tapi itu juga menolong kita menghadapi masa depan dengan keberanian dan kepercayaan diri. Tuhan ada dimasa depan, apapun yang terjadi, siap menyatakan langkah berikutnya yang Dia ingin kita lakukan dalam rencanaNya bagi kita.

Dia Cukup Dalam DiriNya

Setidaknya lebih dari satu elemen tentang pribadi kekal yang perlu dibahas. Karena Dia ada sebelum waktu dan ruang, sebelum ciptaan lainnya, maka sangat jelas kalau Dia bisa ada tanpa hal lainnya. Dia ada saat yang lain belum ada. Tuhan tidak memerlukan hal lain selain diriNya.

Hal itu tidak terjadi pada mahluk hidup lain. Sebagai contoh, kita memerlukan hal lain untuk menunjang diri kita, seperti air, makanan, dan udara. Tuhan tidak membutuhkannya! Jika Dia membutuhkan hal itu maka Dia bukan Tuhan. Tapi Dia sempurna dan Dia tidak membutuhkan hal itu. Saat Paulus berkothbah kepada filsuf di Atena, “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Acts 17:24-25). Tuhan tidak membutuhkan hal lain untuk menunjang diriNya.

Pemikiran ini mengagetkan saya saat menyadari kalau Tuhan tidak membutuhkan saya. Dan anda juga akan mengalaminya. Tuhan tidak membutuhkan anda. Dia tidak membutuhkan pujian, persekutuan, atau kesaksian kita. Dia mengasihi kita dan menginginkan kita. Dalam anugrahNya Dia menginginkan kita dan mengijinkan kita mengalami kepuasan dan kebahagiaan sebagai bagian dari rencanaNya. Tapi Dia tidak membutuhkan kita. Dia tidak menciptakan kita karena membutuhkan kita, tapi karena Dia memutuskan dalam kedaulatanNya bahwa menciptakan kita merupakan cara terbaik menunjukan kemuliaan dan anugrahNya (cf. Isaiah 43:7). Itu tidak menghina nilai kita. Mengasihi dan menginginkan kita memberikan kita nilai dan keamanan yang luar biasa. Sebaliknya, kita yang membutuhkan Tuhan. Kita tidak sempurna diluar dari hubungan pribadi denganNya. Kita hanya bisa menemukan arti hidup sejati saat kita mengijinkan Dia mendapat tempat dalam hidup kita. Kita membutuhkan Tuhan, tapi hanya Tuhan yang cukup dengan DiriNya.

Kemandirian Tuhan memiliki aplikasi praktis bagi hidup kita. Jika Dia memiliki semua yang diperlukan, dan Dia menawarkan Dia untuk masuk kedalam hidup dan memberikan DiriNya dengan kita, maka jelas kita bisa menemukan semua yang kita butuhkan dalam Dia. Inilah maksud Paulus tentang Dia. Bicara mengenai Anak Allah, dia berkata, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia.” (Colossians 2:9-10). Yesus Kristus adalah Allah menjadi manusia, yang juga kekal. Nabi Mikah berkata,

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala (Micah 5:2).

Anak yang lahir dikandang diBetlehem adalah Anak yang kekal dan mandiri. Dan kita bisa menemukan keutuhan kita dalam Dia. Betapa bodohnya kita memarahi, menangis, memohon, dan memanipulasi cara lain untuk membuat orang lain memenuhi kebutuhan kita disaat Tuhan yang berdiam didalam kita melalui AnakNya merupakan kebutuhan utama kita. Kita sempurna didalamNya.

Baik, Dia — Tuhan kita yang kekal, tanpa awal dan akhir, diluar waktu, dan cukup dengan diriNya. Hidup kekalNya lebih daripada hidup tak berkesudahan dalam waktu seperti yang kita mengerti. Itu merupakan kualitas hidup yang berbeda, hidup tak terbatas, hidup yang ditandai oleh kepuasan, keutuhan dan kebahagiaan. Dan itu sukacita kita, sekarang dan selamanya, melalui Pribadi AnakNya. “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1 John 5:11-12).

Apakah Tuhan hidup didalam kita? Itu didapat melalu pengakuan dosa dan meletakan kepercayaan kita pada Yesus Kristus sebagai satu-satunya yang bisa membayar hukuman dosa. Jika kita melakukan itu, maka kita bisa mengenal Tuhan yang kekal dan menerima hidup kekal. Kita memiliki sesuatu yang lebih besar untuk dihidupi daripada hanya hal sementara dalam dunia. Kita bisa hidup dalam nilai kekal.

Manusia bergumul dalam immortasnya. Politikus ingin menulis nama mereka dalam sejarah, atlit ingin diingat karena rekor mereka, dan pengusaha ingin membangun kerajaan bisni yang bertahan beberapa generasi. Tapi jarang jadi seperti itu. Politikus dilupakan, rekor dipecahkan, dan uang habis. Itu semua kesia-siaan diatas bumi. Hanya apa yang kita bangun dalam jiwa seseorang, akan bertahan untuk kekekalan.

Sebagian orang memiliki tujuan yang mulia daripada hanya ketenaran atau kekayaan. Mereka ingin membuat dunia lebih baik, meningkatkan kualitas hidup dibumi. Itu sangat terpuji. Tapi Tuhan memperingatkan kita bahwa dunia ini akan dihanguskan api (cf. 2 Peter 3:10). Kelihatannya sia-sia hidup untuk hal duniawi karena suatu saat itu semua akan hancur. Itu mengulangi hal ini: hanya yang kita bangun dalam jiwa seseorang yang bertahan dan kekal. Jika Tuhan itu kekal maka tidak ada usaha didunia ini yang lebih penting daripada mengenalNya, mengasihiNya, memujiNya, melayaniNya, dan membagikanNya bagi orang lain. Itu merupakan cara paling menguntungkan dalam menghabiskan waktu dibumi. Itu memiliki nilai kekal.

Tindakan yang diambil

Sekarang duduk, saat semua hal ini masih segar dalam ingatan, dan tulis beberapa tujuan hidupmu yang mencerminkan pengenalan anda akan kekekalan Tuhan.

Related Topics: Theology Proper (God)