Where the world comes to study the Bible

Tuhan yang Mengatur

Tuhan adalah pencipta dan pengatur alam semesta dan semua yang ada didalamnya, baik yang hidup maupun yang mati. Setiap penggunaan dan perkembangannya merupakan hak kedaulatanNya. Tuhan hanya bertanggung jawab pada diriNya. Dia tidak melapor pada siapapun. Dia tidak diharuskan menjelaskan apapun dari apa yang dikatakan dan dilakukanNya. Dia yang paling berkuasa disemua hal

Kita tidak diharapkan mengerti sepenuhnya tujuan ujian yang kita hadapi sampai Tuhan memanggil kita pulang. Tapi kita tahu kalau Dia begitu mengasihi kita sehingga tidak akan mencelakai kita, dan Dia lebih memperhatikan kesejahteraan kita daripada kita sendiri. Pilihan Tuhan selalu benar. Dia mampu menjalankan sesuatu tanpa salah. Dalam alam semesta ciptaanNya tidak ada yang namanya tidak sengaja atau kebetulan. Karena setiap sebab ada akibat. Tuhan “yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-- supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya (Ephesians 1:11-12). Ya, Tuhanlah yang mengatur.

Sekarang hari Rabu, 14 April, 1982. Sudah 18 hari sejak Elsie mendapat stroke. Ahli saraf meminta saya menemuinya. Saya menunggu berharap dilorong diluar ruang Elsie. Saat dokter muncul, dia mengemukakan pendapatnya dengan singkat..

Kami sedang mengatur untuk memindahkan istri anda kepusat rehabilitasi di San Diego.

Apa yang membuat anda memutuskan ini? Saya bertanya.

Dia terdiam. Saya menangkap sedikit kekhawatiran dalam jawabannya. Saya benar. Dia berkata dengan pelan.

Secara medis, tidak ada yang bisa dilakukan untuk Mrs. Strauss. Dia meletakan tangannya kepundak saya dan menepuknya. “Saya minta maaf.” Katanya, dan berjalan pergi.

Untuk beberapa detik saya berdiri terdiam, pikiran saya kosong. Kemudian saya berjalan pelan keruang Elsie, dan duduk dikursi sebelah tempat tidurnya.

Dia yang bicara pertama kali, “Apa yang dikatakan dokter?

Dia katakan kalau kamu akan dipindahkan kepusat rehabilitasi di San Diego.

Saya memegang tangannya. Kemudian meyakinkan dia untuk tidak takut karena Tuhan yang mengatur.

Tapi apakah saya benar-benar percaya kalau Tuhan yang mengatur semuanya? Pikiran meragukan kemahakuasaan Tuhan menakutkan saya. Tapi, pertanyaan siapa yang mengatur alam semesta sering menghantui kita. Kita sebagai orang Kristen meneguhkan kepercayaan kita dalam kedaulatan Tuhan, tapi iman kita ditantang melalui pergolakan alam, krisis nasional, atau pergumulan pribadi. Kesakitan dan kemiskinan, penyakit dan kematian, penyiksaan dan penderitaan semuanya bisa menyebabkan kita berpikir serius tentang Tuhan sebagai pencipta dan pengatur dunia dimana kita tinggal. Hal itu tidak selalu mudah untuk dipercaya, bahwa Tuhanlah yang mengatur semuanya.

Pada hari Rabu bulan April 1982, iman saya diuji. Disaat itu pikiran saya tidak mampu membela kedaulatan Tuhan. Saat saya memikirkan betapa serius keadaan Elsie, saya menyadari beberapa rencana bahagia pasti dibatalkan. Sejujurnya, saya tidak bisa mengerti alasan Tuhan dari peristiwa ini. Tapi saya tahu kalau Alkitab memuat semua yang perlu diketahui. Tuhan berkata, Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. (Matthew 4:4). Jadi saya langsung mencari pertolongan dari Alkitab.

Kedaulatan Tuhan dan Alkitab

Walau kata berdaulat dan kedaulatan tidak muncul dalam Alkitab versi King James, kenyataan akan kedaulatan Tuhan merupakan pesan penting.

Kata berdaulat datang dari kata Latin super. Itu membawa makna superioritas dan tinggi, utama dan menjulang, tidak tertandingi dan paling hebat. Allah dalam Alkitab adalah kekal dan memang sudah ada. Dia paling unggul dan sempurna. Dia satu-satunya yang memuliki semuanya dan hak serta kuasa untuk memerintah sendiri. Tuhan itu tidak terbatas dan tidak tergantung pada apapun. KemampuanNya melebihi yang bisa dibayangkan manusia.

Setelah Elsie mendapat stroke, seseorang memberikannya buku berjudul Yet Will I Trust Him oleh Peg Rankin. Buku itu tidak teknis dan bukan buku teologia, tapi sangat praktis dan menolong. Itu berisi definisi singkat tentang kedaulatan Tuhan, Tuhan bisa melakukan apapun kehendakNya, kapanpun, dengan cara apapaun, dan untuk tujuan apapun. Semuanya merupakan hak kedaulatannya. Saat Tuhan mengatakan kepada Abraham kalau Dia akan menghancurkan Sodom and Gomora, dia tahu banyak yang akan mati. Dari pernyataan menakutkan itu Abraham berkata, Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil? (Genesis 18:25).

Selain berdaulat, Tuhan juga benar. Ini artinya dia tidak bisa melakukan kesalahan. Jika Tuhan bisa salah, Dia tidak bisa jadi Tuhan. Saat 2 kota dimusnahkan, Tuhan yang mengatur. Dia melakukan apa yang dikehendakiNya, dengan cara yang dikehendaki, dan untuk tujuanNya. Dan dalam melakukan semuanya, Dia pasti benar.

Kitab Daniel ditulis untuk mengajarkan kedaulatan Tuhan atas bangsa dibumi, Baca kutipan ini:

-- supaya orang-orang yang hidup tahu, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, bahkan orang yang paling kecil sekalipun dapat diangkat-Nya untuk kedudukan itu.(4:17)

-- hingga tuanku mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (4:25)

-- hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!. (4:32)

Dan Ia dihalau dari antara manusia dan hatinya menjadi sama seperti hati binatang, dan tempat tinggalnya ada di antara keledai hutan; kepadanya diberikan makanan rumput seperti kepada lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai ia mengakui, bahwa Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu. (5:21)

Dalam setiap bagian diatas digunakan kata “yang Mahatinggi” atau Allah yang Mahatinggi . Kata Ibraninya El Elyon, dan berarti Pencipta langit dan bumi (Genesis 14:22). Roh Kudus membimbing penulis Alkitab untuk menulis kalau Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya (Psalm 24:1; lihat juga 1 Corinthians 10:26, 28). Tuhan mengirim tulah keMesir sehingga umatNya tahu kalau bumi adalah milik TUHAN (Exodus 9:29). Alam semesta diciptakan Tuhan. Melalui Dia semua hal diciptakan dan melalui Dia semua hal ada (lihat Colossians 1:16-17; Hebrews 1:3).

Paulus berkata tentang Tuhan di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Ephesians 1:11). Peradaban naik dan turun. Pemimpin besar memerintah dan turun. Disemuanya itu, Tuhan yang mengatur. Daud berdoa, Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya (1 Chronicles 29:12). Dengan naik dan turunnya penguasa dunia, Tuhan yang mengatur, ya Dia melakukan apa yang dikehendakiNya, didalam waktuNya, dengan caraNya, untuk tujuanNya, dan menggunakan siapapun yang Dia mau.

Demikian juga, kitab Amos mengajarkan kedaulatan Tuhan dalam mengatur surga dan bumi. Bangsa Israel dengan sengaja tidak mentaati Tuhan. Penghakiman Ilahi diberikan dalam berbagai cara: perang, penyakit, dan tulah belalang. Baca pasal 4 dan perhatikan 7 kali Tuhan berkata kalau Dia yang mendatangkan kehancuran dalam bangsa itu. Perhatikan penggunaan kata ganti orang tunggal: Aku ini telah memberi kepadamu . . . kekurangan roti (v. 6); Akupun telah menahan hujan dari padamu (v. 7); Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum (v. 9); Aku telah melepas penyakit sampar ke antaramu seperti kepada orang Mesir (v. 10); Aku telah menjungkirbalikkan kota-kota di antara kamu (v. 11). Tuhan ingin mengatakan pada bangsa itu kalau Dialah dibelakang semua hal itu.

Sekarang lihat Amos 3:6, dimana nabi bertanya, Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya? Melalui nabi Yesaya, Tuhan berkata, Aku yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini (45:7). Nasib malang menunjukan bencana alam, kebanjiran, atau gempa bumi.

Baik Amos dan Yesaya berkata kalau tidak ada hal yang disebut kebetulan. Karena setiap sebab pasti ada akibat. Tuhan melakukan apa yang dikehendakiNya, menurut waktu dan caraNya, untuk tujuanNya, dan melibatkan siapa saja yang Dia pilih.

Pemerintahan Tuhan didasarkan atas kesempurnaan keilahianNya. Ini merupakan konsep Allah yang Alkitabiah, dan orang Kristen harus percaya dan berpegang pada hal ini. Tuhan merupakan pengatur agung. yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya (Psalm 66:7). Dia Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan (1 Timothy 6:15). Allah Bapa kita disorga merupakan penguasa berdaulat atas semua ciptaanNya. Dia yang mengatur. Ini pengajaran Alkitab.

Kedaulatan Tuhan dan Penderitaan Manusia

Saya belajar bahwa ada suatu gap besar antara belajar kebenaran secara intelektual dan mengetahui kebenaran itu oleh pengalaman pribadi. Fakta ini nyata kepada saya ketika saya meninjau apa yang Alkitab ajarkan tentang kedaulatan Tuhan. Sejujurnya, saya mengaku mempunyai sedikit masalah pada bulan April 14, 1982.

Ini masalahku: Bagaimana cara seorang anak Tuhan menghubungkan kedaulatan Tuhan dengan penderitaan manusia? Bagaimana cara orang Kristen menerapkan kedaulatan Tuhan ketika isteri, yang ia cintai lebih dari hidupnya, terbaring tanpa pengharapan dan menderita didepannya?

Jika seseorang datang kepada saya pada hari itu di bulan April dan berkata, aku bermaksud membantu kamu. Apa kebutuhanmu? aku pasti tidak mempunyai jawaban. Pikiran saya terlalu terpesona. Saya sedang terluka. Saya perlu waktu untuk mempelajari dan mengaplikasikan kebenaran kedaulatan Tuhan.

Apakah salah seorang pelayan dan pengajar Firman Tuhan untuk bingung? Walaupun kebanyakan dari kita tidak mengakuinya, kita semua disaat tertentu tergoda untuk berjalan menjauh dari Tuhan. Tetapi ketika seorang yang sedang terluka melihat hidupnya dari sisi lain, itulah saatnya ia harus menghampiri Tuhan. Seperti kata Yakobus, Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu ( Yakobus 4:8). Asaph bingung dengan apa yang ia lihat dalam hidup, tetapi ia sampai pada kesimpulan yang benar, Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah ( Mazmur 73:28).

Bagaimana cara aku menghampiri Tuhan? Saya bisa berdoa. Tetapi pada saat itu saya dimakan karat secara emosional sampai tidak bisa mengartikulasikan doa dengan baik. Kemudian juga, apa yang belum diketahuiNya? Saya perlu berdekat pada Tuhan, bukan memberitakan keadaan terbaru dari Elsie serta kebutuhan kita. Saya perlu mendekat agar Dia bicara dan memberikan saya kepastian bahwa Dia yang mengatur. Sayaa baru saja menceritakan kepada Elsie kalau Tuhan yang mengendalikan. Tetapi pada saat itu, saya dikendalikan oleh pengalaman yang membingungkan. Maka saya mendekat ke Tuhan melalui FirmanNya.

Nabi Yesaya menulis, Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan udara serba sedikit-- ( Isaiah 30:20). Ya, Tuhan mengirimkan kekurang baikan dan penderitaan ke [Milik]Nya. Mereka adalah Hadiah nya kepada [kita/kami], karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya ( Ibrani 12:6). Ini adalah waktu yang sulit bagi Elsie dan saya, tetapi saya tidak akan memalukan Tuhan dengan mempertanyakan hakNya melakukan apa yang Ia ingin lakukan.

Saya tidak lihat perbedaan apapun antara Tuhan yang tidak berdaulat dan yang bukan Tuhan. Jika saya sekarang meragukan kalau Tuhan dalam Alkitab, , Tuhan dan Bapa dari setiap orang percaya dalam Tuhan Yesus Kristus, yang mengatur hidup kita, saya tidak lebih baik daripada seorang Ateis.

Daud berdiri di hadapan perkumpulan dan berdoa dengan suara keras kepada Tuhan, Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya ( 1 Riwayat 29:1112). Perhatikan baik-baik kata berkuasa atas segalanya. Sebab kata itu ada dalam bentuk present continuous tense, yang artinya Tuhan masih tetap memerintah sekarang. Pada saat ini Tuhanlah yang mengendalikan.

Saya terhibur dengan jaminan bahwa Tuhan mempunyai suatu tujuan yang bijaksana dan baik untuk dilayani melalui penderitaan Elsie. Saat ini saya tidak tahu alasan persis dari tujuanNya mengirimkan percobaan ini ke dalam hidup kami. Sayapun tidak tahu apakah Dia akan menyatakan tujuanNya akan hal ini. Tuhan berkata, Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak. ( Yohanes 13:7). Saya tidak ingin kata-kata ini hilang dari saya seperti telah hilang pada Petrus. Suatu hari Elsie dan saya pasti akan memahami apa yang saat ini tersembunyi dari kami. Kami bisa menunggu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. ( 1 Corinthians 13:12).

Banyak orang menderita dan meninggal, dan banyak orang terus menderita, tanpa mengetahui alasannya. Alkitab berkata, Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. ( 1 Corinthians 10:13). Inilah janji Tuhan kalau Dia tidak akan memberi cobaan yang melebihi kekuatan kita.

Kita menyadari bahwa kita bukan satu-satunya orang yang menderita tanpa tahu alasannya. Sebagai contoh, Ayub yang menderita kerugian besar dan menangung beban berat, tidak pernah tahu alasan dari tragedy yang datang dalam hidupnya.

Baru-Baru ini, ketika saya membaca kembali Mazmur 119, saya sangat terkesan dan dikuatkan dengan kesaksian pribadi Daudd tentang berkat yang ia terima dari penderitaannya.

Pertama, ia menyaksikan kedaulatan Tuhan saat dia susah. Ia berkata, Aku tahu, ya TUHAN, bahwa hukum-hukum-Mu adil, dan bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan ( v. 75). Di sini kita mempunyai suatu kesaksian yang jelas, yang diberi oleh inspirasi ilahi, bahwa Tuhan yang benar mengirim penderitaan ke dalam hidup dan pengalaman Daud.

Kedua, Daud bersaksi kalau penderitaan itu adalah suatu pengalaman belajar bagi dia. Ia menulis, Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu ( v. 71). Penderitaan adalah suatu pelajaran yang diharuskan dalam sekolah Tuhan, dan seharus menjadi tempat belajar bagi setiap yang percaya Tuhan Yesus Kristus. Percobaan kami telah menjadi pengalaman yang memperkaya. Itu telah mengajar saya beberapa pelajaran berharga.

Ketiga, Daud bersaksi bagaimana penderitaannya menguntungkan dia secara spiritual. Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu ( v. 67). Salah satu pepatah mengingatkan kita bahwa Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi ( Pepatah 3:12). Perjanjian Baru menambahkan fakta dengan, karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. ( Ibrani 12:6).

Ya, manfaat rohani diperoleh dari pencobaan dan penderitaan. Tuhan telah menempatkan kita dibumi agar kita boleh memuliakanNya. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu ( 1 Petrus 4:16). Musim penderitaan hidup adalah suatu waktu indah untuk memuliakan Tuhan. Itu menyediakan kami dorongan segar untuk berkembang dalam anugrah dan untuk mengembangkannya secara rohani.

Setiap orang Kristen yang menderita perlu tunduk pada kedaulatan Tuhan yang absolut dan memberi hak kepadaNya untuk melakukan apa yang Ia inginkan, dengan caraNya, kapanpun, untuk tujuanNya serta menggunakan orang yang dipilihNya.

He Maketh No Mistake

My Father's way may twist and turn,
My heart may throb and ache,
But in my soul I'm glad I know
He maketh no mistake.

My cherished plans may go astray,
My hopes may fade away,
But still I'll trust my Lord to lead,
For He doth know the way.

Though night be dark and it may seem
That day will never break,
I'll pin my faith, my all in Him,
He maketh no mistake.

There's so much now I cannot see,
My eyesight's far too dim;
But come what may, I'll surely trust
And leave it all to Him.

For by and by the mist will lift
And plain it all He'll make;
Through all the way, though dark to me,
He made not one mistake.

(A. M. Overton)

Related Topics: Theology Proper (God), Suffering, Trials, Persecution