Where the world comes to study the Bible

Cerdik Seperti Ular

Suatu hari Yesus memanggil para murid, memberikan mereka kuasa atas setan dan penyakit, kemudian mengutus mereka keseluruh Israel untuk melayani yang membutuhkan dan mengabarkan injil kerajaan. Dia berkata pada mereka, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matthew 10:16, KJV). Kecerdikan seperti ular mengatur apa yang mereka katakan juga aktivitas yang mereka jalankan. Yesus ingin mereka mengkomunikasikan pesannya dengan bijak, tapi tanpa menyakiti orang yang mendengarnya—setulus merpati.

Salomo menghubungkan hikmat dengan perkataan ratusan tahun lalu. Katanya, “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi,” (Proverbs 16:23). Hikmat yang sejati mempengaruhi cara kita bicara. Sekali lagi, “Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan” (Proverbs 15:2). Seseorang bisa memiliki banyak pengetahuan, tapi hikmat menolong dia menyatakannya dengan tepat dan dengan cara yang bisa diterima. “tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan” (Proverbs 12:18). Hikmat Tuhan, dinyatakan melalui lidah, menghasilkan kesembuhan daripada kerusakan, seperti kata Tuhan Yesus.

Beberapa orang melihat diri mereka bijak, tapi perkataan mereka lebih menyakitkan daripada menyembuhkan. Itu membuat kita percaya bahwa ada hikmat lain disamping Tuhan, dan Yakobus meneguhkan itu. Dia, seperti Salomo menghubungkan hikmat dengan cara kita menggunakan lidah kita. Setelah 12 ayat tentang lidah, dia menulis, “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan” (James 3:13). Dia bicara tentang keseluruhan cara hidup kita, bukan hanya perkataan. Tapi kita tidak bisa menghilangkan perkataan dalam hal ini. Dia melanjutkan dengan menyebutkan kepahitan iri hati dan ambisi diri (v. 14), hal-hal yang biasanya dinyatakan dengan hancurnya komunikasi. “di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (James 3:16). Kata-kata yang tidak bijak menghancurkan daripada menyembuhkan.

Kita mungkin berpikir sudah menggunakan akal sehat dan adil saat kita berkata-kata, tapi jika itu menghasilkan kekusutan, perselisihan dan pergolakan daripadan kesembuhan, itu bukan hikmat Tuhan, tapi lawannya. “Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan” (James 3:15). Itu bersumber dari 3 tempat: dari dunia, nafsu manusia, atau dari setan.

Anda tidak ingin hikmat seperti itu bukan? Saya berasumsi anda ingin hal yang sebenarnya, hikmat dari atas, hikmat yang menolong dan menyembuhkan, yang membawa kedamaian dan harmoni, yang meningkatkan kasih dan perasaan damai diatara umat Tuhan. Bagaimana kita bisa tahu apakah perkataan kita berasal dari hikmat Tuhan atau kebalikannya? Yakobus memberikan kita standar dalam mengukurnya. “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (James 3:17). Mari kita menenun standar itu kedalam pemikiran kita, jadi kita juga bisa cerdik seperti ular, tapi tulus seperti merpati.

Perkataan Bijak Itu Murni

Bukannya suatu kebetulan kalau Yakobus menyebut, “pertama, murni.” Dia serius. Pertama dan paling penting adalah semua yang dari Tuhan harus murni. Kata murni aslinya digunakan penulis Yunani kuno untuk kemurnian ilah, tapi kemudian itu untuk menggambarkan kemurnian yang diperlukan untuk menghampiri ilah ini—bukan hanya upacara diluar, tapi kemurnian hati, kemurnian dalam setiap halnya, hati yang harus bersih dari kesalahan, ketidakmurnian moral, iri hati yang pahit, ambisi diri dan motive tersembunyi. Perkataan kita merupakan refleksi apa yang terjadi didalam kita, jadi jika hati kita tidak murni, pekerjaan kita akan menghianati kita. Kita mungkin mampu memalsukannya untuk sementara, tapi kebenaran pasti akan muncul. Komunikasi yang baik dimulai dengan hati yang telah dibersihkan.

Bagaimana kita bisa membersihkan hati kita? Alkitab menggambarkannya sangat jahat dan menipu (Jeremiah 17:9). Ini sangat jelas bukan proyek sendiri. Itu membutuhkan intervensi ilahi yang radikal. Itulah yang Tuhan lakukan saat Dia mengutus AnakNya kedunia untuk mati menggantikan kita. Pada dasarnya, dara Yesus Kristus yang membersihkan hati kita dari dosa (1 John 1:7). Saat kita mengakui kondisi berdosa kita dan percaya pada pengorbanan yang ditawarkan pada kita diKalvary, Tuhan memberikan kuasa pembersihan darahNya kedalam hidup kita. Dia memurnikan kita dan menyingkirkan kesalahan kita.

Kepastian bahwa kita bersih, bahwa dosa kita diampuni dan bahwa Tuhan menerima kita, menjadi dasar bagi perkataan yang bijak. Itu membebaskan kita dari kebutuhan merendahkan yang lain untuk mengganti rasa bersalah kita atas kelemahan kita. Beban kesalahan hilang! Itu membebaskan kita dari kebutuhan untuk terlihat baik, atau mengikuti jalan kita sendiri, atau mendapatkan ambisi untuk membuktikan kita seorang yang bernilai. Kita tahu kita bernilai dalam Kristus. Itu membebaskan kita dari percobaan untuk tampil canggih dengan menggunakan perkataan yang tidak baik. Semakin kita mengerti hutang yang Kristus bayar dan penghargaan yang kita kembangkan untuk kebesaran kasih karunia Tuhan, semakin bijak dan murni komunikasi kita.

Perkataan Bijak Itu Pendamai

Sekarang saat hubungan kita dengan Tuhan sudah baik, kita siap berhubungan dengan orang lain. “selanjutnya pendamai,” kata Yakobus. Memang berurutan. Kata “selanjutnya” jelas menunjukan suatu urutan. Jika anda mencoba menambal pernikahan anda, memperbaiki pengaruh anda terhadap anak atau membetulkan hubungan dengan bos atau tetangga, tapi belum menerima Kristus sebagai Juruselamat anda, hanya akan menyulitkan anda.

Sekali kita percaya Kristus, kita memiliki 2 keuntungan. Pertama, kita memiliki kepastian bahwa Tuhan memurnikan kita. Kita diampuni dan diterima. Dan kedua, kita memiliki kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam kita untuk menolong kita berkomunikasi secara bijak. Dia masuk kedalam hidup kita dan memampukan kita menyatakan hikmat Tuhan dalam perkataan dan tindakan kita. Saat kita mengijinkan Dia melakukannya, perkataan kita akan membawa damai.

Orang yang dipenuhi dengan hikmat Tuhan tidak mudah terpancing kedalam perdebatan. Dia tidak suka berkelahi atau berselisih, tapi terus menerus mencari solusi damai atas masalah. Dia percaya bahwa hubungan yang kuat dan kasih lebih penting daripada memenangkan argument. Dia menanggapi seruan Paulus secara serius: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Romans 12:18). Dia menanggapi kata-katanya dengan seksama, dan berusaha mengungkapkannya tanpa membangkitkan permusuhan dalam diri orang lain. Jika orang lain menyerang dia dengan marah, membesarkan tuduhan, dia menjawabnya dengan ramah, tapi dengan tenang mencari kebutuhan mereka dan apa yang bisa dilakukannya untuk menolong mereka. Dia pembawa damai, yang Yesus katakan merupakan anak Allah sejati (Matthew 5:9). Dia tahu bagaimana menghindari perbantahan dan menyelesaikan konflik.

Jack adalah seseorang yang bertumbuh dalam hikmat Tuhan. Dia tetap memiliki kesalahan, seperti kita juga, dan salah satunya kegagalan menolong istrinya disaat dia dibanjiri tanggung jawab—beban pekerjaan rumah tangga, menjaga ketiga anak mereka dan bertindak seperti kepala sekolah taman kanak-kanak. Saat dia menegurnya atas ketidakpeduliannya, Jack jadi marah dan dingin terhadap istrinya. Tapi satu malam dia memikirkan betapa dia mengasihi istrinya dan menghargai dia, dan betapa ingin dia menunjukannya pada istrinya. Jadi saat istrinya sedang digereja, dia tidak hanya menidurkan anak, tapi membersihkan dapur dan membersihkan rumah.

Saat istrinya pulang rumah dia terkejut, dan berkata, “saya harap ini bukan untuk membayar semua yang lalu.” Ada waktunya perkataan itu memicu kemarahan sampai malam. Tapi Jack sudah belajar tentang hikmat dari atas, jadi dia berkata, “Tidak ini bukan untuk itu. Saya ingin kamu tahu saya mengasihi kamu dan tidak bermaksud tidak peka terhadap kebutuhanmu. Saya harap ini hanya permulaan kecil.” Tidak hanya mereka melewati hari dengan indah, tapi hubungan mereka dikuatkan. Perkataan bijak itu pendamai.

Perkataan Bijak Itu Peramah

Ramah merupakan kata yang sulit untuk diartikan dalam bahasa Inggris, Tidak ada kata-kata yang bisa menyimpulkannya dengan tepat. Seorang yang ramah mengenali bahwa ada hal yang lebih penting dari peraturan, yaitu orang dan hubungan. Dan walau dia memiliki hak dan kuasa untuk memaksakan hukum, dia melunakan peraturan yang keras dengan belas kasih.

Jadi dia mengalihkannya dengan mempertimbangkan perasaan orang lain. Dia mengijinkan kelemahan. Dia membiarkan mereka menjadi manusia. Dia tahu pentingnya “mengikuti buku” tapi dia juga tahu bahwa oprang dan keadaan yang terlibat menjamin pengecualian sekali-sekali. Karena dia tidak berkeras atas surat hukum, dia biasanya yang pertama meminta pengampunan seseorang yang bertikai dengannya, bahkan jika orang itu lebih salah darinya. Dan dia memiliki cara melupakan kesalahan yang dilakukan terhadapnya daripada menyimpannya untuk pertengkaran berikut.

Mari saya ceritakan tentang Sue, seorang wanita yang bertumbuh dalam hikmat Tuhan. Dia sangat disakiti saat beberapa teman gerejanya berbalik melawan dia dan mulai mengeluarkan dia dari sesi minum kopi pagi. Rumor yang tidak bai yang mereka katakan terhadap dia terdengar olehnya. Dia ingin sekali mengatakan hal ini pada pastornya, tapi dia menyadari kalau motivasinya adalah membuat mereka terlihat buruk. Sebaliknya, dia pergi kepada mereka satu per satu dengan lembut dan bertanya apa yang sudah dia lakukan. Keluhan mereka picik, tapi dia dengan tulus meminta maaf, dan dalam hatinya dia sudah mengampuni mereka karena hal ini.

Di hari-hari berikutnya, dia memperlakukan mereka semua dengan rasa hormat dan kasih yang murni. Keramahannya, terbalas saat satu per satu dari mereka datang padanya untuk meminta nasihat mengatasi masalah dengan anak, dan mereka semua mulai melihat dia. Hikmat manusia akan berkata, “Biar semua orang tahu siapa mereka itu.” Sue memiliki hak dan kemampuan untuk melakukan itu, tapi dia tidak melakukannya. Dia membiarkan keramahan menang, dan itu berdampak pada lebih baiknya hubungan diantara umat Tuhan.

Perkataan Bijak Itu Tunduk

Versi KJV berkata, “mudah diminta,” dan itu menjelaskan kata ini dengan baik. Tapi ini hanya salah satu kata dalam teks Yunani, jadi baik masuk akal, berdamai, berserah, atau tunduk bisa diterima dalam bahasa Inggris. Orang yang tunduk tidak keras kepala, tapi terbuka untuk saran, siap mendengar masukan, mau melakukan permintaan atau pendapat yang masuk akal. Ada orang Kristen yang sekali mengambil keputusan, tidak bisa berubah lagi. Mereka menolak berubah sebanyak apapun pandangan baru dinyatakan, atau berapapun orang yang tidak setuju. Itu bukan hikmat Tuhan. Itu hikmat manusia, hikmat setan. Hikmat dari atas selalu terbuka akan pertimbangan pandangan orang lain.

Ada beberapa hal yang lebih merugikan hubungan yang baik yaitu prilaku seseorang yang berpikir dia selalu benar. Jika anda melihat satu hal dengan satu cara, dia melihatnya dengan cara lain. Dan kemungkinan untuk dia mengubah pemikirannya sangat kecil. Anda harus mengikutinya, atau hidup terus menerus dalam perselisihan terbuka. Kompromi tidak ada dalam pemikirannya. Anda melakukan caranya atau jangan lakukan apapun. Orang seperti itu jarang mengerti kenapa orang lain menjauh dari mereka, dan mereka terus berkeras bahwa mereka benar sampai teman terakhirnya pergi.

Mungkinkah anda melaksanakan hikmat manusia dalam hal ini? Tanyakan istri anda, suami, anak anda, atau teman apakah mereka melihat anda itu masuk akal. Kemudian minta Tuhan memenuhi anda dengan hikmatNya, hikmat yang mau mendengar masukan.

Perkataan Bijak Itu Penuh Belas Kasih dan Buah-buah Baik

Ada dua hal disini, tapi mereka berjalan bersama. Hikmat sejati dipenuhi dengan belas kasih—rasa simpati dan iba terhadap orang yang menderita. Tapi belas kasih tidak berhenti diperasaan semata. Itu menyebabkan kita berkata-kata dengan ramah dan menghibur, dan melakukan sesuatu untuk menolong meringankan penderitaan mereka. Yakobus ingin kita mengerti hal ini. Itulah alasan dia langsung menambahkan “dan buah-buah yang baik.” Hikmat Tuhan bekerja melalui kita untuk menolong orang lain yang membutuhkan, bahkan orang yang bersalah pada kita.

Eleman belas kasihlah yang sulit kita nyatakan. Balas kasih sejati menahan keinginan untuk membalas, dan lebih jauh menjangkau dalam kebaikan untuk menolong. Sue, wanita yang kita temui itu ramah,bisa juga penuh belas kasih dan buah yang baik dengan memasak makanan bagi mereka yang menyakiti dia saat wanita dan keluarganya terkena flu. Hikmat seperti itu bisa mengatasi konflik dengan orang lain. Orang yang mengabaikan sedikit sakit hati dan menjangkau untuk menolong orang lain mudah menjaga hubungan tetap harmonis.

Perkataan Bijak Itu Tidak Memihak

Aspek hikmat Tuhan ini menolong kita teguh berdiri diatas prinsip Alkitab dan tetap patuh padaNya. Tapi juga menjauhkan kita dari kebimbangan dalam perjalanan hubungan kita. Orang dengan hikmat manusia berakal busuk. Dia mungkin bicara baik terhadap seseorang dihari ini, tapi menghancurkannya dihari berikut, apapun untuk keuntungannya. Dia mungkin berkeras bahwa tindakan ini yang paling baik, tapi mengusulkan hal yang sama sekali lain dikali berikut, apapun untuk keuntungannya. Dia mungkin meyakinkan anda bahwa apa yang dilakukannya itu legal, tapi jika saingannya melakukan itu, dia akan mengatakan itu tidak baik. Dia mungkin membiarkan anaknya terlibat dalam prilaku tertentu dihari ini, tapi tidak dihari berikut, karena hari berikut menggangunya. Dia bisa membenarkan kesalahannya dengan logika yang tidak bisa disangkal, tapi itu hikmat manusia, berasal dari kesombongan dan keegoisan. Dan itu membahayakan hubungan daripada menyembuhkan dan menguatkannya. Hikmat Tuhan tetap seterusnya adil, masuk akal dan memperhatikan orang lain.

Perkataan Bijak Itu Tidak Munafik

Kata munafik asalnya digunakan atas actor Yunani dipanggung, orang yang bisa memainkan perannya dengan ahli, sering memakai topeng. Tapi kata ini kemudian diaplikasikan kepada setiap orang yang menutupi dirinya yang sebenarnya dan berpura-pura seperti orang lain. Itulah yang dilakuakan hikmat manusia. Itu menipu, menghindar dan pintar menutupi karakter, tujuan dan motive sebenarnya. Orang yang menggunakannya menjawab anda dengan istilah yang membingungkan sehingga anda tidak bisa mengenal siapa dia sebenarnya, apa yang dia pikir atau apa yang dia kejar. Dia hidup berjaga-jaga dengan topeng, jarang membiarkan anda mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Hampir tidak mungkin mengembangkan hubungan yang memuaskan dengan orang ini.

Hikmat dari atas berlawanan dengan itu. Tapi terbuka, jujur dan terus terang. Orang yang melakukannya tidak mencoba menyingkirkan perasaannya agar terlihat baik atau mendapatkan tujuannya. Jika dia terganggu terhadap sesuatu, dia mengatakannya, dengan baik tapi jujur. Dia tidak berkata, “Tidak, tidak ada yang salah diantara kita,” hanya untuk menghindari konfrontasi, atau menutupi sesuatu. Dia membagikan perasaannya secara terbuka, tanpa mengkritik atau menemukan kesalahan orang lain, dan dengan demikian membantu jalur komunikasi tetap terbuka. Dia berkontribusi atas situasi damai dan harmonis, dan itulah situasi dimana kebenaran bisa bertumbuh. Yakobus menyimpulkan bab ini dengan mengingatkan kita bahwa buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai (James 3:18).

Maukah anda meminta hikmatNya? Dia menyediakan itu dengan bebas dan berlimpah (lihat James 1:5). Saat anda memilikinya, perkataan anda akan bijak, dan hubungan anda akan damai, dan kebenaran akan berlimpah.

Related Topics: Man (Anthropology), Hamartiology (Sin), Basics for Christians