Where the world comes to study the Bible

Nyatakanlah KemuliaanMu

Sebagian orang mengejutkan saya. Sesaat setelah saya menemui mereka, saya merasa ada yang luar biasa dari diri mereka. Pemikiran mereka mendalam dan mendasar. Pemikiran mereka kreatif dan menarik. Usulan mereka praktis dan menguntungkan. Mereka memancarkan sinar yang tidak biasa dan perhatian pada orang lain. Saya menemukan diri saya bertanya pada mereka dan mendengarkan jawaban mereka denga seksama karena saya ingin lebih mengenal mereka, menemukan apa yang mereka pikirkan, bagaimana perasaan mereka, dan apa yang membuat mereka seperti itu. Bisa mengenal mereka merupakan suatu yang sangat menolong bagi saya.

Satu hari nyata bagi saya bahwa Tuhan merupakan pribadi yang paling menarik yang pernah hidup dan bisa mengenal Dia merupakan hal paling menolong yang pernah terjadi terhadap diri saya. Semakin saya menyelidiki naturNya, semakin saya yakin kalau pengenalan saya menolong semua masalah saya. Dan saat saya mendengar orang lain mensharingkan beban mereka kepada saya sebagai pastor, saya jadi yakin bahwa pengenalan akan Tuhan yang lebih baik merupakan jawaban masalah mereka. Saya memutuskan kalau saya harus lebih mengenal Tuhan, dan juga saya ingin orang lain mengenal Tuhan, semampu saya.

Banyak pelajar Alkitab percaya, sebagai hasil penyelidikan Alkitab mereka bahwa pekerjaan orang Kristen yang paling penting adalah mengenal Tuhan. Apakah anda bisa berkata anda mengenal Tuhan secara pribadi? Jika ya, seberapa baik? Kurang? Cukup? Sangat dekat? Penelitian menunjukan bahwa, selain meningkatnya sekularisme dalam masyarakat kita, mayoritas orang Amerika tetap percaya keberadaan Allah. Hampir semua memiliki keraguan tentang itu, tapi rata-rata setelah merenungkannya, mereka jadi yakin tentang itu. Harus ada Tuhan yang punya pribadi.

Tapi jika orang yang sama ditanya, “apakah anda mengenal Tuhan secara pribadi?” banyak yang mengakui kalau mereka tidak pernah memikirkan tentang itu. Memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan merupakan sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh mereka. Kenyataannya, mereka tidak yakin bahwa Tuhan bisa dikenal, atau mereka ingin mengenalNya jika mereka tahu itu bisa.

Kita semua memiliki gambaran tentang seperti apa Tuhan itu. Psikolog mengatakan bahwa gambaran itu sebagian besar terbentuk melalui hubungan kita dengan ayah kita. Bagi beberapa orang, Tuhan merupakan tirani yang mengecewakan mereka setiap saat. Siapa yang ingin mengenal Tuhan seperti itu? Bagi yang lain, Tuhan seorang yang terlalu kaku dalam disiplin yang selalu mengawasi setiap tindakan mereka, siap berkata pedas jika mereka keluar jalur. Mereka ingin menjauh dari Tuhan seperti itu. Dan bagi yang lain, Tuhan seperti ayah yang tidak pernah hadir karena terlalu sibuk untuk peduli pada mereka. Dia memang menciptakan mereka tapi sekarang dia punya hal yang lebih penting untuk dilakukan. Tidak ada gunanya mencoba mengenal tuhan seperti itu. Dan bagi yang lainnya lagi, Tuhan seperti bapa leluhur yang enak untuk dikenal, tapi yang tidak benar-benar mengerti mereka atau jika dia mengenalNya tidak ada kesamaan. Jadi kenapa pusing-pusing berusaha?

Sebagian besar orang ingin Tuhan yang membela mereka daripada melawan mereka, atau Dia ada disaat mereka membutuhkanNya. Tapi mengenalNya secara pribadi? Konsep itu asing bagi mereka. Saya sering bertanya, apa yang Tuhan pikirkan mengenai semua ini. Dia juga seorang pribadi. Dia berpikir. Dan Dia memiliki perasaan. Bagaimana perasaan anda jika anda tetap mensharingkan diri anda pada orang lain dalam persahabatan, tapi sebagian besar orang yang anda jangkau menolak menerima anda atau menolak percaya apa yang anda katakan tentang diri anda? Mereka terus menerus mengulang prasangka mereka tentang anda dan terus mengabaikan anda. Itu mungkin yang dirasakan Tuhan tentang situasi ini.

Tuhan bisa dikenal, dan Dia ingin dikenal. Kenyataannya, Dia mengatakan pada kita bahwa kekekalan kita tergantung atas pengenalan akan Dia. Yesus berkata, “nilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (John 17:3). Mengenla Tuhan dan AnakNya Yesus merupakan inti hidup kekal. Kata mengenal dalam ayat ini tidak menunjuk pada pengenalan biasa. Itu merupakan pengenalan yang didapat dari hubungan pribadi dan hidup. Jika mengenal Tuhan sepenting itu, mungkin kita harus mencari tahu bagaimana kita bisa mengenal Dia.

Seorang yang Ingin Dikenal Harus Menyatakan Diri Terlebih Dahulu

Apa artinya mengenal seseorang? Jelas, pertama kali kita harus tahu sesuatu tentang dia, apa yang disukainya, bagaimana cara pikirnya, dan bagaimana dia bertindak dalam keadaan tertentu. Dan itu hanya bisa terjadi jika dia menyatakannya pada kita.

Jika saya ingin mengenal anda, saya perlu membuka diri saya, menjangkau anda dengan cara bersahabat, dan menunjukan ketertarikan dalam anda. Tapi itu hanya sedikit dampaknya sampai anda juga membuka diri anda. Andalah kuncinya. Anda yang memutuskan apakah mau atau tidak saya mengenal anda. Jika anda ingin saya mengenal anda, anda akan terbuka dan mengatakan tentang diri anda—pemikiran anda, apa yang anda percaya, perasaan anda. Anda akan menjadi diri anda dihadapan saya, yaitu yang sebenarnya dari pribadi anda. Anda tidak akan memasang topeng, atau selalu mengatakan yang terbaik saja.

Salah satu alasan hanya sebagian orang Kristen menikmati persahabatan sejati adalah mereka takut orang mengenal mereka, takut mereka tidak disukai atau bisa dipercaya jika seseorang mengenal pribadi anda sesungguhnya. Jadi mereka bermain petak umpet. Tuhan tidak seperti itu. Dia ingin dikenal. Dia yakin kalau kita mengenal dia dengan baik, kita akan semakin mengasihiNya, semakin percaya, semakin memujiNya, dan melayani Dia. Jadi dia berinisiatif dan membuka diri. Dia mengatakan tentang diriNya pada kita. Harus seperti itu. Tidak akan ada pengenalan pribadi akan Tuhan kecuali Dia membuka diriNya.

Bagaimana Tuhan menyatakan diriNya? Salah satu cara melalui alam. “Langit menceritakan kemuliaan Allah” (Psalm 19:1). Dia juga menyatakan DiriNya dalam sejarah. Seperti yang sudah dipelajari Raja Nebuchadnezzar dari Babylon, “Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia” (Daniel 4:17). Rasul Paulus mengajarkan kita bahwa Tuhan menyatakan hukumNya pada pikiran manusia (Romans 2:14-16). Tapi semua ini tidak memberikan kita petunjuk khusus tentang pribadi dan nature Allah. Kita memerlukan sesuatu yang lebih. Kita memerlukan Dia bicara pada kita. Dan Dia melakukannya, tidak melalui pengalaman mistis, tapi melalui Firman. Itu semua adalah perkataan Tuhan kepada kita. Itu diberikan melalui mulutNya (cf. 2 Timothy 3:16; Matthew 4:4). Dalam Alkitab Tuhan memberitahukan tentang diriNya. Kita belajar bagaimana pemikiranNya, perasaanNya, dan bagaimana kita mengharapkan tindakanNya. Jika kita ingin mengenal Tuhan, kita harus mulai dengan membuka Alkitab dan membaca apa yang dikatakanNya tentang dirinya sendiri.

Tapi Tuhan itu tidak terbatas, dan kita terbatas. Bagaimana yang terbatas bisa memahami yang tidak terbatas? Bagaimana manusia bisa benar-benar mengenal ilahi? Kelihatannya Tuhan harus menyatakan diriNya pada kita secara pribadi daripada sekedar tulisan jika ingin kita memiliki pengenalan sejati. Dan itulah yang dilakukanNya. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Hebrews 1:1-3). Yesus Kristus merupakan kemuliaan Tuhan dan keberadaan Tuhan sendiri. MengenalNya sama dengan mengenal Tuhan. Yesus sendiri menyatakan itu, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (John 14:7).

Walau Yesus telah kembali kesurga, Tuhan telah memberikan kita tulisan tentang kehidupanNya dan juga semua hal yang diperlukan agar kita bisa mengenalNya secara pribadi. Kita bisa mengenal Kristus seperti kita berjalan denganNya dibumi seperti yang dilakukan para muridNya. Dan mengenalNya sama dengan mengenal Tuhan.

Tentu saja, kemahiran rohani yang kita butuhkan tidak bekerja saat kita dilahirkan. Alkitab mengatakan kalau mereka mati. Mereka perlu dihidupkan dihadapan Allah (cf. Ephesians 2:1). Tuhan melakukan itu saat kita mengakui kesalahan kita dan percaya pada Kristus yang mati diKalvary. Dalam kelahiran baru, kelahiran rohani, kelahiran yang datangnya dari atas, Dia memberikan kita hidup kekal, kehidupan rohani (cf. John 3:3, 16). Dia masuk kedalam kita dalam pribadi Roh Kudus dan membawa kita kedalam hubungan pribadi dengan diriNya. Kemudian baru kita bisa berkata, “Aku mengenal Tuhan.” Pengenalan akan Tuhan dimulai dikayu salib Yesus Kristus. Inilah pengenalan yang dimaksud saat Dia berkata bahwa hidup kekal adalah mengenal Bapa dan DiriNya. Mengenal Tuhan dalam hal ini berarti menjadi orang Kristen sejati.

Dari situ kita memiliki sumber rohani untuk mengenalNya lebih baik. Dan itulah keinginanNya. Dia mendorong kita untuk bertumbuh dalam pengenalan akan diriNya (2 Peter 3:18). Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Dia sudah berinisiatif dan menyatakan diriNya. Langkah berikutnya dari kita.

Seseorang yang Ingin Dikenal Harus Berespon

Membangun Keinginan. Mari kita kembali kegambaran manusia. Jika saya ingin mengenal anda, pertama kali anda harus membuka diri anda pada saya dan berbagi dengan saya. Tapi saya tetap tidak mengenal anda kecuali saya berespon pada pernyataan anda. Kualitas respon saya tergantung pada besar kecilnya keinginan saya. Apakah pengenalan pertama saya membangkitkan keinginan untuk lebih mengenal lagi? Apakah saya tetap ingin mengejar hubungan dan membawanya ketingkat yang lebih dalam ? Walau disaat pertama anda kuncinya, sekarang saya kuncinya. Saya memutuskan apakah saya mau atau tidak mengenal anda lebih jauh.

Sebagian orang Kristen tidak berespon banyak terhadap hubungannya dengan Tuhan. Mereka sudah cukup mengenalNya untuk kebutuhan keselamatan, dan mereka telah bertemu denganNya secara pribadi dalam hubungan keselamatan, tapi mereka tidak bergerak dari sana. Sayangnya mereka menjadi sibuk dengan hal lain, dan waktu mereka mengenal Tuhan tidak ada. Walau mereka mengenalNya, itu bukan pengenalan yang intim. Itu menjelaskan beberapa masalah dalam hidup mereka, seperti kekhawatiran, ketakutan yang tiada akhir, rasa bersalah, kecemasan, dan depresi roahani, karena semua itu berhubungan dengan pengenalan akan Tuhan. Dan semua itu tidak akan berubah sampai mereka mengembangkan keinginan membara untuk mengenal Tuhan lebih dalam.

Mengenal Tuhan lebih baik merupakan masalah penting dalam kehidupan Kristen. Itu mempengaruhi begitu banyak aspek kehidupan rohani kita. Sebagai contoh, sebagian besar orang percaya yang ingin menyenangkanNya ingin mengenal kehendakNya. Mereka bertanya, “Apa yang Tuhan ingin saya lakukan?” Mengenal Dia lebih baik akan menyediakan jawaban pertanyaan itu. Saat pengenalan anda bertumbuh, kita mulai berpikir seperti Dia berpikir, melihat seperti Dia melihat, terbeban seperti bebanNya. Kita tidak perlu bertanya apa yang Dia ingin kita lakukan. Kita akan tahu. Dan itulah alasan untuk mulai membangun keinginan kuat mengenalNya.

Musa memiliki keinginan itu. Kita tentang itu diperistiwa pemujaan lembuh emas. Musa membangun tenda diluar perkemahan dan bertemu dengan Tuhan secara rutin. Tuhan bicara denganNya muka dengan muka seperti manusia bicara pada temannya, dan Musa semakin mengenalNya. Tapo dia ingin mengenalNya lebih jauh. “Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau” (Exodus 33:13). Itulah keinginan membara hatinya—sungguh-sungguh ingin mengenal Tuhan. Permintaannya menghasilkan janji dari Tuhan: “Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu” (Exodus 33:14). Itu merupakan kepastian yang indah tentang bimbingan dan perlindungan.

Tapi itu tidak cukup bagi Musa. Setiap kali Tuhan menyatakan dirinya, muncul kelaparan dalam hati untuk ingin lebih mengenalnya. Dengan keinginan dalam hatinya dia berkata, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku!” (Exodus 33:18) Kemuliaan Tuhan merupakan keseluruhan atributNya. Musa berseru ingin mengenal semua yang bisa manusia tahu tentang Tuhan. Dia sadar bahwa hidup dalam dunia ini kosong dan tiada arti diluar pengenalan yang intim akan Tuhan yang menciptakan dan mengatur dunia, yang menciptakan dirinya dan memberikannya hidup. Dia ingin mengenal Tuhan dan berseru dari kedalam hatinya, “perlihatkanlah kemuliaanMu kepadaku.” Orang itu siap menerima pengenalan akan Tuhan.

Daud memiliki keinginan yang sama. Kita melihat itu berulang-ulang diseluruh Mazmur:

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini:

diam di rumah TUHAN seumur hidupku,

menyaksikan kemurahan TUHAN

dan menikmati bait-Nya (Psalm 27:4).

Berdiam dirumah Tuhan adalah hidup dalam hubungan yang intim dengan Tuhan. Itulah keinginan Daud:

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair,

demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup.

Bilakah aku boleh datang melihat Allah? (Psalm 42:1-2)

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau,

jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, s

eperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. (Psalm 63:1).

Paulus juga memiliki keinginan yang sama: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Philippians 3:7-8). Semua kedudukan, pujian, kekuasaan, prestige, dan harta dibumi seperti sampah jika dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus karena semua itu tidak memiliki nilai yang kekal. Itu semua tidak bernilai dalam pikirannya.

Kenapa setiap orang ingin duduk dan mengejar sampah? Ya, itulah yang dilakukan sebagian orang percaya. Mereka berhasrat memiliki hal duniawi dibanding pengenalan akan Tuhan; Mereka lebih memilih sampah padahal mereka bisa mendapat hal terbaik dalam hidup—suatu hubungan yang dekat dengan Tuhan. Keinginan Paulus dalam hidup ini adalah mengenal Kristus (Philippians 3:10). Itulah sebabnya Tuhan memakainya dengan luar biasa. Keinginannya sangat kuat. Mintalah Tuhan memberikan anda keinginan yang sama, untuk menolong anda haus akan Dia. Kemudian mulai membaca FirmanNya dengan mata yang sudah terbuka tentang diriNya. Setiap pernyataan baru akan lebih menguatkan kita untuk lebih mengenalNya.

Terima Apa yang Sudah Tuhan Nyatakan. Setelah membangung hasrat, langkah berikutnya adalah menerima apa yang sudah dinyatakan tentang diriNya. Yaitu atribut Allah. Atribut yang menunjukan karakteristik, yang dinyatakan Tuhan sebagai diriNya. Itu bukan hanya bagian atau kualitas yang menunjukan siapa Dia—tapi inti keberadaan, nature, karakterNya. Tuhan dan atributnya sebenarnya satu. Saat kita mempelajari atribut, kita tidak hanya belajar Tuhan seperti apa, tapi siapa Dia.

Sebagian Teolog memberi perbedaan tajam antara esensi Allah dan atributNya, tapi itu sebenarnya tidak perlu. Keseluruhan atributNya menunjukan siapa Dia, esensi keberadaanNya. Jika anda menggambarkan semua bagian yang bisa menunjukan suatu hal, itu esensi. Demikian juga, jika anda bisa menggambarkan semua atribut Allah, anda bisa menunjukan esensiNya, siapa Dia.

Jelas, kita tidak tahu semua tentang Allah. Kita dibatasi oleh apa yang dinyatakan oleh DiriNya melalui FirmanNya. Dan dengan pikiran kita yang terbatas, kita tidak bisa memahami semuanya itu. Tapi apa yang bisa kita tangkap dari pernyataanNya bisa memperkaya keberadaan kita dibumi dan menyediakan sukacita besar dari hal lain dalam hidup. Itu membawa kita berhubungan dengan Tuhan.

Ada perdebatan diantara teolog tentang penggolongan atribut Allah. Sebagian membedakan atribut alami dari atribut moral, yaitu yang berasal dari nature dasar dan yang menunjukan diriNya sebagai pribadi, keberadaan moral. Sebagian lagi memisahkan atribut yang bisa dikomunikasikan dan yang tidak bisa dikomunikasikan, yaitu yang ada perbandingannya dalam hidup manusia dan yang tidak ada contoh perbandingannya. Sedangkan kelompok lainnya berkeras bahwa atribut immanent adalah yang berhubungan dengan Tuhan sebagai diriNya, dan atribut transitive menunjukan DiriNya pada ciptaanNya. Kenapa kita perlu mengelompokan atribut Tuhan? Dia adalah Dia. Saya lebih memilih mengenalNya sebagaimana adaNya Dia tanpa mengesampingkan semua atribut itu.

Seperti kita lihat, Tuhan menyatakan diriNya dalam FirmanNya, anda mungkin berkata, “Itu bukan cara yang selalu saya pikirakan tentang Tuhan.” Tapi apa yang selalu kita pikir tidak selalu penting. Memusatkan diri pada hal itu bisa membingungkan kita. Kita perlu memusatkan diri pada apa yang Tuhan katakan tentang DiriNya. Sebagai contoh, jika saya memiliki praanggapan tentang anda yang tidak akurat, tapi saya terus memegang itu walau anda sudah menyatakan kebenaran tentang diri anda, saya jelas tidak akan pernah mengenal anda. Saya harus menerima apa yang anda katakan tentang diri anda. Demikian juga, saat Tuhan mengatakan siapa Dia dan bagaimana tindakanNya perlu kita percayai. Itu sangat penting untuk mengenalNya. Tapi ada hal lain yang perlu kita mengerti.

Libatkan Seluruh Keberadaan Anda. Setelah keinginan sudah dibangun, dan keputusan untuk menerima apa yang dinyatakanNya sudah dibuat, harus ada komitmen yang jelas padaNya yang melibatkan seluruh keberadaan kita. Dalam ilustrasi manusia kita, saya tidak bisa mengenal anda dengan intim kecuali saya mengkomitmenkan diri saya untuk ada waktu bersama anda, sama-sama tertarik terhadap hal yang anda sukai, memperhatikan apa yang anda juga perhatikan, dan bergembira terhadap apa yang membuat anda gembira. Saya harus sepenuhnya terlibat dalam hidup anda. Sayangnya, sebagian besar dari kita berhenti dititik ini dalam pengenalan akan Tuhan.

Jika kita benar-benar ingin mengenal Dia, itu harus melibatkan keseluruhan pribadi kita—kepintaran, emosi dan kehendak. Sayangnya, kita hidup dimasa yang ekstrem. Disatu sisi ada orang yang betul-betul tahu semua doktrin tentang Allah, tapi sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Dia. Disisi lain, ada yang begitu mementingkan pengalaman perasaan rohani, tapi sama sekali tidak tahu apa-apa tentang doktrin Allah. Diantara keduanya, orang yang berkata mereka mengenal Tuhan tapi tidak melakukan kehendakNya untuk taat.

Ketiga bagian kepribadian kita terlibat dalam pengenalan akan Tuhan. Pertama, kita belajar tentang Dia dengan otak kita. Kita belajar Firman, menyerap informasi yang dinyatakanNya, merenungkannya, kemudian berpikir implikasi dan aplikasi dalam kehidupan kita. Itu semua fungsi otak. Otak harus terlibat dalam pengenalan akan Tuhan. Jika kita tidak memiliki informasi yang benar tentang Dia, kita tidak bisa mengatakan kalau kita mengenalNya.

Tapi kita tidak boleh berhenti di otak. Saat kita lebih tahu, kita lebih terlibat secara emosi denganNya. Dan itu tidak perlu ditakuti. Tidak beralasan jika kita menjauh dari pengekspresian emosi iman kita. Saat kita melihat kedalam kasihNya bagi kita, bisa membuat kita menangis atau berteriak memuji. Itu pasti menyukakan Dia. Saat kita mengerti implikasi anugrahNya atas pendosa yang tidak layak seperti kita, kita bisa menyanyi, walau tidak terlalu cocok dengan nadanya. Saat kita mengalami pengampunanNya, kita akan merasa lega, dan kasih, dan sukacita, dan rasa aman. Saat kita melihat orang lain menolakNya, kita akan sedih. Itu semua emosi, dan pengenalan akan Allah tidak menghilangkan hal itu.

Tapi kita tidak boleh berhenti dengan pengetahuan dan pengalaman perasaan. Kita harus melakukan apa yang sudah kita temukan. Kita harus memilih melalui tindakan kehendak kita yang sesuai dengan informasi dan perasaan yang sudah kita alami. Tidak semua orang melakukan itu. Paulus berkata tentang orang yang mengaku mengenal Tuhan tapi menolak Dia melalui perbuatan mereka (Titus 1:16). Yohanes lebih jauh berkata bahwa seorang yang berkata mengenal Tuhan tapi menolak taat adalah pembohong (1 John 2:4).

Mari kita kembali keilustrasi manusia. Jika saya sudah mengenal anda dengan intim, anda akan mengharapkan hal tertentu dari saya, hal-hal seperti kesetiaan, persekutuan, keterbukaan, dan keinginan untuk menyenangkan anda. Itu semua harus dilakukan atas dasar pilihan kita.

Kita tidak bisa mengatakan, kita mengenal Tuhan karena kita memiliki informasi tentang Dia atau mengalami pengalaman emosi dengan Dia. Jika kita benar-benar mengenal Dia kita akan melakukan apa yang dikehendakiNya. Kita akan berjalan dengan Dia, dengan bebas mengatakan padaNya apa yang ada dalam hati kita, jujur mengakui kegagalan kita, dan percaya pada perkataanNya, bergantung padaNya, menyerahkan diri kita padaNya, taat, dan memuji Dia karena pengenalan akan DiriNya. Saat kita melakukan hal itu, pengenalan kita akan lebih berarti dan penuh.

Keinginan kita untuk mentaati Tuhan akan sangat meningkatkan pengenalan akan Dia. Sebagai contoh, jika saya menyatakan keinginan saya untuk taat pada perintah anda, saya akan belajar banyak hal tentang anda melalui hal yang anda minta saya lakukan. Semakin saya taat, semakin anda memerintah saya, semakin saya belajar. Saat saya berhenti mendengarkan anda, saya berhenti bertumbuh dalam pengenalan saya.

Anne Sullivan, yang mengajar Helen Keller yang buta dan tuli, menyadari bahwa tidak ada gunanya mencoba mengajar gadis kecil ini sampai dia belajar taat padanya. Dia yakin ketaatan merupakan pintu masuk pengetahuan kedalam pikiran anak kecil itu. Hal yang sama juga berlaku pada anak Tuhan. Ketaatan merupakan pintu masuk pengenalan akan Dia. Sebagian dari kita telah terhalang. Mengenal Dia lebih baik membutuhkan penyerahan diri secara penuh dan memutuskan untuk taat sepenuhnya juga.

Jika masalah itu sudah selesai dan anda ingin terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, saya akan menolong dengan memberikan beberapa informasi yang sudah dinyatakanNya dalam Firman. Saya merasa tidak layak, tapi saya akan mencobanya. Selanjutnya terserah anda. Anda perlu percaya pada perkataanNya, kemudian komitmenkan diri anda padaNya. Itu berarti harus ada beberapa perubahan dalam cara anda hidup, tapi keuntungannya melimpah. Mungkin kita perlu melihat keuntungannya sebelum kita menyelidiki atributnya. Itu tujuan dari bab berikut.

Tindakan yang Perlu diambil

Pastikan anda setiap hari meminta Tuhan menunjukan sesuatu tentang Dirinya, dan kedua anda membaca sebagian Firman setiap hari, mencari beberapa kebenaran tentang diriNya. Mulailah sekarang.

Related Topics: Theology Proper (God)