Where the world comes to study the Bible

Topi Ayah yang Banyak

Saat itu 30 menit lebih lama dari biasanya ketika Harry Hasselmore kembali dari kerja. Kontrak yang bosnya inginkan disaat terakhir membuat dia terlambat pulang kerumah dan dalam perjalanan terperangkap dalam kemacetan. Panasnya tak tertahankan dan kepalanya mau pecah. Makan malam yang baik dan malam yang tenang untuk menenangkan diri –itulah yang dia inginkan.

“Apa yang dilakukan sepeda dan mobil itu dijalan?” dia marah-marah pada diri sendiri. “saya sudah mengatakan berkali-kali pada anak-anak untuk meletakannya ditempat yang seharusnya.” Harry melihat anak-anak dihalaman tetangga dan berteriak, “cepat kesini dan ambil barang-barang ini. Kalian semakin hari semakin tidak bertanggung jawab.” Itu tidak penting apakah temannya ada disana dan mendengar kata-kata memalukan ini. Saat mereka menyebrang, Harry melihat robekan dalam jeans Ralph, “lihat apa yang kamu perbuat!” teriaknya. “Kalian harus pikir bagaimana saya dapat uang.”

Isi makan malam tidak menolong hal ini, dan dia tetap menggerutu selama makan. Dia tidak pernah berpikir kalau Helen sudah menggunakan kreativitas dan waktu untuk membuat makan malam menjadi menarik dan juga menghemat uang. Dan anak-anak –tingkah mereka selalu begitu tapi malam ini khususnya sangat mengganggu. Harry dalam hal ini berkata: “Jangan makan terlalu cepat. Jangan bicara dengan mulut penuh. Hentikan bunyi mulut itu. Apakah kamu harus meletakan tubuhmu dimeja? Hentikan perselisihan saat makan! Tidak bisakah ada ketenangan buat saya?”

Dia baru duduk dikursi malasnya dengan surat kabar ketika Joenie berkata, “Ayah, maukah membetulkan rumah bonekaku?” “Tidak malam ini,” bentaknya. “selain itu, jika kamu lebih hati-hati mereka tidak akan rusak.” Dia tidak memperhatikan sakit hati diwajah anaknya saat dia berjalan pelan kekamarnya.

Kemudian Ralph datang. “Hei, Pa, ingin main lempar bola dengan bola baruku?” “kapan kamu mau belajar kalau saya punya hal yang lebih penting daripada main, main, main?” Ketus Harry. Saat itu sudah lama Ralph tidak minta ayahnya melakukan sesuatu bersamanya. Mungkin butuh waktu lebih lama lagi sebelum dia ingin meminta ayahnya lagi.

“Harry, saya ingin bicara tentang anak-anak.” Helen sudah selesai dengan cucian dan ingin sekali nasihatnya tentang kenakalan tetangga. “tolong Helen, bisakah kasih waktu sebentar? Apapun itu saya percaya kamu bisa menyelesaikannya. Sekarang tinggalkan saya sendiri.” Walau hari itu lebih buruk dari biasanya, prilaku Harry tidak berubah. Dia menjadi makin terganggu dan tidak sabar, dan walau tidak menyadari itu, dia secara sistematis menghancurkan keluarganya. Istrinya semakin kecil hati dan tertekan, dan anak-anaknya menjadi lebih bermasalah.

Alkitab menunjukan bahwa Harry yang memegang kunci untuk mengkoreksi situasi tragis ini. Anda lihat, Tuhan tidak hanya memberikan teladan sempurna tentang ayah untuk diikuti, dia juga menunjuk beberapa hal tentang tanggung jawab ayah dirumah. Tapi sampai Harry membuka pikirannya terhadap kebenaran ini dan menyatakan keinginannya untuk taat, hanya ada sedikit harapan untuk peningkatan. Peran ayah tidak mudah. Itu penting dan banyak sisi. Kita harus mengerti topi-topi ayah yang beragam dan belajar bagaimana memakainya.

Pertama, dia adalah pemimpin. Tidak ada pernyataan yang lebih jelas daripada dalam kualifikasi penatua dalam gereja. “seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (1 Tim. 3:4, 5, NIV). Perkataan itu secara literal “berdiri didepan” dan “bertanggung jawab.” Tuhan menempatkan ayah dalam keluarga untuk memimpin. Otoritas Tuhan dalam keluarga berpusat pada ayah.

Dalam banyak kasus, ayah berpikir dia merupakan pemimpin keluarga, dan ibu juga membiarkan dia percaya itu. Tapi kenyataannya Ibu yang mengatur hampir seluruhnya. Ayah kebanyak tidak tahu apa yang terjadi. Lebih menyedihkan lagi, dia mungkin tidak peduli. Dia menyukai pengaturan seperti itu karena itu meringankan tanggung jawabnya. Ibu yang memutuskan apa yang bisa dilakukan anak dan yang tidak. Ibu yang memeriksa pekerjaan sekolah mereka, bicara dengan guru mereka, dan menandatangai laporan nilai. Ibu yang menolong mereka mengatasi masalah, mengajar mereka apa yang perlu mereka ketahui, dan membawa mereka ketempat yang perlu mereka tahu. Ayah tidak lebih dari penonton luar yang berteriak kepada mereka sesekali agar kehadirannya bisa dirasakan. Dan hasilnya adalah bencana.

Penyelidikan menunjukan bahwa ada hubungan lansung antara figure ayah yang lemah dan masalah anak seperti karakter, prilaku, dan pencapaian. Mereka yang bekerja dengan remaja menemukan kurangnya image ayah dalam rumah. Mereka mengindikasikan bahwa kebanyakan pria yang gagal dalam pekerjaan datang dari keluarga yang figure ayahnya kurang memuaskan. Waktu ayah memberikan kedudukan otoritasnya dalam rumah, ibu umumnya melakukan peran yang tidak pernah ingin didapatnya. Kombinasi ayah yang tidak tertarik dan ibu yang tertindih bisa membuat anak lari dari rumah, masuk kedalam pernikahan yang tidak bijak lebih cepat, atau menderita kesulitan emosi dan kurangnya kepribadian.

Ayah harus memimpin. Tapi apa yang harus dilakukan dalam mengatur keluarga dengan tepat? Pertama harus memimpin dalam menyediakan kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan. Paulus menggunakan kata ganti pria untuk menunjuk hal ini saat dia berkata, “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Tim. 5:8, NIV). Ibu bisa bekerja, tapi tanggung jawab utama untuk memenuhi kebutuhan ada pada ayah. Ayah yang malas dan tidak menerima tanggung jawab ini perlu memperhatikan hukuman yang berat.

Ini barulah permulaan. Dia juga harus memimpin dalam mendidik anak –melihat peristiwa dimasanya dalam terang Firman dan mengajarkan mereka bagaimana hidup selaras dengan Firman Tuhan. Pemazmur menunjukan itu.” Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka. . . .” (Psalm 78:5, TLB). Rasul Paulus menyebutkan. “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya” (1 Thess. 2:11-12, NIV).

Ayah harus memimpin penyelidikan Alkitab dan ibadah keluarga, mendorong keluarga terlibat dalam pelayanan gereja, dan dalam menegakan kesaksian keluarga dalam lingkungan. Terlalu sering ayah tidak hanya mengabaikan hal rohani dan ibu yang memimpin, meninggalkan anak-anak untuk berpikir bahwa gereja adalah dunia wanita dan memberitakan injil adalah dunia wanita. Saat ayah menjadi sumber kekuatan rohani dalam rumah, anak mulai serius tentang kehidupan Kristen.

Akhirnya, keluarga yang diatur dengan tepat berarti pengawasan terhadap semuanya. Itu tidak berarti ayah seorang diktaktor, menjalankan semuanya dengan tangan besi, membuat setiap keputusan dan melakukan hampir semuanya. Sebagai pengatur dalam Tuhan, dia dalam doa mempertimbangkan perasaan yang lain dan keputusannya untuk kebaikan mereka bukan dirinya. Dia mengenali kemampuan istrinya dan mendorongnya untuk mengembangkan dan menggunakan itu sampai penuh. Tapi istri harus yakin kalau suami sadar apa yang terjadi, dan suami menyetujuinya. Dan untuk meyakinkan kalau suami yang mengatur, bahwa dialah yang paling bertanggung jawab untuk kelangsungan kegiatan keluarga, dan dia dengan setia menjalankan tanggung jawab itu, sehingga membawa keamanan pada istri dan anak.

Tidak hanya ayah yang menjadi pemimpin. Dia juga harus menjadi pengasih. Dia harus mengasihi istrinya dengan kasih yang tidak egois, mengampuni, suatu kasih yang seperti Kristus. Seseorang mengusulkan kalau hal terbaik yang bisa ayah lakukan untuk anaknya adalah menyatakan kasih Kristus kepada ibu mereka. Pemikiran ini Alkitabiah. Paulus menasihati suami untuk mengasihi istri seperti Kristus mengasihi gereja (Eph. 5:25). Saat Tuhan membangun institusi perkawinan dia berkata, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Gen. 2:24, KJV). Anak akan datang, tapi suami dan istri selalu menikmati kedekatan khusus diantara mereka.

Secara sederhana, ayah, setelah Tuhan sendiri, istri merupakan hal utama dalam hidupmu, sebelum bosmu, sebelum temanmu, sebelum pelayanan, bahkan sebelum anakmu. Dan anak bisa mendapat keuntungan dari prinsip ini. Kasih anda pada ibu mereka, dengan nyata, akan memberikan mereka kepuasan dan keamanan yang tidak bisa disediakan dunia. Mereka bisa mengeluh dan menutup mata mereka saat anda memeluk istri anda dan berkata, “Yah, begitu lagi.” Tapi didalam hati mereka ada kepuasan. Mama dan papa saling mengasihi.

Sebagian suami dan istri hidup hanya untuk anak mereka dan mereka tidak pernah benar-benar mengenal satu sama lain. Satu hari, anak-anak bertumbuh dan pergi dan meninggalkan ayah dan ibu saling memandang seperti orang asing tanpa ada yang bisa dikatakan, bergumul ditengah pernikahan anak mereka. Sementara itu, anak-anak menjadi terlalu tergantung pada orangtua mereka. Masalah penyesuaian diri dalam pernikahan sangat besar, dan tekanan dari keluarga semakin menyulitkan mereka. Psikolog menyatakan bahwa orangtua yang menikmati hubungan penuh kasih memiliki prospek terbaik sebagai sumber bagi anak mereka dalam membangun pernikahan mereka sendiri yang berhasil.

Jadi ayah, ajaklah istrimu pergi makan malam keluar secara teratur. Bawakan dia sesuatu yang berkata, “Aku cinta kamu.” Luangkan waktu bicara tentang hal yang memberatkan dia. Peka terhadap kebutuhannya dan hidup untuk memenuhi kebutuhan itu. Tolong dia dalam pekerjaan sehari-hari. Jika dia mendapat hari yang berat, dengan gembira ambil alih dan mendorongnya untuk keluar sebentar. Jangan menyudutkannya didepan anak-anaknya. Tunjukan kasih sayang padanya didepan anak-anak. Bagaimana lagi anak-anak bisa belajar bagaimana mengasihi?

Pertanyaan yang paling sering saya dapatkan, saat saya bertanya bagaimana mereka tahu orangtua gagal terhadap mereka karena orangtua kurang saling mengasihi. Seorang gadis menulis, “Tidak ada kasih sayang yang ditunjukan dalam keluarga kami, ayah saya terhadap ibu atau mereka terhadap saya. Saya tahu tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, tapi saya bukan orang yang hangat dan pengertian.” Sebagian tidak pernah melihat pernyataan kasih diantara orangtua mereka dan menderita karena itu.

Salah satu hal terbaik yang bisa anda lakukan pada istri anda adalah memarkir anak anda disuatu tempat dan pergi bersama beberapa hari –hanya berdua. Tanggung jawab yang terus menerus dilakukan cenderung mengeringkan kita secara fisik dan emosi. Tuhan bisa memberikan kita kasih karunia untuk mengatasi tekanan hidup, tapi dia ingin kita menggunakan akal dan keluar dari itu secara periodic. Yesus mengetahui kebutuhan itu. “Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika! Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.” (Mark 6:30, 31, NIV). Kadang lebih mudah menilai situasi dan melihat cara mengembangkannya saat anda berdiri jauh dari situ untuk sementara. Dengan menjauh akan menolong anda memperbaharui rohani anda, menyingkirkan ketegangan keluarga, dan memberikan waktu untuk saling mengerti dan kesempatan menjelaskan tujuan untuk anak-anak. Itu akan mendekatkan anda berdua dan anak-anak. Dan tidak ada salahnya melihat kedepan saat anak anda sudah pergi dan tinggal anda berdua.

Peran utama ketiga seorang ayah adalah disiplin. Raja Salomo menyatakan ayah yang mengkoreksi anaknya (Prov. 3:12). Paulus mengingatkan para ayah yang ingin jadi penatua agar anak taat dengan hormat yang tepat (1 Tim. 3:4). Lebih jauh, dia menasihati ayah dalam lingkup lebih luas: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan ” (Eph. 6:4, NASB).

Kenapa Paulus menasihati para ayah? Seperti yang sudah kita ketahui, nasihat itu diberikan karena mereka cepat marah dan kasar pada anak. Aturan dari ayah yang kasar dan berdasar rasa takut menghasilkan pribadi yang sama dan melakukan masalah yang tidak terbayang oleh ayah. Itu menghasilkan pemberontakan yang kemudian keluar pada masyarakat, atau rasa tidak berharga dan tertolak. Kita perlu memperhatikan nasihat Paulus pada jemaat Kolose: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Col. 3:21, NASB). Disiplin yang baik dimulai dari disiplin diri sendiri, bukan dengan mulut atau otot.

Tapi hal positif dari perintah langsung pada para ayah: “tapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Kita dibawa kepada kesimpulan kalau ayah merupakan penanggung jawab utama diseluruh proses mendidik anak. Dia bertanggung jawab bahkan terhadap apa yang ibu katakan dan lakukan pada anak. Dia bertanggung jawab pada Tuhan untuk setiap hal yang terjadi dalam rumah. Sebagai figure Tuhan, dia harus tahu apa yang terjadi dan mengaturnya.

Ini secara praktek memiliki percabangan. Disatu hal, ayah harus mengatur disiplin saat dia dirumah. Dikebanyakan kasus, ibu memiliki pekerjaan mendidik anak sepanjang hari. Saat ayah pulang, istri tahu shiftnya selesai. Ayah akan melindungi istri dari tekanan dan masalah yang digumulinya sepanjang hari. Lebih jauh, karena istri mewakili otoritas suami selama dia diluar, maka suami harus mendukung istri didepan anak. Dan karena dia hampir sepanjang waktu diluar, dia harus memberi waktu bicara dengan istri tentang apa yang terjadi, menawarkan nasihat dan pertolongan. Itu belum berakhir.

Peran keempat adalah menemani. Itu tidak selalu berarti teman dekat. Sebagian ayah membodohi diri dengan mencoba melakukan semua yang dilakukan anak karena ingin berteman, sering itu memalukan bagi sang anak. Maksud saya adalah menemani dengan setia, dapat dipercaya dan bersahabat. Siapa yang menolak kalau ayah sering terpisah dari anak dalam lingkungan kita. Menarik diperhatikan kalau pernyataan terakhir Tuhan di masa PL tentang kedatangan Mesias, “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya . . .” (Mal. 4:6, KJV).

Walau bagian ini masih menunggu pemenuhan akhir, itu menggambarkan kasih karunia Tuhan sampai sekarang memulihkan hubungan antara ayah dan anak. Tuhan ingin mereka satu hati, satu pikiran satu jiwa. Itu membutuhkan waktu bersama, dengan komunikasi dan persekutuan yang dekat. Baik anak perempuan dan laki-laki memerlukan waktu berdua dengan ayah. Itu mungkin dalam bentuk makan malam bersama, piknik, mendaki, memancing, main tennis, atau pengalaman lainnya yang bisa menyediakan kesempatan bicara dan saling mengenal. Ibu bisa menolong dengan tidak terlalu menuntut materi sehinga sang ayah terus bekerja untuk memenuhinya, dan akibatnya tidak bisa menemui anak. Tapi dengan adanya waktu dan ibu yang simpati, hanya masalah bagaimana kita mendisiplin diri untuk melakukannya. Suatu keadaan yang baik untuk komunikasi dan kebersamaan dengan anak disaat tidur. Bapak perlu meletakan suratkabar atau menutup TV dan menidurkan anak secara teratur. Dia tidak bisa kehilangan kesempatan, mendapat percakapan yang bernilai, permainan bersama dan masukan rohani yang ada dalam momen-momen sebelum mereka tidur.

Anak laki-laki secara khusus butuh kenal ayahnya. Ayah mewakili manusia apa dia nantinya –suami seperti apa nantinya terhadap istri, ayah yang seperti apa terhadap anaknya, penyedia kebutuhan seperti apa terhadap keluarganya, pemimpin seperti apa nantinya terhadap gereja, dan kesaksian seperti apa nantinya dia dalam dunia. Dia perlu teladan untuk diikuti, model identifikasi diri, ayah yang bisa dibanggakan. Anak cenderung mengikuti pola yang sudah dibuat ayah dalam perkawinan. Itu menakutkan bukan? Berikan anak anda teladan yang baik. Kadang saat image ayah lemah, anak laki-laki bergantung pada ibunya terlalu lama. Saat dia besar, dia akan mencari istri yang bisa menjadi ibu baginya, dan pernikahan generasi berikutnya adalah bencana. Para ayah, berikan waktu untuk anak laki-lakimu.

Kita semua tahu kalau kematian dan perceraian merampok banyak anak laki-laki dari ayahnya. Apa yang harus kita lakukan? Diseluruh Alkitab Tuhan mendorong suatu perhatian unik terhadap “kurangnya sikap kebapakan” Penekanan itu menekankan betapa penting image ayah. Penyelidikan menunjukan ayah pengganti dalam hubungan bisa membantu memenuhi kebutuhan emosi anak laki-laki. Pria Kristen bukalah hatimu bagi anak laki-laki yang kekurangan hal ini.

Anak perempuan juga butuh kenal ayahnya. Seorang anak perempuan belajar dari ayah tentang seperti apa pria itu. Ayah mewakili suami seperti apa yang akan bersamanya nanti, bapak dari anaknya yang seperti apa, figure otoritas seperti apa yang harus dia tunduk. Telah diselidiki kalau anak perempuan secara tidak sadar mencari suami seperti ayahnya. Jadi menjadi suami seperti apa yang kemudian akan anakmu kawini. Kemudian bangun hubungan yang hangat dengan dia. Itu akan menolongnya menyesuaikan diri dengan baik dengan suami yang Tuhan berikan padanya. Jika anda mengabaikan ini, kebenciannya akan ditransfer kepria lain, bahkan kesuaminya. Dan beratnya kegagalanmu adan membebanimu ditahun-tahun akan datang.

Tidakkah ini terlalu berat untuk seorang manusia? Ya, pasti. Itu menuntut waktunya tanpa belas kasihan. Kekeringan emosi tiada akhir. Tapi peran terakhir yang diberikan Tuhan akan menyediakan dia kekuatan mengatasi semua yang Tuhan ingin dia lakukan. Dia harus menjadi pria bertuhan.

Otoritas ayah untuk mengatur keluarganya datang dari Tuhan. Tapi dia tidak bisa menjalankan otoritas itu dengan tepat kecuali menyerahkan diri kepada otoritas Tuhan. Paulus menjelaskan kepada jemaat Korintus, seperti pria menjadi kepala atas wanita, demikian Kristus kepala atas pria (1 Cor. 11:3). Sebagian pria tidak tepat mengatur keluarganya karena mereka tidak tunduk pada Firman dan kehendak Yesus Kristus. Mereka tidak bisa menjalankan keinginan Tuhan melalui kuasaNya karena dibatasi dosa.

Yesus mengajar kita rahasia hidup dalam hubungan denganNya seperti carang anggur. Kemudian dia berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (John 15:7, NIV). Formula kesuksesan sebagai ayah adalah memenuhi pikiran kita dengan Firman, memberi waktu dihadapanNya mencari kehendak dan kuasa untuk mentaatiNya. Saat kita bertumbuh dalam keserupaan denganNya kita harus memenuhi peran kita dengan hikmat. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (John 15:11, NIV).

Related Topics: Christian Home