Where the world comes to study the Bible

Keagungan Seorang Ibu

Keagungan? Ibu sulit merasakan keagungannya saat dia berada disamping cucian yang harus dibersihkan, kurang tidur karena pertikaian hari itu. Sebelum dia bisa mengistirahatkan kakinya yang lelah, dia masih menghadapi piring kotor, pakaian, 3 anak yang kotor yang harus dimandikan dan ditidurkan, dan rumah yang harus dibersihkan untuk perkumpulan ibu pagi nanti. Gelombang sakit hati, kasihan pada diri sendiri, kemudian rasa bersalah menyapu dirinya. Dia merasa sebagai tawanan daripada seorang ratu... dan sangat jauh dari model ibu dimasa Alkitab dimana suami dan anak berdiri dan memujinya sebagai terbesar diantara wanita (Prov. 31:28-29).

Keibuan jelas merupakan salah satu panggilan hidup yang paling kompleks dan sukar. Suatu pengumpulan pendapat diantara wanita menunjukan kesamaan pandangan bahwa membesarkan anak dengan tepat membutuhkan kepintaran dan dorongan seperti menjaga posisi puncak dalam bisnis atau pemerintahan. Dan tugas itu terutama jatuh dipundak ibu selama 6 tahun kehidupan anak. Bahkan setelah itu, hubungannya dengan anak tetap penting untuk berlanjut daripada ayah. Walau ayah pemimpin dalam rumah, ibu yang mengatur coraknya. Banyaknya waktu anak-anak bersamanya memberi dampak seumur hidup atas hidup mereka. Mereka menjadi seperti apa yang diinginkan ibunya. Dia menghadapi tantangan mulia untuk membentuk hidup anaknya dikekekalan. Keibuan merupakan salah satu kehormatan hidup tertinggi, dan salah satu tanggung jawab terberat.

Dimana seorang wanita mendapat pertolongan akan tugas besar itu? Pemazmur berkata: “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Psa. 121:2, NASB). Tuhan memiliki kasih karunia khusus bagi para ibu. Anda lihat, walau Tuhan adalah seorang bapa, dia memiliki hati seorang ibu. Dia bicara pada bangsa Israel, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu” (Isa. 66:13, TLB). Tuhan menghibur anaknya seperti seorang ibu.

Pribadi ketiga dalam Tritunggal, Roh Kuduslah yang melakukan fungsi sebagai seorang ibu ini. Yesus menyebutnya Penghibur (John 14:26), dan mengirimNya kepada kita agar kita tidak menjadi yatim piatu (John 14:18, NIV, TLB, NASB). Dan bukankah menarik bahwa kelahiran baru kita kedalam keluarga Tuhan digambarakan sebagai “dilahirkan oleh Roh” (John 3:5, 6, 8, KJV)? Roh Tuhan yang melahirkan kita, yang membagikan hidup ilahinya dengan kita, yang menopang kita, menghibur, dan mengajar kita, terus berjaga dan ingin membantu setiap ibu orang Kristen dalam menjalankan tugas sucinya.

Melalui penyelidikan pelayanan Roh Kudus, seorang ibu mampu mendeteksi tanggung jawab utamanya. Roh datang dari Bapa dan Anak, dan melayani tidak atas dirinya saja tapi juga mereka. Yesus berkata, “...sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.” (John 16:13-15, TLB).

Anda bisa lihat, Roh tunduk pada Bapa dan Anak, dan mewakili mereka dalam pelayananNya pada kita. Demikian juga, seorang ibu harus tunduk pada suami dan mewakili otoritasnya kepada anak. Kegagalan melakukan ini menjadi sebab utama kekacauan keluarga dan perpecahan. Saat seorang wanita menolak kehendak suami, itu melemahkan harga diri suami, mematahkan semangat suami untuk mengambil peran pemimpin dalam keluarga, dan menghancurkan aturan otoritas Tuhan yang harus ditetapkan dalam keluarga.

Lebih jauh, seorang istri dan ibu yang dominant membingungkan anak-anak. Tuhan Yesus membuat prinsip penting, yang tidak hanya diaplikasikan terhadap uang tapi juga pada keluarga. “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain” (Matt. 6:24, NIV). Jika ibu dan ayah memiliki otoritas yang sama, anak tidak tahu siapa yang harus mereka taati. Dia akan menggunakan salah satu untuk mendapatkan keinginannya, dan akhirnya kehilangan rasa hormat pada keduanya. Penyelidikan menunjukan bahwa anak bermasalah sering keluarganya didominasi oleh ibu. Tapi jika seorang anak tahu pasti kalau ayahnya yang jadi kepala keluarga, dan ibunya bicara mewakili ayah, dia akan lebih taat dan lebih punya rasa hormat pada orangtuanya.

Perintah Alkitab kepada istri untuk tunduk pada suaminya memiliki dampak lebih besar. Pengulangan penekanan itu dalam Firman menunjukan pentingnya Tuhan menekankan hal itu (Eph. 5:22, 24; Col. 3:18; Tit. 2:5; 1 Pet. 3:1, 5). Orangtua yang berhasil bergantung dari hubungan suami-istri. Dan hubungan suami-istri yang berhasil sangat tergantung pada rasa hormat istri pada suami dan dengan sukacita tunduk pada kehendaknya. Otoritasnya atas anak datang dari suami. Jika istri didalam dan diluar berontak pada otoritas suami, anaknya akan merasakan itu dan mengembangkan pemberontakan yang sama terhadap dia.

Ibu, bangunlah hargailah dan hormatilah suamimu. Disamping hubunganmu dengan Tuhan Yesus, suamimu adalah yang utama dalam hidup. Jika dia salah, jangan merengek, mendesak, atau memarahi. Itu hanya menjauhkan dia dari anda. Jika hal diantara anda ada yang salah, jangan menyibukan diri anda dengan anak sebagai kompensasi ketidakamanan dan kurangnya kasih yang anda rasa dari suamimu. Itu hanya menghancurkan pribadi anak dan lebih jauh menghancurkan hubungan anda dengan suami. Lihat hal yang baik dan ulangi itu dalam pikiranmu. Anda akan menemukan rasa hormat anda lebih meningkat. Dan saat dia merasakan hal itu, dia akan mengusahakan agar itu lebih berkembang lagi. Anda akan bisa menambahkan lebih banyak hal baik untuk dihormati. Pernikahan anda akan meningkat, dan kebebasan anda menjadi ibu yang baik akan berjalan bersama itu. Sebagian istri mengeluh pada saya kalau mereka tidak bisa melihat ada hal baik dalam diri suami mereka. Tapi pasti dulu ada hal yang menarik sampai anda mau bersama dia. Pikirkan kembali hari-hari yang lalu, dan perbesar hal itu..

Tanggung jawab kedua seorang ibu adalah seperti Roh Kudus yang diberikan padanya oleh Kristu –sebagai penghibur (John 14:16, 26; 15:26; 16:7). Kata itu secara litarel “seorang yang ada disamping.” Itu menunjukan kemampuan menolong, menguatkan, dan menghibur. Demikian juga, seorang ibu harus dekat dengan anak, menyediakan bantuan, penghiburan dan ketenangan.

Rasul Paulus berkata tentang fungsi ini. Menggambarkan pelayanannya kepada jemaat Tesalonika, “. . . Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi” (1 Thess. 2:7-8, NIV). “Merawat” secara literal “menjaga tetap hangat.” Itu meliputi membuat gembira dan nyaman. Seorang ibu akan mendekatkan diri pada anak dengan sendirinya, melindunginya dari bahaya, menenangkan rasa sakit dan mengurangi sakitnya.

Walau itu alami, sering ditumpulkan oleh tekanan hidup, melalui roh egois, melalui kurangnya rasa aman, melalui kekasaran, kekhawatiran, atau konflik yang belum terselesaikan dengan yang lain. Ibu mungkin membuat dirinya sangat mengganggu dan tajam terhadap anak, menciptakan suasana tidak enak dan perselisihan. Anda bisa lihat, dialah sebenarnya yang membangun suasana rumah. Bapak mungkin kepala, tapi seperti yang dikatakan banyak orang, ibulah hatinya. Suasana hati ibu sering menjadi situasi seluruh rumah, dan bahkan anak terkecil bisa mengerti dampaknya. Pikiran anak kecil seperti video rekaman, dengan seksama merekam setiap kata, sampai kenada suara dan ekspresi wajah. Dan semua itu berdampak pada dirinya kemudian. Sebagian psikolog berkata bahwa pola emosi ditentukan saat dia berumur 2 tahun. Itu seharusnya menjadi kesadaran bagi ibu, dan tantangan untuk menilai prilaku dan tempramen mereka. Kesempatan untuk lebih baik akan mendatangkan efek yang menguntungkan kapanpun itu.

Mrs. Pickit terobsesi ingin memiliki rumah yang bersih sempurna. Pembicaraannya tidak jauh dari “pungut itu, rapikan itu, lakukan lebih baik.” Kerewelan menjadi biasa, merupakan cara hidupnya. Dia mungkin akhirnya mendorong anaknya menjadi sangat berlawanan dengan dia, atau menjadikan mereka sama rewelnya dengan dia.

Mrs. Skelter seorang yang tidak rapi yang selalu terlambat. Dia membuat rumahnya selalu dalam keadaan bergolak, teriakan agar semuanya cepat. Seorang anak yang hidup dalam tekanan seperti itu akan menjadi tegang dan bermasalah. Dia melakukan tugas sekolahnya dengan buruk dan sulit bergaul dengan anak lain.

Mrs. Wartner seorang yang terlalu khawatir. Dia khawatir, cemas, merengek, dan membesarkan semua masalah kecil. Dan setiap kekhawatiran itu masuk kedalam kesadaran anak disampingnya, membangun roh kekhawatiran yang memperbudaknya seumur hidup, tapi bisa keluar hanya dengan mujisat anugrah Tuhan.

Mrs. Grumpman seorang yang tidak bahagia dan tidak puas. Dia mengeluh tentang hidupnya. Dia mengeluh tentang bagaimana orang memperlakukannya. Dia mengeluh tentang semua ketidaknyamanan yang dia alami. Dan kuping kecil disampingnya mengirim signal keotak anak membuat ketidakpuasan menjadi pola kebiasaan hidupnya juga.

Seorang anak membutuhkan seseorang didekatnya yang mengasihi dia lebih dari keadaan rumah, yang hatinya ada sukacita Yesus Kristus, yang menunjukan ketenangan dari dalam selama keadaan sehari-hari yang mencobai, seorang yang sabar dan baik, yang mendorong dan menghibur. Ibu, Roh Tuhan bisa membuat anda seperti pribadi diatas. Datanglah kehadapanNya pada hari itu dan minta hikmat dan kekuatan.

Kemudian berikan waktu dengan anak anda. Bacakan itu pada mereka. Ajarkan Firman itu pada mereka. Berjalan-jalannya dengan mereka, tunjukan hal yang menarik sepanjang jalan. Bermainlah dengan mereka. Ciptakan hal menantang bagi mereka. Perlihatkan ketertarikan akan proyek mereka. Bersedialah saat mereka membutuhkan anda. Dan seperti Roh Tuhan, simpatik dan berbelas kasihan. Anak anda suatu hari akan berdiri dan memuji anda untuk itu.

Ibu yang Bekerja

Pemikiran tentang ibu yang dekat dengan anak menimbulkan pertanyaan apakah dia bisa bekerja selain dirumah. Itu sangat sulit dibuktikan dari Alkitab apakah seorang ibu salah kalau bekerja. Teladan ibu dalam Proverbs 31 memperbolehkannya. “Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. . . . Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya. Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam. . . . Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang” (Prov. 31:13, 16-18, 24, TLB). Wanita memang berkontribusi terhadap pendapatan keluarga dimasa Alkitab.

Telah jelas dari Alkitab, kalau suami tanggung jawab utamanya menyediakan kebutuhan fisik keluarga. Sebelum seorang istri pergi kerja, saya mengusulkan agar dia dan suaminya duduk bersama dan menjawab beberapa pertanyaan penting. Pertama, kenapa mereka ingin dia bekerja? Jika itu karena dia bosan dengan perannya sebagai seorang ibu, bekerja mungkin bukan jawaban. Dia perlu memikirkan prilaku dan menghadapi tantangan sebagai seorang ibu. Unutk melakukan tugas dari Tuhan, terutama anak kecil, membutuhkan seluruh kepintaran, keahlian dan menghabiskan seluruh waktu yang bisa diberikannya. Jika motivasinya untuk membeli lebih banyak baju atau membeli barang yang mewah bagi keluarga, mungkin baik dia dan suami perlu menyesuaikan kembali prioritas mereka agar selaras dengan Firman Tuhan. Jika sebaliknya itu dilakukan untuk keperluan hidup, berdampak pada pendidikan anak, atau menyediakan sesuatu yang sangat diperlukan, Alkitab tidak menghalanginya.

Tapi ada pertanyaan kedua: apakah dia bisa memenuhi tugasnya sebagai pengurus rumah dengan bahagia? Rasul Paulus menasihat wanita untuk “membimbing rumah” (1 Tim. 5:14, KJV), satu kata dari teks asli berarti “mengatur rumah, menjaga rumah.” Dia juga menyuruh mereka untuk menjadi “penjaga rumah” (Titus 2:5, KJV), kata yang mirip secara literal “bekerja dirumah”. Dengan kata lain, Tuhan memaksudkan istri dan ibu untuk dirumah. Dia memiliki tanggung jawab menjaga keadaan rumah. Menjaga rumah bisa menjadi pekerjaan yang membuat frustrasi bagi istri yang bekerja, merugikan seluruh keluarga. Seorang suami yang mengasihinya dan peka terhadap kebutuhannya akan menolongnya dirumah, tapi menawarkan bantuan jauh berbeda dari menyerahkan tugasnya seperti yang terjadi saat wanita bekerja. Ini berlawanan dengan peran yang sudah ditetapkan Tuhan bagi suami dan istri. Kalau istri perlu bekerja, ayah harus memobilisasi seluruh keluarga untuk membantu. Anak bisa belajara tentang kerja tim dan tanggung jawab didalamnya.

Pertanyaan ketiga: apa keuntungannya? Jangan lupa menghitung semua hal: pajak Negara, pajak pendapatan, persembahan, penjaga bayi jika diperlukan, baju tambahan, transportasi, dll. Sebagian pasangan menemukan kalau mereka lebih banyak kehilangan uang kalau ibu bekerja.

Pertanyaan keempat yang paling penting. Apa dampaknya bagi anak? Bagi sebagian anak, pulang kerumah yang kosong mendorong kemandirian dan kedewasaan. Bagi yang lain, menghasilkan ketidakamanan dan cobaan untuk terlibat masalah. Penjaga bayi mungkin menolong, tapi tidak ada penjaga bayi yang memberi kasih seperti ibunya sendiri. Jika anak semua sekolah, kerja paruh waktu mungkin jawabannya.

Inilah hal yang harus disepakati suami dan istri. Jika istri bekerja tanpa persetujuan suami, masalahnya makin serius. Bersama cari petunjuk Tuhan dengan keinginan untuk melakukan kehendakNya, dan Dia pasti membimbing (Prov. 3:5-6).

Orangtua Tunggal

Perceraian merupakan salah satu tragedy dimasa kini, tapi itu terjadi dan mengabaikannya tidak menghilangkan itu. Disebagian besar kasus, anak terlibat, menghasilkan pasukan orangtua tunggal. Didalamnya janda, dan ibu tanpa kawin dan hal ini terus bertambah. Kebanyakan orangtua tunggal adalah wanita, dan kita akan sedikit membahasnya disini. Pembahasan ini juga bisa kepada ayah tunggal..

Baru-baru ini saya mendapat kesempatan bertanya pada kelompok orangtua tunggal Kristen tentang masalah mereka sebagai orangtua. Sebagian besar bercerai. Saat saya bertanya nasihat yang dibutuhkan seorang yang menjadi orangtua tunggal, seorang wanita menulis, “jika mungkin, jangan jadi seperti kami.” Itulah nasihat terbaik. Tuhan punya solusi bagi setiap masalah perkawinan. Jika ada harapan berdamai, usahakan itu apakah kemudian akhirnya cerai atau tidak. Melalui nasihat dalam Tuhan dan keinginan untuk mengusahakan perkawinan ada harapan berhasil.

Bagi janda, nasihat diatas percuma. Dan yang sudah bercerai, itu sudah terlambat. Kemudian apa masalah orangtua tunggal? Salah satunya adalah kesepian. “Jam 8 atau 9, ketika anak anda sudah tidur, anda sendirian. Tidak ada tempat berbagi beban dan kebahagiaan. Anda punya tanggung jawab membesarkan anak. Tapi anak tidak memenuhi kebutuhan tingkatan komunikasi anda. Sering kesepian menjadi mengasihani diri.”

Apa jawaban bagi kesepian ini? Seseorang menulis, “bergabung dengan kelompok orangtua tunggal yang tertarik akan pemeliharaan anak disamping kebutuhan social, terutama kelompok yang Kristen.” Keluar bersama keluarga dengan kelompok seperti itu akan menunjukan anak anda orangtua lawan jenis dan menolong memenuhi kekosongan itu. Bagi anda penting untuk mendapat persekutuan dengan orang dewasa lain. Hubungan dengan orang dewasa yang mengalami hal yang sama akan memenuhi kebutuhan hidup anda dan menolong anda berhubungan dengan anak anda lebih baik, Tapi obat kesepian paling baik adalah membangun hubungan dengan Tuhan. Dia berjanji tidak akan meninggalkan atau melupakan anda (Heb. 13:5).

Masalah kedua adalah waktu, tenaga, dan kesabaran dalam memenuhi kebutuhan anak. Seorang wanita menulis, “sering terasa tidak cukup waktu dalam sehari untuk jadi ibu. Sebagai contoh, setelah lelah dikantor, sekarang waktunya menjemput anak dari sekolah. Dia bermain sepanjang hari dan tidak tahu frustrasi saya. Dia sangat senang melihat ibunya. Dia ingin ibunya. Tapi ibunya terlalu lelah. Dan datang waktu makan malam, mencuci, dan bersih-bersih lainnya. Kemudian sudah waktu tidur. Kemana semua waktu itu? Orangtua tunggal harus melakukan 2 pekerjaan. Tapi anaknya butuh kasih sayang yang hanya bisa diberi orangtuanya. Apakah ada waktu?”

Orangtua tunggal menjawab pertanyaannya. Perhatikan! “anak anda butuh anda, orangtuanya, sekarang –bukan saat anda ada waktu, tapi sekarang. Maka itu, anda harus memberi waktu. Bagikan aktifitas anda dengan anak, ijinkan dia menolong. Tidak mudah, pasti, tapi penting.”

Masalah ketiga berkaitan dengan pasangan mereka yang lalu dan kepahitan yang ada diantara mereka. Selalu ada cobaan untuk menyalahkan pasangan anda dan membuatnya buruk dimata anak anda. Ayah tunggal menawarkan nasihat: “jangan kritik ex anda. Dorong anak untuk mengasihi dia. Dan lakukan sebisa anda agar anak jelas kalau dia tidak bertanggung jawab atas perceraian itu.” Seorang yang bercerai berkata kalau setiap malam dia berdoa dengan anaknya saat tidur, dia menyakinkan anaknya kalau Tuhan dan dia serta ayahnya mengasihinya. Walau ditengah bencana perceraian, sikecil menikmati hubungan yang sehat dengan ayahnya.

Hanya ada satu cara mengurangi sakit perceraian dan menyembuhkan sebagian luka. “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Eph. 4:31, 32, NIV).

Orangtua tunggal dan anaknya adalah orang yang membutuhkan. Merupakan kebaikan bagi setiap keluarga yang lengkap untuk menjangkau mereka. Sebagian anak korban perceraian tidak pernah merasakan hubungan perkawinan yang bahagia. Kita bisa mengundang mereka kerumah dan menunjukan kalau perkawinan bisa menjadi pengalaman luar biasa. Tuhan bisa menggunakan kita untuk menolong dia membangun keluarga yang berhasil ditahun-tahun mendatang.

Related Topics: Christian Home