Where the world comes to study the Bible

Memperbaiki Jaring

Saya tidak suka mengakuinya, tapi memang saya tidak selalu senang dengan istri saya. Dan dia juga berkata hal yang sama “Amin” Tapi, mungkin anda memang sudah mengetahuinya. Saya dan dia manusia, dan 2 manusia tidak selalu bisa menyenangkan satu sama lain. Tapi Tuhan ingin saya menyenangkan istri. Ada beberapa hal yang harus saya lakukan tapi tidak saya lakukan. Apa yang bisa dia lakukan untuk membantu saya bertumbuh? Bagaimanapun, Yesus berkata dia tidak seharusnya mengkritik saya.

Setiap hari, konselor Kristen mendengar begitu banyak keluhan istri terhadap suaminya: “Dia tidak mengasihi saya. Dia tidak mau bicara. Dia bukan pemimpin rohani dirumah. Dia tidak memberi cukup waktu dengan anak-anak. Dia tidak memperbaiki hal-hal dirumah. Dia tidak memberi tahu saya saat dia terlambat. Dia membelanjakan uang untuk hal yang tidak penting.”

Suami punya daftar keluhan juga: “Dia merengek-rengek pada saya. Dia berteriak pada anak. Dia tidak menjaga rumah tetap bersih. Dia terganggu untuk hal kecil. Dia tidak menjaga penampilan pribadinya. Dia menjelekan saya dihadapan temannya. Dia tidak tertarik pada saya secara fisik.”

Apa yang harus kita lakukan terhadap hal ini? Ada 2 hal umum yang sangat merusak. Pertama, menekan perasaan kita dan menderita diam-diam. Kita semua tahu, seorang istri yang kelihatan memberikan diri pada suaminya sepanjang waktu. Tapi biasanya menemukan cara halus dalam membalas, sehingga suami tidak bisa mendapat keinginannya (seperti sakit kepala saat tidur), dan dia memiliki rencana cerdik (seperti menangis) untuk memanipulasi suami melakukan apa yang diinginkannya. Kita mungkin juga mengenal seorang suami yang mengurung diri. Tapi dia juga, punya cara untuk menyamakan kedudukan (seperti mendiamkan istrinya), atau mendapat bisul, atau keluar dan melakukan affair. Menekan pikiran, perasaan, keinginan kita bukanlah jawaban.

Disisi lain adalah seorang yang dengan bebas menyatakan semua ketidaksenangannya. Dia sering menyatakan apa yang dia pikir mengenai seseorang. Dia membanggakan kejujurannya. Dia mengatakan seperti adanya! Dia bisa menyatakan dengan baik kesalahan orang lain. Tapi yang sebenarnya ialah dia hanya peduli pada dirinya sendiri, dan keterbukaannya adalah cara untuk membuat orang melakukan apa yang dikehendakinya. Dia yang sepertinya terbuka sebenarnya berselubung kemarahan. Itu mungkin berhasil membuat orang lain melakukan permintaannya, tapi umumnya harganya menyakitkan mereka atau menghancurkan harga diri mereka. Itu bukan kasih yang membangun yang seharunya kita nyatakan dalam Alkitab.

Jika tidak satupun pilihan diterima, maka apa yang harus kita lakukan terhadap kesalahan orang lain? Ada beberapa bagian Alkitab yang bisa menolong kita menjawabnya, tapi tidak ada yang lebih menolong daripada Galatians 6:1: “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Ayat ini mengandung setidaknya 5 prinsip untuk menghadapi kesalahan orang lain.

Jujur Terhadap Kesalahan

Kesalahan pasti ada. Dalam konteksnya, Paulus mungkin menghadapi seseorang yang jatuh dan membawa aib bagi nama Kristus serta kesaksian gereja. Orang percaya lain dalam jemaat tidak boleh mengabaikannya dan berharap semua itu akan hilang. Mereka mengakui apa kesalahannya. Kata itu berarti “salah langkah, kesalahan, eror.” Itu mungkin tidak disengaja atau sudah direncanakan sebelumnya, tapi itu sesuatu yang harus diwaspadai. Itulah implikasi dari kata “kedapatan.”

Walau tujuan utama Paulus mungkin pada dosa, kata yang dia pilih bisa dimasukan juga pada semua kesalahan dalam diri kita semua. Teman kita dan pasangan kita biasanya tidak mencoba merendahkan, menyakiti, mengganggu, mempermalukan kita atau membuat kita marah untuk suatu tujuan. Mereka mungkin tidak sadar apa yang mereka lakukan. Mereka mungkin tidak tahu harus berlaku seperti apa atau apa yang Tuhan harapkan atas mereka. Mereka mungkin tidak mengerti kalau Dia ingin mereka lebih bijak dan memperhatikan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Tapi mereka tetap bisa salah. Mereka gagal memenuhi standar Tuhan dalam hidup mereka.

Penting untuk memperhatikan bahwa kita tidak bicara tentang kebiasaan kita, hal yang tidak menyenangkan kita atau menyulitkan kita. Kita menunjuk pada suatu kesalahan, sesuatu yang Tuhan ingin kita ubah. Jujurlah dengan hal itu. Akui sejujurnya.

Sebagian dari kita berpikir mungkin lebih rohani untuk mengabaikannya dan diam-diam membiarkan hal itu. Kenyataannya, kita mungkin takut kalau berkata sesuatu akan membawa pada suatu perdebatan dan membuat kita merasa tidak dikasihi dan tertolak, yang lebih buruk dari kesalahan itu sendiri. Atau kita meyakinkan diri kita bahwa orang lain tidak mengerti apa yang akan kita katakan. Kita pikir hubungan akan lebih baik jika kita mengabaikan itu. Itu mungkin benar jika kita benar-benar bisa mengabaikannya, jika kita bisa melupakan selamanya apa yang pernah terjadi. Tapi umumnya tidak. Kita membiarkan hal itu menggerogoti kita. Dan tubuh kita terus sakit dan menderita, dan membuat kita secara fisik sakit. Atau kita membiarkan kemarahan menumpuk dan keluar dalam cara yang tak terduga, menghancurkan hubungan kita. Atau itu meledak dalam kemarahan dan kata-kata yang tidak baik yang menjauhkan orang dari kita. Mengabaikan hal itu bukan jawaban.

Lebih jauh, mengijinkan kita dipermainkan atau menjadi korban kesalahan orang lain adalah membiarkan prilaku berdosa dan egois mereka, yang akan melibatkan orang lain juga (atau memang sudah melibatkan orang lain). Jadi untuk kebaikan orang lain dan hubungan kita dengannya, juga agar orang lain tidak terluka, kita harus berhenti membuat alasan bagi dia dan berjalan dengan dia, berharap semua hal jadi baik. Kita perlu jujur akan kesalahannya dan menghadapinya. Tapi tunggu beberapa menit sebelum membuka mulutmu. Ada syarat yang harus dipenuhi dulu.

Persiapkan Hatimu

Paulus menyebut orang yang layak berurusan dengan kesalahan orang lain, “kamu yang rohani” (Galatians 6:1). Itu tidak berarti kita harus sempurna sebelum kita bisa berurusan dengan kesalahan mereka. Jika begitu maka tidak ada yang bisa melakukannya. Itu berarti hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus. Kita berjalan dengan Roh. Kita harus yakin kalau Roh Tuhan memenuhi dan mengatur hidup kita. Orang yang rohani peka terhadap kehendak Tuhan, taat pada FirmanNya, dimotivasi oleh keinginan untuk menyenangkanNya daripada diri sendiri, dan mengijinkan Roh Kudus menghasilkan buahNya dalam hidup.

Mengijinkan Roh Tuhan mengatur hidup kita adalah menolong kita mendekati orang itu dengan cara yang bisa membawa kesembuhan daripada sakit hati dan konflik. Jika kita jujur, kita mungkin mau mengakui kalau kita sering dimotivasi untuk berurusan dengan kesalahan orang lain agar bisa menyamakan kedudukan, menyingkirkan ketidaknyamanan pribadi, membuat diri sendiri lebih baik dari mereka, atau membela diri. Semua motivasi itu bukan dari Roh Kudus dan akan membawa perselisihan. Orang yang rohani dimotivasi oleh kasih. Dia ingin membangun orang lain daripada menghancurkannya. Dia ingin menguatkan hubungan daripada membuat orang lain bermusuhan atau menjauhinya; kalau begitu, keduanya kalah. Tapi saat kita menghadapinya dalam kasih untuk membangun orang lain, mereka merasakan kasih itu, dan itu menjadi sedok yang mempermudah masuknya obat.

Lebih jauh, orang yang rohani juga harus memiliki telinga untuk mendengar. Catatan pribadinya menunjukan walau dia tidak sempurna, dia sedang bertumbuh. Dia mengijinkan Roh Tuhan membentuknya. Dia tidak mencoba mengambil debu dimata orang lain tapi dimatanya ada balok. Dia berurusan dengan baloknya. Jika kita mau bicara dengan siapapun tentang kesalahan mereka, kita perlu membereskan kita punya dulu. Kita perlu menyiapkan hati dan hidup kita. Tapi saat kita siap menghadapinya, kita harus tahu apa tujuannya.

Tujuannya Pemulihan

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar …” (Galatians 6:1). Kata memulihkan memiliki arti “meletakan pada kondisi yang tepat.” Diluar PB, memulihkan berarti meletakan tulang ditempatnya. Dalam injil itu digunakan untuk memperbaiki jaring (Matthew 4:21; Mark 1:19). Tujuan jaring ikan adalah untuk menjaring ikan. Jika jaringnya rusak, mereka tidak bisa menangkap banyak ikan. Ikan akan keluar melalui lubang. Jaring yang robek perlu diperbaiki.

Salah satu tujuan Tuhan untuk hidup saya adalah membawa orang kepada Kristus dan melayani kebutuhan orang lain—istri saya, anak saya dan anggota Tubuh yang lain. Saat hidup saya robek oleh kesalahan, saya tidak bisa melayani banyak kebutuhan. Saya harus diperbaiki. Dan perbaikan itu tidak bisa terjadi kecuali saya mengakui kesalahan saya.

PB menggunakan 2 kata utama untuk menggambarkan konfrontasi itu. Salah satunya adalah admonish. Itu secara literal berarti “meletakan dalam pikiran,” tapi itu memiliki ide menghadapi kesalahan seseorang dan memperingatkan dia tentang akibat jika terus melakukannya. Alkitab berkata kita harus saling menegur (Romans 15:14; Colossians 3:16). Tujuannya jelas bukan untuk memenangkan sesuatu, menyalahkan orang lain, membuktikan kita benar dan dia salah. Tujuannya adalah membawa pemuliha bagi yang bersalah, dan menyembuhkan hubungan kita. Itu untuk memperbaiki jaring. “Nasihati yang hidup tidak tertib,” Paulus berkata pada jemaat Tesalonika (1 Thessalonians 5:14). Itu untuk memulihkan harmoni persekutuan.

Kata kedua dalam PB untuk konfrontasi adalah rebuke, sering diterjemahkan “menegur” Itu artinya “menerangi, menelanjangi, menampakan; meyakinkan.” Itu artinya mengatakan kesalahannya sehingga dia yakin dan ingin memperbaikinya. Itulah kata yang digunakan Yesus dalam suatu bagian tentang menghadapi saudara yang bersalah: “tegorlah dia di bawah empat mata” (Matthew 18:15).3 Sekali lagi, tujuannya bukan membuat kita terlihat baik dan dia terlihat buruk, tapi memulihkan hubungan yang benar diantara kita—memperbaiki jaring. “Jika dia mendengarkanmu,” tambah Yesus, “Kamus sudah memenangkan saudaramu.”

Umpamakan anda istri Kristen marah-marah pada suamimu saat pulang dari pesta. Suasana dimobil begitu pekat sehingga anda bisa memotongnya. Dia terbang dari satu orang keorang lain sepanjang malam, kebanyakan wanita, dan meninggalkan anda sendiri. Dia tidak bicara banyak dengan anda sepanjang malam. Anda sedang berpikir apa yang akan anda katakan. “Wow, kamu benar-benar terlihat bodoh malam ini. Setiap orang melihat penggoda besar malam ini—Mr. Casanova. Menggoda semua wanita! Kamu sama sekali tidak mempedulikan aku kan?” Itukah yang ingin anda katakan? Apakah kata-kata itu bisa memulihkan? Sulit! Itu hanya menyatakan pikiran anda. Tapi itu semua tuduhan dan menyalahkan. Dan itu akan menjadi peperangan dan tangisan dimalam peperangan. Itu akan menggagalkan prinsip berikut.

Menjaga Sikap yang Tepat

Paulus menjelaskan bagaimana memulihkan orang percaya yang bersalah. Harus “dalam roh yang lemah lembut” (Galatians 6:1). Lemah lembut harus diperlakukan pada orang lain walau mereka salah. Itu memampukan kita untuk menjaga diri saat nature manusia menyuruh kita membalas mereka, menyakiti mereka sama seperti yang sudah mereka lakukan pada kita. Itu menjauhkan kita dari penyerangan bahwa saat kita memiliki senjata untuk menang. Itu kuat mengontrol, seperti kuda dalam kekang. Itulah prilaku yang memulihkan.

Ahli komunikasi konsisten dengan Firman Tuhan tentang hal ini. Mereka mengatakan bahwa kita jangan menuduh saat kita berhadapan dengan orang alin. Itulah yang dilakukan kelemah lembutan. Salah satu cara adalah berfokus pada apa yang kita rasakan dan apa yang kita inginkan daripada apakah orang itu sudah melakukan kesalahan. Kita melakukan ini dengan pernyataan “Saya” daripada “Kamu”. Mari coba satu contoh. Bagaimana rasanya pernyataan ini? “Kamu sangat tidak bijak”. “Kamu tidak mencintai aku kan?” “Kamu tidak pernah bicara dengan aku” “Kamu terdengar seperti ibumu” “Kamu tidak memasak dengan baik selama 6 bulan.” “Kamu pikir kamu sudah melakukan semuanya.” Pernyataan “Kamu” umumnya mengandung serangan pada harga diri seseorang. Serangan menimbulkan pertahanan, dan pertahanan menimbulkan pertengkaran.

Tapi tidak ada yang membantah pernyataan “Saya”. Dari pada “Kamu tidak memikirkan aku saat terlambat,” cobalah katakan seperti ini “Saya merasa sendiri dan tertolak saat kamu terlambat. Saya sangat ingin kamu dirumah.” Itu menjelaskan perasaanmu dan apa yang anda inginkan. Itu bukannya meremehkan. Itu bukan untuk menghakimi. Tidak ada orang yang memperdebatkan perasaan anda atau keinginan anda, jadi tidak ada yang dipertengkarkan. Kita menghadapi semua kesalahan, tapi kita melakukannya tanpa menimbulkan serangan atau tuduhan. Kita melakukan itu dengan lemah lembut.

Baik untuk diingat bahwa sekali kita menyatakan keinginan kita pada orang lain, kita menyerahkan keputusannya pada mereka. Daripada mengurung mereka dalam harapan kita, dan mencoba memaksa mereka memenuhi keinginan kita melalui manipulasi atau tekanan, kita percayakan pada Tuhan untuk bekerja dalam hati mereka sekehendakNya. Kita berusaha berfokus memenuhi kebutuhan mereka bukan kita.

Roh kelemah lembutan akan menolong kita menghindari pertanyaan menipu yang meletakan orang kedalam perangkap, terutama pertanyaan yang dimulai dengan “kenapa” “Kenapa kamu begitu malas?” “Kenapa kamu mau menolong saya?” Kenapa kamu tidak membersihkan ruanganmu?” “Kenapa kamu tidak mengurusi bagianmu sendiri?” Tidak ada orang yang ingin menjawab pertanyaan itu. Menjawabnya berarti mengakui kesalahan, dan mereka tidak siap untuk itu. Selain itu, tidak peduli apa yang mereka katakan, kita mungkin membantahnya dan mengatakan bahwa alasannya tidak cukup. Mereka tidak bisa menang dan mereka tahu itu. Pertanyaan seperti itu egois dan tidak kasih dan bijak terhadap orang lain. Itu tidak mencerminkan lemah lembut. Pertanyaan bisa tepat saat motivasi kita dimengerti orang lain dengan benar, tapi tidak saat kita menggunakannya sebagai perangkap.

Kelemah lembutan akan menolong kita menjaga nada yang benar. Nada bicara kita bisa sangat menuduh. Beberapa ahli komunikasi memperkirakan bahwa 90 persen perselisihan dalam kehidupan sehari-hari disebabkan nada suara yang tidak tepat. Seorang manejer personalia yang memimpin suatu pemilihan suara menemukan bahwa mereka tidak sakit hati terhadap kritik atasan tapi terhadap caranya—sering secara sarkasme, atau kasar. Kita lebih baik bicara secara baik dan bijak.

Bahkan anak kita menghargai cara bicara yang ramah. Anda bisa berkata pada anak anda, “Papa suka kamu mematikan lampu kalau sudah selesai menggunakannya.” Atau, anda bisa bicara dengan kasar, “Papa ingin kamu mematikan lampu kalau sudah seleasi!” Tidak sulit menentukan yang mana yang mempertimbangkan perasaan anak dan yang untuk mencurahkan frustrasi anda, yang mana yang membangun tanggung jawab dan yang membangun kemarahan. Siapapun yang kita ajak bicara, bijaklah memperhatikan respon orang itu. Jika kita melihat kebencian, lebih baik mengulangi perkataan kita dalam pikiran dengan nada yang sama. Kita mungkin mendeteksi kurangnya lemah lembut. Itu saatnya meminta maaf, dan berkata kembali, dengan lemah lembut.

Kelemah lembutan juga mendorong kita melihat apa yang kita sebut “prinsip sandwich,” yaitu, menyisipkan usulan diantara pujian. Yesus melakukan itu saat dia menghadapi gereja Efesus. Pertama, Dia berkata kalau Dia mengetahui usaha keras dan ketekunan mereka (Revelation 2:2,3). Itu suatu pujian. Kemudian dia menghadapkan mereka dengan hal meninggalkan kasih mereka mula-mula (Revelation 2:4,5). Itulah konfrontasinya. Diakhir Dia mengakui bahwa mereka membenci Nicolaitans (Revelation 2:6). Itu pujian lagi.

Itu merupakan teladan yang baik untuk diikuti. Saat kita membangun hubungan yang positif, saling menerima dengan orang lain, salah satunya bungkus dengan pujian, mereka bisa berespon lebih mudah atas konfrontasi anda tanpa merasa terancam atau ditolak. Itu hal yang bijak. Itu roh lemah lembut, dan itu memperbaiki jaring daripada merobeknya. Tapi Paulus harus menambahkan satu pemikiran lagi tentang hal ini.

Akui Kelemahan Anda Sendiri

Anda bisa mendekati mereka “sambil menjaga diri sendiri, supaya kamu sendiri tidak dicobai” (Galatians 6:1). Kita tidak bisa menegur orang lain dengan suasana superior. Teguran Alkitab seperti seorang pendosa berbagi sesuatu yang bisa membuat mereka berdua lebih baik dan membuat hubungan mereka lebih kuat dan memuaskan. Usulan lebih bisa diteriman dari seseorang yang membiarkan anda tahu kalau dia memiliki kelemahan yang sama.

Tapi demi kasih karunia Tuhan, kita harus melakukan apa yang dia lakukan. Mengingatnya bisa menjauhkan kita dari prilaku menuduh, mendendam, dan lebih suci dari anda, dan menolong kita menjaga sikap lemah lembut, baik dan nada yang tenang. Maka jaring bisa diperbaiki, dan kita juga bisa memenuhi tujuan Tuhan bagi hidup kita—saling memenuhi kebutuhan, berkontribusi dalam kehidupan orang lain dan saling membangun untuk kemuliaan Tuhan.


3 See also 1 Timothy 5:20; 2 Timothy 4:2; Titus 1:9, 13; Titus 2:15; and Revelation 3:19.

Related Topics: Man (Anthropology), Basics for Christians, Christian Home, Forgiveness