Where the world comes to study the Bible

Bukan Kehendak-Ku, Melainkan Kehendak-Mu yang Jadi!

Related Media

Penerjemah: Yoppi Margianto

Kehendakku Mungkin Saja Buruk

Saya senang menemani anak-anak saya dalam kegiatan ekstra kurikuler mereka. Saya sangat antusias memperhatikan mereka belajar dan berkembang, dan untuk menghibur mereka—ini adalah waktu luang yang paling saya rindukan. Saya memperhatikan mereka berenang, bermain hoki, mengendarai kuda, latihan beladiri, dll. (Saya punya empat anak, sehingga banyak sekali kegiatan yang harus saya hadiri). Sungguh itu merupakan suatu sukacita bagi saya.

Suatu kali, saya mengikuti kelas beladiri anak saya, dan dari dekat saya memperhatikan dengan seksama ia mempelajari beberapa teknik yang baru untuk menahan serangan musuh, melalui tendangan dan lain-lain. Sebelumnya memang ia telah meminta saya untuk mengambil tempat duduk yang terdekat, karena ia akan mempelajari beberapa “gerakan” yang baru. Pertunjukan sabuk hitam tersebut sangat mengesankan, namun yang lebih mengesankan bagi saya adalah bagaimana anak saya begitu maju kemampuannya dalam membuat gerakan-gerakan yang sulit. (Saya tidak sedang menyanjung sebagai ayahnya lho!)

Sementara saya duduk di sana, tidak jauh dari situ, sambil menikmati beberapa kegiatan di lantai gym, seorang anak berusia 3 atau 4 tahun mulai merengek meminta sesuatu kepada ibunya. Ibunya berkata, “Tidak,” dan matanya diarahkan kembali kepada anaknya yang lain yang sedang berlatih keras Tae Kwon Do. Tetapi ternyata “tidak” bukanlah jawaban yang tepat. Dapat Anda membayangkannya? Sekali lagi sang ibu memberikan anaknya yang kecil itu jawaban “tidak”, tetapi tampaknya sang anak tidak mempedulikan.

Dalam hitungan detik, bencana pun terjadi. Dengan mantap—di dalam jeritan dengan desibel yang terus naik karena semua anak kecil pasti tahu bahwa para orangtua biasanya tuli—anak itu memohon dengan sangat untuk keinginan hatinya, yakni, mainan anak yang lain. Sekali lagi, tetapi kali ini seperti halilintar yang menyambar, keluar lagi respons yang tegas, “Tidak!” “Ada apa dengan kamu? Apakah kamu tidak mengerti bahasa Inggris?” Sang ibu mengingatkan anaknya bahwa mainan itu bukan miliknya, melainkan milik orang lain.

Sang anak berlari ke tangga, menjerit, berteriak sekuat-kuatnya, tampaknya ia telah terlatih untuk itu. Sungguh luar biasa suara yang diciptakan oleh seorang anak kecil! Ia berguling-guling di lantai, berputar-putar, menolak jawaban “tidak” tadi. Sang ibu menjadi sangat malu untuk memberikan jawaban itu lagi. Wajahnya tiba-tiba menjadi penuh dengan warna, yang berubah-ubah seperti warna daun-daun di musim gugur di New England. Saya ingin membantu, tetapi saya takut keterlibatan saya itu malah akan membuat kejadian menjadi lebih buruk. Beberapa orangtua yang peduli pun hanya dapat memandang tanpa daya. Yang lain hanya memperhatikan apa yang akan terjadi kemudian. Apakah kami akan menjadi saksi suatu peristiwa pembunuhan? Yang lainnya lagi—yakni para wanita yang baik hati dan penuh perhatian—berinisiatif melakukan operasi penyelamatan. Saya rasa mereka mengetahui lebih baik daripada orang lain, tentang penderitaan sang ibu.

Peperangan itu terus berlanjut beberapa saat lamanya, Tetapi, sang ibu pun tidak dapat mengubah suasanan. Anak itu terus menjerit sampai terbatuk-batuk. Sang ibu pun pergi sambil menarik anaknya ke balik pintu. Saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian pada anak itu… saya tidak tahu apakah saya akan melihatnya lagi…

Tepat setelah pintu tertutup, seorang pria berjalan ke arah saya dan duduk di sebelah saya. Ia mengucapkan kata-kata sindiran tentang cara ibu tadi mengatasi masalah dan menjamin saya bahwa jika itu terjadi dengan anak-nya, pasti tidak seperti itu. Ketika ia menyadari bahwa saya tidak memujinya untuk hikmat yang ia miliki—karena saya sedang memikirkan ibu yang malang tadi—dengan cepat ia mengalihkan pembicaraan. Saya tidak bermaksud untuk menjadi orang yang acuh, tetapi sungguh-sungguh saya tidak ingin berbicara saat itu, karena saya sedang memfokuskan perhatian saya pada anak saya dan menunjukkan kepadanya bahwa saya memperhatikan setiap gerakannya yang hebat.

Pria di sebelah saya terus berbicara, kali ini tentang politik. Pertama ia memberikan kuliah tentang perang Irak, dan mengapa seharusnya perang itu ditanganani secara berbeda. Tampaknya ia memiliki segala maca jawaban untuk persoalan politik luar negeri A.S. Seandainya pemerintah mencari nasihat kepada orang ini…

Namun, ia kecewa dengan Pemerintah dan bahkan lebih kecewa lagi dengan kurangnya keterlibatan Kanada di Irak. Saya membuat sedikit saja komentar yang akhirnya ia kritik juga sebagai pernyataan yang tidak relevan dan keluar dari topik—meskipun saya tidak menyanggah pendapatnya tentang Kanada. Sejak itu saya berusaha bersikap lebih baik, mengangguk setuju dengan kata-katanya, padahal saya hanya berpura-pura mendengar. Saya berusaha untuk memperhatikan anak saya namun pria ini membuat situasi menjadi jauh lebih parah daripada kejadian ibu dan anak barusan. Seandainya saya bisa memilih di antara keduanya… Anda pasti tahu jawaban saya…

Kedua, ia mulai berbicara tentang agama, agama apa saja. Ia sangat marah dengan gereja Katholik, memaki-maki Paus, mengatakan bahwa ia dan agamanya tidak lebih daripada “mesin pencetak uang”. “Mereka ada hanya untuk menguras saku Anda,” kritiknya, “padahal, apa yang telah mereka lakukan untuk saya?” Namun ia cepat menambahkan, bahwa dia juga masih seorang Kristen sejati. Lalu ia mengatakan lagi, terdapat tiga jenis manusia yang pasti akan dilempar ke neraka: (1) politikus; (2) semua atlet profesional, dan, tentu saja (3) pengacara (Malang nian nasib pengacara!). Ia berkata bahwa mereka semua memiliki satu kesamaan: suka mencuri, menipu, dan memperkaya diri dari orang lain. Ketika saya menanggapi bahwa ia tidak menyebutkan satu jenis dosa, melainkan tiga, dengan cepat ia menjawab bahwa dalam kenyataannya ketiga jenis dosa ini merupakan satu paket!

Apapun yang saya katakan untuk membantunya memahami bahwa saya hanya ingin memperhatikan anak saya, ia tetap memaksa saya untuk memberi perhatian yang cukup bagi jiwanya yang sedang emosi. Seolah-olah ia mencekik leher saya dan memaksa saya untuk memberi telinga kepada permasalahannya, keluhan-keluhannya, dan pendapatnya. Itu merupakan suatu pengalaman yang menyesakkan, sampai rasanya saya sulit menghirup udara.

Mungkin Anda bertanya mengapa saya menggabungkan kisah tentang jeritan seorang anak yang memekakkan telinga dan seorang dewasa yang menjengkelkan. Ini yang hendak saya sampaikan: baik kita berusia tiga atau tiga puluh tahun, permintaan yang berpusat pada diri sendiri adalah sama buruknya! Sungguh! Dan bila kita melakukan hal itu kepada orang lain, pasti kita juga melakukannya kepada Tuhan.

Bukan Kehendakku, Melainkan Kehendak-Mulah yang Jadi!

Pernahkah Anda menghadap Allah dan tanpa malu meminta sesuatu dari keinginan Anda sendiri? Apakah Anda pernah mencekik leher Allah, kalau saya istilahkan, dan meminta-Nya untuk membereskan kehidupan Anda? Pernahkah Anda meminta supaya Ia datang melayani Anda, atau yang lain…? Jangan salah paham dulu. Saya tidak sedang berbicara tentang suatu doa yang terus-menerus, murni dan keluar dari hati. Melainkan saya sedang berbicara tentang suatu pemberhalaan. Saya sedang berbicara tentang, “Pokoknya aku ingin itu. Titik!”

Kita semua pernah—atau barangkali sekarang ini—dengan tangan kita yang kotor, memegang erat anak kita, harta benda, uang, harapan, dan hasrat-hasrat kita, kemudian meminta Allah supaya mendukung agenda kita, dan tak putus-putusnya “mengundang”Nya untuk memberkati ambisi-ambisi kita. Kita semua mirip baik dengan anak kecil itu maupun pria dewasa itu: kita memiliki keinginan kemudian kita meminta-minta kepada orang lain untuk meluluskan keinginan kita, termasuk kepada Allah.

Tetapi sikap seperti ini bukanlah pola kehidupan Kristen yang ditunjukkan Tuhan kepada kita dan yang Ia kehendaki dari kita. Ia menikmati suatu damai sejahtera yang tak tercemar dan tak terputus dalam hubungan dengan Allah, karena ia telah belajar tentang ketaatan melalui penderitaan-Nya (Ibrani 5:8). Ia tidak memalingkan hati-Nya dari Allah dalam suatu permintaan atau kemarahan, melainkan Ia berserah kepada Dia yang mengasihi-Nya. “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena ketaatan-Nya (bahasa Inggris: His reverent submission) Ia telah didengarkan.” (Ibrani 5:7).

Apakah “ketaatan” merupakan pola kehidupan kita? Berdasarkan Alkitab saya berani mengatakan bahwa ini adalah pola yang dirindukan Tuhan untuk dijalankan di dalam kehidupan Anda sekarang, supaya surga tidak menjadi suatu tempat yang aneh bagi Anda di kemudian hari. Neraka penuh dengan keinginan manusia, sedangkan surga penuh dengan kehendak-Nya. Neraka adalah tempat di mana orang bebas untuk melanjutkan pemberontakannya, tetapi ketahuilah dengan pasti bahwa “tidak ada damai sejahtera bagi si jahat.” Surga adalah bagi orang-orang yang telah melewati Getsemani bersama dengan Tuhan mereka dan yang telah mengatakan, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi, ya Tuhan!” Hal yang ganjil tentang ketaatan adalah dalam proses tersebut kita akan benar-benar menjadi manusia sejati. Dan apabila kita menolak untuk tunduk, mengangkat tangan kita terkepal ke udara, maka kita menjadi buruk dan jauh dari manusia sejati.

Sangat luar biasa dan mengguncangkan bumi, ketaatan Tuhan kepada Bapa-Nya seperti yang dinyatakan oleh gereja melalui kisah, pengajaran, puisi, penglihatan dan nyanyian. Barangkali salah satu lagu yang terbaik adalah Himne Kristus di dalam Filipi 2:5-11:

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah

tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu

sebagai milik yang harus dipertahankan,

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri

dan mengambil rupa seorang hamba,

dan menjadi sama dengan manusia.

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia,

Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,

bahkan sampai mati di kayu salib.

2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia

dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

2:10 supaya dalam nama Yesus

bertekuk lutut segala

yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

2:11 dan segala lidah mengaku:

Yesus Kristus adalah Tuhan,

bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Himne tua ini—yang mungkin telah dinyanyikan di dalam gereja sebelum Paulus menuliskannya—adalah tentang penderitaan dan kemuliaan Kristus. Lagu itu dimulai dengan perintah untuk membiarkan semangat dari himne tersebut terserap sampai tulang-tulang Anda, dan untuk membiarkan kehendak Allah bergerak bebas melalui urat darah Anda, bahkan bila untuk itu Anda harus membayar dengan hidup Anda (ay. 5).

Lagu itu dapat dibagi menjadi dua bagian utama, ay. 6-8 dan ay. 9-11, yang bersama-sama membangun tema kembar tentang penderitaan dan peninggian. Di dalam 2:6-8 melodi himne itu memperdengarkan suatu catatan pahit-manis tentang ketaatan Kristus, penderitaan dan pengosongan diri-Nya. Di dalam 2:9-11, himne itu bergulir dengan suara kemenangan, yang mengisi ruangan dengan musik yang manis tentang peninggian Kristus dan kuasa yang diberikan kepada-Nya. Apakah Anda melihat pola itu? Pertama, ketaatan melalui penderitaan, kemudian peninggian yang mulia melalui kuasa Allah.

Apakah Anda memperhatikan pernyataan “bahkan sampai mati di kayu salib” di ay. 8? Tampaknya ini merupakan tambahan dari Paulus sendiri terhadap himne itu dan dengan jelas memfokuskan perhatian kita tidak hanya pada kesediaan Yesus untuk mati, yang menggambarkan suatu kedalaman yang tak terukur akan kesalehan dan kesetiaan-Nya yang tak pernah padam (Ibrani 12:2), melainkan juga kesediaan-Nya untuk menanggung malu dan penghinaan akan salib. Ia dihukum mati sebagai seorang kriminal. Dan kehinaan akan kematian-Nya itu menarik perhatian khusus kepada keindahan yang mulia dan kekuatan dari ketaatan-Nya sebagai seorang Anak di Getsemani. Perang di Golgota telah dimenangkan bukan di bukit itu, melainkan di taman di malam sebelumnya: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi!” Sungguh, apa yang telah hilang di taman (Eden) kini telah kembali—bahkan lebih—juga di taman.

Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu dengan anak itu lagi. Barangkali… bila saya sering pergi ke Tae Kwon Do dojang, mungkin dia akan ada di sana bersama dengan ibunya. Saya juga tidak tahu apakah saya akan bertemu dengan pria dewasa itu lagi. Satu hal yang pasti, Allah telah memakai mereka berdua di dalam hidup saya hari itu. Melalui mereka Tuhan menunjukkan betapa kuatnya hati saya melekat pada mainan saya dan betapa saya hanya ingin untuk didengarkan. Melalui mereka Tuhan memperlihatkan saya keburukan dari dosa dan pemberontakan saya. Barangkali Ia juga memperlihatkan kepada Anda hal yang sama…

Tuhan, terima kasih untuk belas kasih-Mu yang begitu indah dan kasih-Mua yang tak pernah putus. Yesus aku bersyukur karena bukan hanya kematian-Mu menyelamatkan aku, melainkan juga memberikan kepadaku suatu pola kehidupan. Engkau telah memanggilku kepada suatu kehidupan yang dipenuhi dengan jawaban “ya” bagi-Mu dan “tidak” bagi keinginanku sendiri. Maka itu aku menyerah kepada-Mu. Tuhan, apapun yang Engkau ingini, dengan anugerah-Mu akan kulakukan. Aku hanya ingin menyukakan-Mu. Aku mengasihi-Mu Bapa dan aku menyerahkan hatika kepada-Mu. Terima kasih untuk sukacita berjalan dalam hadirat-Mu!

Related Topics: Theology Proper (God), Devotionals