Where the world comes to study the Bible

Wajah Iman

Penerjemah: Yoppi Margianto

George Muller adalah seseorang yang memiliki iman yang besar. Ia adalah pendiri pelayanan yatim piatu Inggris Raya. Saya ingin menceritakan kepada Anda sedikit tentang dia.

Sebagai mahasiswa Universitas Halle—lulus tahun 1825—Muller lebih tertarik kepada wanita, alkohol dan kesenangan duniawi daripada studinya. Ketertarikannya terhadap kekristenan hampir-hampir tidak ada. Namun Allah bekerja di dalam kehidupan Muller sehingga ia mulai memikirkan tentang janji-janji iman dari Yesus yang terdapat di dalam Injil. “Apakah Yesus sungguh-sungguh dengan apa yang dikatakan-Nya tentang “meminta”? tanya Muller di dalam hatinya.

Suatu hari ketika ia duduk di ruangannya, sambil memandang keluar sampai ke laut, Muller memikirkan tentang orang-orang yang dikenalnya yang mengalami rasa takut akan hidup ini atau bahkan takut menerima tantangan pekerjaan yang dapat mengubah kehidupan.

Ketika ia tengah memikirkan janji-janji iman dari Yesus dan orang-orang yang hidupnya hampa dan membosankan, ia melihat dua orang anak perempuan yatim piatu sedang berjalan di atas kerikil jalanan, tidak ada seorang pun mempedulikan mereka. Ayah mereka meninggalkan mereka merantau dengan kapalnya ke Magellan Straits dan dua minggu kemudian ibu mereka meninggal karena tuberkolosa. Muller mengenal kedua gadis berusia sebelas dan tiga belas tahun ini, dan ia tahu bahwa mereka masih mempunyai tiga adik di rumah yang berusaha mereka pelihara. “Apa yang akan terjadi pada mereka?” tanya Muller.

Muller melihat sebuah Alkitab terbuka dan tergeletak di atas meja di sebelahnya. Tiba-tiba Tuhan berbicara kepada Muller melalui satu ayat Alkitab, “Bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh” (Mzm 81:11). Sambil menundukkan kepalanya, Muller berkata kepada Tuhan bahwa ia sedang membuka mulutnya untuk meminta bimbingan-Nya, dan saat itu ia berjanji untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki.

Tahun 1830 ia menikahi Mary Groves dan mereka memutuskan untuk meninggalkan semua harta duniawi dan bergantung pada Allah saja untuk setiap kebutuhan hidup mereka. Mereka membagi-bagikan harta milik mereka tanpa memberitahukan seorang pun mengapa mereka melakukan hal itu.

Muller membuka panti asuhannya yang pertama pada tanggal 21 April 1836, di sebuah gedung sewaan. Beberapa hari kemudian, mereka mendapatkan empat puluh tiga anak untuk diasuh. Salah satu komitmen yang dibuat oleh Muller dan para pekerjanya kepada Allah adalah ini: Mereka tidak akan pernah menggalang dana, tidak akan pernah berutang, dan kondisi keuangan mereka akan selalu diaudit setiap tahunnya.

Melalui doa yang terus-menerus untuk berkat Allah dan bergantung pada-Nya untuk menyediakan berkat-berkat itu, pelayanan Muller berkembang sangat pesat. Dimulai dengan empat puluh tiga anak di sebuah gedung sewaan, mereka akhirnya memiliki lima gedung baru, 110 pekerja dan 2.050 anak yatim piatu.

Sebelum Muller membuka gedung pertama yang disewanya bagi anak-anak yatim, ia berkata kepada Bapanya di surga bahwa usaha yang dilakukannya itu akan dinilai gagal apabila seorang anak di panti asuhannya melewati satu hari tanpa makanan.

Allah memberkati dengan luar biasa. Anak-anak di situ tidak mendapatkan asuhan secara minimal, melainkan maksimal: masing-masing memperoleh tiga pasang sepatu, tiga setel kemeja untuk anak laki-laki, dan lima baju untuk anak perempuan. Juga, meja-meja selalu dilapisi taplak berwarna putih untuk makan malam bersama dan jika sedang musimnya, bunga-bunga di atas meja selalu tersedia.

Selama lebih dari enam puluh tahun, sebagaimana dicatat oleh George Muller di dalam “jurnal”nya, secara ajaib Allah memberkati iman George dan May. Itu merupakan kesaksian yang sangat kuat tentang bagaimana Allah menyediakan kecukupan bagi umat-Nya. Ketika Muller berusia tujuh puluh tahun, ia mulai berkeliling membagikan berkat Allah di dalam pelayanannya kepada orang-orang percaya di empat puluh dua negara.

Kehidupan George Muller adalah suatu kesaksian yang tak dapat dibantah tentang anugerah iman yang membawa kepada berkat.1 Ia menjadi suatu model modern dari orang kudus sebagaimana model-model di jaman lampau yang dicatat di dalam Alkitab. Ia adalah tipe manusia yang jarang di jamannya, yang secara aktif mempercayai Allah setiap hari. Dan memang, banyak orang menyebutnya sebagai “manusia yang penuh iman”.

Pertanyaannya, dari mana iman George Muller itu datang? Bagaimana kita dapat membangun iman yang besar seperti itu? Barangkali Muller memang memiliki karunia iman yang khusus (1 Kor 12:9), tetapi biar bagaimanapun, kita semua perlu bertumbuh di dalam iman. Jelas bahwa imannya bertumbuh dari kebutuhan, tetapi faktor apa yang membentuknya sedemikian kuat? Tak diragukan lagi imannya dimulai dan dipelihara melalui banyak doa dan pengalaman, tetapi bentuk akhir dari imannya pasti keluar dari perenungannya akan firman Tuhan.

Di dalam Alkitab kita menemukan dasar dan model-model untuk iman. Di dalam Alkitab kita melihat bagaimana seharusnya iman itu tampak dan seperti apa ketidakpercayaan itu. Karena di dalam Alkitablah kita mendapatkan suatu pemahaman yang paling jelas tentang obyek iman kita, yakni Allah sendiri. Jadi, kepada Alkitablah kita sekarang harus mengarahkan pikiran kita. Paulus berkata tentang Perjanjian Lama bahwa “Segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci” (Roma 15:4). Jadi kita akan mengarahkan diri kepada Alkitab untuk melihat secara singkat suatu bagian di dalam kehidupan Abraham—seseorang yang memiliki iman yang tidak biasa. Marilah kita mengisi pikiran dan hati kita dengan kisahnya, agar kisahnya itu dapat juga menjadi kisah kita. Marilah kita mengijinkan imannya mengkritik ketidakpercayaan kita, memotivasi kita kepada suatu iman yang penuh komitmen, dan untuk membentuk dunia kita.

Secara khusus kita akan melihat Kejadian 11:27-12:9. Selengkapnya diberikan di bawah ini:

11:27 Inilah keturunan Terah.

Terah memperanakkan Abram, Nahor dan Haran, dan Haran memperanakkan Lot. 28 Ketika Terah, ayahnya, masih hidup, matilah Haran di negeri kelahirannya, di Ur-Kasdim. 29 Abram dan Nahor kedua-duanya kawin; nama isteri Abram ialah Sarai, dan nama isteri Nahor ialah Milka, anak Haran ayah Milka dan Yiska. 30 Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak. 31 Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana. 32 Umur Terah ada dua ratus lima tahun; lalu ia mati di Haran.

12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.

6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. 7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu. Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.

8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Iman Membawa kepada Ketaatan yang Radikal
(12:1)

Mari kita mulai dengan melihat 12:1 dan mari kita berusaha memahaminya terlebih dahulu dalam konteksnya di dalam kitab Kejadian. Janji-janji luar biasa yang diberikan kepada Abram dan keturunannya di Kejadian 12:1-3 dst tidak keluar begitu saja di dalam teks ataupun membuat kita terkejut ketika membacanya. Mengapa demikian? Karena secara sepintas kita telah dipersiapkan untuk perkembangan baru ini. Dalam berbagai kesempatan kita telah diarahkan ke sana, dua di antaranya akan segera kita lihat. Keduanya ditemukan di dalam 11:27, yang sebenarnya menjadi permulaan dari bacaan ini, yakni 11:27-12:9, jadi bukan dimulai dari 12:1.2

Kita telah dipersiapkan untuk suatu gerakan besar di 12:1-9 dengan bagian sebelumnya di 11:27-32. Dua keterangan perlu diperhatikan secara khusus: (1) penyebutan rumusan: “Inilah keturunan…” di dalam 11:27. Di manakah kita pernah melihat “rumusan” ini sebelumnya, dan apa yang ditunjukkannya? Kita melihat hal yang sama beberapa kali di sepanjang kitab Kejadian, kemunculannya yang utama terdapat di 6:8 mengenai kisah Nuh, di mana Allah memulai sesuatu yang baru melalui Nuh dan anak-anaknya. Ini adalah salah satu petunjuk bahwa apa yang terdapat di dalam 11:27 dan selanjutnya—mengenai kehidupan Abram—akan menjadi sesuatu yang baru dalam skala yang besar. Namun terdapat juga alasan kedua; (2) penyebutan tentang Terah yang memiliki tiga anak yang masing-masing namanya disebutkan (lih. 11:27) mengingatkan kita kepada pola sebelumnya. Adam dan Nuh sama-sama memiliki tiga anak yang namanya disebutkan, dan keduanya dengan jelas menunjukkan tanda-tanda yang nyata akan Allah yang berurusan dengan manusia. Jadi di sini di 11:27 dan 12:1 kita tidak terlalu terkejut ketika Allah memanggil Abram dan memulai suatu jalan baru di dalam penggenapan janji-janji-Nya dan rencana penebusan-Nya.

Kita perlu melihat dari teks, bagaimana iman Abram membawa kepada ketaatannya. Kejadian 12:1 berkata: Berfirmanlah TUHAN kepada Abram, Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu…” Meskipun iman tidak disebutkan secara eksplisit di dalam ayat ini, namun tersirat di dalamnya, dan itulah yang menjadi alasan bagi ketaatan Abram. Istilah “pergilah” secara harfiah berarti “pergilah sendiri” dan dapat menekankan suatu kesendirian, keterasingan; ide tentang pemisahan dan pengasingan. Subyeknya adalah menemukan dirinya sendiri dan membangun identitasnya sendiri. Ia perlu mencari tempatnya sendiri dengan menjauhkannya dari kerabat dan kelompoknya (Kej 21;16: 22:2; Kel 18:27; Kid 2:10, 13; 4:6).3 Hal ini juga digunakan di Kejadian 22:2 pada waktu Allah memberi perintah kepada Abram untuk mengorbankan anaknya, yakni, untuk bangun di pagi hari dan pergi sendirian dan membawa anaknya ke suatu tempat yang akan ditunjukkan-Nya.

Bacaan Kejadian 12:1 menekankan suatu kesendirian Abraham, bahwa meskipun ia membawa isterinya dan keponakannya dan orang-orang yang telah mereka minta di Haran, Abraham sungguh-sungguh telah meninggalkan negerinya, sanak keluarganya, maupun keluarga terdekatnya. Suatu gerakan batin dari lingkaran konsentrik, negeri—sanak saudara—rumah bapanya—menyoroti suatu sifat yang radikal dan harga dari ketaatan. Iman Abram di dalam YHWH membawa kepada suatu ketaatan yang radikal.

Abram berasal dari Ur di Kaldea yang letaknya di Irak Selatan dan merupakan suatu kota di daerah Sumeria yang mengalami perkembangan yang sangat pesat, dan di jaman Abram, pendidikan dikelola dengan baik dan para murid belajar membaca, menulis dan berhitung. Perniagaan berjalan sangat baik sebagai bagian dari industri angkutan. Kapal-kapal yang membawa emas, tembaga, bijih besi, gading dan berbagai produk kayu datang ke Ur melalui Teluk Persia. Orang-orang Mesopotamia, dan juga Ur, sangat religius. Khusus orang-orang Ur, mereka menyembah dewa bulan, Nanna, di dalam sebuah ziggurt (bangunan berstruktur kuil besar). Patung-patung juga ditemukan di dinding-dinding kebanyakan rumah.

Jadi latar belakang Abraham adalah seorang penyembah berhala, namun di sini ia menuruti perintah YHWH untuk meninggalkan Haran dan pergi ke suatu tempat yang belum pernah dilihatnya. Ia menanggapi panggilan Allah itu—yang selalu menjadi pemrakarsa—dengan iman, dan berangkat meskipun tidak ada kepastian yang kelihatan tentang masa depannya. Bahkan, segala sesuatu di dalam kondisinya itu tampak mencegahnya untuk pergi ke Kanaan.

Ben Patterson di dalam Writing, mengingat kembali kisah tentang pendakian ke gunung:

Di tahun 1988, saya bersama tiga orang teman mendaki Gunung Lyell, puncak tertinggi di Taman Nasional Yosemite. Base camp kami kurang dari 2.000 kaki jaraknya dari puncak, namun pendakian ke puncak dan turun kembali membutuhkan kondisi dan cuaca yang baik dan aman, karena banyak terdapat sungai es yang sulit untuk diseberangi untuk mencapai puncak. Kami mulai mendaki di pagi hari sambil mengobrol dan saling mengumbar lelucon.

Setelah beberapa jam, dua teman saya yang lebih berpengalaman mulai memisahkan diri dari saya dan teman saya lainnya yang belum banyak berpengalaman. Karena sifat saya yang suka berkompetisi, saya mulai mencari jalan potong untuk mengalahkan mereka sampai ke puncak. Saya pikir saya melihat jalan di sebelah kanan bebatuan yang menyembul ke permukaan—jadi saya pergi, sambil menutup telinga terhadap protes teman saya.

Barangkali disebabkan efek ketinggian, sama sekali tidak terpikir oleh saya mengapa dua orang teman saya yang berpengalaman itu tidak mengambil jalan ini. Saya baru sadar akan hal itu tiga puluh menit kemudian ketika saya menemui jalan buntu berupa bebatuan di atas sungai es Lyell. Saya melihat ke bawah beberapa ratus kaki kepada lereng es yang curam, saya berdiri di suatu pijakan dengan sudut kira-kira empat puluh lima derajat… dan saya berada hanya sekitar sepuluh kaki dari suatu batu yang aman, tetapi saya tergelincir dan meluncur sampai saya mendarat di lembah, kira-kira lima puluh mil jauhnya! Hari hampir siang, dan matahari siang membuat sungai es bercahaya dengan serpihan es yang licin. Saya terjerembab di situ dan ketakutan.

Dibutuhkan waktu satu jam bagi teman-teman saya yang berpengalaman itu untuk menemukan saya. Berdiri di bebatuan yang saya ingin jangkau, salah satu dari mereka berusaha mencondongkan badan dan menggunakan sebuah batang es untuk membuat dua pijakan kaki di sungai es. Lalu ia memberikan saya perintah seperti ini: “Ben, kau harus melangkah keluar dari situ dan menaruh kakimu di tempat pijakan yang pertama. Bila kakimu yang satu sudah menginjaknya, jangan ragu-ragu ayunkan kakimu yang lain dan injak pada pijakan berikut. Lalu ulurkan tanganmu dan aku akan menangkapnya dan menarikmu dari situ. Hal itu terdengar baik oleh saya. Namun perkataannya selanjutnya membuat saya lebih takut daripada sebelumnya: “Tetapi dengarkan baik-baik: Pada waktu engkau melangkah, jangan bersandar kepada gunung, sebab kalau kau lakukan itu, kakimu dapat melayang dari bawah, dan kau akan mulai meluncur ke bawah lagi.”

Saya tidak suka tebing curam. Bila saya berada di ujung jurang, naluri saya selalu mendorong saya untuk bersandar dan memeluk gunung, menyatu dengannya, bukan mencondongkan diri menjauh darinya! Justru itulah yang diperintahkan teman saya kepada saya. Hanya beberapa saat, semata-mata berdasarkan apa yang saya percaya sebagai baik dan masuk akal yang dikatakan teman saya, saya memutuskan untuk berkata “Tidak” kepada perasaan saya, dan menahan dorongan untuk berpegang pada keamanan gunung. Justru saya harus menjauh, melangkah keluar dan melewati es agar dapat selamat. Butuh waktu kurang dari dua detik untuk membangun iman seperti itu!

Bukankah seperti itu yang dirasakan Abraham? Bukankah itu adalah apa yang kita rasakan ketika Allah memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu yang tampaknya bertentangan dengan semua perasaan yang alami? Saya yakin bahwa Abraham memiliki alasan yang sangat baik untuk tetap tinggal di Haran atau barangkali untuk kembali pulang ke rumahnya di Ur, di mana ia dulu menikahi isterinya dan di mana seluruh keluarganya dapat hidup bersama. Tetapi seperti Ben Patterson, ia mendengarkan suatu suara yang lain, suara Tuhan, dan ia mencondongkan diri kepada-Nya… dan menjauhi semua yang baginya terasa alami… dan ia mempercayai Allah. Apakah Anda bersedia melakukan hal yang sama? Ketika segala sesuatu menjerit di dalam diri Anda menentang keputusan Anda, apakah Anda masih tetap berupaya membagikan iman Anda dengan orang lain yang duduk di sebelah Anda? Apakah Anda bersedia meninggalkan pekerjaan Anda untuk suatu ketidakpastian dari suatu panggilan mulia? Iman membawa kepada ketaatan yang radikal. Abraham membuat pilihan untuk mempercayai Allah dan Allah memberkatinya dengan melimpah. Lihatlah ayat 2-3.

Ketaatan akan Iman Memimpin kepada Berkat
(12:2-3)

Abram mempercayai YHWH dan YHWH menanggapinya. Abram datang dengan iman sebesar gunung, namun YHWH menanggapinya dengan berkat sebesar alam semesta! Bacaan di ayat 2-3 memfokuskan pada janji-janji dan berkat-berkat. Janji-janji dan berkat-berkat itu diberikan kepada Abram karena ia menempatkan Allah sebagai yang utama dan taat dengan imannya (Mat 6:33). Ia meninggalkan Haran dan mulai berangkat ke Kanaan. Mari kita melihat janji-janji di ayat 2-3 ini dengan lebih dalam. Terdapat dua aspek bagi janji-janji ini yang harus dilihat: berkat dan kutuk.

Pertama adalah berkat: Berkat yang dijanjikan kepada Abram bersifat pribadi, nasional, juga internasional dalam lingkup maupun fokusnya. Ayat 3 berkata bahwa “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Bukankah Allah yang berfirman ini adalah Allah yang sama yang memutuskan untuk memberkati kita? Bukankah suatu yang sangat menarik bahwa ketika Ia memilih Abram, seorang penyembah berhala, Ia mendekat kepadanya untuk memberkatinya, dan bukan hanya dia, melainkan seluruh isi planet ini? Lima kali di ayat 2-3 istilah “berkat” digunakan. Allah ingin memberkati umat-Nya. Kenyataannya, jika Anda ingat, hal ini dapat ditarik sampai kepada penciptaan di mana Allah memberkati Adam dan Hawa (1:28) dan kemudian berkat asali itu diulangi lagi di 5:2. Allah juga memberkati Nuh dan kembali menyatakan mandat ciptaan, yakni bahwa manusia berkuasa (9:1-2). Rencana Allah adalah untuk memberkati dunia.

Sesungguhnya gagasan tentang berkat lebih banyak digunakan di dalam Kejadian dibandingkan kitab-kitab lain: 88 kali, bandingkan dengan total 310 kali di keseluruhan Perjanjian Lama. Istilah “berkat” barak dalam bahasa Ibrani, meliputi penyediaan Allah yang penuh kemurahan akan kesejahteraan hidup, umur panjang, kekayaan, kedamaian, kelimpahan makanan dan hasil panen, anak-anak, dan pengenalan secara pribadi akan diri-Nya dan jalan-jalan-Nya.

Ya, rencana Allah adalah untuk memberkati dunia. Tetapi ternyata tidak ada seorang pun di dunia menginginkan berkat-Nya, ataupun cara yang dipilih-Nya untuk mewujudkannya. Terdapat orang-orang yang akan mengutuk atau menghina dan menuduh Abram dan dengan demikian membawa kutuk dari Allah ke atas kepala mereka. Mereka akan dibuang dari pengharapan akan berkat.

Janji di dalam Kejadian 12:1-3 ini membentuk kehidupan bapa-bapa leluhur sebagaimana diceritakan di sepanjang kitab Kejadian dan membentuk keseluruhan Perjanjian Lama. Nama besar yang dijanjikan Allah kepada Abram juga diberikan di dalam janji Allah kepada Daud (sebagai keturunan Abram) di 2 Samuel 7:8-16, dan alat-alat khusus yang melaluinya berkat yang universal akan dikirim ke dunia juga diberikan di dalam suatu perjanjian yang baru di dalam Yeremia 31. Tetapi kenyataan yang paling penting tentang Abram—dan sungguh merupakan kenyataan yang paling penting—adalah bahwa Abram mengenal Allah. Ia telah datang untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Ia belajar mempercayai-Nya sebagai segalanya baginya. Hanya “Dia”.

Di dalam bukunya The Cure for a Troubled Heart, penulis dan pastor Ron Mehl menulis:

Saya pernah mendengar tentang seorang wanita tua yang secara berangsur-angsur kehilangan ingatannya. Hal-hal yang tadinya terperinci mulai kabur… Namun di sepanjang hidupnya, wanita ini mencintai dan bergantung kepada firman Allah, dan telah berkomitmen untuk menghafalkan banyak ayat dari Alkitab King James-nya yang sudah robek.

Ayat emasnya selalu adalah 2 Timothius 1:12: “Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah Dia percayakan kepadaku hingga pada hari Tuhan.”

Akhirnya ia hanya dapat terbaring di tempat tidur di suatu rumah perawatan, dan keluarganya tahu bahwa ia akan berada di situ sampai ia meninggal. Pada waktu mereka membesuknya, seringkali ia masih mengucapkan ayat-ayat hafalannya—terutama 2 Timothius 1:12 itu. Namun seiring waktu berjalan, bahkan ayat yang paling disukainya ini juga mulai hilang dari ingatan.

“Aku tahu kepada siapa aku percaya,” begitu katanya, “Dia berkuasa memeliharakan… apa yang telah Dia percayakan… kepadaku.”

Suaranya semakin melemah, dan bahkan semakin pendek: “Apa yang telah Dia percayakan… kepadaku.”

Ketika ia menghembuskan nafas terakhir, suaranya menjadi sedemikian lemahnya sehingga keluarganya harus membungkukkan badan untuk kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya. Pada akhir dari ucapannya, hanya ada satu kata yang dapat dikeluarkannya.

“Dia.”

Ia membisikkannya terus-menerus sementara ia berdiri di ambang pintu surga. “Dia… Dia… Dia.”

Hanya itu yang tersisa. Hanya itu yang diperlukan.

Sahabatku, berkat Abraham memang sungguh-sungguh ada. Untuk mengenal Allah secara pribadi. Pengenalan pribadi akan Juruselamatku, Dia yang mengasihiku dengan kasih yang tak pernah padam, ini adalah tujuan akhir dari janji berkat melalui Abram. Dia yang telah berbicara ke dalam kegelapanku dan membuat diri-Nya dikenal olehku. Dialah arti hidup ini. “Dia” adalah cukup bagi Abram dan “Dia” juga cukup bagiku. Mengenal-Nya berarti menikmati kehidupan kekal, baik sekarang maupun di dalam kekekalan (Yohanes 17:3).

Paulus membuat poin ini sedemikian jelas di dalam Galatia: Ia berpendapat bahwa jika Anda adalah seorang Kristen, maka Anda turut serta di dalam berkat yang diberikan kepada Abram; kisah Abraham telah menjadi kisah Anda, Allahnya menjadi Allah Anda, berkat-berkatnya menjadi berkat-berkat Anda, dan sungguh lebih lagi di dalam Kristus Yesus. Di dalam Galatia 3:29 Paulus berkata, “Dan jika kamu adalah milik Kristus, maka kamu adalah keturunan Abraham dan ahli waris berdasarkan janji.” Sementara kita hidup di dalam Kristus dan menaati-Nya, kita menikmati berkat-berkat yang luar biasa, termasuk pengenalan pribadi akan Allah, pertolongan di waktu-waktu pengujian, jawaban doa, dan sesuai dengan kemurahan Allah, termasuk juga banyak berkat jasmani.

Bahkan kita dapat menambahkan poin lain di dalam berkat universal yang digambarkan di dalam janji kepada Abraham di Kejadian 2:2-3. Sekarang kita sebagai ahli waris janji itu, dan pengikut-pengikut Kristus, menjadi sebagaimana dilakukan Abram terhadap dunia—seorang pemberita tentang satu-satunya Allah yang benar dan pertobatan dan kepercayaan di dalam Dia. Amanat agung yang diberikan kepada kita untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus mempunyai asal di dalam janji kepada Abraham ini yang pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari akarnya di dalam mandat ciptaan, yaitu untuk memberkati dunia (band. Matius 1:1; 28:19, 20). Mereka yang menolak berkat Allah di dalam Kristus, Anak Abraham yang terbesar, akan mengalami kutuk berupa keterpisahan akhir dari Tuhan (2 Thesalonika 1:8-9). Karena itu, mari kita bergerak ke dalam dunia dengan cahaya kasih dan Injil Kristus. Kita telah diberkati. Marilah kita juga berupaya untuk memberkati (Matius 5:16; 2 Korintus 1:3-4).

Jadi, iman di dalam Allah membawa Abram ke dalam atmosfir berkat Allah. Namun iman yang tidak pernah teruji bukanlah iman sejati dan matang, melainkan tetap sebagai iman bayi.

Iman Diuji dengan Rintangan-rintangan yang Ditaruhkan Allah
(12:4-6)

Abram memperlihatkan suatu iman yang fenomenal terhadap panggilan Allah dan benar-benar diberkati untuk itu. Begitu juga dengan kita pada waktu kita percaya kepada Kristus. Namun itu tidak berarti bahwa segala sesuatu di dalam hidup kita akan berjalan dengan lancar. Bahkan sebaliknya. Marilah kita membaca ayat 4-6.

Ada banyak hal yang perlu dibicarakan di dalam tiga ayat ini, namun saya ingin membahas beberapa saja yang menunjukkan bahwa iman Abram adalah iman yang sejati dan bahwa imannya itu dibangun di dalam laboratorium kehidupan. Allah berada di dalam proses memperdalam pekerjaan baik yang telah dimulai-Nya (Flp 1:6).

Pertama-tama, perhatikan di ayat 4 dikatakan bahwa Abram berumur tujuh puluh lima tahun pada waktu ia meninggalkan Haran. Dua fakta penting muncul dari informasi ini: (1) Meskipun ia hidup sampai usia 175 tahun, Abram tidak lagi muda pada waktu ia memutuskan untuk mengikut Tuhan ke Kanaan. Usia bukanlah halangan untuk iman dan pengambilan langkah berani bagi Tuhan. Kenyataannya, melalui masalah usialah Allah menunjukkan diri-Nya kepada Abram dan Sarai sebagai Allah kemustahilan; (2) Ayah Abram belum mati, meskipun usianya sudah 145 tahun, namun ia masih hidup enam puluh tahun lagi. Karena itu, Abram sungguh-sungguh membayar harga untuk mengikut Tuhan. Ia meninggalkan keluarganya sendiri untuk mengejar panggilan Allah di dalam hidupnya. Jim Elliot pernah berkata, “Dia bukanlah orang bodoh yang melepaskan apa tidak dapat ia jaga, untuk memperoleh apa yang tidak dapat ia lepaskan!”

Tetapi tidak sampai di situ. Lihatlah ayat 5. Alkitab berkata bahwa Abram membawa serta isterinya Sarai. Kini pergumulan itu sungguh mengemuka. Di dalam 11:30 dijelaskan bahwa Sarai mandul, bahkan ia tidak mempunyai seorang anak pun. Lalu, di 12:2 Allah berkata bahwa Ia akan membuat sebuah bangsa yang besar dari Abram. Jadi jelas bahwa itu bukanlah melalui Sarai, karena dia mandul. Itu mestinya melalui perempuan lain. Tetapi di 12:5 kita mendapatkan bahwa tidak ada “perempuan lain.” Kita mendapatkan bahwa Abram membawa isterinya Sarai. Tanpa peduli akan tekanan-tekanan yang timbul, Abram harus mempercayai janji Allah. Meskipun Sarai sangat bergumul dengan kemandulannya di kemudian hari, dan Abraham berusaha menggenapi janji itu melalui Hagar, Allah tetap menggenapi janji-Nya kepada Sarai untuk memiliki seorang anak. Namun iman mereka itu dibangun melalui penderitaan karena hal ini.

Kadangkala kita melupakan apa artinya bagi seseorang untuk tidak memiliki anak di Timur Dekat di masa lampau. Itu berarti aib, suatu hinaan sosial, itu berarti wanita itu atau pasangannya telah dijauhi oleh dewa-dewa. Lalu mengapa mereka harus mempercayai YHWH pada waktu Ia membuat janji-janji “setinggi langit” tentang sebuah bangsa, padahal mereka bahkan tidak punya seorang anak pun? Kadangkala pergumulan kita yang terberat dalam mempercayai Allah dan janji-janji-Nya yang baik berpusat pada hal-hal di sekitar anak-anak kita.

Penulis Marshall Shelley, yang harus mengalami penderitaan karena kematian dua anaknya, menulis di dalam jurnal Leadership:

Pada waktu kecil, saya gemar membaca, dan biasanya saya sangat bingung di bab-bab awal dari suatu novel. Tokoh-tokoh baru diperkenalkan. Satu sama lain berbeda, dan bahkan berbagai tempat juga dituliskan. Alur-alur tambahan sungguh membingungkan dan kadang-kadang tidak ada hubungannya dengan alur utama.

Tetapi saya harus tetap membaca. Mengapa? Karena saya tahu bahwa seorang penulis, jika ia adalah penulis yang baik, ia akan menenun semuanya itu bersama di akhir buku. Akhirnya, tiap-tiap elemen akan sangat berarti.

Di setiap saat iman harus menjadi suatu pilihan sadar. Bahkan ketika saya tidak dapat menjelaskan mengapa suatu keanehan kromosom terjadi pada anak laki-laki saya, yang mencegahnya hidup di bumi ini lebih lama daripada dua menit… atau ketika saya tidak dapat memahami mengapa anak perempuan kami harus menderita dua tahun lamanya karena cacat mental dan serangan mendadak yang terus-menerus…

Saya memilih untuk percaya bahwa sebelum buku itu berakhir, sang Penulis akan menjelaskan semuanya.4

Demikian juga dengan Abram dan Sarai. Memang mereka membuat beberapa kesalahan di sepanjang jalan, namun secara keseluruhan mereka mempercayai Allah yang suka melakukan hal-hal yang mustahil. Apa yang sedang Anda percayai di dalam Allah yang hanya Dia yang dapat melakukannya? Agar iman dapat bertumbuh, iman itu harus melihat jauh melampaui segala rintangan dan rasa sakit, sampai kepada Allah yang berkuasa atas segala situasi kita.

Namun masih ada hal yang lain, bahkan lebih serius, mengenai kehidupan dan iman Abram dan isterinya, dalam arti lebih membahayakan. Lihatlah ayat 6, dikatakan bahwa Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. Kedua hal ini merupakan fakta yang sangat penting sehubungan dengan janji Allah kepada bapa leluhur ini, bahwa ia akan menduduki tanah itu. Bagaimanapun, orang-orang Kanaan harus disingkirkan terlebih dahulu, tetapi hal ini bukanlah menjadi perhatian utama dari bacaan itu sekarang. Perhatian utamanya adalah untuk menunjukkan bahwa iman Abram yang bertumbuh di dalam Yahweh harus mengalami pengujian. Namun pengalaman yang tidak dapat dihindari sesudah meninggalkan rumah di Haran, dan dukacita yang pahit karena kemandulan dan tidak memiliki anak (band. Kej 15:1-2) adalah pengujian-pengujian dari dalam rumah berkat itu sendiri. Orang-orang Kanaan merupakan suatu pergumulan serius dari luar rumah berkat. Mereka bahkan merupakan ancaman terhadap suatu pemusnahan yang cepat kepada garis Abram dan iman di dalam YHWH. Tidakkah Anda menyukai ketika Tuhan memojokkan Anda, dan Anda harus percaya?

Istilah Ibrani More berarti “guru” dan dapat menunjuk kepada suatu tempat suci atau suatu tempat di mana sabda dewa dibacakan oleh imam-imam Kanaan. Hosea 4:13 berbicara tentang penggunaan pohon tarbantin untuk penyembahan berhala. Jadi, tinggal di tengah orang-orang penyembah berhala—yakni orang-orang yang tidak mengenal apalagi mempercayai Allah—sungguh-sungguh menguji iman Abram. Dia sendiri pernah terlibat dalam penyembahan berhala dan kecenderungan untuk tergelincir ke dalam agama kafir sangatlah nyata dan merupakan bahaya yang jelas baginya dan bagi keluarganya. Dan sebagaimana kita tahu dari kitab Yoshua dan beberapa lainnya di Perjanjian Lama, orang-orang Kanaan terbukti sebagai musuh yang kuat bagi orang-orang Ibrani untuk disingkirkan dari tanah itu.

Pertanyaannya adalah, “Akankah Abram bertahan, atau menyerah?” Apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan bertanggung jawab di dalam dunia ini sebagai pelayan Allah, atau apakah diri Anda dipenuhi dengan dunia?” Iman bukan sekadar mempercayai Allah untuk hal-hal yang besar dan menanggapi janji-janji-Nya. Iman juga melibatkan suatu komitmen untuk hidup sebagaimana dikehendaki-Nya di setiap keadaan yang Ia ijinkan di dalam kehidupan kita. Iman membangun karakter.

Rosa Parks, pelopor gerakan hak-hak sipil, ditahan pada tahun 1955 karena menolak menyerahkan kursinya ketika meumpang di bis kepada seorang laki-laki kulit putih. Boikot dan protes mengikuti kejadian itu, dan akhirnya Mahkamah Agung menetapkan pembedaan rasial sebagai inkonsistusional. Di dalam Quiet Strength ia menulis:

Saya telah mempelajari selama bertahun-tahun bahwa kami melakukan banyak hal dengan rasa takut. Ketika hari itu saya duduk di bangku bis itu, saya tidak tahu bahwa sejarah sedang dibuat—saya hanya berpikir ingin pulang ke rumah. Namun saya berubah pikiran. Sesudah bertahun-tahun orang-orang seperti saya menjadi korban perlakuan sewenang-wenang, bukanlah menjadi hal yang ditakuti untuk tidak menyerahkan kursi saya, atau apapun yang harus saya hadapi sesudah itu. Saya tidak merasakan rasa takut sedikit pun duduk di bis itu. Saya merasa Tuhan memberikan saya kekuatan untuk bertahan, apapun yang harus saya hadapi. Itu adalah saat bagi seseorang untuk bangkit—atau dalam kasus saya, untuk duduk. Jadi saya menolak untuk berdiri.5

Betapa suatu iman dan kepercayaan diri yang luar biasa. Rosa Parks tahu apa yang benar, dan dengan iman ia tidak pernah menolak untuk membawa hal itu. Begitu juga Abram. Ia tahu bahwa Allah telah memanggilnya untuk pergi ke tanah baru, bahkan meskipun ia tidak tahu ke mana ia harus pergi. Imannya memberikannya keberanian dan ketetapan hati untuk hidup bagi Allah di tanah kafir. Dengan iman ia mengalahkan pergumulan-pergumulan dan pengujian-pengujian, mulai dari meninggalkan keluarganya, kemandulan isterinya, dan permusuhan karena tinggal di tanah asing. Dengan iman ia memperoleh suatu karakter yang patut diteladani, dan tidak menyerah kepada orang-orang yang tidak percaya di sekelilingnya. Kehidupannya sangat sesuai dengan apa yang dikatakan tentang dia, begitulah kira-kira (band. Ibr 11:8-12). Apakah kita seperti itu juga?

Iman Membutuhkan Peneguhan Jaminan dari Allah
(12:7a)

Kunci untuk menumbuhkan suatu iman yang kuat di tengah-tengah pengujian adalah mendengar dan mendengarkan suara Tuhan, mengalami kehadiran-Nya yang membuat janji-janji itu. Demikianlah Allah, yang tahu bahwa kita terbuat dari debu, dan berada di antara manusia yang terus-menerus membutuhkan dorongan, menampakkan diri kepada Abram—yang kini seorang asing di suatu negeri asing, dengan bahasa, adat-istiadat, kepercayaan dan gaya hidup yang asing—dan meneguhkannya kembali akan janji-janji keturunan dan kepemilikan akan tanah itu. Sementara Allah berbicara kepada kita terutama melalui Alkitab ketika Roh Kudus menanamkan setiap kata yang kita baca ke dalam hati kita, Allah menampakkan diri kepada Abram dan berbicara dengannya. Di tengah-tengah pengujian, tidak ada yang lebih menjamin dan tidak ada yang lebih jelas, daripada suara, dan kehadiran yang nyata dari Bapa surgawi.

Pada permulaan abad ini, Sir Ernest Shackleford memulai perjalanannya ke Antartika. Mimpinya adalah menyeberangi 2.100 mil gurun dengan menggunakan kereta anjing. Namun ia gagal. Di tengah jalan kapalnya terhadang gundukan es dan tenggelam. Dia dan orang-orangnya harus berjalan dengan susah payah melintasi gumpalan es yang mengapung untuk mencapai daratan terdekat, hampir dua ratus mil jauhnya, dan pos manusia terdekat, hampir 1200 mil jauhnya. Mereka harus menyeret sebuah sampan yang beratnya hampir satu ton. Ketika akhirnya mereka mencapai air yang cukup baik untuk berlayar kembali, mereka menghadapi gelombang setinggi sembilan puluh kaki. Akhirnya mereka mencapai pulau Georgia, dan mendapati bahwa pulau itu belum pernah dilalui sebelumnya. Ketika akhirnya mereka mencapai tujuan mereka hampir tujuh bulan sejak mereka memulai perjalanan itu, mereka begitu compang-camping sehingga teman-teman mereka bahkan tidak dapat mengenal mereka. Namun sesudah menyelesaikan perjalanan itu mereka melaporkan bahwa mereka merasakan kehadiran Seseorang yang tidak kelihatan yang membimbing mereka dalam perjalanan mereka yang penuh bahaya itu. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Sementara kita menjalani kehidupan ini, sebagai orang-orang asing di tengah-tengah suatu negeri yang asing (1 Pet 2:11), kita perlu mengetahui kehadiran Dia yang akan membawa kita dengan aman kepada tujuan yang sudah ditentukan bagi kita. Kita perlu mendengar suara Allah melalui firman-Nya dan di dalam doa. Demikianlah Allah menampakkan diri kepada Abram dan mengulangi kembali janji yang penting kepadanya: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Hal ini, kita tahu dari Kejadian 15:1 dst merupakan pertanyaan yang paling menyerang pikiran Abram.

Jadi, Allah datang kepada kita pada saat kita membutuhkan dan mendorong kita dengan suara-Nya: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10). Betapa suatu aliran air yang segar!

Iman Memberitakan Jalan Allah di dalam Dunia
(12:7b-9)

Iman yang alkitabiah, yakni seperti iman Abram, membawa kepada ketaatan yang radikal, berharap kepada penggenapan janji-janji berkat Allah, dan bertumbuh melalui pengujian. Tetapi iman seperti itu akan terus memberitakan jalan Allah di dunia ini, sebagaimana dikatakan di ayat 7b-9.

Tanggapan Abram di ayat 7b kepada Allah yang menampakkan diri kepadanya dan perkataan jaminan-Nya kembali di ayat 7a adalah menyembah. Ayat itu berkata bahwa Allah menampakkan diri kepada Abram dan berkata… Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Meskipun bacaan itu tidak secara eksplisit mengatakan bahwa ia memberikan korban, kita dapat yakin dari contoh Nuh di pasal 9—sebagaimana juga dengan kisah Abraham di 22:13—bahwa Abram mempersembahkan korban kepada Tuhan.

Penyembahan adalah tanggapan yang pertama dan utama kepada suara Allah. Ketaatan, dan pemberitaan anugerah Allah dan kebesaran-Nya tak dapat ditawar lagi mengikutinya seperti pelangi sesudah hujan di musim semi.

Jadi, penyembahan memiliki beberapa konsekuensi. Ayat 8 mengatakan bahwa Abram memasang kemah di antara Bethel dan Ai yang barangkali menunjukkan bahwa ia tinggal di sana untuk beberapa lama. Dan, selama ia tinggal di situ, ia terus menyembah dengan membangun sebuah mezbah. Namun perhatikanlah, ayat itu juga mengatakan bahwa Abram memanggil nama TUHAN. Frase “memanggil nama TUHAN” ini digunakan di Kejadian 4:26; 13:4; 21:33; 26:25, dsb. Itu memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar penyembahan. Di dalamnya terkandung pemberitaan nama Tuhan (band. Zef 3:9). Bukankah suatu hal yang menarik bahwa Allah berjanji kepada Abram untuk membuat namanya besar dan di sini Abram sedang membuat nama Tuhan menjadi besar di tanah Kanaan? Di tengah-tengah suatu negeri asing dan dipenuhi para penyembah berhala, Abram membangun sebuah mezbah dan di sana ia memberitakan nama Tuhan. Betapa suatu iman yang mengagumkan! Ia sungguh-sungguh bersinar seperti sebuah bintang di langit dengan memancarkan firman kehidupan di tengah-tengah angkatan yang bengkok dan jahat (band. Phil 2:16).

Berlawanan dengan Abram yang berupaya membuat sebuah nama bagi YHWH, orang-orang Sinear di Kejadian 11 berusaha untuk membuat sebuah nama bagi diri mereka sendiri.6 Mereka berupaya untuk membuat sebuah nama bagi diri mereka sendiri, dan mereka benar-benar melakukannya, namun nama itu bukanlah satu nama yang akan diingini seseorang untuk dirinya! Karena mereka diberi nama di antara orang-orang yang menerima penghakiman Allah (11:4). Abram tidak mencari kemuliaan diri sendiri, melainkan kemuliaan Tuhan, dan demikianlah di sepanjang Kejadian dan sesungguhnya di sepanjang Alkitab Allah sangat meninggikannya (Yak 4:10; 1 Pet 5:5-6).

Di dalam Sports Spectrum Ken Walker bercerita bagaimana sesudah pertandingan sepakbola di hari Senin malam di tahun 1990 beberapa pemain untuk pertama kalinya melakukan sesuatu yang di kemudian hari akan menjadi suatu pemandangan yang biasa. Ketika pertandingan berakhir antara San Francisco 49ers dan New York Giants, delapan pemain dari kedua kelompok berkumpul di tengah-tengah lapangan dekat dengan papan skor. Di sana mereka bersujud di depan mata semua orang dan berdoa bersama di dalam nama Yesus Kristus.

Pertemuan doa yang singkat itu menjadi ingatan dan diteruskan beberapa tahun kemudian oleh Reggie White dan juara Super Bowl 1997 Green Bay Packers. Salah seorang dari grup Packer, Eugene Robinson, menjelaskan tujuan dari para pemain berkumpul bersama dan bersujud: “Kami tidak berdoa untuk siapa yang akan memenangkan pertandingan atau semacam itu. Bukan, bukan itu. Kami berdoa hanya sebagai suatu pernyataan tentang siapa Allah itu dan bahwa setiap orang harus tahu bahwa Ia ada.”

Para pemain itu telah mendapatkan tekanan karena tindakan mereka itu. Sebuah artikel di dalam Sports Illustrated menganjurkan agar para pemain cukup berdoa secara pribadi, dan NFL memberikan peringatan agar mereka menghentikan praktik tersebut. Namun para pemain tetap bertahan, beberapa bahkan mengatakan bahwa mereka bersedia didenda untuk tindakan mereka itu, dan kerumunan para pendoa pun tetap berjalan.7

Sama seperti Abram, para pemain ini berusaha untuk membuat sebuah nama, sebagaimana seharusnya, bagi Tuhan Yesus Kristus, dan bukan bagi diri mereka sendiri. Mereka menyembah Allah melalui Yesus Kristus dan pemberitaan akan keberadaan-Nya dan anugerah-Nya yang menyelamatkan merupakan suatu hal yang paling alami di dunia untuk mereka lakukan. Iman tidak akan berhenti berbicara tentang apa yang telah ia lihat dan dengar!

Jadi, bagaimana iman George Muller membentuk suatu karakteristik yang kuat dan berani? Ia mengijinkan Alkitab membentuk hatinya untuk mempercayai Allah. Ia merenungkan contoh-contoh iman di dalam Alkitab seperti Abram. Kehidupan iman Abram menantang kita untuk menanggapi panggilan Allah dengan ketaatan, untuk menantikan berkat-berkat-Nya dengan sabar, untuk menang dalam pengujian-pengujian, dan untuk memberitakan jalan Allah di dalam dunia yang sudah sangat jatuh ini.


1 Bahan ini diambil dari J. B. Fowler, Jr., Illustrating Great Words of the New Testament (Nashville, Broadman, 1991), 55-56. Untuk informasi lebih lanjut tentang George Muller lihat Nancy Garton, George Müller and His Orphans (Worthing, West Sussex: Churchman, 1987); Roger Steer, George Müller, Delighted in God, rev. ed. (Wheaton, Il.: H. Shaw, 1981); Basil Miller, George Muller, Man of Faith and Miracles: A Biography of One of the Greatest Prayer-Warriors of the Past Century (Minneapolis, MN: Bethany, [1972], c1941); Roger Steer, George Müller, Delighted in God, rev. ed. (Wheaton, Il.: H. Shaw, 1981).

2 Kejadian 11:27-12:9 membentuk suatu bagian di dalam narasi dan harus dipahami dengan cara demikian. Meskipun demikian, ia terbagi ke dalam dua bagian, yakni 11:27-32 dan 12:1-9, bagian pertama menyediakan latar belakang historis kepada asumsi-asumsi tertentu tentang Abraham yang dibuat di bagian kedua.

3 Lihat Gordon J. Wenham, Genesis 1-15, Word Biblical Commentary, ed. David A. Hubbard and Glen W. Barker, vol. 1 (Waco: Word, 1987), 266 n 32b.

4 Marshall Shelley, “My New View of God,” Leadership (Fall 1996), 90.

5 Rosa Parks, Quiet Strength (Grand Rapids: Zondervan, 1995).

6 Lihat Allen P. Ross, Creation & Blessing: A Guide to the Study and Exposition of Genesis (Grand Rapids: Baker, 1988), 267.

7 Ken Walker, “Time to Bow, or Bow Out,” Sports Spectrum (Sept 1997), 22-25.

Related Topics: Faith