Where the world comes to study the Bible

Manis Seperti Madu

Ingatan masa kecil, sebagian menyenangkan dan sebagian tidak, ada dalam pikiran kita tidak masalah setua apa kita. Saya ingat menjelajahi lingkungan kami. Disebelah kami ada pasangan tua yang paling baik yang pernah saya kenal. Walau teman saya dan saya sedikit rebut diwaktu tertentu, atau tanpa berpikir melewati pekarangan mereka yang indah, mereka selalu baik, memahami dan berteman. Lama setelah saya menikah dan pindah jauh dari rumah, saya tetap menganggap mereka sebagai teman. Saat saya kembali kampong untuk berkunjung, saya akan berhenti dan menyapa mereka

Disebelah mereka tinggal orang paling pemarah yang pernah saya kenal. Saya tidak ingat dia pernah berkata hal baik selama 10 tahun saya tinggal dilingkunganitu. Jika bola saya tidak sengaja masuk kehalamannya, dia akan memberikan saya gerakan yang tidak terlupakan. Saat saya melewati rumahnya dengan teman saya, dia akan mengerutkan dahi pada kita sepertinya kita musuh yang akan memasuki pekarangan dan membunuh rumputnya yang indah. Saya tidak ingat namanya, tapi saya ingat kalau saya berharap tidak akan seperti dia saat tua.

Hampir setiap anak mengetahui beberapa orang menyedihkan seperti itu. Mereka memiliki kecenderungan menjadi target lelucon anak kecil, dan itu membuat mereka lebih aneh. Tapi ketidaksenangan mereka tidak hanya terarah pada anak-anak dilingkungannya; mereka melakukan itu juga terhadap keluarga mereka, dengan saudara mereka, dengan sesama pekerja, orang digereja, dan setiap orang yang melewati mereka. Saat anda bicara dengan mereka anda menemukan kalau mereka telah mengalami hal buruk, dan diperlakukan tidak baik, betapa dunia ini kacau. Dekat dengan mereka seperti memeluk landak. Anda jarang mendengar kata-kata menyenangkan dari mereka. Dan yang menyedihkan, sebagian dari mereka mengaku mengenal Tuhan.

Apakah anda tahu kalau Tuhan menghargai perkataan yang menyenangkan? “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” (Proverbs 16:24). Kita semua tahu kalau kebanyakan madu bisa sakit. Tapi Salomo tidak bicara tentang memuji, menjilat, bicara yang manisnya menyakitkan. Dia bicara tentang kata-kata yang lahir dari kasih—menyetujui, murah hati, ramah, baik yang mencerminkan perhatian kita pada orang lain. Kebalikannya adalah kata-kata yang negative, kritik, keluhan, pertengkaran. Ini sangat manis bagi jiwa. Itu melayani keberadaan kita paling dalam, mengangkat roh kita dan menyegarkan hidup kita. Dan kata-kata itu menyehatkan tulang. Itu berkontribusi bagi kesehatan fisik. Demikian juga dengan kata-kata yang tidak menyenangkan bisa membuat kita sakit, dan kata-kata menyenangkan bisa menolong kita tetap sehat.

Sebagian dari kita tidak pernah memikirkan sejauh ini efek kata-kata kita. Pikirkan itu! Kita melalui kata-kata bisa mempengaruhi kesehatan dan kebahagiaan, atau sakit dan kesedihan. Bijaksana sekali jika kita belajar menggunakan kekuatan itu sebelum orang lain terluka. Mari kita bahas nature kata-kata menyenangkan agar kita bisa menggunakannya untuk bisa menyehatkan hidup kita dan yang disekitar kita.

Mereka Itu Saling Setuju

Kata ini digunakan Daud dalam persahabatannya dengan Yonatan. “Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan” (2 Samuel 1:26). Kedua pria itu menikmati harmonisnya hubungan mereka. Mereka memiliki pemikiran yang sama, apa yang disukai atau tidak, dan berbagi tujuan yang sama. Hasilnya mereka saling setuju, dan itu menyenangkan bagi mereka berdua.

Saling setuju tidak berarti berbeda pendapat. Itu artinya kita memiliki pandangan positif daripada negative. Kita menekankan wilayah dimana kita setuju daripada melihat hal yang bisa keluhkan. Kita menghindari mempermasalahkan hal kecil. Kita menjaga perasaan dan saling menerima walau kita tidak setuju dengan semua perkataan atau tindakan mereka. Dan kita bicara baik dengan mereka disegala situasi.

Kita semua mengenal orang yang negative. Tentu saja bukan anda dan saya. Tapi orang lain! Bukankah selalu orang lain? Bukankah kita tidak menikmati jika bersama dengan mereka? Jika kita memiliki ide baru, mereka biasanya menolaknya. Itu kelihatannya sudah menjadi respon otomatis dari emreka. Jika kita memiliki pendapat, itu pasti tidak benar dan mereka akan menolak dan mengkoreksinya. Jika kita menceritakan sesuatu, detilnya pasti sedikit tertukar, mereka pasti meluruskannya. Jika kita mencoba melakukan suatu pekerjaan, mereka akan mengatakan hal yang lebih baik untuk dilakukan. Jika kita mengusulkan suatu solusi, itu pasti tidak berjalan, atau akan memakan biaya terlalu besar, atau tidak mempertimbangkan semua akibat. Pasti ada yang salah—kita bisa pastikan itu. Orang ini menghabiskan hidupnya mencari masalah daripada solusi.

Orangtua yang negative merampas rasa hormat dan harga diri anak anda. Anak-anak merasa mereka tidak pernah bisa dipuaskan. Guru yang negative membuat muridnya putus asa untuk belajar. Para murid merasa mereka tidak bisa melakukan cukup baik. Anggota gereja yang negative menekan semangat yang lainnya dalam jemaat dan menindas kemajuan karya Tuhan. Kata-kata mereka yang tidak setuju seperti air es yang mengalir diatas bara api, dan mereka menghancurkan kesehatan jemaat. Tapi kata-kata yang menyenangkan seperti madu, manis bagi jiwa dan menyembuhkan tulang.”

Mereka Itu Menggembirakan

Kata-kata yang menyenangkan juga merupakan kata-kata yang menggembirakan. “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” (Proverbs 12:25). “Baik” sinonim dengan “Menyenangkan” yang menekankan kegembiraan. Dan kata-kata yang gembira menggembirakan orang dan menyenangkan hati. Beberapa orang Kristen memiliki pengertian aneh, bahwa lebih rohani dengan menjadi murung dan muram, dan semakin dekat orang itu dengan Tuhan dia semakin seperti orang yang menghisap lemon asam. Kita melihatnya sebagai awan yang menghilangkan setiap senyum. Tapi itu bukan gambaran Alkitab.

“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri” (Proverbs 15:13a). Tuhan senang dengan hati yang gembira dan muka yang gembira. “Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta” (Proverbs 15:15). Dengan kata lain, itu membumbui semua hidup, seperti pencicip rasa merasakan setiap masakan. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Proverbs 17:22a). Kegembiraan adalah obat.

Saat Norman Cousins, mantan editor The Saturday Review diberitahu di tahun 1964 kalau dia menderita penyakit aneh yang menyebabkan tulang belakangnya terpisah, kesempatannya untuk sembuh total satu dibanding seratus. Dia meminta beberapa film komedi dan menemukan bahwa 10 menit tertawa memberikan dia setidaknya 2 jam tidur tanpa sakit. Secara bertahap, dokter dengan kagum melihat, dia mulai membaik. Enambelas tahun setelah perkiraan itu, dia bebas dari sakit, menunggang kuda dan bermain tennis dan golf.

Tuhan sudah mengatakannya ribuan tahun lalu, “Hati yang gembira adalah obat.” Dan ada sesuatu yang bisa membuat hati kita lebih gembira dari film komedi. Daud mengatakannya: “Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.” (Psalm 64:10). Saat kita mengetahui bahwa Tuhan memiliki sesuatu yang bisa membuat kita gembira. Ada bukti bahwa Tuhan sendiri memiliki rasa humor, dan tidak ada alasan kenapa umatNya tidak seperti itu. Kita menjadi lebih relax dan menikmati jika kita belajar tertawa, tertawa terhadap kesalahan kita dan tuntutan kita yang terlalu perfeksionis.

Beberapa saat yang paling diingat sebagai keluarga adalah saat rumah dipenuhi dengan tawa serak. Beberap pengalaman terhebat staff pastoral kami adalah disaat kami tertawa sampai air mata keluar dan perut kami sakit. Tidak ada yang mencemarkan disitu. Itu membuat kami semakin dekat dan membuat doa kami lebih bermakna. Saya tidak menyarankan tawa yang tidak pada tempatnya, menyerang atau menghina. Saya bicara tentang kemampuan melihat sisi yang lucu dari hidup dan menyatakannya dengan hati ringan dan humor. Beberapa orang Kristen bisa tertawa hebat.

Saya tahu ada beberapa orang yang tidak suka apa yang saya katakan. Mereka berkeras bahwa kehidupan Kristen bukan hal yang ada tawanya, bahwa mereka harus mati-matian serius tentang hal ini. Dan kita seharusnya harus begitu. Tapi itu bukan alasan bicara dengan muka berkerut, mencari orang yang sedang bercanda dan kita kuliahi. Itu bukan kerohanian. Itu salah yang menghalangi orang jadi bahagia. Kata-kata menyenangkan adalah kata-kata menggembirakan, “seperti madu, manis bagi jiwa dan menyembuhkan tulan.”

Mereka Itu Suatu Pujian

Pemazmur mengajarkan kita hal lain tentang kata-kata menyenangkan. “Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu” (Psalm 147:1). Pujian itu menyenangkan, dan lebih dari sekedar pengulangan “Puji Tuhan” bagi teman anda. Pujian bicara tentang persetujuan dan ucapan syukur kepada Tuhan, terhadap PribadiNya dan tindakanNya. Walau itu tidak sama dengan terima kasih, pujian meliputi roh terima kasih. Itu bisa dinyatakan langsung pada Tuhan, seperti, “Engkau Tuhan yang baik, dan saya bersyukur untuk semua yang telah Engkau lakukan.” Atau itu bisa dinyatakan pada orang lain, “Biarlah saya mengatakan tentang kasih karunia Tuhan dan hal kasih yang telah Dia lakukan pada saya.”

Paulus mengajarkan hal yang sama. “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Colossians 4:6). Kapanpun kita membuka mulut untuk bicara, Tuhan ingin perkataan kita direndam dengan kasih karunia. Itu artinya murah hati, menarik, baik, dan dipenuhi dengan ucapan syukur. Ucapan syukur dan terima kasih merupakan elemen dasar dari kata kasih karunia. Percakapan kita harus berisi terima kasih dan ucapan syukur serta pujian.

Lebih banyak ucapan terima kasih dan pujian akan menolong mengubah sifat murung dan meningkatkan hubungan kita dengan orang lain. Tidak mungkin bicara tentang siapa Tuhan dan apa yang telah dilakukanNya, dan kemudian mengeluh tentang keadaan dan mengkritik orang. Tidak mungki memiliki ucapan syukur yang sejati dalam hati kita terhadap Tuhan, kemudian mengeluh dan ngomel. Kata-kata menyenangkan adalah kata-kata ucapan syukur, “seperti madu, manis bagi jiwa dan menyembuhkan tulang.”

Mereka Itu Berisi Harapan

Kata-kata menyenangkan juga memberi harapan, tidak dipenuhi dengan kemurungan hidup tapi mengharapkan yang terbaik dari Tuhan. Jika ada satu hal yang harus dimiliki anak Tuhan, itu adalah harapan. Kita tahu Tuhan mengatur semuanya dan berjanji mengerjakan semuanya untuk mendatangkan kebaikan. Seperti janjiNya pada orang Yahudi dipembuangan melalui Yeremia, “‘Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan’” (Jeremiah 29:11). Dia merencanakan kebaikan dan masa depan penuh harapan.

Orang percaya mengharapkan yang terbaik. Tapi anda tidak akan tahu sampai mendengar orang mengatakannya. Dengarkan keluhan mereka: “Semuanya buruk. Dan kita tidak melihat apapun juga. Ini akan jadi lebih buruk.” Dan mereka bisa memberikan anda fakta dan statistic untuk membuktikan bahwa mereka akan jadi lebih buruk. Mereka meneguhkan diri sebagai pembawa kabar buruk, dan mereka terus menulari Tubuh Kristus dengan pesimisme dan keputusasaan mereka. Dan itu tidak menyenangkan.

Tapi kita memiliki kabar baik yang menggembirakan. Tuhan bekerja ditengah kita dan dalam hidup kita “baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Philippians 2:13). Saya tahu beberapa orang akan berkata: “Betul, tapi.” Pasukan Betul tapi akan mengatakan pada anda tentang jebakan, masalah, halangan, pertanyaan yang tak terjawab dan kemungkinan kalah. Mereka yakin bahwa setiap awan memiliki lapisan gelap lebih dari yang terlihat, dan dibalik awan itu ada … awan lainnya. Jika anda mengatakan pada mereka bahwa Tuhan memiliki kuasa untuk membuat pernikahan mereka bahagia dan berhasil, mereka mungkin akan menjawab, “Ya, tapi pasangan saya tidak ingin berubah.” Jika anda mengatakan bahwa Tuhan bisa memenuhi kebutuhan materi mereka, jawaban mereka, “ Ya, tapi anda tidak tahu betapa buruk keadaan ekonomi sekarang.” Jika anda mengatakan pada mereka bahwa Tuhan bisa menyelamatkan orang yang mereka kasihi, mereka akan menawarkan informasi bahagia ini: “Ya, tapi anda tidak mengerti betapa bermusuhannya dia itu.” Jika anda mengingatkan mereka bahwa Tuhan bisa menolong mereka mengatasi depresi mereka, mereka akan mengeluh, “Ya, tapi saya sudah 10 tahun begini.” Jika kita terus bicara tentang hal terburuk yang bisa terjadi, itu mungkin terjadi.

Pemazmur memiliki jawaban bagi yang pesimis. “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Psalm 43:5). Percaya bahwa Tuhan bisa memenuhinya dengan cara terbaik. Letakan percaya anda padaNya. Bicara tentang hal baik yang bisa dilakukanNya. Kata-kata menyenangkan berisi harapan, dan mereka seperti “madu, manis bagi jiwa dan menyembuhkan tulang.”

Bisakah anda telah menabur benih perselisihan dengan prilaku negative, kritik, keluhan dan murung? Jika anda meminta keluarga dan teman anda menilai kata-kata anda, apakah penilaian mereka? Tapi anda bisa berubah. Anda pasti ingin kata-kata menyenangkan keluar dari mulut anda. Apa yang bisa membuat ini terjadi?

Tuhan Yesus menunjukan factor kuncinya saat Dia berkata, “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Matthew 12:34). Untuk bisa mengeluarkan kata-kata menyenangkan kita perlu memenuhi pikiran kita dengan hal-hal yang menyenangkan dan merenungkannya sampai itu menjadi bagian dari hidup kita. Itu tidak mudah dilakukan. Beberapa dari kita telah memikirkan hal yang tidak menyenangkan selama ini. Kita mungkin mendapat teladan yang buruk dari orangtua kita. Kita melihat mereka bertengkar, saling kritik, mengeluh, khawatir, dan yakin bahwa tidak ada yang jadi lebih baik. Jadi secara alami kita berasumsi bahwa itu hal yang baik untuk dilakukan.

Sebagai tambahan, mereka mungkin mengarahkan kata-kata yang tidak menyenangkan itu kepada kita. Beberapa dari kita menyadari betapa kepribadian kita dibentuk oleh pergumulan tak sadar kita untuk mendapat penerimaan orangtua. Kita mungkin menjadi obsesif, perfeksionis yang comfulsif sehingga menurut kita mereka akan memuji kita jika kita melakukannya lebih baik. Itu membuat kita menuntut dan mengkritik diri kita dan orang lain. Kegagalan kita memenuhi standar mereka bisa menghancurkan harga diri dan memenuhi kita dengan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya, dan kecenderungan menyalahkan orang lain. Itu bisa membuat kita marah dan bermusuhan, dengan kecenderungan untuk memakis seluruh dunia. Itu sangat sulit diatasi karena sudah terbentuk bertahun-tahun, tapi bisa diubah. Kuasa Tuhan tersedia untuk mengubah kita, memberikan kita sifat yang menyenangkan sehingga itu menjadi sumber kata-kata menyenangkan.

Itu tergantung pada keinginan kita untuk berubah. Jika kita puas dengan keadaan kita sekarang, kita tidak akan berubah. Jika bagi kita tidak masalah kata-kata tidak menyenangkan menyakiti pasangan kita, menghancurkan anak-anak kita, menjauhkan kita dari teman atau menghalangi karya Tuhan, kita terus saja dengan keadaan yang sekarang. Perubahan biasanya menyakitkan, dan kita tidak bisa mengalahkan sakit itu kecuali ada keinginan untuk menjadi umat Tuhan yang sesuai kehendak Tuhan.

Itu merupakan masalah penyerahan diri. Itu dimulai saat kita menyerahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup. Itu terus berlanjut saat kita memprogram ulang pikiran kita menurut Firman Tuhan. Dan hasilnya adalah pengenalan dan melakukan kehendak Tuhan yang sempurna (Romans 12:1-2). Itu termasuk bicara kepada sesama dengan kata-kata yang menyenangkan. Jika ada keinginan itu, serahkan kehendak anda kepada Yesus Kristus. Kemudia anda akan siap membiarkan Dia memprogram ulang pikiran anda dan mengubah sifat anda melalui aplikasi prinsip perubahan hidupNya.

Related Topics: Man (Anthropology), Basics for Christians, Christian Home