Where the world comes to study the Bible

Tindakan Bicara Lebih Keras dari Perkataan

Sebagai seorang manusia, dan memiliki dosa asal dari Adam, saya cukup sering mengambil keputusan sendiri tanpa mengkomunikasikannya dengan istri saya. Itu suatu keputusan yang bodoh, tapi saya merasa punya alasan yang baik. Dia salah mengerti apa yang coba saya katakan (saya rasa), salah menafsirkan maksud saya, salah menilai motivasi atau menuduh saya dengan tidak adil, dan bagi saya hal teraman adalah tetap tenang. Ini sering dilakukan banyak orang. Dibawah sadar kita pikir dengan diam akan menghukum mereka yang memperlakukan kita dengan tidak adil, atau itu bisa menyebabkan mereka bereaksi dengan cara yang ekstrem, membenarkan diri kalau mereka yang salah.

Saya telah belajar, bahwa saya sebenarnya mengkomunikasikan diam saya. Tindakan saya berbicara sesuatu pada istri saya, sesuatu seperti, “Saya tidak peduli akan perasaanmu. Perasaanku lebih penting darimu. Dan lebih lagi, kamu tidak bisa memperlakukan saya seperti itu tanpa membayar akibatnya.” Saya tidak sadar mengkomunikasikan pesan itu. Kesadaran saya adalah melindungi diri dari sakit hati yang lebih lagi. Saya sangat mengasihinya dan ingin dekat dengannya. Tapi itulah yang ditangkapnya.

Anda lihat, apa yang kita lakukan atau yang gagal kita lakukan berbicara sesuatu. Kita pasti berkomunikasi saat kita berhadapan dengan seseorang. Komunikasi tidak muncul melalui perkataan saja. Komunikasi adalah prilaku apapun yang dilihat seseorang mengandung pesan. Kita bicara dengan gerak-gerik kita, muka, mata, atau alis kita. Kita bicara dengan desahan, sentuhan, nada, mengangkat bahu, dengan jarak yang kita buat dengan orang lain, dengan hampir semua tindakan yang kita lakukan. Kenyataannya, para ahli mengatakan bahwa 65 percent atau lebih dari seluruh komunikasi adalah nonverbal. Mereka juga mengatakan bahwa pesan nonverbal lebih kuat dari verbal.

Jika kita mengirim 2 pesan yang saling berlawanan, orang cenderung percaya yang nonverbal diatas verbal. Singkatnya, jika saya berkeras bahwa saya percaya apa yang anda katakan, tapi mulut saya tertutup, kepala saya miring, dan ada lekukan dalam dialis, anda mungkin menyimpulkan bahwa saya tidak percaya sama sekali pada saya. Tindaka bicara lebih kuat daripada perkataan! Dan itulah alasan kenapa orang Kristen harus hati-hati terhadap tindakan kita, dan memastikan apakah tindakan kita sesuai dengan apa yang kita katakan.

Alkitab membuat penekanan ini. Sebagai contoh, Yohanes menulis, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 John 3:17,18). Jika kita berkata kita mengasihi saudara seiman tapi membiarkan dia menderita saat kita mampu meringankan penderitaannya, kita sama sekali tidak mengasihinya. Tindakan kita berlawanan dengan perkataan kita, dan tindakan kita bicara lebih keras dari kata-kata.

Yakobus membuat pengamatan serupa. “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (James 2:15-17). Kita bisa berkata kita mengenal Tuhan, tapi jika kita tidak peduli terhadap kebutuhan saudara seiman, tindakan kita berlawanan dengan perkataan, dan tindakan kita bicara lebih keras dari kata-kata.

Seperti yang telah kita lihat, Yakobus pindah dari seruan hidup dalam iman kedalam pembahasan tentang kata-kata yang disimpulkannya dengan berkata, “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” (James 3:13). Walau kita tidak bisa memisahkan kata itu dari seruan, itu menunjuk terutama pada komunikasi nonverbal. Orang Kristen yang bijak membiarkan hidup mereka mendukung perkataan mulut mereka. Dan mereka melakukan itu dalam lembut atau dengan bijak, tanpa pertengkaran, kesombongan, keegoisan, dan tanpa permusuhan dengan mereka yang bersalah pada kita. Mereka melakukan itu dengan keramahan dan tidak egois terhadap orang lain.

Saat Yakobus menggambarkan hikmat sejati yang datang dari Tuhan (James 3:17), dia berkata itu “tidak munafik.” Salah satu karakter orang yang tindakannya berlawanan dengan perkataannya adalah “munafik.” Mereka tidak konsisten, mengaku sesuatu dengan perkataan tapi tidak memilikinya dalam hati. Penting bagi orang Kristen yang bijak untuk bertindak sesuai dengan kata-katanya, setidaknya ada 3 alasan melakukan hal ini.

Untuk Hubungan yang Harmonis

Harmoni yang paling dipikir Yakobus. Dia bicara tentang pembuat damai yang menghasilkan kedamaian (James 3:18), dan kemudian membahas perselisihan dan konflik (4:1). Dalam pikirannya ada hubungan antara hubungan harmonis dengan konsistennya perkataan dan perbuatan. Beberapa konselor merasa bahwa kegagalan memperhatikan prinsip ini merupakan penyebab terbesar perselisihan antar pribadi dan masalah pernikahan. Mereka percaya bahwa banyak masalah yang berkembang dalam hubungan bisa diselesaikan hanya dengan memperbaiki ketidak konsistenan pesan verbal dan nonVerbal.

Sebagai contoh, seorang suami bisa meyakinkan istrinya bahwa dia mengasihinya, tapi dia sering datang rumah terlambat dan jarang memberitahu istrinya. Saat dia menanyakannya, dia berkeras bahwa sedang bekerja, atau pergi untuk suatu hal, atau melihat teman, atau hal lainnya. Dia menjelaskan padannya bahwa penting baginya untuk tahu kapan dia akan telat agar istrinya bisa menyiapkan makan dengan tepat. Tapi dia tidak memberitahu berulang kali, dan banyak makanan yang disia-siakan. Walau kata-katanya berkata, “Saya mencintaimu,” tindakannya berkata, “Saya tidak peduli terhadap keinginan atau perasaanmu.” Dan istrinya percaya tindakan lebih dari kata-kata. Kecenderungan manusianya menjadi marah, dan sakit hati, dan jadi tidak peduli akan keinginan dan perasaan suaminya. Setiap harapan adanya keintiman hancur pada pertengkaran dan adu mulut.

Atu sebaliknya. Seorang istri mengatakan pada suaminya kalau dia akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan suami, tapi dia tidak pernah memasak makanan kesukaan suaminya. Suaminya minta agar dia meyiapkan hal itu dan dia meyakinkan sang suami pasti akan melakukannya suatu saat, tapi tidak pernah dilakukannya. Kapanpun suaminya mengingatkan hal itu, dia akan berkata, “Tolong jangan ganggu saya tentang hal ini. Aku akan menyiapkannya saat saya ingin.” Tapi berbulan-bulan berlalu dan dia tetap tidak melakukannya. Tindakannya berkata, “kebahagiaanmu bukan perhatianku,” dan suaminya mempercayai tindakan diatas kata-kata. Sekali lagi sakit hati mulai meracuni hubungan dan menuangkan minyak keatas perselisihan mereka.

Biasanya bukan hal yang besar yang membawa kehancuran pada pernikahan. Timbunan dari tindakan kecil yang meyakinkan masing-masing kalau pasangan mereka tidak peduli lagi. Tidak ada yang bisa meyakinkan mereka, karena tindakan lebih bicara lebih keras dari kata-kata,

Prinsip tidak hanya berdampak pada hubungan perkawinan. Itu berdampak pada setiap hubungan dalam hidup. Sebagai contoh, orang percaya didorong untuk “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Romans 12:15). Itu suatu yang alami dari kasih kita terhadap sesama dan perhatian kita pada sesama Tubuh Kristus.

Demikian juga dengan seorang wanita baru datang kekelompok wanita dan dia dipenuhi dengan sukacita. “Saya sangat senang. Suamiku percaya Kristus sebagai Juruselamatnya tadi malam dan sekarang kita satu dalam Dia.” Dan para wanita dalam lingkaran itu berkata, “Oh, baik sekali,” kemudian duduk tak bergerak denan tangan terlipat, kaki disilangkan dan bermuka muram. Saya jamin wanita yang suaminya baru lahir bari tidak akan merasakan kedekatan dan keintiman dengan para wanita itu, apalagi membagikan hatinya dengan mereka. Tindakan mereka berlawanan dengan perkataan mereka.

Hal yang sama berlaku pada pria yang baru kehilangan pekerjaan. Saat dia mengatakan berita sedih ini pada teman digerejanya, temannya menjawab, “Itu sangat disayangkan,Tom. Saya sedih mendengarnya.” Tapi dia langsung berbalik dan bertanya pada temannya apakah mereka jadi pergi mincing besok pagi. Dia tidak pernah menanyakan pekerjaan Tom lagi, apalagi bertanya apa yang bisa dilakukannya. Seperti yang anda curigai, Tom mulai pergi kegereja lain dimana tindakan orangnya konsisten dengan perkataannya. Sangat sulit menikmati hubungan yang memuaskan dan harmonis dengan orang yang tidak bisa membuktikan perkataannya sesuai dengan tindakannya.

Untuk Perintah yang Berhasil

Ada alasan kedua tindakan kita harus sesuai dengan perkataan kita, yaitu menjadi teladan bagi mereka yang berusaha kita ajar, dan dengan demikian meningkatkan potensi mereka untuk mau belajar. Filosofi “Lakukan seperti yang aku katakan bukan seperti yang aku perbuat” merupakan bencana pendidikan. Belajar yang paling berhasil terjadi saat pelajar melihat teladan yang baik dari apa yang diajarkan. Itulah metode yang Yesus gunakan dengan para murid. Mereka mungkin lebih belajar melalui melihat Dia daripada mendengar Dia. Sebagai contoh, malam Dia mengajar mereka untuk saling melayani dalam kerendahan hati dan kasih, dia mencontohkan peran seorang pelayan dengan mencuci kaki mereka. Mereka belajar dari hal itu bahwa mereka belajar hanya dari kotbah saja.

Dibeberapa kesempatan Paulus menyerukan orang percaya untuk mengikuti teladannya (lihat 1 Corinthians 4:16; 11:1; Philippians 3:17; 4:9). Dia mengajar melalui tindakan. Dia menantang Timotius untuk menjadi teladan bagi orang percaya yang dilayani (1 Timothy 4:12), dan mendorong Titus untuk melakukan hal yang sama (Titus 2:7). Merupakan hal yang bodoh jika kita mencoba mengajar orang lain sesuatu yang kita sendiri tidak lakukan.

Sebagai orangtua kita mungkin yang paling bersalah dalam hal kemunafikan. Kita ingin anak kita bicara kepada kita dengan nada yang baik dan tidak dengan berteriak. Kita menjelaskan kepada mereka dengan jelas dan sederhana. Tapi lima menit kemudian mereka mendengar mamanya berteriak pada papa, “Berapa kali saya bilang, jangan taruh pakaian kotor meja makan?” atau yang lebih buruk, salah satu dari mereka berteriak pada anak-anak, “Sudah dibilang beribu kali jangan berteriak saat saya sedang bicara ditelepon.” Kata-kata itu tidak berarti. Kita mengajar mereka lebih banyak melalui tindakan daripada kata-kata kita.

Satu contoh lagi. Baik ibu dan ayah telah mencoba mengajar anak-anak menjalankan tanggung jawab mereka dengan sukarela dan senang dan tidak mengeluh. Tapi disuatu sore mama berkata pada papa, “Sayang, saya ingin kamu membetulkan kebocoran didapur kita semalam. Kita membuang banyak air.”

Papa melewati hari yang sangat melelahkan hari ini, dan membetulkan kebocoran merupakan hal terakhir yang ingin dia lakukan. Dia seharunya berkata dengan baik dan terus terang, “Jangan malam ini, sayang. Besok dan saya akan melalukannya dipagi hari.” Tapi dia curiga akan mendapat percekcokan jika mengatakan hal itu, jadi sebaliknya dia menjawab dengan marah, “Baiklah. Baiklah—sebentar lagi.”

Satu jam kemudian dia pergi kegarasi, membanting pintu dengan sangat keras sehingga menggetarkan seluruh rumah. Dia terdengar marah-marah tentang kekacauan yang dibuat anak-anak ditempat itu. Kemudian dia marah-marah tentang disain keran air didapur yang membuat pekerjaannya 2 kali lebih sulit. Dan dia “tidak disengaja” memecahkan salah satu gelas kesukaan mama yang tertinggal ditempat cuci. Anak-anak tidak belajar banyak tentang kerelaan dan kebahagiaan.

Bagaimana kita melakukannya dan apa yang kita lakukan lebih penting dari perkataan. Itulah pelajaran penting untuk diajarkan pada anak-anak. Tapi mereka akan mempelajari itu dengan melihat kita. Kita bisa mengemasi kata-kata kita jika tidak mau mencontohkan itu dihadapn anak-anak kerena mereka akan meniru apa yang mereka lihat jauh lebih daripada mengikuti apa yang mereka dengar. Tindakan bicara lebih keras dari perkataan.

Ada bentuk lain dari komunikasi nonverbal yang perlu kita sebutkan, terutama saat bicara tentang mengajarkan anak, yaitu sentuhan. Kita ingin anak kita mengetahui kalau kita mengasihi mereka, tapi kata-kata saja tidak akan meyakinkan mereka. Mereka perlu dengan kasih disentuh. Bayi yang dijauhkan dari sentuhan bisa mati. Anak-anak yang tidak mendapat sentuhan kasih akan sangat terganggun. Setiap manusia memiliki keinginan untuk disentuh, diluar konotasi seksual, oleh orang yang dekat dengan mereka. Suami dan istri memerlukannya. Dan anak-anak tidak bisa berkembang dengan normal tanpa hal ini. Sentuhan yang lembut berkata, “Aku mengasihimu. Kamu berharga bagi saya.” Dan kita paling baik belajar dari mereka yang kita tahu peduli terhadap kita.

Untuk Kesaksian yang Efektif

Setidaknya ada satu alasan lagi kenapa orang Kristen harus membuktikan perkataan dan perbuatan mereka selaras, yaitu untuk mereka yang terhilang yang sedang memperhatikan. Jika mereka tahu kita orang Kristen, mereka mungkin memperhatiakan setiap perbuatan kita. Dan apapun yang kita katakan. Apa yang mereka baca dari kita? Paulus meminta orang Korintus untuk menjadi surat yang terbuka untuk bisa dibaca oleh semua orang (2 Corinthians 3:2). Kita smua adalah surat hidup yang dibaca setiap hari. Apa isi surat anda?

Kepada jemaat Kolose, Paulus berkata, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada” (Colossians 4:5). Itu menunjuk pada cara hidup kita, prilaku kita, tindakan kita. Tapi ayat berikut bicara tentang kata-kata kita: “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (4:6). Kita tidak bisa memisahkan perkataan dan tindakan kita. Mereka harus konsisten. Jika kita mengatakan pada seorang yang belum percaya bahwa Tuhan mengasihinya, kita perlu menunjukan kepadanya kasih Tuhan dengan cara kita memperlakukan dia.

Satu keluarga memutuskan bahwa mereka akan memungut anak untuk menunjukan kasih Kristus pada keluarga tetangga yang belum selamat. Mereka berdoa bersama keluarga itu. Anak-anak mereka berbagi mainan dengan anak-anak mereka. Ayah sukarela membantu ayah mereka dalam memasang system pemancar air. Mama mengambil alih saat mereka kehilangan saudaranya. Tindakan kasih mereka yang konsisten membuka pintu untuk kesaksian verbal, dan keluarga itu menjadi kenal Kristus. Itu berasal dari sikap mereka terhadap orang luar. Dan tindakan mereka lebih dari perkataan yang membawa keluarga itu kepada Kristus.

Kita bisa mengatakan pada semua teman non-Kristen kita bahwa Kristus bisa membuat perbedaan dalam hidup kita, tapi mereka lebih memperhatikan tindakan kita. Apakah kita bicara dengan karyawan lebih baik dari orang yang tidak percaya? Apakah kita lebih mudah memberi senyum? Apakah kita lebih cenderung menolong orang yang sedang susah? Apakah kita mengatasi ketidaknyamanan dengan lebih tenang? Apakah kita menerima berita buruk lebih tenang dan terkontrol? Apakah kita memperlakukan keluarga kita lebih tidak egois?

Dunia sedang melihat. Orang Kristen akan menunjukan prilaku baik mereka dalam tindakan mereka (James 3:17). Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah melalui meniru pribadi Yesus Kristus, menyamakan pikiran kita dengan FirmanNya, membiarkan Dia menangkap kasih sayang kita, mengatur kita dan hidup didalam kita. Maka kemunafikan akan hilang dan orang lain akan tahu kalau kita nyata—keluarga, teman, sesama pekerja, juga orang yang belum percaya disekitar kita. Dan mereka mulai percaya pada perkataan kita.

Related Topics: Man (Anthropology), Basics for Christians, Christian Home