MENU

Where the world comes to study the Bible

11. Membersihkan Sumber

Tidak ada yang lebih menyenangkan setelah bersepeda dimusim panas daripada duduk ditempat berteduh sebelah sungai kecil dan menikmati air dingin bersih. Dan tidak ada yang lebih menekan daripada menemukan bahwa airnya kotot. Pastilah, air jadi kotor karena sumbernya sudah kotor.

Sama juga dengan kita, tidak ada yang lebih menyegarkan bagi orang Kristen yang sedang bergumul dengan masalah sehari-hari daripada duduk bersama dengan orang percaya lainnya dan mendengar kata-kata menyenangkan yang menguatkan dan menghibur. Itu seperti menikmati air dingin bersih. Dan merupakan hal yang menekan kita saat kita mendengar kata-kata yang negative, kritik, keluhan atau pertengkaran. Itu seperti meminum air kotor. Yesus mengetakan pada kita apa masalahnya. Sumbernya terkontaminasi. “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Matthew 12:34).

Rasul Yakobus prihatin dengan orang Kristen yang mengira hidupnya telah diubah oleh Roh Tuhan, tapi dari mulutnya keluar kata-kata pahit. “tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?” (James 3:8-11).

Menjadi berkat adalah bicara dengan baik. Sebagian besar orang Kristen bicara dengan baik tentang Tuhan, tapi kita tidak selalu bicara dengan baik, atau bicara dengan kata-kata yang tepat dengan orang percaya lain. Kenyataannya, kita mungkin sedang mengutuk mereka. Mengutuk secara literal berarti “memohon atau berharap negative.” Itu tidak memerlukan sihir kutuk atas seseorang, atau sumpah serapah dan penghinaan. Itu merupakan keinginan yang merusak atau keinginan jahat untuk melakukan hal yang tidak baik atas seseorang. Yakobus mungkin menggunakan istilah ini untuk memasukan kata-kata yang menyebabkan orang lain terluka, apakah itu yang kita inginkan atau tidak. Itu bisa melibatkan kata-kata apapun yang merusak, seperti kemarahan, kritik, menuduh, merendahkan atau gossip. Itu bisa menyebabkan kerusakan. Tidak masuk akal kata-kata merusak datang dari mulut yang sama yang memuji Tuhan seperti air kotor datang dari sumber yang bersih. Apa masalahnya?

Kita semua bergumul dengan keegoisan, keraguan, ketidaknyamana, ketakutan, rasa bersalah, kekhawatiran dan gambaran kompleks lainnya. Untuk melindungi diri kita, kita sering mengeluarkan kata-kata yang melukai orang lain. Apakah mungkin berubah menjadi pribadi yang menyenangkan yang kata-katanya terus membawa sukacita dan kekuatan bagi orang lain daripada melukai? Yakobus memastikan itu. Saat dia menggambarkan teka-teki berkat dan kutuk datang dari mulut yang sama, dia berkata, “Saudaraku, hal ini tidak bisa terjadi demikian.”

Jelas orang Kristen bisa berubah. Tapi bagaimana?

Kita sudah melihat dalam bab yang lalu bahwa perubahan dimulai saat anda menyerahkan kehendak anda kepada Yesus Kristus. Roh Kudus baru bisa dengan bebas mengambil alih control hati, sumber atau mata air kata-kata kita, dan mengeluarkan air yang manis daripada yang pahit. Dia menolong kita berhubungan dengan orang lain seperti Dia sendiri berhubungan dengan orang lain—dengna kasih, baik dan murah hati. Dengan kata lain, Dia meningkatkan tempramen kita.

Itu tidak berarti kita akan mendapatkan kesempurnaan pada saat itu. Kita tidak akan pernah memiliki kesempurnaan dalam hidup ini. Tidak ada manusia sempurna didunia. Tapi tujuan kita haruslah suatu pertumbuhan yang konsisten. Pertumbuhan secata bertahap, tapi pasti! Saat kita mengijinkan Roh Tuhan mengaplikasikan prinsip FirmanNya kedalam hidup kita, tempramen kita akan meningkat. Mata air akan dimurnikan, sebagai hasilnya, kita belajar bicara seorang kepada yang lain dengan lebih menyenangkan. Setidaknya ada 3 cara yang bisa menolong kita membersihkan sumber.

Mengerti Posisi Anda Sebagai Anak Allah

Para ahli mengatakan bahwa salah satu dasar prasyarat komunikasi yang baik adalah memiliki konsep diri yang sehat. Orang yang tidak menyukai dirinya, yang merasa mereka tidak baik, atau tidak layak dikasihi dan diterima, sulit untuk mengasihi dan menerima orang lain atau berhubungan dengan mereka secara sehat. Mereka mungkin dipenuhi dengan rasa permusuhan yang muncul dalam bentuk kemarahan. Mereka mungkin menguji kasih orang lain dengan mendorongnya sampai batasnya dengan pertanyaan, tuduhan atau prilaku tidak bertanggung jawab untuk melihat apakah mereka peduli. Dan mereka cenderung salah menilai motivasi orang lain.

Sebagai contoh, seorang suami mungkin belajar kalau istrinya butuh ekspresi nyata dari kasih sayang, jadi dia saat pulang rumah berhenti sebentar untuk membelikannya sekotak permen, kesukaan istrinya. Karena pengenalan diri kurang, dia sulit menerima tanda kasih sayang dengan ucapan syukur. Dia merasa tidak layak mendapat kasih, daripada mengakuinya, tapi istrinya mungkin menyindir secara tidak langsung bahwa tindakan kasih suaminya tidak murni dengan berkata seperti ini, “Apa maksud semua ini?” Harga diri suaminya juga tidak tinggi, jadi daripada menyambutnya dengan humor, dia mungkin akan menunjukan betapa dia terluka dan menghukum istrinya karena meragukan niatnya. “Kamu tidak pernah menghargai apapun yang saya perbuat. Lihat saja, saya tidak akan membelikan apapun bagimu.” Malam itu tidak enak dan seluruh hubungan mendekati kehancuran.

Psikolog Kristen Lawrence Crabb berpendapat bahwa rasa harga diri seseorang merupakan kebutuhan kita yang tertinggi, dan ada 2 faktor yang berperan terhadap nilai diri. Satu adalah keamanan—dikasihi tak bersyarat dan diterima serta memiliki rasa dimiliki. Kedua adalah rasa penting—memiliki rasa dihargai dan dilihat, merasakan bahwa kita sedang membuat kontribusi yang berarti, bahwa kita berarti bagi seseorang, dan bahwa kita mampu mengatasi situasi hidup kita. Wanita cendertung membutuhkan keamanan daripada rasa penting, sementara pria cenderung membutuhkan rasa penting daripada keamanan. Tuhan meyakinkan kita bahwa dalam FirmanNya kedua kebutuhan itu terpenuhi dalamNya.11

Banyak dari ketidakbahagiaan dan akibat dari kata-kata yang tidak menyenangkan dan tidak membangun yang kita ucapkan bisa dilihat berasal dari ketergantungan kita terhadap manusia dan keadaan daripada Tuhan dalam memenuhi kebutuhan ini. Jika keadaannya mengganggu, kita merasa kita bebas marah-marah. Jika orang gagal memperlakukan kita sebagaimana harapan kita, kita merasa dibenarkan untuk melukai mereka dengan kata-kata. Kunci untuk berubah adalah dengan mengerti kedudukan kita sebagai Anak Allah.

Tuhan membuat kita seperti keinginanNya (Psalm 139:13-16). Kita terus dipikirkanNya (Psalm 139:17-18). Dia sangat mengasihi kita (John 16:27), dan tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasihNya, sama sekali (Romans 8:38-39). Kita diterima dalam AnakNya yang terkasih (Ephesians 1:6), dan Dia tidak pernah meninggalkan kita (John 6:37). Dosa kita telah diampuni (Colossians 2:13), dilahirkan kedalam keluarga kekalNya (John 1:12), dibuat sebagai pewariNya (Romans 8:16-17), dan diberikan peran yang penting dalam menjalankan rencanaNya (1 Corinthians 12:7,22). Dia sangat menghargai kita, betapa kayanya kemuliaan bagian yang telah ditentukanNya (Ephesians 1:18). Dia berkata bahwa kita sempurna dalam Dia (Colossians 2:10), yang berarti bahwa dalam Dia kita mendapatkan semua yang kita butuhkan untuk menopang kita secara emosi dan rohani sekarang dan kekekalan. Itu artinya kita bisa bergantung padaNya dalam memenuhi kebutuhan dasar kita, keamanan dan rasa penting daripada berjuang untuk terpenuhi melalui orang lain.

Pikirkan bagaimana ini bisa terjadi dalam kehidupan setiap hari. Mungkin seorang suami meninggalkan piring kotor diruang tamu sehingga istrinya harus membersihkan. Dalam kurangnya rasa aman, dia bisa menafsirkan hal itu seperti ini, “Dia tidak peduli terhadap saya karena dia membuat pekerjaan yang tidak perlu.” Istrinya menjadi sakit hati, dan sakit hatinya muncul tidak hanya dalam bentuk omelan tentang piring kotor, tapi mengeluh tentang hal lainnya—waktu yang dihabiskan nonton TV, cara dia menggantung gambar, orang yang diundang makan malam, pekerjaan kecil dirumah yang diabaikan. Istrinya merasa bahwa nilainya sebagai seorang pribadi bergantung pada kasih suaminya, yang menurutnya seharunya dinyatakan. Memang sebaiknya jika sang suami lebih pertimbangan dengan membawa piring kedapur. Tapi reaksi istrinya yang tidak menyenangkan bisa dihilangkan jika dia belajar menemukan keamanannya dalam Tuhan daripada dalam suaminya, dan jika dia mengerti siapa dia dalam Kristus dan mulai menikmati nilai yang diberikan Tuhan atas dirinya, yaitu sebagai milik Tuhan.

Hal yang sama terjadi pada suaminya. Dia mungkin melihat istrinya tidak menghormatinya karena komentar biasa tentang tidak mendapat uang cukup untuk membeli pakaian baru yang diinginkannya. “Dia menganggap saya tidak mendapatkan cukup uang. Dia mungkin berharap menikah dengan pria yang akan jadi dokter.” Jadi dia melawan dengan mengkritik orangtuanya, atau mengeluh tentang pengelolaan rumahnya, dan hidup menjadi tidak menyenangkan bagi mereka berdua. Semua itu bisa dihindari jika dia belajar menemukan rasa pentingnya dalam Tuhan dan menikmati nilai yang dia miliki sebagai Anak Allah.

Sebagian besar komunikasi kita yang merusak muncul saat kita mencurigai harga diri kita sedang diserang atau nilai kita sedang dipertanyakan. Tuhan ingin kita saling menolong dan melayani kebutuhan sesama, tapi belajar bergantung padaNya untuk keamanan dan rasa penting akan menolong meningkatkan tempramen dan memperindah kata-kata kita. Itu satu cara untuk membersihkan mata air.

Aplikasikan Firman Tuhan kedalam Hidup Anda

Manual pengoperasian manusia yang diciptakanNya adalah Alkitab. Dia tahu bagaimana kita akan berfungsi paling efektif, dan kita bijak jika membaca perintah didalamnya. Suatu pengertian dan aplikasi Alkitab yang tepat bisa membuat kita menjadi orang yang menyenangkan yang kata-katanya menyenangkan dan membangun. Yeremiah berkata. “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku” (Jeremiah 15:16). Membangun Alkitab kedalam keberadaan kita, belajar berpikir seperti Tuhan berpikir dan melihat sesuatu seperti Tuhan melihatnya akan memenuhi kita dengan sukacita. Dan kita akan menemukan, seperti orang-orang dimasa Yeremiah, bahwa sukacita dari Tuhan adalah kekuatan kita (Nehemiah 8:10). Kita cukup kuat baik secara rohani dan emosi untuk menghindari kesalahan yang menghancurkan komunikasi kita.

Mari saya usulkan suatu contoh. Banyak hal tidak berjalan dengan baik saat bekerja. Anda membuat beberapa kesalahan kecil dan pengawas anda berlebihan dan menyulitkan anda. Tapi kali ini tidak tertahankan. Dia memarahi anda didepan karyawan lain, mengatakan betapa bodohnya anda dan mengancam memecat anda. Bagian terburuk adalah yang lain juga sama salahnya dengan anda, dan dia tidak mengatakan apapun kepada mereka. Emosi berkecamuk didalam diri anda—kemarahan yang hampir mencapai kebencian, takut kalau anda mungkin kehilangan pekerjaan anda, dipermalukan dihadapan yang lain, sakit hati terhadap karyawan lain yang tidak berkata apapun untuk berbagi dalam hal ini, ketakutan terhadap apa yang akan dikatakan istri anda jika mendengar anda dipecat, kekhawatiran akan masa depan, rendah diri dan kurangnya harga diri.

Anda ingin mengatakan padanya apa yang anda pikir, dan mengingatkan dia betapa bodoh perlakuannya. Anda ingin mengatakan padanya kalau dia bisa mendapatkan pekerjaan lamanya. Tapi anda seorang Kristen! Anda ingat kalau rasa aman dan rasa penting ditemukan dalam Tuhan, bukan pada pekerjaan, bukan dalam pikiran orang ini, bahkan bukan dalam perkataan istri anda. Dan anda telah menghafal Firman Tuhan, merenungkannya, memikirkan aplikasinya dalam hidup anda dan cara spesifik itu bisa mempengaruhi prilaku anda.

Yakobus 3:10 teringat oleh anda: “dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” Matthew 5:44 juga datang: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (KJV). Dan daripada menyemburkan kemarahan anda, anda malah berkata seperti ini, “Saya mengerti kenapa anda seperti ini. Saya ingin melakukan apapun untuk tidak terjadi lagi. Bisakah anda memberikan beberapa usulan untuk menolong saya?”

Beberapa orang akan protes, “Tapi saya tidak merasa berbuat baik. Bukankah munafik mengatakan hal baik saat anda merasa kotor?” Melakukan apa yang Tuhan suruh bukan kemunafikan; itu ketaatan. Itu menolong untuk mengerti dengan tepat apa yang kita rasakan dan akui dengan jujur pada diri sendiri, tapi lebih penting saat itu untuk berpikir dan bertindak dengan tepat. Sangat sulit mengontrol perasaan kita, tapi kita bisa mengontrol pikiran dan tindakan kita. Berpikir dengan tepat dan bertindak dengan tepat akan merubah perasaanmu, dan mungkin sifat kita.

Tuhan ingin kita bertindak kepada orang lain dengan peduli terhadap keadaan mereka. Respon positif mereka akan membawa kepuasan bagi kita sehingga kita menemukan kalau kita ingin baik kepada mereka. Maka kita mulai merasa baik terhadap mereka dan secara tulus tertarik tentang mereka. Dan itu menolong kita merasa lebih baik terhadap diri sendiri. Mengaplikasikan Firman Tuhan kedalam hidup kita bisa meningkatkan sifat kita. Dan itu akan menolong kita bicara lebih menyenangkan dan baik.

Berkomitmen Untuk Membangun Hubungan

Bagi saya pasangan yang paling bermasalah sangat ingin pernikahan mereka berhasil. Mereka saling mengasihi dan menginginkan hubungan yang intim dan bahagia, tapi sifat dasar dan kebutuhan emosi menyebabkan mereka terus saling menyalahkan dan akhirnya membuat mereka saling menjauh. Masalahnya adalah mereka berdua lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan sendiri daripada membangun hubungan mereka. Ditengah pembahasan tentang hal meragukan, Paulus membuat komentar ini: “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” (Romans 14:19). Kedua hal ini berjalan bersama—damai dan saling membangun. Kata-kata diberikan untuk mendorong yang lain dan membangun mereka untuk hubungan yang damai.

Kebalikannya juga benar. Mencari keuntungan diri sendiri menyebabkan perselisihan. “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (James 3:16). Selama saya hanya peduli terhadap kebahagiaan saya, keamanan, kepentingan, nama baik dan harga diri, saya akan terus memperjuangkannya dan marah dengan orang yang tidak menguntungkan saya. Hati saya tidak berubah dan kata-kata saya tidak menjadi lebih menyenangkan sampai saya membuat tujuan untuk membangun orang lain dalam hidup saya dan memperkuat hubungan kita.

Istri saya dan saya mencoba bermain tennis bersama beberapa tahun lalu. Kami pikir itu merupakan latihan yang baik, jadi kami melakukannya beberapa kali dipagi hari dihari minggu dilapangan dekat rumah. Sejujurnya, istri saya sama sekali tidak bisa. Satu-satunya cara kami bisa saling memukul bola adalah dengan memberikan bola dengan pelan kepada istri saya ditengah lapangan. Tapi hampir setiap kali saya mempraktekan ego pria dan semangat kompetisi saya, cepat-cepat kenet dan memukul bola kesatu sudut untuk mendapat nilai. Jika saya sedang dalam pertandingan, hal ini sangat baik. Tapi jika saya sedang berusaha agar dia juga bisa memukul bola, itu bukan sesuatu yang pintar. Dia pasti akan mencoba memukul kembali, tapi biasanya akan memukul angin atau kena pagar. Beberapa kali dia sedikit marah pada saya. Kami akhirnya memutuskan tennis sama sekali bukan ide yang baik.

Sayangnya, ada beberapa saat dalam pernikahan kami dimana saya menggunakan taktik yang mirip dalam hubungan kami. Saya berusaha mendapat angka dengan marah, menuduh, menyalahkan, diam, berlebihan, mengomel, dan berbagai teknik komunikasi yang tidak adil. Dan dia juga melakukan hal yang sama terhadap saya, karena saat kita terpojok, kita berusaha memojokan orang lain juga. Salah satu dari kita pasti merasa dia menang dan mendapat angka, tapi apa nilainya, jika sebagai hasilnya, kita harus berhenti bermain, jika kita harus mengakhiri pernikahan kita.

Itulah yang dilakukan pasangan sekarang. Mereka menyerah, atau sedang ingin menyerah. Itu tidak perlu! Melalui mengerti posisi kita sebagai anak Allah dan mengaplikasikan Firman Tuhan kedalam hidup kita, kita bisa menjauhkan diri dari kemarahan, kekhawatiran, rasa bersalah dan ketakutan. Kemudian dengan berkomitmen membangun hubungan daripada memenangkan pertandingan, kita menjaga pasangan kita tidak tersudut, dalam suatu posisi dimana emosi dan rohani kuat dan mereka merasa baik dan menerima dirinya. Kemudian baru mereka bisa berespon kepada kita secara positif. Hasilnya kita bisa menikmati permainan, sehingga kita berdua bisa belajar bermain lebih baik dan menemukan kebahagiaan yang lebih besar. Itu bisa merubah keseluruhan cara pandang hidup dan menjaga kata-kata menyenangkan tetap keluar dari mata air yang manis. Apakah anda pikir ini berharga untuk dicoba?


11 Material adapted from Effective Biblical Counseling, by Lawrence J. Crabb Jr. Copyright 1977 by The Zondervan Corporation, p. 59ff. Used by permission.

Related Topics: Man (Anthropology), Basics for Christians, Christian Home, Comfort