Where the world comes to study the Bible

Terjebak dalam Perangkap— Kisah Daud dan Betsyeba

Jika Alkitab merupakan sebuah buku dari pikiran manusia, ditulis untuk meninggikan manusia, kisah yang akan kita pelajari sekarang pasti akan diedit dengan cermat atau dihilangkan sama sekali. Tapi Alkitab merupakan buku yang diinspirasi oleh Tuhan, ditulis untuk memuliakan Tuhan, dan seheran apapun kenyataan yang dibuka, kisah ini untuk meninggikan Tuhan. Inilah alasan untuk tidak mengabaikannya dalam penyelidikan tentang hubungan pernikahan di Alkitab.

Kisah ini tentang Daud, pahlawan terbesar dalam sejarah Ibrani, dan melalui kesaksian Tuhan, merupakan seorang yang berkenan dihatiNya (1 Sam. 13:14; Acts 13:22). Tapi manusia memiliki kelemahan, bahkan yang berkenan dihatiNya. Dan Tuhan tidak malu membagikan pada kita kelemahan orangNya yang terbesar. Kita belajar dari kesalahan mereka, sama seperti hati kita yang memalukan, akibat buruk dari dosa kita, dan kedalam anugrah pengampunan Tuhan. Jadi marilah kita belajar dari Daud.

Daud dikenal seluruh bangsa saat dia remaja. Saat seorang laki-laki remaja membunuh raksasa yang membuat setiap prajurit Israel yang pemberani gemetar, pastilah akan diperhatikan orang. Para wanita diseluruh Israel bernyanyi: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (1 Sam. 18:7). Sebagai tambahan, Alkitab menunjukan bahwa dia seorang yang sangat tampan, atlit yang luar biasa, seorang musisi yang handal, dan penyair yang pintar. Dan dikatakan dia akan menjadi raja Israel berikutnya (1 Sam. 16:13). Bicara tentang idola remaja—saya bisa membayangkan remaja wanita di Israel pasti jatuh cinta pada Daud. Alkitab berkata, “tetapi seluruh orang Israel dan orang Yehuda mengasihi Daud” (1 Sam. 18:16).

Dan siapa lagi yang mendapatkannya selain anak perempuan Saul, Mikhal. Dia punya petunjuk dari dalam selama ini. Dan, dia adalah anak perempuan raja, dan Daud menghabiskan waktu diistana. Selain itu, Mikhal diketahui bahwa dia jatuh cinta pada Daud (1 Sam. 18:20). Tapi Alkitab menunjukan bahwa Daud menikahinya lebih karena keberanian daripada kasih sejati. Disuatu kejadian setelah mereka menikah, Mikhal menolong Daud meloloskan diri dari kemarahan ayahnya (1 Sam. 19:11-17). Dia jelas tidak bisa bersama dengan Daud dalam keadaan seperti itu, jadi Saul mengambil kesempatan dan memberikannya pada pria lain (1 Sam. 25:44). Pernikahan masa remaja Daud berakhir dalam kegagalan. Menikah sebelum kita mengerti tanggung jawab kehidupan dewasa memiliki resiko tinggi. Tidak ada bahayanya menunggu sampai pasti.

Selama tahun-tahun sebagai pelarian dari Saul, dia bertemu wanita yang cantik bernama Abigail. Alkitab berkata, “Perempuan itu bijak dan cantik” (1 Sam. 25:3). Hikmatnya, kedewasaan, keindahan, dan pesonanya menawan Daud, dan saat Tuhan mematikan suaminya yang jahat, Nabal. Daud tidak membuang waktu menawarkan perkawinan (1 Sam. 25:39). Itu pilihan yang baik. Melihat Mikhal sudah menjadi istri orang lain karena kesalahannya, banyak yang akan berkata ini berkenan pada Tuhan.

Tapi hal berikut yang kit abaca dalam Alkitab jelas tidak berkenan. “Juga Ahinoam dari Yizreel telah diambil Daud menjadi isterinya; kedua perempuan itu menjadi isterinya” (1 Sam. 25:43). Daud tahu Tuhan telah memilihnya menjadi raja Israel berikutnya, dan dia juga tahu apa yang Tuhan katakan tentang raja Israel. Sebelum orang masuk tanah perjanjian, Tuhan memperingatkan mreka bahwa suatu saat mereka akan menginginkan seorang raja seperti negeri disekitar mereka. Dia akan mengijinkan mereka menunjuk seorang dari mereka yang dipilihNya, tapi dia harus berhati-hati untuk tidak memperbanyak istri bagi dirinya karena mereka bisa membuat hatinya menjauhi Tuhan (Deut. 17:14-17). Tapi kita melihat dalam tulisan ini kalau Daud mengambil 4 istri lagi: Maacah, Haggith, Abital, dan Eglah (2 Sam. 3:2-5). Dan kita hampir tidak percaya saat membaca, “Daud mengambil lagi beberapa gundik dan isteri dari Yerusalem” (2 Sam. 5:13).

Bukannya dorongan fisik Daud sangat berbeda dari pria normal lainnya; itu merupakan hal biasa yang dilakukan raja setempat untuk menunjukan kekayaan dan kuasa mereka, dan Daud membiarkan filosofi dunia menggantikan kehendak Tuhan. Tapi itu menunjukan kalau Daud seorang manusia, dan menunjukan salah satu kelemahan terbesarnya.

Dia berumur sekitar 14 tahun, umur yang rentan, kata mereka. Dia sudah mencapai kemenangan militer yang luar biasa, memperluas batas Israel dan mengamankan mereka dari bangsa sekitar. Pertama kita lihat gema kenikmatani dosa. “Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem” (2 Sam. 11:1).

Para raja keluar berperang karena musim dingin akan menghalangi pergerakan pasukan. Perang melawan Amon masalah kecil, sisa dari musim perang lalu. Israel sudah mengalahkan Siria yang disewa Amon untuk mengalahkan mereka, jadi Daud mungkin mengira pekerjaan menyelesaikan Amon tinggal mendesak mereka. Sementara tempat dimana seharusnya dia berada adalah menyediakan kepemimpinan bagi orangnya dimedan perang, dia membiarkan demam sebagai alasan dan tetap dirumah, menjauh dari tugas. Lagi pula dia rajanya. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau.

Mengabaikan tanggung jawab sering merupakan langkah pertama penurunan rohani. Saya merasakan terutama diantara orang muda, kalau kita bisa melakukan lebih banyak terhadap apapun yang kita ingin lakukan. Dan kita tidak harus melakukan apapun yang kita tidak mau. Inilah masanya melakukan kepentingan sendiri. Betul, kita bisa melakukan apapun yang kita sukai, tapi tidak tanpa membayar harga rohaninya. Tuhan memiliki rencana bagi hidup kita. Dia meletakan tanggung jawab tertentu atas kita, dan saat kita menghindarinya dengan alasan atau pembenaran, kita membuka pintu pencobaan sehingga melemahkan keinginan kita berjalan bersama Tuhan.

Kisah ini dimulai dimana Daud sedang berada. “Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana” (2 Sam. 11:2). Apa anda bisa membayangkannya? Saat itu sudah petang, dan Daud sedang bangun dari pembaringannya. Jika kita masih punya keraguan kenapa dia tetap dirumah, sekarang sudah sirna. Dan dia keluar bukan untuk bertugas. Daud sedang ngintip! “tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi” (2 Sam. 11:2). Jika dia menggunakan otaknya, maka dia akan menghindar dari hal itu. Tapi dia berlambat-lambat, dan membiarkan matanya berpesta melihat setiap inci tubuh Betsyeba, sampai dia tidak bisa menolak untuk bisa mendapatkannya.

Dicobai bukan dosa. Tapi berlama-lama melihat itu, bermain dengannya, menggodanya—itu tidak bisa ditolerir, seperti kasus Hawa. Kita menginginkan sesuatu sehingga kita tidak bisa menolak dosa. Pertanyaan yang tertinggal hanyalah bagaimana kita melakukannya. Tuhan berkata kalau kita harus lari dari cobaan (2 Tim. 2:22). Dan Dia akan menolong kita mengatasinya jika kita taat. Tapi jika kita melalaikan dan bermain-main dengannya, kita hancur. Saat seorang pria tertarik pada wanita, sebagai contoh, keduanya sudah menikah, maka pria itu perlu melarikan diri dari situasi itu secepat mungkin. Semakin lama dia memelihara hubungan, semakin sulit melepaskannya, sampai akhirnya dia mendengar dia berkata dengan bodohnya, “Tapi saya tidak bisa hidup tanpa dirinya.” Dan sebelum dia menyadari dampak perkataannya, hidupnya dan keluarganya sudah terseret.

Betsyeba bukannya tidak bersalah. Dia mungkin tidak sengaja menggoda Daud, tapi dia tidak hati-hati dan bijak. Manda dan bertelanjang dihalaman, bisa dengan jelas terlihat diatas beberapa sotok tetangga sebenarnya cari masalah. Dia bisa mandi didalam. Bahkan dimasa kita, sebagian wanita kelihatannya tidak menyadari kelemahan mata pria. Mereka membiarkan diri didorong masuk kedalam gaya pakaian dunia yang memakai pakaian terbuka, atau hampir tidak ada kainnya; dan mereka bisa heran kenapa pria tidak bisa pikir lain, hanya seks. Kita tidak boleh gagal mengajar anak perempuan kita tentang hal ini, terutama saat mereka remaja. Orangtua Kristen harus mengajar anak perempuan mereka kenyataan tentang nature pria dan arti kesopanan, kemudian setuju akan standar berpakaian mereka.

Daud kemudian mengetahui siapa yang mandi itu, memanggilnya, dan pikiran menjadi tindakan. Tidak ada bukti kalau ini merupakan tindakan pemerkosaan. Betsyeba kelihatannya menjadi pasangan yang bersedia. Suaminya pergi perang dan dia sendirian. Daya tarik yang bisa melumpuhkan raja yang ganteng lebih bernilai dari komitmennya pada suami dan dedikasinya pada Tuhan. Mereka mungkin menikmati saat itu; mungkin mereka meyakinkan diri kalau itu pengalaman yang indah. Kebanyakan orang melakukan itu! Tapi dalam penglihatan Tuhan, itu menyeramkan dan jelek. Setan mendapatkan mangsa dan sekarang mereka ada dalam cengkramannya.

Hal yang tidak dikehendaki datang, Betsyeba mengirim berita kalau dia hamil. Ini hal serius dibudaya ini, karena bisa dihukum dilempari batu sampai mati menurut Hukum Musa (cf. Lev. 20:10). Tidak ada krisis yang bisa menggoncang Daud sebelumnya, dan dia tidak mau membiarkan ini menghancurkannya. Rencananya adalah membawa suami Betsyeba pulang rumah beberapa hari; maka tidak ada yang tahu bayi siapa yang dia kandung. Tapi Uria terlalu patriotic untuk menikmati istrinya sementara teman-temannya mempertaruhkan nyawa dimedan perang, jadi dia tidur dibarak dengan pelayan raja. Maka Daud melaksanakan rencana B. Dia dengan tenang menuliskan kematian Uria, memeteraikannya, dan mengirimnya ke Kapten Yoab digaris depan, diantar sendiri oleh Uria. Dia memerintahkan Yoab meletakan Uria dibagian pertempuran terhebat, dan mengundurkan diri darinya. Dan Daud menambahkan pembunuhan selain perzinahan. Setelah waktu berduka yang singkat, Betsyeba masuk kerumah Daud dan menjadi istrinya, dan keduanya akhirnya menikmati hal itu tanpa diganggu … kecuali satu hal: “Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN” (2 Sam. 11:27).

Hal itu membawa kita kepoint berikut: tangan disiplin yang berat. Daud tahu dia sudah berdosa. Kita biasanya begitu, didalam hati kita. Tapi kita mencoba mengabaikannya, mencoba hidup seperti itu tidak terjadi. Jika kesadarannya jadi terlalu berat, dia akan membenarkan diri dengan berkata, “saya raja, saya bisa melakukan apa yang aku suka. Itu sebenarnya kesalahan Betsyeba. Lagi pula siapa yang saya rugikan? Sebagian orang memang harus mati dalam perang, kenapa Uria tidak?” Kemungkinan kita bikin alasan terhadap dosa kita tidak ada akhirnya. Tapi ada yang mengganggu perut Daud, kekosongan yang tidak bisa digambarkannya, bersama dengan depresi yang berat.

Dia menuliskan ini dalam 3 mazmur, mengambarkan bulan-bulan diluar hubungan dengan Tuhan: Psalms 32, 38 dan 51. Dengarkan tangisannya: “aku terbungkuk-bungkuk, sangat tertunduk; sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita … aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku” (Psa. 38:6, 8). Daud mengasihi Tuhannya dan mencoba memujiNya, tapi dia menemukan halangan; itu halangan dosanya sendiri. Tuhan kelihatannya jauh. “Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku!” (Psa. 38:21). Temannya merasakan hal ini dan menghindar darinya. “Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena penyakitku, dan sanak saudaraku menjauh” (Psa. 38:11). Daud menjalaninya hampir satu tahun. Dia mendapatkan Betsyeba, tapi jiwanya tidak tenang.

Kemudian suatu hari Tuhan mengirim nabi Natan dengan cerita yang menarik. “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu” (2 Sam. 12:1-4). Saat Daud mendengar cerita itu, dia sangat marah pada orang itu dan berkeras kalau orang itu harus mati.

Rasa bersalah melakukan itu pada kita. Kita biasanya kasar dan kejam terhadap dosa orang lain tapi kita menyembunyikan punya kita. Kemarahan dibawa sadar kita meletus atas mereka.

Dengan takut dan gentar, Natan menyatakan perkataan berikutnya. Orang lain sudah kehilangan kepalanya karena mengatakan hal yang kurang keras dari ini, tapi dia diikat oleh panggilannya untuk membawa pesan Tuhan kepada telinga raja. Dia menunjuk ke Daud dan berkata, “Engkaulah orangnya!” Kemudian dia memberikan pesan pribadi Tuhan pada Daud: “Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon” (2 Sam. 12:7-9). Dan kesadaran dari Roh Tuhan menusuk kedalaman jiwa Daud.

Dosa biasanya membawa dampak tidak enak, dan Tuhan tidak selalu menghilangkannya. Dia tahu kalau dengan mengalami dampak dosa kita, akan menolong kita lebih peka terhadap kehendakNya. Akibat dosa Daud sangat luas dan lama. Pertama, pedang tidak akan menyingkir dari keturunannya (2 Sam. 12:10). Orang-orang diistana tahu apa yang sedang terjadi. Mereka bisa menghitung bulan, dan menyadari Uria tidak dirumah saat bayi dilahirkan. Itu pasti bayinya Daud. Kemudian mereka berpikir tentang kematian Uria, dan semua hal terlalu kebetulan. Anak Daud, Absalom mengetahui hal ini. Dan saat dia membunuh saudara tirinya Amnon karena memperkosa adik perempuannya (2 Sam. 13:28), dia mungkin membenarkan dirinya dengan pemikiran, “Ayah melakukan hal yang sama. Kenapa saya tidak?” Kapten Yoab mengetahui hal ini. Dialah yang menjalankan perintah berdosa Daud terhadap Uria. Dan dia mungkin menggunakan hal ini sebagai alasan saat dia membunuh kapten Absalom, Amasa (2 Sam. 20:9, 10). Pedang tidak pernah menyingkir dari keluarga Daud. Dosa kita juga memberi dampak pada mereka yang dekat dengan kita.

Akibat kedua dari dosa Daud adalah Tuhan akan menimpakan malapetaka atas keluarganya (2 Sam. 12:11). Baca kisah hidup Daud dan lihat pemenuhan janji Tuhan ini: Amnon memperkosa Tamar, Absalom membunuh Amnon, Absalom memberontak terhadap Daud, Adoniah mencoba merebut tahta saat Daud sudah tua. Ada malapetaka dikeluarga Daud.

Ketiga, istri Daud akan ditiduri orang lain disiang hari (2 Sam. 12:11). Daud diam-diam mengambil istri orang; sekarang istrinya diambil didepan umum. Selama pemberontakan Absalom, pendukungnya membangun tenda diatas atap istana, dan Absalom berhubungan dengan selir-selir ayahnya didepan semua orang Israel, memenuhi perkataan ini (2 Sam. 16:22).

Keempat, anak yang dilahirkan dari hubungannya dengan Betsyeba akan mati (2 Sam. 12:14). Bayi itu akan membawa olok-olok bagi Tuhan dihadapan musuh, jadi Tuhan mengambil anak itu. Kita berduka dengan Daud karena kehilangan anaknya, tapi kita bersyukur atas kepastian bayi itu saat mati. Daud berkata dia akan bersama dengan bayi itu, memastikan kita bahwa bayi masuk kehadapan Tuhan (2 Sam. 12:23).

Apakah anda memperhatikan kenapa Tuhan mengambil bayi itu? Hal ini perlu ditekankan kembali. Itu karena melalui perbuatan Daud, “memberikan musuh alasan untuk mengolok-olokan Tuhan.” Sekarang kita mengerti satu alasan penting dari disiplin ilahi. Itu dilakukan agar musuh Tuhan tahu bahwa Dia adalah kudus dan benar, bahwa Dia akan berurusan dengan dosa terutama dosa anakNya. Dia akan menjadi bahan tertawaan dunia jika hal ini terjadi. Daud harus menanggung akibat dosanya, dan demikian juga dengan kita. Beban itu berat, tapi ada waktu untuk memikirkannya sebelum kita melakukan.

Itu membawa kita kepada kemungkinan pengampunan. Cerita Natan terhadap dosa Daud dan pernyataannya akan kebenaran Tuhan membawa Daud berlutut, mengakui dosanya: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN,” tangisnya (2 Sam. 12:13). Inilah perkataan yang ingin didengar Tuhan. Jiwa Daud hancur; hatinya penuh penyesalan (cf. Psa. 51:17). Dan hasilnya, kita mendengar perkataan paling indah, paling menguatkan dan menghibur manusia: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu” (2 Sam. 12:13). Seperti kata Daud dalam Mazmur, “Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku, dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku” (Psa. 32:5).

Alkitab tidak mengatakan pada kita, tapi saya percaya Betsyeba mengakui dosanya juga dan Tuhan mengampuni mereka berdua. Walau mereka tidak bisa menghilangkan dampaknya, mereka bisa hidup dalam kepastian pengampunan Tuhan yang penuh. Itu merupakan aib besar dalam hidup Daud, satu-satunya aib terbesar (cf. 1 Kgs. 15:5). Tapi baik dia atau Betsyeba tidak membiarkan hal ini menghancurkan hidup mereka selamanya. Tuhan mengampuni mereka, mereka mengapuni diri mereka, dan mereka mau hidup menghasilkan kemuliaan Tuhan. Itulah yang Tuhan inginkan kita lakukan. Dia tidak ingin kita menyiksa diri karena dosa kita. Dia ingin kita mengakuinya, meninggalkannya, dan melupakannya.

Batsyeba kelihatannya mendapat tempat terhormat diantara istri Daud. Tidak ada catatan dia mengambil istri lagi setelah Batsyeba. Sebagai indikasi pengampunan Tuhan, dia memberikan mereka anak yang diberi nama Absalom, yang berarti “damai.” Nabi Natan memanggilnya Jedidiah, yang berarti “dikasihi Tuhan.” Dan Tuhan menyakinkan Daud bahwa Salomo, anak Betsyeba, akan memerintah menggantikan tempatnya dan membangun Bait (1 Chron. 22:9, 10). Sebagai tambahan tentang anugrah Tuhan, Betsyeba dipilih menjadi salah satu wanita yang ada dalam silsilah Yesus Kristus (Matt. 1:6).

Penulis hymne berkata: “Siapa yang mengampuni seperti Dia? Atau yang kasih karunianya cuma-cuma dan berlimpah?” Kasih karuni Tuhan siap mengampuni anda. Dengarkan kata Nabi Yesaya: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya” (Isa. 55:6, 7). Dengarkan Rasul Yohanes: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 John 1:9). Tidak peduli betapa menyedihkan dosamu. Tuhan mengampuninya. Akui dosamu dihadapanNya, dan terima anugrah pengampunanNya.

Mari kita bicara

    1. Kenapa anda pikir Daud sampai disebut orang yang berkenan dihati Tuhan disamping dosanya yang besar?

    2. Tanggung jawab apa yang anda abaikan sehingga bisa menghancurkan kerohanian anda dimasa depan?

    3. Bagaimana anda bisa saling menolong menghidari cobaan terhadap lawan jenis?

    4. Bagi istri: Apakah cara berpakaianmu selaras dengan aturan Tuhan atau anda berpakaian seperti orang dunia?

    5. Apa artinya sopan? Bagaimana anda melakukan itu dalam hidup anda? Sebagai orangtua, bagaimana anda mengajar anak perempuan anda berpakaian dengan tepat?

    6. Bisakah anda ingat saat anda berdua sangat terganggu karena beban rasa bersalah? Masing – masing akui dengan jujur hal itu?.

Apakah dosa anda yang lama teringat kembali saat anda membaca bab ini, dosa yang anda coba abaikan? Kenapa tidak mengakuinya dihadapan Tuhan, minta pengampunan yang Dia janjikan dalam 1 John 1:9, kemudian keluarkan itu dari pikiran anda selamanya?

Related Topics: Christian Home, Marriage, Temptation