Where the world comes to study the Bible

Seperti Tuhan Telah Mengampuni

Bayangkan anda sedang terluka, lebih dari yang anda pikir. Seorang teman mengkhianati anda dengan menceritakan rahasia anda kepada orang lain. Sekarang setiap orang mengetahuinya, dan anda malu menunjukan muka anda. Bagaimana anda bisa mengampuni mulut seperti itu?

Atau mungkin teman kerja mencuri ide anda. Dia yang mendapat keuntungan darinya dan menerima semua pujian, termasuk promosi dan kenaikan gaji. Sekarang dia sulit melihat mata anda. Tapi anda tidak peduli. Kenyataannya, anda tidak peduli jika melihat dia lagi. Bagaimana anda bisa memaafkan dia?

Kemungkinan untuk terluka sangat banyak. Seseorang membohongi anda, atau menyebarkan berita buruk tentang anda, atau menghancurkan barang anda, atau menolak untuk percaya dan mendengar anda. Orangtua anda terus mencoba mengatur hidup anda. Anak anda yang tidak tahu berterima kasih mempermalukan anda dengan menyangkal semua yang anda pertahankan. Saudara laki-laki anda menipu anda dalam warisan keluarga. Pasangan anda memperlakukan anda dengan kasar sehingga tidak ada harga diri yang tersisa. Orang yang dipanggil “teman” merenggangkan hubungan anda dengan pasangan anda. Bekas pacar mencoba mensabotase kehidupan anda. Seorang pastor gagal berdiri bersama anda saat anda membutuhkannya. Bagaimana anda bisa memaafkan?

Sedikit sekali yang bisa mempengaruhi hubungan anda begitu besar selain roh tidak mau mengampuni. Menahan sesuatu terhadap orang lain punya kecenderungan akan mendominasi hidup kita. Kita bahkan mungkin tidak menyadarinya. Kita pikir sudah menyelesaikan dalam pikiran. Tapi setiap waktu itu memakan kita, mempengaruhi sifat kita, kesehatan kita, dan jelas mempengaruhi cara kita memperlakukan orang yang menyakiti kita. Itu mungkin dengan cara yang kecil—melihat kearah lain saat mereka lewat, menolak untuk tersenyum, menjaga ketenangan suara anda. Itu bisa juga dengan cara yang lebih ekstrem seperti kemarahan atau gossip yang jahat. Tapi itu pasti ada, menghilangkan kehangantan dan kedekatana yang kita ingin nikmati dengan orang disekitar kita.

Rasul Paulus membuat pernyataan yang menarik tentang pengampunan dalam pesan utamanya dalam hubungan manusia. “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ephesians 4:31-32). Apakah anda memperhatikan dia membedakan prilaku yang menghancurkan seperti kepahitan, kemarahan, kegeraman, pertikaian, dan fitnah disatu sisi dan kasih mesra, saling mengampuni disisi lainnya? Maukan anda menyingkirkan rantai penghancur yang mengikat kebebasan anda untuk damai bersama orang lain? Satu kunci untuk membuka rantai itu adalah pengampunan.

Tapi mengampuni tidak mudah bukan? “Bagaimana saya bisa melakukannya?” anda bertanya. Rahasianya terletak didalam ayat ini: “saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Kita mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni. Bagaimana itu? Jika kita bisa belajar beberapa elemen dalam pengampunan Allah, kita bisa tahu bagaimana kita bisa mengampuni.

Dia Mengerti Kelemahan Kita

Pengampunan merupakan tema dominant dalam Maz 103 (terutama perhatiakn ayat 3 dan 10-13). Tapi lihat alasan Allah begitu murah hati dan belas kasih mengampuni kesalahan dan menyingkirkan pelanggaran kita sejauh timur dari barat: “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Psalm 103:14). Dia tahu seperti apa kita, bagaimana kita itu lemah. Sebenarnya saat Dia menjadi manusia Dia berbagi kelemahan yang sama. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Hebrews 4:15). Dia pernah disini. Dia mengerti.

Pengampunan mulai dengan belajar mengerti orang lain. Itu terdengar tidak sulit. Kita tahu apa yang kita sukai. Setidaknya jika kita jujur pada diri sendiri. Kita sebesar apa kita bisa sombong, egois, membenci, iri hati, tidak perhatian dan aneh. Kenapa kita tidak menunjukan sedikit toleransi dalam kesalahan yang sama dengan orang lain? Orang yang menolak mengampuni mungkin merasa diri sempurna.

Seperti kata McGinnis, “Jika kita ingin mengampuni dengan bebas, kita perlu memberi toleransi kepada orang lain sebesar toleransi yang kita tunjukan pada kesalahan kita sendiri. Sangat luar biasa bagaimana kita bisa mengerti kesalahan kita dalam hubungan antarpribadi—kita tidak sengaja salah, atau terjadi disaat stress, atau kita tidak merasa enak hari itu, atau kita akan lebih baik kali berikutnya. Kita cenderung melihat diri kita bukan dari apa kita tapi dari apa yang kita usahakan, tapi kita melihat orang dari apa mereka.”9

Mengerti orang lain tidak selalu berarti bahwa kita setuju dengan mereka. Mary dan saya sering berkata begini, “Kamu tidak mengerti saya,” katanya. “Tentu saya mengerti,” saya berkeras. “Tapi jika kamu mengerti saya kamu akan setuju dengan saya,” balas istri saya. Saya tidak berpikir bahwa itu benar dan saya akan mengatakan pada istri saya demikian. Tapi sejak itu saya mengetahui masalah kita. Saya mengerti dia, tapi saya tidak mengerti betul. Dan itu ada perbedaannya.

Untuk pengertian lebih merupakan mengerti kata-kata. Itu mencoba melihat hal-hal dari cara pandang orang lain, baik kita setuju atau tidak. Itu mencoba merasakan apa yang mereka rasakan, dan menerima perasaan mereka baik kita merasa perasaan itu berdasar atau tidak. Mereka biasanya bisa merasakan hal ini dalam kita—atau kekurangan hal ini. Dan mengembangkan prilaku itu bisa menolong kita mengampuni saat kebutuhan mengharuskannya.

Seorang istri muda yang berpikiran rohani membagikan kita bagaimana dia mengampuni suaminya saat dia mengganggunya. Dia berkata, “Saya tahu itu bukan cara yang diinginkannya. Dia ingin menjadi pria yang menyenangkan Tuhan, dan biasanya begitu. Beberapa keadaan sulitlah yang membuat dia seperti sekarang.” Itulah artinya mengerti, dan prilaku itu menolongnya untuk mengampuni.

Tapi pengertian sendiri bukan pengampunan. Itu hanya langkah penting yang perlu diambil. Kita melihat hati yang mengampuni dalam hal berikut.

Dia Membayar Kesalahan Kita

Apakah anda pernah mendapatkan seseorang meminta maaf pada anda, dan anda membalas seperti ini, “Oh, jangan kuatir. Tidak apa-apa. Itu tidak mengganggu sama sekali”? Anda mungkin berpikir kalau prilaku anda mencerminkan penampunan yang murni. Tapi sebenarnya tidak. Kenyataannya, anda mungkin sudah mengeluh pada beberapa orang tentang orang itu, tapi menyatakan kalau itu tidak mengganggu sama sekali. Dan itu mungkin mempengaruhi cara anda bertindak terhadap orang itu. Pengampunan lebih dari berpura-pura kesalahan tidak terjadi, atau berpura-pura itu tidak menyakitkan. Pengampunan adalah mengahadapi kenyataan bahwa itu terjadi dan mengakui kalau itu sakit, tapi memutuskan untuk membayar kesalahan itu sendiri.

Itulah yang Tuhan lakukan. Dalam surat Paulus yang kedua pada jemaat Korintus dia meyakinkan mereka bahwa Tuhan tidak menghitung kesalahan mereka (2 Corinthians 5:19). Bagaimana bisa Allah yang Kudus tidak memperhitungkan pelanggaran kita? Paulus menjelaskannya. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (5:21). Dia bisa mengampuni kita karena Dia mau menanggung hukuman dosa kita dalam pribadi AnakNya. Atau seperti kata Petrus, Dia sendiri menanggung dosa kita dalam TubuhNya diatas salib (1 Peter 2:24). Saat kesalahan dibuat, seseorang harus membayar. Saat keadilan sukses, yang berbuat kesalahan membayar. Tapi saat pengampunan diberikan, yang terkena membayarnya sendiri.

Dosa kita menyalahkan kekudusan Allah, tapi Dia sendiri yang membayar hutang yang muncul. Saat Yesus Kristus merendah dalam kematian, Dia berteriak, “Sudah selesai.” Kata itu dalam teks Yunani digunakan dalam transaksi bisnis saat itu. Saat itu ditulis dalam tagihan artinya, “Lunas Terbayar.” Tidak ada yang bisa kita tambahkan atau lakukan untuk mendapat pengampunanNya dan tidak ada yang bisa kita bayar untuk mendapatkannya. Tuhan dalam anugrahNya telah membayar lunas dan membebaskan kita dari kesalahan selamanya. Anugrah itu adalah inti dari pengampunan.

Kegagalan kita menghargai kebenaran ini merupakan salah satu alasan utama kita sulit mengampuni orang lain. Inilah maksud perumpamaan Yesus tentang pelayan yang tidak mengampuni (Matthew 18:23-35), yang diceritakan untuk menjawab pertanyaan Petrus tentang berapa kali dia harus mengampuni saudaranya yang berdosa terhadap dia. Ini adalah cerita tentang seorang raja yang ingin membebaskan hutang budaknya. Salah satu dari mereka berhutang sebesar $10,000,000. Tidak mungkin dia bisa mengembalikannya, jadi sang raja memerintahkan agar dia dan seluruh keluarganya dijual untuk mengurangi sedikit kerugian.

“Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan’” (Matthew 18:26). Dia ingin perpanjangan waktu. Dia pikir dengan waktu itu dia bisa melunasinya. “Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya” (v. 27). Dia mendapat lebih dari sekedar perpanjangan waktu. Dalam tindakan belas kasih dan kasih karunia yang tiada banding, sang raja menghapus semua hutangnya, dan mengampuni dia. Dia sendiri yang membayar hutang budaknya.

Raja itu menggambarkan Tuhan, dan apa yang dia lakukan menyatakan harga yang Tuhan bayar bagi pengampunan kekal kita. Tapi dalam cerita ini, budak itu tidak pernah menangkap penuh apa yang telah dilakukan raja. Dia tidak pernah menerima pengampunan raja. Dia tetap berpikir dia harus membayar, dan bagaimana dia bisa membayarnya. Inilah maksud dari kisah ini. Dia keluar dan menemukan temannya yang berhutang sekitar $20, mencekiknya dan menuntut uangnya. Tapi temannya tidak bisa. Dia membuang temannya kepenjara sampai dia bisa membayar hutangnya. Seorang yang munafik—diampuni begitu besar tapi menolak mengampuni hal yang begitu kecil!

Itulah yang dilakukan oleh beberapa orang Kristen. Kita sedikit sekali mengerti kenyataan dan kebesaran anugrah pengampunan Tuhan. Dan karena kita salah mengerti anugrah Tuhan dan berpikir kita harus membayarNya dengan performance atas pengampunanNya, kita pikir kita punya hak untuk meminta bayaran dari orang lain sebelum kita mengampuni mereka. Mereka telah berbuat salah terhadap kita, jadi mereka berhutang dan sekarang mereka harus membayar. Dan kita akan mengawasi apa yang mereka lakukan. Jadi kita mulai membuat tuntutan. Kita mungkin menuntut permintaan maaf, berkerah mereka harus merangkak kepada kita dan mengakui kesalahan mereka. “Itu semua salahmu,” kita berkeras, “Akui itu.” Kita mungkin menuntut mereka untuk memperbaiki kesalahannya, mengubah masa lalu yang tidak bisa diubah. Kita mungkin menuntut jaminan kalau mereka tidak akan melakukannya lagi.

Jika mereka tidak mau membayar hutang mereka, kita akan menghukum mereka. Kita bisa melakukan itu dengan kemarahan, atau kita bisa mengubah taktik dan mendiamkan mereka, berlaku seolah-olah mereka tidak ada. Sebagai tambahan, kita mungkin mengatakan pada orang lain hal buruk tentang mereka kepada kita agar mereka buruh dihadapan temannya. Itu akan membetulkan mereka. Kita bahkan mungkin membawa mereka kepengadilan. Tapi dengan cara apapun, kita berusaha membuat mereka membayar.

Itulah masalah di Korintus. Orang percaya saling menuntut dipengadilan atas masalah yang remeh. Mereka tidak menangkap maksud anugrah Tuhan dan realitas betapa Tuhan telah mengampuni mereka. Kata Paulus “Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?” (1 Corinthians 6:7). Jauh lebih baik menderita penghinaan, sakit, kehilangan atau kerusakan daripada resiko kemungkinan menyebabkan penderitaan orang percaya lain. Itu inti pengampunan—kita yang membayarnya, membatalkan semua tuntutan, menyerahkan hak untuk membalas dengan cara apapun. Memberikan hak kita untuk menyakiti orang lain hanya karena mereka telah menyakiti kita. Itulah apa yang Tuhan lakukan pada kita, dan itulah yang Dia ingin kita lakukan bagi orang lain.

Apakah anda ingat apa yang terjadi pada budak yang menolak mengampuni dalam perumpamaan Yesus? Saat teman budaknya yang lain melihat perbuatannya, mereka sedih dan melaporkannya pada sang raja. Dia memanggil budak itu dan berkata, “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Yesus menyimpulkan ceritanya, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Matthew 18:35). Itu pemikiran yang menakutkan. Kita tidak yakin siapa algojonya, tapi beberapa berpendapat itu adalah siksaan batin yang menimpa orang yang menolak untuk mengampuni—kemarahan, permusuhan, kepahitan, dendam, depresi dan putus asa memakan kita dan menghancurkan kita. Suatu keadaan yang mengerikan!

Dr. S. I. McMillen menceritakan pada kita tentang pelajar yang datang kekantornya menderita rasa terbakar diperut atas dan gangguan pencernaan. Medis tidak menolong, dan dokter bingung dengan kasus ini. Satu hari seorang pelajar lain melaporkan pada dia bahwa pernah mendengar pelajar itu mencaci maki dengan marah beberapa orang yang telah menipu kakeknya, dan dia ingin membalasnya dengan cara apapun. Dokter menasihati pelajar itu dan mendorong dia untuk mengampuni, tapi dia menolak. Kondisinya jadi semakin buruk sehingga harus keluar dari sekolah.10 Begitu besar harga dari hal ini, terutama dalam hal siksaan batin.

Dia Melupakan Kesalahan Kita

Tuhan mengasihi kita, dan kasih “tidak menyimpan kesalahan orang lain.” (1 Corinthians 13:5). Kata yang Paulus gunakan dalam gambaran kasih merupakan istilah akuntansi dalam memasukan item kebuku besar agar tidak lupa. Saat seseorang menghitung kesalahan yang dilakukan terhadap dia, dia menandainya dalam kalkulator mental sehingga dia bisa mengingatnya saat dibutuhkan. Tuhan tidak melakukan hal itu. Dia memilih tombol clear pada kalkulatorNya dan melupakan informasi itu. Beberapa kali Alkitab meneguhkan kita bahwa Dia tidak akan mengingat dosa kita lagi (Jeremiah 31:34; Hebrews 10:17; Isaiah 43:25). Bagaimana Tuhan mengampuni? Saat Dia mengampuni, Dia melupakan, dan kita perlu melakukan hal yang sama.

Tapi sekarang kita punya masalah karena kelihatannya kalkulator mental kita tidak memiliki tombol clear. Kita sebenarnya tidak bisa menghilangkan peristiwa dalam ingatan kita. Ilmu kedokteran mengatakan hal ini tidak bisa hilang, bisa dipanggil kembali, kecuali kita mengalami operasi otak, ini semua tidak bisa menolong kita mengampuni dengant tepat. Kemudian apa artinya kita melupakan?

Pertama, saat kita benar-benar mengapuni, keinginan yang salah tidak lagi mendominasi pikiran kita. Saat itu kembali kepikiran kita, kita mampu menghentikannya langsung. Kita tidak mau menghidupkannya lagi dan membicarakan hal itu dengan orang lain. Beberapa orang berkata kalau mereka telah mengampuni, tapi mereka bisa bicara hal itu lagi. Mereka ingin tetap mengulangi hal buruk yang telah dilakukan pada mereka. Ketidakmampuan mereka untuk berhenti berpikir tentang hal itu dan membicarakannya menunjukan kurangnya mereka mengampuni.

Kedua, kesalahan itu tidak lagi menyakitkan. Fakta tetap ada, tapi emosi mendalam tidak ada lagi. Kita bisa memikirkan itu tanpa kepahitan dan permusuhan, tanpa perasaan sakit seperti yang lalu.

Dan ketiga, kita mampu memperlakukan orang itu seperti kesalahannya tidak pernah ada. Tidak berpura-pura tak pernah terjadi. Itu pernah terjadi, dan kita perlu jujur tentang hal itu. Tapi memperlakukan dia seperti tidak terjadi. Jika kita mengampuni seperti Tuhan mengampuni dan tidak mengingat kesalahan, maka itu tidak bisa mempengaruhi tindakan kita. Kita bisa bebas menjangkau dengan ramah, baik, terbuka dan percaya untuk bisa memperbaharui hubungan. Dan itu membawa kita pada elemen terakhir dari pengampunan Tuhan yang perlu kita mengerti.

Dia Mencari Persekutuan dengan Kita

Tujuan dari pengampunan adalah rekonsiliasi. Tidak ada pengampunan yang berkata seperti ini, “Baik, saya mengampuni dia, tapi saya tidak ingin dekat dengan dia lagi. Biarlah kita menjalani hidup kita masing-masing saja.” Itu bukan cara Tuhan mengampuni. Dia mencari pendosa seperti kita (lihat Luke 19:10). Dia menjangkau musuhNya dan berusaha mendamaikan mereka dengan diriNya (Romans 5:10).

Tapi seperti perkiraan anda, rekonsiliasi punya jalan berjalur dua. Agar pendosa berdamai dengan Tuhan dia harus mengakui dosanya dan bertobat. Dan itu pelajaran bagi kita. Pengampunan satu sisi melegakan kepahitan dalam kita dan menghilangkan tekanan dalam hubungan kita. Tapi tidak akan ada rekonsiliasi yang sejati sampai kesalahan dibahas bersama dan keduanya mengakui kesalahan mereka dan saling percaya kembali. Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk bertobat. Kita tidak bisa memaksa mereka mengakui kesalahan. Tapi kita bisa mengakui bagian kita, menjangkau mereka dan memberitahu mereka kita ingin berdamai. Itulah yang Tuhan minta pada kita.

Jika anda yang diperlakukan salah, tanggung jawab anda adalah mengambil langkah pertama. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Matthew 18:15). Anda harus melakukannya dalam kasih dan lembut.

Jika anda yang melakukan kesalahan, sekali lagi tanggung jawab anda untuk mengambil inisiatif. “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matthew 5:23-24).

Jika saudaramu bersalah padamu, dan anda yang disalahkan, anda harus melangkah lebih dulu. Alkitab tidak mengenal hal seperti ini, “Baik, itu kesalahannya. Dia yang harus datang pada saya.” Tuhan ingin saudara saudari dalam Kristus untuk berdamai. Dan apapun peran anda, diperlakukan salah atau yang bersalah, jika anda ingin taat pada Firman Tuhan anda harus menjangkau. Secara Alkitabiah, selalu anda yang bergerak.

Apakah ada tembok antara anda dan beberapa saudara seiman? Anda telah dilukai, lebih dari yang anda pikir. Tuhan ingin anda mengampuni seperti Dia mengampuni anda dalam Kristus. Mengertilah mereka dalam kelemahan mereka. Mau membayar kesalahan mereka sepenuhnya. Melupakan kesalahan, dan menjangkau dengan kasih untuk berdamai. Anda akan berkontribusi untuk harmonisnya Tubuh Kristus. Anda akan merasa lebih baik secara emosi dan fisik. Anda akan menikmati hidup lebih baik. Anda akan menemukan realitas berjalan dengan Tuhan lebih besar lagi. Anda akan mengalami pelayanan rohani anda lebih efektif. Dan Tuhan dimuliakan!


9 Alan Loy McGinnis, The Friendship Factor (Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1979), pp. 159160.

10 S. I. McMillen, None of These Diseases (Old Tappan, New Jersey: Fleming H. Revell, 1967), pp. 70-71.

Related Topics: Man (Anthropology), Soteriology (Salvation), Theology Proper (God), Basics for Christians, Christian Home, Finance