Where the world comes to study the Bible

Mengetahui Kehendak Tuhan dengan Sempurna (Kol. 1:9)

Tinjauan Garis Besar:

I. Doktrin : Pribadi dan Karya Kristus (1:1-23)

A. Pendahuluan(1:1-14)

1. Salam Paulus kepada Jemaat di Kolose (1:1-2)

2. Ucapan Syukur Paulus untuk Jemaat di Kolose (1:3-8)

3. Doa Paulus untuk Jemaat di Kolose (1:9-14)

(a) Alasan Doa Paulus (1:9a)

(a) Isi dari Doa Paulus (1:9b-14)

(1) Akar dan Batang – “mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna” (ay. 9b)

Kata-kata Pendahuluan

Rasul tersebut memberi salam kepada jemaat di Kolose (1:1-2), bersyukur kepada Allah untuk iman dan kasih mereka (1:3-8), dan kemudian diikuti dengan suatu doa khusus untuk pertumbuhan mereka dalam pengetahuan tentang kehendak Allah (1:9-14). Banyak orang akan puas dengan fakta bahwa jemaat di Kolose sedang menunjukkan iman dan kasih, namun Rasul Paulus berdoa untuk pertumbuhan rohani yang lebih baik lagi, karena tanpa hal tersebut orang-orang Kristen akan menjadi mandek dan tidak produktif ( bnd. 2 Ptr. 1:4-11). Penekanan yang sama dapat dilihat dalam doa-doa Paulus dalam kitab Efesus dan Filipi ( bnd. Ef. 1:15-23; 3:14-19; Flp. 1:9-11). Dorongan doa-doa mengenai pertumbuhan rohani dan pengertian seharusnya mengajarkan kita bahwa ketidakseimbangan dan konflik-konflik yang bodoh sering terjadi dalam lingkungan Kristen dalam hal pemahaman Alkitab lawan ungkapan kasih. Dalam beberapa gereja , penekanannya adalah mengenai menyatakan kasih dalam hubungan-hubungan yang berarti di dalam dan di luar tubuh Kristus. Lainnya, penekanan mungkin pada kehidupan bersama tubuh Kristus, atau mungkin mengenai penginjilan, pengajaran, atau teologi. Yang satu sering digunakan untuk melawan lainnya seolah-olah semua itu bertentangan satu sama lain.

Semua tanggung jawab untuk tubuh Kristus diperlukan, dan seharusnya tak pernah dipertentangkan satu sama lainnya. Mereka terikat dan menyatu seperti sebuah tangan dalam sarung tangan. Prinsip pentingnya adalah bahwa mereka tidak saling ekslusif. Sebaliknya, mereka terjalin dan terkait, seperti sebab dan akibat ketika dipahami sebagaimana mestinya dan secara alkitabiah. Ayat-ayat pertama dari Kolose menggambarkan ini dengan indah. Rasul Paulus merasa bisa memuji jemaat Kolose untuk iman, kasih dan pengharapan mereka (1:4-5), namun ini tidak cukup. Perjalanan seseorang bersama Kristus bukanlah suatu hubungan yang statis. Selaku orang-orang Kristen, kita tak pernah bisa duduk tenang atau berhenti pada rangkaian kemenangan kita. Orang-orang cenderung untuk hidup pada masa lampau mereka atau bahkan pengalaman-pengalaman mereka sekarang ini dan terpaku pada apa yang nyaman bagi mereka. Karena tak seorang pun pernah sampai pada puncak kedewasaan rohani dalam hidupnya, selalu ada ruang untuk pertumbuhan rohani.

Jika kita terus menyenangkan Tuhan, menghasilkan buah dalam setiap pekerjaan baik dan sungguh-sungguh bertumbuh dalam Kristus, adalah perlu bahwa kita “menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.” Mengapa ini benar? Pertama, karena kasih dan pelayanan tanpa wawasan alkitabiah dan pengetahuan akan kebenaran hanya akan menjadi peniruan yang tipis dan murah yang terutama dimotivasi oleh hal-hal yang mementingkan diri dan keinginan-keinginan. Karena kenyataan ini, Paulus memperingatkan untuk melawan kepura-puraan atau kasih yang pura-pura (Rm. 12:9). Dan kedua, karena tanpa wawasan alkitabiah dan motivasi, bahkan kasih Kristen yang tulus akan menjadi suram dan mati Tindakan-tindakan kasih Kristen dan pelayanan akan berubah menjadi membosankan dan pengunduran diri karena kapok, jika itu terjadi.

Tanpa kasih dan hubungan-hubungan yang erat dalam tubuh Kristus, pengetahuan yang kita peroleh melalui pemahaman Alkitab yang dalam akan selalu menjadi dingin, suka mengritik, membosankan, dan hanya intelektualisme saja. Pengetahuan tanpa penerapan tidak layak karena ini gagal menangkap arti dan tujuan mengenal Firman Allah. Pemahaman Alkitab tak pernah berakhir sampai di situ saja, namun ini adalah suatu elemen yang perlu dalam kehidupan orang percaya dan sesuatu yang terasa diabaikan dalam gereja sekarang ini. Seperti Rasul Paulus memperingatkan, pengetahuan tanpa pengertian dan kasih yang seperti Kristus menimbulkan kesombongan, kaku, kecongkakan, atau membesar-besarkan, dan gagal untuk memenuhi kehendak Allah (bnd. Kol. 2:18; 1 Kor. 8:1).1http://www.bible.org/node/1636 Jika pengetahuan kita tentang Juruselamat dan hidup kita di dalam-Nya tidak memimpin pada praktek kasih yang sejati, kita tidak ada apa-apanya (1 Kor. 13:2).

Karena itu, dalam ayat-ayat 9-14, rasul tersebut berpindah dari ucapan syukur kepada suatu permohonan yang sangat khusus yang menggambarkan tindakan praktis dari memiliki pengetahuan akan kehendak Allah dalam segala hikmat dan pengertian. Seperti yang ditekankan Johnson,

Orang-orang Kristen sering bertanya, “Bagaimana seharusnya saya berdoa, dan apa yang akan saya doakan?” Doa-doa Paulus merupakan pedoman-pedoman yang dapat dipercaya. Doa-doa tersebut singkat dan tegas, ditujukan pada keperluan-keperluan saat itu. Ia tidak “doa berkeliling dunia” sebelum mendoakan pokoknya. Ada suatu lelucon yang lucu tentang Billy Nicholson, penginjil Irlandia yang terkenal. Dalam suatu pertemuan akbar ia memanggil seorang saudara seiman yang dikenal karena suka menyebutkan semua misionaris yang dikenalnya dalam setiap doanya di muka umum. Pak Anu,” kata Billy, “tolong pimpin kami dalam doa, tetapi sebatas wilayah Donegal saja ya!”2

Doa-doa Paulus sangat berisi pelajaran dan sering berfungsi sebagai suatu teguran mengenai cara berdoa banyak orang Kristen. Doa-doa ini tidak hanya singkat dan tegas, namun bersifat strategi secara rohani. Mereka berfokus pada masalah-masalah rohani yang penting dalam menghadapi orang-orang percaya secara pribadi dan tubuh Kristus secara keseluruhan. Kehidupan Kristen adalah suatu peperangan rohani (Ef. 6:10-18), dan kehidupan doa kita seharusnya menggambarkan ini melalui cara kita berdoa. Dalam perang atau pertempuran militer, tujuan-tujuan biasanya dibagi ke dalam tiga bidang: strategis ( tujuan-tujuan penting dan utama), taktis ( operasi-operasi yang singkat dan cepat), dan logistik (distribusi keperluan-keperluan, orang-orang, dan bahan-bahan, dsb.). Sekarang ini, kehidupan doa banyak orang Kristen terutama berpusat pada logistik, pada kesehatan dan urusan-urusan kekayaan. Sebaliknya, doa-doa Paulus kebanyakan berfokus pada hal-hal strategis dan taktis.

Akhirnya, seperti dunia lakukan sekarang ini, bidat-bidat di Kolose menawarkan gereja pengetahuan palsu dan solusi-solusi palsu terhadap kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah orang-orang. Untuk menghadapi pengajaran palsu dari bidat-bidat Paulus berdoa untuk pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Dua istilah yang ia gunakan dalam bagian ini (ay. 9-14), “ memberi buah “ and “ bertumbuh ,” memberikan gambaran dari sebuah pohon untuk menguraikan keinginan Tuhan bagi mereka dan bagi kita sebagai sebuah gereja, tubuh Kristus. Ini disebut memperhatikan firman seperti dalam Yer. 17:8 dan Mazmur1:3 yang menggambarkan umat Allah sebagai umat Firman-Nya yang kudus: “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya…” ( Mzm. 1:3). Ketika para pria dan wanita secara teratur mengisi hati mereka dengan aliran-aliran Firman Tuhan yang segar, mereka menjadi berbuah tanpa peduli situasi-situasi kehidupan ( bnd. Dan. 11:32).

Alasan untuk Berdoa (ay. 9a)

1:9a Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar3http://www.bible.org/node/1636 untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.,

“Sebab itu” menghubungkan ayat-ayat 9-14 dengan bagian sebelumnya tentang ucapan syukur, khususnya (1) laporan tentang iman, kasih dan pengharapan mereka dan (2) suksesnya penginjilan di tengah-tengah mereka melalui pelayanan Epafras, rekan sekerjanya yang setia dan kawan pelayanan. Paulus bersyukur untuk apa yang Allah telah lakukan dalam hidup mereka, namun karena prinsip yang sudah didiskusikan mengenai pertumbuhan rohani, rasul tahu bahwa kasih mereka akan gagal dan mati tanpa terus bertumbuh dalam kebenaran Sang Juruselamat. Jadi, kita diperkenalkan dengan doa Paulus untuk lebih memperkaya mereka dan bertumbuh dalam pengetahuan akan kehendak Allah.

“Sejak waktu kami mendengarnya” menampilkan kepekaan dan kecepatan rasul untuk pergi ke takhta kasih karunia bagi tubuh Kristus. Ini menunjukkan pada kita bagaimana kehidupan Paulus asyik dengan memperhatikan orang-orang lain dan bagi kemuliaan Allah, dan bagaimana ia percaya dalam semua perkara Tuhan akan mencukupkan. Doa tak pernah jauh dari hatinya dan dari bibirnya karena Allah adalah keyakinannya dan orang-orang adalah kepeduliannya.

“Tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta” juga menarik perhatian kita, seperti dalam ayat 3, akan ketekunan kehidupan doa Paulus. Mengapa kita melihat begitu sedikit kelaparan akan Firman Tuhan dan begitu sedikit hasil-hasil dalam kehidupan orang-orang lain? Sudah pasti, satu alasan adalah karena kita gagal berdoa dan berdoa dan berdoa.

“Berdoa” bahasa Yunani-nya proseuchomai. Kata ini menunjuk pada hak istimewa untuk berdoa secara umum dan menekankan doa sebagai suatu tindakan ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Ini memandang doa sebagai sebuah pendekatan kepada Allah dari suatu pengenalan akan (1) kebutuhan seseorang dan ketidaklayakannya (2) akan kasih Allah dan semua karakter yang bijaksana dan kemahakuasaan atau persediaan total untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Kata “meminta” bahasa Yunaninya aiteo, yang berarti “meminta, menginginkan, atau memohon.” Ini adalah kata lain untuk berdoa, sebuah sinonim, namun membawa keluar konsep mengenai kebutuhan-kebutuhan khusus dan keinginan-keinginan yang kita bawa ke hadapan Allah melalui permohonan-permohonan khusus.

Namun suatu perbandingan dari Mazmur 37:4 dengan Yakobus 4:3 mengingatkan kita bahwa seandainya kehidupan doa kita alkitabiah dan efektif, kesukaan kita haruslah dalam Tuhan dan tujuan-tujuan-Nya. Kesukaan akan Tuhan adalah apa yang memimpin keinginan-keinginan dan permohonan-permohonan kita sehingga semuanya tetap dalam alasan-alasan yang saleh. Tuhan tak pernah bermaksud doa menjadi sebuah cek kosong untuk mementingkan diri sendiri. Kita harus belajar dan berusaha berdoa dalam kehendak Allah sesuai tujuan dan nilai-nilai-Nya. Sebuah Mazmur yang indah yang menggambarkan prinsip ini adalah Mazmur 40:17:

“Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata: “Tuhan itu besar!” ( membesarkan, NASB, mengagungkan, NIV) (Mzm 40:17)

Isi Doa Paulus (ay. 9b-14)

Akar dan Batang, “mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna” (ay. 9b)

1:9b supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.

Gambaran pohon yang terlihat dalam istilah, “ memberi buah dan bertumbuh,” mengingatkan kita akan sebuah prinsip yang sangat penting dalam hidup, yaitu akar dan batang. Secara sederhana Anda tidak bisa berbuah tanpa akar menyediakan makanan yang diperlukan untuk menopang kehidupan dan sebuah batang yang kuat untuk memberikan kestabilan sehingga buah tidak jatuh ke tanah yang kotor atau batang tidak patah dan memotong suplai makanan ke buah. Bagaimanapun kita hidup di zaman sekarang, ketika orang-orang mau melewati sistem akar dan langsung ke buah. Sekarang ini, dalam banyak sekolah mereka yang berwenang sudah menghapuskan tinggal kelas dan lebih memperhatikan tentang memastikan anak-anak merasa nyaman dengan diri mereka sendiri, bahkan jika mereka tidak bisa mengeja, membaca atau, menjumlahkan dan mengurangi. Namun ABC yang sederhana ini membentuk akar dan batang. Dunia nyata di luar sana tidak peduli dengan citra diri seseorang. Agaknya, dunia bisnis mengharapkan karyawan-karyawannya bisa menjumlahkan, mengurangi, mengeja, membaca dan menulis sehingga karyawan-karyawan ini bisa melakukan pekerjaan yang menjadi tugas mereka. Demikian juga, mengembangkan suatu sistem akar rohani yang sehat dan sebuah batang yang kuat penting untuk kehidupan Kristen yang berbuah.4http://www.bible.org/node/1636

Dengan kata-kata “supaya kamu menerima” dalam ayat 9, kita diperkenalkan pada isi dan tujuan doa Paulus. Secara harfiah, teks Yunaninya “ sehingga kamu boleh menerima.” Teks Yunani menggunakan suatu klausul hina dengan bentuk kasus pengandaian . Bentuk ini mungkin menyatakan isi (penggunaan kata benda hina) atau desain ( tujuan- hasil penggunaan hina) dari doa Paulus. Sementara bentuk ini mungkin paling dimengerti untuk menunjukkan isi (kata benda) dari doa mereka, sudah pasti Paulus dan rekan-rekannya memanjatkan doa ini, karena ini juga tujuan atau hasil yang mereka cari dari Tuhan dalam kehidupan jemaat Kolose. Intinya, Paulus berdoa untuk dua hal: (1) agar para pembacanya mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna (2) sehingga, sebagai hasilnya mereka boleh hidup dalam suatu cara yang menghargai Tuhan, menyenangkan Dia dalam setiap hal. Kedua permohonan, meskipun tersendiri, berhubungan erat dan terikat satu sama lain sebagai sebab dan akibat. Ayat 9 tanpa ayat 10 tidak lengkap dan jauh dari kehendak Allah, namun ayat 10 tanpa ayat 9 tidak mungkin.

Permohonan ini membentuk sasaran doa, namun intinya ini juga akar dan dasar bagi semua yang mengikuti. Permohonan ini menunjuk kita pada kebutuhan besar dalam setiap kehidupan orang percaya dan cara dengan mana kebutuhan ini dipenuhi. Penting bahwa para pembaca, dan dengan penerapan semua orang percaya untuk dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak Allah ( kebutuhan), namun tidak cara apa saja bisa memenuhi ini. Kita harus tak pernah mengisi kekosongan ini melalui hikmat kedagingan manusia atau imajinasi manusia (bnd. 2:2-3, 8, 18 dan Rm.1:18ff). Jadi, dengan kata-kata di dalam ( atau oleh) segala hikmat dan pengertian yang benar , rasul menunjuk pada semua cara yang penting.

Melalui surat ini, rasul menggunakan istilah-istilah alkitabiah seperti pengetahuan, menerima, rohani, pengertiandanhikmat. Istilah-istilah ini juga membentuk bagian dari kosa kata yang diambil oleh guru-guru palsu, namun apa yang mereka maksudkan dengan istilah-istilah ini adalah jauh berbeda dari doktrin yang kuat atau kebenaran alkitabiah. Seperti Wiersbe jelaskan, “Setan suka menipu! Ia suka meminjam kosa kata Kristen, namun ia tidak menggunakan kamus Kristen! Lama sebelum guru-guru palsu telah mengadopsi istilah-istilah ini, kata-kata itu sudah ada dalam kosa kata Kristen.”5 Dalam surat ini, rasul sering menggunakan tema “kepenuhan” atau “sempurna” untuk melawan klaim-klaim para guru palsu. Ini bisa dilihat dalam perbedaan, namun istilah-istilah yang sama yang digunakan dalam 1:9, 19, 24, 25; 2:2, 3, 9, 10; 4:12, 17. “Tampaknya bahwa guru-guru palsu menyombongkan bahwa mereka menawarkan kebenaran yang penuh dan kedewasaan rohani, sementara Epafras hanya menginstruksikan jemaat Kolose dalam langkah-langkah pertama (Beare, 156).”6

“…Supaya kamu menerima” juga bisa diterjemahkan, “… supaya kamu dipenuhi “ Seperti telah disebutkan sebelumnya, klausul ini melakukan lebih daripada acuan pada isi atau inti apa yang Paulus dan timnya doakan. Ini juga mengacu pada bentuk dan alasan untuk doa tersebut! Jemaat di Kolose sudah diberitahu bahwa mereka perlu lebih banyak pengetahuan dan hikmat yang lebih dalam melampaui apa yang mereka pelajari mengenai pribadi dan karya Kristus. Sekarang Paulus menunjukkan mereka sesungguhnya membutuhkan lebih banyak pengetahuan, namun pengetahuan yang benar akan kehendak Allah dengan memakai semua hikmat rohani dan pengertian.

Setan memiliki semua jenis tipu muslihat untuk mengganggu dan membuat orang berpaling dari Firman Tuhan. Terutama ia berusaha untuk menanamkan pengertian bahwa keselamatan saja dalam Kristus sudah cukup. “Supaya kamu dipenuhi “ melambangkan bentuk pengandaian dalam bahasa Yunani yang modusnya adalah kemampuan. Ini menunjuk pada apa yang Tuhan sudah rancang kemampuan untuk setiap orang percaya, misalnya dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak-Nya, tapi tidak perlu kenyataannya. Jadi, meskipun ada kemampuan dan rancangan Tuhan, ini mungkin tidak menjadi suatu kenyataan. Kenyataan ini dapat dirintangi oleh semua jenis gangguan, seperti kelalaian, kemalasan, kedagingan, materialisme, dan prioritas-prioritas yang salah. Atau, ini bisa dirintangi oleh ide-ide palsu yang berusaha menambahkan kepada atau mengurangi kepenuhan keselamatan sebagaimana dinyatakan dalam Kristus. Ini adalah apa yang jemaat di Kolose sedang hadapi dengan guru-guru palsu di Kolose. Tuhan menghendaki semua orang percaya dalam Kristus memiliki akar-akar mereka tertanam dalam-dalam dalam Firman-Nya seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi air.

Saya dibesarkan di sebuah peternakan kecil di Texas timur. Di sekeliling rumah kami ada beberapa pohon oak yang tinggi yang merentangkan cabang-cabang mereka menyediakan naungan dan keindahan pada rumah kami. Tepat di belakang pohon-pohon oak ini ada kebun kami dimana ibu saya menanam sayur-sayuran seperti oyong dan ketimun. Nah, perlu bertahun-tahun untuk menghasilkan pohon-pohon oak yang sangat besar dan menyenangkan yang memberikan kami naungan dan keindahan tahun lepas tahun, namun hanya perlu beberapa minggu untuk menghasilkan sebuah oyong atau ketimun. Jadi , kita bisa bertanya, “Kita ingin menjadi orang Kristen macam apa? Apakah kita ingin seperti sebuah pohon oak atau sebuah oyong?” Pertumbuhan rohani yang mantap dan kuat membutuhkan waktu dan sebuah kehidupan yang segar yang dialiri oleh aliran Firman Tuhan, sumber pengetahuan akan kehendak-Nya.

“Dipenuhi” penuh-penuh dan berarti dan penting. Pertama, waktunya adalah aorist, yang melihat pada kulminasi efektif, hasil akhir dan rancangan untuk memperoleh pengetahuan akan kehendak Allah. Idenya adalah isi penuh dan sampai berlimpah. Tak seorang pun pernah mencapai sasaran ini, tetapi seharusnya ini tidak menjadi tujuan kita. Kedua, bidat-bidat secara teratur menggunakan kata kepenuhan. Ini adalah klaim mereka bahwa apa yang mereka sedang tawarkan sebagai suatu pengganti atau tambahan kepada Injil dan pada kehidupan orang percaya dalam Kristus akan membawa suatu tambahan kepenuhan hidup. Jangan percaya itu! Dunia dan setan selalu membuat klaim ini, namun ini adalah suatu dusta. Kepenuhan hidup hanya datang melalui suatu pengertian akan kepenuhan yang orang-orang Kristen secara otomatis miliki dalam Kristus sementara mereka terus bertumbuh dan menghubungkan hidup mereka kepada Dia melalui Firman (2:6-10). Ketiga, kata kerja tersebut dalam bahasaYunani pleroo, yang mungkin membawa tiga ide kunci, semua mungkin memiliki penerapan di sini meskipun arti pertama yang didaftarkan di bawah ini yang utama.

  • “ Untuk mengisi kekurangan.” Setiap orang percaya memiliki kekurangan-kekurangan dalam pengetahuannya akan Firman Tuhan dan kekurangan-kekurangan ini perlu disingkirkan melalui suatu penanganan yang seksama dan tepat dari Firman Tuhan ( bnd. 2 Tim. 2:15).
  • “ Untuk memiliki, mempengaruhi, mengendalikan, mengambil alih sepenuhnya.”Apa yang muncul pada pikiran Anda ketika Anda mendengar pernyataan, “ia dipenuhi dengan rasa takut?” Tidakkah Anda melihat seorang yang demikian dikendalikan dan dimotivasi oleh ketakutan sehingga gerakan dan tindakannya adalah hasil dari ketakutan tersebut? Demikian juga, pengetahuan akan kehendak Allah demikian meliputi keberadaan kita yang mengendalikan seluruh pikiran kita, pengaruh-pengaruh , tujuan-tujuan dan rencana-rencana kita. Semakin kita memiliki pikiran Kristus, semakin Allah melakukan pengendalian-Nya ke dalam hidup kita.
  • “ Untuk mengisi dengan suatu kualitas karakter tertentu .” Ketika sebuah rumah dipenuhi dengan keharuman tertentu, rumah itu memiliki kualitas keharuman tersebut ( bnd. Yoh. 12:3). Semakin hidup kita dipenuhi dengan Firman Tuhan, pikiran Kristus, semakin hidup kita memiliki kualitas dan karakter dari kehidupan Kristus ( bnd. Eph. Ef. 3:16-19).

“Pengetahuan” dalam bahasa Yunani adalah epignosis , suatu bentuk gabungan dari gnosis, “pengetahuan.” Sebuah studi konkordansi dari kata ini dalam Perjanjian Baru menyatakan bahwa ini hanya digunakan pada pengetahuan moral dan rohani ( pengetahuan tentang Allah dan kebenaran-Nya ), namun ada perdebatan yang serius mengenai arti tepatnya. Vaughn memiliki suatu ringkasan yang bagus dari masalah-masalah perdebatan ini:

…Armitage Robinson, misalnya , menyimpulkan secara sederhana , bentuk tak digabung (gnosis) [ Ini adalah sebuah kutipan. Apa yang Anda lakukan tentang kekurangan omega?] adalah kata yang lebih luas dan menunjukkan pengetahuan dalam “ pengertian paling penuh.” Bentuk gabungan yang digunakan di sini ia ambil menjadi “ pengetahuan yang diarahkan pada suatu obyek tertentu” ( Surat kepada jemaat di Efesus, hlm. 254). Sarjana-sarjana sebelumnya, sebaliknya, cenderung untuk melihat epignosis sebagai kata yang lebih luas dan lebih kuat. Meyer, misalnya, menetapkan ini sebagai “pengetahuan yang menggenggam dan masuk ke dalam sasaran” (hlm. 215). Lightfoot menyatakan bahwa “ ini terutama digunakan mengenai pengetahuan tentang Allah dan Kristus yang menjadi pengetahuan yang sempurna” (hlm. 138). Penafsir yang lebih berpengalaman yang mengerti firman menunjukkan dengan teliti pengetahuan, yaitu, suatu pemahaman yang dalam dan tepat, mungkin benar. Pengetahuan semacam itu tentang kehendak Allah adalah dasar dari semua karakter Kristen dan perilaku.7

Apakah epignosis menunjuk kepada pengetahuan yang diarahkan kepada sebuah bidang pengetahuan tertentu seperti pengetahuan tentang Allah dan hal-hal rohani atau kepada suatu pengertian pengetahuan yang lebih dalam mengenai pengetahuan yang sedang dipikirkan, ini menunjuk kepada suatu pengetahuan yang mempengaruhi kehidupan untuk perubahan rohani yang positif dan berkat. Dalam doa Paulus, masalahnya bukan sekedar pengetahuan, namun pengetahuan akan kehendak Allah. “Akan kehendak-Nya” menunjukkan kita pada bidang pengetahuan yang tepat dibutuhkan, namun dalam konteksnya , apa tepatnya yang ada dalam pikiran rasul tersebut?

Secara umum, pengetahuan akan kehendak Allah akan memperhatikan seluruh nasihat kebenaran Firman Tuhan sebagaimana ditemukan dalam Alkitab (sumber) mengenai pribadi dan karya Kristus (pokok utama). Seperti Wahyu 19:10 menjelaskan , “Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat” Poinnya sederhana dan jelas. Tujuan nubuatan, semua nubuatan, intinya menyaksikan Yesus Kristus dan memuliakan Dia. Firman Tuhan yang dinubuatkan, maksudnya dalam rencana Allah, adalah mengungkapkan keindahan pribadi dan karya Yesus Kristus. Dalam penantian yang pertama dan kedua, Ia adalah solusi Tuhan yang sempurna terhadap kejahatan-kejahatan dari dunia yang jatuh ke dalam dosa. Jadi semua firman Tuhan mutlak menunjuk pada pribadi dan karya Kristus dalam kemuliaan sebelum Dia menjelma, ketika menjelma dan melayani di bumi, kematian-Nya, kebangkitan, kenaikan ke surga, pertemuan, dan kedatangan-Nya kembali tak lama lagi. Inilah tepatnya poin Tuhan terhadap dua murid di jalan di Emaus. Lukas 24.

24:25 Lalu ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 24:26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” 24:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (Lukas 24:25-27). (NASB)

Dalam konteks ini (ay. 9-14), pengetahuan akan kehendak Allah dalam semua hikmat rohani dan pengertian memiliki fokus hasil dinamik bahwa suatu pengertian yang layak akan pribadi dan karya Kristus seharusnya dimiliki pada perjalanan rohani seseorang. Dalam kasus ini, kehendak Allah menunjuk pada peraturan iman yang lengkap dan prakteknya. Ini adalah suatu pengetahuan yang seharusnya memimpin kepada kehidupan seperti Kristus dalam banyak dan berbagai situasi kehidupan. Seperti ayat 10 akan tunjukkan, pengertian yang layak akan kehendak Allah seharusnya menghasilkan buah dalam suatu perjalanan yang berharga yang menyenangkan Allah dalam setiap hal. Bagian ini tidak terutama bicara tentang kesan samar-samar yang orang miliki tentang kehendak Tuhan mengenai pertanyaan-pertanyaan yang mempersoalkan dimana seseorang seharusnya tinggal atau mobil apa yang seseorang harus beli atau seharusnya menikah dengan orang seperti apa. Sebaliknya, ini terutama menunjuk kepada prinsip-prinsip dan janji-janji Firman Tuhan yang menunjuk orang-orang percaya kepada teologia dan moral kehendak Allah. Inilah yang membentuk dasar untuk membuat pilihan-pilihan alkitabiah yang bijaksana. Pengetahuan semacam itu memberikan ketajaman dan memampukan orang-orang percaya untuk membuat pilihan-pilihan yang akan memuliakan Allah dalam semua pertanyaan dan masalah-masalah kehidupan. Dalam doa ini, obyek terbesar adalah bertumbuh dalam pengetahuan akan kehendak Allah sehingga memimpin untuk menyenangkan Dia, bukan diri kita sendiri. Barclay benar ketika ia mengatakan,

Kita berusaha untuk tidak begitu membuat Tuhan mendengarkan kita seperti kita menjadikan diri kita mendengarkan Dia; kita tidak berusaha membujuk Tuhan untuk melakukan apa yang kita kehendaki, namun mencaritahu apa yang Ia mau kita lakukan. Demikian sering terjadi bahwa dalam doa kita benar-benar berkata, “Buatlah perubahan Tuhan,” ketika kita seharusnya mengatakan, “Jadilah kehendak-Mu.” Tujuan doa yang pertama adalah tidak begitu banyak bicara kepada Tuhan seperti ketika mendengarkan Dia…8

Pertanyaan yang penting adalah bagaimana kita memperoleh pengetahuan semacam itu, dan bagaimana itu menyatakan dirinya sendiri? Bentuk-bentuknya seperti apa? Ini dijawab untuk kita dalam pernyataan berikut, “di dalam (atau ‘oleh’) semua hikmat rohani dan pengertian.” Beberapa hal perlu dipertimbangkan di sini.

Pertama, pengetahuan semacam itu bukanlah buah dari hikmat manusia atau dicari. Ini datang melalui penerangan Roh Kudus yang menanamkan “hikmat dan pengertian” dari Firman Tuhan, kehendak Allah yang dinyatakan kepada manusia. Paulus baru saja menyebutkan suatu “kasih dalam Roh” dan sekarang berbicara tentang hikmat rohani dan pengertian. “Rohani” adalah kata sifat, dalam bahasa Yunani pneumatikos , yang tegas dalam teks Yunani.9 Dalam Perjanjian Baru, kata sifat ini paling sering berarti “ digerakkan atau dikendalikan oleh Roh ilahi” atau “ menyinggung hal Roh ilahi (pneuma)” apakah benda-benda atau orang-orang. Di sini dalam ayat 1:9, ini berarti suatu hikmat dan pengertian yang diberikan oleh Roh Allah.10 Guru-guru palsu juga menyombongkan hikmat, namun ini hanya suatu pertunjukan hikmat manusia (2:23). Ini adalah suatu hikmat hampa yang termasuk dalam filsafat manusia dan bahkan produk dari khayalan roh-roh jahat (bnd. 2:8 dengan 1 Tim. 4:1). Sebaliknya, orang-orang percaya membutuhkan hikmat dan pengertian yang didapatkan dalam Firman Tuhan dan diajarkan oleh Roh Kudus, suatu tema penting dari Perjanjian Baru ( bnd. Yoh. 16:7-15; 1 Kor. 2:6-3:3; Ef. 1:17f; 3:16-19; 1 Yoh. 2:20, 27).

Kedua, apa artinya oleh “hikmat dan pengertian? “Hikmat” kata Yunaninya Sophia. Sophia menunjuk kepada dasar, ajaran-ajaran penting, fakta-fakta dan prinsip-prinsip pertama dari pokok apa pun. Dalam konteks ini, ini menunjuk kepada prinsip-prinsip dasar dan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan yang setiap orang percaya seharusnya tahu dan hidup menurut itu. Bagaimanapun, ini bukan sekedar pengetahuan karena ini melihat pada suatu pengetahuan yang membuat seseorang bijaksana. Dan siapakah orang yang bijaksana? Ia adalah orang yang takut atau kagum akan Tuhan. Takut akan Tuhan merupakan awal dan inti hikmat ( Mzm. 111:10; Ams. 1:7; 4:7; 9:10). Namun takut semacam itu atau hikmat datang dari suatu pengertian akan keberadaan Tuhan – intisari ilahi-Nya atau karakter, terutama ketika Tuhan menyatakan diri-Nya dalam pribadi dan karya Kristus. “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:30) (NASB)

Jadi, hikmat alkitabiah, adalah suatu pengetahuan yang menunjukkan seseorang bagaimana hidup sehingga hidup seseorang berarti dan baik, adil dan benar, efektif atau berbuah, bagaimanapun juga kehidupannya. Bagaimana, lalu, dapatkah kita mendefinisikan hikmat? Dua definisi bisa ditawarkan. Pertama, hikmat alkitabiah dicapai dengan memilih alat-alat terbaik menuju akhir terbaik. Efek dari hikmat adalah”…… untuk membuat kita lebih rendah hati, lebih bersukacita, lebih saleh, lebih cepat melihat kehendak-Nya, lebih pasti dalam melakukannya dan kurang masalah (bukan kurang peka, namun kurang membingungkan) daripada kita berada dalam perkara-perkara yang gelap dan menyakitkan dimana hidup kita dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini penuh…..”11 Kedua, “Hikmat adalah kemampuan yang Tuhan berikan untuk melihat kehidupan dengan sasaran luar biasa dan menangani hidup dengan kestabilan yang luar biasa.12 Namun, pengetahuan akan Tuhan sebagaimana Ia dinyatakan dalam Firman Tuhan selalu merupakan akar dari hikmat dan akibat-akibatnya. ( bnd. Mzm. 119:97ff).

Yang menarik, teks tersebut tidak mengatakan “semua hikmat dan semua pengertian” seolah-olah hal tersebut adalah dua perkara yang bebas dan tidak berhubungan , namun, semua hikmat dan pengertian karena mereka terikat erat bersama-sama. Ketika Anda memikirkan hikmat, kitab dalam Alkitab yang mungkin muncul di benak Anda adalah kitab Amsal. Sembilan pasal pertama kitab Amsal memberikan kita suatu rangkaian nasihat yang terus-menerus untuk mencari karunia Allah ini, namun seharusnya kita juga perhatikan bahwa Salomo menyebutkan dua hal ini bersama-sama hampir separuhnya. Dalam empat belas dari tiga puluh lima keterangan akan hikmat, ia memasukkan pengertian.

Kata “pengertian” dalam bahasa Yunani adalah sunesis, yang secara harfiah berarti “suatu ikatan, persatuan, sesuatu yang dibawa bersama-sama.” Ini memandang pada kemampuan memasukkan dua dan dua bersama-sama. Dalam sunesis Anda mengambil hikmat (kebenaran alkitabiah) dan menerapkannya pada detil-detil kehidupan Anda atau pada suatu masalah spesifik atau masalah untuk kritis secara tajam. Pengertian adalah apa yang mengizinkan seseorang untuk melihat dengan jelas untuk membedakan yang baik dari yang buruk dan yang terbaik di antara yang baik. Mengingat “hikmat” (sophia) melihat pada teori teologis, atau berbagai kebenaran Firman Tuhan, “pengertian” (sunesis) melihat pada hal yang praktis, penerapan hikmat.

Penerapan yang bijaksana dari kebenaran Tuhan adalah alasan untuk mempelajari dan hidup dalam Firman sehari-hari. Oh, kita mungkin menjadi terbeban dan lapar akan Firman Tuhan dan ini mungkin berakar di seluruh komunitas Kristen. Sebenarnya Tuhan berkata, “tinggallah dalam Firman-Ku dan Aku akan mengubah hidupmu.” Tuhan tidak menghargai kebodohan. Kebodohan bukan kebahagiaan. Tetap bodoh ketika Anda bisa mendapat pengetahuan dan belajar adalah bermain jadi orang gila ( bnd. Ams. 1:20-22 dengan 1:29f).

Ketiga, rasul berdoa agar mereka mungkin dipenuhi dengan “ segala hikmat…” Kata “segala” (pas) mungkin menunjuk pada setiap hal yang termasuk dalam jenis kata dimana ini digunakan misalnya, setiap jenis atau kategori atau bidang hikmat.13 Ada banyak bidang atau kategori hikmat Allah yang Allah ingin kita tahu dan miliki, dan ini tak diragukan terlibat di sini. Namun dalam konteks ini dengan istilah “dipenuhi” , mungkin ide utamanya adalah “tingkat tertinggi, maksimum.”14 Ini artinya pengetahuan akan kehendak Allah yang maksimum dalam semua kategori adalah sasaran pemohonan. Tuhan menghendaki kita memiliki suatu hikmat yang maksimum dan pengertian. Tuhan tidak ingin umat-Nya tetap menjadi bayi-bayi rohani atau remaja-remaja rohani. Susu bagus untuk bayi untuk sementara waktu, namun akhirnya, jika bayi itu bertumbuh dan menjadi kuat, ia membutuhkan suatu makanan keras yaitu daging dan kentang rohani( Ibr. 5:11-6:1). Tuhan ingin kita terus-menerus bertumbuh dalam pengetahuan dan penerapan akan kehendak-Nya dalam semua bidang kehidupan ( bnd. 1 Kor. 14:20; 1 Ptr. 2:2; 2 Ptr. 3:18). Seperti Wiersbe jelaskan dengan gaya humor:

Kecerdasan rohani adalah awal dari suatu kehidupan yang berhasil, yang berbuah. Tuhan tidak pernah memandang tinggi kebodohan. Saya pernah mendengar seorang pengkhotbah berkata, “Saya tidak pernah sekolah, Saya hanya seorang Kristen yang bodo, dan saya senang begitu! Seseorang tidak perlu ke seminari untuk memperoleh kecerdasan rohani, namun janganlah ia memperbesar “kebodoannya.”

Orang-orang besar Allah seperti Charles Spurgeon, G.Campbell Morgan dan H.A. Ironside tidak pernah mendapat hak istimewa masuk Seminari Theologia. Namun mereka adalah siswa-siswa Firman Tuhan yang setia, yang mempelajari kebenaran-kebenaran secara mendalam melalui studi berjam-jam, meditasi, dan berdoa. Langkah pertama menuju kepenuhan hidup adalah kecerdasan rohani – bertumbuh dalam kehendak Tuhan dengan mengenal Firman Tuhan.15

Kesimpulan

Seperti ayat berikut akan tekankan, pengetahuan akan Allah dalam semua hikmat rohani dan pengertian memampukan kita untuk berjalan dalam suatu cara yang layak sehingga kita bisa menyenangkan Tuhan dalam setiap situasi kehidupan dan menghasilkan buah bagi-Nya. Mungkin sebuah ilustrasi akan menolong. Kathie, isteri saya yang setia dan berharga dan rekan sekerja selama empat puluh satu tahun terakhir, di-diagnosa dengan pengerasan myeloma pada Juni 99, tepat tujuh belas bulan yang lalu. Penyakit myelomanya adalah jenis yang juga menyerang ginjal dan sekarang ia mengalami gagal ginjal. Kira-kira dua belas minggu yang lalu, dokter-dokter pikir ia hanya akan bertahan hidup empat sampai enam minggu, dan meskipun Tuhan terus memberikan ia hari lepas hari yang menyenangkan, kami tahu bahwa wakunya di bumi ini singkat, kecuali, tentu saja, ada sebuah mukjizat kesembuhan. Kami terpukul ketika ia didiagnosa dengan penyakit yang mengerikan ini dan dihadapkan dengan pilihan-pilihan mengenai bagaimana kami akan menanggapi Tuhan dan penyakit yang mengerikan ini. Akankah kami menjadi marah dengan Tuhan, mempertanyakan kasih dan hikmat-Nya? Bagaimanapun, bahkan ia belum enam puluh tahun dan anggota keluarga yang bersemangat dan sangat berguna bagi keluarga, gereja, teman-temannya dan staf BSF.

Sebagai orang-orang Kristen yang percaya Alkitab, kami sudah terus-menerus menyerahkan beban ini kepada Juruselamat dan berusaha mempercayai dan menghormati Dia sepanjang pencobaan berat ini. Karena prinsip-prinsip dan janji-janji Firman Tuhan dan apa yang Firman Tuhan ajarkan kepada kami tentang Allah dan kasih Juruselamat (hikmat Allah kepada kita), kami tahu bahwa Tuhan bisa menyembuhkan dia saat itu juga di mana saja dan masih bisa. Kami tahu bahwa bagi Tuhan tak ada yang mustahil ( Kej. 19:14; Mat. 19:26; Mrk. 14:36; Lukas 1:37), namun kami juga tahu dari firman Tuhan bahwa menyembuhkan dia mungkin bukan kehendak-Nya atau apa yang terbaik menurut hikmat-Nya yang tak terbatas dan rencana kekal-Nya. Tentu saja, hati saya hancur memikirkan kehilangan dia dan saya, beserta banyak orang-orang lain, berdoa setiap hari untuk kesembuhannya jika itu adalah kehendak-Nya dan akan paling memuliakan Dia. Sementara luka menjadi dalam dan air mata berderai, tangggung jawab alkitabiah kami ( pengetahuan akan kehendak Allah) adalah merendahkan diri kami di bawah tangan-Nya yang kuat, menginginkan kemuliaan dan hormat-Nya, dan beristirahat dalam pemeliharaan kasih-Nya dan hikmat yang sempurna(1 Ptr. 5:6-7) ( penerapan pengertian alkitabiah dan hikmat). Juga kebutuhan kami adalah untuk mengingat Mzm. 40:17:

Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan daripadaMu tetap berkata: “Tuhan itu besar!” (membesarkan, NASB, mengagungkan, NIV).

Kami juga tahu ia, seperti semua orang percaya dalam Kristus, memiliki suatu rumah kekal dan suatu harapan yang diletakkan baginya dalam surga dengan Tuhan dimana ada sukacita yang tak terkatakan dan kemuliaan yang melampaui imajinasi kami. Dalam mengenal dan bersandar dalam ini dan kebenaran-kebenaran lain dari Alkitab, kami tahu bahwa ada hal-hal yang berlangsung di balik sejarah manusia yang melampaui pengertian kami . Ini adalah salah satu pelajaran-pelajaran terbesar dalam kitab Ayub karena merupakan bukti dalam Ayub 1-2. Dan adalah menarik dan penting, bahwa ketika Ayub menjadi sedikit menuntut Tuhan, Tuhan tak pernah memberitahu Ayub tentang konflik malaikat di balik apa yang terjadi . Ia hanya mengingatkan Ayub tentang Siapakah Dia sebagai pencipta alam semesta yang bijaksana, berdaulat dan tak terbatas. ( lihat Ayub 38-41).

Ayub belajar banyak dari perjumpaannya dengan Tuhan dan menanggapi:

42:1 Maka jawab Ayub kepada Tuhan:

42:2 Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu;

dan tidak ada rencana-Mu yang gagal;

42:3 Firman-Mu,

‘Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? ‘

Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita

tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.

42:4 Firman-Mu:

‘Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman;

Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.’

42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau,

tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku,

dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu!

Ketika Ayub mengatakan, “Tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (ay. 5), ia tidak perlu mengatakan bahwa ia mendapatkan suatu penglihatan. Ia hanya mengatakan bahwa pengalaman dengan Allah ini nyata dan bersifat pribadi. Pada waktu lampau, pengetahuannya tentang Allah adalah apa yang ia sudah dengar. Jadi, melalui penderitaan yang ia sudah tanggung dan melalui perjumpaannya dengan Yang Mahakuasa, ia telah bertumbuh dalam pengetahuan dan pengertian tentang Allah.

Jadi, kemuliaan yang lebih besar dapat ditambahkan kepada Allah melalui penderitaan kita ketika orang-orang Kristen hanya bersandar kepada Allah dan hikmat-Nya yang tak terbatas dan kasih setia-Nya, meskipun mereka sendiri menderita atau kehilangan. Kathie telah membagikan pengalamannya dan kesaksian dalam berbagai pesan email kepada sejumlah orang di seluruh dunia. Ini telah menyentuh kehidupan orang-orang Kristen maupun non-Kristen. Kami mengenal dua orang di India, yang takut mati, ingin mengetahui lebih banyak ketika mereka mendengar damainya Kathie dalam menghadapi kematian. Kepada mereka yang tertarik, ia telah membagikan imannya dan pikiran-pikirannya dalam suatu dokumen di website kami yang berjudul, “Tenang di Tengah Badai.” Seluruh pengalaman ini sudah dipakai Tuhan dalam banyak kehidupan dengan cara-cara yang melampaui pengertian kita.


1 Kata kerja yang digunakan dalam pasal-pasal ini adalah phusioo, “membengkak, membesarkan seperti sebuah gelembung.” Ini kebanyakan dijumpai dalam literatur Kristen (BAGD) dan digunakan secara metafora untuk ide menjadi sombong, congkak, bangga.

2 S. Lewis Johnson, “ Studi mengenai Surat kepada Jemaat di Kolose, Bagian I,” Bibliotheca Sacra (Dallas Theological Seminary, vol. 118, #472, Oct. 61), 340.

3 Istilah “Allah” tidak tampak dalam teks Yunani, namun keterangan berikut mengenai “pengetahuan-Nya” menjadikan jelas bahwa “Allah” ada dalam pandangan sebagai obyek “berdoa dan meminta,” dan oleh karena itu seharusnya dimasukkan dalam terjemahan bahasa Inggris untuk kejelasan. (Catatan penerjemah dari NET Bible).

4 Untuk seri studi yang tekun mengenai ABC kehidupan Kristen, lihat studi penulis, The ABCs for Christian Growth, Laying the Foundation di website kami , www.bible.org.

5 Warren W. Wiersbe, Be Complete (Victor Books, Wheaton, Ill., 1986), Warren W. Wiersbe, Be Complete (Victor Books, Wheaton, Ill., 1986), 32-33.

6 Peter T. O’Brien, Word Biblical Commentary, Colossians, Philemon, gen. ed., Glenn W. Barker, NT., ed., Ralph P. Martin (Word Books, Publisher, Waco, TX, vol. 44), 20.

7 Curtis Vaughn, The Expositor’s Bible Commentary, gen. ed. Frank E. Gaebelein (Zondervan, Grand Rapids, 1976-1992), media elektronik.

8 William Barclay, Daily Study Bible Series: The Letters to the Philippians, Colossians, and Thessalonians (Revised Edition), ns (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 2000, c1975), media elektronik.

9 Pneumatikos mengubah “ hikmat dan pengertian.” Ini mengikuti kata benda kedua karena ini tegas, namun secara logis diterapkan pada keduanya.

10 Walter Bauer, Wilbur F. Gingrich, and Frederick W. Danker, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (University of Chicago Press, Chicago, 1979), media elektronik. Selanjutnya keterangan-keterangan seperti BAGD.

11 J. I. Packer, Knowing God (InterVarsity Press, Downers Grove, 1973), 97.

12 Charles R. Swindoll, Living on the Ragged Edge (Word Books, Waco, 1985), 208.

13 BAGD, media elektronik.

14 BAGD, media elektronik.

15 Wiersbe, 35.


Related Topics: Theology Proper (God), Prayer, Faith