MENU

Where the world comes to study the Bible

8. Dewan Pendidikan

Tidak peduli seberapa menyenangkan kita membuat hal itu agar anak mentaati kita, akan ada waktu dimana mereka melanggar batas dan menjalani keinginan mereka. Kemudian apa yang harus kita lakukan? Sekali lagi kita melakukan hal yang sama seperti Tuhan lakukan. Kita membawa mereka kembali kejalan yang benar. “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Heb. 12:5-6, NASB).

Kita sudah mempelajari kata “disiplin” sebelumnya. Kata itu juga digunakan dalam Ephesians 6:4 yang berarti mendidik, atau membimbing anak kearah tujuan, dan koreksi, atau membawa mereka kembali saat tersesat. Koreksi dari Tuhan merupakan maksud penulis Ibrani dimana Tuhan memukul anak yang dikasihinya. Itu tidak terdengar menyenangkan bukan? Lebih jauh dikonteks yang sama kita membaca, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita” (Heb. 12:11a, NIV).

Disini kembali prinsip motivasi Tuhan dalam mendidik anaknya. Dia membuat hal itu menyenangkan bagi mereka yang taat padany dan tidak menyenangkan bagi yang tidak taat, mengetahui kalau mereka memiliki kecenderungna untuk berubah karena tekanan. Kata “memukul” menyatakan pada kita betapa Tuhan bisa membuat hal itu tidak menyenangkan. Secara literal itu berarti mencambuk atau memcut. Tuhan memukul setiap anakNya tanpa kecuali. Sebagian mungkin protes, “tapi misalkan semua orang tidak memerlukannya?” Kenyataannya setiap anak Tuhan memerlukannya, atau Tuhan tidak melakukannya. Dan jika setiap anak Tuhan perlu dipukul, jelas setiap anak kita juga memerlukannya.

“Tapi memukul? Itu cara lama,” kata pengkritik. Psikolog modern dan pendidik berkeras kalau ada cara yang lebih baik mengkoreksi anak. Salah seorang”ahli” yang pernah saya baca berkata pada anaknya untuk lari kalau dia memukulnya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk menghentikan metode koreksi yang sudah dibuktikan waktu ini. Sebagian mengatakan itu mengajarkan anak cara bodoh dan tidak bisa diterima dalam mengatasai masalah. Itu menunjukan pada dia kalau dia harus memukul saat dia marah.

Saya mengenal sebagian orangtua tidak pernah memukul anak mereka sampai hampir gila, tapi Alkitab tidak pernah berkata kita harus mengkoreksi dalam kemarahan. Kenyataannya, berlawanan: “Tuhan memukul orang yang dikasihinya.” Jika kita mengkoreksi dengan tenang seperti Tuhan, tidak ada bahayanya mengajarkan anak kita cara bodoh. “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya” (Prov. 22:15, KIV). Kata tongkat, bisa kita sebut cambuk. Seseorang pernah berkata bahwa hampir semua hal dalam keluarga modern diatur dengan cambuk kecuali anak-anak. Mungkin ditinggalkannya Alkitab merupakan sebab masalah yang kita hadapi.

Saat anak kita yang pertama masih kecil dia menerima mainan murah yang disebut Fli-Back. Itu terdiri dari kayuhan kayu dan bola karet kecil yang saling terkait melalui kaitan karet panjang. Caranya adalah dengan mengenai bola dengan kayuah saat karet membuatnya kembali. Anak kami tidak bisa menjalankan itu dengan baik, dan setelah karetnya putus, menjadikan mainannya tidak berarti –sebagai mainan itu jadi tidak berarti. Tapi satu hari, kami menemukan cara baru menggunakan mainan itu. Itu menjadi pembujuk yang baik dan aman. Kami menemukan dewan pendidikan kami, dan telah melayani dengan baik dikeempat anak kami saat mereka ditempat duduk untuk belajar. Anehnya, teman anak kami terus memberikan Fli-Backs sebagai koleksi mainan dihari ulangtahun, sampai kami bisa meletakan satu mainan disetiap ruangan. Saya mengakui, itu menjadi hadiah yang dibuka dengan perasaan bercampur.

Para “ahli” berkerut mendengar hal itu. Mereka berkata bahwa menggunakan mainan itu akan merintangi perkembangan kepribadiannya. “Jangan menekannya. Dia butuh mengekspresikan dirinya. Pembatasan kebebasan melakukan dan bicara apa yang disukainya bertindak sebagai katub pengaman yang membebaskan tekanan yang ada. Biarkan dia sendiri dan itu akan menjadi baik.” Alkitab memiliki cara pandang berbeda tentang membiarkan anak sendiri. “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya” (Prov. 29:15, KIV). Saya mengenal para ibu yang baik yang malu terhadap apa yang dilakukan anaknya. Mereka mungkin mengikuti nasihat beberapa “ahli” modern daripada Firman Tuhan yang tidak bisa salah dan meninggalkan anaknya melakukannya sendiri, menjadi terlalu takut atau lelah menghadapi tantangan untuk membatasi anak dengan tongkat.

Mereka yang menolak memukul mengatakan bahwa itu bertentangan dengan perkembangan kesadaran anak. Daripada menolak tindakan yang salah itu, dia terus melakukannya, karena tahu dia bisa membayarnya dengan pukulan. Mereka berkeras bahwa sebagian anak menjadi nakal untuk dipukul karena mereka tahu mereka patut mendapatkannya. Jika demikian maka anak-anak kita tidak pernah dipukul sesuai dengan cara Alkitab. Anda sudah tahu bahwa saya berusaha menghindari kata hukuman dalam pembahasan ini. Kata itu berarti pembalasan, memberikan apa yang seharunya didapat saat kesalahan dibuat anak, akibat yang harus dibayar karena kesalahannya. Tuhan tidak menghukum anaknya. Dia menanggung hukuman dosa kita atas Yesus Kristus Christ (Isa. 53:4-6). Semua hutang dibayar dikalvaru dan kita telah ditebus dari semua dosa kita (Col. 2:13). Tidak ada lagi yang harus dibayar. Hukuman tidak pernah diperuntukan untuk orang percaya. Itu untuk mereka yang menolak pengorbanan Kristus bagi dosa (cf. 2 Thess. 1:7-9).

Tapi Tuhan memang mengkoreksi anaknya. Kita bisa mengatakan membuat jera anaknya, karena itu berarti pengaruh dari tindakan disiplin. Tangannya yang membuat jera tidak bermaksud membuat kita membayar, tapi membuat kita kembali, mengembalikan kita kejalan yang benar, menolong kita belajar apa yang benar dan salah, dan mendorong kita memilih yang benar. Dengan kata lain, itu produktif. Seperti kata penulis Ibrani, “Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Heb. 12:11b, NIV).

Banyak orangtua mengakui menggunakan disiplin dalam rangka pembalasan. Pemikirannya, “kamu tidak jujur, jadi harus membayar akibatnya.” Setelah mereka memukul anak mereka, mereka pikir sudah impas. Tapi itu bukan cara Tuhan. Dia tidak tertarik dengan itu tapi dalam hidup kudus. Tujuannya bukan meminta bayaran tapi menolong kita ingat jalan yang benar. Melakukan itu dengan tujuan yang benar, memukul tidaklah mengganggu perkembangan anak. Itu menajamkan.

Satu kesempatan setelah anak pertama kami sudah cukup umur untuk duduk diam digereja dan mendengarkan, istri saya dan saya membawa dia untuk mendengar pembicara yang sudah kami kenal lama. Steve tidak seperti biasanya sangat melawan dan tidak mau bekerja sama malam itu. Kami mencoba menenangkannya dengan pensil dan kertas, gambar dari dompet kami, dan semua taktik yang sudah kami pelajari digereja. Tapi dia berkeras dan melawan sehingga menyebabkan gangguan. Itu merupakan salah satu kejadian yang jarang terjadi dimana saya duduk bersama anak dan istri saya daripada bicara sendiri. Dan itu juga peristiwa yang jarang sebagai orangtua muda saya melakukan hal yang benar. Saya dengan tenang mengangkatnya dan membawanya keluar, kemobil. Setelah beberapa saat berdiskusi tentang prilaku yang pantas, saya mempraktekan disiplin yang Tuhan ajarkan. Kemudian saya mengangkatnya saat tangisannya mereda, meyakinkan dia kalau saya mengasihinya dan menjelaskan kalau saya ingin dia mengingat bagaimana bersikap dalam gereja. Setelah itu berakhir kami berjalan kembali kegereja bergandeng tangan, lebih dekat dari sebelumnya. Itu suatu pelajaran yang tidak bisa kami berdua lupakan, dan yang menajamkan kemampuannya menyerap apa yang dikatakan dimimbar.

Sebagian orang mungkin bertanya, “tapi bukankah itu dimotivasi dari ketakutan? Bukankah dia tidak melakukan itu lagi karena takut dipukul?” Menurut saya tidak. Rasa takut digunakan dalam cara yang berbeda dalam Alkitab. Itu bisa menunjuk pada emosi yang melumpuhkan dan terror, atau menunjuk pada rasa hormat yang sehat. Orang tidak percaya memiliki banyak alasa untuk takut pada Tuhan, dengan ancaman. Walau orang percaya juga dinasihati untuk takut akan Tuhan (Psa. 34:9, KJV), itu merupakan rasa takut yang berbeda. Tidak ada kekhawatiran atau ketakutan yang berhubungan dengan itu karena dibungkus dalam kasih. Rasul Yohanes membahas hubungan orang percaya dengan Bapa disurga: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 John 4:18a, TLB).

Anda lihat, ketakutan seperti itu tidak menakutkan. Itu rasa hormat. Rasa hormat yang baik. Itu yang harus dirasakan orang percaya terhadap Tuhan, dan itu bumbu yang penting dalam hubungan orangtua-anak. Orangtua yang kasar dan menghukum akan memerintah dengan terror, dan memunculkan kekhawatiran neurotic. Tapi orangtua yang mengkoreksi dalam kasih mengembangkan rasa hormat anak, dan membangun dalam hidupnya keinginan untuk mau taat dalam rasa hormat dari kasih itu.

Sebagian orangtua tetap memprotes, “tapi saya terlalu mengasihi anak saya sehingga tidak bisa memukulnya. Itu terlihat kejam.” Itu salah satu kebohongan iblis. Tuhan mengatakan sebaliknya. “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Prov. 13:24, NASB). Mereka menyebut itu kasih saat mereka menolak mendisiplin anak mereka. Tuhan menyebut itu kebencian. Jika mereka memang mengasihi dia, mereka akan memastikan kalau dia sudah belajar mendisiplin jiwanya, mengetahui kalau disiplin diri akan berdampak pada kemampuannya mendapat pendidikan, pekerjaan, pernikahan yang sukses, bergaul dengan orang lain, dan berfungsi dengan baik dalam seluruh sisi hidup. Koreksi yang dilakukan dalam kasih tidak menghancurkan jiwa anak, dan jiwa yang terkontrol merupakan elemen yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan yang berhasil. Koreksi memberik kepastian pada anak kalau anda cukup mengasihi dia sehingga peduli terhadap keberhasilan hidupnya. Menghindari hal ini memberikan anak alasan yang baik untuk meragukan perhatian kasih anda, mungkin meragukan kalau dia berasal dari anda. Penulis Ibrani meneguhkan prinsip itu: “Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang” (Heb. 12:8, NASB). Orangtua yang menolak memukul anaknya adalah kejam.

Bukannya kejam, memukul sebenarnya bentuk koreksi yang paling baik. Itu jelas lebih berbelas kasih daripada merengek, dan mengancam sehingga menghancurkan rasa hormat. Itu lebih belas kasih daripada berminggu-minggu tidak diperhatikan bagi seorang anak. Tentu saat itu tidak enak. Tuhan mengatakan itu (Heb. 12:11). Tidak enak bagi mereka yang melakukannya dan tidak enak bagi yang meneriman. Jadi jujurlah. Itu bukanlah kasih kalau menjauhkan kita dari Firman Tuhan. Itu keinginan egois untuk menghindari ketidaknyamanan. Saat kita menyadari keegoisan kita membuat kita lebih tidak enak dalam jangka panjang, kita mulai mendidik anak dengan cara Tuhan.

Setelah dikatakan dan dilakukan, sebagian orangtua tetap takut kalau memukul hanya membuat anak lebih memberontak, mungkin itu akan membuatnya menjauh dari Tuhan. Tuhan berkata, “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati” (Prov. 23:13, 14, NASB). Itu semua harus dilakukan apakah anda percaya atau tidak perkataan ini dari Tuhan. Mereka yang melakukannya tahu kalau ini benar.

Jadi, jika ini metode Tuhan, kenapa banyak orangtua merasa tidak nyaman terhadap hal itu, dan merasa bersalah setelah melakukannya? Salah satu alasan mungkin berkaitan dengan strategi setan. Dia membuat Firman Tuhan dipertanyakan sejak Genesis 3:1, “apa itu perkataan Tuhan?” Dia ingin anak kita tidak dididik, jadi dia menanamkan benih keraguan dalam pikiran kita tentang mendidik mereka dalam cara Tuhan.

Tapi itu bukan satu-satunya alasan dari rasa bersalah. Orangtua seharusnya merasa bersalah saat mereka memukul anak mereka dalam kemarahan, tanpa kasih. Kasih tidak hanya apa yang kita katakan atau tindakan, tapi itu prilaku yang anak rasakan. Dan mereka jelas tidak merasa dikasihi saat kita menunjukan wajah menakutkan, saat kita kehilangan control emosi, dan tindakan kita merusak daripada memperbaiki. Kasih dikomunikasikan melalui kebaikan, ketenangan dan kontrol.

Kita juga merasa bersalah saat kita memukul untuk alasan yang salah. Kadang kita memukul karena kita marah terhadap ketidaknyamana yang disebabkan anak kita. Kita harus membersihkan lantai atau mengambil gelas yang pecah, dan itu mengesalkan kita. Apakah anda senang Tuhan tidak mendisiplin anda karena kecelakaan, kesalahan, atau karena tidak ingat? Kita perlu mengajar anak kita untuk hati-hati, tapi kalau itu seperti menumpahkan sesuatu dengan tidak disengaja, itu tidak layak dipukul.

Kita mungkin tidak perlu memukul anak karena keingintahuannya yang alami, keinginannya untuk menyentuh sesuatu. Lebih baik meletakan sesuatu yang kita tidak ingin dia sentuh diluar jangkauannya. Saya takut beberapa orangtua menggoda anak mereka dengan meninggalkan barang yang mahal berserakan dimana-mana. Kita berarti mendorong ketidaktaatan dengan berkata pada anak kecil, “jika kamu menumpahkan pudding itu, kamu akan dipukul.” Anda telah membangkitkan nature lama untuk bertindak, dan bahkan mendorongnya melakukan itu. Lebih baik menyingkirkan pudding dari tempat itu. Ada banyak kejadian dimana kita membuat anak tidak taat melalui hal seperti diatas. Saya percaya Tuhan khawatir jika kita menggunakan semua maksud kreatif untuk membuat anak tidak taat.

Memukul anak karena menggigit kuku atau mengisap jempol merupakan tindakan mengalahkan diri sendiri. Itu hanya meningkatkan ketegangan yang ada. Kita seharusnya tidak memukul karena prilaku yang tidak biasa disebabkan oleh kelelahan atau sakit. Juga karena anak tidak mampu melakukannya, seperti duduk diam selama perjalanan yang sangat lama dimana dia masih sangat kecil.

Kadang prilaku pemberontakan anak muncul dari ketakutan atau ketidaknyamanan. Jika dia merasa terancam atau tidak dikasihi, lebih baik bagi kita untuk mendengar dengan sabar dan mencoba mengerti perasaannya daripada memukulnya. Pemukulan hanya membuat rasa terancam dan tidak dikasihi lebih parah. Pemukulan seharusnya dilakukan untuk pemberontakan langsung terhadap otoritas, ketidaktaatan yang sengaja dari perintah kita, atau prilaku keras kepala, tidak ada yang disebabkan oleh mengurangi kesalahan karena situasi. Itu membutuhkan orang Kristen yang dipenuhi Roh yang berjalan dengan Tuhan dan memiliki hikmat untuk mengetahui kapan harus memukul.

Kita juga merasa bersalah memukul karena kita terlalu kasar. Jika kita menjadi sangat marah maka kita memukul lebih kuat dari seharusnya. Rasa bersalah mungkin cara Tuhan memperingatkan kita akan kerusakan yang kita lakukan baik terhadap mereka dan anda. Buatlah koreksi pas dengan kejahatan jika anda ingin menikmati nurani yang tenang dihadapan Tuhan. Kadang kita melakukan hukuman yang tidak layak dalam kemarahan penuh. Jangan takut mengatakan, “maaf,” kemudian tegaskan hal itu.

Kita juga harus menambahkan kalau ada maksud efektif lain disamping memukul. Tuhan tidak memberi contoh dan tidak ada alasan melakukannya. Alkitab menekankan tongkat tidak menghilangkan metode koreksi lain. Pribadi yang berbeda dan tingkatan respon membuat pendekatan berbeda. Jika Johnny kehilangan tricycle beberapa hari lalu karena dia berkeras mengendarainya dijalan, dia akan belajar batasan yang ada. Jika dia mendapatkan dirinya kemudian diisolasi dalam kamarnya setiap kali menggoda adiknya, dia mungkin memutuskan kalau menggoda merupakan prilaku yang tidak mengguntungkan dan membuangnya.

Remaja lebih baik diberi disiplin yang berbeda. Ada saatnya memukul hanya memperkeras dan memedihkan orang muda, dan metode koreksi lain menjadi lebih efektif. Dengan kata lain, mungkin pendisiplinan sudah terlambat. “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” (Prov. 19:18, TLB).

Penegasan dengan kata-kata mungkin sudah cukup dikejadian tertentu, tapi itu harus dilakukan dengan kasih. Lupakan menguliahi dengan kemarahan dan semua ancamannya. Itu hanya menghasilkan pemberontakan. Anak-anak sadar ancaman itu kosong, dan mereka tahu semua maksud kata-kata itu. Lakukanlah dengan cara Tuhan. Itu tidak selalu cara yang mudah, tapi itu menolong anda mengkoreksi dengan baik, tenang, dan kasih –tapi langsung dan tegas. “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Prov. 29:17, TLB).

Related Topics: Christian Home