Where the world comes to study the Bible

Bahasa Kiasan

Pendahuluan

Quintilian mendefinisikan bahasa kiasan sebagai setiap deviasi pemikiran atau ekspresi, dari metode ucapan asli dan sederhana atau suatu kiasan yang secara seni berbeda dari penggunaan umum (Instit. Orat. IX, i, 11). Kiasan-kiasan ini disebut oleh orang Yunani Schema, dan oleh orang Romawi Figura. Kedua kata berarti shape atau figure. P. J. Corbett, membagi kiasan kedalam dua kelompok utama -- schemes dan tropes (Classical Rhetoric for the Modern Student [New York: Oxford Press, 1971]). Dia menulis: Suatu skema meliputi suatu deviasi dari pola asli atau pengaturan kata. Suatu trope meliputi deviasi dari aslinya dan arti penting sebuah kata (p. 461).

Didalam pembahasan ini kita akan melihat tipe tropes dan skema yang paling penting. Perhatian yang lebih besar akan diberikan terhadap tropes daripada skema karena lebih sulit dipelajari. Tipe-tipe yang didaftar dibawah adalah yang paling sering ditemui dalam mempelajari Mazmur. Pelajar dianjurkan menggunakan E. W. Bullinger (Figures of Speech Used in the Bible) untuk tipe yang jarang dan bagian-bagian yang bermasalah. Tapi buku ini jangan digunakan hanya untuk menemukan kiasan yang kabur atau teknikal jargon. Daftar isi dan indeks Alkitab menjadi permulaan dari penggunaan referensi ini.

Sebelum melihat tipe-tipe umum dari kiasan kita seharusnya mempertimbangkan masalah dasar ketegangan antara literal dan kiasan. Banyak pelajar Alkitab berpikir jika sesuatu adalah kiasan maka tidak seorangpun bisa memastikan apa maksudnya (untuk hal ini, lihat kata pengantarnya Bullinger). Lainnya, berkeras pada penafsiran literal Alkitab dengan mengeluarkan kiasan. Jika penafsiran literal dimengerti secara literal, bisa muncul beragam masalah Tuhan menjadi batu karang, Yesus sepotong kayu, dan orang percaya menjadi domba yang sedang merumput atau gandum yang sedang bertumbuh. Masalah yang dihadapi untuk memberi satu survey mengenai bagaimana masalah ini dihadapi dalam penafsiran Alkitab.

Pelajar Alkitab mungkin sadar akan konsep Agustinus mengenai beragam rasa dalam Alkitab, dimana baik kata dan hal yang dimaksud merujuk pada arti rohani atau alegoris. Tapi Agustinus memberi perhatian terhadap kata-kata dalam Alkitab, arti literal, sebagai dasar bagi pentingnya kerohanian. Perhatian terhadap kata melibatkan pengetahuan akan bahasa asli, logika (rules of valid inference), sejarah, dan terutama kiasan retoris. Dia berkata,

Manusia yang tahu menulis seharusnya mengetahui, bahwa semua bentuk ekspresi yang dimaksud ahli bahasa dengan trope kata Yunani digunakan juga oleh para penulis Alkitab, dan lebih banyak dari mereka yang tidak mengenalnya bisa percaya. Mereka yang mengenal tropes ini, akan mengenali mereka dalam tulisan suci, dan pengetahuan ini akan menjadi pembantu dalam mengerti mereka . Dan tidak hanya contoh dari seluruh tropes ditemukan dalam kitab-kitab suci, tapi juga nama-nama sebagian dari mereka, seperti allegoria, aenigma, parabola (De Doctrina, III, xxix).

Pembahasan Thomas Aquinas mengenai arti Alkitab dalam Summa Theologica merasionalisasi keterangan Agustinus mengenai arti kiasan kedalam formula Katolik: suatu arti literal, an arti spiritual memiliki tiga tingkatan --allegorical atau typological, tropological atau moral, dan anagogical (I. Q. 1, Art. 10, Basic Writings, I, 16-17). Berkaitan dengan arti literal, Aquinas berkata,

Melalui kata-kata sesuatu ditunjukan secara nyata dan kiasan. Bukan kiasan itu sendiri, tapi yang dikiaskan, arti literalnya. Saat Alkitab mengatakan tangan Tuhan, arti literalnya bukan Tuhan memiliki anggota seperti itu, tapi arti yang ditunjukan oleh anggota itu, yaitu, kuasa yang bekerja (ibid).

Saat Aquinas mengklasifikasikan arti dari trope secara literal, dia ingin mengatakan kalau bahasa puisi seringkali mengaburkan kebenaran, membuat pembaca melihat melampaui kiasan itu sendiri untuk mendapat arti sebenarnya. Tidak ada penekanan nyata pada artinya yang dibawa oleh metafora itu sendiri. Baik Agustinus atau Aquinas tidak terlalu memperhatikan bahasa puisi Alkitab seperti itu.

Reformasi menimbulkan penekanan baru pada literalism dalam Alkitab, bersamaan dengan penekanan pada satu arti dari Alkitab. Tapi melihat tulisan-tulisan reformator menunjukan kalau hal ini bukan prosaic literalism. Tropes sekarang menjadi formulasi wahyu yang Tuhan pilih yang harus dimengerti dengan benar, pada dirinya, dan bukan sebagai suatu cara menunju visi allegoris yang lebih tinggi. Pembahasan Calvin mengenai doktrin sakramen, terutama ekspresi This is my body bersifat instruktif:

[Mereka yang menyatakan] roti adalah tubuh membuktikan dirinya seorang literalis . bagi saya ekspresi ini adalah sebuah metonymy, bahasa kiasan biasanya digunakan dalam Alkitab saat sedang membahas misteri . walaupun simbolnya berbeda arti dari hal yang dimaksud (yang kedua bersifat rohani dan sorgawi, sedang yang pertama fisik dan terlihat), tetap saja, karena itu tidak hanya menyimbolkan hal yang disucikan untuk mewakili pemberian kosong, tapi juga memang menyatakannya, mengapa namanya tidak berasal dari hal itu? Biarkan kita berlawanan, jika itu artinya, berhenti menimbun witticisms dengan menyebut kami tropists karena kita telah menjelaskan fraseologi sacramental menurut penggunaan umum Alkitab (Institutes IV, xvii, 20-21).

Ironisnya posisi Roma Katolik mengenai sakramen (transubstantiation) didapat karena mengartikan teks itu secara literal. Arti kiasan (metonymy) dikomunikasikan melalui tanda fisik dipegang oleh para Reformator.

Berdasarkan pemikiran itu tulisan-tulisan orang Protestan abad berikutnya mensistemasikan pelajaran perlengkapan retoris yang digunakan Alkitab. Pentingnya mengerti trope dan skema menjadi begitu penting. Bukan hanya sekarang mereka melihat teks secara literal dimana Gereja menganggapnya alegoris atau mistis; tapi mereka sekarang mempelajari kiasan yang digunakan dalam Alkitab sebagai cara untuk mengkomunikasikan wahyu ilahi. Karena Alkitab sering menggunakan bahasa kiasan, para sarjana menyadari kalau penggunaan beragam tipe kiasan secara ahli diperlukan untuk eksegesis. Buku pegangan mengenai kiasan dan penafsirannya bermunculan diseluruh Protestantism. Hal itu dimulai oleh pengakuan kalau kiasan dipakai sebagai alat kebenaran; mereka dipilih oleh Tuhan untuk menyatakan Dirinya kepada manusia.

Konsep Tuhan sebagai seorang penyair agung yang menggunakan bahasa kiasan untuk mengkomunikasikan Firman literalNya secara grafis diekspresikan oleh Donne:

Tuhanku, Tuhanku, Engkau seorang Allah yang jelas, atau Allah yang literal, Allah yang bisa dimengerti secara literal, dan sejalan dengan arti langsung dari semua perkataanMu? Tapi Engkau juga Allah yang memakai kiasan; Allah dimana kata-kataNya banyak kiasan, suatu pelayaran kepada metafora yang jauh dan berharga, perluasan . O, kata-kata apa kecuali Engkau yang bisa mengekspresikan bentuk yang tidak terekspresikan, dan komposisi dari kata (Sermons, VII, 65).

Jadi konsep bahwa bahasa kiasan merupakan karakter dari Firman Tuhan yang literal dibanyak tempat, dan bukan arti mistis, menjadi perbedaan penting eksegesis kitab setelah Reformasi. Sayangnya, eksposisi modern tidak mengerti banyak tentang hal ini, tapi lebih dekat pada penafsiran Puritan yang melihat perlengkapan retoris secara minim atau menipu. Setiap pelajar Alkitab harus menangkap kembali hubungan penting antara kiasan dan literal. Kita harus belajar bahwa tidak hanya kiasan menjadi cara mengkomunikasikan yang literal, tapi kiasan adalah literal dalam pilihan cara mengekspresikan kebenaran, suatu cara yang melibatkan konotasi emosional dan intelektual, allusion dan bunyi. Kiasan disatukan dalam pengkomunikasiannya, berbeda dalam aspeknya.

Klasifikasi Kiasan

Karena para penulis mengubah kata-kata mereka secara beragam, kritik tulisan berusaha menganalisa deviasi ini dalam penggunaan kata untuk mendapat kontrol yang lebih baik atas pikiran dan perasaan yang dimaksud oleh penulis.

I. Kiasan Melibatkan Perbandingan

Dalam bentuk kiasan ini penulis mengubah satu kata kedalam suatu wilayah semantic lain untuk mengilustrasikan atau menggambarkan pemikirannya dan membangkitkan perasaan yang tepat dalam diri pembacanya. Melalui cara ini penulis menarik perbandingan antar dua hal yang tidak bersifat sama tapi memiliki persamaan. Subjeknya nyata, tapi rujukan perbandingannya dihadirkan dalam imajinasi. Persamaan subjek dan hal yang dibandingkan tidak dinyatakan dan harus ditebak dan diuji oleh penafsir dari petunjuk lain yang ada dalam komposisi. Penafsir juga harus berusaha mengartikulasikan mood yang ditimbulkan oleh kiasan itu.

1. Simile: Kemiripan, suatu perbandingan eksplisit (menggunakan like atau as) antar dua hal yang sifatnya tidak sama tapi memiliki persamaan (lihat Bullinger, pp. 726-733).

  • Silence settled on the audience like a block of granite.

Silence disini dibandingkan dengan suatu block of granite. Gambarannya adalah satu keabsolutan dan ketiba-tibaan. Ada satu kontras yang diberikan antar gemuruh penonton sebelum pertunjukan, dan diam yang tiba-tiba saat tirainya dibuka.

  • All flesh is like grass. (1 Pet. 1:24)

Dalam ayat ini flesh, yang juga suatu bahasa kiasan, mewakili seluruh mahluk hidup, dibandingkan dengan grass. Maksudnya adalah grass/rumput bersifat sementara akan layu dan mati dengan mudah. Kiasan ini harus dilihat dalam konteks rumput di Israel waktu panas rumput akan menghilang dari bukit sampai musim hujan. Perasaan yang dibangkitkan oleh simile ini adalah suatu pathos dan kesia-siaan.

  • He shall be like a tree planted by rivers of waters. (Ps. 1:3)

Mazmur sedang menggambarkan seorang individu yang merenungkan Taurat TUHAN. Perbandingannya dibuat dengan sebuah pohon. Disini, seperti sering terjadi, simile nya teruji: pohon menghasilkan buah dimusimnya dan tidak layu karena ditanam dekat air. Kualifikasi ini membawa kita untuk menyimpulkan bahwa air mewakili Taurat, dan buah kebenaran. Pikiran yang umum antara pohon dan seseorang adalah kehidupan atau vitalitas. Hal ini menciptakan perasaan keinginan positif.

2. Metaphor: Perwakilan, suatu perbandingan implicit antar dua hal yang naturnya berbeda tapi memiliki sesuatu kesamaan; suatu deklarasi bahwa satu hal mewakili yang lainnya (lihat Bullinger, pp. 735-743). Deskripsi ini menunjukan maksud dari pendahuluan ini, tapi harus diakui merupakan penyederhanaan. Metafora yang murni sebenarnya kiasan pengubahan / figures of transference (untuk detilnya, lihat Gustav Stern, Meaning and Change of Meaning, chapter xi). Itulah alasan mengapa banyak yang memilih menggunakan metaphorical language menyamakannya dengan figurative language tanpa membedakannya lebih lanjut. Pelajaran ini akan mewaspadainya; beberapa tafsiran menggunakan kata metaphor untuk merujuk pada setiap bahasa kiasan, saat kiasan itu bukanlah sebuah metafora.

  • The question of federal aid to education is a bramble patch.

Pikiran mengenai federal aid to education dikatakn sebagai sebuah bramble patch (bukan seperti sebuah bramble patch). Maksudnya adalah sulit, tidak mudah diselesaikan, menyulitkan. Metaforanya membawa perasaan frustrasi, rumit, sakit.

  • The LORD God is a sun and a shield. (Ps. 84:12 [11])

TUHAN dibandingkan dengan sun dan shield. Masing-masing metafor memberi informasi yang berbeda mengenai TUHAN. sun menunjukan terang, kehangatan, pemeliharaan bagi pertumbuhan; shield terutama sekali mewakili perlindungan. Jadi baris diatas membawa satu perasaan aman dalam pemeliharaan Tuhan dan perlindungan dalam hidup.

  • The LORD is my shepherd. (Ps. 23:1)

Didalam baris ini satu perbandingan dinyatakan antara TUHAN (suatu roh) dan seorang gembala (seorang manusia yang menjaga ternak). Kualitas utama dari gembala diberikan kepada TUHAN sehingga pengertian mengenai naturNya bisa tercapai. Baris berikut mazmur ini (ayatv 1-4) memperluas dan menguji metafora ini, sehingga aktifitas menggembala seperti memberi makan ternak, membimbing mereka, dan menyegarkan mereka, semua diambil untuk mengkomunikasikan pelayanan spiritual TUHAN kepada umatNya yaitu mengajar kebenaran, membersihkan dari dosa, dan membimbing mereka dalam kebenaran dan keadilan. Jadi kita bisa lihat kalau konteksnya harus dipertimbangkan dalam menjelaskan sebuah kiasan.

Kiasan dari shepherd cukup sering digunakan sehingga mendapatkan status leksikal, dan karena itu kamus-kamus sering meletakan penggunaan kiasannya sebagai salah satu kategori arti. Bahkan didalam kamus Inggris dibawa kata shepherd anda akan menemukan penggunaan dalam kotbah bagi pelayan. Saat ini terjadi kiasan dikelompokan sebagai sebuah dead metaphor, atau sebuah idiom. Tapi, dalam eksegesis anda harus menafsirkannya seperti metafora lainnya, karena itu adalah penggunaan kiasan dari satu istilah.

3. Hypocatastasis: Implikasi, suatu deklarasi yang menunjukan perbandingan antara dua hal yang berbeda nature tapi memiliki sesuatu yang sama. Tidak seperti diatas, dalam hypocatastasis subjek harus ditarik kesimpulan (lihat Bullinger, pp. 744-747; Bullinger, tidak memberi banyak perhatian terhadap kiasan yang sangat umum ini). Lebih mudah mengatakan hal ini sebagai sebuah implied metaphor jika judulnya terdengar terlalu teknikal atau sulit. Bentuk utama yang ada dalam teks, kiasan akan diekspresikan sepenuhnya, tapi topik atau subjek sebenarnya akan dibenamkan. Sebagai contoh, Smite the shepherd and the flock will be scattered adalah suatu pernyataan yang tetap pada tingkatan kiasan. Eksegetor harus mengerti dari konteks atau penggunaan istilah itu maksud dari shepherd dan flock.

  • Dogs have surrounded me. (Ps. 22:17 [16])

Pemazmur membandingkan musuh-musuhnya dengan anjing. Tidak ada anjing-anjing yang mengurung dia; konteksnya memberitahu itu adalah sekelompok orang jahat. Jika dia memang menggunakan sebuah simile, dia akan menyatakannya secara eksplisit my enemies are like dogs. Sebuah metafora langsung akan berkata my enemies are dogs. Tapi dia hanya berkata dogs have surrounded me, dan anda ditinggalkan untuk menentukan apakah mereka adalah anjing, dan jika bukan apakah artinya. Saat ini dilakukan, anda harus kembali ke kiasan itu dan bertanya mengapa dia membandingkan mereka dengan anjing-anjing. Anjing-anjing di Timur Dekat kuno adalah pelacak mereka bergerombol dan mencari makanan. Seperti burung bangkai dipadang pasir mereka mengambil bangkai. Jadi sudah berbicara banyak mengenai musuh-musuhnya, dan kondisinya dia sekarat.

  • Blessed is the man whose quiver is full of them (Ps. 127:5)

Didalam konteksnya pemazmur telah menggunakan sebuah simile untuk membandingkan anak dengan panah ditangan seorang pejuang. Membangun dari titik itu pemazmur menggunakan quiver untuk merujuk rumah tangganya. Jika anak seperti panah, maka rumah seperti quivertapi rumah tangga sama sekali tidak disebutkan. Demikianlah perbandingan itu dibuat.

  • My frame was not hidden from You,
    When I was made in secret,
    and skillfully wrought
    in the depths of the earth. (Ps. 139:15)

Didalam bagian ini pemazmur menggambarkan bagaimana Tuhan membentuk dia dalam kandungan ibunya tapi dia menyebutnya dengan depths of the earth. Dia membandingkan kandungan dengan bagian terdalam bumi, menekankan jauhnya dan tersembunyi (ini sebelum sonograms). Tapi dia tidak menyatakan perbandingan; dia hanya menggunakan kiasan untuk menyatakan perbandingan. Salah satu alasan bagi perbandingan aneh ini adalah retorika: dia ingin membentuk satu hubungan dengan hal sebelumnya dimana dia menggambarkan kehadiran Tuhan diwilayah yang jauh seperti itu (lihat Ps. 139:7-12).

  • A lion has gone up from his thicket. (Jer. 4:7)

Konteksnya akan menjelaskan bahwa pemikirannya adalah raja Babilon yang telah meninggalkan wilayahnya. Perbandingan dengan seekor singa menekankan sifat garang kekuasaan kafir ini, dan membawa perasaan takut diserang dan kematian. Penulis sering menggunakan binatang atau binatang liar dalam hypocatastases mereka sebagai aturan dalam menekankan kekuasaan garang seperti itu. Faktanya, penglihatan Daniel mengenai binatang-binatang mempersiapkan penglihatannya tentang one like the Son of Man yang akan menggantikan mereka (Dan. 7:12, 13).

4. Perumpamaan: ditempatkan disamping (dari para = beside, dan ballein = to cast) dua hal yang naturnya berbeda tapi memiliki beberapa kesamaan; suatu simile yang diperluas, sebuah narasi anekdot dibuat untuk mengajarkan sesuatu. Perluasan dari perbandingan harus ditebak dan diuji oleh petunjuk lain dalam tulisan (lihat Bullinger, pp. 751-753).

Perumpamaan digunakan sekitar 30 kali untuk menerjemahkan lvm, masal, dan hanya kata itu; tapi contoh yang paling terkenal ditemukan dalam Perjanjian Baru.

  • The kingdom of heaven is likened unto a man that sowed good seed in his field. (Matt. 13:24ff.)

Perumpamaan sebenarnya merupakan sebuah cerita yang didasarkan pada sebuah simile, artinya, simile yang diperluas. Tidak selalu mudah untuk menentukan berapa banyak cerita yang sebaiknya ditafsirkan sebagai bagian dari simile. Cukup aman mengatakan kalau tujuan utama dari perumpamaan adalah apa yang dimaksud oleh cerita; tapi bersamaan dengan itu perbandingan lain juga jelas terlihat (e.g., saudara laki-laki tertua mewakili orang Farisi).

5. Alegory: (dari allos = another dan agourein = to speak in the agora [i.e., tempat orang berkumpul]); sebuah metafora yang diperluas (lihat Bullinger, pp. 748-750).

Para ekspositor sering berkata kalau sebuah alegori merujuk pada sesuatu yang non histories dalam perbandingan; tapi ini lebih bersifat pembelaan daripada factual, dibuat untuk mempertahankan diri terhadap penggunaan alegori Alkitab yang hampir tak terbatas oleh beberapa Bapa Gereja. Tapi dalam arti klasiknya sebuah alegori merupakan metafora yang diperluas; hal yang digunakan dalam perbandingan bisa bersifat histories atau fiksi, masing-masing alegori membutuhkan perhatian tertentu. Maka dari itu, penggunaan istilah itu dalam Galatia 4:24 adalah sah karena itu tidak menolak historitas dari peristiwa Perjanjian Lama.

Tidak banyak contoh alegoris dalam Perjanjian Lama; dan yang teringat, gambarannya tidak histories atau aktual.

  • Alegori mengenai Fig, Olive, Vine, and Bramble (Ju. 9:7-15):

Ini bukan sebuah perumpamaan karena tidak ada kemiripan yang dinyatakan secara eksplisit. Tapi, sebuah hypocatastasis yang diperluas, hanya satu dari dua hal dalam perbandingan yang secara jelas dinyatakan. Dalam konteks maksudnya, hanya yang tidak berharga, yang ingin memerintah bangsa.

  • Alegori mengenai Kebun Anggur yang tidak Produktif (Isa. 5:1-7):

TUHAN dibandingkan dengan tukang kebun yang setia, Sang Kekasih, dan Israel dengan kebun anggur yang tidak produktif (v. 7). Pendapat umum antara Israel dan kebun anggur adalah suatu pendapatan yang tidak adil, dan perasaan umum adalah jijik. Israel seharusnya menghasilkan fruit karena pekerjaan seksama dari gardener.

6. Personifikasi: Personifikasi: (dari Latin persona: topeng aktor, person + facio = to make; dibuat atau meniru seseorang); peletakan subjek non-manusia (e.g., abstraksi, objek mati, atau binatang) kepada kualitas manusia atau kemampuan. Sama seperti seluruh kiasan diatas, kiasan ini juga ada dalam sub-group kiasan yang melibatkan kemiripan. Disini, hal-hal yang dibandingkan adalah naturnya tidak mirip, tapi hal yang selalu dibandingkan adalah seseorang. Kiasan digunakan untuk mengatur emosi dan menciptakan empati terhadap subjek (lihat Bullinger, pp. 861-869).

  • The land mourns--the oil languishes. (Joel 1:10)

Kecenderungan manusia untuk mourning dan languishing diatributkan kepada tanah, dan dibandingkan. Tapi maksudnya adalah bencana agricultural yang ekstrim, dan perasaannya adalah kesedihan dan duka.

  • The voice of your brothers blood cries to me from the ground. (Gen. 4:6)

Darah Habel yang tertumpah dipersonifikasikan dengan suatu suara yang berteriak. Maksudnya adalah darah itu adalah sebuah saksi kalau suatu pembunuhan telah dilakukan. Hal itu menuntut pembalasan; dan membawa perasaan penghukuman dan kemarahan.

  • Your rod and your staff, they comfort me. (Ps. 23:4)

Disini kemampuan manusia untuk memberi penghiburan saat kesulitan diberikan pada gadah dan tongkat TUHAN. Tentu saja, rod dan staff juga kiasan, meneruskan perbandingan antara aktifitas TUHAN dengan gembala (jadi mereka adalah hypocatastases). Baris ini pada intinya menegaskan kalau cara TUHAN melindungi mendatangkan penghiburan bagi pemazmur yang sedang khawatir. Ini menjadi contoh yang baik mengenai bagaimana sebagian kiasan dibangun diatas kiasan lain.

7. Anthropomorphism: Suatu perbandingan implicit atau eksplisit Tuhan dengan beberapa aspek jasmani umat manusia. Melalui perbandingan ini penulis tidak ingin menimbulkan kesan tapi bersifat didaktik, viz., untuk mengkomunikasikan kebenaran mengenai pribadi Tuhan. Penulis akan memilih bagian dari kehidupan manusia yang paling berhubungan dengan karakteristik pribadi Tuhan: yaitu, wajah menunjukan kehadiranNya, mata menunjukan kewaspadaanNya, telinga menunjukan perhatianNya, hidung menunjukan kemarahanNya, dan hati berbicara mengenai maksud moralNya (lihat Bullinger, pp. 871-881, 883-894). Pernyataan Ketuhanan menuntut penggunaan bahasa anthropomorphic, yaitu, mengkomunikasikan nature Tuhan dalam bahasa yang dimengerti manusia. Diseluruh PL Tuhan digambarkan sepertinya Dia memiliki semua bagian dan fungsi manusia. Hal inilah mungkin menjadi alasan Yesus digambarkan sebagai wahyu Tuhan yang sempurna, alpha dan omega, Logosinkarnasi Firman (Word) (atau apakah kita bisa mengatakan perkataan-perkataan (words)?) menjadi daging.

  • His eyes behold, his eyelids try, the sons of men. (Ps. 11:4)

Pemazmur, ingin menunjukan perhatian Tuhan terhadap seluruh kegiatan manusia, menggunakan ekspresi eyes dan eyelids. Tuhan adalah Roh dan bukan jasmani; lebih lagi, kemaha-hadiran ilahi tidak memerlukan eyelids untuk lebih focus memperhatikan. Tapi apa arti semua itu bagi hidup manusia memampukan kita untuk mengerti aktifitas investigasi dan penghakiman ilahi.

  • Incline your ear to me. (Ps. 31:3 [2])

Sekali lagi, ekspresinya manusia kita mencondongkan badan untuk mendengar lebih baik apa yang seseorang katakana. Tuhan tidak perlu melakukan hal ini (dia tidak perlu telinga yang dicondongkan untuk mendengar doa seseorang). Anthropomorphisms seperti itu untuk kepentingan kita itu suatu seruan pada Tuhan untuk mendengar doa.

  • Hide your face from my sins. (Ps. 51:11 [9]).

Ini ada dalam pengakuan dosa Daud. Dia berdoa agar Tuhan mau mengampuninya dan tidak melihat dosannya lagi. Kegiatan manusia hiding ones face. Artinya tidak melihat sesuatu, penggambarannya menunjukan keinginannya dan mendatangkannya penghiburan.

Alkitab dipenuhi dengan ekspresi anthropomorphic mengenai Tuhan yang harus ditafsirkan dengan jelas (dan hati-hati karena banyak orang melihatnya secara literal). Tuhan digambarkan memiliki tangan kekal, tangan penolong, nafas mematikan dari hidungnya, kaki; dia digambarkan sitting enthroned, hurling a storm, blotting out of a book, putting tears in a bottle, dan berbagai ekspresi kiasan lainnya dari realitas manusia. Semuanya dimaksudkan untuk menyatakan pribadi dan karya TUHAN dalam istilah yang bisa kita mengerti dan hargai.

Tapi perhatikan ini: Banyak penulis membedakan kiasan ini dari gambaran keinginan Tuhan yang mereka sebut sebagai anthropopatheia: perbandingan implicit atau eksplisit antara nature keinginan Tuhan dan manusia. Melakukan hal ini memberi kesan kalau Tuhan sebenarnya tidak memiliki keinginan atau emosi. Pernyataan ini sangat membatasi personalitas Tuhan, secara tradisi didefinisikan seabgai intelektual, sensibilitas dan kehendak. Saya sama sekali tidak menggunakan kategori ini, tapi mempertahankan passion Tuhan itu secara literal (lihat Bullinger includes it on pp. 882, 883).

8. Zoomorphism: Suatu perbandingan eksplisit atau implicit Tuhan (atau entitas lainnya) dengan binatang atau bagian dari binatang (lihat Bullinger, pp. 894, 895; Bullinger meletakannya dibawah anthropomorphism).

  • In the shadow of your wings I used to rejoice. (Ps. 63:8)

Tentu saja, Tuhan bukan burung dengan sayap. Perlindungan Tuhan seringkali diekspresikan dalam istilah zoomorphic, artinya, percaya dibawah bayang sayapnya. Berbicara mengenai keamanan dan keselamatan.

N.B. Seringkali binatang memiliki suatu signifikansi simbolis. Bullinger mengutip Genesis 4:7 (Sin crouches at the door) sebagai contoh personifikasi. Walaupun kata kerja rabats, to couch, menunjukan kegiatan manusia, lebih sering digunakan terhadap binatang, terutama singa, yang siap menerkam. Lebih lagi, kiasan seharusnya ditafsirkan dalam terang perintah kepada umat manusia untuk menguasai binatang. Jika demikian, maka Tuhan memerintahkan Kain untuk menguasai dosa yang mengancamnya seperti seekor singa. Jika penafsiran ini benar, kiasan yang digunakan adalah suatu zoomorphism.

Kita bisa melihat melalui hal ini kalau zoomorphism tidak terbatas untuk menggambarkan Tuhan. Mazmur 139:9 berkata, If I take the wings of the dawn, and settle in the remotest part of the sea, membandingkan sinar matahari dengan sayap seekor burung yang terbang dari timur dan mendarat di kejauhan barat. Maksud konteksnya adalah tidak perduli secepat atau sejauh apa dia terbang / fly (yaitu dengan kecepatan cahaya) Tuhan selalu ada.

9. Proverb: (dari pro + verbum = more at word); suatu witticism singkat yang populer; sebuah ilustrasi spesifik untuk menunjukan sebuah kebenaran umum mengenai kehidupan. The wit of one is the wisdom of many (lihat Bullinger, pp. 755-767). Maksud dari perbandingan seringkali eksplisit (like father--like son), tapi lebih sering kabur.

  • Is Saul also among the prophets? (1 Samuel 10:11)

Tindakan Saul seperti para nabi tapi dia adalah raja. Axiomnya adalah mereka kagum atas peran yang terbalik. Maksud perbandingan menjadi jelas dalam analisa penggunaan masal. Mazmur 49, suatu mazmur hikmat, menggunakan kata kerja itu dalam ekspresi berulang yaitu manusia duniawi is like binatang yang binasa.

  • The fathers eat the sour grapes,
    but the childrens teeth are set on edge. (Ezek. 18:2)

Perbandingannya jelas dalam kiasan; kebenaran umum diekspresikan melalui perkataan, bahwa anak secara tidak adil menerima hukuman dari orangtua.

Proverbs sangat rumit dalam tulisan Ibrani. Pelajar Alkitab harus menelitinya lebih lanjut, terutama saat mempelajari kitab seperti Amsal. Proverbs bukan kiasa utama dalam mempelajari Mazmur.

10. Idiom: pemunculan regular dari kiasan. Setiap kiasan (termasuk yang mengikutinya) bisa menjadi idiomatic melalui penggunaannya secara sering sehingga mencapai status leksikal. Bullinger memberi banyak contoh ekspresi idiomatic dalam Alkitab seperti breaking bread, open the mouth, the Son of Man, turn to ashes, three days and three nights dan banyak lagi (lihat Bullinger, pp. 819-860). Sebuah idiom juga disebut dead metaphor, kiasan rendah, atau kiasan yang sering digunakan. Hal ini dengan mudah dijalankan jika digunakan secara baru.

Walaupun idioms bisa langsung dikenal sebagai idiom, ekspositor tetap harus mengevaluasi kiasan apa yang aslinya terlibat. Saat ini dilakukan, penafsiran akan diterapkan pada penggunaan berikutnya. Sebagai contoh, way itu idiomatic. Bisa juga metaphorical (way atau road dibandingkan dengan pola hidup), suatu maksud dasar yang seringkali perlu dibuat. Jangan menganggap idiom dalam Alkitab bisa dimengerti dengan mudah.

II. Kiasan Melibatkan Pengganti

11. Metonymy: Perubahan kata benda (atau ide apapun), perubahan satu kata dalam menamai suatu objek dengan kata lain yang berkaitan erat dengannya. Dari kata meta menunjukan change dan onoma artinya a name, noun; tapi sebuah metonymy juga bisa dikatakan dengan sebuah kata kerja, atau seluruh baris. Pengganti sebagian atribut atau kata petunjuk dengan apa yang dimaksud. Sebagai contoh, crown untuk royalty, mitre untuk bishop, brass untuk military officer, pen untuk writer, bad hand untuk poorly-formed characters. Berlainan dengan kiasan diatas yang didasarkan pada kemiripan, metonymy didasarkan pada hubungan. Saat kiasan didasarkan pada kemiripan, perbandingan yang dibuat imajinatif; dalam metonymy kata yang memicu asosiasi merupakan realitas historiesdisana memang adalah sebuah crown, a mitre, brass, pen, dan lainnya. Tapi maksudnya lebih dari itu.

Hal ini penting, karena anda akan mendapatkan kesulitan terbesar dalam membedakan metonymy dari hypocatastasis. Jika kita berkata, the White House said today, itu adalah sebuah metonymy, White House pengganti President di White House. Tapi memang ada yang namanya White House. Jika kita mengatakan Uncle Sam wants you, kita memiliki sebuah hypocatastasis. Tidak ada yang Uncle Sam. Huruf U.S. diambil dan dibandingkan dengan seseorang (bisa juga dikatakan sebagai personifikasi).

Bullinger menganalisa metonymy kedalam empat bentuk; viz., sebab, efek, subjek, sisipan. Semuanya membantu, tapi akan terlihat kalau analisa tidak selalu hanya pas penuh pada salah satunya (lihat Bullinger, pp. 538-608).

a. Metonymy dari Sebab: Saat penulis menyatakan sebab tapi memaksudkan efek (Bullinger, 540-560). Cara untuk mengujinya adalah jika anda menyebut sesuatu itu sebuah metonymy sebab anda harus menyatakan apa efek yang diinginkan.

Contoh dimana alat diletakan untuk akibat:

  • And the whole earth was of one lip. (Gen. 11:1)

Ayat itu berarti setiap orang berbicara bahasa yang sama. Lip adalah sebab, alatjadi ekspositor harus menyatakan akibatnya, language.

  • At the mouth of two or three witnesses (Deut. 17:6)

Arti yang dimaksud adalah kesaksian dari saksi; mouth adalah sebab, alat memberi kesaksian.

Contoh dimana hal atau tindakan diberikan untuk akibat:

  • Pour out your anger upon the nations. (Ps. 79:6)

Anger adalah emosi dibelakang penghukuman. Pemazmur ingin Tuhan mencurahkan (juga sebuah kiasan, suatu implied comparison) tindakan penghukuman. Jadi sebab dinyatakan, akibatnya --penghukumanyang dimaksud.

  • Continue your loyal love to those who know you. (Ps. 36:10)

Atribut dinyatakan, tapi berkat spiritual dan materi yang dibawa kasih setia Tuhan yang dimaksudkan. Sebagian besar kasus, atribut Tuhan merupakan metonymy sebab, karena komunikasi atribut-atribut itu yang dimaksud (maka dari itu: atribut yang bisa dikomunikasikan).

Contoh dimana tindakan seseorang, agen atau aktor, diberikan untuk akibat:

  • They have Moses and the Prophets. (Luke 16:29)

Hal yang dimaksud adalah mereka memiliki Alkitab yang Musa dan Para Nabi tulis. Sebab dinyatakan, akibatnya yang dimaksud. Maksudnya ingin mengatakan dua hal satu kali; menenkankan otoritas dengan memberikan identifikasi penulisnya, tapi dengan jelas menyatakan kalau Kitab Sucilah yang dimaksud (mereka tidak memiliki Musa).

b. Metonymy Akibat: Saat penulis menyatakan akibat tapi memaksudkan sebab yang menghasilkannya (Bullinger, pp. 560-567).

Terkadang satu baris parallelism puisi akan memberi metonymy sebab dan metonymy akibat bersamaan untuk mengekspresikan keseluruhan ide: Then he will speak (sebab) to them in his anger, and terrify (akibat) them in his fury. (Ps. 2:5).

Contoh dimana akibat diberikan untuk hal atau tindakan yang menghasilkannya:

  • Entreat the LORD your God, that he may take away from me this death only. (Exod. 10:17)

Belalang! Itulah yang ingin disingkirkan Firaun. Tapi jika mereka diijinkan untuk tinggal, mereka akan menghancurkan tanah dan penghuninya. Untuk membuat permintaannya lebih jelas dia mengganti akibat dengan sebab.

  • Cause me to hear joy and gladness. (Ps. 51:10[8])

Seluruh baris merupakan sebuah metonymy akibat. Pemazmur ingin mendengar ucapan kuno mengenai pengampunan dari nabi. Akibat diampuni adalah pemazmur sekali lagi bisa bergabung bersama jemaat dengan teriakan sukacita kepada Tuhan dan mendengar seluruh jemaat bersukacita. Dia ingin keduanya diampuni dan masuk kedalam pujian; dia menyatakan akibat dan mengimplikasikan akibat.

Contoh dimana akibat diberikan untuk objek material yang darinya dihasilkan:

  • You split the fountain and the flood. (Ps. 74:15)

Dia membelah dua batu itu, dan air keluar. Penggunaan metonymies disini sangat ekonomis, karena jelas bahwa Tuhan tidak membelah air. Pembaca ingin tahu sebab, batu itu, yang dimaksud, tapi akibatnya, air dari batu itu, yang dinyatakan. Fountain dan flood juga merupakan ekspresi kiasan dari air. Jadi baris itu berbicara lebih dari ekspresi literalnya.

Contoh dimana akibat diberikan sebagai instrumen atau sebab organis:

  • Awake, my glory (Ps. 57:9[8])

Akibat yang dinyatakan adalah glory; sebab yang maksud adalah lidah yang memuji adalah untuk memuliakan Tuhan. Mungkin juga glory mewakili seorang pribadi (bandingkan Keluaran 33:18, show me your glory, yang bisa berarti show me yourself [ = LXX], the real you).

Contoh dimana akibat diberikan bagi pribadi atau agen yang menghasilkannya:

  • But you, O LORD, be not far off;
    O my help, hasten to my assistance. (Ps. 22:19[181)

Akibat yang dinyatakan disini adalah help, hal yang akan diterima pemazmur. Sebab yang dimaksud adalah TUHAN.

c. Metonymy Subjek: saat subjek atau benda diberikan sebagai atribut atau sisipannya, yaitu tempat atau konteiner diberikan bagi isinya (Bullinger, pp. 567-587).

Contoh dimana penampung diberikan bagi isi:

  • The grave cannot praise you. (Isa. 38:18)

Ini merupakan motif umum dalam Alkitab Ibrani. Sang nabi bermaksud mengatakan kalau orang mati dalam kuburan tidak bisa memuji Tuhan. Menggunakan kata grave menambah tekanan dan menggerakan Tuhan untuk menjaga individu agar tetap hidup untuk memujiNya.

  • You prepare a table before me (Ps. 23:5)

Subjek-ide yang dinyatakan adalah table, tapi yang dimaksud adalah makanan dan minuman dimeja. Arti literal dari mempersiapkan meja, yaitu, i.e., carpentry, tidak tepat disini, karena pemazmur menyatakan pemeliharaan spiritual dan fisik bagi kehidupan.

  • The voice of the LORD shakes the wilderness. (Ps. 29:8)

Sebagai sebuah metonymy subjek wilderness menunjukan flora dan fauna dibelantara. Dalam kalimat voice of Yahweh juga kiasan, apakah merupakan sebuah metonymy sebab bagi badai (Tuhan memerintahnya), atau hypocatastasis bagi kemiripan guntur dengan suara itu.

Contoh dimana hal atau tindakan diberikan bagi yang dihubungkannya (the adjunct):

Soul [jika itu terjemahannya, merupakan terjemahan yang salah dari kata Ibrani vpn,, nephesh, yang artinya keseluruhan seorang pribadi, tubuh dan jiwa] untuk desires, appetites; heart untuk thoughts, understanding, courage, will; kidneys untuk conscience, affections, passions; liver untuk emotions, center of immaterial part (lihat Bullinger, pp. 567-570; see also Hans W. Wolff, Anthropology of the Old Testament).

  • You are near in their mouth (i.e., words [met. of cause]) but far from their kidneys.

Ibraninya dihubungkan dengan organ visceral dengan kehendak dan emosi, seperti dunia barat modern menggunakan kata heart untuk strong will (believe with your heart) atau strong affection (love with all my heart). Semua ini kita kelompokan sebagai metonymy subjek, dan kemudian tafsirkan sisipan yang berhubungan --will, desire, thoughts, etc.

Contoh dimana kepemilikan diberikan bagi hal yang dimiliki:

  • Saul, Saul, why are you persecuting me? (Acts 9:4)

Subjek-ide yang dinyatakan adalah me, i.e., Jesus; tapi ide yang dimaksud adalah GerejaNya. Maksudnya adalah sesuatu yang umum dalam Alkitab menindas Gereja sama dengan menindas Kristus.

Contoh dimana tanda diberi bagi hal yang dimaksud:

  • The scepter shall not depart from Judah. (Gen. 49:10)

Maksud dari perkataan leluhur adalah Judah (disini suku bukan patriarch [met. of cause]) akan mendapatkan supremasi atas suku atau kepemimpinan.Tanda kepemimpinan adalah sebuah tongkat, jadi kita mengelompokannya sebagai metonymy subjek karena maksudnya lebih daripada (secara literal) mendapat sebuah tongkat.

  • Kiss the son (Ps. 2:12)

Dalam contoh ini kita memiliki sebuah ide kata kerja yang digunakan sebagai sebuah metonymy. Hal ini tidak terlalu umum, tapi bisa terjadi. Ide yang dikemukakan yaitu mencium anak dimaksudkan untuk menunjukan sisipan, yaitu, apa yang dihubungkan dengan tindakan tunduk, memperlihatkan homage. Son juga kiasan dalam mazmur itu, disini merupakan sebuah implied metaphor, tapi menyatakan lebih dulu metafor dalam bagian tersebut (you are my son).

d. Metonymy Sisipan: Penulis meletakan sisipan atau atribut atau beberapa keadaan yang berkaitan dengan subjek bagi subjek tersebut (Bullinger, pp. 587-608).

Contoh dimana atribut diberikan bagi hal atau objek:

  • Then shall you bring down my gray hairs with sorrow to the grave. (Gen. 42:38)

Sekarang kita memiliki kebalikan dari metonymy subjek. Disini sisipan --gray hairsdiberikan bagi subjek --old Jacob. Jelas, lebih sekedar gray hairs yang akan dibawa kekubur (grave adalah sebuah metonymy subjek bagi kematian).

Contoh dimana waktu diberikan bagi hal yang dilakukan didalamnya:

  • For the shouting for your summer (Isa. 16:9)

Maksud yang diinginkan adalah panen yang terjadi dimusim panas. Dengan mengganti musim panas nabi itu mengekonomisasi deskripsinya dan membawa lebih daripada sekedar harvest. Summer, waktu panen, adalah ide sisipan (sesuatu deskripsi yang dihubungkan dengan ide itu).

Contoh dimana isi diberikan bagi penampungnya:

  • And when they had opened their treasures (Matt. 2:11)

Mereka membuka peti yang menampung treasures. Disini sisipan ini dikemukakan (isi dari penampung) tapi subjeknya yang dimaksud (penampung).

Contoh dimana pemunculan satu hal diberikan bagi hal itu sendiri:

  • His enemies shall lick the dust. (Ps. 72:9)

Ini merupakan deskripsi jelas mengenai kekalahan musuh. Subjek-ide yang dimaksud bahwa musuh yang dikalahkan, ada dalam suatu keadaan menyedihkan; tapi deskripsi yang dikemukakan adalah sebuah sisipan dari kekalahan itu.

Contoh dimana hal yang dirujuk diberikan bagi tanda itu:

  • because the separation is on his head (Num. 6:7)

Ekspresi ini berasal dari pasal mengenai sumpah Nazirite dimana pelakunya tidak akan memotong rambutnya. Tanda yang diinginkan dari sumpah adalah rambut yang tidak dipotong (subjeknya), tapi hal yang ditunjukan dikemukakan --pemisahan. Separation bukan sebuah metonymy akibat, karena akan berkata kalau rambut panjang menyebabkan sumpah.

Contoh dimana Nama seseorang diberikan bagi orang itu:

  • May the name of the God of Jacob protect you. (Ps. 20:2)

Judul yang dikemukakan adalah name; tapi maksud yang diinginkan adalah TUHAN sendiri, atau lebih lagi, seluruh atribut TUHAN. Ini sama dengan ask anything in my name.

12. Synecdoche: pertukaran ide yang berhubungan satu sama lain. Didalam kiasan ini satu kata menerima sesuatu dari yang lainnya yang tidak terekspresikan tapi dihubungkan dengannya karena berasal dari genus yang sama. Seperti metonymy kiasan itu didasarkan pada suatu hubungan bukannya kemiripan. Tapi saat dalam metonymy pertukaran bisa dilakukan antar kata-kata yang berhubungan tapi berasal dari genera yang berbeda (karena itu hubungannya tipis melalui kontak atau ascription). Didalam synecdoche pertukarannya dilakukan antar dua kata yang berhubungan secara generic. Sebagai contoh, ends of the earth sebagai sebuah metonymy subjek yang artinya orang yang hidup diujung bumi, tapi sebagai sebuah synecdoche itu bisa berarti lokasi yang secara geografis jauh sebagai bagian dari tanah --tanahs, bukan orang.

Sebagai petunjuk umum, kita bisa menggunakan synecdoche bagi kiasan yang benar-benar merupakan sebagian dari keseluruhan, atau keseluruhan bagi sebagian lebih berhubungan dengan hal yang dimaksud daripada sebuah metonymy umumnya. Penggunaan Genus dan Species tidak sesering Seluruh dan Sebagian, tapi bisa digunakan bagi hal-hal yang benar-benar berhubungan secara generis.

a. Synecdoche dari Genus: Genus digantikan dengan species: e.g., senjata dengan pedang, mahluk dengan manusia, tangan dengan senapan, kendaraan dengan sepeda (Bullinger, pp. 613-656).

Kata-kata dari arti luas bagi arti yang lebih sempit:

  • The glory of the LORD shall be revealed, and all flesh shall see it together. (Isa. 40:5)

Kata umum flesh digunakan menggantikan ide tertentu mankind (mereka ada dalam suatu hubungan genus-species). Metonymy tidak akan berhasil (sebab? akibat? subjek? sisipan?); jika anda pikir itu sebuah metonymy, anda perlu memberikan ide yang dimaksud untuk kepentingannya.

  • Preach the gospel to every creature. (Mark 16:15)

Genus yang dikemukakan adalah creature; species yang dimaksud adalah people. Ingat bagaimana St. Francis melihatnya secara literal.

All bagi bagian yang lebih besar:

  • All the people were gathered to Jeremiah. (Jer. 26:9)

Penggunaan all bisa ditangani sebagai suatu masalah leksikal. Genus yang dikemukakan disini adalah all the people, tapi arti yang diinginkan adalah the greater number of the people.

All untuk semua jenis:

  • It contained all four-footed animals. (Acts 10:12)

Kita akan ragu kalau penglihatan berisi seluruh binatang-binatang berkaki empat. Maksudnya adalah seluruh jenis binatang berkaki empat (i.e., every kind) diwakilkan.

Universal dengan particular:

  • Saul said nothing that day. (1 Sam. 20:26)

Synecdochenya adalah nothing, tapi arti yang diinginkan adalah nothing about David. Kita juga menemukan dalam bahasa Inggris kalau kata-kata universal seringkali dimaksudkan untuk menandai sesuatu yang lebih spesifik. Saya teringat tentang kalimat yang ditujukan bagi Yogi Berra, Nobody goes there anymore, the place is too crowded.

b. Synecdoche dari Species: Species digantikan dengan genus, sebagian bagi seluruh; e.g., roti dengan makanan, pemotong leher dengan pembunuh (Bullinger, pp. 623-635).

Kata-kata berarti sempit bagi arti yang lebih luas:

  • I will not trust in my bow, neither shall my sword save me. (Ps. 44:7 [6])

Bentuk synecdoche ini lebih membantu secara eksegetis. Didalam mazmur ini bow dan sword dikemukakan, tapi arti yang diinginkan adalah weapons.

Artinya lebih luas daripada kiasan yang dikemukakan tapi termasuk memasukannya.

Species dengan genus proper:

  • A land flowing with milk and honey (Ex. 3:8, 17)

Seringkali sebuah bus wisata di Israel akan membawa orang ke sebuah lokasi yang terdapat sapi dan sarang lebih dan mengutip ayat ini. Tapi artinya lebih luas: maksud genus itu adalah seluruh makanan mewah.

  • Give us this day our daily bread. (Matt. 6:11)

Arti yang dimaksud adalah makanan dasar. Daily bread adalah sebuah species dari genus makanan.

c. Seluruh bagi sebagian: (Bullinger, pp. 636-640). Banyak contoh yang diberikan Bullinger lebih baik diperlakukan sebagai masalah leksikal, terutama saat all / seluruh digunakan bagi sebagian.

  • Behold, the world has gone after him. (John 12:19)

Synecdoche keseluruhannya adalah world; arti yang diinginkan (sebagian) adalah semua orang.

Banyak dari kiasan ini juga melibatkan metonymy subjectpenampung bagi isi. Biasanya itu cukup untuk mengelompokannya sebagai sebuah metonymy dan menjelaskan artinya. Penjelasan itu akan menunjukan kalau keseluruhan diberi bagi sebagian. Perlu diperhatikan kalau synecdoche seringkali juga hyperbolic, atau bahkan merendahkan.

  • And he shall serve him forever. (Ex. 21:6)

Keseluruhannya adalah forever; bagian yang dimaksud adalah as long as the slave lives. Tapi sekali lagi, ini bisa merupakan masalah leksikal, atau caranya diterjemahkan harus dibahas.

d. Sebagian bagi Seluruh: e.g., berlayar dengan kapal, kanvas dengan berlayar (Bullinger, pp. 640-656). Ini juga bisa dikelompokan dibawah species bagi genus, lebih lagi, banyak dari hal ini dekat dengan metonymy. Ini merupakan penggunaan paling umum dari synecdoche.

Sebagian pria bagi seluruh pria:

  • Their feet run to evil. (Prov. 1:16)

Bagian yang dikemukakan adalah feet; keseluruhan yang dimaksud adalah their entire bodies = evil people. Maksudnya adalah hati dan jiwa mereka menuju keperbuatan jahat.

  • The one who lifts up my head. (Ps. 3:4 [3])

Bagi bagian yang dikemukakan, head, artinya adalah keseluruhan pribadi dalam dignity. Tapi to lift up the head lebih baik dijelaskan sebagai metonymy akibat atau sisipan, i.e., pemulihan dignity dan kehormatan.

Sebagian hal untuk seluruh hal:

  • Your seed shall possess the gate of his enemies. (Gen. 22:17)

Bagian yang dikemukakan adalah gate. Tapi keseluruhan yang dimaksud adalah kota. Sebagai sebuah synecdoche gate mewakili batu bata kota sebenarnya. Jika anda pikir gate berarti orang dalam gerbang itu, maka itu adalah metonymy subjek, karena orang dan gerbang tidak terhubung secara generik.

Bagian integral manusia bagi asosiasi lainnya:

  • Before Ephraim, Benjamin, and Manasseh, stir up your might. (Ps. 80:2)

Melalui bagian ini pemazmur merujuk suku diutara, suku diselatan, dan suku Transjordan. Didalam konteks lain nama-nama patriarchal bisa merupakan metonymies sebab (e.g., Judah gathered against him artinya keturunan Judah [met. of cause] atau orang yang hidup di Judah [met. of subject]tapi bukan Judah itu sendiri. Kata-kata seperti seed dan sons of akan menerima pertimbangan yang sama.

13. Merism: penggunaan dua pernyataan berlawanan untuk menunjukan keseluruhan; e.g., siang dan malam, musim semi dan panen, hell and high water (Bullinger, p. 435). Perhatikan daftar Bullinger dimana bagian-bagian ini terdapat dibawah synecdoche, karena merism adalah sebuah bentuk dari synecdoche. Tapi kiga akan menggunakan kategori yang berbeda.

  • You know when I sit down and when I get up. (Ps. 139:2)

Ide dari sitting down dan rising up adalah berlawanan; keseluruhan yang dimaksud adalah seluruh aktifitas yang berkaitan dengan waktu termasuk duduk dan berdiri. Itu berarti, You know every move I makedidalamnya ada kedua tindakan itu. Disini ide yang diekspresikan memang literal, tapi maksudnya lebih dari itu.

  • If I ascend to heaven, You are there;
  • I make my bed in Sheol, You are there. (Ps. 139:8)

Heaven dan Sheol adalah berlawanan; keseluruhan yang dimaksud adalah ruang universal dan seluruh situasi yang ada didalamnya. Baris ini, mengekspresikan suatu vertical merismsemua tempat dari sorga diatas dan Sheol dibawah.

  • From the rising of the sin to the place where it sets,
    the name of the LORD is to be praised. (Ps. 113:3).

Ayat ini bisa diterjemahkan dalam salah satu cara; bisa berarti semua tempat dari timur ke barat; atau, bisa berarti seluruh waktu dari matahari terbit sampai matahari terbenam (the place ditambahkan oleh NIV, Ibraninya hanya memiliki its going in).

14. Hendiadys: Dua untuk Satu, ekspresi dari satu ide melalui dua istilah yang diatur secara formal dan dihubungkan oleh and, bukannya sebuah kata benda atau adjective, atau kata kerja dan adverb. Satu komponen menentukan yang lain (Bullinger, pp. 657-672).

  • I will greatly multiply your pain and your conception. (Gen. 3:16)

Dua kata benda dihubungkan dengan sebuah konjungsi, tapi baris berikut menjelaskan itu adalah sebuah hendiadys: in pain you shall bring forth children. Jadi satu-satunya ide adalah usaha keras dalam membesarkan dan menjaga anak (conception adalah sebuah synecdoche, sebagian bagi keseluruhan proses, karena tidak ada sakit dalam conception).

  • My soul shall be satisfied with fat and fatness. (Ps. 63:6[5])

Satu ide diekspresikan lebih baik dengan membuat salah satu kata bendanya sebagai modifier: abundant fatness. Inilah cara kita menguji katergori ini.

  • But Abel, he also brought from the firstborn of his flock and from the fat of them. (Gen. 4:4).

Saya menyatakannya secara sangat literal sehingga anda bisa melihat titik awal dari penafsiran. Penafsiran kita akan merujuk pada: he also brought the fattest firstborn of his flock.

  • Who is like Yahweh our God? He makes high to sit. (Ps. 113:4).

Teks ini memiliki sebuah participle diikuti oleh sebuah infinitive; hendiadys akan memberikan suatu pembacaan yang mulus --He sits on high. Ide dari sitting juga adalah anthropomorphic, ditunjukan dalam ide duduk bertahta atas bumi.

15. Euphemism: penggantian terhadap sebuah ekspresi yang tidak ofensif atau tenang dengan yang ofensif (Bullinger, pp. 684-688).

  • Then his wife said to him, Do you still hold your integrity? Bless (= curse) God and die. (Job 2:9)

Teks itu telah menggantikan kata bless karena lebih cocok dengan kata God; tapi curse jelas diharuskan dalam konteks. Mungkin sebagian besar dari euphemisms telah memasuki teks melalui aktifitas juru tulis dan bukan bagian dari tulisan asli. Tapi karena mereka ada, harus dimengerti.

16. Apostrophe: suatu penyisihan subject-matter langsung untuk membahas yang lain yang hadir dalam fakta atau imajinasi (Bullinger, pp. 901-905).

Daud berbalik dari doa tentang kesulitannya untuk membahas mereka yang telah masalah itu padanya:

  • Depart from me, you workers of iniquity. (Ps. 6:9[8]).
  • Your glory, O Israel, is slain upon your high places . You mountains of Gilboa (2 Sam. 1: 19-21)
  • When Israel went forth out of Egypt What ails you, O sea, that you flee? (Ps. 114:1-5)

17. Type: sebuah ilustrasi ilahi yang dikiaskan sebelumnya dari sebuah realitas yang berhubungan (disebut antitype) (Bullinger, p. 768). Typology adalah sebuah bentuk prediksi nubuat, perbedaan utama adalah bagian itu hanya bisa dimengerti sebagai nubuat saat pemenuhan antitypenya sudah muncul sepenuhnya. Topik ini akan dibahas dalam catatan mengenai mazmur kerajaan.

  • My God, my God, why have you forsaken me? (Ps. 22:2 [1])

Kata-kata dari mazmur secara hiperbola menggambarkan penderitaan Daud, tapi secara histori menjadi nyata dalam Yesus. Beberapa dari ayat mazmur ini digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menggambarkan penderitaan Yesus.

18. Symbol: sebuah objek materi digantikan dengan sebuah kebenaran moral atau spiritual, sebuah tanda terlihat dengan sesuatu yang tidak terlihat. Tanda terlihat sebagai sebuah kemiripan tetap terhadap kebenaran spiritual.

  • I will appoint you a light to the nations. (Isa. 42:6)

Light menjadi sebuah symbol bagi perintah rohani dan moral (dibandingkan dengan darkness diayat berikutny). Sebenarnya, symbol ini berasal dari sebuah kiasan pembanding.

19. Irony: ekspresi pikiran dalam sebuah bentuk yang berlawanan (dari eironeia = dissimulation). Arti kata itu dibalik dengan menukarnya kedalam suatu wilayah semantic yang tidak pas dengan pembicara dan/atau subjek. Dengan menaruh kata itu kedalam suatu konteks yang tidak pas penulis menstimulasi sebuah respon mental (Bullinger, pp. 807-815).

Didalam komedi Yunani karakter yang disebut eiron adalah sebuah dissembler yang biasanya berbicara merendahkan atau dengan sengaja berpura-pura tidak pintar dari yang sebenarnya, tapi menang atas alazonsi sombong yang bodoh dan menipu diri. Pada sebagian besar penggunaan kritisnya yang beragam istilah irony memiliki arti akarnya dissimulation, atau sebuah perbedaan antara apa yang dikatakan dengan yang sebenarnya (Abrams, A Glossary of Literary Terms).

  • Where are their gods, their rock in whom they trusted? (Dt. 32:32)

Kata rock (sebuah hypocatastasis menunjukan kekuatan dan stabilitas) disini digunakan dengan maksud berlawanan. Ilah mereka kekurangan stabilitas dan tidak bisa diandalkan.

  • Cry louder, for he is a god. (1 Kings 18:27)

Jelas, Elijah tidak percaya kalau Baal adalah Tuhan, karena kalau dia adalah allah mereka tidak perlu berteriak lebih keras. Maksud dari ironi adalah mereka seharusnya tahu kalau dia bukan allah, dan berhenti berseru kepadanya. Seluruh baris juga menjadi contoh dari ejekan (lihat dibawah).

20. Chleuasmos: Mengejek, sebuah ekspresi perasaan melalui ejekan (Bullinger, p. 942).

  • He who sits in the heavens laughs,
    The LORD holds them in derision. (Ps. 2:4)

Selain membentuk chleuasmos, baris ini sangat anthropomorphic, baik dalam ekspresi sitting dan laughing/mocking. Baris ini bermaksud mengatakan kalau Tuhan melihat rencana sia-sia mereka sangat menggelikan.

21. Maledictio: Imprecation, sebuah ekspresi perasaan melalui malediction atau execration (Bullinger, p. 940). Lihat pembahasan mengenai imprecations dalam tulisan tentang mazmur ratapan dan doa.

  • When he shall be judged, let him be condemned,
    and let his prayer become sin;
    Let his days be few,
    and let another take his office;
    Let his children be fatherless,
    and his wife a widow; (Ps. 109:7f)

Pemazmur dipenuhi dengan kerinduan akan rencana Tuhan, dan berdoa agar mereka yang melawannya akan dihukum. Penghukuman mengambil bentuk gambaran kutukan; tapi kutukan hanya efektif jika itu semua adalah kehendak Tuhan.

III. Kiasan Melibatkan Penambahan atau Perluasan

22. Parallelism: Baris Paralel, hubungan satu ayat atau baris dengan lainnya (untuk pembahasan utuh lihat pendahuluan mengenai Mazmur). Hati-hati dalam menggunakan buku Bullinger karena dia membahasnya secara berbeda (pp. 349-362). Kita akan mengikuti klasifikasi yang diberikan dalam tafsiran Mazmurnya Anderson.

23. Repetisi: Repetisi dari kata yang sama atau kata-kata dalam bagian itu. Fenomena ini memiliki banyak variasi; dan ekspositor harus memberitahu tipe dan tujuan dari repetisi (lihat Bullinger, pp. 189-263, merupakan bagian agak diperluas).

  • Whom shall he teach knowledge for it is precept upon precept, precept
    upon precept, line upon line, line upon line, here a little, there a little . (Isa. 28:10)
  • My God, my God, why have You forsaken me? (Ps. 22:2[1])

Intensnya pathos dari ayat ini diperluas oleh repetisi melebihi apa yang dibawa oleh ekspresi orang itu. Perhatikan juga ironinya --my God should not be forsaking me.

24. Paronomasia: repetisi kata-kata yang mirip bunyinya dan seringkali juga dalam arti atau asal mula (Bullinger, pp. 307-320). Jika kata-kata itu secara etimologis berhubungan, maka itu merupakan sebuah paronomasia dalam arti klasik; jika kata-kata itu tidak begitu berhubungan, maka itu merupakan sebuah paronomasia longgar, atau, permainan kata phonetic. Anda perlu bekerja dengan bahasa Ibrani untuk melihat kiasan ini.

  • Now the earth was waste and void. (Gen. 1:2)

Dua kata itu adalah tohu wabohu, sebuah permainan kata phonetic. Mereka terdengar seperti berhubungan, tapi berasal dari kata-kata yang berbeda. Frase yang mudah diingat membantu ingatan dan mengatur pasal itu.

  • Therefore, the name of it was called Babel, because there the LORD confused (balal, i.e., turned into a babble) their language (Gen. 11:9).

Nama Babel secara etimologis tidak berhubungan dengan kata kerja Ibrani balal, to confusemereka adalah bahasa berbeda. Bab-ili adalah sebuah kata Babilonia yang berarti gate of God; tapi kata kerja dalam Ibrani menangkap bunyi nama itu dan memberi komentar mengenainya dalam konteks.

  • God has taken away (asaph) my reproach; and she called his name Joseph (yoseph), saying, May Yahweh add (yoseph) to me another son. (Gen. 30:23, 24)

paronomasia yoseph adalah benar, secara etimologis berhubungan (dari yasaph) dan secara morphologis identik keduanya adalah hiphil jussives artinya may he add. Tapi paronomasia dengan asaph hanyalah sebuah permainan kata phonetic, disamping usaha yang dilakukan beberapa sarjana untuk melacak akar dari Joseph sampai asaph.

25. Acrostic: repetisi dari huruf yang sama atau berikutnya dipermulaan kata atau klausa (Bullinger, pp. 180-188).

Mazmur 119 adalah bagian yang sudah biasa bagi kebanyakan orang; setiap baris dalam setiap bagian dimulai dengan deretan huruf alfabet. Didalam Mazmur 34, setiap ayat dimulai dengan sebuah huruf alfabet secara berderet, mengeluarkan waw dan berakhir dengan ayat 21. Ayat 22, dimulai dengan sebuah pe, ada diluar deretan dan mungkin ditekankan. Lihat juga kitab Ratapan; setiap pasal memiliki 22 ayat untuk deretan alfabet, tapi pasal ketiga melipat tigakan penggunaan setiap huruf. Acrostics berlaku sebagai mnemonic dan juga retorik.

26. Inclusio: kiasan retoris dimana sebuah unit tulisan dimulai dan diakhiri dengan kata, frase, atau klausa yang sama (atau mirip). Repetisi ini berlaku sebagai alat framing, menekankan tema dari bagian itu. Biasanya muncul dengan konstruksi chiastic.

  • O LORD, our Lord, how excellent is Your name in all the earth! (Ps. 8:2[l] and 10[9])
  • My God, my God, why have you forsaken me and
    You are my God. (Ps. 22:2[l] and 11[10])

27. Hyperbole: penggunaan istilah berlebihan untuk menekankan akibat; artinya lebih dari makna literalnya (Bullinger, pp. 423-428).

  • The cities are great, and walled up to heaven. (Deut. 1:28)

Maksud dari pernyataan itu adalah kota-kota itu sangat tinggi, luar biasa.

  • I am worn out from groaning;
    all light long I make my bed swim with weeping
    and drench my couch with tears. (Ps. 6:6).

Membanjiri dan membasahi tempat tidur dengan air mata mungkin secara literal tidak benar. Tapi hal itu menunjukan satu malam dengan sakit yang sangat dan tangisan yang tak terkontrol.

IV. Kiasan Melibatkan Penghapusan atau Supresi

28. Ellipsis: Penghapusan, penghapusan satu kata atau kata-kata dalam sebuah kalimat (Bullinger, pp. 3-113).

  • When you shall make ready [ ] upon your strings. (Ps. 21:13[12])

Your arrows tidak ada dalam teks; itu seharusnya diberikan dari konteks. Terkadang kata-kata ditanggalkan karena tidak diperlukan konteks; atau ditanggalkan untuk penekanan, seperti dalam contoh berikut.

  • there is in my heart [ ] like a burning fire (Jer. 20:9b).

NIV memberi subjek yang dihapus: your word is in my heart. Konteksnya menunjukan kalau inilah subjek yang benar dan terpenting.

29. Aposiopesis: Diam yang tiba-tiba, berhenti berkata-kata, dengan diam yang tiba-tiba (dalam kemarahan, duka, depresiasi, janji) (Bullinger, pp. 151-154).

  • My soul is greatly troubled; but You, O LORD, how long--? (Ps. 6:3)

Kalimat itu tidak lengkap karena emosi yang intens terlibat. Pemazmur berhenti dalam kalimat ini dan menyerahkan semuanya dalam pemeliharaan TUHAN. Contoh lain adalah Yesaya 1:13 yang menyatakan TUHAN kapok dengan kepura-puraan ibadah Israel walaupun NIV memuluskannya sedikit.

32. Erotesis: disebut juga Pertanyaan Retoris, bertanya tanpa mengharapkan jawaban (untuk mengekspresikan penegasan, demonstrasi, kekaguman, pemujaan, keinginan, penolakan, keraguan, permohonan, larangan, kasihan, teguran, ratapan, absurditas anda harus memutuskan yang mana maksudnya [lihat contoh-contoh dalam buku Bullinger]). Melalui penggunaan kiasan kita berusaha membujuk pendengar untuk mengadopsi sudut pandang. Respon yang diinginkan harus ditebak dan diuji dari komposisi itu (Bullinger, pp. 943-956).

  • Is anything too hard for the LORD? (Gen. 18:14)

Maksud pertanyaan adalah tidak ada yang too hard (literalnya marvelous, wonderful, surpassing). Bentuk pertanyaan itu digunakan untuk mendesak Abraham dan Sarah menyadari maksudnya.

  • Who can find a virtuous woman? (Prov. 31:10)

Maksudnya adalah membangkitkan sebuah perasaan menginginkan sesuatu yang begitu jarang; ini bukan sebuah pertanyaan literal yang harus dijawab. Virtuous dalam baris itu agak kurang tepat untuk kata Ibrani khayil, kecuali kita berpikir dalam istilah kebajikan.

  • Why do the nations rage? (Ps. 2:1)

Pemazmur mengekspresikan kekaguman, mungkin juga kemarahan, bahwa bangsa-bangsa mau memberontak melawan TUHAN.

33. Meiosis: Mengecilkan satu hal untuk memperbesar yang lain (disebut juga litotes) (Bullinger, pp. 155-158).

  • And we were in our own sight as grasshoppers,
    and so were we in their sight. (Num. 13:33)

Perhatikan ini juga sebuah simile, membandingkan orang dengan belalang. Pengecilan dimaksudkan untuk memperbesar jumlah dan kekuatan musuh.

34. Tapeinosis: Mengurangi satu hal untuk meningkatkannya (Bullinger, pp. 159-164).

  • A broken and contrite heart, O God, you will not despise. (Ps. 51:19 [17])

Kita mengharapkan you will joyfully receive. Tapi sebuah pengurangan digunakan untuk menyatakan dua ide: ide pertama adalah Tuhan akan menerima dan senang akan hati yang hancurinilah maksud yang diinginkan; lainnya adalah jika kita tidak memiliki hati yang hancur Tuhan akan membiarkan. Tentu saja, broken dan heart juga kiasan (hypocatastasis dan juga metonymy).

Ringkasan dan Ilustrasi

Ada beberapa kiasan diatas yang mudah disalah artikan jika dilihat sekilas. Klasifikasi kiasan yang lebih luas kedalam empat kelompok terbukti membantu, karena kita bisa bertanya apakah penulis itu sedang membandingkan, mengganti, menambah atau menghapus dalam kalimat.

Kiasan pembanding yang terlihat seringkali adalah simile, metafora, hypocatastasis (atau implied metaphor), anthropomorphism dan zoomorphism. Semuanya pada intinya melakukan hal yang sama, i.e., membuat sebuah perbandingan; tapi melakukannya secara berbeda. Jika kita menabelkan bagaimana kerja mereka, kita harus memberikan perbandingan antar genus.

GENUS

GENUS

TUHAN

perisai

Properti dari satu wilayah semantic digubah keying lainnya, membentuk sebuah perbandingan, apakah dinyatakan atau diimplikasikan. Seringkali konteksnya membatasi atau mensyaratkan bahasa metaforis, membatasi jangkauan perbandingan atau ubahan. Tugas eksegetor adalah menentukan maksud dari perbandingan. Salah satu cara melakukannya adalah menulis satu GENUS baru yang merangkul kedua kata, kemudian membuatkan masing-masing speciesnya. Metafor diatas bisa ditabelkan sebagai berikut:

PERLINDUNGAN
(posited genus)

TUHAN

=

perisai

Kiasan pengganti yang perlu diperhatikan adalah synecdoche dan metonymy. Kiasan dari synecdoche bisa ditabelkan dengan cukup mudah karena melibatkan hubungan satu GENUS (atau SELURUH) dan SPECIES (atau BAGIAN).

GENUS

>

e.g., military weapons/
peaceful implements

SPECIES

<

e.g., swords/ploughshares

Jadi jika kiasannya adalah synecdoche, kita harus berpikir dalam kerangka pengganti kearah genus atau kelompok yang lebih besar dimana kiasan itu berasal, atau kearah species (atau bagian) yang dimaksud oleh genus.

Salah satu kiasan yang paling umum digunakan dalam mazmur adalah metonymy. Ini juga sebuah kiasan pengganti, tapi saat synecdoche benar-benar merupakan bagian dari seluruh atau seluruh dari sebagian, metonymy kurang terhubung dengan hal yang dimaksud tapi terhubung, dan disinilah perbedaannya dengan kiasan pembanding. Dengan metonymy terdapat kelanjutan antar kiasan dan topik. Melalui tabel berikut saya berusaha mengilustrasikan empat tipe dasar (sebenarnya dua tipe dengan arah berlawanan). Contoh kiasan dikotak.

SEBAB

 

AKIBAT

Musa

>

Hukum yang Musa tulis

They have Moses tidak dilihat secara literal. Mereka memiliki Kitab Suci yang Musa tulis. Maka dari itu, sebab (penulis) dikemukakan, tapi dampaknya yang dimaksud. Antara penulis dan tulisannya ada hubungan yang nyata, tapi tidak dalam pengertian sebuah synecdoche.

SEBAB

 

AKIBAT

Batu yang Musa pukul

<

Mata air

You split the fountain menggantikan kata fountain dengan batu yang dipukul Musa, dari situ keluar mata air setelah dia melakukannya. Ini adalah hubungan nyata antara kiasan (fountain) dan apa yang dimaksud (rock) melaluinya.

SUBJEK

 

SISIPAN

kubur

>

Orang mati didalamnya

The grave cannot praise you menggantikan penampung dengan isinya (dan diagram saya dibuat untuk menunjukan subjek menegaskan realitas yang dimaksud). Ada satu hubungan antara grave dan dead; tapi bukan sebuah perbandingan. Grave sebagai sebuah synecdoche mewakili tanah, atau bumi, atau Sheol.

SUBJEK

 

SISIPAN

Rambut panjang menunjukan sumpah

<

pemisahan

The separation is on his head menggantikan satu istilah deskriptif dengan apa yang dimaksudnya, the long hair of the vow. Pernyataan utuhnya akan mengatakan bahwa long hair mewakili dipisahkannya dia bagi TUHAN ada pada kepalanya.

Pada praktek nyata terkadang sulit untuk membedakan tipe-tipe utama ini, tapi saat seorang semakin melatihnya semakin mudah dibedakan. Tentu saja, ada saat dimana perbedaan penafsiran dimungkinkan, tergantung pada bagaimana bagian itu dilihat. Perjamuan Kudus melukiskan hal ini, Roma Katolik melihat perkataan Yesus This is my blood secara literal (tapi dengan syarat-syarat), Lutheran secara metonymy, dan Baptist secara metaforis.

Related Topics: Bible Study Methods, Terms & Definitions