Where the world comes to study the Bible

Kematian

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja,
dan sesudah itu dihakimi.”
(Hebrews 9:27)

“sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Genesis 2:17). “dan maut tidak akan ada lagi” (Revelation 21:4). Diantara kedua pernyataan dalam Alkitab terdapat semua usaha ilmu pengetahuan memperpanjang hidup, menyempurnakan peradaban, usaha membangun dunia yang lebih baik, dan semua sukacita dan kepedihan jutaan orang bahwa kekekalan itu ada. Tersembunyi diantara kitab ini ada cerita tentang seluruh umat manusia terkutuk melalui kejatuhan pertama Adam. Kejatuhan manusia telah dipaksa oleh ketakutan –ketakutan kegelapan, ketakutan akan penyakita, ketakutan terhadap apa yang tidak dikenal, ketakutan kematian. Ketakutan akan kematian merupakan yang terkuat dari semua. Manusia menghindarinya, membencinya, melawannya. Pengurus pemakaman menggunakan setiap cara untuk membuang kenyataan hal ini. Tapi fakta kematian tetap ada dan akan terus demikian sampai hari itu datang, ketika kemuliaan kuasa Kristus menang atas kematian, gulungan kitab surga akan digulung kembali, umat Tuhan akan menikmati masa penuh kebahagiaan dalam kekekalan, dan “maut tidak akan ada lagi.”

Kepastian Kematian

Lembah kematian merupakan lembah terpanjang didunia. Itu dimulai dari Adam dan terus sampai 6.000 tahun sejarah manusia. Manusia suka menunda saat itu ketika mereka harus melewati lembah bayang maut, tapi kematian menelan semua manusia. Kematian tidak memilih-milih orang. Setiap langkah kita semakin mendekatkan kita kepada kematian, dan hanya masalah waktu kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada semua yang didunia. Dengan seluruh kebijaksanaan kedokteran dan ilmu, kita harus setuju dengan pengkothbah: “Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati” (Ecclesiastes 9:5).

Alkitab berisi peringatan tentang kematian, bicara tentang hal ini sebanyak hal yang lain. Dalam taman Eden dimana kematian tidak akan masuk, Adam dan Hawa diperintahkan Tuhan untuk menjauh dari pohon terlarang dengan suatu peringatan:

pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati (Genesis 2:17).

Kita tahu kalau mereka akhirnya memakannya; dan saat itu penghukuman Tuhan jatuh atas mereka, tubuh mereka menjalani proses kematian dan membusuk. “Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati” (Genesis 5:5).

Disatu halaman kita memiliki daftar keturunan dari Adam sampai Nuh dan hanya ada satu pengecualian, Enok, orang yang dekat dengan Tuhan, selain dia semua mengalami pengulangan kata, -- “lalu dia mati.”

Jadi Set mencapai umur sembilan ratus dua belas tahun, lalu ia mati.(Genesis 5:8).

Jadi Enos mencapai umur sembilan ratus lima tahun, lalu ia mati (Genesis 5:11).

Jadi Kenan mencapai umur sembilan ratus sepuluh tahun, lalu ia mati (Genesis 5:14).

Jadi Mahalaleel mencapai umur delapan ratus sembilan puluh lima tahun, lalu ia mati.(Genesis 5:17).

Jadi Yared mencapai umur sembilan ratus enam puluh dua tahun, lalu ia mati.(Genesis 5:20).

Jadi Metusalah mencapai umur sembilan ratus enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati.(Genesis 5:27).

Jadi Lamekh mencapai umur tujuh ratus tujuh puluh tujuh tahun, lalu ia mati (Genesis 5:31).

Para leluhur, para nabi, dan para rasul tidak ragu menyatakan bahwa kematian itu pasti. Nuh menyatkan kebenaran dan penghukuman Tuhan. Dia memperingatkan manusia jika mereka tidak bertobat, Tuhan akan memusnahkan mereka dari muka bumi (Genesis 6:7). Mereka hanya mengejek dia, dan Tuhan menghajar seluruh bumi dengan kematian dan kehancuran. Catatan menunjukan bahwa air suruh selama 40 hari. Dan kita membaca:

Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi, burung-burung, ternak dan binatang liar dan segala binatang merayap, yang berkeriapan di bumi, serta semua manusia (Genesis 7:21).

Abraham menghadapi kepedihan kematian saat dia mengorbankan Ishak sebagai korban bagi Tuhan. Walau Ishak diselamatkan, seekor domba mati menggantikannya. Kemudian kita membaca: “Dan Srah mati” (Genesis 23:2). “Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Sesungguhnya sudah dekat waktunya bahwa engkau akan mati” (Deuteronomy 31:14).

    Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” (2 Kings 20:1).

    Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati ” (Jeremiah 28:16).

    Yehezkiel menyatakan Firman Tuhan: “orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati” (Ezekiel 18:4). “Hai orang jahat, engkau pasti mati!” (Ezekiel 33:8).

    Saat Yesus menceritakan tentang orang kaya dan Lazarus, Dia berkata: “Orang miskin mati . . . orang kaya juga mati” (Luke 16:22).

Saat Kristus ada ditengah orang banyak, orang Yahudi berkata: “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati” (John 19:7).

Tentang Dorkas, Lukas menulis: “ia sakit lalu meninggal.” (Acts 9:37).

Alkitab penuh dengan subjek tentang kematian! Kita tidak bisa membahas kehidupan karakter Alkitab tertentu, kecuali Enok dan Elijah, tanpa mengingat bahwa mereka semua mati. Perusahan asuransi jiwa menjadi kaya hanya karena menunjukan bahwa semua manusia pasti mati, dan para agen dengan mudah menjual hanya dengan mengatakan bahwa kematian bisa datang tiba-tiba. Setiap pengurus pemakaman yang menjalankan bisnis terhormat bisa hidup nyaman dengan nilai yang bisa diberi uang. Bahkan arsitek dan pembangun memperhitungkan kematian saat mereka membangun struktur. Dr. John Rice menceritakan bahwa saat jemaatnya di Dallas sedang menyiapkan rencana membangun gereja baru , arsiteknya berkeras membahas tangganya, karena katanya: “salah satu peraturan dari arsitek adalah setiap tangga dan pintu tempat tidur harus cukup besar untuk bisa dimasuki peti jenasah!”

Dikatakan tentang jutawan berumur 75 tahun, William Randolph Hearst, bahwa orang-orang dilarang bicara tentang kematian dihadapannya. Kita mengakui bahwa kematian bukan subjek pembicaraan yang disukai. Tapi tidak ada orang yang bisa menghindarinya. Menolak membicarakan atau berpikir tentang kematian tidak mengubah fakta kematian. Kita bisa menyebut kuburan sebagai “taman ingatan” Tapi tetap itu merupakan tempat orang mati.

Alkitab berkata tentang: “hukum dosa dan hukum maut.” (Romans 8:2).

Rasul Paulus berkata: “kami telah dijatuhi hukuman mati” (2 Corinthians 1:9). “maut giat di dalam diri kami” (2 Corinthians 4:12).

Surat pada orang Ibrani berkata tentang “mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.” (Hebrews 2:15).

Tidak ada yang lolos dari maut. Cobalah sekuat kita, tapi penunggang kuda mengerikan akan mengunjungi kita semua. Dia tidak melihat semua tangisan dan tuli terhadap semua doa dan permohonan. Dia harus mendatangi kita, karena dia dikirim melalui ketetapan. “Sudah ditetapkan bahwa setiap orang pada akhirnya pasti mati.” Itu keputusan yang Maha Kuasa, melalui penetapan Ilahi. Tempat tidur orang mati, penguburan, kuburan, dan hati yang hancur serta tangisan semua menunjukan bahwa “manusia pasti mati.”

Penyebab Kematian

Darimana kematian berasal? Kita mengakui kedaulatan Tuhan, tapi haruskan kita menerima bahwa setiap peristiwa hidup manusia, termasuk tindakan dan waktu kematiannya telah ditetapkan Tuhan sebelum penciptaan? Kita tidak menemukan dasar untuk pandangan dogmatic itu. (Tuhan Maha Kuasa, itu pasti, tapi dia menciptakan manusia sebagai mahluk bebas dengan kemampuan memutuskan bagi dirinya. Dalam hidupnya ditaman Eden, manusia tidak melihat kematian. Dia tidak pernah memikirkan hal itu.)

Pertama kali subjek kematian disebut dalam Alkitab sebagai peringatan bagi orangtua pertama kita. Disini manusia menikmati komunikasi langsung dengan Tuhan:

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. (Genesis 2:16-17).

Adam tahu bahwa dia hidup, tapi dia asing dengan masalah kematian sampai dia mendengarnya dari Tuhan. Sekarang tinggal keputusannya. Dia memiliki pengetahuan apa yang baik dan salah. Dia tahu kalau taat pada Tuhan artinya hidup terus dan tidak taat berarti kematian. Kuasa untuk memilih dan memutuskan ada pada manusia. Tapi Setan tidak mau situasinya tidak ditantang. Walau dia mengejek dan mencobai Hawa, dia tidak bisa memaksanya untuk memakan buah itu. Baik Hawa dan suaminya ambil bagian dalam pilihan mereka, dan dengan melakukan itu mereka mendatangkan bencana kemarahan Tuhan. Peringatan yang Dia berikat sangat jelas: “pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati.” Dalam kekudusan dan kebenarannya disetiap keputusanNya, Tuhan tidak bisa melakukan lain dengan memutuskan mati. Kemudian Adam mendengar semua akibat dari kesalahannya:

dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu (Genesis 3:19).

Tuhan tidak pernah memutuskan atau menentukan sebelum ada sebab yang jelas. Jadi saat Dia menetapkan kematian manusia itu karena Adam dan Hawa tidak taat pada Tuhan dan berbalik dari kebenaran. Walau peringatan Tuhan jelas manusia memilih dosa, mengetahui kalau itu artinya kematian. Manusia tidak bisa membela diri dihadapan Tuhan. Dia diputuskan mati karena sudah melanggar hukum Tuhan, dan keputusan Tuhan itu begitu jelas bahwa semua bersalah dihadapan Dia. Manusia tidak bisa beralasan atas keputusan mati ini:

upah dosa ialah maut (Romans 6:23).

orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati (Ezekiel 18:4).

apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. (James 1:15).

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut (Romans 5:12).

Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami (2 Corinthians 4:12).

Karena semua orang telah berbuat dosa (Romans 3:23).

Setiap kali kematian datang dan orang terkasih dibawa pergi, itu seperti cachinnation dosa dan Setan. Dosa bermain dengan manusia untuk satu saat seperti kucing bermain dengan tikus. Dosa mengijinkan kita lari kesana kemari, mengejar kesenangan, kesenangan dan kuasa duniawai; tapi permainan hidup hanya sebentar. Pada akhirnya dosa menemukan kita, dan setiap orang membayar dengan hidupnya. Karena “kita semua sudah berdosa” (Romans 3:23), kita berusaha menemukan rahasia kemenangan atas kematian karena “Siapakah orang yang hidup dan yang tidak mengalami kematian?” (Psalm 89:48).

Kematian masih beredar menjadikan seluruh dunia takut dan menanti. Alasan manusia enggan terhadapnya karena “Sengat maut ialah dosa” (1 Corinthians 15:56). Karena nature kita berdosa dan hati kita jahat, kematian terus menusuk kita dan membawa kita kearah kuburan seperti sapi kepembantaian. Sampai Kristus kembali dan gerejaNya memerintah dibumi, “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut” (1 Corinthians 15:26). Bahkan akhir seribu tahun kematian tetap menjerat semua yang jahat. Sampai setan dan semua orang tidak percaya dibuang kelautan api, kematian memiliki cengkramannya atas orang berdosa. Tapi betapa menghibur dan menenangkan bagi orang Kristen saat memandang, Tuhan Yesus datang kedua kali, akan mengatasi semuanya, bahkan kuasa kematian!

Arah Kematian

Kematian tidak mempengaruhi manusia secara sama karena itu tidak membawa manusia kearah yang sama. Kita menyadari bahwa kematian bukan akhir segalanya. Tapi kita menyadari bahwa banyak orang sekarang ini tidak percaya ada kesadaran setelah kematian. Baru-baru ini saya bicara dengan seseorang yang percaya bahwa kematian akhir dari keberadaan manusia. Dia membandingkan kematian manusia dengan daun yang jatuh dari pohon di bulan Oktober. Mengabaikan bukti kekekalan, kita puas dengan pertimbangan singkat tentang kematian.

Dalam satu rumah sakit 2 pasien bisa mati disaat yang sama. Walau akar masalah kematian keduanya sama, kematian salah satu bisa berbeda dari yang lain. Kita mengetahui bahwa satu-satunya pemuas dari dosa adalah kematian. Itu satu-satunya hukuman dari dosa yang bisa memuaskan tuntutan Tuhan. Karena setiap manusia memiliki nature kejatuhan Adam, makan kita semua harus mati. Tapi seperti kata Abraham Kuyper: “Dilembah bayang maut, jalan orang terbagi dengan sendirinya, yang satu menanjak kepada kekekalan, dan yang lain menurun kepada kematian kekal.”

Kita bisa mengerti hal ini dengan mengetahui tujuan kematian Yesus Kristus. Karena dosa harus dihukum mati, Yesus disalib dan mati sebagai pengganti hukuman dosa dan disaat yang sama memberikan diri sebagai korban penghapusan dosa. Petrus berkata “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, ” (1 Peter 3:18). Disini kita diberitahu bahwa Kristus mati untuk dosa, “agar Dia bisa membawa kita kepada Allah.” Mereka yang didalam Tuhan dibawah kesurga kepada Tuhan. Menerima Yesus Kristus sebagai penanggung dosa dan Juruselamat dari dosa, mereka dibawa kepada Tuhan melalui kematianNya. Orang percaya bisa berkata: “TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Isaiah 53:6). Saat Dia tergantung dikayu salib, Dia menjadi korban penebus dosa sejati bagi umatNya. Kita secara alami, turun kedalam penghukuman, terpisah dari Tuhan; tapi melalui kematianNya, menyediakan arah yang baru. Dr. Harry Rimmer pernah berkata, “Saat Yesus mati untuk mengubah pemikiran manusia, Dia juga mati untuk mengubah jalan sejarah manusia. Melalui filosofi yang salah, manusia mengejar arah yang salah. Salib menyebabkan sejarah manusia dibengkokan arahnya, dan mengarahkannya kepada Tuhan.” Kapanpun orang percaya mati, dikatakan mereka “tertidur” (1 Thessalonians 4:13, 15; 1 Corinthians 15:6), dan jiwanya langsung bersama Tuhan.

Tapi bagi orang tidak percaya kematian mengarah kemana? Kita sudah tahu bahwa satu-satunya arah yang tersisa adalah kepada kematian kekal. Sekali lagi kita harus membuat asumsi, dengan mempercayai tempat dimana orang yang menolak Kristus tersiksa.

Karena kematian Kristus membayar hukuman dosa orang percaya, dan kematian kita diterima oleh Bapa, maka kematian orang tidak percaya tidak diterima oleh Tuhan. Saat orang tidak percaya mati, dia masuk kepada kematian kekal. Keduanya sadar, tapi kematian memiliki arah berbeda bagi mereka. Baik orang kaya dan Lazarus mati dalam cerita Tuhan. Lazarus dibawa kepangkuan Abraham sementara orang kaya keneraka (Luke 16:19-24).

Pembaca yang baik, dimana anda berada? Ya, tentu anda masih hidup didunia; tapi ingat, kematian pelan tapi pasti akan menghampiri anda. Secepatnya anda akan mengucapkan selamat tinggal pada semua hal didunia dan masuk kedalam kekekalan yang tiada akhir. Karena Kristus telah mati untuk membawa anda pada Tuhan, dan anda jauh dari Tuhan, dan tidak siap serta tidak layak kesurga. Maukah anda percaya pada Juruselama sekarang? “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mark 16:16).

Related Topics: Eschatology (Things to Come), Hamartiology (Sin), Spiritual Life