Where the world comes to study the Bible

Pertobatan Niniwe dan Kemarahan Yunus (Yunus 3 & 4)

Tidak ada lagi “Mr. Nice Guy”

Pendahuluan

Dulu kami memiliki kucing siam yang sangat berani. Pemilik tanah kami memiliki seekor burro bernama HeHaw padang rumput disebelah rumah kami. HeHaw sedang hamil, yang membuat dia lebih cepat marah dari sebelumnya. Suatu hari ketika ketika kita melewati kandang untuk melihat HeHaw, kucing kami ikut. Payahnya, kucing itu mulai mendekati burro itu. Burro melihat menakuti kucing itu, tapi baik Jeannette atau saya tidak berniat mengambil kucing kami, jadi kita tetap berharap hal itu tidak apa-apa daripada memusuhi binatang itu. Hal yang tidak diinginkan terjadi, kucing itu melewati batasan yang ditentukan oleh burro. Dengan satu tendangan cepat, kucing itu terbang diudara dan mendarat dalam jarak yang jauh. Dia bangun menggoyang kepalanya, telah belajar kalau burros itu tida tertarik dengan kucing, sekuat apapun dan seberani apapun dia.

Saat saya membaca pasal 3 dan 4 kitab Yunus, saya mendapat perasaan yang sama ketika kucing kami menggoda HeHaw. Yunus, seperti kucing kami, dengan keras kepala menyerang Tuhan dalam pasal 4. Dia sangat serius melanggar batasan. Saat kita membaca pasal ini kita mengetahui bahwa Yunus akan mendapatkan perkataan yang terkenal dari Tuhan. Dan kita tidak bisa memberikan banyak simpati baginya jika hal ini terjadi.

Cukup aneh, Yunus tidak dihajar, walaupun dia layak untuk itu. Kitab berakhir dengan teguran yang menggantung, membuat pembaca merasa tidak nyaman. Kitab ini tidak membuat kita menjadi nyaman, seperti kita inginkan. Kitab ini tidak dimulai dengan “suatu saat…” juga tidak dengan akhir yang bahagia “hidup bahagia selamanya.”

Ketidaknyamanan kita akan akhir kitab ini direncanakan. Tuhan tidak menghendaki kita nyaman, karena pertobatan dan perubahan sering hasil dari kenyamanan kita. Pertanyaannya, “apa yang membuat kita nyaman?” pasal dan 4 menunjukan dosa yang sangat serius dari Yunus, yang sering terjadi sekarang ini. Mari kita memperhatikan dengan seksama portes Yunus dan penyelidikan Tuhan sebagai penutup pelajaran kita akan Kitab Yunus.

Structure dan Setting Tulisan

Structure tulisan bisa diringkas sbb:

3:1-10

Kothbah Yunus dan Pertobatan Nineveh

3:10-4:11

Tuhan “menjadi lembut” dan Kemarahan Yunus

3:10-4:4

Doa Protes Yunus dan Respon God

4:5-9

Dari Sukacita ke Penderitaan: Tanaman, Ulat, dan sang nabi

4:10-11

Perkataan Tuhan yang Terakhir

Tahapan peristiwa dalam 2 pasal terakhir telah diatur dalam 2 pasal awal kitab ini. Dalam pasal 1 Yunus diperintahkan Tuhan pergi keNiniwe, disitu dia harus menangis karena besarnya dosa kota itu. Sebaliknya Yunus pergi kepelabuhan diYopa untuk keTarsis, dipantai Spanyol. Yunus pergi kearah yang berlawanan!

Ketidaktaatan Yunus menghasilkan badai, yang hampir menghancurkan kapal, dan menakutkan seluruh pelaut sampai mereka memanggil tuhan mereka untuk menyelamatkan mereka. Saat yang sama, mereka membuang semua barang. Menemukan Yunus tidur terlelap dibawah kapal, kapten kapal menyuruh dia berdoa (yang tidak dilakukannya). Atas inisiatif pelaut, undi dilakukan untuk menentukan siapa yang menyebabkan hal ini. Melalui desakan dan interogasi, Yunus mengatakan kesalahannya dan untuk menyelamatkan mereka – dia harus dibuang keluar. Hanya setelah Tuhan menggagalkan usaha mereka untuk membawa Yunus kepantai baru melakukan hal itu. Mereka memulai tindakan ini dengan doa yang menunjukan perhatian mereka dalam membunuh orang tidak bersalah. Saat Yunus dibuang, laut menjadi tenang dan pelaut memuji Tuhan Israel dengan korban dan sumpah. Jika pasal ini ingin menunjukan sesuatu maka yang ditunjukan adalah perbedaan yang dramatis antara pelaut dan Yunus. Dia tidak taat pada perintah Tuhan; mereka taat pada apa yang Tuhan suruh melalui Yunus. Mereka terus berdoa dengan sungguh-sungguh, Yunus tidak. Mereka memiliki belas kasih terhadap Yunus; sedangkan Yunus seperti tidak memiliki sama sekali hal itu.

Pasal 2 menuliskan mazmur Yunus. Bentuk puisi dan terminology dalam mazmur Yunus sangat mirip dengan Kitab Mazmur. Dalam teologi dan penekanannya, mazmur Yunus jauh dari pola Alkitab dan idealnya. Mazmur Yunus berpusat pada diri, berfokus pada masalah diri, bahaya dan keselamatannya, daripada Tuhan yang mengijinkan dia hidup. Hal yang paling mengecewakan adalah tidak ada pertobatan dari pihak Yunus. Dalam mazmur ini ada bukti pandangan rendah terhadap nonYahudi dan tanda merasa benar sendiri dalam “pujian” Yunus. Maka dari itu, ketika Yunus memuliakan Tuhan atas keselamatan fisiknya, Tuhan memerintahkan ikan besar itu memuntahkannya kepantai.

Dalam pasal 3 dan 4, kesalehan tidak terlihat lagi dalam diri sang nabi. Inilah alasan judul saya diatas: “No More Mr. Nice Guy.” Dalam pasal 1&2, dosa Yunus terlihat, tapi masih terlihat tersembunyi dan pasif. Semua perubahan ini ada dalam pasal 3&4, karena saat Yunus berseru dan berkotbah Mimiwe bertobat sehingga Yunus marah dan keberdosaannya terlihat. Dalam pasal 1, Yunus hanya melarikan diri dari pelayanan terhadap Tuhan, tapi dalam pasal 4 Yunus menyerang Tuhan, berkeras kalau dia benar untuk marah kepada Tuhan. Dalam pasal 2, Yunus berdoa agar Tuhan menyelamatkan hidupnya, tapi dalam pasal 4, Yunus berdoa agar Tuhan mengambil nyawanya. Hal itu sangat berbeda.

Pada titik kritis inilah cerita kita dimulai. Perkataan pertama kepada Yunus sebenarnya pengulangan dari perintah yang diberikanNya sebelum badai dan pemenjaraan dalam ikan. Kita melihat kotbah Yunus di Niniwe, dan pertobatan dramatis seluruh kota, bersama dengan melembutnya Tuhan dari murkanya melalui Yunus.

Dalam pasal 4 Yunus menyatakan alasan pemberontakannya melawan perintah Tuhan untuk berkotbah diNiniwe. Peristiwa dalam pasal ini ditujukan untuk menunjukan dosa Yunus. Sementara dosa nabi yang tidak taat ini menjadi nyata pada pembaca, semua itu kelihatannya tidak berdampak pada Yunus, dan cerita ini berakhir dalam keadaan menggantung, melalui perkataan teguran terakhir Tuhan menggantung diudara, dan Yunus tetap marah pada Tuhannya.

Kotbah Yunus dan Pertobatan Nineveh
(3:1-9)

1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: 2 Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.

5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. 6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. 7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. 8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.

Untuk kedua kalinya “Firman Tuhan” datang kepada Yunus: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu. (vs. 2). Itu bukan perintah baru yang diberikan pada Yunus, tapi pengulangan perintah dalam pasal 1. Kali ini Yunus taat, tidak dengan sukacita atau perilaku yang layak, tapi setidaknya Yunus pergi keNiniwe.

Populasi Niniwe, sangat besar (cf. 1:2; 3:2; 4:11). Kita juga tahu kalau kota itu ukurannya sangat besar. Kota itu digambarkan dikelilingi “dalam 3 hari perjalanan” (3:3). Sejarah secular memiliki latar belakang lebih mengenai kota Niniwe, ibukota Assyria.

Pesan Yunus sederhana, langsung, dan menakutkan: Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan. (3:4).16

Seperti pelaut dalam pasal 1, orang Niniwe menganggap serius perkataan ini sebagai penghakiman ilahi. Kita melihat “mereka percaya pada Tuhan” (3:5), yang menfokuskan pada iman nonYahudi pada Tuhan orang Yahudi, tidak hanya pada ketakutan mereka akan penghukuman. Bagi saya ada kebangkitan yang dihasilkan oleh proklamasi Yunus. Kebangkitan ini dimulai dari bawah keatas daripada atas kebawah. Orang-orang percaya Tuhan. Mereka berpuasa dan memakai pakaian berkabung (3:5). Responnya serentak, dari bawah keatas.

Saat perkataan ini sampai pada raja, pertobatan kota sudah berjalan, tapi karena peringatan Yunus dipercayai raja, dia memerintahkan hal yang sama untuk seluruh kota untuk bertobat. Dia secara pribadi bertobat (3:6). Raja membuat proklamasi agar semua orang Niniwe berpuasa dan tidak minum air (3:7). Baik manusia dan binatang memakai pakaian berkabung, dan semua orang berseru pada Tuhan bertobat dari perbuatan mereka yang salah (3:8).

Secara khusus menarik untuk diperhatikan adalah tidak perlu diberitahu kesalahan mereka. Tentu saja, Yunus sudah menjelaskan pada orang-orang, tapi kelihatannya tidak perlu adanya klarifikasi kembali. Masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan akan apa yang Tuhan tidak suka atau dosa, tapi kurangnya keinginan untuk tidak melakukannya. Masalahnya bukan informasi, tapi motivasi. Saya percaya jika bangsa kita menerima perkataan penghukuman Tuhan, kita tidak mendapat kesulitan menentukan apa yang kita lakukan itu dosa atau tidak.

Jika orang Niniwe hanya memiliki 40 hari, kenapa mereka berhenti berdosa? Seseorang mungkin mengira bahwa mereka melakukan itu karena perkataan, “makan, minum, bergembira, karena besok (atau 40 hari) kita akan mati.” Motivasi orang Niniwe meninggalkan kejahatan mereka digambarkan dalam ayat 9: “Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa” (3:9).

Sebagian orang merasa terganggu dengan Tuhan menyesal, yaitu mengubah pikiranNya menghancurkan Niniwe. Saya tekankan sekali lagi Yunus juga menginginkan itu (4:2), dan orang Niniwe berharap seperti itu (3:9). Jika Tuhan bermaksud menghancurkan Niniwe, kenapa Dia mengumumkannya kepada mereka ? Pengumuman atas Niniwe melalui Yunus bukan janji suatu akan terjadi tapi suatu peringatan. Orang Niniwe dengan tepat mengerti perkataan Yunus, saat mereka bertobat. Hal ini sesuai dengan perkataan Tuhan dalam Kitab Yeremia:

Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya:

Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka. Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka. Sebab itu, katakanlah kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku ini sedang menyiapkan malapetaka terhadap kamu dan merancangkan rencana terhadap kamu. Baiklah kamu masing-masing bertobat dari tingkah langkahmu yang jahat, dan perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu! (Jeremiah 18:5-11, emphasis mine).

Janji berkat Tuhan bergantung pada ketaatan manusia, dan penghukuman Tuhan dielakan dengan pertobatan. Orang Niniwe berharap dan juga Yunus agar Tuhan memalingkan hal itu atas prinsip diatas.

Pertobatan Nineveh, Penyesalan Tuhan, dan Kemarahan Yunus
(3:10–4:11)

10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. 3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup. 4 Tetapi firman TUHAN: Layakkah engkau marah?

5 Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. 6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. 8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.

9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu? Jawabnya: Selayaknyalah aku marah sampai mati. 10 Lalu Allah berfirman: Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?

Tuhan memperhatikan pertobatan Niniwe, yang lebih daripada kata-kata atau bukti sikap. Ayat 10 tidak mengatakan pada kita Tuhan mengindahkan perkataan Niniwe atau menghargai pakaian berkabung dan debu mereka, tapi Dia memperhatikan kemauan dan perbuatan mereka sudah berubah, mereka “berbalik dari perbuatan mereka yang jahat.” Itulah pertobatan yang sungguh-sungguh. Tidak hanya perkataan penyesalan yang sudah biasa, “saya minta maaf” tapi perubahan perilaku menunjukan perubahan hati yang murni. Niniwe benar-benar bertobat dari perbuatannya yang jahat dan Tuhan memalingkan kehancuran yang direncanakanNya.

Penting untuk diingat bahwa kita tidak diberikan penjelasan tentang pertobatan orang Niniwe yang cepat, menyeluruh dan sungguh-sungguh. Mungkin para pelaut sudah mendahului Yunus, dan memberikan laporan mujizat yang terjadi. Kehadiran Yunus, membuktikan tanda yang besar bagi orang Niniwe. Mungkin ada peristiwa lain yang mempersiapkan orang Niniwe bagi pertobatan mereka,17 tapi tidak banyak disebut. Tentu saja tidak adanya laporan itu untuk mendramatisir pertobatan diibukita Assyrian.

Petunjuk Tuhan terhadap pertobatan orang Niniwe bersifat informative, dan meneguhkan penyelidikan kita:

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu. Tetapi jawab-Nya kepada mereka: Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti YUNUS TINGGAL DI DALAM PERUT IKAN TIGA HARI TIGA MALAM, DEMIKIAN JUGA ANAK MANUSIA AKAN TINGGAL DI DALAM RAHIM BUMI TIGA HARI TIGA MALAM. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! (Matthew 12:38-41).

Permintaan orang Farisi untuk tanda dari Tuhan kita, membuat Tuhan membuka kita Yunus, dimana 2 pelajaran bisa diambil. Hal pertama, Yesus menjanjikan satu tanda akhir yang mirip dengan nabi Yunus. Seperti Yunus ada diperut ikan 3 hari dan 3 malam, Yesus ada diperut bumi dalam periode yang sama. Kebangkitan Yesus akan menjadi tanda bagi Israel, seperti Yunus keluar dari perut ikan adalah suatu tanda (mungkin untuk Israel). Tanda terakhir ini, “tanda nabi Yunus” kematian Yesus, penguburan, dan kebangkitan akan menjadi bukti kuat bahwa Dia adalah Mesias.

Ada pelajaran kedua dalam kitab Yunus untuk Israel masa Yesus. Orang Niniwe langsung bertobat saat Yunus berkotbah, walaupun lebih sedikit bukti dibanding dengan orang Israel saat Yesus saksikan. Dan dibandingkan dengan Yesus, Yunus tidak sepenting atau hebat dalam berkotbah. Jika orang Niniwe bisa bertobat dengan bukti yang sedikit, maka pastilah masalah pemimpin Yahudi, Farisi bukan kurangnya bukti. Masalahnya sama sekali bukan pada tanda atau bukti, yang bisa diselesaikan dengan mengadakan tanda. Masalah orang Farisi dan ahli Taurat sama dengan Yunus, dan tidak ada tanda yang bisa mengubah penolakan mereka.

Saya menolak pandangan atas dasar pengajaran Yunus dan Tuhan kita, melihat “tanda nabi Yunus” bersisi dua. Tanda 3 hari Yunus ada diperut ikan dan kemudian dikeluarkan dalam keadaan hidup. Juga tanda kekerasan hati Yunus terhadap ajaran Tuhan, walaupun pesannya sangat jelas, dimana pesan itu juga diterima dan ditaati oleh non Yahudi.

Yesus menggunakan pertobatan orang Niniwe dalam Matthew pasal 12 menerima dan meneguhkan kesan yang kita dapatkan. Dia meneguhkan kenyataan bahwa orang Niniwe percaya Tuhan walaupun sedikit bukti. Hati yang terbuka pada firman dan kehendak Tuhan sangat cepat mengenali dan taat. Hati yang kurang terbuka – seperti kasus hati Yunus – tidak menerima pesan itu, walaupun sangat jelas.

Kemarahan Yunus pada Tuhan

Kalau Yunus seperti nabi dalam sejarah Israel, maka dia pasti bersukacita dengan hasil pelayanannya, pertobatan kota besar Niniwe. Dalam seluruh sejarah Israel, para nabi gagal menobatkan bangsa kepada Tuhan, dan dittolak bahkan dibunuh oleh bangsanya. Seperti Stefanus, “nabi mana yang tidak kamu aniaya?” (Kis 7:52a).

Selain sukacita pertobatan dan keselamatan orang banyak, dimana nabi seperti dia akan bersukacita, Yunus malah marah kepada Tuhan: “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia” (4:1). Kenapa Yunus sangat marah pada Tuhan ? Yunus tidak malu menjelaskannya, dan dia mendoakan protesnya:

Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup. (Jon. 4:2-3).

Kemarahan Yunus sangat luar biasa. Perhatikan kenapa dia marah.

(1) Yunus marah pada Tuhan. Pada akhirnya Yunus tidak marah pada dirinya, atau manusia, tapi pada Tuhan yang kudus, benar, dan sempurna. Kemarahan Yunus sangat kuat sehingga dia lebih baik mati daripada hidup. Waktu pasal 2 dia ingin hidup sekarang dia ingin mati (4:3).

(2) Yunus marah pada Tuhan karena Dia bertindak sesuai dengan karakterNya, dan sesuai dengan harapan Yunus.

(3) Yunus marah pada Tuhan, memprotes atribut Tuhan dimana pemazmur memuji Dia. Pemazmur memuji Dia untuk kasih setia, anugrah, berkat, dan belas kasihan (cf. Ps. 86:5, 15), tapi untuk Yunua hal ini menjadI dasar protesnya daripada pujian.

(4) Yunus marah pada Tuhan karena Dia menunjukan anugrah terhadap orang Niniwe. Pertanyaan Tuhan pada Yunus seharunya menegur nabi tidak taat ini. Itu seharusnya mendapat perhatian Yunus akan keberdosaannya marah pada Tuhan. Siapa yang tahan kemarahan kudus Tuhan yang kudus dan sempurna? Lebih jauh, teguran lembut Tuhan seharusnya mengingatkan Yunus kalau Dia tidak hanya murah hati pada Niniwe tapi juga pada Yunus. Tentu saja, orang Niniwe bertobat, Yunus tidak. Yunus berkeras dalam pemberontakannya.

Tumbuhan dan sang nabi

Karena kekerasan Yunus dalam kemarahannya pada Tuhan, Tuhan membuat suatu pengalaman yang bisa menunjukan akar masalah nabi yang nakal ini. Ini dilakukan dengan memberikan dan mengambil suatu tumbuhan, yang memberikan kenyamanan bagi Yunus.

Sepertinya 40 hari sudah lewat, tapi penghukuman Tuhan tidak dijatuhkan atas kota Niniwe. Ini tidak mengejutkan bagi pembaca, tapi merupakan kekecawaan besar bagi Yunus. Yunus keluar dari kota, kesuatu tempat dimana dia bisa melihat kehancuran Niniwe, mungkin badai api atau hujan batu seperti yang menimpa Sodom dan Gomora. Disitulah Yunus sebagai pengamat terjadinya kehancuran, ingin melihatnya seperti orang Romawi berkumpul di Coliseum melihat orang Kristen dimakan singa.

Tuhan menumbuhkan tanaman, memberikan perteduhan yang memberikan Yunus rasa nyaman (4:6). Untuk pertama kali, Yunus dikatakan gembira, sangat gembira, akan kehadiran tanaman ini. Kegembiraannya sangat singkat, karena hari berikutnya Tuhan memerintahkan ulat melakukan tugasnya, yang mengakibatkan kehancuran tanaman. Ketika anda berhenti memikirkannya, Yunus seharusnya lebih mudah diidentifikasikan seperti ulat daripada tanaman. Dia seperti ulat, terlihat puas dengan kehancuran ciptaan Tuhan daripada mendatangkan kesenangan, seperti tanaman membawa keteduhan dan kesenangan bagi Yunus.

Bersama dengan ulat, yang menghancurkan tanaman, Tuhan mengirim angin panas, yang membuat Yunus merasa sangat tidak nyaman. Sementara Yunus ingin Niniwe “dibakar” dia sendiri “dibakar” oleh panasnya angin (4:8). Yunus tidak perlu ada disitu, dan tidak perlu menderita, tapi dia berkeras tinggal. Sekali lagi dia memohon kematiannya pada Tuhan.

Yunus sekali lagi marah pada Tuhan, sekarang karena tanaman dan ulat. Untuk kedua kali Tuhan menantang Yunus mempertimbangkan kemarahannya: Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu? (4:9). Dengan maksud yang tidak jelas, Yunus mengutarakan kembali haknya untuk marah pada Tuhan: Selayaknyalah aku marah sampai mati. (4:9).

Tuhan berkata terakhir kali dalam Kitab Yunus. PerkataanNya yang terakhir merupakan inti hal ini:

Lalu Allah berfirman: Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak? (4:10-11).

Berdasarkan adanya tanaman setidaknya terdapat dasar yang sama antara Tuhan dan Yunus. Yunus memiliki rasa sayang pada tanaman itu; Tuhan memiliki rasa sayang pada manusia. Rasa sayang Yunus seperti mazmurnya sangat rendah. Tuhan sekarang menunjukan maksudNya, untuk menunjukan sifat berpusat diri sendiri dari rasa sayang Yunus, terutama dibandingkan dengan rasa sayangNya pada orang Niniwe. Pertimbangkan beberapa perbedaan antara rasa sayang Yunus terhadap tanaman dan rasa sayang Tuhan pada manusia.

(1) Yunus iba pada tanaman; Tuhan iba pada manusia. Yunus ingin seluruh kota hancur, walaupun ada korban yang tidak bersalah, didalamnya 120.000 orang dan banyak ternak. Ternak dan manusia menderita. Tidak ada bukti tanaman seperti itu. Yunus iba pada tanaman tidak pada manusia atau ternak mereka.

(2) Yunus iba pada tanaman, yang tidak dia tanam; Tuhan iba pada manusia yang Dia ciptakan, dan Dia persiapkan dan janjikan berkat. Yunus tidak memiliki hubungan nyata dengan tanaman. Dia tidak menciptakannya, juga tidak menumbuhkannya. Tuhan menciptakan manusia, dan Dia pencipta semua mahluk. Tuhan peduli terhadap ciptaanNya, sehingga Dia ingin memberkatinya melalui keturunan Abraham, sehingga Dia mengirim AnakNya yang tunggal untuk mati bagi manusia. Yunus iba pada sesuatu yang tidak dikerjakannya.

(3) Yunus iba karena tanaman mati; Tuhan iba karena manusia akan mati selamanya. Yunus iba pada tanaman yang hanya ada satu hari. Tarulah tanaman itu bisa hidup satu tahun, atau lebih lama. Tapi penghukuman manusia itu kekal. Matinya tanaman tidak memiliki arti nyata; kematian orang Niniwe merupakan curahan murka Ilahi. Penghukuman kekal dan kehancuran manusia lebih penting dari tanaman mati.

(4) Tuhan iba pada yang tidak bersalah; Yunus tidak. Dia senang melihat orang tidak bersalah hancur bersama yang bersalah. (ingat, keturunan Niniwe yang menawan Israel) Satu hal orang jahat menderita karena dosa mereka, tapi hal berbeda dengan orang tidak bersalah menderita bersama dengan yang jahat.

(5) Yunus iba pada diri sendiri; Tuhan iba pada orang lain. Iba Yunus tidak hanya pada tanaman, tapi pada apa yang dilakukan tanaman bagi dirinya. Tanaman itu membuat dirinya nyaman. Kalau tanaman tidak membuatnya nyaman, dia tidak iba sama sekali. Iba Yunus sangat berpusat pada diri sendiri. Dia hanya peduli pada diri sendiri tidak pada yang lain. Sebaliknya Tuhan peduli pada manusia, orang berdosa dan yang menyerang Dia.

Tanaman dan Maksud

Untuk waktu lama, saya pikir akar masalah Yunus adalah egois, yaitu dia ingin anugrah Tuhan bagi dirinya dan Israel tapi tidak bagi yang lain terutama Niniwe. Saya sekarang berpendapat keegoisan Yunus hanya gejala. Kesedihan utama Yunus dengan Tuhan adalah anugrahNya. Natur dari anugrah menjijikan Yunus. Mari kita perhatikan karakteristik anugrah Tuhan yang membuat nabi tidak taat.

(1) Natur dan Asal Mula Anugrah. Natur atau inti anugrah adalah ketidaklayakan – berkat bagi yang tidak layak. Asal atau sumber anugrah adalah Tuhan. Yunus tidak suka anugrah karena itu sesuatu yang tidak layak bagi siapapun. Seorangpun tidak bisa merasa layak karena itu diberikan tanpa alasan apapun. Sederhananya, Yunus tidak suka anugrah karena itu pemberian Cuma-cuma.

(2) Penerima Anugrah. Penerima Anugrah, adalah yang tidak layak menerimanya. Yunus tidak ingin melihat dirinya tidak layak. Intinya, Yunus menderita kesombongan ras. Dia merasa sebagai orang Israel, Tuhan bertanggung jawab memberkati umatNya. Orang Niniwe, tidak layak, itulah kenapa Yunus protes kenapa anugrah diberikan pada mereka.

(3) Pembagian Anugrah. Anugrah, karena tidak ada yang layak menerimanya tapi diberikan, maka tidak ada yang bisa mengklaim hal itu. Maka tidak ada orang yang merasa layak menerima itu, bisa memaksa Tuhan memberikan anugrah. Karena anugrah tidak diberikan atas dasar kelayakan, maka dengan kedaulatan itu diberikan sesuai kehendakNya. Seperti kata Tuhan, “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Exod. 33:19).

(4) Tujuan Anugrah. Tujuan dari anugrah, adalah kekudusan bukan kesenangan. Tanaman yang Tuhan berikan pada Yunus membuat dia “sangat gembira” dalam (4:6), tapi itu tidak membuat dia menjadi kudus. Maka dari itu Tuhan mengambil tanaman itu. Anugrah tidak diberikan untuk menggembirakan kita, membuat kita merasa enak, menyenangkan kita, tapi membawa kita pada persekutuan denganNya.

(5) Cara Anugrah. Jika tujuan anugrah untuk membuat kita kudus, maka cara anugerah tidak hanya yang menyenangkan tapi juga penderitaan sehingga kita berbalik dari dosa kita kepada Dia. Jika kita jujur pada diri kita dan dengan Tuhan, dan jika kita membaca Alkitab kita dengan sungguh-sungguh, kita menemukan pertumbuhan rohani kita lebih tinggi saat kita dalam penderitaan daripada senang.

Pikirakan tentang Yunus sebagai contoh. Tuhan menjawab doa Yunus sehingga Dia menyelamatkannya dari tenggelam, tapi tidak dengan cara yang menyenangkan. Tuhan menyelamatkan Yunus melalui ikan dan Yunus ada dalam perut ikan selama 3 hari 3 malam. Dimuntahkan keluar bukan hal yang membanggakan, tapi itu yang terbaik baginya. Demikian juga dengan perteduhan tanaman. Tuhan tidak berjanji terhadap kesenangan kita tapi kesungguhan kita. Maka dari itu Dia menggunakan pengalaman pahit untuk menguduskan kita. Penderitaan ini, seperti yang menyenangkan, merupakan pemberian anugrah Tuhan. Anugrah sering dialami saat yang paling tidak menyenangkan.

Ini menjelaskan semua yang dilakukan Tuhan, demikian juga kenapa Yunus tidak menyukainnya. Tuhan memberikan anugrah keselamatan kepada orang Niniwe yang tidak layak karena anugrah diberikan kepada yang tidak layak. Seperti, karena anugrah diberikan berdasarkan kedaulatan Tuhan, Tuhan bisa menyediakan tanaman bagi Yunus dan kemudian mengambilnya kembali.

Karena 2 karekteristik anugrah, Yunus tidak ingin menjadi bagian dari itu, dan kemudian menjadi bagian dari hidup. ANUGRAH BAGI YUNUS, TIDAK DISUKAI DAN MENYINGGUNG DIA. Sangat mudah melihat kenapa Yunus menolak kenyataan Tuhan memberi anugrah pada orang Niniwe, tapi bagaimana bisa dikatakan Yunus merendahkan anugrah walaupun sudah ditunjukan pada dirinya? KARENA ANUGRAH DIBERKAN PADA YANG TIDAK LAYAK, DAN YUNUS TIDAK MAU MENGAKUI DIA TIDAK LAYAK MENERIMA ANUGRAH TUHAN.

Bagaimana nabi memprotes anugrah pengampunan orang Niniwe? Hanya percara berkat Tuhan bagi yang layak. Bagaimana bisa seorang nabi protes saat Tuhan mengambil tanaman yang diberikanNya? Hanya dengan menganggap dia layak menerima tanaman itu, berpikir kalau Tuhan berhutang padanya memberikan tanaman itu.

Disini kunci seluruh kitab Yunus, dan dosa bangsa Israel, yang menyebabkan umat Tuhan beranggapan Tuhan harus memberikan berkat pada mereka dan menghukum musuh mereka. Yunus menolak prinsip anugrah, menukarnya dengan doktrin usaha. AKAR MASALAH NABI INI ADALAH MERASA DIRI BENAR. Orang yang merendahkan anugrah adalah orang yang menganggap diri benar. Untuk merasa diri benar, anugrah itu Cuma-Cuma, yang merendahkan penerima.

Hal yang dilupakan Yunus adalah pemilihan Tuhan atas Israel dan berkatNya pada Israel ats dasar anugrah semata, bukan karena Israel layak.

6 Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. 7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -- 8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. 9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, 10 tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. (Ul 7:6-10, emphasis mine).

Perhatikan kata “kasih setia” yang ada di ayat 9 diatas, karena inilah dasar kebaikan Tuhan pada Israel, juga pada orang Niniwe (Jon. 4:2).

Tuhan memperingatkan orang Israel bahwa ketika mereka masuk tanah Kanaan dan mengalami berkatNya, berkat anugrahNya, mereka cenderung menyombongkan kemakmuran mereka:

11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, 13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, 14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, … 17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Uleronomy 8:11-14, 17-18, emphasis mine).

Jika ini tidak cukup memperingatkan Tuhan melanjutkan peringatan terhadap Israel karena kesombongan kesuksesan mereka, yang diberikanNya atas anugrahNya:

Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu. Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk! (Ul. 9:4-6, emphasis mine).

Yunus, dan orang Israel, lupa bahwa berkat Tuhan adalah anugrah semata, bukan karena kelayakan Israel atau lebih tinggi dari nonYahudi. Mereka juga melupakan kalau Tuhan berjanji memberkati bangsa lain melalui Israel: “dan dalam engkau semua keluarga dibumi akan diberkati” (Gen. 12:3b).

Nubuat Yunus pada bangsa Israel yang ditulis dalam 2 Raj, adalah janji kemakmuran, disamping dosa bangsa itu. Tuhan berjanji memakmurkan Israel, tidak karena kesalehan mereka, selain dari dosa mereka. Mari lihat kembali nubuat ini.

Dalam tahun kelima belas zaman Amazia bin Yoas, raja Yehuda, Yerobeam, anak Yoas, raja Israel, menjadi raja di Samaria. Ia memerintah empat puluh satu tahun lamanya. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Ia tidak menjauh dari segala dosa Yerobeam bin Nebat, yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula. Ia mengembalikan daerah Israel, dari jalan masuk ke Hamat sampai ke Laut Araba sesuai dengan firman TUHAN, Allah Israel, yang telah diucapkan-Nya dengan perantaraan hamba-Nya, nabi Yunus bin Amitai dari Gat-Hefer. Sebab TUHAN telah melihat betapa pahitnya kesengsaraan orang Israel itu: sudah habis lenyap baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya, dan tidak ada penolong bagi orang Israel. Tetapi TUHAN tidak mengatakan bahwa Ia akan menghapuskan nama Israel dari kolong langit; jadi Ia menolong mereka dengan perantaraan Yerobeam bin Yoas. (2 Raj 14:23-27, emphasis mine).

Raja Israel jahat demikian juga dengan orangnya. Kemakmuran yang dikatakan Yunus tidak berkaitan dengan kerohanian, tapi karena dosa mereka. Berkat yang dijanjikan atas dasar anugrah.

Yunus juga penerima anugrah Tuhan, dan anugrah semata Yunus bisa protes pada Tuhan, bahkan sampai dia memilih mati. Yunus diselamatkan melalui ikan besar, dan keluarnya dari ikan semata anugrah. Demikian juga dengan pemberian tanaman, yang memberikan dia keteduhan dan kenyamanan. Mungkin anugrah terbesar Tuhan bagi Yunus adalah cara Tuhan berespon terhadap pemberontakannya. Betapa mudah kita membayangkan Tuhan membakar Yunus sampai renyah melalui kilat yang tiba-tiba!

Yunus mewakili Israel dimana dia tidak lagi melihat berkat Tuhan sebagai wujud anugrah Tuhan bagi orang yang tidak layak, tapi Dia seharusnya memberkati orang benar. Tidak heran Yunus merendahkan anugrah Tuhan. Dia tahu kalau anugrah diberikan dalam ketidaklayakan, dan dia serta Israel tidak memerlukan pertolongan Ilahi. Kesombongan dan rasa layak Yunus dan Israel terlihat jelas. Alasan penawanan Israel oleh Asiria sekarang jelas.

Kitab Yunus tidak berakhir dengan baik dan rapi, dengan perasaan “hidup bahagia selamanya” Jauh dari itu. Kita ditinggalkan dengan perkataan terakhir Tuhan pada Yunus, kata teguran. Kita tidak pernah diberitahu apakah Yunus bertobat. Menurut saya alasannya sederhana. Karena tidak ada solusi akhir dari dosa merasa diri benar dan keras kepala bangsa Israel disamping perjanjian baru dan kedatangan Mesias, Yesus Kristus. Kesimpulan Kitab Yunus tepat, karena itu menggambarkan jalan buntu antara Israel dan Tuhan mereka yang tetap ada saat Kristus ada dan sampai sekarang. Kitab terakhir dari PL, Maleaki, menuliskan perlawanan Israel terhadap perkataan Tuhan menegur dosa mereka:

Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi. Aku mengasihi kamu, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami? Bukankah Esau itu kakak Yakub? demikianlah firman TUHAN. Namun Aku mengasihi Yakub, (Mal. 1:1-2, emphasis mine).

Pada akhirnya, kekerasan hati akan ada sampai Pergolakan Besar dan kedatangan Mesias keduakali menghancurkan kekerasan hati, kesombongan umat pilihanNya, yang akhirnya diselamatkan bukan karena kelayakan mereka tapi karena anugrahNya.

Pembenaran Diri Yunus dan Orang Israel Masa Yesus

Yunus tidak hanya mewakili keadaan rohani bangsa Israel saat itu, dia juga menggambarkan pembenaran diri sebagian besar orang Israel, terutama pemimpin rohani, saat kedatangan Yesus pertama kali. Ketika Tuhan kita lahir, bukan orang punya jabatan kerohanian yang diberitahu, tapi yang rendah dan hina (cf. Luke 2). Ini dilihat dalam diri Maria (Luke 1:46-55). Kedatangan Kristus untuk nonYahudi (Luke 2:31-32), juga untuk Yahudi, dan juga orang majus tahu kelahiranNya dan memuji Dia (Matt. 2:1ff.). Pendahuluan pelayanan Tuhan kita dalam Luke pasal 4 (esp. vv. 16-21) menunjukan penekanan kedatangan Kristus untuk yang miskin dan tertindas. Kotbah diBukit memberikan bukti yang mirip tentang anugrah Tuhan.

Ketika Yesus memulai pelayananNya, sebagian besar waktu dan tenagaNya diberikan pada orang berdosa, yang menimbulkan reaksi pemuka agama Israel, ahli taurat dan Farisi:

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? (Mark 2:16).

Kenapa ahli Taurat dan Farisi tersinggung dengan kenyataan Yesus menghabiskan lebih banyak waktu denan orang berdosa daripada mereka? Alasan yang sama dengan kemarahan Yunus pada Tuhan. Pemimpin agama merasa mereka layak mendapatkan waktu dan kehadiran Yesus, dan orang berdosa tidak bernilai dan layak mendapat murka Tuhan (cp. Yoh 8:2-11). Mereka merendahkan nonYahudi bahkan kebanyakan orang Israel (cf. Yoh 7:49).

Kenapa ahli taurat dan Farisi bereaksi sangat kuat terhadap pengajaran Yesus ? Karena Dia menunjuk mereka sebagai orang berdosa, dan mereka tidak ingin mengakui itu. Mereka membenarkan diri. Maka dari itu mereka menolak Mesias dan merencanakan membunuhNya diatas salib Romawi.

Bahkan murid Tuhan, seperti Yunus, ingin melihat orang berdosa mati ditangan Tuhan:

52 ….. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. 54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka? (Luke 9:52b-54).

Setelah kematian, penguburan, kebangkitan dan kenaikan Tuhan kita, orang Yahudilah yang menentang penyebaran injil (cf. Kis 22:19-23). Bahkan orang Kristen Yahudi sulit memberitakan injil pada nonYahudi (cf. Kis 10-11, esp. 11:19). Karena beberapa orang Kristen Yahudi merasa lebih baik dari orang percaya yang nonYahudi, mereka memisahkan diri mereka atau mereka memaksa nonYahudi mengikuti aturan mereka (e.g. Kis 15:1; Gal. 2:11ff.). Sebenarnya pembenaran diri Yunus mewakili kecenderungan diantara orang Israel yang terus berlanjut selama berabad-abad.

Kesimpulan

Kitab Yunus banyak berbicara pada orang Kristen abad 20, juga kepada bangsa Israel segala zaman. Biarlah saya menyimpulkannya dengan menunjukan beberapa aplikasi untuk masa kini.

(1) Perbuatan Tuhan pada manusia selalu atas dasat anugrahNya, bukan usaha manusia. Dispensationalists (salah satunya saya) harus hati-hati agar tidak terlalu menekankan perlakuan Tuhan masa sekarang karena anugrah dan terhadap orang diPL dengan cara yang lain. Perbedaan masa sekarang sebagai masa anugrah cenderung menunjukan Tuhan memperlakukan manusia lain dengan PL. Yunus salah karena dia melupakan atau mengesampingkan prinsip anugrah. Tuhan selalu memperlakukan manusia atas prinsip anugrah. PL dan perjanjian yang beru hanya membuat Tuhan lebih leluasa memberikan anugrahNya. Kita jangan melihat perbuatan Tuhan dimasa lalu kurang beranugrah.

(2) Menolak anugrah Tuhan sehebat dan juga dosa umum seperti masa Yunus. Orang Kristen menjadi marah pada Tuhan sekarang ini, dengan alasan yang sama salahnya dengan Yunus. Kita tidak hanya seterbuka dan sejujur Yunus dalam mengakuinya. Kapan orang Kristen marah pada Tuhan?

  • Saat kita pikir kita patut mendapat sesuatu dari Tuhan dan kita menganggap Dia bersalah kalau tidak membarikan itu.
  • Saat kita pikir seseorang tidak layak, dan kita marah pada Tuhan karena memberkati mereka..
  • Saat Tuhan mengambil berkat kita, dimana kita pikir Dia tidak punya hak mengambilnya.
  • Saat kita membenarkan diri kita.

Saya percaya pembenaran diri telah masuk kedalam komunitas orang Kristen diAmerika. Orang Amerika cenderung menyombongkan kemakmuran mereka. Kita percaya bahwa kita diberkati karena kepintaran kita, kecerdikan kita, kerja keras kita, dan ketaatan kita pada Tuhan. Sebaliknya kita memberi alasan saat membagi kekayaan dengan yang lain dengan meyakinkan diri kita bahwa bangsa lain menderita karena ketidakbenaran mereka. Maka dari itu bangsa India banyak kemiskinan dan kelaparan, kami meyakinkan diri kita bahwa kemiskinan mereka adalah hasil dari pemujaan sapi. Sederhana kan? Tapi akhirnya itu semua adalah pembenaran diri.

Beberapa orang Kristen saat ini melihat kesembuhan Ilahi sebagai hasil kebenaran mereka daripada anugrah Tuhan. Saya tidak ingin berargumentasi apakah ada karunia menyembuhkan sekarang ini, saya memastikan Tuhan memang menyembuhkan. Apa yang sangat saya tolak adalah pendapat bahwa Tuhan harus menyembuhkan, kalau kita memiliki iman untuk itu. Apakah kesembuhan ilahi merupakan berkat anugrah Tuhan? Jika ia, maka hal itu bukan karena kelayakan bahkan dengan iman sekalipun. Apakah kesembuhan adalah anugrah ? Maka Tuhan bebas memberikannya pada siapa yang Dia pilih, bagi yang percaya maupun yang tidak, dan Dia bebas mengambilnya tanpa minta ijin. Kita tidak bisa menuntut anugrah, atau protes ketika kita tidak menerimanya (ingat tanaman Yunus).

Mari kita ingat, bahwa anugrah Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita inginkan. Tuhan sangat murah hati pada Yunus, menyelamatkan dia melalui ikan besar. Apakah Yunus bisa memilih bentuk anugrah yang akan diberikan Tuhan, untuk tidak dalam bentuk perut ikan. Tuhan murah hati pada anakNya memurnikan mereka, mendatangkan penderitaan dan kesulitan kedalam hidup mereka, seperti yang dilakukannya dalam sejarah Israel. Kesulitan merupakan anugrah demikian juga dengan kemakmuran. Ingat kata-kata bahagia diKothbah diBukit!

Ayub mengerti bahwa Tuhan baik dan murah hati, apakah Dia memberikan kemakmuran atau mengambilnya, apakah Dia memberikan kesenangan atau kesakitan. Maka dari itu, ketika dia menerima berita kehilangan keluarga dia menjawab, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan” (Job 1:21).

Kegagalan, penderitaan, dan kesulitan sering hasil dari anugrah Tuhan karena saat hal ini masuk kedalam hidup orang Kristen mereka bertujuan menunjukan anugrah Tuhan bagi kita, orang lain, dan bahkan seluruh penghuni surga.

Prinsip anugrah, dimana kita diselamatkan, merupakan aturan perbuatan Tuhan dalam hidup kita, baik dia menunjukannya dalam kemakmuran atau saat penderitaan, dengan menopang kita dan mendekatkan kita pada hunungan yang lebih dekat dan dalam denganNya.

Prinsip anugrah juga mengatur hubungan kita dengan yang lain. Seperti Tuhan murah hati pada kita, kita juga harus murah hati pada yang lain, terutama yang tidak layak: orang yang jahat dan musuh kita, yang menindas dan yang memanfaatkan kita. Hanya dengan menunjukan anugrah kepada yang lain kita menunjukan anugrah Tuhan abgi kita.

(3) Kitab Yunus memberitahu kita tentang penginjilan dan kebangkitan rohani, yang sangat kita butuhkan. Saya percaya kitab Yunus memberitahu kita bahwa elemen berikut dibutuhkan untuk kebangkitan rohani. Ini bukan hanya untuk kebangkitan rohani namun penting untu semua:

Kebangkita membutuhkan orang-orang yang mau pergi dan memperingatkan yang terhilang akan murka Tuhan atas orang berdosa. Pengakuan dosa dan motivasi ingin diselamatkan harus berakar dari pernyataan fakta manusia berdosa, menghadapi murka Tuhan.

Kebangkitan membutuhkan pertobatan murni. Terjadi kebangkitan dikota Niniwe karena manusia berbalik dari perbuatannya yang jahat, tidak melakukannya lagi. Kebangkitan membutuhkan pertobatan, dan pertobatan membutuhkan perubahan.

Lebih jauh, kitab Yunus memperhadapkan kita dengan musuh utama penginjilan dan kebangkitan rohani – kesombongan diri, merasa diri benar yang membenci anugrah Tuhan, menginginkan anugrah bagi kita tapi tidak bagi orang lain. Kesombongan diri Israel, dan egoisme yang menghalangi mereka membagikan berkat Tuhan kepada nonYahudi. Sama seperti itulah, kesombongan diri, dan egoisme kita yang menghalangi kita memberitakan keselamatan Tuhan bagi orang lain yang ingin bertobat dan percaya pada AnakNya.

Bayangkan, sebagai contoh, Tuhan memanggil anda untuk mengabdikan diri anda menemukan obat untuk AIDS, atau memberikan hidup anda melayani korban AIDS.’ Tapi mereka pantas mati’ protes anda. Faktanya banyak penderita AIDS tertular bukan karena kehendak mereka – pasangan yang immoral, transfuse darah yang sudah terkontaminasi, bayi yang orangtuanya sudah terkena AIDS….

Sebagian besar dari kita seperti Yunus. Kita ingin mengutuk semua orang yang menderita AIDS, walaupun banyak yang menjadi korban. Yunus ingin, bahkan sangat ingin, melihat seluruh kota Niniwe binasa, walaupun disana ada 120.000 anak kecil bersama dengan orang jahat. (bagi Yunus, dosa mereka yang sebenarnya adalah menjadi nonYahudi. Dan dengan standar dia, semua orang Niniwe harus binasa) Kenyataan bahwa orang jahat bertobat atas dosa mereka saat nabi ini menyatakan firman Tuhan di kota itu. Tuhan tidak hanya ingin menyelamatkan yang tidak bersalah, tapi menyelamatkan yang bersalah. Tidak dengan Yunus.

Semua orang berdosa harus mati (upah dosa adalah maut), termasuk kita semua. Tidakkah menakjubkan dosa seksual (setidaknya) sudah dikutuk orang Kristen, tapi kesombongan dan pembenaran diri sering ditoleransi dan seringkali dipuji (sebagai citra diri yang baik). Kita harus ingat bahwa Tuhan datang mencari dan menyelamatkan yang hilang – mereka yang merasa diri benar seperti pemimpin rohani direndahkan dan dibiarkan. Selain anugrah keselamatan ini, kita semua orang berdosa, yang pantas dimurkai Tuhan dan harus dienyahkan dari hadapan Tuhan yang kudus dan benar. Seharusnya mereka yang menerima anugrah Tuhan mencari dan menunjukan anugrah itu pada yang lain.

(4) Anugrah Tuhan menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Anugrah Tuhan telah dinyatakan pada manusia dalam pribadi Yesus Kristus, yang menjanjikan semua yang percaya akan menerima anugrah hidup kekal. Apa yang harus anda lakukan hanya mengakui anda memerlukannya, bahwa anda orang berdosa yang tidak layak menerima berkat Tuhan, dan menerima anugrah dalam Kristus. Melalui iman dalam Yesus Kristus dosa kita diampuni dan kita dinyatakan benar dihadapan Tuhan. Melalui iman dalam Kristus kita menerima anugrah hidup kekal.

Tidak ada kata yang lebih baik untuk meringkas kebaikan Tuhan daripada kata anugrah. Yesus Kristus merupakan anugrah Tuhan yang menjadi manusia, diberikan pada manusia (cf. Yoh 1:14, 17; 2 Tim. 1:9; 2:1; Titus 2:11). Keselamatan adalah anugrah Tuhan bagi manusia berdosa, pengampunan dosa dan pemberian hidup kekal (cf. Kis 14:13; 20:24, 32; Romans 1:5; 3:24; Ephesians 2:8; Colossians 1:6; Titus 3:7; 1 Peter 5:12). Kita bertumbuh dalam dan oleh anugrah Tuhan (2 Peter 3:18; Hebrews 13:9). Kita dalam kekekalan aman dalam anugrah Tuhan (Romans 5:12). Saat kita berdoa kita menghadap “tahta anugrah” (Heb. 4:16). Saat kita melayani, kita melayani dengan anugrah (Eph. 4:7ff.; 1 Peter 4:10), dan kita hidup oleh standar anugrah (Ephesians 4:29; Colossians 4:6).

Biarlah anugrah Tuhan bernilai bagi anda, dasar bagi pujian anda kepada Tuhan, bukan protes seperti Yunus.


16 Kata “dihancurkan” memiliki konotasi kuat bagi Yunus/ Istilah itu digunakan berkaitan dengan kehancuran Sodom dan Gomora (Gen. 19:21, 25, 29). Itu juga digunakan dalam gambaran puisi penghancuran Mesir di Keluaran (Ex. 15:7). Itu juga digunakan dalam Uleronomy 29:23 berkaitan dengan peringatan Tuhan akan penghukuman umatNya Israel, jika mereka membuang hukumNya. Cf. also 2 Sam. 10:3; 1 Taw. 19:3.

17 “Sebelum Yunus sampai dikota ini, 2 bencana terjadi disini (di 765 dan 759 B.C.) dan gerhana matahari total muncul di June 15, 763. Ini dilihat sebagai tanda kemarahan ilahi dan menjelaskan kenapa orang Niniwe berespon dengan cepat terhadap pesan Yunus sekitar 759.” Yoh Hannah, The Bible Knowledge Commentary (Wheaton: Victor Books, 1985), Vol. 1, Old Testament, p. 1462.

Related Topics: Law, Character Study