Where the world comes to study the Bible

Panggilan ke dalam Komunitas

Related Media

Penerjemah: Yoppi Margianto

Pernahkah seseorang menunjukkan Anda sehelai kertas dengan ribuan titik di situ, tetapi tanpa terlihat suatu pola tertentu, kemudian mengatakan kepada Anda bahwa bila Anda memperhatikan dengan seksama titik-titik itu dengan cukup lama, maka akan muncul suatu gambar pada kertas itu? Sebagian dari Anda mungkin tahu apa yang saya maksudkan. Sebenarnya Anda telah melihat “gambar” itu sebelumnya, kemudian Anda mengamati titik-titik itu dan menjadi yakin bahwa suatu gambar muncul meskipun kenyataannya tidak ada gambar sama sekali. Alhasil Anda melihat seekor kupu-kupu, palu dsb, sebagaimana yang Anda pikirkan sebelumnya. Ingatkah Anda akan efek 3-D dari sebuah gambar?

Hal yang sama berlaku juga di dalam pemahaman Alkitab. Kadang-kadang kita harus mengamati teks dengan cukup lama untuk mengenali suatu gambar tertentu. Kita tidak menciptakan gambar itu ex nihilo (dari tidak ada); teks itulah yang memunculkannya di dalam pikiran kita, meskipun gambar itu selalu ada dalam teks itu. Masalahnya bukanlah bahwa mata kita tidak bekerja dengan baik, melainkan bahwa kita telah dibelokkan dari melihat hal itu. Hal ini terutama nyata pada waktu kita berusaha mengenali fokus korporat di dalam pengajaran para rasul. Karena kita (penulis) hidup di Barat di mana orang-orang begitu gandrung akan individualisme dan menjauhi kehidupan kelompok/komunitas, kita mengalami waktu-waktu yang jauh lebih sulit dalam melihat komunitas yang dimaksudkan Paulus, dan kita sulit menghargainya.1 Misalnya, di dalam 1 Korintus 3:16-17 Paulus berkata:

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? 17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

Di dalam tata bahasa Inggris kata ganti orang “you” dapat menunjukkan baik tunggal maupun jamak, baik seorang maupun banyak orang; jadi, kontekslah yang menentukan. Namun faktanya banyak pembaca berbahasa Inggris, pada waktu mereka membaca pernyataan Paulus di dalam 1 Kor 3:16, menganggap bahwa yang dimaksudkan Paulus dengan “you” adalah tunggal. Mereka menganggap bahwa Paulus sedang menekankan pada individu. Maka mereka setelah membaca ayat ini biasanya mereka berkata, “Aku adalah bait Roh Kudus.” Sesungguhnya hal ini melenceng dari maksud Paulus. Kata ganti tersebut dalam bahasa aslinya adalah jamak.2 (Dalam bahasa Indonesia, pernyataan kejamakan di sini sebenarnya sangat jelas, karena digunakan kata ganti “kamu” dan bukan “engkau”. LAI secara konsisten menggunakan kata ganti “engkau” untuk tunggal dan “kamu” untuk jamak, penterj.) Rasul Paulus tidak mengatakan bahwa tiap-tiap orang percaya di Korintus adalah bait Roh Kudus, melainkan bahwa gereja sebagai satu keutuhan, itulah bait Allah. Jadi gambaran itu adalah korporat, bukan tunggal. Kita tidak perlu mengerti bahasa Yunani untuk memahami hal ini. Cukup bagi kita untuk menyingkirkan penghalang di mata kita dengan membaca konteksnya secara teliti. Maka kita akan “melihat” bahwa Paulus sedang berbicara tentang gereja lokal di Korintus sebagai satu kesatuan, bukan hanya sebagai orang per orang di dalamnya (band. 1 Kor 3:1-23).

Kita secara otomatis melakukan hal-hal yang sama mengenai “manusia lama” dan “manusia baru” di dalam tulisan-tulisan Paulus. Kita mengindividualisasikan pernyataan-pernyataannya ini dan, terutama dalam budaya kita, kita mem-psikologikan-nya. Padahal semua pernyataannya itu bukan menunjukkan “engkau” sebagai individu (atau sesuatu dalam engkau), melainkan “kamu” yang dilihat dalam konteks hubungan. Karena itu, pernyataan-pernyataan tersebut berfokus pada kelompok atau korporat yang dilihat secara etis/rohani; bukan semata-mata pribadi dan psikologis.3 Dengan melakukan itu, kita membuat gunung dari Paulus menjadi hanya sebuah bukit!4

Jadi apa artinya ini bagi kita? Apa yang diharapkan dari gereja sekarang terhadap fokus kehidupan kelompok yang ditekankan oleh Perjanjian Baru? Berikut ini adalah sebagian yang terpenting: Pertama, kita perlu memohon kepada Allah untuk mengampuni kita akan keakuan kita. Kita juga perlu meminta-Nya menolong kita untuk secara tulus menerima kenyataan kesatuan kita sebagai tubuh Kristus. Kita tidak menciptakan tubuh ini maupun memberikan pamrih kepadanya; malahan tubuh inilah yang bergerak menyelamatkan kita semua, dan Roh Kudus-lah yang berkarya membawa kita sebagai kesatuan di dalam Kristus. Karena itu, tidak ada tempat untuk kita memegahkan keakuan kita.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa keyakinan, sikap, dan tindakan kita memiliki konsekuensi dalam komunitas Kristus di mana kita ada. Kita tidak dapat semata-mata percaya atau hidup sesuka kita tanpa mempengaruhi orang lain.5 Kita pasti mempengaruhi saudara-saudara kita melalui keputusan yang kita ambil, meskipun mungkin kita berkali-kali mendengar, bahwa sepanjang “tindakanku tidak menyakiti orang lain, tidak ada masalah.” Bila Anda mencuri sesuatu dari pekerja Anda atau membunuh jiwa Anda dengan pornografi, meskipun Anda melakukan yang terakhir di rumah Anda sendiri tanpa ada orang yang tahu, keduanya sama-sama memberikan akibat yang serius bagi orang-orang di sekitar Anda. Anda tidak hidup di dalam ruang hampa; Anda hidup di dalam suatu hubungan. Dari sepuluh kali kesempatan, sembilan kali Anda jatuh ke dalam pornografi, maka ketagihan Anda itu akan bertambah besar melalui hubungan Anda, misalnya dengan teman atau kenalan. Seandainya pun Anda masih dapat mengontrol kemurnian hubungan Anda, tetap Anda tidak dapat memberi makan jiwa Anda dengan kotoran moral lalu berjalan dengan benar di dalam interaksi Anda dengan yang lain! Semakin banyak kita memberi makan jiwa kita dengan dosa, semakin lemah hasrat kita akan kebaikan.

Ketiga, kita perlu menyadari bahwa dalam kehidupan dan penyembahan sebagai satu tubuh-lah, yang utama, meskipun bukan yang eksklusif, kasih Allah menjadi sedemikian pribadi dan dapat dikenali oleh kita. Di dalam Efesus 3:14-21, Paulus berkata, “

3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 15 yang dari-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Jadi, melalui kehidupan, interaksi dan penyembahan korporatlah kita belajar akan arti dan pentingnya penebusan Kristus dan kita mengalami karya-Nya yang terjadi di dalam gereja dan di dunia. Perjanjian Baru tidak pernah berbicara tentang kehidupan yang individualistik dan masa bodoh seperti yang telah lama berurat akar di dalam masyarakat Eropa, Amerika dan Kanada. Kita tidak pernah ditakdirkan untuk menjalani kehidupan sendirian, dan kita menipu diri kita bila kita berpikir bahwa kita sungguh-sungguh dapat melakukannya sambil tetap menjaga kerohanian kita. Memang benar bahwa kemurnian gereja ada yang kurang ada yang lebih, dan bahwa diperlukan hikmat, doa dan bimbingan sebelum memilih sebuah gereja, namun “hidup sendiri” bukanlah pilihan bagi orang Kristen yang taat. Buatlah komitmen kepada satu gereja, untuk menerima darinya dan melayani di dalamnya dengan kekuatan yang disediakan Allah.

Keempat, komunitas orang-orang seringkali diumpamakan sebagai rantai, dan kekuatan dari suatu komunitas lokal seringkali dikatakan terletak pada ikatannya yang terlemah. Pada waktu seseorang yang tidak memiliki Roh Allah mendengar kebenaran ini, ia akan berkata kepada dirinya sendiri, “Saya harus menguatkan diri saya supaya saya tidak menjadi ikatan yang terlemah.” Tetapi bila orang Kristen yang mendengar kebenaran ini, fokusnya bukanlah pada bagaimana ia dapat menjadi lebih kuat, melainkan bagaimana ia dapat menguatkan saudaranya supaya saudaranya itu menjadi sesuai dengan yang dimaksudkan Allah. Dengan memandang seperti itu terhadap saudara kita, sesungguhnya kita sedang menjalankan suatu kehidupan yang ke dalamnya Allah telah memanggil mereka dan menjanjikan berkat berupa kehadiran-Nya.

Renungkanlah hal ini, dan dapatkanlah pelajaran dari Tuhan untuk Anda. Jika Anda sedang bergumul dengan dosa tertentu, mintalah bantuan gembala atau teman yang dapat dipercayai dan yang rohani. Anda tidak perlu melepaskan diri dari genggaman dosa dengan kekuatan Anda sendiri. Ada umat Allah yang dapat menolong Anda. Bila Anda merasa Anda tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan, pergilah kepada pemimpin Anda dan bertanyalah kepadanya bagaimana Anda dapat belajar lebih banyak tentang karunia rohani, lalu gunakanlah karunia-karunia itu untuk mengasihi dan melayani orang lain. Juga, belajarlah membaca Alkitab melalui lensa korporat ini, maka Anda akan mulai “melihat” fokus Allah pada komunitas sebagaimana pada masing-masing individu. Akhirnya, ingatlah bahwa Anda adalah bagian dari suatu komunitas yang terjalin dengan rapi di mana “jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” (1 Korintus 12:26)!


1 Pengakuan akan fokus korporat di dalam Perjanjan Baru ini memang sedang bertumbuh di kalangan Evangelikal, meskipun sangat lambat.

2 Kejamakan kata ganti tersebut dapat terlihat dari kata kerja oidate and este, dan kata umi`n jelas adalah jamak. Tetapi mungkin ada orang yang mengatakan, “Rasul Paulus sedang berbicara kepada jemaat, jadi jelas ia menggunakan kata ganti jamak. Tetapi ini tidak berarti bahwa Paulus memberikan fokus pada mereka sebagai kesatuan. Ia hanya menginginkan bahwa tiap-tiap anggota menyadari bahwa Roh Allah berada pada masing-masing mereka.”

Memang hal ini mungkin, tetapi tidak dapat dibuktikan. Pertama, masalah di dalam 1 Korintus 1-4, yang menjadi konteks ayat ini, berbicara tentang perpecahan di kalangan pemimpin jemaat. Sangat tidak mungkin di dalam mengurusi persoalan perpecahan ini, Paulus malah menekankan semangat individualisme dengan meyakinkan tiap-tiap orang sebagai individu yang memiliki Roh Allah. Kedua, ia menyebut mereka sebagai “bait Allah” bukan sebagai “bait-bait Allah” secara individu (band. 1 Kor 6:19-20 untuk perikop yang memberikan fokus pada individu, meskipun perikop tersebut tidak bermaksud menekankan individualisme). Jadi jelas bahwa, baik dari konteks historis maupun sastra, Paulus sedang berbicara kepada jemaat di Korintus sebagai satu kesatuan.

3 Untuk bacaan lebih lanjut tentang topik ini, lihatlah artikel saya “Old Man and New Man in Paul”).

4 Sebenarnya kami dapat memberikan banyak bacaan untuk hal ini, namun ruang memori tidak memungkinkan. Tetapi hal ini hanya membuat permasalahan ini menjadi lebih ironis, bahwa orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai umat pemilik Alkitab, yakni kaum evangelikal, justru seringkali kehilangan sesuatu yang sebenarnya terlihat dengan jelas!

5 Kita memiliki martabat (dignity), yakni kemampuan kita untuk mempengaruhi orang lain untuk perubahan yang positif, baik dan rohani. Tetapi kini di dunia yang sudah jatuh ini, kita juga memiliki kebejatan (depravity), yakni potensi kita untuk mempengaruhi orang lain untuk berbuat jahat, dosa dan tidak rohani.

Related Topics: Ecclesiology (The Church), Devotionals, Election