Where the world comes to study the Bible

Risalah Puisi

Definisi

Penyelidikan mengenai risalah puisi akan melibatkan lebih dari sekedar kiasan yang digunakan dalam Alkitab, karena sebelum kita bisa mengerti lebih baik dan menghargai sepenuhnya ragam kata yang digunakan oleh para penulis kita harus lebih dulu mengerti nature dari bahasa puisi.

Hunt memberikan satu definisi yang memasukan sebagian besar hal-hal yang ingin dimasukan, Puisi adalah pengutaraan dari keinginan mendapatkan kebenaran, keindahan dan kekuatan, mewujudkan dan menyatakan pengertiannya melalui imajinasi dan khayalan, dan mengubah bahasanya pada prinsip keragaman dalam kesatuan (dikutip oleh Abrams). Scott membedakan aspek komunikatifnya dengan mengatakan bahwa pelukis, orator, dan penyair masing-masing memiliki motif menggembirakan pembaca, pendengar, atau pengamat, suatu nada dari perasaan yang mirip dengan yang ada dalam rahimnya, apakah itu dinyatakan melalui pensil, lidah atau penanya. Objek dari artislah, singkatnya untuk mengkomunikasikan, dan juga apa yang bisa dilakukan oleh warna-warna dan kata-kata, sensasi yang sama yang telah mendikte komposisinya sendiri.

Maka penyair menciptakan kembali pengalaman emosionalnya melalui pemilihan kata sehingga pembacanya bisa mengimitasi sensasi tersebut. Mengkomunikasikan emosi seperti itu memerlukan bahasa kiasan. Orang berpikir dalam bentuk gambar dan symbol, dan pembicaraan mereka dipenuhi dengan ekspresi seperti itu. Maka dari itu, tulisan yang dengan indah ditulis yang menggunakan kiasan yang efektif memuaskan keinginan aestetik manusia dan bermakna bagi kebutuhan image manusia.

Hal ini seharusnya tidak mengherankan, kalau bahasa puisi bisa ditemukan hampir disetiap halaman Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Baru. Tuhan memilih untuk mengkomunikasikan kebenarannya kepada umat dengan kiasan rendah dan tinggi! Bahasa seperti itu tidak hanya membawa kualitas aestetik bagi Alkitab, tapi juga membawa Firman Tuhan ketingkatan pengalaman manusia sehingga bisa dimengerti baik kebenarannya dan semangatnya.

Ringkasan berikut ini menangkap maksud yang sedang kita buat disini:

Perlu diperhatikan bahwa dalam mengubah kata, penyair sering menukar posisikan atau meletakan kata itu kedalam suatu wilayah semantic yang bukan pada tempat biasanya. Sebagai contoh, dalam kalimat the LORD is my shepherd / TUHAN adalah gembalaku kata shepherd / gembala yang milik jangkauan semantiknya dari perawatan hewan ditukar posisikan untuk diterapkan pada Keberadaan rohani. Saat Daud berdoa: Cause me to hear joy and gladness / membuat aku mendengar sukacita dan kegembiraan dia menukar posisikan suatu kata yang merujuk pada suatu keadaan psikologis sebagai objek dari suatu kata kerja yang menunjukan aktifitas fisik. Ditempat lain penyair itu berkata: the mountains clapped / gunung-gunung bertepuk tangan disini dia menempatkan suatu kata kerja yang merujuk pada aktifitas manusia kepada subjek yang tidak hidup dan bergerak. Suatu tukar posisi dari jangkauan arti semantic juga terjadi saat Caesar berkomentar mengenai Brutus: Karena Brutus adalah orang terhormat; maka mereka semua orang terhormat / For Brutus is an honorable man; so are they all honorable men, karena satu kata mengenai kebajikan ditempatkan untuk menggambarkan perbuatan manusia yang dijelaskan oleh komposisi lainnya. Penempatan, tukar posisi kedalam wilayah semantic lain sering menyadarkan pembaca bahwa penulis telah menggunakan suatu kiasan.

Lebih jauh, saat seorang penulis secara seni mengubah kata-katanya, dia tidak sepenuhnya menjelaskan maksudnya karena dia juga berusaha menciptkan suatu rasa dalam diri pembacanya. Dengan kata lain, seluruh kiasan elliptical dan banyak yang mengajak / evocative. Atas alasan ini eksegetor dalam perjalanan menciptakan kembali dalam pikirannya apa yang ada didalam pikiran penulis berusaha mengisi pikiran dan perasaan yang tidak dinyatakan. Sebagai contoh, saat Daud berkata: the LORD is my shepherd dia membangkitkan gambaran seorang gembala yang menjaga dombanya, gambaran itu menghasilkan pikiran tentang gembala yang memberi makan (v. 1), menyegarkan (v. 2), membimbing (v. 3) dan melindungi (v. 4) dombanya. Pikiran lengkapnya seperti: as a shepherd is good and lovingly loyal to his sheep, so the LORD is good and lovingly-loyal to me / seperti seorang gembala itu baik dan mengasihi serta setia terhadap dombanya, demikian juga TUHAN itu baik dan memiliki kasih setia terhadap saya (v. 6). Maka, melalui gambaran ini penulis membangkitkan suatu perasaan perhatian kasih. Karena penulis tidak sepenuhnya menjelaskan pikiran atau perasaan yang dimaksudnya, eksegetor terlebih dulu harus menebak maksud penulis dan mencoba menguji dugaannya melalui petunjuk lain yang ada dalam komposisi tersebut. Rekonstruksi ini sebagian besar intuitive, maka dari itu prosesnya bersifat seni daripada ilmiah. Maka itu, pembaca abad keduapuluh berbeda jauh dari manusia agraris di Zaman Besi. Maka dari itu pembaca modern harus berusaha masuk kedalam budaya penulis agar bisa berpikir dan merasakan seperti penyair itu (Bruce K. Waltke).

Pengertian yang Salah Mengenai Puisi

Sedih melihat banyak orang yang mempelajari Alkitab tidak memberi waktu untuk bekerja dengan bahasa puisi, hal ini dasar bagi penafsiran dan tidak bisa dibuang sebagai pelajaran aneh yang tidak berhubungan dengan prosedur eksegetis. Keengganan untuk bekerja dengan puisi sebagian disebabkan oleh kegagalan mengerti sifatnya.

I. C. Hungerland dalam Poetic Discourse menyatakan kalau diantara kritik puisi ada pendapat bahwa arti literal dan arti puisi berlawanan. Dia menjelaskan kalau pemikiran ini dinyatakan secara naf dan canggih (pp. 107ff.). Pada bentuk naifnya, pendapat sebagian besar percaya bahwa bahasa khayalan, bahasa yang menunjukan banyak kiasan, merupakan karakteritiknya puisi. Pada bentuk canggihnya pendapatnya terdapat secara implicit dalam ajaran masa kini bahwa abiguitas, paradoks, dan ironi secara esensi milik puisi.

Apakah diekspresikan secara naf maupun canggih, ada sedikit kebenaran didalamnya. Agar bisa melihat sedikit kebenaran ini dan menghindari kesalahan membatasi bentuk bahasa yang digunakan puisi, lebih baik memulai pelajaran mengenai kiasan dengan melihatnya dalam pidato sehari-hari.

Kita menerima begitu saja ekspresi seperti: the White House said today, He waited an eternity, She floated into the room, Hes a pig. Tapi ekspresi lain, walau biasa digunakan, sedikit membingungkan bagi kita: She dropped her eyes, They faced the difficulty, It is crystal clear, They were up in arms, Her almond eyes .

Juga, jika kita berusaha mengevaluasi ekspresi slang kita kesulitan dengan beberapa kiasan: Its raining cats and dogs, Ill take a raincheck on that, Hes the spitn image of his father. This baby has four hundred horses under the hood, I needed that like I needed a hole in the head, dan ekspresi yang ditujukan pada seorang pilot dari Bronx sebelum lepas landas, Give with the woid, and Ill make like a boid.

Kriteria dalam Mempelajari Puisi

Apa kriteria kita dalam membedakan literal dan kiasan dalam ekspresi yang umum seperti diatas? Kita bisa menformulasikannya dengan cara ini: suatu ekspresi kiasan adalah yang, saat komponen kata-katanya digunakan dalam cara yang biasa atau dibentuk, menjadi salah atau pernyataan yang tidak masuk akal. Singkatnya, kiasan menunjukan suatu pelanggaran terhadap beberapa aturan penggunaan. Harus diperhatikan kalau tidak semua pelanggaran dalam penggunaannya merupakan bahasa kiasan.

Kriteria ini bisa dilihat melalui pertimbangan berikut. Pertama, patut diingat kalau bahasa puisi biasanya digunakan sebagai alat dalam pidato penjelasan dan ekspositor, apakah berbentuk keseharian atau ilmiah. Penggunaan kiasan akan menolong menjelaskan dan menentukan subjek masalah.

Lebih jauh, ekspresi kiasan memiliki paraphrases atau terjemahan yang, dilihat secara literal, masuk akal. Walaupun demikian kita harus hati-hati, karena arti dari suatu kiasan tidak akan sama persis seperti kiasan itu. Terjemahan dari kiasan itu akan berbeda dari aslinya dalam nada, baris usulan, dan informasi yang dibawa oleh pembicara.

Jadi kesimpulan bahwa bahasa puisi disatu sisi hanyalah khayalan dan kiasan, atau ambigu dan mistikal disisi lain, gagal mengerti sifat dari bahasa puisi. Dua syarat kami memberi suatu dasar untuk menafsirkan dan mengevaluasi bahasa kiasan (Saya bilang evaluasi karena satu bagian penting dari penyelidikan ini adalah menentukan efektifitas dari kiasan dalam maksud penulis):

1. harus ada beberapa titik yang bisa dipastikan dalam deviasinya dari penggunaan asli (pelanggaran dalam penggunaan harus disengaja), dan

2. harus tersedia arti literal dari ekspresi yang dipertanyakan.

Prosedur kita akan mengidentifikasi kiasan yang digunakan dan mengartikulasi arti literalnya serta perasaan(suasana) yang dibawanya. (Walaupun beberapa ekspresi kiasan bisa saja merupakan deviasi yang disengaja dalam penggunaannya dan memiliki arti literal, mereka tetap masih tidak memenuhi standar tinggi dari bahasa puisi yang baik. Kita mendengar ekspresi itu terlalu sering dalam musik popular atau country, pada banyak musik Kristen modern, iklan, atau jurnalisme terutama olahraga sehingga kita dengan mudah kehilangan sentuhan bagi bahasa puisi yang efektif. Bisa dikatakan jika bahasa kiasan dibuat-buat dan biasa maka itu bukan poetic discourse yang baik).

Kita harus mengetahui bagaimana penyair menggunakan kata-kata. Mereka memiliki dua sisi kata-kata yang mereka pilih: langsung, arti eksplisit dari kata itu (denotasinya); dan diberi, arti yang diusulkan (konotasi). Setiap kata, atau kelompok kata, menjadi alat yang secara hati-hati dipilih penyair untuk menghasilkan pengaruh ganda dari suatu pernyataan atau komentar mengenai sesuatu dan menyatakan perasaan atau ide diluar maksud literalnya.

Konteks dimana kata itu muncul, seringkali menolong untuk menentukan perasaan kita terhadap kata itu. Pertimbangkan kedua pernyataan ini:

1. His father stood over him while he did three problems in subtraction.

2. The little cousin is dead by foul subtraction.

Arti denotasi dari pembagian diterapkan dalam kedua kalimat; tapi konotasi dari kata dalam kalimat kedua, terutama salah dan juga ide tentang kematian, menciptakan potensi emosi bagi kata itu. Disini, dalam konteks ini, istilah matematis memiliki nada tragis. Jadi kita bisa melihat bahwa konteks bisa memulai satu kata umum dinyatakan dalam cara yang tidak biasa.

Konotasi emosional, konotasi intelektual, allusion effects dan efek suara semuanya meningkatkan jangkauan arti dalam suatu kata. Perhatikan baris dari Fern Hill (Dylan Thomas)

it was all

Shining, it was Adam and maiden

Kata maiden memiliki beberapa implikasi: 1) emosional, karena kata itu menunjukan kesegaran, keindahan dan sukacita; 2) intelektual, karena kata itu menunjukan keluguan, kurang pengalaman; 3) allusion, karena nama Adam merupakan bagian dari konteks dan petunjuk kepada Hawa, wanita pertama, mendukung konotasi diatas tapi menambahkan potensi emosi penderitaan; 4) bunyi, karena kata itu lembut dan anggun saat digunakan dalam frase A-dam and Maiden, karena itu menghasilkan musik, meningkatkan kualitas.

Kita bisa melihat elemen yang sama itu dalam perkataan nabi Yesaya (1: 18):

though your sins be as scarlet

they shall be white as snow;

though they be red like crimson

they shall be as wool.

Disini kita memiliki repetisi dari dua simile untuk menekankan maksud yang dingin dibuat. Selain itu, urutan kata membuat kontras didalam baris ini lebih jelas: dua kata benda yang membentuk kontras bertemu ditengah, dan cola pertama dan terakhir menggunakan yihyu sedangkan yang kedua dan ketiga Hiphil dari kata kerja menunjukan warna.

Konotasi emosional dan intelektual dari kata-kata yang digunakan disini sangat mengejutkan. The scarlet (sani) merujuk pada warna merah yang dihargai tinggi dihasilkan dari Kermococcus vermillio Planch biasa digunakan untuk menghasilkan cat terkenal (Sanskrit krmi; Persian Kerema, kirm; Pahlevi kalmir; Hebrew karmil; and our carmine and crimson. Lihat juga Persian sakirlat and Latin scarlatum). Inilah simbolisme luar biasa dalam Alkitab bagi warna. Didalam Wahyu, sebagai contoh, Pelacur besar dalam warna ungu dan merah sedangkan Orang Kudus dalam jubah putih. Mengapa Yesaya menggunakan warna merah untuk dosa? Dreschler mengatakan itu berarti pertumpahan darah suatu jubah yang ternoda darah menutupi pendosa. Delitzsch menafsirkannya sebagai hidup membara yang egois dan penuh nafsu, suatu hidup yang ditandai oleh kekerasan liar. Pemikiran ini bisa jadi memang ada dalam pemikiran Yesaya. Setidaknya kita bisa berkata kalau merah menunjukan hal membara --conspicuous and glaring.

Berlawanan dengan kirmizi dan kesumba adalah putihnya salju dan bulu domba. Istilah ini tidak hanya mewakili kemurnian, dibersihkan dari dosa, tapi membawa rasa lembut dan segar. Emosi nada dari damai dan ketenangan berlawanan dengan kekerasan dan nafsu.

Konotasi

1. Konotasi Emosional. Konotasi emosional berkaitan dengan emosi kita terhadap suatu kata, bagaimana kata itu terkait dengan emosi takut, senang atau jijik kita. Satu contoh yang menunjukan rasa senang, gembira terlihat dalam puisi E. E. Cummings:

anyone lived in a pretty how town

with up so floating many bells down

Kata up dan floating dan bells yang digunakan dalam konteks semua memiliki potensi emosi senang.

Sebaliknya, puisi Richard Eberhart For a Lamb mengejutkan kita melalui penggunaan dua kata yang tidak terduga:

I saw on the slant hill a putrid lamb,
Propped with daisies

Kita mengharapkan domba (lamb), seekor mahluk yang lugu, bermain dipadang rumput bukannya propped and putrid. Kedua kata ini menodai puisi dengan emosi jijik dan pukulan.

Terakhir, sebuah contoh mengenai konotasi emosi datang dari David Ferrys Adams Dream:

He was the lord of all the park,
And he was lonely in the dark,
Till Eve came smiling out of his side
To be his bride.

Sweet Rib, he said, astonished at her,
This is my green environ!
Eve answered no word, but for reply
The wilderness was in her eye.

Seperti digunakan dalam konteks, kata wilderness menunjukan takut (fear) atau bingung(dismay). Kata itu tidak berarti fear atau dismay, tapi menunjukan alam sekitar, adegan yang belum tergarap. Tapi kata itu memiliki nada emosional mengenai ancaman Kejatuhan.

Zakaria menekankan rasa ngeri terhadap dosa melalui pemilihan katanya:

Now Joshua was clothed with excrement-bespattered garments,

and was standing before the Angel (3:3)

Yesaya juga membawa kesia-siaan perbuatan baik manusia melalui penggunaan kata yang bermuatan emosional:

All our righteousnesses are like filthy rags (64:5)

Kata idda merujuk pada noda menstruasi.

2. Konotasi Intelektual. Konotasi intelektual berkaitan dengan arti intelektual dari sebuah kata harusnya melebihi pengertian denotasinya. Kata, seperti kita tahu, seringkali memiliki beberapa pengertian denotasi pada saat yang sama. Konotasi emosional terdapat dalam perasaan atau emosi kita, tapi konotasi intelektual berkaitan dengan pikiran dan seringkali melibatkan permainan kata yang cerdas.

Sebagai contoh, W. H. Auden menulis tentang seorang prajurit Cina yang terbunuh dalam perang dengan Jepang: Far from the heart of culture he was used. Kata heart memiliki arti ganda merujuk pada pusat budaya dan juga perhatian emosi; dia mati dalam sebuah dunia yang tidak peduli dan dingin.

Melalui penggunaan kombinasi ambiguitas semantic dan sintaktikal, penyair mendapatkan kedalaman atau kekayaan arti yang jarang dimiliki penulisan prosa yang langsung. Tantangan kita dalam membaca puisi adalah sensitive terhadap suasana dari arti yang dimungkinkan dalam kombinasi artistic kata-kata dari puisi.

Satu kasus khusus mengenai konotasi intelektual adalah ironi yang berkaitan dengan visi ganda suatu pengalaman dimana kata-kata tidak bisa sepenuhnya diandalkan untuk menyatakan realitas dari situasi itu. Lihat sebuah puisi oleh Wilfred Owen, penyair Inggris yang terbunuh dalam Perang Dunia I:

So Abram rose, and clave the wood, and went,
And took the fire with him, and a knife.
And as they sojourned both of them together,
Isaac the firstborn spake and said, My Father,
Behold the preparations, fire and iron,
But where the lamb for this burnt-offering?
Then Abram bound the youth with belts and straps,
And builded parapets and trenches there,
And stretched forth the knife to slay his son.
When lo! An angel called out of heavn.
Saying, Lay not thy hand upon the lad,
Neither do anything to him. Behold.
Abram, caught in a thicket by its horns;
Offer the Ram of Pride instead of him.
But the old man would not so, but slew his son,
And half the seed of Europe, one by one.

Ini sangat ironis saat dibandingkan dengan cerita sebenarnya; Owen ingin mendramatisir kalau manusia mengijinkan perang untuk membunuh anak-anak mereka dari generasi ke generasi. Manusia menetapkan presedennya sendiri bagi kekerasan yang secara ironis membunuh anaknya sendiri.

Didalamnya kita memiliki pandangan ganda dalam membaca kata-kata dan pengetahuan akan situasinya.

Lagu ratapan Yehezkiel terhadap raja Tirus bisa menggambarkan hal ini dari Alkitab (Ezek. 28:11-19).

11 The word of Yahweh came unto me, saying,

12 Son of man, take up a lament concerning the king of Tyre

and say to him: This is what the Lord Yahweh says:

You were the model of perfection,

full of wisdom and perfect in beauty.

13 You were in Eden, the garden of God;

every precious stone adorned you:

ruby, topaz and emerald,

chrysolite, onyx and jasper,

sapphire, turquoise and beryl.

Your settings and mountings were made of gold;

on the day you were created they were prepared.

14 You were anointed as a guardian cherub,

for so I ordained you.

You were on the holy mount of God;

you walked among the fiery stones

17 Your heart became proud

on account of your beauty,

and you corrupted your wisdom

because of your splendor.

So I threw you to the earth;

I made a spectacle of you before kings .

Pernyataan nubuat mengenai raja Tirus ini kelihatannya mengandung petunjuk mengenai asal mula setan dan kejatuhannya. Kelihatannya semua itu ada bersamaan dalam pikiran Yehezkiel.

3. Efek Allusion. Saat satu kata dalam sebuah puisi memiliki satu referensi tertentu mengenai satu tempat dalam geografi, peristiwa sejarah atau tulisan, atau seseorang, nyata atau hanya dalam tulisan, kata ini disebut sebuah allusion. Allusion dalam puisi merupakan alat yang berpotensi menciptakan arti emosional dan intelektual.

Perhatikan allusion-allusion dalam karya T. S. Eliot Journey of the Magi:

Then at dawn we came down to a temperate valley,
Wet, below the snow line, smelling of vegetation;
With a running stream and a water-mill beating the darkness,
And three trees on the low sky,
And an old white horse galloped away in the meadow.
Then we came to a tavern with vine-leaves over the lintel,
Six hands at an open door dicing for pieces of silver,
And feet kicking the empty wine-skins.
But there was no information and so we continued
And arrived at evening, not a moment too soon
Finding the place; it was (you may say) satisfactory.

All this was a long time ago, I remember,
And I would do it again, but set down
This set down
This: were we led all that way for
Birth or Death: There was a Birth, certainly
We had evidence and no doubt. I had seen birth and death,
But had thought they were different; this Birth was
hard and bitter agony for us, like Death, our death.
We returned to our places, these Kingdoms,
But no longer at ease here, in the old dispensation,
With an alien people clutching their gods.
I should be glad of another death.

Sekarang kita melihat allusion-allusion dalam bagian-bagian Perjanjian Lama:

23. I beheld the earth, and lo, it was waste and void;

and the heavens, and they had no light.

24. I beheld the mountains, and lo, they trembled,

and all the hills moved to and fro.

25. I beheld, and lo, there was no man,

and all the birds of the heavens were fled.

26. I beheld, and lo, the fruitful field was a wilderness,

and all the cities thereof were broken down

at the presence of Yahweh

at the presence of His fierce anger (Jer. 4:23-26).

Disini nabi jelas sekali merujuk pada cerita penciptaan dari Kitab Kejadian dalam ucapannya mengenai penghakiman, tapi penggunaan istilah dan frasanya membalikan urutannya, seperti mengatakan kalau penghakiman akan mengembalikan ciptaan.

Dalam cara yang mirip Zefania merujuk pada kebingungan bahasa di Babel dalam pesannya, menggunakan istilah-istilah seperti pure language, Kush, dispersed, proudly exulting and mountain:

9. For then I will turn to the peoples a pure

language that they may call upon the name of Yahweh

to serve Him with one consent.

10. From beyond the rivers of Kush, my suppliants,

even the daughter of my dispersed shall bring my offering.

11. In that day shall you not be put to shame

for all your deeds wherein you transgressed against me

For then I will take your proudly exulting ones

and you shall no more be haughty in my holy mountain (Zeph. 3:9-11).

Pemazmur juga banyak mengambil gambar dan motif awal. Pada Mazmur 36 kita melihat Daud merujuk pada Eden (pleasure) dengan mata air kehidupan (dalam kata-kata yang ditemukan juga dalam Perjanjian Baru). Tapi sebagian dari para imam dalam ruang kudus juga memberi dia gambaran berkat ilahi.

8[7] How precious is Your loyal love, O God,

that humans may take refuge under the shadow of Your wings!

9[8] They shall be abundantly satisfied with the fatness of Your house;

and You will make them drink of the river of Your pleasures.

10[9] For with You is the fountain of life;

in Your light we see light (Ps. 36:7-9).

4. Efek Bunyi. Sekarang kita bisa menambahkan fakta bahwa satu kata tertulis mewakili suatu bunyitidak menyenangkan, menyenangkan, lucu, aneh, atau netral tapi satu bunyi. Penyair mempergunakan bunyi dalam baris puisinya saat dia bisa, sebagai cara menekankan arti, atau cara menyatukan baris puisinya kedalam bentuk yang secara artistic lebih kompak. Kita melihat bunyi sebagai cara memperkuat arti, atau mengerti denotasi dan konotasi dari kata.

Repetisi bunyi kita sebut alliteration (initial syllable), consonance (consonants), assonance (vowels), dan rhyme (syllable sounds). Perhatikan efek bunyi dalam T. S. Eliots East Coker:

The wounded surgeon plies the steel
That questions the distempered part;
Beneath the bleeding hands we feel
The sharp compassion of the healers art
Resolving the enigma of the fever chart.

Our only health is the disease
If we obey the dying nurse
Whose constant care is not to please
But to remind of our, and Adams curse,
And that, to be restored, our sickness must grow worse.

The whole earth is our hospital
Endowed by the ruined millionaire,
Wherein, if we do well, we shall
Die of the absolute paternal care
That will not leave us, but prevents us everywhere.

The chill ascends from feet to knees,
The fever sings in mental wires.
If to be warmed, then I must freeze
And quake in frigid purgatorial fires
Of which the flame is roses and the smoke is briars.

The dripping blood our only drink,
The bloody flesh our only food:
In spite of which we like to think
That we are sound, substantial flesh and blood--
Again, in spite of that, we call this Friday good.

Salah satu contoh yang baik cara Ibrani menggunakan bunyi untuk memperkuat arti bisa terlihat dalam cerita perpecahan di Babel (Gen. 11:1-9). Narasinya diatur untuk mencerminkan ironi peristiwa setelah Yahwe berkunjung: saat itu bumi memiliki satu bahasa, sekarang dikacaukan; disaat mereka bisa berbicara satu sama lain, sekarang tidak bisa lagi; saat mereka ingin mendapat nama bagi diri mereka sendiri, mereka diberi nama yang kacau; saat mereka ingin bersama, mereka disebarkan; dan saat mereka ingin membuat menara kelangit, Yahweh turun melihatnya dan mereka meninggalkan bangunan itu.

A all the earth had one language

B there

C one another

D come let us make bricks

E let us build for ourselves

F a city and a tower

        X and Yahweh came down to see

F the city and the tower

E which the sons of man began to build

D come let us confuse

C everyones language

B from there

A the language of all the earth (confused)

Struktur antitetikal ini menunjukan pembalikan yang dilakukan ilahi terhadap peraturan manusia. Faktanya, kata-kata kunci disetiap bagian adalah kebalikan:

make bricks

confound

Lebih lagi, bunyi-bunyi ini membawa kepada permainan kata terhadap nama Babel dalam ayat 9, menurut struktur dan disain bagian itu adalah klimaks pesan. Nama bab-ili (gate of god / gerbang tuhan dalam bahasa Babylonian) dijelaskan oleh narrator dengan balal ( dalam suatu permainan phonetik kata yang cerdas --to confuse / membingungkan). Sehingga kekuatan kerajaan dan kesombongannya menjadi contoh kepada orang Israel akan penghukuman karena ketidaktaatannya.

Related Topics: Bible Study Methods, Terms & Definitions