Where the world comes to study the Bible

Serangga dan Kupu-kupu

Disepanjang peran saya sebagai orangtua saya pernah jatuh. Saya tidak ingat secara pasti umur anak laki-laki tertua saya ketika itu pertama kali terjadi, tapi satu hari saya menyadari bahwa saya bukan lagi pahlawan yang tahu dan bisa melakukan semuanya seperti dia memandang saya dulu. Kenyataannya dia lebih tahu daripada saya dan dia kelihatannya senang menggoda kekurangan saya itu. Saya curiga kejatuhan saya lebih awal dari itu berkaitan dengan pengaruhnya disekitar rumah.

Apa yang terjadi? Apakah saya berubah? Tidak, saya pikir tidak –setidaknya bukan yang buruk. Jika memang, mungkin saya sedikit lebih dewasa. Jadi, apakah dia berubah? Mungkin tidak seperti itu. Dia baru mulai mengembangkan kemampuan melihat hal seperti adanya. Anda lihat, 2 mahluk ganas dari spesies yang disebut “remaja” memiliki daya tangkap dan kejujuran yang bengis, sering disesali orangtua.

Saya memperhatikan sesuatu tentang remaja saya. Mereka cenderung sangat ekstrim dalam tenaga dan tempramen untuk hal yang kurang beralasan. Mereka sering meledak dengan tenaga tiada batas, seperti saat mereka main football dengan teman mereka. Tapi disaat lain mereka kelihatan terlalu capek untuk berdiri dari sofa dan pergi ketempat tidur. Kadang mereka mengejutkan kita dengan kedewasaan dan pengertian mereka, sementara disaat lain kita keheranan akan kekanakan dan kebodohan mereka. Para ahli mengatakan fluktuasi ini disebabkan oleh perubahan yang ada ditubuh mereka dan itu normal. Itu bisa membuat kita tenang, kalau kita bisa mengingat itu saat mereka bertingkah yang tidak masuk akal, atau membuat kita terdiam karena tindakan mereka.

Tapi kenyataannya tetap, ada saat dimana kita menikmati seorang dewasa dan saat lain kita mentoleransi keegoisan anak kecil, itu satu paket. Seluruh fenomena aneh mengingatkan saya akan satu transformasi alam yang paling menakjubkan –metamorfosis ulat jadi kupu-kupu indah. Dan kadang anak kita kelihatan lebih seperti ulat daripada kupu-kupu. Sebenarnya, mereka bukan anak kecil juga bukan orang dewasa. Mereka ada ditengah-tengah, bergumul membuat identitas mereka. Kita bisa menolong mereka dengan melihat mereka sebagai orang yang mau menuju kedewasaan daripada anak kecil yang sedang bergumul.

Model Orangtua melewati saat seperti ini bersama kita. Siapa yang tidak pernah mengalami hal seperti ini dalam hidupnya? Orang Kristen yang paling dewasapun akan jujur mengakui kalau mereka punya masa keras kepala dan egois seperti ini. Tapi Tuhan dengan sabar dan kasih mendorong kita terus bertumbuh kearah Dia (2 Pet. 3:18). Dan dia melihat kita dalam terang seperti apa kita nantinya dengan kuasa dan anugrahnya (e.g. Phil. 3:20-21; 1 John 3:2). Kepastian itu merupakan motivasi besar dalam perkembangan kerohanian kita. Jika kita ingin membawa remaja kita kearah kedewasaan dalam Tuhan, kita harus membiarkan Tuhan memberikan kita kemampuan untuk mendorong dan mendukung menggantikan keterkejutan dan menghukum. Kita berharap remaja kita akan menjadi orang dewasa indah.

Bahkan dengan prilaku yang benar disesuaikan, kita perlu ingat beberapa prinsip yang bisa menolong kita membimbing remaja kita berhasil melalui tahun-tahun sulit ini. Saya katakan mengingat karena kita sudah tahu lebih dulu apa yang harus dilakukan. Jika kita berfungsi seperti garis besar Firman, maka sedikit yang berubah. Teladan yang kita buat akan selalu penting. Kasih yang kita tunjukan, walau berkurang dalam bentuk fisik tapi tetap besar. Kehangatan hubungan yang kita buat dan terus dipelihara akan menjaga jurang antar generasi tidak melebar. Disiplin yang kita jaga, walau memberikan kebebasan dan tanggung jawab yang lebih luas dari sebelumnya, akan terus menjadi bagian penting dalam memdidik mereka. Kita terus memasukan Firman Tuhan kedalam pikiran mereka untuk menyediakan arahan hidup dan sukacita dalam hidup. Dengan kata lain, kita mulai meletakan fondasi dari kelahiran mereka sampai sekarang mereka remaja.

Sebagian orangtua bertanya apa yang harus mereka lakukan kepada anak angkat remaja yang tidak bisa mendidiknya dari awal. Jawaban yang mungkin adalah mulailah diperiode itu dan ikuti prinsip Firman tentang periode itu. Jika anda ada disituasi itu, surat seorang wanita ini akan meyakinkan anda.

Saat kita diawal 20 an Tuhan memberikan kami Sharon berumur 16 tahun. Kami tidak punya pemahaman yang dalam atau pengalaman khusus. Kami harus menggunakan kasih dan Firman Tuhan. Beberapa bulan kemudian, Tuhan mengirim Robin berumur 16 tahun. Kita menggunakan alat yang sama. Lima tahun kemudian datang Gwen 16 tahun dan Ron 12 tahun. Ada saat dimana kita merasa hal-hal tidak berjalan baik, tapi saat kita menghadap Tuhan kita didorong untuk meneruskannya.

Kita tidak bisa mulai pada poin A seperti yang kita lakukan pada ketiga anak kami, jadi kita mulai mendidik anak angkat kami ditahap mereka sekarang. Keempatnya menerima Kristus. Dua orang sudah menikah. Satu anak dipersiapkan untuk pelayanan. Kita melihat kepribadian mereka ditransfomasi oleh kuasa Kristus dan sekarang mereka melayani Tuhan. Itu berhasil!

Dengan surat itu, kita siap untuk diingatkan tentang beberapa hal yang perlu ditekankan saat berurusan dengan remaja. Kita harus menjaga komunikasi tetap terbuka. Salah satu keluhan paling umum dari remaja tentang orangtuanya adalah, “orangtua tidak bisa mengerti aku.” Komunikasi lebih daripada bicara. Didalamnya ada pengertian akan pemikiran dan perasaan orang lain, dan menerima haknya untuk percaya dan merasakan apa yang dirasakannya. Penerimaan tidak langsung berarti setuju dengan semua pendapat atau menyetujui semua ekspresi emosinya. Tapi itu berarti menerima dia walau pendapatnya berbeda dari kita, dan menghargai haknya untuk itu.

Ini salah satu hal terberat untuk dilakukan orangtua. Saat anak kita memiliki pemikiran yang berbeda dari kita, kita berpikir kalau mereka benar, maka kita harus salah. Dan kalau kita menunjukan kita salah maka itu menyerang kepintaran dan harga diri. Jadi kita menyerang balik dan dengan marah mempertahankan pendapat kita. Dan jika kita tidak memiliki fakta yang mendukung cara pandang kita, kita mencoba berkata seperti, “lihat, saya lebih tua dari kamu, saya tahu apa yang saya katakan, dan itu benar. Semakin cepat kamu mengakuinya, semakin baik.” Dan dalam sekejab! Semua komunikasi tertutup.

Taktik kita menunjukan kalau remaja kita tidak dewasa dan bodoh, idenya membuat di sangat inferior dibanding kita, dan satu-satunya cara untuk komunikasi adalah mengakui cara pandang kita. Butuh waktu yang lama sebelum dia melibatkan diri dalam kekurangajaran itu lagi. Betapa lebih baik jika kita berkata dengan tenang dan baik seperti, “ya, saya bisa mengerti perasaanmu. Tapi biarkan saya membagikan beberapa pemikiran untuk dipertimbangkan selanjutnya.”

Kadang pengumuman remaja kita tentang apa yang dilakukan dan dikatakan teman disekolahnya disambut dengan keterkejutan, kemarahan, atau kotbah yang membosankan. Masuk akal kalau dia menghindari ketidakenakan seperti itu –dengan menutup mulutnya. Dikejadian lain kita menemukan kita menghafalkan prasangka tanpa mendengarkannya atau mencoba mengerti apa sebenarnya yang dikatakan. Dia tidak perlu jadi jenius untuk mengetahui kalau kita tidak tertarik dengan pemikirannya, hanya pada pemikiran kita. Maka dia akan berhenti mengatakan apa yang dipikirkannya.

Tuhan memiliki nasihat yang baik tentang komunikasi orangtua dan remaja. Dari PL dikatakan: “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya” (Prov. 18:13, NASB). Para orangtua, kita harus belajar mengontrol mulut kita saat kita menajamkan saraf pendengar kita.

Rasul Yakobus menambahkan. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (James 1:19, NIV). Tidak ada yang lebih cepat menghancurkan rasa hormat remaja kita (dan membangun ketegangan dan pemberontakan) daripada reaksi cepat marah dari kita. Kita mengharapkan beberapa argument dan ketidaksetujua dari mereka. Mereka mencoba menemukan diri, mencoba menemukan siapa mereka, dan apa yang mereka bisa lakukan dan tidak. Tapi saat kita kehilangan kendali, mereka tahu kalau mereka lebih kuat dari kita. Mereka menemukan, yang tidak tidak disadari sebelumnya , bahwa mereka memiliki kekuatan untuk mengontrol emosi kita, maka pertengkaran dimulai! Kita harus belajar mendengar dengan kedua telinga terbuka, dengan sabar, tenang, penerimaan, perhatian, dan pengertian.

Pengertian tidak berarti sentimental. Kita tetap menyatakan pendapat dan alasan kita kepada mereka, tapi kita melakukannya dengan kasih. Kita tetap melarang perkataan yang tidak hormat, tapi tidak dengan pukulan dan kemarahan “jangan sekali-kali kamu bicara begitu kepada saya.” Sebaliknya kita menjelaskan kalau kita mengerti perasaan mereka, tapi kita harus menegaskan kalau mereka harus belajar mengungkapkan perasaan mereka dengan sopan. Ketidak inginan untuk menurut akan menghasilkan bentuk koreksi, lakukanlah dengan tegas tapi kasih. Kita tetap mengharapkan penyesuaian aturan dan rutinitas keluarga yang kita percaya tepat, tapi dengan keinginan untuk meningkatkan kebebasan dan tanggung jawab pribadi mereka.

Kebutuhan untuk mendapat kemandirian yang lebih besar mengantar kita keprinsip umum kedua. Kita harus memperlakukan remaja kita dengan hormat. Kita harus melakukan itu sejak awal kelahiran, tapi sekarang lebih kompleks. Salah satu keluhan umum para remaja terhadap orangtua, “orangtuaku memperlakukan saya seperti anak kecil.” Tuduhan itu sering karena kurang diberikannya rasa hormat, dan itu bisa menabur benih pemberontakan.

Kurangnya rasa hormat bisa mencuat dalam berbagai cara. Sebagai contoh, orangtua bisa menolak mengijinkan anaknya untuk bebas memutuskan bagi dirinya sendiri. Dari masalah kecil seperti membeli pakaian, sampai masalah besar seperti universitas mana yang dipilih, orangtua sering memaksakan keinginannya pada mereka. Tuhan memberikan mereka otak, dan kita harus menghormati haknya untuk menggunakannya untuk menemukan kehendak Tuhan bagi hidupnya, daripada memaksa dia kedalam pemikiran kita. Tentu kita menawarkan nasihat Alkitab saat dia mencoba keluar dari rencana Tuhan yang sudah jelas dinyatakan dalam Firmannya, tapi kita akan mencari hikmat Tuhan untuk mengetahui kapan saatnya bicara dan kapan saatnya diam.

Indikasi lain kekurangan rasa hormat adalah orangtua merasa aneh akan kekhasan perkembangan remaja. Itu bukan salahnya kalau suaranya pecah atau wajahnya dipenuhi jerawat. Itu merupakan tanda pertumbuhan yang belum selesai yang sudah cukup menghantui dan mengganggunya tanpa kita membesar-besarkannya. Kata-kata penghiburan atau nasihat membangun lebih pas untuk itu.

Kadang kita memiliki kecenderungan untuk tertawa terhadap masalah yang bagi dia penting, seperti naik turunnya kehidupan cintanya atau pertengkaran dengan temannya. Mungkin itu kelihatan tidak penting bagi kita, tapi suatu rasa hormat yang tulus pada mereka bisa menolong kita melihat masalah melalui kacamata mereka dan bersimpati bersama dia. Kita sering lupa betapa penting masalah itu pada kita saat kita seumur mereka. Kelihatannya semua yang kita ingat tentang masa remaja kita adalah hal yang bisa membantu menjelaskan maksud kita. “saat saya seumur kamu, saya tidak pernah……” dan hampir semua orangtua menyelesaikan kalimat itu dengan berbagai cara. Jangan lakukan itu! Tidak penting apa yang kita lakukan atau tidak saat kita seumur mereka. Waktu berubah, dan kita perlu menghormati siapa mereka sekarang ini dimasa sekarang.

Ada beberapa langkah yang bisa kita ambil untuk menunjukan rasa hormat kita. Kita bisa tetap merahasiakan apa yang mereka bagikan pada kita. Membocorkan itu pada teman kita sering menghantui kita. Kita akan menghormati privacy mereka, mengetuk sebelum masuk kamar mereka dan jangan mencoba mengorek-ngorek barang mereka. Kita bisa minta nasihat mereka tentang hal tertentu, terutama saat mereka lebih tahu dari anda tentang itu. Saya menanyakan pendapat remaja saya tentang bab ini sebelum saya menanyakannya pada orang lain. Kita ingin menunjukan kalau kita menghargai persahabatan mereka. Dan kita mempercayai mereka sampai batas yang diijinkan Tuhan pada kita.

Masalah kepercayaan menimbulkan masalah. Ada saat dimana penilaian kita menuntut kita untuk berkata “tidak” terhadap sesuatu yang ingin mereka lakukan. Munkin menginap dengan keluarga yang tidak kita kenal, atau pergi dengan pria yang karakternya dipertanyakan, atau ada dampak moralnya. Tapi kita memang tidak damai untuk mengijinkan hal itu. Kata pertama yang mungkin keluar dari mereka adalah “bukankah papa percaya pada saya?” Bagaimana jawaban anda?

Jawaban pertanyaan itu mungkin seperti, “Ya, kami percaya padamu sampai dibatas kemampuanmu menolak cobaan. Tapi jika kami memiliki alasan apapun untuk curiga kalau situasinya bisa menekan kamu lebih dari yang bisa kamu hadapi ditahap kerohaniamu yang sekarang, maka kami memiliki kewajiban pada Tuhan untuk menjauhkan kamu dari hal itu.” Anda bisa lihat, kepercayaan ada dua sisi. Kita harus lebih mempercayai mereka dan dalam keinginan mereka untuk menyenangkan Tuhan saat mereka tidak diawasi. Tapi mereka juga harus mempercayai kalau kita ingin melakukan yang terbaik bagi mereka dalam situasi yang dipertanyakan. Tanpa keduanya tidak adil.

Dan ini membawa kita ke prinsip yang terakhir. Kita harus menyediakan alasan Alkitab untuk standar kita. Ada banyak hal meragukan dalam dunia yang kotor ini. Bagaimana kita memutuskan apa yang kita ijinkan dan tidak dalam hal musik, pesta, pakaian, rambut, dan teman?

Sangat penting untuk mengetahui kalau kita hidup dalam dunia yang berubah. Walau Tuhan tidak berubah dan prinsip kekalnya tetap, aplikasi dari prinsip itu berbeda dari masa dan dari budaya kebudaya. Kita perlu menilai kembali system nilai kita. Sering kita menuntut anak muda kita untuk tunduk pada aturan kita yang tidak fleksibel hanya karena secara tradisional kita sudah mentaatinya. Mungkin itu tidak memiliki dukungan Alkitab yang kuat, tapi kita berkeras memberikannya pada remaja kita. Dan itu sudah nyata kalau menimbulkan pemberontakan mereka.

Sebagian orangtua menyuruh remaja mereka untuk tidak melakukan hal tertentu karena “orang Kristen tidak melakukan itu,” atau “gereja kita tidak percaya itu.” Tapi anak-anak kita lebih tahu. Mereka tahu kalau sebagian orang Kristen melakukan hal itu, mungkin mereka yang ada dalam gereja kita, dan mereka melihat kesalahan dari alasan kita. Tapi saat orang muda kita mendapat dasar Alkitab untuk standar yang ditentukan bagi mereka dan mereka melihat itu konsisten dengan teladan kita, mereka akan lebih ingin menjaga nilai itu saat mereka bebas dari otoritas kita, dan tidak menikmati semua yang ditawarkan dunia.

Disini ada 4 nasihat Alkitab untuk memutuskan hal yang meragukan. Pertama adalah prinsip kebebasan, yaitu kebebasan dari apapun yang bisa membuat kita dikendalikan. Rasul Paulus menulis, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun” (l Cor. 6:12b, NASB). Setiap kebiasaan yang memperbudak, apapun yang kita tahu harus didapat atau tidak, dimana kita tidak dengan mudah melepaskannya saat kita ingin, bukan prilaku yang bisa diterima oleh orang Kristen. Kita tidak bisa dikontrol oleh Roh Kudus dan hal duniawi lainnya disaat bersamaan. Dan sebagai orangtua kita harus menentukan langkah. Orangtua yang menyuruh anaknya untuk tidak minum minuman keras atau merokok walau dia sendiri bergumul dengan itu ada dalam masalah.

Prinsip yang kedua adalah kasih. Kasih Kristus yang sejati ada untuk oranglain daripada dirinya. Orang percaya dinasihati untuk mengasihi yang lain (John 13:34), dan kita juga harus hidup saling menguntungkan.“Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” (Rom. 15:2, TLB).

Rasul Paulus sendiri merasa bebas makan makanan yang dipersembahkan pada berhala. Buat dia, berhala tidak berarti apapun. Tapi dia menolaknya untuk orang Kristen yang imannya lebih lemah sehingga bisa jatuh dalam dosa melihat dia berbuat itu. Kita tidak ada masalah dengan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, tapi hal itu bisa menyebabkan orang Kristen lain yang lemah bisa jatuh dalam dosa. “Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.” (1 Cor. 8:9, NIV).

Prinsip ketiga adalah peneguhan iman. “Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (1 Cor. 10:23, NASB). Tidak semua hal yang kita rasa bisa kita lakukan membawa keuntungan bagi kehidupan fisik dan rohani kita. Itu mungkin membahayakan tubuh kita yang adalah tempat Roh Kudus. Tapi walau itu tidak membahayakan kita, itu mungkin memakan waktu, membuang uang, dan menghabiskan tenanga yang seharusnya bisa digunakan untuk yang lain. Tuhan tahu kita perlu aktifitas yang menyegarkan agar bisa melakukan yang terbaik baginya. Dan setiap orang percaya harus mengaplikasikan prinsip ini dalam hidupnya melalui arahan Roh Tuhan. Tapi orangtua memiliki tanggung jawab memberikan remaja mereka bimbingan dalam melakukan itu, baik melalui perintah dan teladan.

Prinsip keempat adalah memuliakan. Tuhan berkata kalau kita berasal dari dia, dan apapun yang kita lakukan harus menunjukan kebesaran, keagungan, dan kasih karunianya. “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Cor. 10:31, NIV). Prilaku kita dalam hidup harus mengatakan pada orang disekitar kita, “lihat betapa agung Tuhanku –betapa kudus, betapa kasihnya, betapa murah hati dan betapa baiknya!”

Inilah tujuan hidup tertinggi. Tapi kita melakukan itu dengan bertumbuh kearah itu bagi Tuhan yang mengampuni dosa kita, dengan cuma-cuma memberikan hidup kekal, dan berdiam dalam kita. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Cor. 6:19-20, TLB).

Saat Orang Muda Tersesat

Walau kita sudah berusaha keras, ada saat dimana orang muda berkeras menolak otoritas kita dan mengikuti jalannya sendiri. Janji dalam Proverbs 22:6 tidak bisa dilanggar, tapi ada saat sulit antara waktu kita mendidik anak “dijalan yang harus ditempunya” dan waktu “saat dia sudah tua” Setan menggantung godaan dunia dan kedaginan dihadapannya selama waktu-waktu itu dan membuat dosa semenarik mungkin.

Yesus mengatakan cerita terkenal tentang anak yang terhilang dan itu menyediakan orangtua pertolongan dalam menghadapi masalah dirumah mereka (Luke 15:11-32). Perlu diperhatikan kalau dalam cerita ini sang ayah tidak mencoba menghalangi anaknya meninggalkan rumah. Walau anak muda bisa dihalangi untuk melarikan diri, ada waktu dalam hidup remaja dimana tekanan fisik tidak mempan. Jika anak anda berkeras memberikan hidupnya pada tindakan yang tidak pantas dan kurang hormat, dia pasti akan mencari kesempatan untuk melakukannya. Jadi biarkan. Biarkan dia melakukan kehendaknya. Selama dia hidup dirumah anda, anda membiayai pemberontakannya, dan itu sama sekali tidak menolong. Anda harus duduk bersama, dengan tenang menunjukan kesalahan dari pilihannya, dan dengan kasih memperingatkan dia bahwa Tuhan akan memperlakukannya seperti seorang anak. Tapi jika dia berkeras akan tujuannya yang berdosa, tidak ada gunanya mencoba menghalangi dia.

Hal kedua yang perlu diperhatikan dalam permupamaan adalah ayah membiarkan sang anak menganggung tanggung jawab penuh atas tindakannya. Dia tidak menyalahkan dirinya dan menuntut dirinya. Tidak ada orangtua yang sempurna, tapi Tuhan tidak ingin kita menyiksa diri dengan rasa bersalah karena cara kita membesarkan anak kita. Dia ingin kita mengakui kesalahan kita dan menikmati anugrah pengampunanNya (1 John 1:9). Disamping kekurangan kita sebagai orangtua, anak kita harus bertanggung jawab pada Tuhan atas tindakannya. Dia tidak bisa menyalahkan orangtua atas keputusannya sendiri. Jika dia memutuskan jalan dosa, dia melakukan itu atas keinginannya dan dia harus hidup dalam akibat pilihannya. “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah” (Rom. 14:12, TLB).

Hal ketiga yang harus diperhatikan adalah saat sang anak bertobat, ayahnya menerima dia dengan pengampunan sejati. Tidak ada keinginan untuk mempermalukan dia atau meremehkannya, hanya ekspresi kasih dan perhatian akan keberadaannya. Saat anak kita yang tersesat menunjukan pertobatan, kita perlu menyambut dia. Dan dengan pengampunan sejati, kita tidak ingin membuat dia menderita rasa malu dan sakit kepala dengan pertanyaan kita seperti “bagaimana kamu bisa melakukan ini pada orangtuamu setelah semua yang kami lakukan?” Kita tidak bisa memperbaiki dosanya, tapi kita harus menunjukan kalau dia lebih penting dari perasaan atau reputasi kita. Pengampunan kasih lebih dari yang ditawarkan dunia dan bisa digunakan Tuhan untuk membawa orang yang melihat hal ini menjadi percaya. Jika itu harus terjadi, maka hari-hari atau tahun-tahun penderitaan itu, akan memuncak dalam sukacita berlipat dua –sukacita karena anak anda sudah dipulihkan pada kita dan sukacita ada anak baru dalam keluarga Tuhan.

Related Topics: Christian Home