Where the world comes to study the Bible

Analisa Tulisan

Penelitian Puisi

Pendahuluan

Analisa tulisan dari teks telah menjadi perhatian utama seluruh pendekatan dalam mempelajari Alkitab, dimulai dengan Pendekatan Analisa Tulisan (juga dikenal sebagai Documentary Hypothesis) sampai kepada Pendekatan Bentuk Kritikal. Tapi walaupun pendekatan-pendekatan itu memberi sumbangsih besar dalam mempelajari teks, mereka terlalu banyak dinodai oleh bias skeptis terhadap kesatuan dan integritas teks. Seringkali ketertarikan tulisan dibuat untuk melayani penelitian diakronik dimana asal mula dan perkembangan teks dilacak dari sumber yang dinyatakan; atau penelitian tulisan digunakan untuk membedakan bagian histories dan non-historis dari suatu pesan. Analisa Gunkel yang terkenal terhadap Kejadian 1-11 merupakan contoh yang baik; dia berpendapat bahwa tulisan itu adalah puisi, karena puisi maka tidak histories.

Baru-baru ini ada penekanan baru dalam analisa tulisan dalam teks, berasal dari berbagai perspektif teologis sekaligus. Seharusnya tidak mengherankan kalau Kritik Bentuk, dengan penekanannya pada genre tulisan dan analisa composisi, membawa kepada penekanan lebih besar diantara para sarjana pada bentuk tulisan dari suatu teks. Tapi dalam gelombang baru kesarjanaan, orang kurang tertarik dalam menelusuri asal mula dan perubahan dari narasi, mazmur, atau pesan leluhur, daripada bentuk penulisan dari bentuk akhir teks tersebut.1 Perubahan kearah analisa tulisan yang lebih langsung (synchronic study) terhadap Alkitab mungkin mencerminkan jalan buntu perdebatan atas kritik sumber (diachronic study).

Hal itu tidak bermaksud mengatakan kalau analisa tulisan dimasa kini mendorong historitas dari teks. Sebaliknya, para sarjana modern dengan usahanya lebih cenderung memperlakukan narasi-narasi Alkitab sebagai fiksi, narasi kreatif, atau narasi berparadigma. Mereka menjamin kalau dibelakang narasi terdapat beberapa kebenaran, sebagian berkaitan dengan tradisi, tapi selama bertahun-tahun cerita itu diteruskan dan telah dibentuk kembali serta diperindah untuk tujuan lain. Sebagian penulis, tetap berspekulasi mengenai mana yang cerita atau puisi asli, dan apa fungsinya. Tapi yang lain lebih tertarik mempelajari materi yang sudah ada, sebagai suatu bagian dari literatur.

Kritik Retoris

Frase Rhetorical Criticism digunakan pertama kali oleh James Muilenberg dalam pesan kepada Society of Biblical Literature ditahun 1968.2 Pesannya merupakan panggilan untuk mempelajari nature dari tradisi penulisan Ibrani sebagai perluasan dari Kritik Bentuk. Hal ini melibatkan analisa pola struktur dalam suatu unit tulisan dan alat puitis yang menyatukan keseluruhannya. Penekanan sinkronik baru ini terutama sekali memperhatikan masalah struktur dan tekstur.3

Didalam contoh baru-baru ini mengenai apa yang umumnya bisa disebut Rhetorical Criticism,4 bentuk tertentu dari penulisan digunakan dalam analisa struktur: acts, scenes, episodes, strophes, speeches, discourse, dan lainnya. Penulisan bisa dipecah kedalam tingkatannya.5

Analisa tekstur berkaitan dengan pengucapan, syllables, kata-kata, frase, kalimat, dan kelompok kalimat. Analisa ini mempelajari pengulangan pikiran, kata-kata kunci, atau motif; permainan kata atau paronomasia; pengulangan bunyi seperti assonance atau alliteration; atau adumbration; inclusio; dan sejumlah perlengkapan tulisan lainnya.6

Pendekatan terhadap teks sebagai literature telah membuka penyelidikan bagi para teolog dan juga kritik tulisan.7 Rhetorical Criticism memampukan teolog mengerti ide teologis dari teks dengan lebih baik, karena analisanya berkaitan dengan bentuk tetap, final dari teks - kanon. Jelas bahwa struktur dan tekstur tidak hanya ornamental; keduanya adalah cara mengarahkan focus pembaca dalam cerita.

Struktur dan tekstur melakukan hal ini secara persuasive dengan membangkitkan respon emosional selain reaksi intektual terhadap cerita. Sebagai contoh, repetisi, dalam hallmark of Hebrew rhetoric,8 memusatkan pikiran dan memberikan kesatuan serta kelanjutan terhadap narasi. Tapi seringkali melakukannya dengan cara yang membuat kesan tak terlupakan pada pembaca, karena elemen yang diulang membawa maju konotasi emosional dan intelektual dari sebelumnya. Sebagai contoh, perhatikan rujukan terhadap Kejadian 25:23 dalam perkataan Laban sang penipu kepada Yakub: It is not so done in our country, to give the younger before the firstborn (Gen. 29:26).

Ada kelemahan dalam menggunakan rhetorical criticism, dan eksegetor harus mewaspadainya dalam membaca tulisan. Pertama, jika penelitian terhadap suatu bagian mengabaikan asal mula, perubahan, dan tujuan awal dari teks, hal itu secara sewenang-wenang menyatakan arti yang diluar maksud bagian tersebut.9 Walaupun Alkitab mungkin memiliki tingkatan arti (konotasi berbeda) bagi generasi yang berbeda, arti dasar dari suatu teks harus diikat pada latar belakang histories dan tujuannya. Jadi sarjana Alkitab tidak bisa bekerja hanya pada tingkatan sinkronik. Umumnya, orang yang mempelajari Alkitab sudah punya pendapat sebelum memulai karya eksegetisnya. Sarjana yang kritis mampu dengan jitu menerima kalau kesimpulan dari higher criticism adalah benar, yaitu, banyak dari materinya terlambat tapi diproyeksikan kembali kemasa sebelumnya; dan sarjana konservatif dengan jitu menganggap kalau materinya jauh lebih tua.

Kedua, Rhetorical Criticism tidak selalu ditemani penyelidikan dengan Genre Criticism. Tapi disinilah hubungannya dengan Kritik Bentuk paling kuat. Mempelajari struktur dan tekstur dari suatu bagian merupakan satu hal; tapi merupakan hal yang berbeda menghubungkan penemuan ini dengan bentuk penulisan dari teks, karena bentuk dihubungkan dengan fungsi. Sebagai contoh, penafsiran terhadap Kejadian 1-11 bisa berbeda jika bagian itu dikelompokan sebagai sekumpulan mitos yang bisa dibandingkan dengan tulisan Timur Dekat kuno lainnya.10

Sekarang ekspositor menghadapi rintangan lain dalam bekerja dengan Alkitab sebagai literature, satu pemikiran yang ada dalam pemikiran orang Kristen selama ini, yaitu, Alkitab harus ditafsirkan secara literal. Didalam penggunaan ide yang terlalu menyederhanakan ini, jika kitab Ayub mengatakan Ayub berkata sesuatu, atau teman-temannya berkata sesuatu maka itulah yang memang mereka katakana. Atau jika teks itu menunjukan kalau Tuhan berkata disaat pembangunan menara Babel, Let us go down/marilah kita turun . maka itulah yang dia katakana dalam bahasa Ibrani klasik! Disatu ujung lain, banyak penyelidikan tulisan modern melihat isi Alkitab secara berbeda; pada dasarnya mereka melihatnya sebagai suatu karya tulis, dan para penulisnya mampu menggunakan perlengkapan penulisan dalam menceritakan kisah atau menyimpan kata-kata leluhur. Bagi sebagian orang ini artinya cerita-cerita itu dibuat atau dikarang; bagi yang lain itu artinya sebagian kejadian dipergunakan dan dipercantik untuk diceritakan kembali.

Ini ada beberapa pertimbangan mengenai hal itu. Pertama, berapa banyak penafsiran yang diberikan seorang penulis melalui apa yang dia pilih untuk dimasukan atau keluarkan dalam melaporkan tradisi? Sebagai contoh, Tawarik, dengan mengeluarkan narasi mengenai dosa Daud, memberikan suatu gambaran Daud yang berbeda dari kitab Samuel.11 Kedua, berapa banyak kebebasan yang dimiliki penulis dalam mengatur kembali eksposisi narasi dan dialog untuk membuat suatu puisi seimbang? Sebagai contoh, apakah dialog dalam kitab Ayub aslinya dibawakan dalam 2200 baris puisi Ibrani? Atau apakah Tuhan memanggil Abram dengan menggunakan puisi klasik Ibrani. Atau, apakah peristiwa dalam kitab Rut memang biasanya mengikuti pola parallel repetition dan inverted repetition. Ketiga, berapa banyak hubungan dari narasi dan penunjukan peristiwa yang diusulkan para penulis kitab melalui pemilihan kata dan frase. Sebagai contoh, apakah Esau benar-benar menggunakan kata edom edom, atau memang narasi memilih menggunakan kata-kata itu untuk menunjukan nature dari orang Edom? (Gen. 25:29); atau, apakah Abraham benar-benar memiliki perintah, ketetapan, dan hukum (Gen. 26:6), atau, apakah Musah menggunakan kata-kata itu untuk melihat pemberian Taurat?

Semua itu, dan masalah lainnya, merupakan bentuk-bentuk masalah yang akan anda saring dikemudian hari saat berurusan dengan teks. Ekspositor konservatif biasanya menginginkan kalau peristiwa-peristiwa dalam Alkitab memang benar-benar terjadi secara esensi seperti yang dilaporkan. Yesus memang mati diatas salib, memang bangkit dari kematian, memang naik kesorga; atau Daud memang memerintah sebagai raja, melakukan perzinahan dengan Bethseba, memang memindahkan tabut ke Yerusalem; atau Esau memang seorang pemburu, dia memang menukarkan hak kesulungannya untuk semangkok makanan, dan Yakub memang membuatnya bersumpah atasnya.12 Tapi dalam menerima fakta sarjana konservatif juga harus memberikan perhatian yang lebih besar pada seni tulisan yang digunakan dalam teks. Saat digunakan dalam kerangka doktrin inspirasi, seni tulis menambah pengertian dan focus dari teks. Suatu kepercayaan pada historitas peristiwa tidak harus mengeluarkan seni tulis dalam menceritakan peristiwa-peristiwa itu; dan suatu analisa tulisa dari narasi tidak harus menolak kalau peristiwa itu memang terjadi.

Selama beberapa waktu dianggap kalau salah satu alasan adanya seni tulis dalam Alkitab adalah materialnya diturunkan secara oral sebelum dituangkan kedalam penulisan. Pembahasan mengenai tradisi oral sangat penting, dan pelajar harus melihat literature mengenai hal itu.13 Bisa saja mengatakan bahwa kemungkinan besar materi itu telah ada dalam bentuk oral dan karena itu repetisi, chiasms, dan permainan kata telah menjadi penolong dalam mengingat. Tapi, cukup diketahui kalau penulisan sudah umum digunakan diperiode awal, dan hal-hal yang penting itu telah langsung diterapkan dalam penulisan. Mungkin transmisi oral dan penulisan teks telah ada berdampingan di Israel, teks memelihara materinya, dan transmisi oral membantu mengingatnya.

Satu-satunya cara bagi anda untuk terbiasa dengan wilayah ini adalah dengan membaca buku dan contoh pelajaran mengenai bagaimana metode itu digunakan dalam analisa teks. Jika anda memberi waktu melakuka itu, anda akan melihat ada banyak yang bisa diperolah dari pendekatan ini. Pelajaran ini akan menarik beberapa materi bersamaan dalam mempelajari mazmur; tapi pelajaran tulisan dari aspek berbeda ada diluar puisi formalnya mazmur, dengan seluruh Perjanjian Lama. Apa yang anda pelajari dalam Mazmur bisa juga diterapkan diseluruh Alkitab.

Metode Kritik Retoris

Saya tidak bermaksud memberikan suatu pembahasan detil mengenai semua yang bisa diberikan analisa tulisan dalam proses eksegetis. Saya hanya ingin memperlihatkan beberapa hal-hal menonjol yang bisa dilakukan, untuk menambah keingintahuan anda dalam mempelajarinya. Selain itu, tidak mungkin bekerja diwilayah ini (dengan kepuasan) tanpa sering berurusan dengan teks Ibrani. Sebagian bisa diambil dari suatu terjemahan Inggris, untuk memastikan; tapi akan lebih jelas melihat sekilas kata-kata Ibrani atau susunan Ibraninya.

Struktur

Struktur adalah pengaturan atau organisasi dari teks. Ini harus dibedakan dari structuralism dalam pengertian teknis dari kata itu, karena itu suatu pendekatan yang berbeda yang membawa penelitian kedimensi yang berbeda. Beberapa pelajar salah dalam menyebutkan kata itu untuk menggambarkan analisan komposisi mereka.

Saat kita mempelajari struktur dari suatu bagian kita berurusan dengan tingkatan yang lebih tinggi dari suatu karya. Berikut ini adalah beberapa hal yang digunakan untuk menganalisa struktur.

1. Indikator Perikop. Umumnya diketahui kalau unit yang ingin dipelajari harus dikenal sebelumnya. Hal ini tidak selalu semudah kelihatannya. Banyak waktu yang diperlukan untuk mempelajari secara dekat dalam menentukan dimana perikop dimulai dan berakhir, mencari indikatornya. Sebagai cotnoh, dalam mempelajari pengaturan bahasa Ibrani terhadap Kejadian akan membawa eksegetor menyadari kalau 37:1 ada dalam pasal 36, dan 37:2 (these are the generations of Jacob) menandai suatu bagian baru. Pembagian pasal dalam bahasa Inggris menyembunyikan hal ini. Suatu pembagian kembali narasi bermaksud membandingkan kekayaan Esau yang luar biasa (36) dengan perjalanan Yakub (37:1). Delitzsch menangkap hal ini, dan menjelaskan kalau pesan unit itu adalah, kebesaran duniawi atau sekuler lebih cepat dari kebesaran rohani.14 Jika unit itu tidak diperluas sampai ke 37:1, maka Kejadian 36 hampir tidak bisa dikotbahkan (yang mungkin menjadi alasan mengapa tidak ada yang berkotbah dari unit itu).

Unit-unit dari Alkitab seringkali memiliki indikasi yang cukup jelas. Didalam ucapan kenabian leluhur bisa dilihat dari panggilan berulang atau bentuk perintah, formulasi pembukaan, atau motif paralel. Didalam Taurat adalah motif berulang, seperti I am the LORD your God. Didalam Mazmur kita mencari pola dari tipe mazmur berbeda, dan itu akan membantu dalam membagi bagian itu kedalam bagian-bagian walau mazmur merupakan suatu unit dasar itu sendiri.

2. Framing, atau Inclusio. Perlengkapan lain dari seni tulis adalah framing, yaitu, menggunakan suatu frasa yang mirip atau identik, motif, atau episode untuk memulai dan mengakhiri unit, atau suatu bagian dari unit. Anda bisa melihat hal ini dengan jelas dalam puisi seperti Mazmur 8, yang dimulai dan diakhiri dengan O LORD, our Lord, how excellent is Your name in all the earth.

Tapi cara ini juga digunakan dalam penulisan kita lainnya. Sebagai contoh, didalam Kejadian 9, bagian pertama narasi mengenai perjanjian Nuh, kita mendapati perintah ilahi: Be fruitful, and multiply, and replenish the earth(v. 1). Perintah ini diulangi sebagian dalam ayat tujuh. Jadi bagian pertama yang melarang pertumpahan darah, artinya, membunuh, dibingkai (frame) oleh pengulangan perintah untuk menghasilkan hidup.

Penulisan yang lebih besar dan rumit juga menggunakan framing. Sebagai contoh, cerita Yakub bisa dibagi kedalam lingkarang Yakub-Esau dan lingkaran Yakub-Laban. Lingkaran Yakub-Laban dibingkai (frame) oleh kunjungan Tuhan dimalam hari, pertama di Betel (Genesis 28) saat Yakub sedang meninggalkan rumah kelahirannya, dan kedua di Peniel (Genesis 32) saat dia kembali kerumah kelahirnnya. Pengamatan langsungnya adalah hal ini diletakan disana karena itulah saat mereka terjadi dan itu secara esensi benar; tapi pengamatan lebih jauh harus mempertimbangkan apa yang disumbangkan framing terhadap arti dari teks tertulis itu? Penulisnya jelas berusaha membuat pembacanya menyadari hubungan antara framing dan materi pengahalangnya.

Terkadang kita harus mendekati framing dari dalam narasi. Sebagai contoh, Kejadian 38 melaporkan cerita mengenai Judah dan Tamar. Mengapa cerita itu diletakan didalam cerita mengenai Yusuf? Cerita ini setelah cerita Yusuf dijual dan mendahului cerita mengenai Yusuf dicobai oleh istri potifar. Penulis, dalam mengatur materi, telah membingkai (frame) narasi Kejadian 38 untuk membawa signifikansinya. Maksudnya, anda harus melihat konteks untuk bisa mengerti arti dan pengaruh pasal. Sejak pertama, Judah yang memimpin saudara-saudaranya untuk menjual Yusuf, saudara termuda mereka, untuk mengakhiri mimpinya menjadi pemimpin mereka (37). Saat keluarganya sendiri, selain ketidak pedulian dan dosanya, anak termuda Judah, Peres, berusaha menjadi pemimpin (38). Cerita itu membentuk suatu teguran atas usaha Judah sebelumnya dalam menghalangi kehendak Allah. Tapi bagaimana narasi ini berkembang? Tamar menyamar sebagai pelacur dan menggoda Judah sehingga hamil. Pasal 39, Yusuf menolak godaan istri Potifar, menunjukan mengapa dia, bukan Judah, yang menjadi pilihan tepat memimpin umat Allah.

3. Chiasm, atau Inversi. Chiasm adalah pengaturan materi dalam suatu inverted parallelism untuk menunjukan cerminan setengah cerita awal dengan yang selanjutnya, dan untuk menunjukan titik balik dari cerita. Ini merupakan cara favorite dalam penulisan kritik retoris; tapi cara ini bukan mereka yang menemukan. Bullinger memiliki contoh dari bentuk penulisan ini. Anda harus berhati-hati dengan beberapa usulan pengaturan ini; sebagian dari pengaturan chiastic dicari-cari, mengeluarkan beberapa item dalam teks yang bisa merusak pengaturan.

Tapi perhatikan struktur chiastic dari Kejadian 11:1-9 berikut ini :

A Seluruh bumi satu bahasanya (1)

B maka (2)

C Berkatalah seorang kepada yang lain (3)

D Marilah, kita membuat batu bata (3)

E Kita dirikan bagi kita (4)

F Sebuah kota dengan sebuah menara (4)

        X Lalu turunlah TUHAN untuk melihat (5)

F Kota dan menara (5)

E yang didirikan oleh anak-anak manusia itu (5)

D Baiklah Kita turun dan mengacau-balaukan (7)

C mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing (7)

B disitulah

A dikacau balaukan bahasa seluruh bumi (9)

Bentuk struktur chiastic ini juga digunakan bagi seluruh cerita. Perhatikan pola dari motif dalam cerita Air Bah:

A Allah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk (6:11-13)

B Nuh membangun bahtera sesuai dengan petunjuk Tuhan (6:14-22)

C Tuhan memerintahkan masuk kedalam bahtera (7:1-9.)

D Air bah dimulai (7:10-16)

E Air bah selama 150 hari, menutupi gunung (7:17-24)

X Tuhan mengingat Nuh (8:1a)

E Air bah surut setelah 150 hari dan gunung-gunung terlihat (8:1b-5)

D Bumi kering (8:6-14)

C Tuhan memerintahkan mereka meninggalkan bahtera (8:15-19)

B Nuh membangun sebuah altar (8:20)

A Tuhan memutuskan tidak mengakhiri hidup umat manusia (8:21, 22)

4. Symmetry dan Variasi Urutan. Ada saatnya penulis akan menggunakan suatu variasi dari motif dan ekspresi sebelumnya untuk memparalelkan bagian-bagian dari teks, hal ini menambah pengertian. Sebagai contoh, Kejadian 13 menulis mengenai bagaimana Abram menawarkan Lot memilih tanah yang disukainya, dan bagaimana Lot melihat tanah sekitar Yordan, dan pergi ketimur, bermukin disebelah Sodom. Tapi bagian akhir dari pasal itu menulis perkataan Tuhan kepada Abraham, menyuruhnya melihat keseluruh arah, karena semuanya itu akan menjadi miliknya; dan memberitahu kalau Abram memindahkan tenda bermukin di Hebron. Jelas sekali, penulis membandingkan dua bagian itu untuk menunjukan apa yang dilakukan Lot, Tuhan berikan pada Abraham.

Bagian lain yang menggambarkan hal ini adalah Keluaran 13:1-16. Ayat 2 dan 3 memberikan ringkasan singkat pasal tersebut kuduskanlah anak sulungmu bagiKu dan ingatlah hari ini dengan melakukan Pesta Roti tak Beragi. Tapi perhatikan perkembangan paralel kedua bagian itu:

hari ini kamu keluar (4)

apabila TUHAN telah membawa engkau kenegeri orang Kanaan (5)

engkau harus melakukan ini: tujuh hari makan roti tak beragi (6,7)

beritahukan kepada anakmu karena TUHANlah yang menang atas Mesir (8)

hal itu akan menjadi tanda pada tanganmu, dan peringatan didahimu (9)

sebab dengan tangan yang kuat TUHAN telah membawa engkau keluar dari Mesir (9)

haruslah kau pegang ketetapan ini dari tahun ketahun sejak saat ini (10)

TUHAN akan membawamu kenegeri orang Kanaan (11)

engkau harus melakukan ini: menebus seluruh anak sulung laki-laki (12,13)

katakan kepada anakmu dengan kekuatan tanganNya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir (14)

hal itu akan menjadi tanda pada tanganmu, dan lambang didahimu (16)

sebab dengan kekuatan tanganNya TUHAN membawa kita keluar dari Mesir (16),

5. Repetisi Motif. Walaupun cara ini bisa diterapkan seperti yang telah disebutkan diatas, hal ini patut dibahas terpisah. Ada saatnya dalam penulisan suatu motif akan muncul berulang-ulang dalam teks, memberi keteraturan terhadap bagian itu. Sebagai contoh, didalam teka Hukum Tuhan, motif I am the LORD ditempatkan untuk menunjukan keteraturan dari materi.

Imamat 19 menunjukan pembagian structural ini (atau aslinya) dengan mengulangi ekspresi tertentu. Kelihatannya pasal itu terdiri dari dua bagian, keduanya berisi tanggung jawab sehari-hari. Bagian pertama kelihatannya berisi tanggung jawab terhadap Tuhan (1-10) dan bagian kedua tanggung jawab terhadap manusia (11-37). Enam belas pembagian paragraph ditandai oleh I am the LORD your God / Akulah Tuhan Allahmu atau I am the LORD / Akulah Tuhan. Perubahan pertama berhubungan dengan pembagian antara ayat 10 dan 11. Didalam ayat 11-37 akhir paragraph-paragraf ini menunjukan perubahan penekanan:

1-2

I am the LORD your God

Akulah Tuhan Allahmu

3

I am the LORD your God

Akulah Tuhan Allahmu

4

I am the LORD your God

Akulah Tuhan Allahmu

5-10

I am the LORD your God

Akulah Tuhan Allahmu

11-12

I am the LORD

Akulah Tuhan

13-14

I am the LORD

Akulah Tuhan

15-16

I am the LORD

Akulah Tuhan

17-18

I am the LORD

Akulah Tuhan

19-25

I am the LORD your God

Akulah Tuhan Allahmu

26-28

I am the LORD

Akulah Tuhan

29-30

I am the LORD

Akulah Tuhan

31

I am the LORD your God

Akulah Tuhan Allahmu

32

I am the LORD

Akulah Tuhan

33-34

I am the LORD your God

Akulah Tuhan Allahmu

35-36

I am the LORD your God

Akulah Tuhan Allahmu

37

I am the LORD

Akulah Tuhan

Tapi bahkan didalam cerita yang lebih besar dan rumit kita menemukan motif berulang yang menunjukan kesatuan dan perkembangan cerita dari satu episode yang episode berikutnya, memberikan pengertian yang lebih baik terhadap motif setiap kali muncul dalam teks. Sebagai contoh, saat saudara-saudara Yusuf menipu ayah mereka agar mengira Yusuf telah terbunuh, mereka meletakan darah anak kambing/a kid of the goats (sheir izzim) pada jubah dan mengirimkannya ke Yusuf, memintanya untuk mengenali (hakker) apakah itu memang betul jubah Yusuf (Gen. 37:31-33). Kembali ke Kejadian 27:9 Yakub telah menggunakan dua anak kambing (shene gedaye izzim) untuk menipu ayahnya. Jadi motif berulang dari penipuan mengikat cerita dan meminta komentar. Tapi juga dalam Kejadian 38, setelah Judah telah tertipu oleh Tamar, dia mengirim satu anak kambing (gedi izzim in v. 17) sebagai bayaran bagi pelayanan pelacur itu. Kemudian, saat Tamar membuka kedoknya, dia memperlihatkan cap meterai, kalung dan tongkat, memintanya untuk mengenali (hakker) apakah benar semua itu miliknya (v. 25). Judah dan saudara-saudaranya telah meminta ayah mereka untuk mengenali jubah Yusuf untuk menipu ayah mereka; Tamar meminta Judah mengenali barang-barangnya untuk membuka penipuan yang dilakukannya dan menegur Judah.

6. Kutipan-kutipan. Pada inti cerita dalam kitab ada penggunaan kutipan-kutipan langsung maupun tidak, dan terkadang kutipan-kutipan imaginary (untuk mewakili pemikiran seseorang, atau menjelaskan tindakan seseorang). Kejadian 18:16-33, sebagai contoh, sebagian besar dibangun oleh ucapan-ucapan yang dipisahkan oleh laporan cerita. Ayat 16 melaporkan kalau para malaikat bangkit dan mengarah ke Sodom. Tapi ayat 17-20 kemudian melaporkan suatu soliloquy ilahi, dan ayat 20-21 suatu ucapan kepada Abraham. Ayat 22 sekali lagi merupakan laporan cerita, memecah ucapan-ucapan: dan lalu berpalinglah orang tersebut dan pergi ke Sodom, tapi Abraham tetap bersama TUHAN. Ayat 23-32 kemudian melaporkan dialog antara Abraham dan TUHAN mengenai penghancuran orang benar bersama dengan orang jahat. Dialog ini dicatat untuk repetisi, repetisi yang penting bagi artinya, karena dia tidak bisa sampai kepada angka terakhir tanpa menguranginya secara perlahan. Cerita itu ditutup dengan laporan lalu TUHAN pergi (v. 33).

Dialog dan ucapan-ucapan membentuk bagian yang penting bagi penulisan cerita. Tentu saja, mereka membentuk substansi dari ucapan nubuat leluhur. Tapi dalam suatu dialog atau ucapan dalam cerita biasanya memberi arti bagi keseluruhan cerita. Sebagai contoh, pada bagian diatas, ketiga ayat yang memberi laporan cerita itu hampir tidak memiliki arti jika bukan bagi soliloquy, ucapan, dan dialogue.

7. Subordinate Clauses dan Parenthetical Descriptions. Komentar Editorial membentuk bagian penting bagi cerita Ibrani; mereka memberikan penafsiran, penjelasan atau komentar dari penulis. Setiap orang yang terbiasa dengan tulisa kitab Raja-raja dimana penulisnya terus memberitahu pembacanya apakah sang raja berbuat yang benar atau tidak. Hal itu menyediakan informasi bagi pembaca untuk merespon cerita dengan benar.

Tapi dalam eksegesis Ibrani ada banyak kesempatan dimana parenthetical clause, atau suatu gambaran, memberikan suatu penafsiran yang lebih kabur. Sebagai contoh, saat Lot memilih untuk bermukim di Sodom, cerita itu menjelaskan, adapun orang Sodom sangat jahat dimata TUHAN (Gen. 13:12). Dampak dari komentar dari cerita diserahkan kepada pembacanya. Walau hal itu tidak membentuk bagian utama dari struktur sehingga memperluas cerita, tapi berkontribusi terhadap arti. Atau saat Simeon dan Lewi mulai membuat perjanjian dengan Shechemites dalam Kejadian 34, narrator menjelaskan kalau mereka menjawabnya dengan tipuan, melihat Schechem telah menodai Dinah (v. 14). Penjelasan kecil itu menyadarkan pembaca akan nature dari perjanjian itu, dan memberikan pendapat narrator terhadap kejadian itu. Atau diseluruh karya tulis, seperti kitab Yunus, penulisnya terus menggunakan subordinate clauses untuk memberi arti pada struktur. Sebagai contoh, dalam sesuatu yang begitu sederhana seperti laporan kalau Yunus pergi ke Joppa dan mendapatkan kapal menuju ke Tarsis (cerita), klausa to flee from the presence of the LORD / untuk lari dari hadapan TUHAN dan frasa ulangan from the presence of the LORD / dari hadapan TUHAN, ada untuk menjelaskan klausa utama (1:2). Jadi, dengan mengerti materi subordinate dan parenthetical bisa memampukan kita untuk memisahkan struktur, dan menafsirkannya dengan lebih tepat.

Tekstur

Tekstur berurusan dengan gaya atau susunan teks itu sendiri, pekerjaan tingkat yang lebih rendah - syllables, kata-kata, kalimat-semua yang membuat cerita. Hal ini dikerjakan tanpa mengatakan kalau semua hal dalam suatu komposisi itu penting, terutama dalam Alkitab, karena itu hanya sebuah seni tulis. Sayangnya, para pengkhotbah dan pengajar terlalu sering menunjukannya. Baru-baru ini saya mengalami pengalaman yang tidak mengenakan, melihat seorang pengkotbah televisi sedang beraksi. Berkotbah mengenai Yusuf sampai berkuasa di Mesir melalui menafsirkan mimpi, dia berkata, Itu cerita yang panjang Saya tidak mau membuat anda bosan dengan detilnya. Hal yang ditunjukannya adalah materinya, sebagian besar nasihat dan ilustrasi, lebih penting daripada teks itu. Banyak ekspositor mungkin tidak berkata seperti itu, tapi mereka sebenarnya tunduk pada pemikiran seperti itu, karena eksposisi mereka tidak berdasar atas teks itu. Maksud kami, Tuhan memberi kita detil nya karena semua itu penting untuk mengerti unit itu. Semakin banyak kita buka, semakin memperkaya pengertian kita

1. Paronomasia dan Phonetic Word Plays. Melalui perlengkapan ini para penulis menekankan dan menfokuskan perhatian pembaca terhadap maksud penting yang ada dalam teks. Kita bisa membuat suatu perbedaan teknis dimana paronomasia adalah suatu permainan kata yang melibatkan suara dan rasa, bagi kata-kata yang digunakan serumpun; sedangkan phonetic word play hanya melibatkan suara. Ada juga beberapa permainan kata yang hanya melibatkan rasa bukan suara. Secara umum, seluruh tipe bisa dikelompokan sebagai permainan kata, dan signifikansinya dalam setiap kasus bisa dijelaskan lebih jauh.

Permainan kata biasanya muncul dalam memberi nama cerita dalam penulisan cerita, maksud dari permainan kata adalah menekankan arti penting yang ada dalam cerita. Sebagai contoh, dalam Kejadian 16 kita melihat cerita mengenai Sarah memberi Hagar kepada suaminya untuk mendapat seorang anak. Pada akhir cerita, TUHAN menyelamatkan Hagar dipadang gurun dan bernubuat mengenai anaknya, memberinya nama Ismael dengan penjelasan, bahwa TUHAN mendengar (shama) penderitaannya (v. 11). Dia berespon dengan menamakan Tuhan El roi, Tuhan yang memperhatikan aku, dan menamakan tempat itu, Beer lakhay roi, sumur Tuhan yang hidup yang memperhatikan aku. Permainan kata pada nama ini menfokuskan perhatian pembaca pada fakta bahwa Tuhan mendengar dan Tuhan memperhatikan, artinya, Tuhan mampu menyelamatkan manusia dari penderitaan mereka. Karena hal ini berasal dari Tuhan yang menyatakan diri (dalam cerita ini melalui ucapan), dan karena perkataan Tuhan merupakan klimaks dari cerita pengusiran Hagar yang harus kembali ketuannya memberi pelajaran (dan teguran) bagi Abram dan Sarai. Apakah ada yang heran, saat anak mereka Ishak merenung di Beerlahayroi (24:62); dan saat istrinya mandul, dia berdoa bukannya berencana dan TUHAN menyediakan anak (25:21)?

Tapi permainan kata tidak terbatas pada penamaan. Pada cerita mengenai Yakub dan Esau cerita mempergunakan banyak permainan kata. Sebagai contoh, didalam Kejadian 25:27 Esau digambarkan sebagai pemburu yang hebat (tsayid); tapi kemudian didalam ayat 29 Yakub memasak (wayyazed) kacang merah (nazid). Penulisa membandingkan keduanya melalui permaian suara, karena kata-katanya tidak berhubungan. Tapi maksudnya adalah Yakub juga seorang pemburu, meletakan perangkap bagi saudaranya yang akan datang memakan umpan itu.

2. Double entente. Contoh ini membawa kita kewilayah lain dari seni tulis sebuah bagian, yaitu, kemenduaan teks yang disengaja melalui kata-kata yang memiliki arti ganda. Pada Kejadian 25:29 arti penting lain bisa terlihat dalam pemilihan kata kerja zid, walau kata itu memang memiliki arti to boil, kata itu juga digunakan untuk menggambarkan kegiatan mencurigakan (maksud memasak air diujung mewakili seseorang yang melangkahi batas). Jadi konotasi dari kata itu dan suara dari kata itu lebih dari denotasi boil.

Satu contoh mengenai kemenduaan yang disengaja bisa terlihat dalam Yunus 4:6 disana TUHAN membuat sebuah pohon tubuh menutupi kepala Yunus to deliver him from his evil plight (meraato). Apakah kata raa ini merujuk kepada tindakan marah Yunus (it was very evil [wayyera] to him, 4:1), atau matahari bersinar terik pada kepalanya, atau keduanya? Saya cenderung melihat kalau kata itu merujuk pada keduanya, karena kata itu telah digunakan dibagian yang menunjukan prilaku Yunus, tapi konteksnya menunjukan kalau panas mataharinya yang dirujuk.

Ada saatnya penulis menggunakan kata yang sama atau kata-kata dalam rasa yang berbeda. Sebagai contoh, dalam Kejadian 40 Yusuf dipanggil untuk menafsirkan mimpi dari pelayan minum dan roti. Penafsiran pertama adalah Firaun akan Lift up your head (yissa et rosheka), suatu pemulihan jabatan (v. 13); tapi penafsiran berikutnya adalah Firaun akan lift up your head (yissa et rosheka) from you, artinya, menghukum mati. Hal ini menggabungkan dua penafsiran bersamaan melalui pengulangan kata, tapi bermain pada arti yang berbeda untuk menunjukan perbedaan. Maksudnya seperti menjadi sebagian dari bukti kemampuan Yusuf menafsirkan mimpi yang kelihatannya sama tapi memiliki arti yang berbeda.

3. Repetisi. Seharusnya sudah jelas, diinti pelajaran mengenai tekstur ada repetisi kata-kata penting yang ada dalam cerita, mazmur, atau nubuat. Ini bisa diulangi dalam pengertian yang sama, memberi arahan pada struktur, atau diulangi dalam pengertian yang berbeda. Sebagai contoh, dalam cerita mimpi Yusuf tentang masa depannya (Genesis 37:1-11), tiga kali teks ini menjelaskan kalau saudara-saudaranya membenci dia (wayyisneu dalam ayat 4; dan wayyosipu od seno dalam ayat 5 dan 8). Repetisi ini mengarahkan ekspositor kemaksud dari episode tersebut. Secara tidak disengaja, antonym dari kata kerja ini, ahab, kelihatannya mengarahkan kebencian, karena bagian itu dimulai dengan menyatakan kalau Yakub lebih mengasihi Yusuf daripada anak-anaknya yang lain.

Jika repetisi muncul diantar bagian, maka suatu jahitan muncul dimana naratornya ingin pembacanya melacak hubungan itu. Suatu analisa dari kitab Mazmur menunjukan hal ini ini merupakan bagian dari pola pengaturan (seperti yang akan dibahas dalam pelajaran ini). Tapi dalam cerita, salah satu contoh jelas ada dalam cerita mengenai Yusuf. Saudara-saudara Yusuf membencinya dan tidak bisa berbicara damai (leshalom) padanya (37:4); tapi kemudian bagian berikut dimulai dengan Yakub mengirim Yusuf menemukan keadaan baik (shelom) saudara-saudaranya. Penulisa ini telah mempersiapkan pembacanya akan kegagalan misi ini melalui repetisi kata.

Terkadang repetisi memakai suatu belitan ironis. Pada Kejadian 12:10-20 kita melihat cerita mengenai penipuan Abram mengenai istrinya Sarai. Pada ayat 13 dia menyuruh istrinya mengatakan kalau dia adalah saudaranya, in order that it might go well /agar dia selamat (yitab) melalui perkataan istrinya. Tapi saat istrinya diambil darinya, teks itu berkata kalau Firaun treated him well/ memperlakukannya dengan baik (hetib), memberinya berbagai macam benda sebagai semacam mas kawin. Repetisi ironis dari kata kerja yatab menunjukan kalau rencananya menjadi bumerang.

4. Allusion dan Foreshadowing. Melalui pemilihan kata yang hati-hati penulis bisa merujuk pada peristiwa sebelumnya (allusions), atau mengantisipasi peristiwa dimasa depan dari sudut pandang teks itu (foreshadowing). Allusion bisa dipengaruhi hanya dengan menggunakan satu kata yang sudah dikenal dengan baik dari konteks lainnya. Pemazmur, para nabi, dan narrator semuanya menggunakan allusions. Pengidentifikasian allusions dibutuhkan agar pembaca atau pendengar bisa terbiasa dengan yang dirujuk. Sebagai contoh, dalam Keluaran 1:7 teksnya mengatakan betapa orang Israel beranak cucu dibawah penindasan Mesir: the Israelites were fruitful (paru) and increased abundantly (wayyisresu), and multiplied (wayyirbu) and became very, very mighty (wayyaatsmu bimod meod). Kata-kata yang digunakan disini diambil dari Kejadian 1:28 dan 1:20, perintah untuk be fruitful dan multiply, dan perintah kalau bumi swarm dengan mahluk-mahluk hidup. Maksud dari allusion adalah untuk menunjukan kalau rencana Tuhan bagi ciptaan sedang dikembangkan dalam pembentukan ciptaan baru, Israel.

Cerita dalam Kejadian 12:10-20 adalah contoh yang baik dari foreshadowing dalam seni cerita. Menurut penjelasannya, terjadi bencana diwilayah itu, Abram pergi ke Mesir, dia menghadapi kemungkinan pria dibunuh dan wanita diambil, istrinya ditawan, TUHAN menyelamatkan mereka dari bencana, Firaun memanggil Abram, dan membiarkan mereka keluar, dan mereka keluar dari Mesir dengan kekayaan. Semua hal ini memiliki paralelnya dalam pengalaman penawanan dan keluarnya Israel dari Mesir, sampai penggunaan kata-kata yang identik. Kelihatannya Kejadian 12:10-20 ditulis dengan peristiwa dimasa depan sudah ada dipikiran; dengan kata lain, penulis, telah mengetahui pengalaman sebelumnya (siapa lagi yang lebih mengetahuinya selain Musa?), memilih cerita leluhur dimasa lalu menjadi latar belakang pengalaman Israel di Mesir tapi sama sekali tidak mengarang cerita. Dia melakukan itu untuk menunjukan kalau pengalaman sebelumnya merupakan suatu pertanda dari pengalaman Israel, menunjukan kalau Tuhan akan menyelamatkan mereka.

5. Notional Features.15 Sekarang kita harus melihat penggunaan notional features didalam kalimat-kalimat suatu cerita. Disini kita tertarik melihat latar belakang, rujukan, tindakan, dan ide saat semua itu muncul dalam teks. Hal ini membutuhkan penelitian gramatikal, kosa kata, struktur kalimat, dan pengaturan paragraph. Analisa ini penting karena seringkali ekspositor tidak tahu apa yang ditekankan oleh cerita, terutama jika itu merupakan suatu cerita yang panjang dan berkembang. Prosedur berikut bisa membantu.

Langkah pertama adalah mendaftar setiap mahluk, objek dan tempat yang disebutkan dalam cerita (disebut referential taxonomy). Segala hal yang memainkan peran dalam cerita, sehingga tidak ada yang dikeluarkan.

Langkah kedua adalah mendaftarkan setiap cara dimana suatu mahluk, objek atau tempat dirujuk disepanjang teks. Suatu pelajaran mengenai referential variants biasanya untuk menyatakan petunjuk mengenai gaya penulis dan berguna dalam menentukan tema suatu bagian. Sebagai contoh, dalam Kejadian 4 Habel dirujuk tujuh kali dengan Habel dan tujuh kali dengan saudaranya [Kain], penekanan lebih lanjut adalah pembunuhan itu adalah dosa terhadap saudaranya.

Langkah ketiga adalah menentukan apa yang sering digunakan dalam cerita itu (maksudnya, analisa materi secara statistik). Disini anda akan membedakan fungsi dari rujukan dalam tata bahasa. Apakah rujukan itu digunakan dalam struktur kalimat utama dari cerita, atau dalam subordinate clauses, atau dalam kutipan? Langkah ini bisa ditentukan oleh hal ini, karena subjek dari suatu kalimat lebih penting daripada objek (jadi Kain lebih penting bagi cerita itu daripada Habel), rujukan yang secara eksplisit disebutkan lebih penting daripada yang dirujuk melalui suatu suffix atau suatu pronoun, dan rujukan dalam suatu kalimat non-quotative lebih penting bagi struktur cerita daripada rujukan dalam kutipan. Hal ini dilakukan agar eksegetor belajar siapa atau apa yang dianggap penulis sebagai karakter yang terpenting) atau item dalam cerita.

Langkah keempat adalah membuat suatu ringkasan dari line-event statement dalam teks. Artinya memetik dari teks seluruh pernyataan yang memajukan cerita dalam tindakan dan waktu serta menyatakan kembali semua itu dalam satu daftar terpisah secara berurut sesuai diperkenalkannya mereka kedalam teks (terkadang sentence diagramming bisa dipakai). Beberapa hal secara otomatis dikeluarkan disini: Petunjuk mengenai peristiwa sebelumnya, materi pendukung atau penjelas, materi non-kejadian seperti proposisi keberadaan dan pernyataan proyeksi atau peristiwa yang tidak terwujud, dan komentar narrator. Sekarang anda harus berhati-hati, karena urutan cerita dalam Ibrani, dibentuk dengan berderet-deret dan preterite, tidak selalu digunakan untuk membawa garis cerita kedepan; hal ini bisa menjadi subordinated preterite lainnya. Sebagai contoh, Kejadian 3:6 seharusnya diterjemahkan, When she saw (wattere) she took (wattiqakh).

Langkah kelima adalah petakan kata-kata kerja dari cerita. Cocokan kata kerja dengan subjeknya untuk melihat subjek apa yang paling dinamis dalam cerita. Sebagai contoh, dalam Kejadian 1:1 - 2:3 Tuhan adalah subjek dari kata kerja to say, to see, to create, to name, to make, to bless, to separate, to rest, to place, to finish, dan to sanctify. Tidak ada subjek lain yang memiliki kata kerja sebanyak ini. Tuhan jelas menjadi tema utama dari cerita. Hal ini akan menjadi jelas disetiap pembacaan pasal ini; saya hanya menggunakan satu pasal yang jelas sekali memperlihatkan bagaimana cara kerjanya sehingga bisa diterapkan kepasal lainnya, yang kurang jelas.

Langkah keenam adalah temukan rujukan tematik dalam cerita. Rujukan tematik adalah karakter atau item yang dirujuk lebih dari satu episode dan merupakan subjek dari setidaknya satu baris peristiwa kata kerja. Sebagai contoh, dalam Kejadian 4 Habel merupakan rujukan tematik. Dia merupakan subjek dari kata kerja brought dalam ayat 4, tapi diluar dari kenyataan hanya dia yang dirujuk, atau subjek dari suatu stative verb.

Terakhir, seluruh materi ini harus dikorelasikan dengan penemuan-penemuan dari penelitian tentang repetisi dalam teks untuk menentukan tema. Pada cerita penciptaan ada duabelas kata kerja atau struktur yang berpusat pada kata kerja diulangi diseluruh cerita. Kata wayehi ken, and it was so, yang sudah dikenal muncul sekali diepisode dua, dua kali diepisode tiga, sekali diepisode empat, dan dua kali diepisode lima, tiga kali diepisode enam, dan sekali diepisode tujuh. Membuat tabel dimana ide yang berpusat pada kata kerja diulangi dipusatkan kita bisa menentukan penegasan tema cerita. Pada cerita penciptaan hal ini ada diepisode enam, penciptaan manusia. Bahkan ekspresi yang diulang, there was evening and there was morning, a first day, pada enam episode, ditegaskan dalam episode keenam karena hanya disitu ada artikel yang digunakan berhubungan dengan angka ordinal - the sixth day. Pada cerita penciptaan episode enam menonjol karena memiliki delapan repetisi yang ditegaskan didalamnya. Episode kedua terpenting adalah episode tiga. Episode ini penting karena dalam struktur cerita, hari pertama berparalel dengan hari keempat, hari kedua berparalel dengan hari kelimat, dan hari ketiga berparalel dengan hari keenam, masing-masing memuncaki dua sisi perkembangan dari cerita untuk memperbaiki kerusakan (days 1-3) dan kekosongan (days 4-6).

Tema yang ditegaskan dari teks berkonsentrasi pada episode keenam. Hal ini tidak berarti kalau pasal selanjutnya bersifat sekunder, atau ada dibawahnya; maksudnya, bahwa didalam pengkalimatan tema bagi seluruh cerita kita perlu menfokuskan perhatian kita pada panel itu. Dan hal itu juga diharapkan dari eksegesis seterusnya, karena panel itu mencatat perintah terhadap umat manusia yang akan dikembangkan diseluruh Pentateuch. Maka eksposisi akan berfokus pada Tuhan menciptakan umat manusia dan perintahnya untuk beranak cucu dan mendominasi ciptaanNya yang diberkati, dicipta dan dikuduskanNya.

6. Adegan. Jika kita sedang menganalisa cerita dalam tulisan narasi, maka akan ada adegan dalam perkembangan cerita. Hal ini lebih mudah dikenali melalui perubahan karakter, perubahan latar belakang, atau perubahan tindakan. Tidak semua memiliki tanda structural yang jelas seperti yang dimiliki cerita mengenai penciptaan, tapi biasanya cukup jelas untuk mengenali adegan. Sebagai contoh, dalam cerita Kejadian 27 kita memiliki adegan yang ditandai dengan jelas melalui perubahan karakter: Ishak mengirim Esau berburu untuk mendapat berkat, Rebeka mempersiapkan Yakub untuk penipuan, Yakub menipu Ishak untuk mendapatkan berkat. Esau kembali untuk mendapatkan berkatnya dari Ishak, Rebeka menasihati Ishak untuk mengirim Yakub sejauh mungkin, Ishak mengirim Yakub keluar dengan berkat (27:1-28:9). Hal yang menarik dalam cerita ini adalah tidak lebih dari dua orang dalam keluarga itu yang bersama dalam satu adegan. Adegan yang pertama dan terakhir berparalel dimana Ishak mengirim keluar anaknya, dan pertama untuk berburu dan akan diberkati, dan kedua dengan berkat itu. Pada pusat cerita ada dua paralel adegan pemberkatan, pertama tentang Ishak memberkati Yakub tanpa sadar, dan berikutnya mengenai Ishak memberikan Esau berkat yang lebih rendah. Didalam suatu bagian seperti ini analisa subjek dan baris kata kerja utama akan berbeda dari adegan ke adegan, tapi pola paralel antar adegan akan menunjukan penekanan dari narator.

7. Bahasa Puisi. Didalam mempelajari narasi Ibrani penting untuk mengerti bahasa puisi yang digunakan untuk menangkap maksud dramatisnya. Singkatnya, bahasa kiasan tinggi digunakan untuk mengkomunikasikan maksudnya, karena penulis berusaha membuat pembacanya hidup dalam imajinasi cerita itu. Ada saatnya bahasa itu terlihat rahasia karena cukup begitu saja dikatakn untuk menyatakan maksud, dan sisanya diserahkan kepada pembaca untuk diimajinasikan. Perhatikan pernyataan klasik dalam Kejadian 31:2: And Jacob saw the countenance of Laban, and indeed it was not toward him as before. Ada saatnya kita menemukan ekspresi seperti the voice of the blood of your brother cries out from the ground (Gen. 4:10), dan sin is couching at the door (Gen. 4:7), dan Why has your face fallen? (Gen. 4:6). Bahasa kiasan seperti itu menghidupkan narasi dalam imajinasi dan ingatan pembaca. Saya menggunakan contoh-contoh ini untuk menunjukan apa yang sering disebut tulisan narasi juga penuh dengan kiasan. Anda perlu menguasai keahlian mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menafsirkan kiasan untuk mengerjakan bagian Alkitab manapun.

Kritik Genre

Kualifikasi

Bersama dengan Kritik Bentuk sehingga para sarjana Alkitab disadarkan terhadap bentuk penulisan berbeda yang digunakan dalam Alkitab. Mempelajari struktur dan komposisi suatu tulisan, kritik bentuk bisa memisahkan tipe penulisan yang berbeda. Sekarang ini genre telah menjadi penting dalam penyelidikan tulisan dimana sarjana Alkitab sering menggunakan genre dalam menafsirkan teksnya.

Sayangnya, dalam prakteknya, identifikasi bentuk digunakan oleh beberapa kritik untuk menjawab pertanyaan mengenai historitas. Bagi Gundry, mengidentifikasi cerita Orang Bijak dalam Matius dimana midrash Yahudi berakhir dengan pertanyaan apakah orang majus itu memang ada. Bagi Leslie Allen, mengidentifikasi Yunus sebagai perumpamaan menyingkirkan perlunya menemukan hubungan histories dengan Niniwe atau mempertahankan episode dengan ikan. Pada kedua kasus kita akan mengatakan jangan terburu-buru. Pertama, ada pertanyaan penting mengenai kriteria yang mereka gunakan dalam mengidentifikasi genrenya, karena kita tahu bentuk yang dimiliki midrash dan perumpamaan dan cerita diatas tidak masuk kedalam kriteria mereka. Kedua, klasifikasi suatu genre tidak berarti peristiwa itu tidak terjadi. Jika Orang Bijak adalah suatu midrash, penceritaan cerita dalam bentuk itu akan memiliki tujuan menyatakan beberapa peristiwa atau teks. Jadi penggunaan penelitian mengenai genre masih dipertanyakan.

Penelitian Genre penting untuk eksegesis lengkap dari teks, tapi ada beberapa persyaratan. Pertama, anda harus tahu kalau adanya banyak perdebatan mengenai apa itu genre yang sebenarnya, dan apakah itu bisa diidentifikasi dengan benar, apakah itu memang sangat membantu.

Kedua, genre berkaitan dengan bentuk penulisa dan tidak bisa digunakan untuk menentukan historitas. Sebagai contoh, suatu essay bisa merupakan fakta atau fiksi. Suatu drama bisa histories atau non-historis. Alegori bisa menggunakan peristiwa nyata atau fiksi. Hanya saat genre secara spesifik membatasi natur dari materi dia bisa berbicara mengenai masalah historitas, tapi pembatasan itu berasal dari substansi materi, bukan dari bentuk itu sendiri (sebagai contoh, dongeng). Suatu cerita adalah cerita; bisa mengenai William the Conqueror atau St, George and the Dragon.

Ketiga, penentuan genre melibatkan logika sikular. Kita menggunakan genre untuk menentukan penafsiran dari suatu bagian, tapi kita menggunakan eksegesis dari bagian itu untuk mengidentifikasi genre. Tapi ada checks and balances, jika kita dengan hati-hati menggunakannya, bisa sampai pada kesimpulan yang akurat. Bagaimanapun juga, jika seorang penulis mengklasifikasi suatu bagian menurut genre tertentu, tapi harus menghapus atau mengabaikan bagian tertentu dalam cerita yang tidak sesuai dengan genrenya, atau mengabaikan bentuk-bentuk dari genre, maka klasifikasinya harus ditolak. Sebagai contoh, Yusuf sering diklasifikasikan sebagai seorang pahlawan, dan cerita Yusuf adalah tulisan mengenai kepahlawanan. Tapi Yusuf tidak pernah mempertaruhkan segalanya dalam suatu tindakan heroik yang menjadi salah satu bentuk dari tulisan kepahlawanan. Sebaliknya, cerita Yakub masuk kedalam pola komedi (dalam pengertian Yunani), terutama berkaitan dengan penipuan yang Yakub lakukan, tapi berakhir dengan baik pada akhirnya. Atau, jika penulis itu berusaha mengidentifikasi suatu genre tanpa contoh lain dari genre itu, seluruh klasifikasi dipertanyakan. Sebagai contoh, Westermann didalam tafsiran Kejadiannya mengatakan kalau Kejadian 29 adalah sebuah cerita pengganti tua yang sudah umum didunia masa lalu. Tapi dia tidak memberi contoh dan tidak ada petunjuk terhadap pernyataannya.

Keempat, kita tidak selalu bisa mengklasifikasikan suatu bagian menurut genrenya, apakah itu sebuah mazmur atau narasi. Kita bisa menggambarkan apa kira-kira bentuk dan fungsi dari bagian itu, dan memberi nama, tapi tanpa bisa menemukan paralelnya kita tidak bisa benar-benar memiliki suatu tipe tulisan.

Dan kelimat, mempelajari bentuk harusnya berkaitan dengan fungsi. Itu maksud utama dari genre. Jika kita memiliki suatu narasi Alkitab yang masuk kedalam bentuk tertentu, maka bentuk itu akan membawa hal yang ada diluar laporan yang telah terjadi dalam narasi itu-hal itu menangkap elemen pengajaran dalam cerita tersebut. Kita bisa berulang-ulang membaca cerita tentang pemeliharaan dipadang belantara dalam kitab Keluaran dan Bilangan; tipe cerita ini dengan struktur dan motifnya yang mirip mempersiapkan pembaca melihat pesannya. Anda akan menemukan kalau lebih mudah mengidentifikasi bentuk dan fungsi dari perbedaan tipe mazmur dari pada narasi. Tapi beberapa contoh yang membantu bisa ditemukan dalam G. Herbert Livingston, The Pentateuch in Its Cultural Environment (Grand Rapids: Baker, 1974).

Klasifikasi

Setiap orang yang membaca Perjanjian Lama sadar akan adanya Puisi, Nubuat, Hukum, dan Narasi. Klasifikasi ini mempersempit pembahasan, tapi tidak memberikan arahan tertentu bagi eksegesis.

Bagi mazmur kita bisa melihat perbedaan tipe: mazmur ratapan individu, mazmur ratapan nasional, mazmur pujian deskriptif, mazmur pujian deklaratif, dan banyak lagi yang lain (yang akan anda pelajari). Setiap klasifikasi memiliki suatu pola yang berbeda tapi tidak pernah merupakan stereotype, dan terminology serta motif yang berbeda. Bentuk yang umum digunakan biasanya menunjukan fungsi. Jika suatu mazmur ratapan menulis tentang tangisan dari penderitaan fisik, maka kita bisa mengidentifikasi tipe situasi dan fungsi dari doa itu. Atau, jika ada suatu mazmur pujian karena menang dalam peperangan, kita bisa memastikan latar belakang kehidupan Israel, dan bagaimana pujian itu berfungsi dalam ibadah jemaat.

Sama juga dalam genre tulisan lain kita memiliki tipe tertentu. Pada tulisan narasi ada perdebatan besar mengenai tipe, tapi disini bukan tempatnya untuk membahas seluruh materi itu. Tapi kategori seperti narasi, cerita (jika dipisahkan dari ide fiksi), episode dan lainnya bisa sangat berguna, karena masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Suatu narasi seharusnya memiliki ketegangan dimana bagian itu menelusuri peristiwanya sampai kepada suatu resolusi. Jika narasi itu merupakan bagian dari suatu cerita yang self-contained, seperti cerita Yusuf, atau kitab Rut, maka cerita lengkapnya akan memiliki suatu plot seperti itu. Ada juga unit yang lebih kecil: genealogi, laporan kelahiran, laporan pemakaman, itinerary, pengembaraan dipadang belantara, narasi pidato, dan lainnya. Bahkan didalam tipe genealogi kita menemukan sub-categories: vertical genealogies dan horizontal genealogies. Yang pertama melacak garis keturunan (Genesis 5 and 11), dan yang kedua melacak bangsa-bangsa keturunan (Genesis 10). Mereka jelas memiliki struktur dan fungsi yang berbeda.

Saat anda menelusuri bagian itu, anda akan berjumpa dengan pembahasan mengenai genre masing-masing bagian. Beberapa pembahasan akan menolong, dan sebagian lagi tidak. Anda harus mengevaluasi usulan-usulan itu, dan jika mereka ada dibawah penyelidikan seksama, maka anda harus menentukan apakah mereka bisa membantu eksegesis. Sebagai contoh, kebanyakan pelajar Alkitab mengetahui tentang perbandingan Hittite suzerainty treaties dan Israels Sinaitic covenant, terutama Decaloguenya. Penggunaan genre ini memberi kita pengertian dan penghargaan terhadap teks tersebut. Sebaliknya, klasifikasi dari cerita penciptaan sebagai suatu mitos, sama seperti mitologi Timur Dekat kuno lainnya, sangat bermasalah. Hal itu mengharuskan kita mengerti apa mitos itu sebenarnya, dan yang dilakukannya dan disini ada beberapa kesulitan besar. Walau kita mau mengakui kalau Kejadian 1:1 - 2:3 terutama sekali suatu perjanjian teologis, masalah kebenaran menjadi pusat pembahasannya. Hal yang sama bisa terjadi dengan cerita Air Bah. Walau banyak yang ingin memperlakukannya sebagai mitos, sebagian dari kita tetap bertanya apakah memang ada air bah, kejatuhan, atau menara Babel. Jika klasifikasi sebagai mitos digunakan untuk mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan itu, atau membuat penolakan terhadap fakta Alkitab bisa diterima, maka klasifikasi mitos tersebut tidak memuaskan.

Harus dikatakan bahwa suatu bagian bisa dimengerti diluar klasifikasi genre; tapi dalam banyak kasus ada hal tertentu yang bisa menambah pengertian kita akan teks. Sebagai contoh, Mikah 1:10-16 telah diklasifikasikan sebagai sebuah Klagelied, suatu nyanyian pemakaman terhadap kota-kota di Shephelah (lowlands). Ini dikarakterisasikan oleh pengumuman kehancuran akibat invasi terhadap kota-kota ini, masing-masing kota menerima satu permainan kata pada namanya untuk menunjukan kalau itu merupakan pertanda. Ini ditulis dalam suatu ukuran yang menandai kalau lagu-lagu itu, dan permainan kata pada nama-nama kota memiliki kekuatan pengingat bagi pendengar sehingga tidak pernah bisa dilupakan. Sebuah paralelnya adalah Yesaya 10:27-34. Menuliskan mengenai invasi yang sama, tapi berkonsentrasi pada bagian utara yang berasal dari gunung sampai ke Yerusalem. Ini juga bermain pada nama kota dengan permainan kata yang jelas, menunjukan kalau nama-nama itu sendiri berbicara mengenai invasi. Sekarang, didalam membaca Alkitab kita bisa belajar kalau ada invasi yang akan datang dan kota-kota akan dihancurkan. Tapi dengan menganalisa genre melalui perbedaan bentuk kita menangkap kekuatan cara pengekspresian ini, dan kemudahan mengingat melalui perbedaan bentuk dari lagu kematian ini. Tidak ada bagian lain dalam Alkitab yang berbentuk sama seperti kedua ini, walau para nabi berulang kali bermain pada arti dari nama.

Kesimpulan

Tulisan dalam bagian ini secara singkat telah membuka pembahasan mengenai kritik retoris dan genre. Sekarang sudah jelas kalau Alkitab adalah suatu seni tulis, histories dan kebenaran teologis. Para penulis menggunakan seluruh aturan dalam menformulasi dan mengekspresikan pesan mereka. Tapi seni tulis ini tidak hanya ornamental semata; hal ini menjadi bagian dari arti keseluruhan teks, dan harus dimasukan dalam eksegesis dan eksposisi dari teks tersebut.


1 Ini merupakan salah satu penekanan dari kritik kanonikal; lihat Brevard S. Childs, Introduction to the Old Testament Scriptures (Philadelphia: Fortress Press, 1979).

2 James Muilenberg, Form Criticism and Beyond, JBL 88 (1969):1-18.

3 Tulisan yang sangat membantu: lihat J. P. Fokkelman, Narrative Art in Genesis and Narrative Art and Poetry in the Books of Samuel: King David; John Barton, Reading the Old Testament: Method in Biblical Study; and John H. Patton, Rhetoric and Biblical Criticism, QJS 66 (1980):327-337.

4 Setiap penulis menekankan aspeknya masing-masing dalam analisa tulisa. Sebagai contoh, lihat S. Bar-Efrat, Some Observations on the Analysis of Structure in Biblical Narrative, VT 30 (1980):154-173; Mary Savage, Literary Criticism and Biblical Studies: A Rhetorical Analysis of the Joseph Narratives, in Scripture in Context, edited by Carl D. Evans, William H. Hallo, and John B. White (Pittsburgh: The Pickwick Press, 1980); and Roy F. Melugin, Muilenberg, Form Criticism and Theological Exegesis, in Encounter with the Text, edited by Martin J. Buss (Philadelphia: Fortress Press, 1979).

5 Untuk pendahuluan yang baik, lihat Robert Alter, The Art of Biblical Narrative (New York: Schocken Books, 1979).

6 Lihat Michael Fishbane, Text and Texture: Close Readings of Selected Biblical Texts (New York: Schocken Books, 1979).

7 Lihat Michael Fishbane, Text and Texture: Close Readings of Selected Biblical Texts (New York: Schocken Books, 1979).For samples of writings of literary scholars, see Kenneth R. R. Gros Louis, ed., Literary Interpretations of Biblical Narratives (Nashville: Abingdon, 1974).

8 James Muilenberg, A Study of Hebrew Rhetoric: Repetition and Style, VTS 1 (1953):97-111.

9 Karya dari Phyllis Trible, Texts of Terror (Philadelphia: Fortress Press, 1984), bisa menggambarkan hal ini. Trible memiliki pengertian yang sangat baik dari teks bagian tertentu, tapi sangat sedikit berusaha mengartikulasikan arti dari unit itu diluar penggunaannya dalam mempelajari wanita yang terancam (yang, untuk adilnya, merupakan tujuannya).

10 Jika anda ingin melihat masalah Kejadian 1-11 dibahas, lihat Walter C. Kaiser, The Literary Form of Genesis 1-11, in New Perspectives on the Old Testament, edited by J. Barton Payne (Waco, TX: Word Books, 1970), pp. 48-65.

11 Tapi kita harus ingat kalau Tawarik adalah tulisan tambahan bagi kitab Samuel dan Raja-raja, maka itu tidak ada usaha untuk menutupi dosa Daud, karena pembaca dapat melihatnya ditempat lain. Tawarik memiliki tujuannya sendiri, dan itu tidak membutuhkan cerita itu diulangi lagi.

12 Itu bukan iman yang naif yang membawa kepada pandangan kalau semua peristiwa itu muncul, tapi suatu konsistensi logis dalam penafsiran Alkitab, demikian juga suatu penolakan terhadap dikeluarkannya materi secara subjektif dan semena-mena oleh teolog modern hanya karena tidak cocok dengan sistem atau pendekatannya.

13 Awalnya, lihat Kenneth Kitchen, Ancient Orient and Old Testament (Chicago: InterVarsity Press, 1966), pp. 135-138.

14 Franz Delitzsch, A New Commentary on Genesis, translated by Sophia Taylor (Edinburgh: T. & T. Clark, 1888), p. 238.

15 Saya berhutang banyak dalam bagian ini kepada Robert Bergen, yang membaca suatu tulisan di regional Society of Biblical Literature in March, 1983, diberi judul, A Proposed Discourse Critical Methodology for Use with Hebrew Narrative Material.

Related Topics: Bible Study Methods