Where the world comes to study the Bible

Saling Membantu— Kisah Aquila dan Priskila

Dalam tahun 52 A.D. Kaisar Roma Claudius mengeluarkan perintah mengeluarkan semua orang Yahudi dari kota Roma. Kelihatannya, dari sejarawan Roma, mereka menyiksa orang Kristen dan menyebabkan kekacauan dalam kota. Claudius hanya sedikit perhatian pada alasan masalah itu, dan lebih lagi pada siapa yang salah. Dia tahu mereka Yahudi, dan itu sudah cukup; jadi semua orang Yahudi dikeluarkan dari Roma, baik yang bersalah dan yang benar.

Pada saat itulah seorang Yahudi bernama Aquila, yang dulu pindah keRoma dari Pontus melalui laut hitam, mengepak barangnya, mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya, dan pergi keKorintus. Bersama dengan istrinya yang setia, Priskila. Kita tidak bisa memastikan apakah istrinya Yahudi atau Roma, demikian juga apakah mereka sudah Kristen atau belum saat itu. Tapi satu hal kita tahu—mereka bersama-sama. Kenyataannya, mereka selalu bersama-sama. Nama mereka selalu disebutkan bersamaan.

Satu sisi, mereka melakukan pekerjaan bersama-sama. “mereka sama-sama tukang kemah” (Acts 18:3). Setiap anak Yahudi dalam PB diajarkan satu jenis perdagangan. Karena tenda merupakan bagian penting dalam hidup orang Ibrani, orangtua Akuila memilih mengajarkan anak mereka cara membuat tenda sebagai cara menghidupi dirinya. Tenda mereka dibuat dari kulit kambing yang harus dipotong seorang ahli dan dijahit dengan tepat. Akuila mendapatkan keahlian itu dan kemudian mengajarkan itu pada istrinya, dan dia dengan senang membantu suaminya dalam pekerjaan itu.

Tidak setiap suami dan istri bisa bekerja sama seperti ini. Itu membutuhkan hubungan yang dewasa agar bisa bekerja sama dibawah tekanan pekerjaan. Tapi itulah hubungan yang terdapat pada Akuila dan Priskuila. Mereka tidak hanya pasangan yang saling mengasihi tapi teman baik dan rekan bisnis. Mereka bersedia saling memberi lebih dari yang mereka dapat. Mereka harus mampu menerima usulan yang diberikan. Mereka menikmati kebersamaan dan bekerja bersama. Mereka tidak terpisahkan, dan mereka setara.

Jadi, saat mereka tiba diKorintus, mereka mencari pasaran untuk membuka toko tenda, dan kemudian membuka usaha pembuatan tenda. Waktunya jelas dari Tuhan, karena tidak lama setelah mereka menetap sebagai toko tenda, orang Yahudi lain yang juga pembuat tenda baru datang dari perjalanan penginjilannya diAtena, yaitu Rasul Paulus. Kapanpun dia masuk kekota yang baru, dia akan mencari pasar untuk kesempatan bicara tentang Yesus, mencari petunjuk arahan Tuhan untuk pelayanan berikut, dan tentu bekerja untuk menunjang pelayanannya. Merupakan hal yang tidak bisa dihindari kalau dia ikut toko tenda milik Akuila dan Priskuila. Alkitab mengisahkan seperti ini: “Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah” (Acts 18:1-3).

Keakraban mereka sangat dekat, dan persahabatan yang dalam dan berlangsung lama dimulai hari itu. Paulus bekerja ditoko mereka, dan hidup bersama mereka selama dia tinggal diKorintus. Jika mereka belum mengenal Kristus sebelum ini, mereka pasti mengenalnya sekarang, karena tidak ada yang tinggal dengan Paulus tanpa tertular kasihnya pada Juruselamatnya. Mereka hidup bersama-sama, bekerja bersama-sama, dan menderita pengusiran bersama-sama, dan juga mengenal Kristus bersama-sama, dan itulah yang membuat pernikahan mereka lengkap. Sekarang mereka satu dalam Kristus, dan kasihNya membuat pernikahan mereka lebih baik lagi. Itulah yang dibutuhkan pernikahan anda. Jika anda berdua belum meletakan iman anda pada Kristus yang berkorban bagi dosa anda, pernikahan anda tidak bisa jadi lengkap. Kesatuan sejati hanya ditemukan dalam Kristus.

Sejak Akuila dan Priskuila bertemu Juruselamat, mereka bertumbuh dalam Firman bersama. Jelas mereka pergi dengan Paulus ke sinagoge setiap hari Sabat ketika dia berkotbah pada orang Yahudi dan Yunani agar mereka percaya pada Kristus untuk selamat (Acts 18:4). Tidak setiap orang menerima kesaksian ini. Sebagian menolak dan menghujat. Jadi, dia mengundurkan diri dari sinagoge dan mulai mengajar dalam rumah Titus Yustus dirumah sebelah. Dan Tuhan memberkati pelayanannya. Bahkan kepala sinagoge jadi mengenal Kristus. “Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka” (Acts 18:11). Pikirkan ini, 18 bulan belajar Alkitab secara intensif oleh pengajar Alkitab terbesar dimasa gereja mula-mula. Betapa pesat pertumbuhan Akuila dan Priskila!

Dan setelah pelajaran berakhir, mereka pulang kerumah dan duduk membicarakan tentang Tuhan dan FirmanNya.

Mereka bertumbuh mengasihi Firman Tuhan. Dan walau mereka bekerja keras ditoko, membuat dan memperbaiki tenda, memelihara keluarga dan memperhatikan tamunya, mereka selalu meluangkan waktu untuk mempelajari Alkitab secara serius. Membagikan Firman untuk memperkuat kasih mereka dan kebersamaan mereka.

Inilah hal yang kurang dalam pernikahan Kristen. Para suami dan istri perlu mempelajari Firman bersama-sama. Itu tidak sulit dilakukan dalam keluarga pendeta. Saat saya menyiapkan kothbah, saya sering membicarakannya dengan istri saya tentang hal itu dan mendapatkan pendapatnya tentang penyelidikan saya. Jika dia menyiapkan suatu pelajaran, dia akan meminta pertolongan untuk mengerti ayat tertentu, dan kita melakukannya bersama. Mengajar sekolah Minggu dan berbagi persiapan masing-masing merupakan cara yang abik untuk memulainya. Membaca dan mendiskusikan Alkitab bersama akan mengijinkan Tuhan berbicara dalam hidup kita. Bagaimanapun kita menggunakannya, Firman Tuhan merupakan hal yang diperlukan untuk memperkaya hubungan kita masing-masing.

Peristiwa selanjutnya menyatakan betapa Akuila dan priskila telah belajar Firman Tuhan. Saat Paulus meninggalkan Korintus ke Efesus, mereka menemaninya, dan Paulus meninggalkan mereka menuju keAntiokia (Acts 18:18-22). Perpindahan merupakan suatu yang penting, karena saat Paulus sedang tidak ada “Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat” (Acts 18:24-26).

Akuila dan Priskila mendengar dia dan terkesan dengan ketulusannya, kasihnya pada Tuhan, pengetahuannya tentang PL, dan kemampuan bicaranya. Dia bisa digunakan untuk melayani Kristus, tapi pesannya kurang. Semua yang diketahui selain PL adalah tentang pesan Yohanes Pembaptis, yang hanyalah penantian Mesias. “Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah” (Acts 18:26). Mereka mengajar dengan kasih tentang hidup dan pelayanan Yesus Kristus dibumi, kematiannya sebagai pengganti dosa kita di Kalvary, kebangkitannya dan kenaikannya kesurga, perlunya percaya secara pribadi pada karya keselamatanNya, kedatangan Roh Kudus dihari Pentakosta, dan kelahiran baru, dan pengajaran PB lainnya.

Akuila dan Priskila mungkin bukan pembicara umu, tapi mereka pelajar Firman yang tekun, dan mereka senang membagikannya dengan yang lain. Mereka bahkan mau memberikan waktu yang dibutuhkan oleh orang muda ini, untuk diperhatikan kerohanian dan menuangkan hal tentang Kristus dalam hidupnya. Apollos memiliki pemikiran yang tajam dan cepat mengerti. Dia menyerap kebenaran yang mereka ajarkan dan membuat itu jadi bagian dalam pelayanannya. Dan sebagai hasil pertemuannya dengan Akuila dan Priskuila, dia menjadi pelayan Tuhan yang efektif dan bagi beberapa orang di Korintus menempatkannya setara dengan Petrus dan Paulus (1 Cor. 1:12).

Sebagian dari kita tidak akan pernah jadi pengkhotbah yang hebat, tapi kita bisa jari pelajar Firman yang setia, dan keluarga kita bisa terbukan bagi hati yang lapar akan Firman. Kita bisa mendapat keistimewaan membesarkan orang muda seperti Apollos yang kemudian hari berdampak besar bagi pelayanan Yesus Kristus.

Akuila dan Priskila tidak hanya melakukan pekerjaan bersama-sama dan bertumbuh dalam Firman bersama, tapi mereka juga melayani Tuhan bersama-sama. Kita mengetahui itu dari apa yang kita bacam tapi ada satu tingkatan pelayanan Kristen yang butuh diperhatikan. Saat Paulus meninggalkan Antiokia dalam perjalanan misinya yang ketiga, dia menjelajah Asia Kecil melalui darat dan kembali ke Efesus, diaman dia tinggal memberitakan Firman Tuhan sekitar 3 tahun (cf. Acts 26:31). Selama masa itu, dia menulis surat pertamanya kepada jemaat Korintus dan berkata, “Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu” (1 Cor. 16:19).

Saat mereka baru memulai usaha diKorintus, rumah mereka mungkin tidak cukup besar untuk menampung semua orang Kristen, jadi digunakan rumah Titus Yustus. Tapi kelihatannya Tuhan memberkati mereka secara materi, dan mereka menggunakan keuangan mereka diEfesus untuk kemulaiaanNya. Rumah mereka menjadi tempat pertemua bagi gereja Efesus.

Dan itu bukan terakhir kali rumah mereka digunakan untuk itu. Saat Paulus meninggalkan Efesus ke Yunani, rupanya mereka percaya Tuhan menuntun mereka untuk kembali ke Roma. Claudius sekarang sudah mati, jadi perpindahan itu aman, dan Roma jelas membutuhkan kesaksian Injil. Jadi mereka langsung berangkat! Paulus menulis surat Romanya dari Yunani diperjalanan misi ketiga, dan dia berkata, “Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus” (Rom. 16:3-5). Mereka belum lama diRoma, sudah mengadakan pertemuan gereja dirumah mereka. Gereja dalam PB tidak mampu membeli tanah dan bangunan, juga tidak bijak kalaupun mereka mampu, melihat tekanan dan penyiksaan terhadap mereka. Mereka berkumpul dirumah. Dan rumah Akuila dan Priskuila selalu terbuka bagi orang yang ingin belajar lebih banyak tentang Kristus, dan bagi orang Kristen yang ingin bertumbuh dalam Firman.

Walau kita memiliki gedung gereja, rumah tidak bisa digantikan sebagai pusat penginjilan dan pemupukan rohani dalam komunitas. Sebagian orang Kristen melakukan makan malam penginjilan, dimana mereka mengundang teman yang belum percaya untuk mendengar kesaksian pribadi. Sebagian wanita menggunakan saat minum kopi sebagai kesempatan menginjili, membangun persahabatan dengan tetangga dan membagikan Kristus dengan mereka dimeja makan. Kelas Alkitab rumah bisa menjadi alat yang baik untuk menjangkau yang hilang atau membuat orang percaya lebih bertumbuh dalam Firman. Orang muda sangat diuntungkan oleh orang dewasa yang membuka rumahnya untuk kelompok pemuda. Kemungkinan menggunakan rumah kita untuk melayani Tuhan tidak terbatas. Ini bisa menjadi hal baik untuk dibicarakan oleh suami dan istri dan mendoakannya bersama.

Ada pernyataan singkat dalam sala diKitab Roma yang tidak bisa kita lewatkan: “Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.” Kita tidak tahu siapa yang Paulus maksudkan, atau kapan itu terjadi, tapi kemungkinan Akuila dan Priskuila yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan Paulus. Dan untuk itu kita bersyukur pada Tuhan. Pengetahuan kita akan kebenaran ilahi tidak akan lengkap tanpa surat yang diinspirasi Tuhan padanya. Kedua temannya mau memberikan segalanya untuk melayani Tuhan, bahkan nyawa mereka.

Akuila dan Priskuila disebutkan lebih dari satu kali dalam PB, dalam pasal terakhir surat Paulus. Sudah 16 tahun sejak pertemuan pertama mereka di Korintus, dan sekarang dia tawanan di Roma untuk kedua kalinya. Kematiannya ditangan Kaisar Nero sudah pasti, dan dia menulis paragraph terakhir dari hidupnya. “Salam kepada Priska dan Akwila dan kepada keluarga Onesiforus” (2 Tim. 4:19). Dia memikirkan temannya yang sudah kembali ke Efesus dimana Timotius melayani, mungkin meninggalkan Roma untuk melarikan diri dari Nero. Itu hanya salam yang singkat, menggunakan bentuk nama pendek Priskila yang juga kita lihat dibagian lain. Tapi Paulus ingin mengingat mereka dalam waktu-waktu terakhir hidupnya.

Ada pengamatan yang menarik dari ayat pendek itu. Nama Priskila disebut sebelum Akuila. Kenyataannya, namanya diletakan pertama dalam 4 dari 6 ayat dalam Alkitab. Dan itu tidak biasa! Kebanyakan menyebut pasangan dalam Alkitab selalu meletakan suami didepan. Kenapa tertukar? Beberapa penjelasan dikemukankan, tapi yang paling masuk akal adalah, kelihatannya Priskila lebih terampil daripada keduanya dan mengambil peranan yang lebih penting. Tapi itu tidak pernah mempengaruhi kasih keduanya, saling pengertian, juga kemampuan mereka dalam bekerja sama.

Itu tidak selalu terjadi demikian. Sebagian suami merasa terancam karena istri mereka lebih pintas dari mereka, dan untuk menghindari dipermalukan dan menyelamatkan muka mereka, mereka kadang turun kerohaniannya. Bagi mereka lebih mudah tidak menunjukan sama sekali daripada istri mereka lebih dari mereka. Sebagian lain menjadi sombong dan bermusuhan dalam menjaga kedudukan mereka.

Dalam beberapa kasus, istri yang salah. Mereka kelihatan ingin membuktikan sesuatu, bersaing dengan suami didepan umum, mencari otoritas dan yang utama. Tidak heran suami mereka terancam. Tingkatan otoritas dari Tuhan dalam pernikahan tidak pernah berubah. Walau istri lebih pintar dari suami, Tuhan tetap ingin istri melihat suami sebagai pemimpin. Itu tidak selalu mudah bagi wanita yang sangat berkemampuan, tapi Priskila bisa. Dia tidak berkompetisi dengan Akuila. Dia hanya menggunakan kemampuan yang diberikan Tuhan, sebagai penolong bagi suaminya untuk kemuliaan Tuhan. Saya yakin Akuila bersyukur pada Tuhan atas Priskila dan menerima pendapatnya diberbagai kejadian. Priskila merupakan salah satu wanita yang dimerdekakan, karena tidak ada sukacita dan kepuasan daripada kebebasan mentaati Firman Tuhan.

Mari kita bicara

    1. Apakah anda mencari kesempatan membagikan Kristus dimanapun anda pergi, seperti Paulus? Apakah mereka yang bersama anda menjadi tertular kasih Kristus yang anda miliki? Bagaimana anda meningkatkan hal ini?

    2. Kontribusi rohani apa yang anda buat bagi hidup orang lain? Apa lagi yang bisa anda perbuat untuk membagikan Firman Tuhan kepada orang lain?

    3. Bagaimana anda menggunakan rumah anda lebih efektif melayani Tuhan?

    4. Apakah anda saling membagikan Firman Tuhan ? Diskusikan penyelidikan Alkitab bersama yang anda pikir bisa berjalan, kemudian berjanji melakukannya bersama.

    5. Untuk suami: apakah anda risih kalau istri anda melebihi anda? Apa yang Tuhan ingin anda berlaku terhadap hal itu?

    6. Untuk istri: apakah anda mengancam suami anda melalui usaha membuktikan superioritas anda dibagian tertentu? Bagaimana anda menghindari hal ini?

    7. Apakah ada saat dimana anda merasa pasangan anda meremehkan anda didepan umum? Bagikan hal ini dengannya dan bicarakan bagaimana menghindarinya.

    8. Jika anda dan pasangan anda mempertimbangkan melakukan usaha bersama, maslaah apa yang bisa muncul? Apa yang bisa anda lakukan untuk menghindarinya?

    9. Bagaimana anda bisa menunjukan kualitas dalam Kristus pada suami atau istri anda?

Living In Love was originally published by Tyndale House in 1978, and has also been published under the title, Famous Couples In the Bible. This book is used by permission.

Related Topics: Christian Home, Issues in Church Leadership/Ministry, Marriage, Leadership