Where the world comes to study the Bible

Ini Suatu Misteri Besar

Pria dan wanita berbeda! Anda mungkin melihat hal ini sudah kenyataan, tapi perbedaannya sangat penting untuk dipikirkan, karena trend masa kita adalah mengurangi perbedaan, memperbesar kesamaan, dan menyalahgunakan arti kesetaraan. Kita mendengan kalau wanita bisa melakukan apapun yang pria lakukan, dan beberapa wanita berjuang mendapatkan pekerjaan pria untuk membuktikan hal itu. Gaya berpakaian cenderung mengaburkan perbedaan antara kedua jenis ini. Urutan otoritas Alkitab dalam keluarga diejek oleh sosiolog modern. Pasangan modern ingin kata “taat” dikeluarkan dalam upacara pernikahan karena bagi mereka itu mengurangi status mereka menjadi seperti budak.

Tuhan membuat pria dan wanita untuk berbeda. “Pria dan wanita diciptakanNya.”1 “Permulaan Tuhan menciptakan pria dan wanita.”2 Pria dan wanita bicara hal yang berbeda, berjalan dengan cara berbeda, berpikir beda, dan bahkan makan yang berbeda! Mereka dimotivasi oleh nilai yang berbeda dan dipengaruhi oleh emosi yang berbeda. Mereka berbeda dalam setiap sel tubuh mereka.

Walau ada beberapa perbedaan antara wanita dan pria, termasuk pengecualian semua penyamarataan, kita bisa melihat perbedaan penting. Secara umum, pria secara fisik lebih kuat dari wanita. Mereka lebih logis dari wanita, karena wanita kelihatannya lebih mengandalkan intuisi dan emosi. Pria umumnya lebih objektif, wanita lebih subjektif. Pria sering lebih realistic, wanita idealistic. Banyak pria bisa meyakinkan diri sendiri, sementara wanita sering perlu diyakinkan. Pria kelihatannya lebih kuat dalam pemikiran, sementara wanita lebih bisa terpengaruh orang lain. Disaat yang sama, wanita umumnya lebih simpatik dari pria. Mereka lebih tertarik terhadap orang, sementara pria terhadap benda. Dalam bab berikut kita akan membahas beberapa perbedaan dan kebutuhan khusus yang diperlukan. Kita akan melihat bagaimana perintah spesifik Tuhan bagi suami dan istri untuk menolong pasangannya memenuhi kebutuhan khususnya. Untuk saat ini, kita akan belajar kenapa Tuhan menciptakan pria dan wanita dengan perbedaan seperti itu.

Rasul Paulus membahas alasannya dalam suratnya kepada jemaat Efesus. Jika ada hal yang ingin dimengerti pasangan tentang pernikahan, itu adalah hubungan suami istri dibandingkan dengan hubungan Kristus dan gerejaNya. Dia mengulangi hal itu 3 kali dalam ayat berturut-turut.3 Kemudian, setelah bicara pria bersatu dengan istrinya, dia membuat pernyataan luar biasa: “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”4 Hubungan pernikahan dibuat oleh Tuhan untuk menjadi ilustrasi hidup akan hubungan Kristus dan gerejaNya. Walau pernikahan dibuat dalam taman Eden lama sebelum gereja dimulai, persatuan itu menyatakan bahwa Tuhan suatu hari akan membentuk gereja dan menjadikannya pengantin AnakNya. Ini suatu misteri besar, kebenaran ilahi yang tersembunyi selama berabad-abad tapi sekarang dinyatakan dengan jelas. Pernikahan merupakan pernyataan luar biasa, dengan jelas menggambarkan hubungan antara Kristus dan gereja.

Dalam drama pernikahan pemainnya adalah suami dan istri. Semua memiliki peran yang harus dinyatakan. Suami menggambarkan Kristus dan istri mewakili gereja. Tidak ada yang lebih jelas dari Alkitab:

“karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”5

Setiap pemain harus secara unik beradaptasi dengan perannya. Satu alasan yang sangat penting bahwa Tuhan membuat pria dan wanita tidak sama adalah bahwa pria menggambarkan Kristus dan wanita menggambarkan gereja sebagai pelajaran.

Seperti ada urutan otoritas dalam hubungan Kristus-gereja, demikian juga ada urutan otoritas dalam hubungan suami-istri. Satu yang paling diperdebatkan adalah konsep Alkitab bahwa “… suami adalah kepala istri, seperti Kristus adalah kepala gereja.”6 Ini pengajaran Alkitab tentang kepemimpinan. Jika dengan benar dimengerti dan dilakukan, ini bukan suatu yang tidak enak tapi suatu syukur dan kehormatan. Karena pengajaran ini merupakan bagian dari Firman Tuhan yang tidak mungkin salah, maka tidak ada pernikahan harmonis yang sempurna diluar dari aplikasi ini, Kemudia apa itu kepemimpinan?

Mungkin kita harus memutuskan apa yang bukan. Kepemimpinan bukan superioritas. Dalam Alkitab tidak ada yang menunjukan bahwa pria superior dari wanita. Sebenarnya, dengan jelas dinyatakan bahwa pria dan wanita sejajar dimata Tuhan. “tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”7 Dua menjadi “satu daging” juga menunjukan kesetaraan. Tuhan menciptakan pria dan wanita untuk diperlakukan setara—bukan lebih rendah. Pria yang merendahkan wanita mungkin melakukan itu untuk meyakinkan kepriaan mereka. Jika mereka yakin bahwa pria superior dari wanita, maka mereka merasa superior terhadap istri tidak peduli betapa lemah atau tidak bertanggung jawabnya mereka itu!

Kepemimpinan juga tidak terdiri dari dominasi atau kediktaktoran. Pengajaran kepemimpinan tidak menghancurkan kepribadian atau kehendak istri, atau menguranginya menjadi seperti budak. Sebenarnya hal ini berlawanan. Yesus Kristus merupakan contoh utama tentang hal ini, sebagai kepala gereja Dia melayaninya.8 Dalam kapasitas ini Kristus melayani gereja—suatu fakta yang para suami perlu pikirkan! Beberapa pria memiliki pemikiran yang salah tentang arti kepemimpinan “Saya bos dan kamu lakukan apapun yang saya suka. Sekarang ambilkan sandal saya.”

Pria lain memiliki pemikiran lucu bahwa kepala termasuk hak menggertak. Mereka digertak oleh bos saat kerja, jadi mereka pulang dan menggertak istri dan anak untuk membuktikan kejantanannya. Tapi brutalitas bukan kejantanan. Sebaliknya itu menunjukan kelemahan. Manusia yang duduk diatas kelemahan seseorang daripada dirinya menunjukan ketidakpastian tentang kekuatan dia yang sebenarnya. Jika dia mendorong istrinya, menyeret istrinya, atau memukulnya, dia menunjukan ketidakpastian, tidak dewasa, dan tidak kompeten sebagai seorang suami. Perlakuan seperti itu membuat istri masuk kerehabilitasi mental. Pria yang berpikir dia bisa mengatur istrinya seperti budak, menipu istrinya disetiap hak istimewa yang Tuhan ingin istrinya miliki.

Disisi positif, kepala merupakan kepemimpinan kasih. Ada kebutuhan umum untuk kepemimpinan dalam setiap pengalaman manusia. Kita punya itu melalui pemerintahan—setempat, Negara bagian, dan federal. Mentri, gubernur, dan presiden tidak superior terhadap kita, tapi sebagai pemimpin yang kita pilih mereka didelegasikan posisi otoritas. Kita memiliki otoritas dalam sekolah, pekerjaan, dan gereja kita.9 Kita memerlukan itu dalam keluarga. Alkitab menyatakan, “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.”10 Mungkin teladan terbesar tentang hal ini adalah Bapa Head over Anak. Kristus setara dengan BapaNya sejak kekekalan, tapi Dia tunduk pada otoritas Bapa. Seperti Bapa kepala Anak dan Anak kepala manusia, juga pria kepala wanita dalam hubungan pernikahan.

Para wanita mungkin bertanya, “kenapa harus begitu?” Jawabannya sederhana—untuk menunjukan tunduknya gereja kepada kepemimpinan Yesus Kristus. “Tapi kenapa harus wanita yang harus tunduk?” Karena cara Tuhan menciptakannya. Disatu sisi, wanita secara fisik lemah.11 Lemah bergantung pada yang kuat, dan yang kuat memimpin yang lemah. Itu kata Tuhan pada Hawa diawal hidupnya, “Dia[Adam] akan berkuasa atasmu.”12 Dia jadi kepala, diberikan otoritas.

Natur yang diberikan Tuhan pada wanita adalah untuk dipimpin, bergantung. Dia tidak akan benar-benar bahagia dengan peran lain. Beberapa wanita, karena keegoisan dan tidak dewasa, mencoba mendominasi suaminya—tapi mereka tidak bahagia dengan hal itu. Semakin dewasa wanita itu, semakin sadar kalau dia melemahkan pria yang dia nikahi, semakin dia membenci dirinya karena itu. Keinginan istri mengkritik, mengejek, merendahkan, atau memanipulasi suami sering tidak terkontrol, tapi Kristus bisa menolongnya untuk mengontrol semua itu. Dia tidak akan betul-betul bahagia kecuali membiarkan Kristus mengubahnya. Tuhan membuat wanita untuk bergantung pada suami; jika dia mengabaikan itu, dialah yang menderita.

Sayangnya, beberapa pria menjauh dari peran kepemimpinan mereka. Otoritas mendatangkan tanggung jawab, tuntutan, keputusan, tekanan, dan waktu yang lebih banyak. Mereka sudah mendapat hal ini dipekerjaan dan tidak ingin diganggu dengan semua ini dalam rumah. Karena mereka lebih tertarik dengan kenyamanan diri daripada tanggung jawab Alkitab mereka, mereka memaksa istri memaikan peran pemimpin—dengan hasil yang kacau balau. Situasi ini berlawanan dengan nature wanita dan pria yang diberikan Tuhan. Ini mendatangkan perselisihan, frustrasi, tidak puas, permusuhan, dan pertengkaran. Para pria, ambil kendali! Jadilah pemimpin dalam rumahmu. Ambil inisiatif dalam membuat keputusan, melatih anak, dan membangun ibadah keluarga. Tidak ada pria yang mengabaikan tanggung jawab ini bisa menjadi pemimpin gereja.13

Suatu pagi saya bertanya pada 51 wanita dalam kelas Alkitab apa yang paling mereka butuhkan dari suaminya. Para wanita itu menjawab, “Saya perlu kepemimpinan dan tanggung jawabnya. Saya harus membuat keputusan yang seharusnya dia yang melakukan itu, dan saya tidak suka pakai celana.” Banyak wanita lain menjawab mirip seperti itu. Mereka prihatin terhadap kepemimpinan rohani suami mereka. Beberapa suami Kristen menolak memimpin doa dalam rumah mereka. Berlawanan dengan apa yang dilakukan dan dikatakan para istri, mereka tidak ingin mendominasi suami mereka. Mereka ingin dipimpin dengan kasih. Inilah peran yang diberikan Tuhan dalam drama perkawinan.

Bagaimana kepemimpinan ini diimplementasikan dalam rumah Kristen? Saya percaya mirip dengan kepemimpinan yang dilakukan dalam menjalankan organisasi. Tidak ada perusahaan yang berhasil bisa berfungsi baik dengan 2 kepala. Jika ada presiden dan wakil presiden, maka umumnya presiden merupakan pemimpinnya. Wakil presiden mungkin lebih pintar dari bosnya, tapi presiden menjalankan otoritas yang lebih besar. Statusnya bukan sebagai diktaktor, tapi menjalankan otoritas. Pengaturan bisa bejalan baik jika ada saling percaya, jika mereka melihat adanya kesetaraan, jika saling membagi dari kemampuan masing-masing, sumber, dan pengalaman, dan jika mereka membuat aturan dan keputusan secara bersama, dan semua menjalankannya. Dibelakang semua itu, ada kenyataan bahwa hanya satu dari mereka yang merupakan pemimpin. Dalam penilaian akhir dialah yang bertanggung jawab atas semua yang dilakukan.

Inilah yang harus dikerjakan dalam pernikahan Kristen. Ini bisa digambarkan sebagai demokrasi dengan kepemimpinan pria. Setiap pasangan harus saling memperhatikan, dan untuk kebaikan pernikahan. Harus ada sharing dalam pembuatan keputusan dan menyelesaikan masalah. Karena setiap pasangan menunjukan kasih tulus, maka masalah yang tidak bisa diselesaikan sangat jarang. Tapi dalam kasus yang jarangpun, Tuhan berkata bahwa suami harus memimpin dengan kasih dan istri dengan kasih mengikuti.

Inilah blueprint Tuhan bagi keluarga Kristen. Ini jauh dari pandangan yang merendahkan wanita. Ini juga jauh dari pandangan modern tentang kesamaan yang membebaskan wanita dari tanggung jawab keluarga, dapur, dan anak-anak dan membebaskan mereka dari otoritas suami.

Seorang wanita menemukan kesetaraan dan kebebasan sejati saat dia melakukan peran yang diberikan Tuhan sebagai penolong, bergantung pada pria yang sudah Tuhan berikan dan tunduk padanya. Dia akan membalas dengan kasih, melindungi, dan memenuhi kebutuhannya. Tuhan merencanakan peran pria dan wanita untuk menunjukan hubungan antara Kristus dan gereja. Dia minta agar kita memuliakan Dia dengan menerima peran kita dengan sukarela dan menjalankannya dengan setia.


1 Genesis 1:27, KJV.

2 Matthew 19:4, TLB.

3 Ephesians 5:23-25.

4 Ephesians 5:32, KJV.

5 Ephesians 5:23-25, TLB.

6 Ephesians 5:23, KJV.

7 Galatians 3:28, KJV.

8 Matthew 20:28.

9 cf. 1 Thessalonians 5:12; 1 Timothy 5:17; Hebrews 13:17.

10 1 Corinthians 11:3, KJV.

11 1 Peter 3:7.

12 Genesis 3:16, TLB.

13 1 Timothy 3:4, 5.

Related Topics: Christian Home, Marriage, Love