Where the world comes to study the Bible

“Tapi yang terbesar dari semuanya …”

Elemen terpenting dalam keluarga Kristen yang bahagia adalah kasih, tapi kenapa banyak orang berpikir kasih bukan bentuk tertinggi dari kasih itu. Baik eros, suatu perasaan yang diinspirasi oleh sesuatu yang menarik dalam objeknya, atau philia, suatu rasa persahabatan. Perasaan ini bisa menopang suatu hubungan untuk sementara dan mungkin membawa suatu kebahagiaan dalam tingkatan tertentu, tapi jika suatu pasangan bercita-cita mendapat sukacita yang tetap dalam penikahan maka mereka membutuhkan agape, kasih Tuhan. Agape tidak mencari apa yang bisa didapat, tapi mengejar apa yang bisa diberikan, dan terus memberi bahkan walau tidak ada balasan.

Saat Roh Kudus mengontrol hidup kita dan menyatakan agape melalui kita, jelas elemen eros dan philia tetap ada dalam hubungan pernikahan kita. Kita tetap menghargai ketertarikan terkasih kita dan ekspresi fisik dari mereka. Kita mendapat kepuasan dari kebersamaan, suatu hati yang dekat, emosi dan kehendak. Tapi kasih kita tidak lagi bergantung pada menariknya pasangan kita, juga dari kepuasan yang kita dapatkan. Sumber kasih kita yang terus bertumbuh adalah Tuhan sendiri. Dia menguduskan eros dan philia dan membuat mereka berarti dan berharga. Hidup menjadi seimbang dan indah, dan kebahagiaan dari Tuhan memerintah dalam rumah kita.

Rumah seperti apakah yang terjadi saat suami dan istri dipenuhi oleh Roh, dan agape dinyatakan? Jawabannya terdapat dalam 1 Korintus 13. Setiap pemunculan kata “kasih” dalam pasal ini diterjemahkan dari kata Yunani agape. Pasal ini mengandung penjabaran kasih daripada definisinya; itu menunjukan pada kita bagaimana agape bertindak. Walau agape sejati berkaitan dengan setiap objek kasih, seperti Tuhan sendiri, orang percaya lainnya, anak kita dan dunia yang terhilang, kita akan membatasi aplikasi dalam bab ini hanya pada hubungan suami istri.

(1) “Kasih Mau Menderita.” Itu sabar, lambat marah, lambat membalas, lambat tersinggung. Kasih sejati membuat kita mampu menanggung dengan sabar dengan orang yang kita kasihi saat mereka salah, menyerang, atau mengkritik kita. Itu lambat membela diri atau membalas. Seorang yang mengasihi mau menjadi keset kaki, membiarkan orang yang dikasihi melangkahi dia tanpa permusuhan, mengasihani diri, atau pernyataan sarkastik.

Sebagian orang akan menjawab, “itu bukan kasih; itu cara yang menyakitkan. Saya pasti hancur jika melakukannya.” Sebaliknya, itulah cara kita menunjukan pada orang yang kita kasihi kalau kita benar mengasihi mereka; saat mereka yakin akan hal ini, mereka akan mulai merespon seperti itu juga, karena kasih menghasilkan kasih. Memaksakan hak kita dan menyerang balik saat mereka salah pada kita hanya akan menambah masalah, dan itu akan menghasilkan kehancuran. Kita tidak bisa tidak menjadi keset kaki jika situasi menuntut seperti itu. Beberapa orang akan protes, “Tapi anda tidak kenal istri/suami anda; dia akan terus mengambil keuntungan dari saya; melangkahi saya dan menyukainya.” Tapi tunggu sebentar. Apakah anda meragukan Firman Tuhan yang kekal? “beri dan itu akan diberi.” “Apa yang ditabur, itu juga yang dituai.” “Kita mengasihiNya karena Dia lebih dahulu mengasihi kita.” Percayalah perkataan Tuhan. Terus nyatakan kasihNya, apapun akibatnya, karena Dia menjanjikan kalau itu akan menghasilkan kasih sejati sebagai balasan.

(2) “Kasih Itu Baik.” Ini sisi positif dari prinsip pertama. Kesabaran menjauhkan diri dari reaksi yang provokatif, sementara kebaikan mencari cara yang membangun untuk melakukan hal yang baik pada mereka yang dikasihi tidak peduli bagaimana mereka bertindak. Kebaikan adalah menunjukan penghargaan terhadap hal-hal kecil yang kita sukai dan mengatakannya dengan pujian yang tulus. Sebagian suami dan istri tidak bisa mengingat kapan terakhir pasangan mereka memuji dirinya.

Kebaikan adalah tangan yang menolong, dan itu berlaku untuk suami dan istri. Kebaikan merupakan nada suara, sikap yang menerima atau senyuman. Sebagian suami dan istri jarang bicara kebaikan diantara mereka. Mereka tahu cara bicara dengan nada baik terhadap orang lain, tapi mereka sendiri saling menggeram. Coba perhatikan kebaikan apa dalam rumah anda. Kapanpun anda bicara yang menghasilkan tanggapan negative, tanyakan ini, “Apakah itu baik?” Jika tidak, akui itu pada Tuhan, minta maaf pada pasangan anda, dan minta anugrah Tuhan untuk baik. Itu bisa berdampak besar dalam penikahan anda.

(3) “Kasih tidak Iri Hati.” Kasih tidak cemburu; ini bukan kompetisi dengan orang yang anda kasihi, juga menyakiti saat hanya berada diurutan kedua. Sayangnya, suami dan istri sering saling cemburu. Suami mungkin iri terhadap talenta istri, kemampuan kepemimpinannya, kemampuannya bergaul dengan orang lain, atau pengetahuannya terhadap Firman Tuhan. Istrinya mungkin iri melihat waktu yang diluangkan suami dengan anak-anak, atau perhatian kepada anak saat dia pulang kerja—setelah dia memberi diri seharian untuk merawat mereka. Dia mungkin iri tehadap waktu yang diberikan suami dalam pekerjaan, gereja, atau hal lain yang disukainya. Mereka berdua merasakan gelombang kecemburuan saat ada lawan jenis yang akrab dengan pasangan mereka. Kasih Agape tidak cemburu, dan menuntut diperhatikan sepanjang waktu.

(4) “Kasih tidak memegahkan diri dan Sombong.” Kedua hal itu sama artinya. Kasih itu tidak menggelembung; Tidak membesar-besarkan nilai suatu hal. Itu tidak menganggap diri lebih hebat dari objeknya. Kesombongan sangat halus, apakah itu sombong akan kemampuan, pendidikan yang lebih baik, budi bahasa yang lebih baik, kerohanian yang lebih, atau banyak hal lainnya. Itu merangkak tanpa disadari, tapi hampir selalu nyata dalam prilaku kita terhadap pasangan, menggerogoti hubungan kita sampai hanya sedikit yang tersisa.

Kadang kita merasa bahwa kita telah melalukan suatu yang luar biasa. Kita ingin dipuji, tapi pujian tidak pernah datang. Perasaan kita terluka, dan kita mulai mengulangi apa yang telah kita lakukan untuk mendapat pujian. Ini bukan kasih, karena kasih tidak menyombongkan diri. Mungkin kekurangan kasih yang menahan pujian, tapi setiap kita akan bertanggung jawab pada Tuhan untuk diri kita—bukan pasangan kita.

(5) “Kasih Itu berlaku sopan.” Kasih tidak pernah berlaku tidak pantas, tapi selalu berlaku sopan dan pantas. Saat kita benar-benar mengasihi, kita berusaha melakukan hal kecil untuk menunjukan perhatian kita. Siapapun itu. Kebanyakan istri mendapatkan suaminya jarang membuka pintu mobil atau tindakan yang menunjukan hal yang kasih. Tidak hanya suami saja yang salah. Sebagian istri bereaksi marah saat suami mereka membuat permintaan tidak masuk akan dalam nada yang tidak enak. Istri lain menunjukan ketidak sopanan dengan memotong suaminya yang sedang bicara. Kasih tidak pernah kasar.

(6) “Kasih tidak egois.” Inilah inti kasih yang tidak egois, tidak adanya pengutamaan kepentingan pribadi. Kasih tidak menuntut caranya sendiri atau haknya saja. Hal pelanggaran hak mungkin salah satu masalah umum dalam pernikahan. Semua kita percaya bahwa kita memiliki hak tertentu: hak untuk dihargai, hak untuk melakukan sesuatu dengan cara kita, hak untuk menikmati kenyamanan pribadi, hak untuk memenuhi kebutuhan kita. Saat pasangan kita melanggar hak ini, kita bereaksi dalam kemarahan dan permusuhan. Tapi kesabaran sejati menurut Alkitab adalah kemauan untuk memberikan hak itu kepada orang yang kita kasihi. Sebenarnya, ketika kita sepenuhnya berserah kepada Tuhan, kita dengan sukacita menyerahkan hak kita kepadaNya. Jika kita dengan tulus memberikan semuanya pada Dia, tidak ada yang akan dilanggar. Kita hanya menikmati hak yang Tuhan lihat sesuai dengan kehendakNya. Lihat lagi konflik dengan orang yang anda kasihi, dan anda mungkin melihat beberapa hak anda yang dilanggar. Saat anda mencoba menuntut hak anda, minta kasih karunia dan kuasa Tuhan untuk menyerahkan itu padaNya. Kemudian lihat ketegangan mulai mereda dalam hubungan pernikahan anda.

(7) “Kasih tidak mudah marah.” Tidak terlalu sensitive. Karena itu telah diserahkan pada yang dikasihi, tidak ada yang perlu dikesalkan. Kasih tidak mudah marah, kuat, tidak pemarah. Orang yang terlalu sensitive merupakan pasangan yang buruk; mereka butuh dipimpin Roh Tuhan untuk memberikan mereka kemenangan dalam hal ini jika mereka berharap menemukan kebahagiaan dalam pernikahan.

(8) “Kasih tidak memikirkan hal yang jahat.” Kasih tidak terus melihat kesalahan yang dilakukan objek kasih itu. Kasih juga tidak membesarkan kesalahan manusia. Kasih mengampuni dan melupakan; tidak mendendam atau menghitung ! apakah anda pernah melihat kebelakang kehidupan pernikahan anda dan menghitung kesalahan yang diperbuat kepada anda? Kita cenderung melakukan ini saat kita ingin berdebat. Tapi itu bukan kasih. Apakah anda pernah membiarkan pikiran anda terus berpikir tentang kesalahan dan kekurangan pasangan anda sampai anda merasa terbalaskan? Kita rawan akan hal ini setelang terjadi perdebatan yang panas. Tapi ini juga bukan kasih. “Jangan pikir hal yang buruk” juga menghilangkan kritik yang terus menerus dan ketidak setujuan yang sering ditujukan pada pasangannya. Itu memerlukan disiplin yang dimampukan oleh Roh untuk menghentikan kebiasaan yang buruk ini jika anda sudah jatuh kedalamnya, tapi anda tidak akan meneruskannya jika anda benar-benar kasih. Sebagai permulaan yang baik anda bisa menuliskan daftar hal yang baik dari pasangan anda. Bacakan itu setiap kali anda dicobai untuk mencari kesalahan. Tuhan bisa menggunakan itu untuk mengubah prilaku anda secara dramatis.

(9) “Kasih tidak senang dengan ketidakadilan, tapi bersukacita dalam kebenaran.” Pernyataan ini mengarah pada kepuasan jahat yang kita rasakan saat seseorang yang melukai kita tertangkap melakukan sesuatu yang salah. “Dia pantas mendapatkan hal itu” merupakan reaksi kita yang tidak berperasaan. Pernyataan itu juga bisa pada terjadi pada saat kita menyombongkan kelemahan pasangan kita untuk membenarkan diri. Sebagai contoh, kita mungkin meninggikan diri terhadap kesalahan yang dilakukan pasangan kita. Kita menekankan hal itu dengan, “lihat; kamu juga tidak sempurna!” Kasih tidak bersukacita saat kesalahan dibuat, tapi saat kebenaran dan hal dilakukan.

(10) “Kasih menanggung semua hal.” Kata “menanggung” diterjemahkan secara literal “menutupi, melewati dalam diam, menjaga tetap rahasia.” Kasih tidak mengumumkan kesalahan seseorang, tidak merendahkan orang yang dikasihi dengan menunjukan kelemahan dan kegagalan dihadapan orang lain. Walaupun hal ini merupakan olahraga diluar ruangan yang disukai beberapa pasangan, itu bukan kasih. Kasih menjaga hal ini tetap rahasia.

(11) ‘“Kasih percaya semua hal.” Ini tidak berarti kasih itu mudah ditipu, tapi tidak curiga, meragukan dan salah percaya. Kasih sejati menghilangkan hal ketiga: “dimana kamu? Apa yang kamu perbuat? Dengan siapa kamu? Kenapa tidak pulang lebih cepat?” beberapa wanita protes saat mereka mendengar kasih percaya semua hal. “Tapi dia sudah sering berbohong; Saya tidak bisa percaya lagi.” Mungkin anda tidak bisa percaya dia, tapi anda bisa percaya Tuhan akan menggunakan kasih anda dan kepercayaan anda untuk mengubah hidupnya. Kasih terus percaya.

(12) “Kasih mengharapkan semua hal.” Kasih tidak membesarkan masalah untuk membenarkan penghentian. Kasih tidak pernah menyerah berharap, tidak pernah putus asa. Kasih tetap berjalan.

(13) “Kasih sabar terhadap semua hal.” Konsepnya adalah tahan menderita suatu penyerangan. Kasih bertahan terhadap setiap badai penderitaan atau penganiayaan. Kasih menerima setiap pukulan dan tetap kembali untuk berjuang—dengan sukacita!

(14) “Kasih tidak pernah gagal.” Kasih tidak pernah hancur, tidak pernah berhenti. Selama Roh Tuhan mengatur kehidupan kita Dia terus menghasilkan kasih dan kita terus menyatakan hal itu! Jika kita berhenti, kita tahu kalau Roh Tuhan tidak lagi mengatur, karena kasih Tuhan tidak pernah berakhir.

Saya berharap anda bisa mendengar bagaimana Karena menggambarkan bagaimana Firman Tuhan bekerja dalam hidupnya. Suaminya, Bruce, telah bertumbuh dalam gereja dan mengakui Kristus sebagai Juruselamat, tapi dia tidak pernah menunjukan kenyataan rohani itu dalam tindakannya. Setelah Karen dan Bruce menikah hal berubah dari buruk menjadi lebih buruk. Bruce mulai mabuk berat, keluar sepanjang malam, membuang uang mereka, dan tidak memperlakukan Karen dan anaknya dengan baik.

Setelah hal ini berlangsung lama. Sahabat Karena memohon agar dia meninggalkan Bruce untuk kepentingan anak dan kesehatan mental dan fisiknya. Bagaimanapun, dia menolak, karena dia yakin Tuhan akan mengubah suaminya. Dia menyerahkan haknya untuk menikmati suami yang kasih dan pengertian, dan minta Tuhan memenuhi dia dengan kasih dan kebaikan yang lebih besar kebalikan dari kekejaman yang dia alami. Dia tetap percaya dan berharap.

Setelah beberapa tahun kemudia saat saya duduk dalam ruang tamu mereka dan mendengar cerita mereka. Bruce sekarang seorang suami, ayah dan pemimpin rohani yang bisa diandalkan dalam rumah dan digereja. “Apa yang membuat perubahan ini?” saya bertanya. “Ada beberapa factor,” dia menjawab. “Tuhan menggunakan setia penginjil yang datang untuk menyelesaikan keputusan ini. Tapi pengaruh terbesar adalah Karen—keinginannya untuk tetap bersama saya dan menanggung semua penderitaan yang saya buat terhadapnya. Saya tahu dia benar-benar mengasihi saya. Kasih yang membuat saya sadar.”

Rasul Paulus menyimpulkan kotbahnya tentang kasih dengan 3 sifat orang Kristen—iman, pengharapan, dan kasih. Seharusnya tidak mengagetkan kalau pernyataan terakhirnya adalah, “tapi yang terbesar dari semua itu adalah kasih.”1 Inilah agape—inilah kasih Tuhan—merupakan hal terbesar dalam dunia. Ini bisa mengubah rumah kita dan membuat semua yang kita impikan jadi kenyataan. Tapi itu semua tergantung pada kita—pada kemauan kita mengijinkan Roh Tuhan menghasilkan kasih ini dalam hati dan kehidupan kita.


1 1 Corinthians 13:13.

Related Topics: Christian Home, Marriage, Love