MENU

Where the world comes to study the Bible

1. Persahabatan yang Hancur

Bukankah indah jika semua orang Kristen bisa selalu damai dengan sesama? Seperti yang seharusnya. Kita memiliki banyak kesamaan—satu Tuhan, satu Firman, satu Tubuh dimana kita semua adalah anggota, satu keinginan untuk memuliakan Yesus Kristus, satu tujuan untuk membagikan Dia kepada yang lain. Tapi kita memiliki reputasi dalam hal salah pengertian, perselisihan dan perpecahan.

Kita semua mendapati banyak gesekan, gossip dan sakit hati diantara orang Kristen. Kita semua sadar adanya perpecahan gereja, pembentukan denominasi baru dan suburnya organisasi para church, sering tumpah tindih dalam sasaran dan tujuannya. Kita semua melihat pernikahan yang hancur diantara orang Kristen. Kita harus akui bahwa orang Kristen tidak selalu damai dengan sesama. Bagaimana bisa terjadi?

Saya ingin membahas pertanyaan itu dengan menyelidiki pertentangan yang kuat antara 2 orang hebat dalam Alkitab, sahabat dekat dan teman sepelayanan. Itu merupakan perselisihan yang menghasilkan perpisahan jalur dan menghancurkan persahabatan mereka. Ini bukan cerita yang indah. Tapi menyedihkan. Itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Tapi disatu sisi saya senang itu terjadi, dan saya senang bahwa Roh Kudus jujur mengatakan hal itu pada kita. Itu membantu kita melihat apa yang Tuhan lakukan melalui mereka dalam kelemahan, kita tahu bahwa kita punya harapan. Dan melihat kesalahan mereka, kita juga belajar bagaimana menjaga keharmonisan hubungan dengan mereka yang disekitar kita.

Persahabatan yang Sejati

Hubungan mereka dimulai saat sejumlah besar orang non-Yahudi di Syrian Antioch mengenal Kristus melalui kotbah para pengungsi dari Yerusalem (Acts 11:19-21). Itu mengganggu beberapa pemimpin gereja di Yerusalem yang tidak siap menerima non Yahudi kedalam persekutuan gereja. Mereka ingin mengirim seseorang ke Antiokia untuk menyelidiki situasinya. Barnabas merupakan pilihan mereka. Dia seorang Yahudi dari suku Lewi, jadi dia mengetahui hukum dan mengerti pikiran orang Ibrani. Dia dibesarkan dipulau Siprus, jadi dia bicara bahasa Yunani, mengerti pemikiran orang non Yahudi dan tidak akan dengan sengaja menyerang mereka. Dia sangat dihormati sebagai orang yang baik, murah hati, dan bertuhan (Acts 4:36,37).

Itu terbukti merupakan pilihan yang tepat. Barnabas tetap berada disana dan pekerjaan di Antiokia berkembang dibawah kepemimpinannya. “Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan” (Acts 11:23,24). Pekerjaan itu begitu berkembang sehingga Barnabas tidak bisa lagi menanggungnya sendiri. Orang percaya dalam gereja terlalu muda dalam Tuhan untuk diangkat keposisi pimpinan, jadi satu-satunya sumber adalah meminta bantuan luar.

Dia mengenal seseorang. Sejauh yang kita ketahui, pertama kali dia bertemu Saulus adalah diYerusalem tiga tahun setelah pertobatannya di Damaskus. Setiap orang di Yerusalem takut pada Saulus karena mengira dia akan memata-matai mereka dan merencanakan serangan berikutnya pada mereka. Tapi Barnabas percaya padanya, menjangkau dia, mendorong pemimpin lain diYerusalem untuk menerima dia (Acts 9:26-29), dan suatu persahabatan sejati lahir. Setelah masa diYerusalem berlalu, Saulus kembali keTarsus, disitu dia memasuki semua wilayah non Yahudi dengan Injil. Berita terus terdengar tentang pelayanannya (Galatians 1:23). Saulus dari Tarsus merupakan orang yang Barnabas perlukan di Antiokia. “Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Acts 11:25,26). Suatu tim pelayanan yang hebat sudah lahir.

Mereka bersama-sama melayani Tuhan dengan berkat besar. Mereka sangat cocok dan saling melengkapi. Seperti seharusnya. Saat gereja di Antiokia memutuskan untuk mengirimkan uang kepada orang Kristen di Yerusalem yang tertindas, Barnabas dan Saulus mengantarnya bersama (Acts 11:30). Mereka kembali bersama ke Antiokia (12:25), disana 3 orang lagi sudah ditambahkan menjadi staff (13:1). Tapi Barnabas dan Saulus terus melayani Tuhan disana, bersama-sama.

Saat Roh Kudus memberikan arahat untuk melaksanakan misi keluar pertama kali, kita tidak heran kalau Dia berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (13:2). Dan mereka memasuki perjalanan berbahaya bersama. Itu merupakan pelayanan penginjilan dan penanaman gereja yang berbuah—suatu keberhasilan rohani yang luar biasa. Suatu tim yang hebat! Mereka kembali ke Antiokia untuk melaporkan apa yang Tuhan telah lakukan, dan kemudian terus melayani disana, bersama-sama (Acts 14:26-28).

Saat doktrin keselamatan diajarkan secara salah, yaitu bisa melalui usaha manusia, mulai memasuki gereja, kedua orang ini melawannya bersama sama (Acts 15:2a). Saat diputuskan untuk mengirim perwakilan ke Yerusalem untuk meminta nasihat para rasul dan tua-tua tentang masalah ini, kedua orang ini diminta untuk pergi, bersama-sama (Acts 15:2b). Bersama sama, mereka menyatakan betapa herannya perbuatan Tuhan diantara orang non Yahudi (15:12). Dan saat keputusan diambil dan surat dikirim dari para rasul kegereja, dikatakan, “Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus” (Acts 15:25,26). “Barnabas dan Paulus yang kami kasihi!” Itu sudah menjelaskan semuanya. Mereka merupakan sahabat sejati, merupakan tim pelayanan yang membawa berkat besar bagi gereja dan mendapat banyak kekaguman. Saat mereka menyelesaikan tugas, mereka kembali ke Antiokia dan terus mengajar dan mengabarkan Firman Tuhan, bersama-sama (Acts 15:35).

Munculnya Ketegangan

Ada dua hal yang terjadi selama tahun-tahun pelayanan sehingga menyebabkan ketegangan dalam hubungan mereka —hal yang mudah kita abaikan. Pertama, kepemimpinan tim berubah. Tidak diragukan bahwa Barnabas merupakan pemimpin pertama. Dia pastor gereja Antiokia yang pertama. Dia dihormati oleh orang-orang disana. Dia secara pribadi membawa Paulus untuk menolong pelayanan ini. Namanya terus muncul pertama kali dimasa itu, dengan alasan tepat. Saat 5 anggota staf pastoral didaftar dalam Acts 13:1, namanya muncul pertama, Saulus terakhir. Roh Kudus memanggilnya pertama kali untuk pelayanan misi (Acts 13:2), dan dia tetap didaftar pertama saat perjalanan berlangsung (Acts 13:7). Dia pemimpinnya.

Tapi sesuatu hal terjadi diperjalanan. Jauh dari lingkungan Antiokia dimana Barnabas dikenal sebagai pemimpin, Saulus (sekarang Paulus) mulai mengambil alih kepemimpinan. Kepribadiannya yang kuat dan karunia yang lebih menonjol menjadikan hal ini sesuatu yang alami. Dialah yang pertama kali berhadapan dengan penyihir bernama Elymas agar jangan menghalangi pengabaran injil (Acts 13:9-12). Saat mereka menyelesaikan pelayanan mereka dipulau Siprus, Lukas menyebut tim ini sebagai “Paulus dan kawan-kawan” (13:13). Sekarang itu telah menjadi “Paulus Evangelistic Association.” Itu perubahan besar, dan cukup tiba-tiba.

Kepemimpinan Paulus terlihat lebih nyata dalam synagogue di Pisidia (13:15,16). Kita tidak mendengar protes dari Barnabas, atau melihat indikasi kepahitan, iri hati atau sakit hati. Tapi kita harusnya bertanya apakah dalam hati Barnabas yang terdalam dia tidak merasa terluka mengenai hal ini. Apakah dia tidak berpikir kalau Paulus mengambil alih terlalu kuat, melakukan dengan cara Paulus, sehingga gagal mempertimbangkan perasaan orang lain? Apakah dia pernah menyatakan ini kepada Paulus?

Peristiwa kedua yang menegangkan hubungan mereka adalah peristiwa isolasi Antiokia tidak lama setelah pertemuan di Yerusalem. Kita tidak mengetahui ini di Kisah Para Rasul, tapi Paulus menyinggungnya dalam suratnya kepada jemaat Galatia. Petrus mengunjungi gereja Antiokia dan bersikap seperti Paulus dan Barnabas, tanpa prasangka terhadap orang Kristen non Yahudi. Dia masuk dengan bebas kedalam masyarakat, makan dan bersekutu tanpa halangan.

Tapi saat sekelompok orang Kristen Yahudi masuk ke Yerusalem dan memperingatkan prilaku Petrus, dia menjauhkan diri dan berhenti makan dengan orang non Yahudi. Walau kesamaan derajat social diakui oleh Antiokia, itu tetap tidak diterima oleh orang Yahudi ini, dan Petrus takut bisa menyebabkan masalah di Yerusalem. Paulus menyebutnya kemunafikan (Galatians 2:13). Dan dia benar. Itulah yang sebenarnya.

Tapi hal yang paling menyakitkan Paulus adalah teman dekatnya Barnabas mengijinkan dirinya terpengaruh oleh kemunafikan Petrus. Paulus kemudian menulis, “Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka” (Galatians 2:13).

Bisakah anda merasakan emosi dalam kata-kata ini, “sehingga Barnaba?” Paulus tidak percaya hal ini. Bagaimana Barnabas bisa melakukan hal itu? Dia lebih tahu. Dia mengerti doktrin anugrah, kebebasan orang Kristen dan kesatuan diantara semua orang percaya dalam Kristus. Dia sudah memperlakukan orang percaya di Antiokia dengan sederajat selama ini. Sekarang, karena takut akan perkataan beberapa orang Yahudi kepadanya diYerusalem, dia menjadi pengecut dan meninggalkan Paulus sendiri. Apakah itu tanda Barnabas sakit hati atas perubahan kepemimpinan sehingga dia dengan mudah berbalik dari Paulus?

Barnabas jelas mengakui kesalahannya dan bertobat. Luka itu akan sembuh, tapi bekasnya tetap ada, menyebabkan ketegangan pada persahabatan mereka. Kita bertanya apakah dikedalaman hati Paulus dia sudah tidak mempercayai Barnabas, mungkin saja dia berpikir Barnabas seorang yang plin-plan, yang bisa kompromi. Dia mengatakan hal ini dalam suratnya ke jemaat Galatia bahwa dia dia tidak benar-benar melupakan hal ini. Kita bertanya apakah mereka pernah membahasnya, atau mengabaikan hal itu, dan berharap semuanya akan baik-baik saja (seperti yang sering kita lakukan).

Perselisihan Besar

Jika perasaan diatas memang ada dalam diri Paulus dan Barnabas dan mereka tidak pernah mengungkapkannya, mengakuinya dengan jujur, atau membahasnya secara terbuka, anda bisa memastikan hal ini pasti menghasilkan perselisihan besar. Dan itulah yang terjadi tidak lama kemudian. Kronologinya, peristiwa berikut dalam persahabatan mereka muncul setelah’ tindakan munafik di Antiokia’. “Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka.” (Acts 15:36-38). Itu masalah prosedur yang sederhana. Itu kelihatan sangat tidak beraturan, kita mungkin berpikir mereka akan duduk bersama, membahas kemungkinan dan akibat, dan mencapai persetujuan bersama. Sebagai contoh, “mungkin sekarang jangan membawanya, tapi diperjalanan kedua saja.” Atau “Mungkin kita bisa membawanya, tapi kita harus ada syarat kedepannya.” atau, “mari kita bicara dengannya tentang kesungguhannya mengenai hal ini, mengetahui apa yang ada dibelakangnya dan kita bisa menghindarinya kelak.” Jelas sekali persetujuan bersama bisa ditemukan.

Tapi persetujuan bersama biasanya tidak ditemukan saat perasaan yang dipendam sudah dalam. Kita sudah disakiti, dan sakit kita sudah tertanam dalam, sedikit kemarahan yang tidak diakui. Dan sekarang, bahkan perselisihan kecil menjadi masalah besar bagi kita. Kita berkata pada diri sendiri, “saya tidak akan membiarkannya melakukan hal itu lagi pada saya, Saya tidak ingin dia yang bicara, saya tidak akan mundur. Jika saya membiarkan dia mengambil keuntungan atas saya saat ini, pasti dia akan melakukannya lagi dikemudian hari.”

Alkitab berkata, “Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan” (Acts 15:39,40). Kata Yunani untuk “perselisihan tajam” merupakan dasar bagi kata Inggris paroxysm, berarti, “suatu emosi atau tajam yang tiba-tiba.” Tidak ada cara menghapus perselisihan ini. Ini bukan hanya suatu perbedaan pendapat. Ini perdebatan serius. Emosi tersembur keluar. Kata-kata tajam saling dikeluarkan. Mungkin tuduhan yang tidak baik saling dilontarkan. Kata-kata berisi kejengkelan dan kemarahan.

Pertengkaran seperti ini sering muncul diantara orang Kristen—suami dan istri, orangtua dan anak-anak, orang-orang dipekerjaan, tetangga dan pemimpin gereja. Persahabatan hancur, keluarga terpecah, gereja terbagi. Apa alasannya? Kesombongan. Kita yakin pendapat kita benar dan yang lain salah. Jika pendapat kita ditolak, kita mungkin berpikir itu mencerminkan harga diri kita. Jadi kita melawan dengan segala cara untuk memenangkan pendapat dan melindungi harga diri kita.

Salah satu alasan lagi adalah informasi yang tidak memadai. Kita mungkin terlalu cepat menilai orang lain. Kita membentuk pendapat yang didasarkan atas pengalaman tertentu, atau kita mempercayai pendapat orang lain terhadap orang itu, dan langsung menyimpulkan motivasi mereka. Sekali penilaian kita terbentuk, kita cenderung melihat apapun yang mereka lakukan, katakan dengan kaca mata prasangka dan pendapat penilaian kita. Itu bisa membawa kepada kesalah pahaman yang berulang. Kita mengasumsikan hal itu karena orang itu sudah pernah salah diwaktu lalu, mereka pasti salah sekarang. Kita menolak untuk mempercayai bahwa manusia bisa bertumbuh dan berubah.

Tapi alasan paling umum atas perselisihan antar orang percaya adalah kurang komunikasi, terutama sekali kita gagal membagikan perasaan kita. Kita lebih mudah menuduh, menegur atau menghukum yang lain, bertengkar untuk hal sepele atau berkeras melakukan suatu hal dengan cara kita, daripada mengakui dengan jujur sakit hati kita, ketidakamanan kita, rendah diri, kekhawatira, keegoisan atau iri hati. Kita tidak ingin terlihat buruk, jadi kita menutupi perasaan itu.

Jika kita ingin menghindari perselisihan tajam seperti ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, dan yang pertama adalah belajar mengakui perasaan kita dan membahasnya. “Saya merasa sakit hati saat kamu melakukan itu. Tapi saya ingin semuanya berjalan benar diantara kita. Bisakah kita membahasnya?” “Saya merasa direndahkan saat kamu mengatakan hal itu. Maukah kamu menjelaskan maksudnya?” Saat kita menolak untuk bicara, dan sebaliknya, membiarkan perasaan itu mendidih, ledakan pasti akan datang. Jangan biarkan itu. Bicara! Secara terbuka dan jujur bicara! Bukan tentang kesalahan orang lain, tapi tentang apa yang kamu rasakan. Tidak ada bukti bahwa Paulus dan Barnabas melakukan hal ini.

Salah Satu hal yang perlu kita lakukan adalah mengijinkan perbedaan pendapat. Tuhan tidak membuat kita sama. Kita memiliki perbedaan latar belakang dan kita berpikir berbeda tentang banyak hal. Jika Tuhan bisa menerima kita semua dengan seluruh perbedaan kita, jelas kita bisa belajar menerima satu sama lain. Untuk masalah yang sudah jelas dalam Alkitab, kita tidak bisa kompromi. Tapi kebanyakan masalah bukan tentang benar atau salah. Kita tidak bisa secara dogmatis berkata bahwa baik Paulus maupun Barnabas benar atau salah. Gereja sepertinya mempercayai Paulus (Acts 15:40). Tapi itu tidak berarti gereja menolak Barnabas. Itu hanya berarti bahwa Paulus sekarang dianggap pemimpin, bahkan di Antiokia. Cerita selanjutnya dalam Kisah Para Rasul adalah tentang Paulus, tapi ini terjadi sejak dia menjadi pemimpin dalam gereja. Roh Tuhan tidak mengatakan siapa yang salah atau benar.

Paulus punya alasan. Memang sangat mengecewakan saat seseorang yang anda percayai mengecewakan anda seperti Markus. Tapi Barnabas juga punya alasan. Tidak ada yang sempurna; juga Paulus, bahkan Petrus, Barnabas, atau Markus tidak seorangpun. Setiap orang bisa mendapat kesempatan membuktikan diri. Pertanyaannya bukan “siapa yang benar dan salah?” Tapi, “Bagaimana kita bisa bekerjasama dalam kasih untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan pada kita?” Tuhan ingin kita belajar anugrah toleransi bagi sesama. Paulus dan Barnabas kehilangan hal ini.

Satu hal penting—cepat memaafkan. Kita semua manusia. Kita membiarkan nature dosa mengambil saat terbaik kita, dan kita mengatakan hal yang salah dengan cara yang salah. Kita butuh sabar dan pengertian, serta kemauan untuk memaafkan. Kita semua pernah melakukan hal bodoh. Kita ingin orang lain memaafkan kita saat kita melakukan hal itu, demikian juga kita harus berlaku sebaliknya pada mereka. Paulus dan Barnabas gagal dalam hal ini.

Akhir yang Baik

Bagian yang paling menghibur dari cerita ini adalah kepastian bahwa Tuhan kita yang mengontrol semua situasi. Setan memang bekerja, nature dosa menyala, tapi Tuhan Maha Kuasa. Dia bisa mengubah keadaan menggagalkan konflik, tapi Dia mengijinkan itu, dan Dia melakukan semua bagi mereka yang mengasihi Dia. Dia mengerjakan semua untuk kebaikan.

Disatu sisi, itu menjadi pengalaman yang mendewasakan bagi orang yang terlibat, terutama Paulus. Dia telah memberikan reaksi yang terlalu keras (lihat Acts 23:3; juga 17:16 disana bentuk kata kerjanya sama dengan dalam, “perselisihan tajam.” ). Tapi Tuhan bekerja dalam kelemahannya. Beberapa waktu kemudian dia menulis bahwa kasih “tidak pemarah” (1 Corinthians 13:5, KJV, dan sekali lagi, dia menggunakan bentuk kata kerja yang sama). Saya berpikir, saat dia menulis kata-kata itu, dia merefleksikan kembali peristiwa tidak menyenangkan itu. Perselisihan itu menolong dia melihat kelemahannya dan meminta kuasa Tuhan untuk bisa mengasihi.

Salah satu keuntungan yang Tuhan lakukan melalui konflik adalah mengirim 2 misionaris daripada hanya satu. Walau ini bukan cara terbaik mencapai tujuan, mungkin itu tidak bisa dicapai dengan cara lain. Jadi walau perselisihan itu sendiri tidak memuliakan Tuhan, hasilnya terjadi. Tuhan bisa melakukan itu pada kita juga. Dia bisa menemukan cara bahkan menggunakan kesalahan akibat kebodohan dan keegoisan kita untuk memuliakan DiriNya. Tidak ada alasan untuk dosa, tapi itu jelas mendorong kita mengingat kesalahan yang kita perbuat.

Salah satu hasil yang nyata dan penting dari perselisihan adalah suatu hidup diselamatkan untuk digunakan Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi pada Markus jika Barnabas tidak membawa dia dibawa pengawasan dan pemeliharaan rohani dalam imannya. Bahkan Paulus kemudian mengakui bahwa Markus berguna bagi pelayanannya (2 Timothy 4:11). Itu sangat menghibur bahwa Tuhan bisa menggunakan kesalahan kita untuk mencapai sesuatu yang berguna dalam hidup kita atau dalam hidup orang lain.

Walau tidak ada bukti bahwa Paulus dan Barnabas pernah memulihkan hubungan dekat mereka, kepahitan telah dibersihkan dan mereka kembali saling menghormati. Paulus dalam suratnya yang kemudian bicara tentang kebaikan dan rasa hormatnya pada Barnabas (1 Corinthians 9:6). Dan saya percaya ada reuni besar disorga.

Tapi jangan menunggu sampai itu terjadi. Mari belajar terbuka dan jujur dengan sesama tentang perasaan kita sekarang, bicara lebih terbuka tentang mereka, menerima dan mengasihi satu sama lain saat kita berbeda, menghindari menghakimi motivasi orang lain, toleran terhadap pendapat orang lain, dan mengampuni satu sama lain dengan cepat saat nature dosa melakukan hal yang menyakitkan. Baru pernikahan bisa dipulihkan, persahabatan pulih, perselisihan didamaikan, gereja dikuatkan dan Tuhan dimuliakan.

Related Topics: Man (Anthropology), Basics for Christians, Christian Home, Forgiveness