Where the world comes to study the Bible

Saat Indah dalam Perkawinan, dan Kemudian—

Sakit bisa menjadi keadaan yang membuat frustrasi dan rendah hati, baik bagi orang yang merasakannya maupun orang terkasih yang mendampinginya. Secara khusus akibat dari stroke, saat otak dan tubuh dipengaruhi. Keduanya berhubungan, karena otak merupakan pusat control yang mengatur anggota tubuh.

Menghabiskan waktu 76 hari dirumah sakit melihat penderitaan batin dan frustasi korban stroke, saya belajar tentang kedalaman kehinaan dan ketidakberdayaan yang bisa dialami kita sebagai mahluk yang sementara. Kejadian pribadi ini bermaksud memberi anda pengertian dan pertolongan dalam menghadapi situasi seperti ini dimana Tuhan mengijinkannya terjadi dalam hidup anda.

Tahun 1981 merupakan masa hidup yang luar biasa bagi istri saya Elsie dan saya sendiri. Ini merupakan tahun yang kita tunggu dan yang tidak akan kami lupakan. Tahun itu menandai ulangtahun emas pernikahan kami. Lima puluh tahun yang indah!

Pernikahan kami tentu bukan pernikahan yang sempurna. Pernikahan tidak bisa sempurna dengan melibatkan dua orang yang tidak sempurna. Tapi mendengar ratusan suami dan istri yang berkonseling pada kami, saya tidak ragu mengatakan pada anda bahwa pernikahan kami jauh diatas rata-rata. Jelas, kami memiliki masalah, tapi kami telah belajar bagaimana mengatasinya.

Pernikahan kami diisi dengan momen yang indah. Kami menikah pada June 17, 1931. Dalam mempersiapkan peristiwa besar itu, saya menghabiskan hampir semua uang simpanan. Setelah pernikahan, Elsie mendapat 60 dollar! Kami menikmati bulan madu di Atlantic City—satu minggu di Hotel Blackstone. (Dimasa itu hal ini sudah hebat.) Satu minggu yang indah.

Saya berharap memiliki waktu dan ruang untuk mengatakan pada anda tentang beberapa peristiwa indah yang kami alami bersama selama setengah abad kebersamaan kami. Tapi ulangtahun kami yang ke 50 di tahun 1981 merupakan yang terbaik. Keluarga dan teman-teman kami mengatur perayaannya, mereka bertujuh, dari ujung keujung: di Escondido, California; Colorado Springs, Colorado; Detroit, Michigan; Middletown, North East, Maryland; Bristol, Pennsylvania; Schroon Lake, New York; and Charleston, West Virginia.

Seluruh jadwal pertemuan sudah direncanakan selama musim panas dan gugur. Itu merupakan tahun terbaik dalam hidup kami. Setelah itu berakhir, kami dihidupkan kembali oleh 12 bulan itu.

Sementara itu, kami sedang menanti seluruh jadwal pertemuan ditahun 1982. Selama January dan February, saya bicara 40 kali di Florida. Kemudian kami pulang kerumah kami di Escondido, California, selama 3 minggu beristirahat dan belajar. Kami merencanakan agar Elsie tetap dirumah selama akhir Maret dan April saat saya berkelana ketimur untuk melanjutkan pelayanan.

Kemudian hal itu terjadi. Di pada 27 Maret, saya tiba di Peoria, Illinois, untuk memulai pertemuan selama satu minggu mengenai nubuatan dibawa Moody Bible Institute. Saya sedang duduk diruang hotel disebelah telepon minggu sore, menunggu dengan sukacita. Sudah direncanakan kalau Elsie akan menelepon saya jam 4, waktu Illinois. Telepon telah menjadi penghubung penting diantara kami saat saya pergi jauh. Seorang pria yang jauh dari kekasihnya akan kesepian.

Pada deringan pertama, saya mengangkat dan menjawabnya. Suara ditelepon bukan suara yang saya harapkan. Anak kami, Richard yang menelepon.

Pa, berita buruk, Mama mendapat stroke. Dia memberika saya semua informasi yang diketahuinya. Saya mengatakan kalau akan membuat rencana penerbangan dan akan menelepon kembali.

Saya meletakan telepon dan duduk terpukul. Setelah 50 tahun hubungan yang indah, kenapa terjadi seperti ini? Minggu dibulan Maret merupakan hari tergelap dalam 76 tahun hidup saya. Sekarang, saat saya menulis buku ini, sudah 9 bulan sejak Elsie terkena stroke. Kerasnya pencobaan belum hilang. Saat tertentu itu terasa lebih menusuk.

Saya sudah mengajar Alkitab dan berkotbah serta menulis buku selama 45 tahun. Saya menyiapkan dengan baik, dan kadang secara dogmatic, pengajaran sejarah iman Kristen. Saya menghibur, menguatkan dan menenangkan orang Kristen yang menderita dan sedih. Tapi cobaan dan pergolakan sekarang menjadi teman saya. Kebenaran yang dulu saya kenal secara intelek dan akademik, sekarang belajar dialami. Ada perbedaan besar.

Dalam buku ini saya menuliskan kesaksian yang terjadi dalam hidup saya selama bulan-bulan melihat terkasih saya Elsie menderita. Stroke yang dialaminya sangat serius, dan penyembuhannya terbatas. Sejak dia keluar dari rumah sakit dipertengahan Juni, saya menjaganya selama 24 jam sehari. Saat anda melihat seorang yang anda cintai lebih dari hidup anda sendiri, anda mencapai titik balik. Saya sekarang ada dalam keadaan itu.

Ini bukan kesaksian seorang pahlawan yang berhasil mendaki puncak gunung. Beberapa hari dan malam saya ada dilembah. Kembali ketahun 1940 orang mudan di Pinebrook Summer Bible Conference di Pennsylvania sering menyanyikan lagu ini:

Down in the dumps I'll never go,
That's where the devil keeps me low,
So I'll sing with all my might
And I'll keep my armor bright,
But, down in the dumps I'll never go.
(Author Unknown)

Saya banyak menyanyikan lagu ini dimasa itu, dengan maksud yang baik. Tapi saya tidak ingin menyanyikannya sekarang. Dari pengalaman saya lebih tahu. Beberapa bulan belakangan saya ada ditempat pembuangan beberapa kali. Terima kasih pada Tuhan, sekarang tidak lagi!

Firman Tuhan telah menjadi kekuatanku melalui waktu-waktu sulit ini. Salah satu pernyataan Tuhan yang paling penting selama pertempurannya dengan setan. Dia berkata, Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matthew 4:4). Saat Yesus mengatakan ini Dia tidak mengecilkan pentingnya makanan. Dia berkata bahwa kebutuhan manusia selain fisik dan materi, adalah kebutuhan akan ketergantungan penuh pada Tuhan. Paulus menulis tentang manusia batiniah dan manusia fisik (2 Corinthians 4:16; lihat juga Romans 7:22 dan Ephesians 3:16). Keduanya perlu diberi makan, dan masing-masing memiliki diet tertentu.

Dalam masa pencobaan mudah sekali menyerah atas beratnya masalah. Penderitaan, kesedihan, atau kehilangan mengeringkan kekuatan yang kita butuhkan dimasa itu. Perasaan kosong didalam kita menjerit untuk mendapatkan kedamaian. Sebagian orang pergi keminuman, berharap alcohol bisa memenuhi kebutuhan mereka. Saya memiliki seorang teman yang menjadi pemakan yang banyak setiap kali dia menghadapi masalah serius. Tapi apa yang kita berikan ketubuh yaitu manusia fisik, tidak akan mengenyangkan manusia batiniah, Petrus menyebutnya manusia batiniah yang tersembunyi (1 Peter 3:4). Tuhan kita berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Saat setan mencobai Dia, Dia menjawabnya dengan Firman. Karena dia tidak makan 40 hari dan malam, Dia kelaparan dan membutuhkan makanan. Iblis, bapa penipu, mencobai Tuhan dengan menawarkan makanan. Sebaliknya Kristus menjawab dengan Firman selama masa pencobaan itu.

Saat saya merenungkan apa yang dikatakan anak saya ditelepon tentang Elsie, pikiran saya langsung tertuju pada bagian Alkitab ini:

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. (1 Corinthians 10:13)

Saya diingatkan bahwa tidak ada kejadian unik dari apa yang terjadi pada Elsi dan saya. Pencobaan kita merupakan hal biasa. Sejak itu saya telah belajar bahwa didalam Amerika lebih dari 500,000 orang setiap tahun mengalami stroke.

Saya menerima nasihat yang sama dari perkataan Petrus: Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. (1 Peter 4:12). Karena kita anak Tuhan, dank arena Dia mengijinkan pencobaan, saya yakin Dia juga akan menyediakan setiap kebutuhanmu. KesetiaanNya merupakan jaminan saya. Ini bukan hanya karangan imajinasi saya tapi kenyataan kalau Tuhan menjauhkan saya untuk heran atas pencobaan. Tuhan itu setia.

Saat menelepon untuk memesan tiket pesawat, saya diberitahu kalau tidak ada pesawat yang meninggalkan Peoria minggu malam yang bisa menghubungkan saya ke Escondido. Saya mengatur pemesanan penerbangan terpagi dihari senin, menelepon Richard, dan mulai menunggu. Saya merasa ada diruang tunggu Tuhan.

Rumah sakit memiliki ruang tunggu – tempat kecil dimana orang menunggu dan berharap perubahan kondisi menyenangkan dari orang yang mereka kasihi. Sebagian besar orang yang saya lihat dalam ruang tunggu rumah sakit sangat khawatir, dan frustrasi.

Saya sedang diruang tunggu Tuhan sejak istri saya mengalami stroke. Tuhan dalam kesetiaanNya memampukan saya menanggung ujian ini. Elsie tetap tidak bisa bergerak, dan dia membutuhkan kasih dan perawatan saya selama 24 jam sehari. Saya juga menunggu dan berharap ada perubahan yang baik; saat saya menunggu saya bersandar pada sumber kasih karunia Tuhan yang tidak pernah habis. Ujian yang tidak diharapkan ini mengubah seluruh rencana saya, tapi saya tahu kalau rencana Tuhan jauh lebih baik dari saya.

Walaupun begitu, pekerjaan menunggu merupakan tugas yang sulit. Saya tidak pernah mengalami penantian sebagai bagian penting dalam pelatihan orang Kristen. Ini merupakan pengalaman saya yang pertama dalam ruang tunggu Tuhan. Jika “Menunggu 101” merupakan pelajaran yang diharuskan dalam sekolah Tuhan, anda bisa yakin saya tidak akan memilihnya. Tapi Tuhan tidak memberikan pilihan –itu pelajaran yang diharuskan. Dia yang memutuskan bagi saya, karena tahu saya membutuhkannya. Jadi saya terus menunggu.

Alkitab berisi banyak nasihat bagi orang Kristen untuk menunggu Tuhan memenuhi rencanaNya menurut waktuNya. Daud berdoa. Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. (Psalm 25:5). (I could add, all the night.) Daud belajar menunggu, dan dia menemukan kalau itu pengalaman yang berharga. Dia kemudian menulis, Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! (Psalm 27:14).

Saat tertentu saya merasa sangat sulit menunggu. Saya ingin cepat, dan Tuhan kelihatannya begitu pelan. Tapi saya belajar bahwa “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Isaiah 40:31). Ayat ini, dan yang lainnya, menjadi berkat saat saya berada dalam ruang tunggu Tuhan.

Saya selalu memiliki ambisi dan keinginan melakukan pekerjaan Tuhan. Sejak meninggalkan jabatan pastor ditahun 1963, saya telah melakukan perjalanan kira-kira sejauh 60,000 mil setiap tahun, bicara 400 kotbah setiap tahun, dan mengajar Alkitab 25 menit setiap hari minggu diprogram radio nasional Bible Study Time. Sangat sulit berkata tidak saat ada undangan mengajar dan memberitakan Firman Tuhan. Sekarang ini, saya tidak punya pilihan. Pada 1 April 1982, saya membatalkan jadwal pertemuan 12 bulan kedepan. Saya bersyukur punya waktu menunggu dihadapan Tuhan dalam doa. Saya bersyukur untuk hak istimewa melayani terkasih saya Elsie.

Baru-baru ini saya membaca kembali Mazmur 23. Ayat 2 menyegarkan saya: Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Dia yang menciptakan saya. Saya selalu aktif dalam pelayanan, tapi sekarang saya merasa lebih sibuk dari yang Tuhan inginkan. Jadi saya bertanya, “Apakah mungkin karena Tuhan mengasihi aku, Dia mengijinkan ujian menyakitkan ini untuk membaringkan aku? Pikirkan itu.

Saya melihat hubungan yang kuat antara Psalm 23:2 dan Mark 6:31, dimana Tuhan kita berkata pada muridnya: Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika! Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Perkataan Tuhan diikuti oleh para murid kembali dari misi mereka yang pertama. Saya melihat dalam Mark 6:30 sedikit kesombongan saat para murid melaporkan apa yang sudah mereka capai.

Perhatikan kesamaan antara Psalm 23:2 dan Mark 6:31. Pemazmur berkata, Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Markus menulis kalau para murid terlalu sibuk makan. Kita tahu Markus bicara tentang makanan untuk tubuh, tapi kita bisa mengambil aplikasi rohaninya juga. Kita perlu sendiri bersama Tuhan dan mengijinkanNya membimbing kita kepadang rumput yang hijau. Jika kita tidak mau melakukannya dengan sukarela, maka Dia akan membuat kita terbaring.

Satu penyesalan saya adalah saya tidak memberi waktu berbaring dipadang rumput yang hijau dari Tuhan selama tahun-tahun sibuk saya. Saya membaca dan menyelidiki Alkitab setiap hari, tapi kebanyakan tindakan itu untuk memenuhi tuntutan jadwal bicara saya.

Sekarang saya bersyukur kalau Tuhan sudah membuat saya terbaring dipadang rumput yang hijaunya. Selama bulan-bulan ujian, Dia memampukan saya mengalami kuasa FirmanNya. Gembala yang baik telah memberi makan jiwaku, dan saya tidak kekurangan apapun. Padang rumput yang hijau sangat berlawanan dengan padang gurun kering dari dunia ini.

Tidak ada yang salah dengan ambisi dan keinginan kuat yang tulus untuk sibuk dalam pekerjaan Tuhan, tapi kita perlu beristirahat disuatu saat dalam perjalanan itu. Tuhan berkata pada Elisa, “bersembunyilah” (1 Kings 17:3), dan kemudian Dia menampakan diri pada Elisa berkata, “pergi perlihatkan dirimu” (1 Kings 18:1). Nabi perlu waktu berdua dengan Tuhan sebelum dia menghadapi kejahatan Ahab. Kita semua harus belajar, cepat atau lambat, kalau kita butuh waktu berdua dengan Gembala kita yang baik.

Penerbangan pulang dari Peoria pada Maret 29 merupakan pengalaman baru bagi saya. Saya telah terbang lebih dari ribuan mil dalam 50 tahun terakhir, tapi perjalanan ini berbeda. Waktu itu perjalanan itu sendiri terasa ribuan mil. Saya diatas sana, merasa sendirian, walau dikelilingi banyak orang. Saya tidak tahu seberapa serius sakitnya Elsie. Saya hanya tahu kalau dia kena stroke. Saya tidak bisa pikir lain selain Elsie. Saya merasa suram dan sendiri. Saya tidak pernah merasa kesepian seperti itu. Saya berdoa lemah, Ya Tuhan, tolong aku! Saya ingin mengatakan hal lain, tapi tidak bisa mengucapkannya. Saya begitu terhisap kering, lemah –terlalu lemah untuk berdoa.

Tapi Tuhan menghampiri saya dengan cara penghiburanNya melalui ingatan akan janjiNya. Saya menghafalnya saat masih kecil. Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu (Exodus 33:14). Saya sadar kalau beberapa sarjana mengartikan ayat ini sebagai pertanyaan, dan mereka mungkin benar. Tapi dalam pikiran saya, Tuhan jelas hadir dalam perjalanan kerumah. Pelayanan Roh Kudus memberikan keyakinan dan kedamaian dengan mengingatkan ayat dalam Alkitab. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau (Isaiah 43:2). Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu (Deuteronomy 31:8). janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau (Isaiah 41:10). Saya tidak perlu meminta Tuhan beserta saya, karena Dia sudah berjanji akan bersama dengan saya. Dia menepati janjiNya!

Satu berkat dari ujian ini dirasakan saat saya dibawa dari “Dia” kepada “Dia” lagi dalam Psalm 23--Dia membaringkan aku . . . Dia beserta aku (italics ditambahkan). Ada perbedaan antara bicara tentang Tuhan dan bicara secara langsung dengan Dia. Selanjutnya, ruang tunggu menjadi ruang kehadiran. Kehadiran Gembala yang baik terus menghibur dan menguatkan saya. Ada saat dimana, dari mata manusia, saya tidak bisa melihat cahaya diujung lorong. Tapi dalam moment tergelap kehadiran Kristus menyediakan penghiburan dan kekuatan.

Saya menulis hal ini dihari yang membosankan. Pasien stroke bisa naik turun dalam sehari. Sekarang merupakan hari menurun bagi Elsie. Bebean tidak diringankan, dan tidak tahu apa akhirnya yang terjadi. Tapi satu hal yang pasti –hati saya telah menemukan tempat berbaring.

Tuhan kita berkata, Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Hebrews 13:5). Itulah janjiNya! Ayat yang sama mengandung suatu petunjuk, cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Saya tidak tahu apakah Tuhan akan menyembuhkan Elsie, tapi saya tahu kalau Dia tidak akan pernah meninggalkan atau melupakan kita.

Iblis mencoba menghalangi saya, menjauhkan saya dari Kristus, memunculkan ketidakpuasan dalam diri saya. Tapi dia tidak berhasil! Kehadiran Kristus membuat saya puas dengan keadaan saya. Standar kepuasan orang Kristen sangat tinggi. Itu diluar jangkauan saya, jika bukan dari kehadiran Tuhan. Saya mendapat apa yang tidak bisa diberikan dunia. Saya memiliki Kristus. Tidak ada yang lebih tinggi dari itu!

Saya tidak bisa berkata seperti Paulus Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Philippians 4:11). Tapi saya bisa bersaksi kalau saya sedang belajar Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Philippians 4:13).

Penerbangan dari Peoria ke California sangat sepi, tapi saya tidak sendiri. Saudaraku dalam Kristus yang sedang menderita –berdiam merupakan keyakinan bahwa Tuhan kita tidak pernah akan meninggalkan anda.

Related Topics: Christian Home, Marriage, Suffering, Trials, Persecution