MENU

Where the world comes to study the Bible

Report Inappropriate Ad

Judul: Matius

Penerjemah:Widya Suwarna


Matius 1

Sumber

  • Christlike, Barry Applewhite, p. 9


Matius 10:24-5

Seperti Tuan

Jika perilaku Anda seperti Yesus, Anda tidak akan lebih popular di dunia seperti Dia. Selama Kekristenan diam saja dan membiarkan dunia berjalan semaunya, dunia puas dan bermasa bodoh dengan Kekristenan atau bahkan mengatakan hal-hal yang sopan tentangnya. Tetapi jika para pria dan wanita Kristen menjalankan tugasnya, memerangi kemabukan, melawan hawa nafsu kota-kota besar, mengkhotbahkan perdamaian pada suatu bangsa yang marah dan ingin berperang, atau menerapkan peraturan-peraturan yang benar dalam bisnis dan hubungan-hubungan sosial, Anda akan sangat segera mendengar suatu teriakan yang berbeda. Murid yang sejati harus mengalami nasib Tuannya.

Alexander Maclaren

Sumber tidak diketahui


Matius 10:29
Sarang Burung

Sebuah regu pekerja sedang membangun suatu jalan baru melalui suatu daerah pedesaan, meruntuhkan pohon-pohon ketika pekerjaan tersebut berlangsung. Seorang pengawas memperhatikan bahwa ada sebuah sarang burung di sebuah pohon dengan anak-anak burung yang belum bisa terbang. Ia menandai pohon tersebut supaya jangan ditebang.

Beberapa minggu kemudian pengawas tersebut datang lagi ke pohon tersebut. Ia naik ke bangku truk dan dari tempat yang tinggi itu bisa mengintip ke dalam sarang. Anak-anak burung itu sudah pergi. Sudah jelas mereka sudah belajar terbang. Pengawas itu memerintahkan agar pohon itu ditebang. Ketika pohon tersebut tumbang, sarang burung itu juga jatuh dan beberapa bahan yang dikumpulkan burung-burung itu untuk membuar sarang berserakan. Sebagiannya adalah sobekan dari brosur Sekolah Minggu. Pada sepotong kertas tersebut ada kata-kata: “Ia memeliharamu.”

Bits and Pieces, November, 1989, p. 23


Matius 11:1-3

Sumber

  • John The Baptizer, Bible Study Guide by C. Swindoll, p. 37


Matius 11:19

Sumber

  • Glutton & Drunkard implying illegitimate birth, Our Savior God, J. M. Boice, p. 84


Matius 11:20-24

Sumber

  • Evidence that Demands a Verdict, p. 310


Matius 11:28

Undangan yang Sangat Ramah

“Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya. “ Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat” (Yohanes 1:39)

Inilah undangan pertama yang sangat ramah dari Tuhan Yesus “Marilah” datang kepada-Nya. Pada kesempatan ini, segera setelah baptisan-Nya oleh Yohanes, Ia mengundang dua murid yang memiliki potensi untuk datang ke tempat tinggal-Nya. Kemungkinan besar ini merupakan sebuah tikar dihamparkan di suatu tempat, karena segera setelah itu Ia menyatakan bahwa “ Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Matius 8:20). Meskipun demikian, semalam bersama Yesus telah mengubah hidup mereka.

Segera sesudah itu Ia memberikan undangan lain kepada mereka. “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Markus 1:17), dan mereka tak pernah pulang ke rumah lagi. Pertama, Ia mengundang kita untuk datang dan melihat dan mengenal Dia, kemudian bersama-Nya memenangkan orang-orang lain.

Juga ada undangan yang indah untuk datang kepada-Nya untuk mendapat kelegaan dari beban-beban dan kesusahan-kesusahan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Dan catatlah janji-Nya kepada mereka yang menerima undangan-Nya: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yohanes 6:37).

Ada undangan-undangan pribadi: Kepada Zakheus, pendosa yang berusaha melihat Yesus dari sebuah pohon ara, Ia berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu “(Lukas 19:5). Kepada temannya, Lazarus, yang mati dan berada di kubur, Ia berseru: “Lazarus, marilah keluar” (Yohanes 11:43), dan bahkan kubur pun tidak bisa mencegahnya menerima panggilan semacam itu.

Ada undangan-undangan lain dari Tuhan Yesus, dengan janj-janji yang sangat ramah kepada mereka yang datang, namun terutama catatlah undangan terakhir dari Alkitab, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata :’Marilah!’ Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17).

Days of Praise, April 10

Suatu Beban Berat

John T. Faris pernah menceritakan tentang seorang pria yang sedang membawa keranjang yang berat. Karena beratnya beban tersebut, putra pria tersebut menawarkan diri untuk menolong. Si ayah memotong sebuah tongkat yang besar dan memasangnya dipegangan keranjang itu sehingga ujung di dekatnya sangat pendek, sementara ujung tongkat dekat putranya tiga atau empat kali panjangnya. Masing-masing memegang tongkat itu dan keranjang itu bisa dibawa dengan mudah --- dengan si ayah kebagian beban yang berat.

Today in the Word, MBI, December, 1989, p. 21


Matius 11:28-30

Sumber

  • Christ’s Call To Discipleship, J. M. Boice, Moody, 1986, pp. 26ff


Matius 12:41
Tidak Keliru

“Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus.”

T.T.Perowne memberikan komentar, “Apakah mungkin untuk mengerti suatu petunjuk seperti ini pada teori bahwa Kitab Yunus bukan sejarah? Hakim yang akan datang sedang memperingatkan dengan serius kepada mereka yang akan berada di alam baka yang berpegang pada pendiriannya. Sangat nyata ia akan membuat gambaran ini untuk mengantisipasi mereka, karena ini nyata, seperti sekarang ini, pada dirinya sendiri. Dan meskipun demikian kita mengira ia mengatakan bahwa orang-orang khayalan yang karena khotbah khayalan dari nabi khayalan, bertobat dalam khayalan, akan bangkit pada hari itu dan menghakimi para pendengarnya yang nyata yang tidak bertobat.”

Quoted in Inerrancy, edited by N. Geisler, p. 8.


Matius 13:3

The Sower

Ye sons of earth prepare the plough,
Break up your fallow ground;
The sower is gone forth to sow,
And scatter blessings round.

The seed that finds a stony soil
Shoots forth a hasty blade;
But ill repays the sower’s toil,
Soon wither’d, scorch’d, and dead.

The thorny ground is sure to balk
All hopes of harvest there;
We find a tall and sickly stalk,
But not the fruitful ear.

The beaten path and highway side,
Receive the trust in vain;
The watchful birds the spoil divide,
And pick up all the grain.

But where the Lord of grace and power
Has bless’d the happy field,
How plentous is the golden store
The deep-wrought furrows yield!

Father of mercies, we have need
Of Thy preparing grace;
Let the same Hand that gives the seed
Provide a fruitful place!

Olney Hymns, by William Cowper, from Cowper’s Poems, Sheldon & Company, New York


Matius 13:45

Sumber

  • Tales of the Neverending, Mark Littleton, Moody, 1990, p. 116


Matius 13:45-46

Pemburu Harta Karun

Kira-kira 15 tahun yang lalu seorang pemburu harta karun Australia sedang menggunakan sebuah detektor metal untuk mencari bungkahan-bungkahan emas kecil di daerah tambang tua.

Tiba-tiba timbul suatu keinginan, ia memindahkan lokasi pencariannya ke halaman sekolah, di mana sesuatu telah membuat mesinnya mati. Ketika menggali, dengan berdebar-debar ia menemukan apa yang dikiranya sebuah bungkah emas sebesar kelereng. Sementara ia berusaha menggalinya ke luar, bagaimanapun, ia menemukan ini sekurang-kurangnya ukuran ibu jari pria dewasa. Sementara ia terus menggali, bungkahan tersebut “tumbuh” lebih besar dan makin besar, sampai akhirnya pria itu menarik keluar bungkahan emas seberat 33,5 kg. Kemudian pemburu harta karun itu menjual emasnya lebih dari $1 juta dollar dan terkenal dengan sebutan bungkah emas “Tangan Iman”!

Today in the Word, September 7, 1995, p. 11.

Buruh Tambang

Pandai besi John Leavitt berharap menjadi kaya. Pada tahun 1878, ia tiba di Lake Valley, New Mexico, dan menyewa sebuah terowongan tambang yang kecil di sisi sebuah bukit.

Dua hari kemudian, ia menembus salah satu penemuan perak yang paling menakjubkan yang dunia pernah saksikan. Temuan Leavitt yang dijuluki “Kamar Pengantin,” adalah sebuah gua yang sebenarnya berhubungan dengan perak yang keras. Akhirnya kamar itu menghasilkan 2,5 juta ons perak, pada saat itu harganya $1.11 per onsnya!

Today in the Word, September 8, 1995, p. 13.

Mutiara Asia

Seratus tahun setelah dikuburkan bersama kaisar Manchu Ch’ien Lung pada tahun 1799, “Mutiara Asia” yang banyak diceritakan dicuri oleh perampok-perampok makam. Mutiara yang menakjubkan itu sudah ditemukan oleh para penyelam Persia, dan dibeli oleh kaisar Sha Jahan untuk istrinya Mumtaz, yang untuknya ia juga telah membangun Taj Mahal dan Pear Mosque. Kira-kira satu abad kemudian mutiara itu didaftarkan di antara kekayaan Ch’ien Lung.

Sesudah dicuri dari makam kaisar, mutiara itu menghilang dari pemandangan selama delapan belas tahun sebelum muncul kembali di Hong Kong. Di sana mutiara itu digunakan sebagai jaminan suatu pinjaman yang besar yang kemudian ternyata gagal dikembalikan. Mutiara itu kemudian dijual di Paris kepada seorang pembeli yang tidak diketahui identitasnya dengan harga yang tidak diumumkan. Sejak tahun 1940, lokasi keberadaan “Mutiara Asia” tidak diketahui; dan nilainya tak bisa ditaksir dalam dolar sekarang ini.

Today in the Word, September 9, 1995, p. 16.


Matius 14:17

Kesetiaan

Malam itu terjadi badai di Birmingham, Inggris dan Hudson Taylor harus bicara pada pertemuan di ruang kelas di Severn Street. Ibu kosnya meyakinkan dia bahwa tidak seorang pun akan hadir pada malam dengan badai seperti itu, namun Taylor berkeras untuk pergi. “Saya akan pergi bahkan jika tidak ada seorang pun di sana kecuali penjaga pintu.”

Kurang dari selusin orang hadir, namun pertemuan itu ditandai dengan kuasa rohani yang luar biasa. Setengah dari mereka yang hadir menjadi misionari atau menyerahkan anak-anak mereka sebagai misionari-misionari; dan lainnya adalah pendukung setia China Inland Mission selama bertahun-tahun kemudian.

Wycliffe Handbook of Preaching and Preachers, W. Wiersbe, p. 242


Matius 14:22ff

Orang Suci Hindu

Anda mungkin ingat Rao, seorang suci Hindu yang main-main dengan kemasyhuran pada tahun 1966. Ahli mistik tua itu yakin bahwa ia bisa berjalan di atas air. Ia begitu yakin dengan kuasa rohaninya sendiri, sehingga ia mengumumkan ia akan menunjukkan kebolehannya di depan orang-orang yang hadir. Ia menjual karcis masuk $ 100 per lembar. Orang-orang kaya di Bombay mengumpulkan para penonton untuk melihat pertunjukan luar biasa itu. Acara diadakan di sebuah taman yang luas dengan sebuah kolam yang dalam. Kerumunan lebih dari 600 orang sudah berkumpul. Yogi yang berjanggut putih tampil dengan jubah yang melambai-lambai dan melangkah dengan penuh percaya diri ke tepi kolam. Ia berhenti untuk berdoa dalam hati. Orang banyak berdiam diri dengan sikap hormat. Rao membuka matanya, melihat ke atas dan dengan berani melangkah. Dengan deburan yang aneh ia menghilang di bawah air. Sambil menggerutu dan dengan wajah merah, orang suci itu berusaha keluar dari air. Dengan gemetar karena marah, ia menggoyang-goyangkan jarinya pada para penonton yang diam dan malu. “Salah seorang di antara kalian,” Rao berteriak dengan jengkel, “ada yang tidak percaya!”

John MacArthur, in Tabletalk, April, 1990, p. 10


Matius 14:30

Saat tenggelam adalah Saat Berdoa

Saat tenggelam adalah saat berdoa dengan pelayan-pelayan Tuhan. Petrus mengabaikan ini pada permulaan perjalanannya yang penuh petualangan. Tetapi ketika ia mulai tenggelam, bahaya membuat ia lekas-lekas berdoa, dan teriakannya – meskipun terlambat – tidaklah terlalu terlambat. Doa-doa singkat cukup panjang. Ada tiga kata dalam permohonan yang Petrus katakan dengan megap-megap, namun cukup untuk mencapai tujuannya. Bukan lamanya, tapi kekuatannya yang perlu. Saat-saat ketika kita paling putus asa adalah peluang-peluang Tuhan. Segera ketika merasa ada bahaya yang hebat, sebuah seruan kita yang cemas didengar oleh telinga Yesus; dan bersama-Nya telinga dan hati bertindak, dan tangan tidak berlambat-lambat. Pada detik terakhir kita berseru kepada Tuan kita, namun tangan-Nya yang tangkas menolong keterlambatan kita dengan tindakan segera dan efektif. Ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa, Yesus bisa melakukan segala sesuatu; marilah kita dapatkan pertolongan kuasa-Nya di pihak kita dan semuanya akan beres. Charles Spurgeon.

Sumber tidak diketahui


Matius 15:1-20

Apa yang Ada dalam Ember Anda

Jika Anda sedang berjalan pulang dari sebuah sumur, membawa sebuah ember berisi air dan seseorang mendorong Anda, yang tumpah dari ember hanyalah isi ember tersebut. Sementara Anda menempuh jalan kehidupan, orang-orang terus-menerus menabrak Anda. Jika hati Anda penuh dengan sifat buruk, kemarahan, dan watak yang jelek, hanya hal-hal inilah yang akan tumpah. Sebaliknya, jika hati Anda penuh dengan kasih, Anda akan menumpahkan seulas senyum atau suatu pernyataan yang menyenangkan. Anda bisa menumpahkan dari ember Anda sesuai isinya.

Sumber tak diketahui


Matius 15:6

Sumber

  • Swindoll, Growing Strong, p. 244


Matius 16:13-17

Sumber

  • Issues and Answers in Jesus’ Day, C. Swindoll, p. 1


Matius 16:13-17:8

Sumber

  • Knowing Christ, Craig Glickman, pp. 61ff


Matius 16:16-18

Sumber

  • Ashamed of the Gospel, J. MacArthur, pp. 174ff

Isyarat-isyarat Hades

Hades mempunyai isyarat-isyarat bahwa ini akan segera dirampas oleh Anak Allah yang disalibkan --- bahwa orang yang benar-benar mati akan segera dibangkitkan – putra janda di Nain- puteri Yairus, Lazarus.

Sumber tak diketahui


Matius 16:21-23

Sumber

  • Christ At The Crossroads, C. Swindoll, 1991, p. 89


Matius 16:23

Batu Karang

Pada satu waktu dalam hidup Petrus, Yesus menyebutnya sebuah “batu karang” dan lain kalinya, “Iblis.” Sebutan-sebutan Yesus bertentangan dalam arti dan penekanannya:

(1) Petrus disebut sebuah “batu karang”: Ketika berada di Kaisarea, Yesus bertanya kepada Petrus, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:15,16). Mengikuti pernyataan iman Petrus yang besar, pada dasarnya Yesus memuji Petrus dan menyebutnya sebuah “batu karang”

(2) Petrus disebut “Iblis” bukan karena Petrus tidak tahu siapakah sebenarnya Tuhan Yesus, tetapi:

  • Karena walaupun faktanya ia tahu siapakah Yesus, ia ingin Tuhan Yesus bertindak bertentangan dengan tabiat-Nya yang sejati.
  • Meskipun Petrus tahu bahwa Tuhan Yesus datang untuk mati disalib bagi dosa-dosa kita, ia tidak bisa melepaskan harapan bahwa Yesus akan, pada waktu itu, mendirikan kerajaan-Nya di dunia.
  • Petrus ingin Yesus memakai kemahakuasaan-Nya untuk mencegah kematian, kematian manusia.
  • Mungkin untuk alasan-alasan pribadi, Petrus lebih tertarik bila Yesus tetap hidup. Jika ia diproklamirkan sebagai seorang raja di dunia, Petrus akan meraup beberapa keuntungan materi.

(3) Bila kita bertindak seperti Iblis

  • Ketika kita lebih tertarik untuk melindungi status kita sekarang ini.
  • Ketika kita memandang kematian dalam hidup kita sendiri sebagai sebuah kekalahan daripada pendahuluan terhadap kebangkitan.
  • Ketika kita menaruh minat terhadap diri kita dan materi di atas Kristus.

Dalam Matius 16:23, Tuhan Yesus tidak hanya menyebut Petrus “Iblis” namun Ia berkata kepadanya, “Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.” Kata Yunani untuk “batu sandungan” adalah skandalon. Ini adalah sepotong logam di atas perangkap tikus dimana sepotong keju dikaitkan. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, “Engkau adalah Iblis sebab engkau mencoba menjebakku sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Mengejar minat pribadi merupakan bahaya terbesar dalam hidup orang percaya manapun. Sering dalam Firman Tuhan Iblis disebut melalui makhluk yang dipengaruhinya. Misalnya ketika Yesus memberitahukan tentang penyaliban-Nya, Petrus mulai mengomeli-Nya. Tapi Yesus menghardik Petrus dan berkata, “Enyahlah Iblis!” (Mat 16:23). Sebagai tambahan, ketika Tuhan mengutuk Iblis dalam Kejadian 3:14,15, Ia menujukannya kepada Iblis secara tidak langsung melalui ular. Begitu juga dalam Yehezkiel 28:11-19

A Holy Rebellion, T. Ice & R. Dean, Harvest House, 1990, p. 40


Matius 16:24

Salib adalah Suatu Tempat yang Sepi

Saya bertanya kepada beberapa orang muda apakah mereka akan memberikan dan mengorbankan diri mereka, jika Kristus memanggil mereka, sekarang, hari ini. Mereka serius sejenak, gelisah, dan menjawab dengan canggung bahwa mereka terikat dengan rumah-rumah mereka; orang tua mereka tidak akan mengerti; dan mereka merasa harus menunggu sampai mereka lebih dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri.

Saya mendengar seorang pemuda ditanya tentang keyakinan agamanya. Ia malu bercampur jengkel. Ia menjawab dengan detil yang panjang bagaimana istrinya aktif di gereja;dan bagaimana anak-anaknya ke Sekolah Minggu hampir setiap minggu. Ia lega ketika orang yang bertanya meninggalkannya. Matanya mengikuti orang itu dengan pandangan menuduh.

Saya mendengar tentang seorang wanita muda yang diminta mendedikasikan sebagian waktunya untuk pelayanan-pelayanan Kristiani yang diperlukan. Alisnya melengkung tajam dan ia menjawab cepat dalam irama stakato. Dalam rangkaian yang cepat ia menyebutkan kewajiban-kewajibannya di kantor pusat; tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya; dan ia menyimpulkan dengan keterangan bahwa suaminya mengeluh karena ia terlalu banyak kegiatan.

Saya mendengar seorang tua yang diminta menyatakan dan mendedikasikan hidupnya dalam suatu cara Kristiani secara khusus. Ia mendengus dan membentak bahwa itu adalah pekerjaan orang-orang yang lebih muda. Ia sudah melakukannya dulu dan ia mau istirahat.

Salib adalah suatu tempat yang sepi. Bahkan Kristus tidak mengambilnya dengan cepat dan mudah. Ia menanti agar orang-orang lain melakukannya. Dan Ia menunggu. Dan Ia menunggu.

Lois Cheney, God is no Fool, pp. 59-60.

Pengertian Praktis dari Pengabdian

Fred Craddock, menujukan kepada para pendeta, menangkap penerapan praktek pengabdian. “Memberikan hidup kita kepada Kristus tampaknya mudah,” katanya. “Memberikan diri kita untuk orang-orang lain--- untuk menjadi martir – saya akan melakukannya. Saya siap Tuhan, untuk pergi dalam suatu sinar kemuliaan.

“Kita pikir memberikan semua yang kita miliki kepada Tuhan seperti mengambil cek $1,000 dan menaruhnya di atas meja – ‘Inilah hidupku, Tuhan. Saya memberikan seluruhnya.’ “Namun kenyataannya untuk kebanyakan kita adalah Ia menyuruh kita pergi ke bank dan menukarkan cek dengan uang tunai pecahan 25 sen. Kita menjalani sepanjang hidup kita dengan mengeluarkan 25 sen di sini dan 50 sen di sana. Mendengarkan kesulitan-kesulitan anak tetangga daripada mengatakan, ‘Ia terhilang.’ Pergilah ke rapat panitia. Berikan secangkir air kepada seorang tua yang sudah gemetaran dalam panti wredha.

“Biasanya memberikan hidup kita kepada Kristus tidaklah dengan kemuliaan. Ini dilakukan dengan seluruh tindakan kasih yang kecil-kecil, 25 sen setiap kali. Akan mudah untuk pergi keluar dengan suatu cahaya kemuliaan; lebih sukar untuk menjalani kehidupan Kristen sedikit demi sedikit sepanjang perjalanan yang berat dan lama.”

Darryl Bell

Sumber tak diketahui


Matius 16:26

Terobsesi dengan Kemenangan

Artikel di majalah meringkaskan kehidupan seorang mantan pelatih basket NCAA dan penyiar berita olahraga. Sepanjang karirnya yang bersemangat sebagai pelatih ia terobsesi dengan pertandingan dan kemenangan. Namun bertahun-tahun kemudian, ketika ia terserang kanker, ia mulai menyadari betapa kecilnya barang-barang dan nilai-nilai yang selama ini ia puja dengan semangat. “Anda sakit dan Anda berkata kepada diri Anda sendiri, ‘Olahraga tidak berarti apa-apa,’ dan itu terasa mengerikan.”

Karena ia telah meluangkan waktu hanya sedikit dengan istri dan anak-anaknya, ia mengakui, “Saya bayangkan saya punya 20 tahun yang hebat, siapa tahu memenangkan tiga kejuaraan nasional kemudian berhenti pada usia 53 atau 54. Saya mati-matian meraihnya, saya terus-menerus jauh dari rumah. Kedengarannya sangat bodoh sekarang. Namun itu terus berlangsung dan berlangsung, keinginan yang tak ada puasnya untuk mengalahkan dunia.”

VCG, Our Daily Bread, Sept.-Nov. 1997, page for October 17

Mengejar Sasaran-sasaran Kita

Di sebuah komunitas kecil seorang petani memiliki seekor anjing yang suka duduk ditepi jalan raya menunggu truk-truk besar. Ketika anjing itu melihat sebuah truk besar muncul dari tikungan, ia akan bersiap-siap dan ketika truk itu melewatinya, ia akan turun ke jalan raya, menyalak dan berusaha sebaik-baiknya untuk menangkapnya. Suatu hari tetangga petani tersebut berkata, “Sam, apakah kamu pikir anjing kamu akan terus berusaha menangkap sebuah truk?”

“Bill,” Sam menjawab. “Bukan itu yang membuat saya khawatir. Apa yang mengkhawatirkan saya adalah apa yang akan ia lakukan jika ia berhasil menangkap sebuah truk.”

Banyak di antara kita dalam hidup ini seperti anjing tersebut. Kita memberikan hidup kita untuk mengejar sasaran-sasaran yang memiliki nilai kecil jika kita berhasil mencapainya.

Sumber tidak diketahui

Malcolm Forbes

Christopher Winans, dalam bukunya, Malcolm Forbes: The Man Who Had Everything, menceritakan tentangtur sepeda motor yang dipimpin Forbes melalui Mesir pada tahun 1984 dengan tim sepeda motornya Capitalist Tool. Sesudah menyaksikan makam King Tut yang menggemparkan, tampaknya Forbes merenungkannya. Ketika mereka kembali ke hotel dengan sebuah bis jemputan, Forbes berpaling kepada seorang rekannya dan bertanya dengan tulus: “Apakah kamu pikir aku akan diingat setelah aku meninggal?”

Morbes diingat. Ia diingat sebagai orang yang menciptakan ungkapan, “Ia yang mati dengan paling banyak mainan menang.” Inilah kebijaksanaan Malcolm Forbes. Faktanya, ini adalah ambisinya. Itulah sebabnya ia mengumpulkan koleksi sepeda motor. Itulah sebabnya ia mau membayar lebih dari sejuta dolar untuk sebutir telur Faberge.

Itulah sebabnya ia memiliki puri-puri, balon-balon udara, dan mainan-mainanlain yang tak terhitung jumlahnya yang tidak bisa lagi dinikmatinya.

Tuhan Yesus Kristus memberikan kita kata-kata hikmat tertinggi ketika ia berkata,”Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”(Matius 16:26). Ini adalah sebuah hikmat kurang sempurna yang fatal yang menyatakan, “Ia yang mati dengan paling banyak mainan menang.”

Family Survival in the American Jungle, Steve Farrar, 1991, Multnomah Press, pp. 47-48

Apakah Anda Bahagia?

Cecil Rhodes menolong untuk menyelesaikan politik dan bisnis di Afrika Selatan. Ia kaya, terkenal dan berkuasa. Suatu malam, ia kebetulan duduk di kereta api bersama Bramwell Booth, putra dari pendiri Balakeselamatan. Jendral Booth ada di kompartemen sebelah kereta api itu, dan putranya dan Rhodes bersama-sama. Booth memiringkan tubuh ke arah Rhodes dan bertanya, “Tuan Rhodes, apakah Anda bahagia?”

Pria ini tampaknya diliputi depresi dan kemurungan. Rhodes mencengkeram lengan kursinya dan berkata, “Bahagia? Saya, bahagia? Tidak!” Booth kemudian memberitahu tokoh dunia yang berkuasa itu bahwa hanya ada satu tempat untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati. “Ini adalah di bawah kaki Juruselamat yang disalibkan, karena hanya di sana kita bisa dimerdekakan dari dosa-dosa kita.”

“Ya, “ Rhodes menjawab perlahan, dan kemudian ia menambahkan: “Saya mau memberikan semua yang saya miliki untuk percaya apa yang laki-laki tua di kompartemen sebelah percayai!”

The Wycliffe Handbook of Preaching & Preachers, W. Wiersbe, p. 187


Matius 16:3

Sumber

  • The Other Jesus, L. J. Ogilvie, Word, 1986, pp. 144ff


Matius 17:1-12

Sumber

  • Fairest of All, Herbert Lockyer, Eerdmans, 1936, pp. 25ff


Matius 17:20

Seorang Wanita dengan Iman Kecil

Seorang wanita yang dikenal karena kepercayaannya yang dalam dan ketenangan jiwanya ditanya oleh seseorang yang ingin mempelajari rahasianya, “Apakah engkau seorang wanita dengan iman besar?” “Tidak,” ia menjawab, “Saya adalah wanita dengan iman kecil di dalam Allah yang besar!”

Kebanyakan orang Kristen mengakui bahwa sering iman mereka lemah. Sering mereka berusaha menguatkannya dari dalam hati mereka sendiri. Ini suatu kesalahan. Iman hanya bisa bertumbuh ketika iman menyentuh Tuhan Yesus dan firman-Nya. Seorang teman dan saya sedang mendiskusikan topik ini suatu hari. “Henry,” ia berkata, “saya baru saja membaca Matius 17 , ketika Yesus membandingkan iman kita dengan sebiji sesawi. Ketika saya mempelajarinya, saya menemukan suatu fakta yang menarik. Sebiji sesawi memiliki sejumlah kecil makanan di dalam dirinya untuk mendukung benih kehidupan.

Oleh karenanya biji sesawi harus ditanam dekat permukaan tanah yang subur agar bertumbuh. Segera setelah satu tunas kecil muncul, ia harus segera mendapat makanan dan kekuatan dari sumber lain. Tanah liat di sekelilingnya yang basah dan matahari dari atas harus melakukan mujizatnya jika tanaman itu ingin bertahan hidup. Iman kita juga sama. Karena iman begitu lemah, harus menjangkau di luar dirinya untuk bertahan dan bertumbuh . “Iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1 Kor 2:5).

Our Daily Bread, November 19, 1985, H.G.B.


Matius 18:1-6, 10

Sumber

  • Issues and Answers in Jesus’ Day, C. Swindoll, p. 36


Matius 18:15

Gereja Matius 18

Saya bekerja dengan sebuah jemaat yang menamai gerejanya “Gereja Matius 18.” Mereka bilang mereka menangani konflik dengan mengikuti pedoman yang Yesus berikan dalam Matius 18. Pedoman itu menyebutkan suatu proses ketika seseorang berdosa ia ditegur secara pribadi, dan jika “pendosa” itu tidak bisa diyakinkan, maka ia dibawa kepada dua atau tiga orang saksi, dan jika ia tidak juga mau mendengarkan, maka sampaikan soalnya kepada jemaat.

Sayangnya, “gereja Matius 18” ini hanya menggunakan metode ini untuk melepaskan kemarahan satu sama lain. Seorang anggota yang marah akan berusaha mencari orang yang mengganggunya, mencaci maki orang itu karena kekasarannya dan tingkah lakunya yang ceroboh, dan kemudian tidak mau bicara lagi. Orang-orang tidak berusaha saling mengerti, membiarkan saling curiga. Ini hanya tabrak lari saja.

Mastering Conflict and Controversy, Edward G. Dobson, Speed B. Leas, Marshall Shelley, (Portland: Multnomah Press, 1992), p. 106


Matius 18:15-17

Sumber

  • Restoring Fellowship, Ken & Joy Gage, Moody, 1984, p. 51
  • Tell It To The Church, p. 29


Matius 18:19

Kebaktian Mujizat Kesembuhan

Belum lama ini saya menerima sebuah surat doa mengenai suatu “Kebaktian Mujizat Kesembuhan.” Suatu formulir Permintaan Mujizat Doa dilampirkan dengan instruksi-instruksi berikut: “Ambillah formulir doa yang saya kirimkan pada Anda dan tulislah nama Anda di atasnya, dan ketika Anda melakukannya, tumpangkan tangan ke atasnya. Kami harus menerima formulir permintaan doa Anda supaya kami bisa menjamahnya dan mendoakannya karena ‘jika dua orang setuju menjamah apa saja, ini akan terjadi.’” Karena kesalahpahaman mereka dengan King James Version orang-orang Kristen yang bermaksud baik membuat tafsiran Alkitab dan penerapannya yang baru dan lebih rendah kualitasnya. Kata jamah yang begitu penting pada pandangan mereka, bahkan tidak ada dalam teks Yunani, sebagaimana NIV membuatnya jelas dalam menerjemahkan ayat ini: “Jika dua orang dari padamu di dunia sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 18:19).

Taking The Guesswork Out of Applying The Bible, Jack Kuhatschek, IVP, 1991, p. 7


Matius 18:21-35

Sumber

  • Swindoll, Improving Your Serve
  • NIDNTT, v. 2, pp. 769-70


Matius 18:9

Jendela Mata

Jendela mata membuka suatu jalan raya yang lebar yang memimpin langsung kepada jiwa. Melalui ini gambaran-gambaran mengalir sehingga ini bisa membangkitkan nafsu, menimbulkan iri hati dan mendorong kenikmatan-kenikmatan dosa.

Dalam pengakuan Santo Agustinus, penulis mengisahkan tentang temannya, Alypius yang, meskipun bukan seorang Kristen, membenci pertunjukan berdarah dari sirkus Roma. Suatu hari beberapa mahasiswa memaksa Alypius masuk ke amphiteater untuk menyaksikan pertandingan gladiator.“Meskipun kalian bisa membawa tubuhku ke tempat itu, “ ia berkata, “dapatkah kalian memaksaku mengubah pikiran atau mataku untuk melihat pertunjukan itu?” Jadi ia duduk di sana, dengan mata tertutup, pikiran tertuju pada hal-hal yang mulia. Tepat ketika terdengar teriakan yang hingar bingar ketika seorang gladiator merobohkan korban dengan sebilah pedang, Alypius membuka matanya sekejap. “Saat itu juga ia melihat darah,” Agustinus mencatat, ”ia menikmati kebuasan, tidak berpaling, tapi matanya terpaku menikmati hiruk pikuk, tidak sadar dan senang melihat pertandingan yang salah, mabuk dengan hiburan berdarah tersebut.”

Tuhan kita, dengan berani berkata, “jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah.” Ia tidak mengatakan ini agar benar-benar dilakukan. Sebaliknya, Ia sedang mengatakan, sebenarnya, “Ambillah tindakan yang paling drastis yang perlu untuk menjaga agar kehidupan batinmu murni.”

Billy Graham pernah mengatakan, “Anda mungkin tidak bisa menolong pada pandangan pertama, tapi Anda bisa menolak yang kedua.” Ketika suatu gambaran yang kotor memasuki benak kita, apakah dari sebuah buku, sebuah majalah, teve, atau hidup yang sebenarnya, jangan “biarkan mata melihatnya.” Sebaliknya, tujukan mata hati anda pada Yesus, yang menjadi perantara di sorga untuk kita. Ia akan menjaga agar Anda tetap kudus.

Our Daily Bread


Matius 19:14

Dua dan Setengah Orang Percaya Baru

Ketika suatu malam D.L. Moody kembali dari suatu kebaktian dimana ia telah berkhotbah, seorang teman bertanya kepadanya, “Berapa banyak orang yang percaya malam ini?”

Ia menjawab, “Dua dan setengah.”

Orang itu menanggapi, “Maksudnya dua orang dewasa dan seorang anak?”

“Tidak,” jawab Moody, “Dua anak kecil dan seorang dewasa.”

“Bagaimana cara kamu menghitung dua dan setengah?”

“Nah, kamu lihat, “jawab penginjil tersebut,“ dua anak kecil memiliki seluruh kehidupan yang terbentang di hadapan mereka, namun orang dewasa hanya memiliki setengah kehidupan di hadapannya.”

Our Daily Bread


Matius 19:16-30

Orang Muda yang Kaya

Orang muda yang kaya datang kepada orang yang tepat, menunjukkan sikap yang tepat, mengajukan pertanyaan yang tepat, menerima jawaban yang tepat, namun membuat respon yang salah!

Warren Wiersbe, His Name is Wonderful, p. 106

Sebuah Doa

Ya Tuhan,

Saya sudah membaca lagi tentang Orang Muda yang Kaya dan pilihannya yang sudah jelas salah. Namun itu membuat saya berpikir. Tak peduli berapa banyak kekayaannya, ia tidak bisa – mengendarai mobil, dibedah di rumah sakit, menyalakan lampu listrik, membeli penisilin, mendengarkan permainan organ pipa, menonton TV, mencuci piring-piring dalam air yang mengalir, mengetik sebuah surat, memotong rumput dengan mesin pemotong, terbang dengan pesawat, tidur di kasur empuk yang ada pegasnya, atau bicara di telpon. Jika ia disebut kaya, lalu apalagi saya.”

Sumber tak diketahui


Matius 19:16-30

Sumber

  • So Great Salvation, Charles Ryrie, Victor Books, 1989, pp. 81ff


Matius 19:22

Harta Milik

Ketika seseorang sangat mengasihi barang-barang dunia sehingga ia tidak bisa berpisah dengannya, ia membuka dirinya terlalu banyak akan penderitaan, baik fisik maupun mental. Beberapa orang, misalnya, mengambil risiko-risiko yang bodoh untuk menjaga agar kekayaan mereka utuh. Mereka mati karena menerjang ke dalam rumah-rumah yang terbakar atau terbunuh karena keras kepala melawan perampok-perampok bersenjata. Rupanya mereka merasa bahwa tanpa harta milik hidup mereka tidak berharga.

Lainnya, ketika terpaksa berpisah dengan kekayaan mereka, telah terlempar pada keputusasaan, bahkan sampai pada titik mau bunuh diri. Dalam tahun 1975, enam orang bersenjata membongkar kotak deposit sebuah bank di London dan mencuri barang-barang berharga senilai lebih dari $7 juta dolar. Seorang wanita, yang permata-permatanya hanya dinilai $ 500,000 meratap, “Semua yang saya miliki ada di sana. Seluruh hidup saya ada di kotak itu.” Betapa menyedihkan komentar terhadap nilai-nilainya.

Our Daily Bread


Matius 19:26

Sumber

  • A.T. Robertson, The Minister and His Greek N.T., p. 55


Matius 19:29

Sebuah Perumpamaan

Suatu ketika hidup seorang pria yang biasa-biasa saja. Ia memiliki suatu pekerjaan biasa dengan gaji yang biasa-biasa saja. Tetapi ia mempunyai seorang teman yang luar biasa! Teman ini adalah CEO suatu perusahaan yang sangat besar dan seorang bisnisman yang sangat cerdas. Suatu hari, temannya menemui pria itu dan berkata, “Kamu dan saya sudah berteman sangat lama, bukankah begitu?”

“Ya, benar, “ jawab pria itu.

“Apakah kamu percaya pada saya?” kata temannya. “Apakah kamu pikir saya mengerti dunia bisnis?”

“Ya, saya percaya,” jawab pria itu.

“Nah,” kata teman tersebut, “saya akan berikan kamu beberapa informasi yang sangat berharga. Dan jika kamu benar-benar percaya pada saya, ikuti nasihat saya.”

Sampai di sini, pria itu menjadi bingung dan tegang. Apakah yang temannya minta ia lakukan?

“Perusahaan saya,” lanjut teman tersebut, “akan, dalam tahun depan atau sekitar itu, membuat transaksi bisnis yang sangat hebat. Jika kamu beli saham sekarang, saya janjikan kamu keuntungan 10,000%. Nasihat saya adalah kumpulkan setiap sen yang kamu bisa kumpulkan dan belilah saham. Setiap bulan, gunakan uang seperlunya untuk keperluan sehari-hari dan investasikan sisanya dalam saham. Saya kenal perusahaan saya dan saya bisa menjamin keuntungan ini.”

Jadi pria itu melakukan saran temannya. Setiap bulan ia membeli saham lebih banyak – tidak lagi membeli barang mewah seperti mobil keluaran terbaru atau sepatu tenis bermerk. Dan, sesuai janji temannya, dalam waktu satu tahun, perusahaan itu melakukan transaksi tersebut dan pria itu menjadi sangat, sangat kaya.

Kita hanya memiliki satu masa hidup untuk “membeli saham” dalam kerajaan Allah untuk kekekalan. Ketika kita memberi untuk pekerjaan-Nya, uang itu tidak dibelanjakan dan habis – ini diinvestasikan. Dan Kristus menjanjikan keuntungan fantastis di sorga! Alkitab mengatakan, “Sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat….dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”

Sumber tidak diketahui


Matius 19:3-12

Sumber

  • Christ At The Crossroads, C. Swindoll, 1991, p. 72


Matius 19:9

Sumber

  • Christ At The Crossroads, C. Swindoll, 1991, p. 82


Matius 1:1-25

Sumber

  • Biblical Viewpoint, XVII, No 2, (2 Kings), pp. 68ff


Matius 1:21

Sumber

  • Our Savior God, J. M. Boice, p. 87.


Matius 2

Sumber

  • Christlike, Barry Applewhite, pp. 19, 29.


Matius 20:13-14

Sumber-sumber

  • The Other Jesus, L.J. Ogilvie, Word, 1986, pp. 170ff
  • Tales of the Neverending, Mark Littleton, Moody, 1990, p. 118


Matius 20:20-8

Sumber

  • Kingdom Conflict, J. Stowell, Victor, 1985, p. 53.


Matius 21:1-17

Sumber

  • C. Swindoll, Questions Christians Ask, p. 1


Matius 21:12

Sumber

  • Eternity in Their Hearts, Don Richardson, pp. 144-47


Matius 21:28-32

Keduanya Berubah Pikiran

Apa yang Anda lakukan lebih penting daripada apa yang Anda katakan. Kedua anak laki-laki itu berubah pikiran! Orang-orang Farisi kedengarannya benar tapi tidak bertindak benar. Orang banyak dan para pendosa kedengarannya tidak benar, tapi sering lebih mau mengakui dosa dan melakukan kehendak Allah.

Sumber tidak diketahui

Mengatakan Satu Hal Tetapi Melakukan yang Lain

Seorang pria bernama La Piere mengirimkan surat-surat kepada para manager 256 hotel dan restoran di setengah wilayah selatan Amerika. Ia memberitahu mereka bahwa ia sedang merencanakan tur ke selatan dengan dua orang rekan Cina dan ia ingin tahu sebelumnya apakah mereka akan dilayani. Sembilan puluh dua persen menjawab bahwa mereka tidak melayani orang-orang Cina dan daripada La Piere malu lebih baik jangan datang dengan orang-orang yang tak diinginkan itu. Ia tidak heran. Prasangka ras merupakan bagian dari kehidupan di selatan pada tahun 1930-an, dan ini sudah lama setelah suatu larangan diskriminasi dikeluarkan oleh Kantor Perdagangan antar Negara Bagian.

La Piere mengabaikan nasihat para manager itu, bagaimanapun. Disertai seorang pria Cina dan istrinya, ia mengunjungi setiap perusahaan yang mengatakan mereka menolak untuk melayani. Sungguh mengejutkan! Sembilan puluh sembilan persen tempat tersebut menerima pasangan dari timur itu, dan hampir semua melakukan tanpa perdebatan. Studi La Piere menunjukkan satu penemuan yang konsisten dalam kepercayaan – bahwa seseorang mungkin mengatakan ia merasa satu hal, dan kemudian berpaling dan melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Em Griffin, The Mindchangers, Tyndale House, 1976, p. 179


Matius 21:43-44

Sumber

  • The Other Jesus, L.J. Ogilvie, Word, 1986, p. 158ff


Matius 21:9

Teriakan Orang Banyak

Ini adalah teriakan orang banyak ketika Yesus memasuki Yerusalem pada minggu terakhir pelayanannya di muka umum. Bahkan meskipun orang banyak berteriak memuji-Nya, ini juga orang banyak yang sama yang menyerukan penyaliban-Nya beberapa hari kemudian.

Bagaimanapun, ketika mereka menyambut-Nya memasuki Yerusalem hari itu, menyebarkan ranting-ranting palem dan jubah-jubah mereka di jalan yang dilalui-Nya, sedikit yang mengerti bahwa mereka sedang menggenapi suatu nubuat kuno. “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan!...Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN” (Mzm 118:25,26), mereka berseru.

“Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan, “ adalah inti dari “Hosana.” Orang banyak mengakui Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, Anak Daud, dan “imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat…sangat jengkel” (Matius 21:15).

Namun ini juga telah diprediksi dalam Mazmur: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita” (Mazmur 118:22-23).

“Tukang-tukang bangunan ini” - “imam-imam kepala dan tua-tua” yang “menghasut orang banyak sehingga mereka meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati” (Matius 27:20). Sebagai hasil dari penolakan oleh para pemimpin umat-Nya, Tuhan menangisi Yerusalem dan terpaksa menubuatkan penghakiman yang akan datang, mengutip sekali lagi nubuatan kuno ini: “Yerusalem, Yerusalem … Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata, “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39).

Suatu hari, Ia akan, sesungguhnya dibuat menjadi “batu penjuru” yang agung dan semua umat-Nya akan mengakui-Nya pada hari itu. Sementara itu, doa nubuatan ini layak untuk setiap orang yang belum diselamatkan untuk berdoa hari ini: “Selamatkan kami, oh,Tuhan,” jadi mengakui bahwa Yesus, sesungguhnya, datang dalam nama Tuhan. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2 Korintus 6:2). - HMM

Sumber tak diketahui


Matius 22:15-22

Hak Manusia yang Terbatas

Pada uang dinar ada gambar kepala kaisar, dan oleh karena itu, meskipun orang-orang Yahudi memakainya dalam transaksi dagang sehari-hari, ini tidak bisa diterima di Bait Allah. Pemakaiannya dalam kebiasaan setempat wajar saja, dan tidak kurang nilainya dalam kaitan universal dari pelajaran yang Yesus ingin ajarkan – hak yang terbatas bagi otoritas manusia, dan hak tidak terbatas pada Allah.

Stephen Neill, The Supremacy of Jesus, p. 43


Matius 22:20-21

Yesus Berhadapan dengan Orang-orang Farisi

Dalam episode, Yesus berhadapan dengan sekelompok orang Farisi yang mewakili teokrasi, dan para pendukung Herodes yang menginginkan dinasti Herodes didirikan kembali di tempat kekuasaan Romawi. Jika Yesus menyimpulkan bahwa membayar pajak kepada Kaisar sesuai dengan hukum, maka orang-orang akan marah; jika Yesus berpihak pada orang-orang Farisi, maka ia akan dituduh memberontak oleh orang-orang Romawi. Tampaknya tidak ada jalan untuk menang.

Betapa sulitnya! Namun, ada peluang! Jawaban Yesus adalah menghormati kepemilikan. Jika pajak berdasarkan uang dan itu merupakan sistem Romawi, maka seharusnya sebagai warganegara kita menurut dan membayar pajak. Sebaliknya, apa pun yang menjadi hak Allah karena kepemilikan seharusnya dibayar kepada-Nya. Menarik, tanda-tanda kepemilikannya adalah “citra” dan “tertulis” pada obyek yang dipertanyakan. Gambar Allah adalah suatu karunia khusus Allah kepada manusia pada penciptaan (Kejadian 1:26).

Kita diperingatkan untuk tidak membuat patung Allah yang menyerupai makhluk apa pun, karena hampir tak bisa dielakkan ini menimbulkan keinginan untuk menyembah patung tersebut sebagai suatu “allah.” Allah yang sejati tidak dapat dilihat – bukan tubuh, namun roh. Manusia adalah pernyataan yang unik dari gambar ilahi di antara makhluk hidup. Gambar tersebut telah dicemarkan oleh dosa, namun dapat diperbaharui oleh Kristus.

Menurut gelar-gelar atau kepemilikan, kita memutuskan bagaimana kita akan disebut. Jika kita telah memutuskan untuk mengikuti Kristus, kita memperoleh julukan “Kristen,” yang menunjukkan suatu hubungan kepada Kristus dalam beberapa cara – perilaku, komitmen, kasih (Kisah Para Rasul 11:26; 1 Petrus 4:16). Paulus membuatnya sederhana ketika ia ada di tengah-tengah badai di laut: “Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku” (Kisah Para Rasul 27:23). Bahkan meskipun ia dalam status dipenjara oleh Kaisar, (ay. 24) dan tidak menasihatkan memberontak melawan otoritas Kaisar, tak dapat diragukan dimana kesetiaannya berada. - KBC

Sumber tak diketahui


Matius 22:34-40

Sumber

  • Balancing Life’s Demands, J. Grant Howard, pp. 41ff


Matius 22:39

Mengasihi Diri Sendiri adalah Hal Biasa

Mengasihi diri sendiri demikian biasa sehingga Yesus memakainya sebagai suatu petunjuk: Kasihi sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Ketika saya duduk di sekolah dasar, kadang-kadang guru menunjukkan cara mengerjakan soal di kertas pekerjaan rumah untuk menunjukkan pada kita bagaimana cara mengerjakan soal-soal lainnya. Yesus memakai kasih untuk diri kita sendiri dengan cara yang sama. “Perhatikan bagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri,” ia berkata, “dan kasihilah sesamamu seperti itu.”

Knowing the Face of God, Tim Stafford, p. 203


Matius 22:8-9

Sumber

  • Tales of the Neverending, Mark Littleton, Moody, 1990, p. 122


Matius 23

I. Apa yang bukan kepemimpinan (1-10)

    A. Kemunafikan, “Mereka tidak melakukannya.”

    B. Legalisme (4), tradisi lisan diluar Firman Tuhan

    C.Kebanggaan/kesombongan (5-7)

      1. Tanda-tanda kehormatan(tali sembahyang yang lebar, Ul.6, jumbai yang panjang, Bil.15)

      2. Tempat terhormat, di depan

      3. Sebutan kehormatan, rabi

    D. Mengapa tidak memakai sebutan’

      1. 1 guru (menunjukkan semua sedang belajar)

      2. 1 bapa (menunjukkan semua adalah saudara)

      3. 1 pemimpin (menunjukkan semua adalah pengikut)

II. Apa artinya (11) menjadi seorang pelayan

III. Apa hasilnya (12) upah, ditinggikan

Sumber tidak diketahui


Matius 23:12

Booker T. Washington

Orang yang benar-benar rendah hati sulit ditemukan, meskipun demikian Tuhan senang menghormati orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri itu.

Booker T. Washington, pendidik berkulit hitam yang terkenal, adalah contoh yang menyolok akan kebenaran ini. Segera seudah ia menjadi Presiden Tuskegee Institute di Alabama, ia sedang bicara pada suatu bagian kota yang eksklusif ketika ia dihentikan oleh seorang wanita kulit putih yang kaya. Tidak mengenali Pak Washington yang terkenal itu, ia minta apakah pria itu mau membelah kayu dengan bayaran beberapa dolar. Karena ia sedang tidak ada bisnis mendesak saat itu, Profesor Washington tersenyum, menggulung lengan bajunya, dan mengerjakan pekerjaan kasar yang diminta wanita itu. Ketika sudah selesai, ia mengangkut potongan-potongan kayu ke dalam rumah dan menumpukkannya di dekat perapian. Seorang gadis kecil mengenalinya dan kemudian memberitahukan identitas pria itu kepada wanita tersebut.

Keesokan harinya wanita yang merasa malu tersebut pergi menemui Pak Washington di kantornya di Institute dan minta maaf sebesar-besarnya.

“Tidak apa-apa, Nyonya,” ia menjawab. “Kadang-kadang saya menikmati sedikit pekerjaan yang dilakukan dengan tangan. Disamping itu, selalu menyenangkan untuk melakukan sesuatu untuk seorang teman.”

Wanita itu menjabat tangannya dengan hangat dan kelembutan hatinya serta sikapnya yang murah hati membuat dirinya dan pekerjaannya berkesan di hati wanita tersebut. Tak lama sesudah itu wanita itu menunjukkan kekagumannya dengan mendorong beberapa kenalan yang kaya untuk bergabung dengannya menyumbangkan ribuan dolar untuk Tuskegee Institute.

Our Daily Bread


Matius 23:23

Sebuah Khotbah dengan Tiga Poin

Seorang pria diminta berbicara di sebuah gereja yang agak besar. Setelah ia melangkah ke mimbar, ia berkata, “Ada tiga poin dalam khotbah saya. Kebanyakan orang menguap ketika ia mengatakan itu. Mereka telah mendengar banyak tentang itu sebelumnya.

Namun ia meneruskan. “Poin pertama saya adalah ini. Sekarang ini ada kira-kira 2 milyar orang hampir mati kelaparan di seluruh dunia.” Reaksi jemaat juga kira-kira sama karena mereka telah mendengar pernyataan semacam itu berulang kali sebelumnya.

Dan kemudian ia berkata, “Poin kedua saya.” Setiap orang duduk tegak. Hanya sepuluh atau limabelas detik berlalu, dan ia siap dengan poin kedua? Ia diam sejenak, kemudian berkata, “Poin kedua saya adalah bahwa kebanyakan di antara Saudara tidak memberi sama sekali!”

Ia diam sejenak sementara jemaat menghembuskan nafas dan terdengar suara-suara, dan kemudian ia berkata: “Dan poin ketiga saya adalah tragedi nyata di antara orang-orang Kristen sekarang ini adalah banyak di antara Saudara lebih peduli pada perkataan saya ‘sama sekali’ daripada ketika saya mengatakan bahwa 2 milyar orang hampir mati kelaparan.”

Kemudian ia duduk.

Holy Sweat, Tim Hansel, 1987, Word Books Publisher, p. 40

Jenis-jenis Persembahan

Traktat Maaseroth dibuka dengan suatu peraturan apa yang wajib dipersembahkan, “semua yang berbentuk makanan” dan kemudian disebutkan bila makanan itu wajib – bukan pada taraf awal tapi dalam taraf belakangan (1:1). Ketentuan-ketentuan menjadi lebih rinci dalam delapan mishnot yang mengikuti – “ara” (1:2); “carabs” (1:3); “yang hijau – ketimun, labu, melon,” (1:4) dll. Perhatian yang diberikan kepada setiap tanaman merefleksikan perhatian kerabian mengenai hukum pada setiap detil kehidupan, tak satu pun tidak disebutkan. Dan ini direfleksikan dalam Matius 23:23, ketika Tuhan Yesus menyalahkan para penyalin hukum Taurat dan orang-orang Farisi sebagai “munafik” karena mereka mempersembahkan “selasih, adas manis, jintan” namun mengabaikan “ketentuan-ketentuan hukum yang lebih penting.”

Maaseroth 4:5 memberikan instruksi mengenai adas manis dan biji-bijian. Dalam Hukum Musa tak satu pun dari ini yang didaftarkan untuk persepuluhan, namun terbukti karena tanaman dan bijian-bijian ini digunakan sebagai bumbu penyedap mereka masukkan dalam persepuluhan. Mungkin para rabi melangkah jauh di luar hukum dengan memperhatikan hal kecil semacam itu, namun ini bukan pengamatan teliti mereka mengenai persepuluhan sehingga Yesus menyalahkan bahwa mereka kurang memperhatikan “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”

Dalam Maaseroth 5:7 peraturan yang kaku menjadi tidak masuk akal dengan peraturan mengenai lubang-lubang semut di samping setumpuk jagung. “Jagung yang bersemut” juga wajib dipersembahkan.

From Exegesis and Exposition, Vol. 3, #1 (fall, 1988), Tithes, Maaseroth, Shedalim, Demai, Maaser Sheni, by Dan Duncan.


Matius 24:3-14

Sumber

  • C. Swindoll, Questions Christians Ask, p. 84

Kita Tidak Perlu Tidak Siap

Majalah NATIONAL GEOGRAPHIC edisi Mei 1984 menunjukkan foto-foto berwarna lukisan-lukisan kerusakan yang mendadak dan mengerikan yang menyapu kota-kota Romawi Pompeii dan Herculaneum pada tahun 79 M. Ledakan Gunung Vesuvius demikian mendadak, para penduduk tewas ketika melakukan kegiatan rutin: pria dan wanita di pasar, orang-orang kaya di kamar mandi mewah, budak-budak yang sedang bekerja keras. Mereka mati di tengah-tengah abu vulkanik dan gas yang luar biasa panas. Bahkan hewan-hewan peliharaan menderita nasib yang sama. Memang membutuhkan sedikit imajinasi untuk menggambarkan kepanikan pada hari yang mengerikan tersebut. Bagian yang paling menyedihkan adalah bahwa orang-orang ini tidak seharusnya mati.

Para ilmuwan meneguhkan apa yang para penulis kuno Romawi catat – berminggu-munggu suara gemuruh dan getaran-getaran mendahului letusan yang sebenarnya. Bahkan asap yang menggumpal jelas terlihat dari gunung berhari-hari sebelum terjadi letusan. Jika saja mereka bisa membaca dan menanggapi peringatan gunung Vesuvius!

Ada “gemuruh –gemuruh” yang sama di dunia kita: perang, gempa bumi, ancaman nuklir, kesulitan-kesulitan ekonomi, perpecahan dalam keluarga dan standar-standar moral. Meskipun tidak benar-benar baru, hal-hal ini menunjukkan akan datangnya Hari Tuhan (Mat. 24). Orang tidak perlu didapati dalam keadaan tidak siap. Tuhan memperingatkan dan menyediakan jalan keluar bagi mereka yang memperhatikan tanda-tanda gemuruh.

Michael Bogart


Matius 24:42-25:13

Banyak Waktu…

25 Pebruari, 1985. Mama dan Papa bepergian ke California untuk seminar mengenai konseling. Kakak saya Don tinggal di rumah mereka sendirian. Orangtua tidak kembali sampai 27 Pebruari, jadi Don pikir ia punya banyak waktu untuk beres-beres rumah. Namun mereka kembali hari ini, tanggal 25. Pertama mereka singgah di rumah Ron dan Gail untuk memberi salam, kemudian ke rumah Ed dan Joanne, kemudian ke rumah kami. Berita sampai kepada Don dan ia menelpon. Carolyn menjawab dan ia mendengar suara yang menyedihkan berkata, “Katakan pada saya itu tidak benar!”

John Underhill, Spokane, WA


Matius 24:5

Ceramah Olivet

Tema utama dalam Injil menurut Matius adalah Raja dan Kerajaan-Nya. Kata “kerajaan” muncul tidak kurang daripada 50 kali, dan ungkapan “Kerajaan sorga” muncul 31 kali.Raja dari kerajaan itu adalah Tuhan Yesus Kristus; karena itu tema dari kitab Perjanjian Baru yang pertama paling penting.

Dalam injil Matius kita memiliki catatan percakapan tentang tiga kerajaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Mereka tampak dalam urutan berikut:

1. Prinsip Kerajaan (Matius 5-7). Ceramah pertama paling dikenal sebagai “Khotbah di Bukit.” Ini adalah pernyataan dimana Tuhan memberikan etika-etika kerajaan.

2. Perumpamaan-perumpamaan Kerajaan (Matius 13). Ceramah kedua berisi tujuh perumpamaan dimana Tuhan kita menyampaikan misteri-misteri kerajaan. Penekanannya adalah keberadaan kerajaan sekarang ini.

3. Nubuatan-nubuatan Kerajaan (Matius 24, 25). Dalam ceramah ketiga ini, Raja sendiri memprediksikan peristiwa-peristiwa yang akan datang yang mendahului manifestasi kerajaan-Nya di bumi. Ini adalah janji-Nya dari eskatologi (penggenapan) kerajaan-Nya.

Ceramah terakhir, dikenal sebagai Ceramah Olivet, adalah kunci kepada pengertian kita akan masa depan bangsa Israel secara khusus (Matius 24:1 sampai 25:30) dan bangsa-bangsa non-Yahudi secara umum (Matius 25:31-46). Semua peristiwa dicatat di sini, dan yang berhubungan dengan masa depan Israel, didesain untuk menyiapkan bangsa itu untuk menerima Yesus Kristus sebagai Mesias pada kedatangan-Nya yang kedua.

Dalam suatu pengertian yang sangat nyata, Matius adalah sebuah kitab Yahudi. Hanya Matius yang mencatat kunjungan tiga orang majus dari Timur ke Yerusalem, yang, ketika mereka tiba, bertanya,”Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” (Matius 2:2). Dalam Matius 1:1-17, silsilah Kristus ditelusuri kembali sampai raja Daud. Dengan menampilkan silsilah Krstus sebagai keturunan Raja, Matius menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjika dalam Perjanjian Lama.

Membingungkan untuk melihat bahwa beberapa pengajar Alkitab berjuang untuk menemukan beberapa petunjuk tentang pengangkatan gereja dalam Ceramah Olivet. Bagaimanapun, baik gereja ataupun pengangkatan tidak disebutkan dalam Matius 24 dan 25. Pengangkatan disebutkan pertama kali secara khusus dalam ceramah di ruang atas ketika Yesus menyebutkan, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yohanes 14:2,3). Kebalikan dari pernyataan ini, Ceramah Olivet berisi ajaran Tuhan kita pada periode waktu sesudah pengangkatan dan memimpin pada kedatangan-Nya kedua kali ke dunia untuk mendirikanKerajaan-Nya.

FromThe Olivet Discourse: The Key to the Future, by Dr. Lehman Strauss. Used by Permission


Matius 25:14-30

Sumber

  • C. Swindoll, Questions Christians Ask, p. 76


Matius 25:15-28

Menguburkan Talenta-talenta Seseorang

Sebagai seorang pendeta, seorang suami dan seorang ayah, saya takut menguburkan talenta-talenta orang lain, terutama yang dicurahkan kepada para wanita. Sesuai dengan itu, saya telah berusaha memeriksa pandangan-pandangan saya dengan teliti, menempatkan tradisi, arah teologi dan kekuatan prasangka-prasangka saya.

Berulang kali, saya sampai pada fakta ini: Jika Tuhan telah berikan karunia, lebih baik saya hati-hati dalam hal menolak kemerdekaan mereka untuk mempraktekkannya. Lebih dari itu, saya telah menjamin bahwa para wanita dalam hidup saya mendapat dorongan dari saya untuk menjadi apa yang telah Ia panggil dan karuniakan dia untuk menjadi. Bagian terbesar dari hidup saya harus dipakai sebagai pria yang memelihara, memberi makanan, memberi semangat dan mengembangkan karunia para wanita, karena mereka bukan hanya satu-satunya yang bertanggung jawab untuk penatalayanan mereka. Sebagai seorang pria di gereja yang berorientasi pada pria, suatu hari saya juga mungkin ditanya tentang karunia-karunia mereka. Saya ingin bisa mengatakan saya memikirkan lebih daripada menguburkan talenta-talenta mereka. Sebuah talenta adalah hal yang menakutkan untuk disia-siakan.

- Stuart Briscoe

Sumber tak diketahui


Matius 25:21

Charles Spurgeon

Charles Spurgeon berkhotbah ribuan kali di London setiap Hari Tuhan, meskipun ia memulai pelayanannya dengan menyebarkan traktat-traktat kami dan mengajar kelas Sekolah Minggu sebagai seorang remaja. Ketika ia mulai memberikan renungan pendek di Sekolah Minggu, Tuhan memberkati pelayanannya dalam Firman Tuhan. Ia diundang untuk berkhotbah di daerah-daerah luar kota, dan ia memakai setiap kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Ia setia dengan perkara-perkara kecil, dan Allah mempercayainya dengan perkara-perkara besar. “Saya benar-benar yakin,” katanya, “jika saya tidak mau berkhotbah pada kelompok-kelompok kecil orang di daerah-daerah pinggiran, saya tak pernah mendapat kesempatan istimewa untuk berkhotbah pada ribuan pria dan wanita di gedung-gedung besar di seluruh negeri. Ingatlah peraturan Tuhan kita, “barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Wycliffe Handbook of Preaching & Preachers, W. Wiersbe, p. 221


Matius 25:31-46

Melihat Kristus

Bayangkan kalau kita melihat Kristus dalam semua orang yang memiliki keperluan. Dan bayangkan bahwa kita melayani mereka yang membutuhkan dalam nama Kristus dan dengan kasih-Nya. Betapa bagusnya untuk mendengar kata-kata ini sebagaimana diungkapkan oleh seorang wanita Kristen yang baik:

Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan,

Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum,

Ketika Aku tak punya tempat tinggal, kamu membukakan pintu-pintumu,

Ketika Aku telanjang, kamu memberikan Aku mantelmu.

Ketika Aku lelah, kamu menolong Aku untuk beristirahat,

Ketika Aku kuatir, kamu menenangkan semua ketakutan-ketakutan-Ku,

Ketika Aku kecil, kamu mengajar Aku membaca.

Ketika Aku kesepian, kamu memberikan Aku hidupmu,

Ketika di dalam penjara, kamu datang ke sel-Ku,

Ketika Aku terbaring sakit di ranjang, kamu membawakan keperluan-keperluan-Ku,

Dalam suatu tempat yang asing, kamu membuat-Ku merasa nyaman,

Dalam mencari pekerjaan, kamu mencarikan pekerjaan untuk-Ku,

Ketika terluka dalam suatu pertempuran, kamu membalut luka-luka-Ku,

Ketika mencari pertolongan, kamu mengulurkan tanganmu

Ketika Aku hitam, atau coklat, kuning atau putih,

Diejek dan dihina, kamu membawa salib-Ku,

Ketika Aku tua, kamu bersusah-susah untuk tersenyum,

Ketika Aku tak bisa tidur, kamu mendengarkan dan peduli,

Engkau melihat Aku tertutup dengan ludah dan darah,

Engkau mengenal sosok-Ku, meskipun kotor dengan keringat,

Ketika Aku ditertawakan, engkau berdiri di sisi-Ku,

Ketika Aku bahagia, engkau turut dalam kesukaan-Ku.

Morning Glory, February 19, 1994


Matius 25:5

Sumber

  • A. T. Robertson, The Minister ..., p. 94


Matius 26:14-16

Tiga Puluh Keping Perak

Matius sendiri memberitahu kita bahwa uang yang dibayarkan kepada Yudas pada masa itu (RV “Mereka menghargainya tiga puluh keping perak” sesuai naskah yang lebih baik), dan ia sendiri memberitahu kita jumlah 30 keping perak itu. Plummer menunjuk bahwa 30 syikal perak nilainya kira-kira 120 dinar, dan Yudas hampir tak bisa mencuri lebih dari 300 dinar yang merupakan harga minyak narwastu murni (Markus 14:5).

Leon Morris, The Story of the Cross, Marshall, Morgan & Scott, p. 17


Matius 26:22-5

Sumber

  • A.T. Robertson, The Minister..., p. 76


Matius 26:25ff

Sebuah Perumpamaan

Ada sebuah perumpamaan yang diceritakan oleh Gene Bartlett dari Philosophical Clock. Jam khawatir dengan masa depannya. Ia memikirkan semua yang akan dijalaninya. Pekerjaannya adalah mendetikkan saat demi saat, dua kali setiap detik. Ini akan menjadi 120 kali setiap menit, yang akan menjadi 7,200 kali setiap jam. Dengan dua puluh empat jam sehari, jumlahnya 172,800 detikan per hari. Ini artinya lebih dari 63,000,000 kali setahun. Dan, pikir jam tersebut, jika saya terus bekerja sepuluh tahun saja, ini akan menjadi 630,000,000 detikan. Sampai di sini jam itu jatuh karena syarafnya lelah. Namun belakangan, ia pikir betapa bodohnya karena ia harus berdetik satu kali setiap waktu. Sesudah menyadarinya, jam ini tercatat tetap kuat setelah dua puluh lima tahun.

Mari kita peduli dengan satu hari saja setiap kali.

Resource, Sept./Oct., 1992, p. 1


Matius 26:26

Kebiasaan Doa Abad Pertama

Sesudah mengambil roti kita membaca bahwa Ia “mengucap berkat (bless it).” Kata “it” bagaimanapun tidak ada dalam bahasa Yunani, dan untuk memahami apa maksudnya kita harus mengingatkan diri kita sendiri akan kebiasaan-kebiasaan doa abad pertama. Sudah biasa untuk memulai doa dengan kata-kata “Diberkatilah Engkau, O Tuhan,” dan untuk contoh salah satu bentuk doa Yahudi yang paling kuno yang kita kenal adalah yang disebut 18 Ucapan Syukur yang dimulai dengan “Diberkatilah Engkau, O Tuhan.” Bentuk ucapan syukur sebelum makan sebagaimana dinyatakan dalam Mishnah, berbunyi “Diberkatilah Tuhan, yang mengeluarkan makanan dari bumi” (Ber. 6:1, Terjemahan Danby).

Ketika kemudian dikatakan Yesus “mengucap berkat” idenya adalah bahwa ia mengucap syukur kepada Allah dalam suatu doa yang dimulai dalam gaya yang biasa.

Leon Morris, The Story of the Cross, Marshall, Morgan & Scott, p. 27


Matius 26:28

Olesan Darah

Perjanjian tidak sering mengacu ke dalam Perjanjian Lama., dan kita ditarik kembali pada narasi Kel. 24, pasal yang memberitahu bahwa bangsa dengan sungguh-sungguh memasuki hubungan perjanjian dengan Allah. Di sana kita membaca bahwa “Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: ‘Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini’” (ay.8). Hanya ada dua tempat lain dalam P.L. dimana manusia diperciki darah, yaitu dalam pentahbisan Harun dan putra-putranya menjadi imam (Im.8), dan dalam pentahiran orang kusta yang telah sembuh (Im.14). Dalam peristiwa-peristiwa ini percikan darah tampaknya menandai dua hal: dibersihkan dari kotoran-kotoran sebelumnya dan pentabisan pada suatu jabatan baru dimana Allah mungkin dilayani lebih lagi. Kita mungkin merasa bahwa ini adalah ide-ide yang berhubungan dengan “darah perjanjian” dari Kel. 24. Orang-orang dibersihkan dari kotoran-kotoran dan dosa-dosa mereka sebelumnya, dan dipisahkan untuk suatu tujuan yang mulia – mereka menjadi umat Allah.

Leon Morris, The Story of the Cross, Marshall, Morgan & Scott, p. 31


Matius 26:29

Sumber

  • Evangelical Preaching, Charles Simeon, p. 169


Matius 26:36-50

Sumber-sumber

  • Christ At The Crossroads, C. Swindoll, 1991, p. 98
  • Issues and Answers in Jesus’ Day, C. Swindoll, p. 139


Matius 26:6-13

Pemberian Maria

Ada beberapa ungkapan yang menunjukkan bahwa pemberian Maria sangat mahal. Pertama dikatakan bahwa kemasannya sebuah “buli-buli pualam” Terjemahan dari kata Yunani menunjukkan, menurut Liddlell dan Scott, sebuah “vas bulat tanpa pegangan untuk memegang parfum, sering dibuat dari pualam.” Tempat semcam itu sendiri mahal apakah dibuat dari pualam atau tidak, dan karena itu hanya digunakan untuk menyimpan parfum yang mahal. Terbukti parfum itu disegel, karena Markus memberitahu kita bahwa ia memecahkan buli-buli itu untuk menuangkan isinya ke kepala Yesus. Pemberian itu mahal, namun diberikan tanpa dihemat-hemat. Vas yang pecah adalah simbol banyak hal: pemberian dengan sepenuh hati dan tak bisa ditarik lagi, dan fakta bahwa penderitaan bahkan sampai menjadi pecah, kadang-kadang merupakan cara dimana aroma yang paling murni dilepaskan dalam hidup ini.

Leon Morris, The Story of the Cross, Marshall, Morgan & Scott, p. 12

Mengambil Kesempatan-kesempatan

Yesus terus mengatakan bahwa orang miskin selalu ada untuk dilayani, yang seharusnya tidak dipahami sebagai memandang remeh kewajiban memberikan sumbangan, seperti ketika seseorang mengatakan, “Orang miskin akan masih ada di sini besok” dan mengabaikan kewajiban memberi.

Yesus sederhana dan positif pada banyak kesempatan bahwa kewajiban untuk melayani orang miskin bukanlah sesuatu untuk diabaikan. Namun di sini Ia sedang menunjukkan bahwa seharusnya kita tidak mengizinkan kewajiban-kewajiban yang selalu ada pada kita, dan yang bisa dilakukan kapan saja, untuk menghalangi kesempatan kita untuk sedikit melayani secara khusus yang tidak selalu dimungkinkan.

Pada kesempatan ini Maria bisa menunjukkan perbuatannya yang indah, tapi tak mungkin baginya melakukan itu bahkan sedikit waktu kemudian.

Leon Morris, The Story of the Cross, Marshall, Morgan & Scott, p. 15


Matius 27:11-22

Sumber

  • Issues and Answers in Jesus’ Day, C. Swindoll, p. 9


Matius 27:22

Kesalahan Terbesar

D.L. Moody menyebutnya kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ini terjadi pada 9 Oktober, 1871, sementara menyampaikan khotbah berseri di Farwell Hall, Chicago. Teksnya adalah “Apa yang akan saya lakukan dengan Yesus yang disebut Kristus.” Pada kesimpulan khotbah Moody mengatakan ia akan memberikan waktu satu minggu agar orang-orang mengubah pikiran mereka tentang Yesus. Kemudian ia berpaling kepada Ira Sankey untuk menyanyi solo, dan Sankey menyanyikan lagu “Hari ini Juruselamat Memanggil.” Namun sampai bait ketiga suara Sankey tenggelam oleh bunyi berisik di luar aula. Terjadi kebakaran besar di Chicago, dan nyala api bahkan menuju aula. Dering sirene kebakaran dan kegaduhan suara mesin-mesin membuat pertemuan tak mungkin diteruskan. Dalam tahun-tahun selanjutnya, Moody ingin bahwa ia memanggil agar orang-orang segera mengambil keputusan untuk Kristus.

The Wycliffe Handbook of Preaching & Preachers, W. Wiersbe, p. 198


Matius 27:9

Sumber

  • Fairest of All, Herbert Lockyer, Eerdmans, 1936, pp. 125ff


Matius 28:1-8

Sumber

  • Issues and Answers in Jesus’ Day, C. Swindoll, p. 139


Matius 28:16-20

Sumber-sumber

  • Christ At The Crossroads, C. Swindoll, 1991, p. 143
  • Evangelism, A Biblical Approach, M. Cocoris, Moody, 1984, pp. 21ff


Matius 28:19-20

Sumber-sumber

  • Our Savior God, J.M. Boice, p. 90
  • Christ’s Call To Discipleship, J.M. Boice, Moody, 1986, pp. 159ff

David Livingstone

Saya diingatkan akan adegan, banyak tahun yang lalu, dimana David Livingstone, kembali dari Afrika, diberikan gelar Doktor dalam bidang Hukum oleh Universitas Glasgow. Dalam menanggapi kehormatan yang dianugerahkan kepadanya, Livingstone, berkulit coklat karena panas matahari khatulistiwa, dan kurus kering karena menderita penyakit demam, mengumumkan maksudnya untuk kembali ke Afrika yang dikasihinya: “Saya kembali dengan perasaan waswas dan dengan sangat senang. Karena izinkanlah saya memberitahu Anda apa yang menunjang saya melalui tahun-tahun pembuangan di antara orang-orang yang bahasanya saya tidak dapat mengerti, dan yang sikapnya terhadap saya selalu tidak pasti dan sering bermusuhan? Ini dia: ‘ Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman!’ Berdasarkan kata-kata ini saya mempertaruhkan segala sesuatu dan itu tak pernah gagal!”

Paul Rees, Forward to Defeat of the Bird God, Zondervan, 1967

Pidato Perpisahan Washington

Pada tahun 1983 tradisi yang sudah berlangsung selama limapuluh tahun diam-diam dihilangkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Amerika. Tradisi itu adalah pembacaan pidato perpisahan George Washington setiap tahun pada peringatan ulang tahunnya. Para pemimpin Demokrat dan Republik memutuskan bahwa tak ada gunanya terus membaca pidato perpisahan yang panjang itu kepada sebuah dewan yang hampir kosong. “Ini terlalu buruk,” kata ajudan Partai Republik, “tapi ini adalah waktu untuk membuangnya ke kotak berdebu.”

Koran “The Calgary Herald” menyatakan: “Tahun-tahun yang lampau, hampir-hampir merupakan tugas suci untuk membacakan pidato tersebut. Melalui perang dan badai selama setengah abad, anggota dari tiap dewan telah dipilih untuk membacakan pidato tersebut.” Judul utama koran tersebut, “Tak seorang pun mendengarkan pidato perpisahan Washington.”

Kita takut sesuatu yang sama dengan ini terjadi di gereja Kristen. Semakin lama semakin sedikit orang percaya yang mendengarkan pesan perpisahan Kristus. Kepada murid-murid-Nya Kristus memberikan instruksi-instruksi yang jelas – pergilah memberitakan Injil ke seluruh dunia dan jadikan mereka murid-Nya.

Glenn Hermann, Source unknown

Husdon Taylor

Ketika Hudson Taylor menjadi direktur China Inland Mission, ia sering mewawancarai calon-calon untuk misi di lapangan. Pada satu kesempatan, ia berjumpa dengan sekelompok pelamar untuk menentukan motivasi-motivasi mereka dalam melayani. “Dan mengapa Anda mau pergi sebagai misionari asing?” ia bertanya kepada seseorang. “Saya mau pergi karena Kristus telah memerintahkan kita untuk pergi ke seluruh dunia dan mengabarkan Injil kepada setiap makhluk,” adalah jawabannya. Lainnya berkata, “Saya mau pergi karena jutaan orang sedang binasa tanpa Kristus.”

Yang lain-lain memberikan jawaban-jawaban yang berbeda. Kemudian Hudson Taylor berkata, “Semua motif-motif ini, betapa baiknya, akan gagal ketika Anda mengalami waktu-waktu ujian, kesulitan-kesulitan, kesengsaraan-kesengsaraan, dan kemungkinan mati. Hanya ada satu motif yang akan menopang Anda dalam kesulitan dan pencobaan; yaitu, kasih Kristus.”

Seorang misionari di Afrika pernah ditanya apakah ia benar-benar menyukai apa yang ia sedang lakukan. Jawabannya mengejutkan. “Apakah saya menyukai pekerjaan ini?” ia berkata. “Tidak. Istri saya dan saya tidak suka yang kotor-kotor. Kami mempunyai perasaan-perasaan halus yang masuk akal. Kami tidak suka merangkak ke dalam gubuk-gubuk yang kotor melalui kambing dan sampah. Tapi apakah seorang manusia tidak melakukan apa-apa untuk Kristus karena merasa tidak suka? Allah menyayangkannya, jika tidak. Suka atau tidak suka tidak ada urusan. Kita mendapat perintah untuk ‘Pergi,’ dan kita pergi. Kasih memaksa kita.”

Our Daily Bread

Duduk di Gudang Alat-alat

Paul W. Powell, dalam The Complete Disciple, menguraikan kondisi ini: “Banyak gereja sekarang ini mengingatkan saya akan regu pekerja yang bertugas mengumpulkan tuaian sementara mereka duduk di gudang alat-alat. Mereka pergi ke gudang alat-alat setiap Minggu dan mereka mempelajari metode-metode pertanian yang lebih baik dan lebih canggih, menajamkan cangkul mereka, meminyaki traktor-traktor mereka, dan pulang ke rumah lagi.

Mereka kembali Rabu malam, dan belajar metode bertani lagi yang lebih baik dan lebih canggih, menajamkan cangkul-cangkul mereka, meminyaki traktor-traktor mereka, dan pulang ke rumah. Mereka melakukan ini minggu lepas minggu, tahun lepas tahun, dan tak seorang pun pergi ke ladang untuk mengumpulkan tuaian.

Our Daily Bread

Pendidikan

Pendidikan adalah suatu hal yang mengagumkan, namun baik diingat dari waktu ke waktu bahwa berharga untuk mengetahui bahwa dapat diajar - Oscar Wilde

Our Savior God, J.M. Boice, p. 90

Hal-hal yang Anda Tak Dapat Ajarkan

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa ada tiga hal yang Anda tidak bisa ajarkan kepada orang-orang: gaya hidup, moral-moral, dan sikap-sikap.

Pelajar Tuli

Sebagai professor fisiologi vocal di Universitas Boston, Alexander Graham Bell mempunyai banyak siswa yang tuli. Salah seorang di antara mereka adalah seorang wanita muda bernama Mabel Hubbard, yang belakangan menjadi istrinya. Keluarga Bell hidup berbahagia selama 45 tahun. Dalam tahun 1922, ketika Bell terbaring sekarat sesudah lama menderita penyakit, Mabel berbisik kepadanya, “Jangan tinggalkan aku.”

Tidak mampu berbicara, Bell memberikan tanda dengan jari-jarinya yang berarti tidak. Dengan pesan terakhir tanpa suara, penemu telpon meninggalkan istrinya yang tercinta untuk selama-lamanya.

Today in the Word, April 28, 1992

Studi Riset Barna

Walaupun usaha-usaha para penginjil, pelayanan-pelayanan gereja dan gereja-gereja local, persentase orang-orang dewasa Amerika yang dilahirkan kembali tidak berbeda sekarang daripada tahun 1982, menurut suatu studi oleh Grup Riset Barna. Studi tersebut menemukan bahwa 34% dari semua orang Amerika dapat disebutkan sebagai lahir baru – yaitu, mereka telah membuat suatu komitmen pribadi kepada Yesus Kristus, dan mengatakan mereka akan pergi ke surga karena mereka telah mengakui dosa-dosa mereka dan menerima Kristus sebagai juruselamat mereka. Di antara mereka yang disurvai, 62% mengatakan bahwa mereka telah membuat suatu komitmen pribadi kepada Yesus Kristus yang masih penting untuk hidup mereka sekarang ini. Bagaimanapun, di antara mereka yang telah membuat suatu komitmen kepada Kristus, hanya 55 persen percaya mereka akan pergi ke surga karena menerima Kristus sebagai juruselamat pribadi mereka (kepercayaan dasar dalam gerakan “lahir baru”). Kebanyakan mereka yang disurvai mengatakan mereka akan masuk surga karena menjalankan suatu kehidupan yang baik, atau taat pada Sepuluh Hukum, atau karena semua orang akan masuk surga. Lainnya yang mengatakan mereka telah membuat suatu komitmen kepada Kristus mengatakan mereka tidak pasti tentang apa yang akan terjadi kepada mereka sesudah mereka mati.

Reported in Inland Northwest Christian News, March, 1990, p. 3


Matius 3:1-17

Sumber

  • John The Baptizer, Bible Study Guide by C. Swindoll, p. 29


Matius 4:1-11

Konsentrasi pada Tugas yang Dihadapi

Di suatu tempat dalam sejarah organisasi olahraga, seorang staf pelatih mencoba suatu teori baru. Pelatih-pelatih ini beralasan bahwa membawa tim mereka malam sebelum suatu pertandingan besar dan mengkarantina atlet-atlet dalam sebuah hotel memberikan keuntungan yang kompetitif. Mereka merasa dengan memisahkan akan menghindarkan para atlet dari gangguan-gangguan kehidupan setiap hari dan membuat tim lebih fokus pada permainan yang akan dilakukan. Selama puluhan tahun, ini sudah menjadi praktek biasa dalam tim universitas maupun professional.

Yesus tahu nilai dari konsentrasi pada tugas yang dihadapi, dan Ia menyiapkan untuk pertandingannya dengan Iblis seperti tak seorang pun pernah menyiapkannya sebelum atau sejak itu. Empat puluh hari sendirian di padang gurun tidak hanya menyingkirkan Yesus dari setiap kontak dengan manusia atau selama waktu itu. Empat puluh hari sendirian di padang gurun tidak hanya menyingkirkan Yesus dari setiap kontak dengan manusia yang akan menuntut perhatian-Nya; dengan berpuasa, Yesus bahkan mengatakan “tidak” pada kebutuhan normal manusia untuk menyiapkan diri-Nya sendiri untuk pencobaan-pencobaan Iblis yang sudah terbayang.

Pencobaan Tuhan kita memberikan kita sekilas peperangan rohani yang jika tidak kita tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut. Alkitab mengatakan bahwa Yesus telah dicobai sama seperti kita (Ibr. 4:15), namun kita tidak pernah mengalami tingkat pencobaan yang Yesus hadapi.

Today in the Word, November 3, 1997


Matius 5-7

Khotbah di Bukit

  • Christian Personal Ethics, C.F.H. Henry, Eerdmans, 1957, pp. 278ff.


Matius 5:1-12

Sumber-sumber

  • Zane Hodges, The Hungry Inherit, p. 109.
  • Someone Who Beckons, p. 54.
  • Charles Swindoll, Improving Your Serve.


Matius 5:13

Mahatma Gandhi

Ketika Mahatma Gandhi menjadi seorang pemimpin rohani di India, ia ditanya oleh beberapa misionaris, “Apa hambatan terbesar bagi Kekristenan di India?” Jawabannya adalah, “Orang-orang Kristen.”

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam ini menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Sumber Tak Diketahui

Garam

1. Garam menambah rasa dan keharuman. Jika itu tak berarti apa-apa bagi saya, maksudnya adalah kehidupan Kristen seharusnya tidak membosankan, dan orang-orang Kristen seharusnya tidak menjadi orang-orang yang membosankan.

2. Garam bertindak sebagai pengawet.

3. Garam digunakan oleh tentara-tentara yang menang untuk menghukum orang-orang yang kalah. Tentara-tentara akan menginjak-injak garam sehingga masuk ke dalam tanah, sehingga bertahun-tahun tidak bisa ditanami. Yesus mengatakan bahwa jika garam itu tawar dan tidak bisa digunakan secara positif, ini akan digunakan secara negatif untuk menghukum dunia. Dalam prosesnya, garam sendiri akan diinjak-injak dibawah kaki.

Tabletalk, April, 1990, p. 31


Matius 5:14

Gerhana Matahari

Pada suatu pagi musim dingin yang sangat dingin dalam tahun 1979, saya menyaksikan suatu peristiwa yang luar biasa. Selama beberapa minggu suratkabar telah mengumumkan bahwa Portland, Oregon, akan dilalui gerhana matahari. Ilmuwan-ilmuwan menjelaskan bahwa bulan akan melewati bumi dan matahari, bayangan bulan yang gelap akan menutupi Portland selama kira-kira tiga menit. Pada 26 Pebruari, hari terjadinya gerhana matahari tersebut, saya pergi ke kantor saya seperti biasa. Namun sebelum terjadi gerhana matahari saya pergi ke serambi bangunan administrasi seminari; di puncak sebuah bukit saya melihat pemandangan kota yang mengagumkan yang menurun sampai ke kawasan bisnis. Tiba-tiba, sebagaimana diharapkan, langit mulai gelap, meskipun jauh lebih cepat daripada waktu matahari terbenam. Dalam beberapa menit berikutnya, kota Portland menjadi gelap seperti di waktu malam. Sama seperti kegelapan yang terjadi tiba-tiba, sesuatu yang lain terjadi – sesuatu yang tidak saya antisipasi. Ribuan lampu-lampu jalan sekeliling kota mulai berkelip-kelip menghalau gelapnya gerhana. Meskipun langit gelap seperti malam biasa, di mana-mana saya melihat lampu-lampu bersinar.

J. K. Laney, Kindred Spirit, Spring, 1990, p. 8


Matius 5:16

Bukan Suatu Cahaya yang Menyilaukan, Namun Sebuah Cahaya

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya “(Mat. 5:16). Ini bukanlah suatu cahaya yang menyilaukan namun suatu cahaya; dan kita hanya membiarkan cahaya itu bersinar. Tuhan lebih suka bintang-bintang daripada komet-komet. Bentuknya adalah sebuah lilin, bukan sebuah petasan.”

Vance Havner, Leadership, IV, 4, 1986

Hari-hari Reformasi

Pada permulaan Reformasi, Martin dari Basle, Swiss, mengenal kebenaran. Ia menerima Yesus sebagai Juruselamat-Nya. Takut diketahui oleh teman-teman bahwa ia tidak lagi percaya pada banyak hal salah yang diajarkan gerejanya sebelumnya, ia menulis kata-kata ini pada sebuah kertas perkamen. “Oh, Kristus, yang murah hati, saya tahu bahwa saya dapat diselamatkan karena jasa darah-Mu. Yesus yang Kudus, saya mengasihi-Mu.” Dengan mengangkat sebuah batu dari tembok kamarnya, ia menyembunyikan di balik batu itu kata-kata yang indah ini. Perkamen ini ditemukan lebih daripada seratus tahun kemudian.

Kira-kira pada waktu yang sama, Martin Luther dari Wittenberg, Jerman, juga menemukan kebenaran dalam Kristus. Dengan berani ia mengakui, “Tuhan saya telah mengakui saya di hadapan manusia: Saya tidak akan segan-segan untuk mengakui Tuhan saya di hadapan pangeran-pangeran dan raja-raja!” Kita semua tahu apa yang terjadi selanjutnya. Setiap orang sudah mendengar apa yang Martin Luther capai dengan pengakuannya terhadap Kristus di muka umum. Sebaliknya, tak seorang pun mengenal Martin dari Basle.

Jika hidupmu berbuah, kita tak dapat menyembunyikannya di balik sebuah batu di tembok kasih kita untuk Yesus (Rm. 10:9,10)

The Christian Herald, Leadership, IV, 4, 1986


Matius 5:24

Tuhan Menghargai Karunia-karunia Kita

Tuhan mencari dan menghargai karunia-karunia yang kita bawa kepada-Nya – karunia memuji, bersyukur, melayani, dan persembahan-persembahan materi. Dalam semua pemberian semacam itu di mezbah kita masuk ke dalam pengalaman tertinggi dari persekutuan. Namun karunia dapat diterima Allah sesudai ukuran siapa yang mempersembahkannya dalam persekutuan dengan Dia dalam karakter dan perilaku; dan ujian mengenai ini adalah hubungan kita dengan sesama. Karena itu kita dituntut untuk menunda mempersembahkan kepada Allah sampai hubungan yang benar terjadi dengan orang-orang lain. Dapatkah pengabaian hal ini menjadi penjelasan akan gersangnya ibadah kita?

G. C. Morgan


Matius 5:3 – 7:29

Sumber

  • Inductive Preaching, Lewis, p. 70.


Matius 5:38-42

Menanggapi Suatu Tamparan

Latar belakang kutipan ini (Kel. 21:24, Im. 24:20, Ul. 19:21) adalah umum, hukum di pengadilan. Orang-orang Farisi mencoba menerapkan ini secara pribadi. Bagaimana bisa tangan kanan seseorang menampar pipi kanan orang lain? Menampar, memberi kesan menghina dan menantang. Kristus mengatakan jangan menanggapi ini dengan kemarahan, lebih baik menerima.

Sumber Tak Diketahui


Matius 5:39

Sumber

  • The Satan Syndrome, Nigel Wright, Zondervan, 1990, p. 183


Matius 5:43-48

Sandera Tentara-tentara Gerilya

Pada bulan Agustus 1983, Russell Stendal disandera di hutan Columbia, Amerika Selatan, oleh sekelompok tentara-tentara gerilya. Hampir 5 bulan ia belajar apa arti sebenarnya mengasihi musuh-musuh seseorang. Ia menulis sepucuk surat ke rumah, mengatakan, “Saya ada dalam bahaya kehilangan nyawa saya; mereka ada dalam bahaya kehilangan jiwa mereka.” Melalui kebaikan, Russell berteman dengan penjaga-penjaganya. Suatu hari komandan memberitahunya, “Kami tak bisa membunuhmu berhadapan muka, kami menyukaimu. Jadi kami akan membunuhmu waktu kamu tidur.” Tuhan memampukan Russell untuk mengampuni, namun 10 hari dan 10 malam berikutnya ia tidak bisa tidur. Sebuah senapan mitralyur ringan ditujukan ke mukanya di balik kelambu, namun para penjaga tak dapat menarik pelatuk mereka. Pada 3 Januari, 1984 Russell dibebaskan. Ketika ia mengucapkan selamat tinggal, air mata menggenangi mata beberapa penangkapnya.

Our Daily Bread


Matius 5:44

Ruby Bridges

Dalam majalah Christianity Today, psikiater Robert Coles menceritakan sebuah cerita yang mengagumkan tentang seorang anak perempuan yang belajar berdoa bagi mereka yang memusuhinya. Coles berada di New Orleans dalam tahun 1960 ketika seorang hakim wilayah memutuskan bahwa sekolah-sekolah harus dicampur. Ruby Bridges, anak perempuan usia 6 tahun, adalah satu-satunya anak berkulit hitam yang sekolah di Sekolah William T.Frantz. Setiap hari selama berminggu-minggu ketika ia masuk dan meninggalkan gedung tersebut, sekelompok orang akan berdiri di luar berteriak dan mengancamnya. Mereka mengepalkan tinju, meneriakkan kata-kata jorok, dan mengancam untuk membunuhnya. Suatu hari gurunya melihat bibirnya bergerak-gerak ketika ia berjalan melalui kerumunan tersebut, diapit oleh polisi-polisi wilayah yang tegap. Ketika guru itu memberitahu Coles tentang itu, ia bertanya apakah Ruby sedang berbicara kepada orang-orang itu. “Saya tidak bicara kepada mereka,” ia menjawab. “Saya sedang berdoa untuk mereka.”

Coles bertanya kepadanya, “Mengapa kamu melakukannya?”

“Karena mereka perlu didoakan,” begitu jawabannya.

Our Daily Bread

Doa yang Efektif

Pejabat-pejabat lokal di Etiopia selatan secara tak resmi menyita uang, kayu, dan besi gelombang untuk atap yang dikumpulkan jemaat untuk sebuah gedung gereja baru. Namun para penatua memutuskan untuk berdoa dan tidak mengajukannya ke pengadilan menurut SIM International. Tak lama kemudian, terjadi wabah penyakit disentri di wilayah tersebut. Para pejabat, menyimpulkan mereka yang menjadi sasaran kuasa ilahi, menemui para penatua, minta ampun, mengembalikan semua barang yang disita, dan minta kepada gereja untuk berdoa agar Tuhan menghentikan wabah tersebut. Doa untuk para pemimpin lokal sekarang telah menjadi agenda mingguan bagi jemaat tersebut.

Christianity Today, October 8, 1982

Apa yang Melampaui Kasih

Dalam hubungan kita dengan orang-orang lain, sering apa yang melampaui kasih sedikit lebih daripada transaksi bisnis murni. Orang-orang baik kepada kita, jadi kita membalas mereka dengan perhatian yang setara. Ketika mereka memperlakukan kita tidak adil, respon negatif kita sebenarnya apa yang mereka minta. Segala sesuatu begitu seimbang, begitu adil, begitu logis seperti pola keadilan mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Namun kasih Kristiani tak pernah dilakukan hanya berdasarkan apa yang masuk akal. Ini menuntut pemberian belas kasihan seperti juga keadilan. Ini mematahkan rantai reaksi-reaksi logis.

Jendral Robert E. Lee ditanya apa yang ia pikirkan tentang petugas di Angkatan Darat sekutu yang menghinanya. Lee menilainya sangat memuaskan. Orang yang mengajukan pertanyaan itu tampaknya bingung.

“Jenderal, “ ia berkata, “Saya pikir Anda tidak tahu apa yang ia telah katakana tentang Anda.” “Saya tahu,” jawab Lee. “Tapi saya diminta pendapat saya tentang dia, bukan pendapatnya tentang saya!”

Our Daily Bread

Doa Seorang Jendral

Jendral Robert E.Lee sedang berkendaraan melalui medan pertempuran ketika seorang serdadu Sekutu yang terluka, berbaring di dekatnya, mulai mengutuk dan mencaci maki pemimpin Sekutu. Dengan sengaja, Lee turun, berjalan mendekati orang asing itu, dan berlutut di sisinya. Pria itu menghentikan semburan kata-katanya, dan Lee berkata, “Nak, saya sangat menyesal kamu terluka. Saya berdoa agar kamu segera sembuh.”

From Moody Bible Institute’s Today In The Word, June, 1988, p. 43

Pengampunan

Dalam musim gugur 1987 sebuah pesawat jet tempur Irak menyerang kapal USS Stark dan membunuh 37 pelaut Amerika. Peristiwa itu diberitakan di seluruh dunia, namun hampir luput dari perhatian adalah respon seorang janda dari salah seorang pria yang tewas tersebut. Ia mengirimkan sepucuk surat kepada pilot Irak, mengampuni perbuatannya. Ia juga memberikan sebuah Perjanjian Baru bahasa Arab dengan kata-kata yang digarisbawahi, “Bapa, ampuni mereka”.

From Moody Bible Institute’s Today In The Word, June, 1988, p. 6

Perumpamaan dari Berita Berkala Eye of the Needle

Mary Marty menceritakan sebuah perumpamaan dari Berita Berkala Eye of The Needle:

“Seorang pria suci sedang bermeditasi di bawah sebuah pohon yang akar-akarnya menjulur ke tepi sungai. Selagi bermeditasi ia memperhatikan air sungai naik, dan seekor kalajengking terperangkap di antara akar-akar dan hampir tenggelam. Ia merangkak ke atas akar dan menjangkau untuk membebaskan kalajengking itu, namun setiap kali ia melakukannya, kalajengking itu menyerangnya kembali.

“Seorang pengamat mendekatinya dan berkata kepada orang suci itu, ‘Tidakkah kamu tahu bahwa itu seekor kalajengking, dan pada dasarnya sifat kalajengking suka menyengat?’

“Orang suci itu menjawab, ‘Mungkin begitu, tapi pada dasarnya sifat saya adalah mau menyelamatkan, dan apakah saya harus mengubah sifat saya karena kalajengking tidak mengubah sikapnya?”

Joseph B. Modica


Matius 5:5

Kekuatan yang Gemetar

Menurut kolumnis suratkabar Bill Farmer, J.Upton Dickson adalah seorang yang gembira dan penuh kasih yang mengatakan bahwa ia sedang menulis sebuah buku berjudul Cower Power (Kekuatan yang Gemetar). Ia juga mendirikan perkumpulan orang-orang yang tunduk. Ini dinamakan KESET. Kelompok itu berpihak pada “Organisasi yang Tergantung pada Jiwa-jiwa yang benar-benar Lemah lembut dan Penakut – jika tak ada keberatan.” Motto mereka adalah: “Yang lemah lembut akan memiliki bumi – jika setiap orang setuju.” Lambang mereka adalah lampu lalu lintas kuning.

Our Daily Bread


Matius 5:6

Masalah Air

Mendekati Barsyeba, suatu pasukan sekutu Inggris, Australia dan Selandia Baru sedang terus maju di belakang pasukan Turki yang mundur ke gurun yang gersang. Penyerbuan ini menyebabkan air yang dibawa kereta unta tertinggal jauh. Botol-botol air kosong. Matahari bersinar tanpa ampun di langit dimana burung-burung hering terbang berputar. “Kepala-kepala kami sakit,” tulis Gilbert, “dan mata-mata kami menjadi merah dan suram dalam sinar yang membutakan. Lidah-lidah kami mulai bengkak. Bibir-bibir kami menjadi ungu kehitaman dan terbakar.”

Mereka yang tertinggal dari rombongan tak kelihatan lagi, namun pasukan yang putus ada berjuang terus menuju Siria. Ada sumur-sumur di Siria, dan jika sampai nanti malam mereka tidak bisa tiba di tempat itu, ribuan orang akan mati kehausan. “Kami berjuang hari itu, “ tulis Gilbert, “seperti orang yang berjuang demi nyawanya. Kami memasuki stasiun Siria dekat tentara Turki yang sedang mundur. Obyek pertama yang kami lihat adalah waduk batu besar penuh dengan air yang sejuk dan jernih. Dalam kesunyian malam bunyi air mengalir ke dalam tangki-tangki terdengar nyata, semakin kuat karena dekat; meskipun demikian tak seorang pun berbisik ketika perintah diberikan kepada batalyon-batalyon untuk masuk, menghadapi waduk. Kemudian ia menguraikan prioritas dengan tegas: yang luka, yang bertugas menjaga, kemudian rombongan demi rombongan. Perlu waktu empat jam sebelum orang terakhir minum air, dan selama itu mereka berdiri dua puluh kaki dari sebuah tembok batu rendah dari sisi lain yang merupakan ribuan galon air.

From an account of the British liberation of Palestine by Major V. Gilbert in The Last Crusade, quoted in Christ’s Call To Discipleship, J. M. Boice, Moody, 1986, p. 143.

Cara Terbaik untuk Memperoleh Pengetahuan

Seorang pengikut Socrates yang saleh menanyakan padanya cara terbaik untuk memperoleh pengetahuan. Socrates menanggapi dengan membawanya ke sebuah sungai dan membenamkannya ke bawah permukaan air. Pria itu berjuang untuk membebaskan dirinya, namun Socrates terus menekan kepalanya. Akhirnya, sesudah mati-matian berusaha, orang itu bisa melepaskan diri dan muncul dari air. Kemudian Socrates bertanya, “Ketika Anda pikir Anda akan tenggelam, apa satu-satunya hal yang paling Anda inginkan?” Masih megap-megap, pria itu menjawab, “Saya ingin udara!”
Filsuf itu menjawab dengan bijaksana, “Bila Anda inginkan pengetahuan sebanyak Anda ingin akan udara, maka Anda akan mendapatnya!” Hal yang sama juga berlaku dengan keinginan kita akan kebenaran.

Our Daily Bread


Matius 5:9

Sumber

  • Tell It To The Church, p. 85


Matius 6

Mosaik yang Belum Selesai

Ketika bepergian ke Italia, seorang pria mengunjungi sebuah katedral yang hanya bagian luarnya selesai. Di dalamnya, turis tersebut mendapatkan seorang artis berlutut di hadapan sebuah tembok yang sangat besar dimana ia baru saja mulai menyusun sebuah mosaik. Pada beberapa meja di dekatnya ada ribuan keping keramik berwarna. Ingin tahu, pengunjung tersebut bertanya kepada si artis bagaimana ia bisa menyelesaikan sebuah proyek yang besar tersebut. Artis menjawab bahwa ia tahu berapa banyak yang bisa diselesaikan dalam satu hari. Setiap pagi, ia memberi tanda suatu bidang untuk diselesaikan pada hari tersebut dan tidak menguatirkan apa yang belum selesai di luar bidang tersebut. Ini adalah yang terbaik yang bisa ia lakukan; dan jika ia dengan setia berusaha sebaik-baiknya, suatu hari mosaik itu akan selesai.

Today in the Word, September 5, 1995, p. 32

Uang atau Moralitas

Salah satu dari empat finalis dalam suatu debat filsafat mengenai uang vs. moralitas tidak bisa menghadiri babak kejuaraan. Ia ada di dalam penjara. Philip Torsrud ada di antara 700 perserta dalam Great American Think-Off, suatu kontes filsafat di New York Mills, Minnesota.

Tahun itu kontes mengajukan pertanyaan: “Apa yang lebih dihargai masyarakat uang atau moralitas?”

Torsrud menulis: “Saya tidak bisa mengambil moral dari Anda, tetapi saya bisa mengambil uang Anda. Ini sebabnya Anda menjaganya dan lebih menghargainya.

Today in the Word, November 21, 1995, p. 28


Matius 6:1

Kotak-kotak Kebaikan

Cerita ini mengisahkan tentang dua saudara laki-laki yang memiliki sebuah pertanian dan membagi hasilnya. Salah seorang mempunyai keluarga besar, sementara yang lainnya belum menikah. Suatu malam petani yang lajang, tahu kalau abangnya berjuang untuk membiayai keluarga, membelikan sebuah dus berisi barang-barang untuk keluarga tersebut dan menaruhnya di depan rumah mereka, dengan maksud meninggalkan di situ diam-diam. Pada malam yang sama, petani yang sudah menikah, tahu bahwa saudaranya tidak memiliki sukacita sebuah keluarga, menaruh di depan rumahnya sebuah kotak berisi kue-kue buatan rumah dan meninggalkannya secara diam-diam. Kedua saudara berjumpa ketika pergi untuk suatu keperluan dan berpelukan sambil menangis.

Today in the Word, January 15, 1997, p. 22


Matius 6:1-5

Sumber

  • Christ At The Crossroads, C. Swindoll, 1991, p. 116


Matius 6:11

Yesus Mengasihi Saya

Profesor sosiologi Anthony Campolo mengingat suatu peristiwa yang sangat menyentuh hati yang terjadi dalam sebuah retret remaja Kristen. Salah seorang peserta, seorang anak laki-laki yang lumpuh, menjadi sasaran bulan-bulanan. Bila ia bertanya, anak-anak laki-laki lainnya akan sengaja menjawab dengan menirukan gaya bicaranya yang terputus-putus.

Seuatu malam kelompok kamarnya memilihnya untuk memimpin saat teduh di hadapan seluruh peserta retret. Ini adalah satu usaha lagi untuk “bersenang-senang” bila melihatnya. Tanpa malu-malu anak lumpuh itu berdiri, dan dengan gayanya yang kaku dan terbata-bata – setiap kata keluar dengan usaha luar biasa – ia berkata dengan sederhana, “Yesus mengasihiku – dan saya mengasihi Yesus!” Begitu saja. Pertobatan terjadi para para remaja tersebut. Banyak anak mulai menangis. Kebangunan rohani mencengkeram retret tersebut. Bertahun-tahun kemudian, Campolo masih bertemu para pria dalam pelayanan yang percaya Yesus karena kesaksian tersebut.

Our Daily Bread, April 1, 1993

Beratnya Doa

Tak lama setelah Perang Dunia II, seorang wanita memasuki toko bahan makanan minta makanan secukupnya untuk makan malam hari Natal bagi anak-anaknya.

Ketika pemilik toko bertanya berapa banyak ia bisa beli, ia menjawab, “Suamiku tewas dalam perang. Sejujurnya, saya tidak punya apa-apa, hanya sedikit doa.” Pria tersebut, orang yang belum percaya, tidak tergerak oleh kebutuhan wanita itu dan berkata dengan kasar, “Tuliskan doamu di helai kertas dan timbanglah di toko.”

Pemilik toko itu terkejut, ketika wanita itu menarik sebuah catatan dari sakunya dan menyerahkan kepada pemilik toko. “Saya sudah melakukannya semalam ketika saya sedang menjaga anak saya yang sakit,” begitu jawabnya.

Tanpa membacanya, pemilik toko menaruhnya di satu sisi timbangan kunonya. “Kita akan lihat berapa banyak makanan yang bisa ditimbang,” ia menggerutu. Ia sangat kaget, ketika ia menaruh roti di sisi timbangan lainnya dan timbangan tidak bergerak. Namun ia bahkan lebih bingung ketika ia menambahkan barang-barang lain dan timbangan tidak bergerak. Akhirnya, ia asal berkata saja, “Nah, ambillah semua. Ini kantung. Masukkan saja sendiri. Saya sibuk!”

Dengan suatu ucapan “terima kasih:” sambil berlinang air mata wanita itu pulang dengan bahagia.

Belakangan pemilik toko mendapatkan bahwa timbangannya rusak.

Ketika tahun-tahun berlalu, ia sering heran apakah itu hanya sekedar suatu kebetulan. Mengapa wanita itu sudah menuliskan doanya sebelum ia memintanya? Mengapa ia datang tepat waktu ketika timbangan itu rusak? Ketika ia melihat secarik kertas yang berisi permohonannya, ia heran, karena bunyinya, “Tolong, Tuhan, berikan kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya!”

Our Daily Bread, November 21, 1993


Matius 6:13

Ular Anaconda

Lorrie Anderson, misionari suku-suku Indian Candoshi Shapra di Peru, sedang mencari tempat yang sepi untuk membaca Alkitab dan berdoa setiap hari, jadi ia pergi ke tepi sungai. Sesudah membaca Alkitab ia mengambil daftar doanya. Matanya dipejamkan, ia tidak melihat ular anaconda yang berbisa menyelinap melalui air sampai ular itu memagutnya, menanamkan taringnya di tubuhnya. Ular itu menarik, melukai lengannya berkali-kali sambil membelitnya, ia berteriak dalam belitannya. Ini akan berakhir dengan kematian.

Kemudian tiba-tiba ular raksasa itu, yang dikenal tak pernah melepaskan mangsanya, mengendurkan belitannya dan meluncur ke dalam sungai. Sementara Lorrie diobati, seorang tukang sihir dari desa di dekat itu masuk ke dalam pondok dan memandangnya. Ia tidak bisa percaya Lorrie masih hidup. Ia mengatakan menantunya, juga seorang tukang sihir, telah memanterai roh ular anaconda pagi itu dan mengirimnya untuk membunuh misionari yang masih muda itu. “Saya yakin,” Lorrie berkata, “kecuali karena perlindungan Allah, itu akan berhasil.”

Our Daily Bread, August 13, 1990


Matius 6:19-22

Hanya Numpang Lewat

Selaku orang-orang Kristen, kita perlu memikirkan diri kita sebagai para pelancong yang sekedar lewat di dunia yang penuh dosa ini. Kita bukanlah penduduk tetap, namun musafir-musafir pada suatu perjalanan menuju suatu tanah yang lebih baik. Oleh karena itu, kita perlu “bepergian dengan sedikit beban,” jangan membebani diri kita sendiri dengan bawaan-bawaan tak semestinya yaitu barang-barang materi dalam hidup ini. Semakin kita peduli pada kemewahan dan harta di bumi, makin sukar perjalanan kita ke sorga.

Cerita ini mengisahkan tentang beberapa orang Kristen yang bepergian ke Timur Tengah. Mereka mendengar tentang orang percaya yang bijaksana, saleh, penuh kasih, yang sudah tua, jadi mereka pergi untuk mengunjunginya. Ketika akhirnya mereka menemukannya, mereka mendapatkan orang itu tinggal di sebuah gubuk yang sederhana. Di dalam gubuk ia hanya punya sebuah dipan kasar, sebuah kursi, sebuah meja, dan sebuah kompor untuk memanaskan dan memasak. Para pengunjung itu terkejut melihat bagaimana sedikitnya barang orang itu, dan salah seorang di antara mereka berkata, “Mana, perabot rumah tangga Anda?” Orang kudus lanjut usia itu menjawab dengan lembut dengan bertanya, “Kalian punya di mana?” Pengunjung itu, sedikit menggerutu, menanggapi, “Kenapa, tentu saja di rumah. Saya tidak membawanya, saya sedang dalam perjalanan.” “Begitu juga saya,” orang Kristen yang saleh itu menjawab, “Begitu juga saya.”

Pria ini sedang mempraktekkan sebuah prinsip dasar alkitab: Orang-orang Kristen harus memusatkan perhatian mereka pada Kristus, bukan pada hal-hal sementara di dunia ini. Kekayaan materi kehilangan nilai mereka ketika dibandingkan dengan kekayaan kemuliaan. Untuk mencegah barang-barang dunia menjadi lebih penting bagi kita daripada menaati Kristus, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, “Di manakah perabot rumah tangga kita?” – D.C.E.

Our Daily Bread, July 26, 1993


Matius 6:19-24

Les Miserables

Dalam novel Victor Hugo, Les Miserables, Jean Valjean masuk penjara sembilan belas tahun karena mencuri seketul roti. Sesudah dibebaskan, mantan napi yang menyimpan kepahitan hati ini datang ke rumah seorang uskup yang baik hati, yang memberikan Valjean makan dengan memakai alat-alat makan dari perak dan menyediakan tempat tidur untuk ia menginap.

Malam itu, Valjean mencuri peralatan makan perak uskup tersebut dan ia tertangkap. Polisi membawanya kepada uskup, ia mengharapkan hal yang terburuk, hanya untuk mendengar uskup mengatakan, “Saya memberikan peralatan itu kepadanya. Dan Jean, kamu lupa membawa tempat lilin ini. “ Valjean yang terkejut bertobat karena kebaikan uskup yang luar biasa tersebut.

Berapa banyak orang yang mau menukarkan piring-piring perak dan tempat-tempat lilinnya untuk sukacita melihat suatu hidup yang hancur dipulihkan? Lebih baik kita jangan membuat angket – kita mungkin kecewa dengan hasilnya.

Today in the Word, January 20, 1997, p. 27


Matius 6:19ff

The Narrow Way

What thousands never knew the road!
What thousands hate it when ‘tis known!
None but the chosen tribes of God
Will seek or choose it for their own.

A thousand ways in ruin end,
One only leads to joys on high;
By that my willing steps ascend,
Pleased with a journey to the sky.

No more I ask or hope to find
Delight or happiness below;
Sorrow may well possess the mind
That feeds where thorns and thistles grow.

The joy that fades is not for me,
I seek immortal joys above;
There glory without end shall be
The bright reward of faith and love.

Cleave to the world, ye sordid worms,
Contented lick your native dust!
But God shall fight with all his storms,
Against the idol of your trust.

Olney Hymns, William Cowper, from Cowper’s Poems, Sheldon & Company, New York

Life’s Toil

Out of the life, I shall never take
Things of silver and gold I make
All that I cherish and hoard away
When I leave these things on earth must stay.

Though I toiled for a painting rare
To hang on my wall, I must leave it there
Though I call it mine and boast its worth
I must give it up when I quit this earth

All that I gather and all that I keep
I must leave behind when I fall asleep
And I wonder often, what will I own
In that other life when I pass along.

What shall He find and what shall He see
In the soul that answers the call for me'
Will the Great Judge find when my task is through
That my soul has gathered some riches, too'

Or at the last it will be mine to find
That all I had worked for was left behind.

Author Unknown

Sebuah Rumah Baru

Sekarang Tuhan Yesus ada di sorga, di “Rumah Bapa.” Ia telah pergi untuk “menyediakan tempat” bagi semua yang sudah percaya kepada-Nya. Ada satu pengertian, bagaimanapun, dimana orang-orang percaya boleh mengambil bagian untuk menyiapkan tempat tersebut. Pikiran ini menarik perhatian saya ketika saya membaca penyelidikan-penyelidikan ini oleh seorang penulis yang tidak terkenal:

“Pernah ada teman-teman saya yang bepergian ke luar negeri. Karena bermaksud membangun sebuah rumah baru bila mereka kembali, dalam perjalanan mereka mimpi tentang rumah baru tersebut tetap memenuhi pikiran mereka. Ketika mereka melihat sebuah gambar yang indah, patung dan vas mereka membeli dan mengirimnya lebih dulu sebelum mereka kembali. Hal yang sama dilakukan dengan benda-benda yang jarang terdapat dan aneh, yang setelah itu, ketika ditaruh di rumah mereka yang baru dapat menghubungkan mereka dengan kenangan-kenangan indah dan dengan cara ini memberi kontribusi pada kesenangan yang akan datang.” Penulis membuat penerapan ini: “Saya suka berpikir, bahwa kita, dalam perjalanan hidup di dunia ini, melakukan hal yang sama untuk rumah kita di sorga. Perbuatan baik yang merupakan gambaran langka dalam hidup seseorang, pengorbanan kecil yang menghasilkan sukacita, persahabatan yang menolong – semua ini akan kita jumpai lagi. Apa pun bentuk keindahan, ketulusan, iman dan kasih yang dapat kita berikan pada hidup seseorang akan berada di antara harta kita di sorga.”

Our Daily Bread, January 30, 1994

Pergi kepada Harta Kita

Seorang wanita betemu dengan seorang teman ayahnya yang puluhan tahun lamanya tidak bertemu. Ayah wanita ini adalah seorang Kristen yang saleh, jadi dengan penuh sukacita ia bercerita tentang ayahnya yang percaya Tuhan Yesus, cara ia menghadapi penderitaan, kesulitan-kesulitan, dan bahkan kematian yang mendekat.

Temannya, bagaimanapun cara hidupnya berbeda. Mati-matian ia mengejar uang dan mengumpulkan setiap sen yang didapatnya, dan ia menjadi sangat kaya. Namun ia tidak memiliki antisipasi masa depan dengan gembira seperti temannya. Ia menjelaskan pada putri temannya begini:“Ayahmu lebih optimis tentang surga daripada saya karena alasan yang sangat sederhana. Ia akan pergi kepada hartanya. Saya akan meninggalkan harta saya!”

Our Daily Bread, February 18, 1994

Kutipan

Harta di sorga ditambahkan hanya jika harta di bumi diletakkan.

Sumber tak diketahui

Yesus menantang murid-murid-Nya dengan suatu pilihan dasar di antara mengumpulkan harta di bumi dan mengumpulkan harta di sorga (Mat. 6:19-24). Adalah manusiawi dan wajar untuk mengumpulkan harta sehingga Yesus memberitahu murid-murid-Nya, “Kumpulkan bagimu harta di sorga,” bukan di bumi. Mengapa kita seharusnya tidak mengumpulkan harta di bumi? Karena tiga alasan:

Pertama, mengumpulkan harta di bumi itu gila karena dalam jangka panjang harta tersebut sangat kecil nilainya. Anda tidak bisa menyimpannya ( ngengat dan karat merusakkannya), juga tak bisa membawanya ( pikirkan tentang orang kaya yang bodoh, Lukas 12:16-21). Ini tak dapat memuaskan Anda; Anda pikir ini akan mendatangkan sukacita pada Anda, namun ini tak pernah terjadi. Ketika seseorang bertanya kepada seorang yang kaya raya apakah kekayaannya mendatangkan sukacita baginya. Ia menjawab, “Tidak, sekarang tak ada rasanya.”

Kedua, menyimpan harta di bumi berbahaya karena harta semacam itu merusakkan kesadaran rohani. Jika mata Anda bersinar dan berfungsi dengan baik, badan Anda akan bisa bergerak dengan mudah dan aman. Sama juga, jika hati Anda dimiliki oleh apa yang dunia dan hidup ini tawarkan, Anda tidak akan bisa melihat perkara-perkara rohani dengan jelas, dan ketika Anda membaca Alkitab, arti selengkapnya akan melepaskan Anda dari bahaya.

Ketiga, menyimpan harta di bumi membawa malapetaka karena tak seorang pun bisa melayani dua tuan. Bahkan agen rahasia ganda bekerja untuk satu Negara atau organisasi dalam satu cara sehingga mereka tidak bekerja untuk yang lainnya. Sama juga, kita tak bisa melayani Allah dan mamon.

Your Father Loves You by James Packer, Harold Shaw Publishers, 1986, page for December 15

Itu Semua Milik Saya

George W.Truett, seorang pendeta terkenal, diundang untuk makan malam di rumah seorang pria yang sangat kaya di Texas. Sesudah makan, tuan rumah membawanya ke suatu tempat dimana mereka bisa mendapatkan pandangan yang baik dari daerah sekelilingnya.

Dengan menunjuk kepada sumur-sumur minyak di dataran, ia menyombongkan, “Dua puluh lima tahun yang lalu saya tidak punya apa-apa. Sekarang, sejauh Anda bisa memandang, semuanya milik saya.” Melihat ke arah berlawanan pada ladang-ladang gandum yang terbentang, ia berkata, “Itu semua milik saya.” Menengok ke timur ke kawanan ternak yang amat banyak, ia membual, “Mereka semua milik saya.” Kemudian menunjuk ke barat dan ke suatu hutan yang indah, ia menyatakan, “Itu semua juga milik saya.”

Ia berhenti sejenak, mengharapkan Dr.Truett memuji suksesnya yang amat hebat. Bagaimanapun, Truett menaruh satu tangannya di bahu pria itu dan menunjuk ke arah sorga dengan tangan lainnya, hanya berkata, “Berapa banyak yang Anda miliki di jurusan tersebut?”

Pria itu menundukkan kepalanya dan mengakui, “Saya tak pernah memikirkan itu.”

Our Daily Bread, October 24, 1992

David Livingstone

Tubuh David Livingstone dikuburkan di Inggris dimana ia dilahirkan, namun jantungnya dikuburkan di Afrika yang ia kasihi. Di kaki sebuah pohon yang tinggi di sebuah dusun kecil di Afrika penduduk setempat menggali sebuah lubang dan mengubur jantung pria yang mereka kasih dan hormati.

Jika hati Anda dikuburkan di tempat yang Anda paling kasihi dalam hidup, di mana itu dikuburkan? Dalam dompet Anda? Dalam ruang tertentu di kantor? Di mana hati Anda berada.

Sumber tak diketahui

Persembahan

Pada piknik gereja kami tahun 1987 seseorang memasuki sejumlah mobil dan mencuri berbagai barang. Dompet Donna K. dan kacamatanya diambil. Belakangan, seseorang menemukan dompetnya utuh, kecuali beberapa keping uang receh. Ia sudah memberikan semua uangnya di piring persembahan pagi itu (Belakangan, kacamatanya juga ketemu.)

Sumber tak diketahui

Pencuri-pencuri yang Tekun

Ada sedikit barang yang pencuri-pencuri yang tekun tidak bisa mencurinya. Pada musim gugur tahun 1988 tiga lukisan karya Vinvent van Gogh, termasuk karya terbesar sebelumnya, “The Potato Eaters (Pemakan-pemakan Kentang),” dicuri dari sebuah museum di Eropa. Para ahli telah melindungi museum itu dengan sebuah system alarm tanpa bunyi dan dua penjaga. Meskipun demikian pencuri-pencuri itu mendapatkan lukisan-lukisan tersebut, yang diperkirakan berharga sekitar 50 juta dollar.

Today in the Word, May, 1990, MBI, p. 43


Matius 6:21

Suatu Akhir Hidup yang Mengerikan

Pernah saya membaca tentang seorang pria yang membeli sebuah rumah mewah dan mengisinya dengan perabotan-perabotan yang mahal dan hebat. Sesudah membawa seorang teman berkeliling melalui banyak ruangan yang luas, pemilik rumah tersebut bertanya dengan bangga, “Nah, bagaimana pendapatmu?” Ia berharap akan mendengar banyak pujian, jadi ia hampir pingsan ketika tamunya menanggapi, “Ini memang indah; tapi terus terang saja, barang-barang seperti ini membuat akhir hidup jadi mengerikan.”

Our Daily Bread

Harta dunia

Rasul Petrus memperingatkan bahwa bumi dan segala “yang ada di atasnya akan hilang lenyap” (2 Petrus 3:10). Dengan kebenaran ini dalam pikiran, ia terus mengatakan, ”Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup” (ay. 11). Karena harta dunia bersifat sementara, kita seharusnya mengarahkan perhatian kita pada “ perkara yang di atas” (Kol. 3:2).

Sumber tak diketahui

Jangan Lekatkan Hatimu pada Barang-barang

Suatu hari saya melihat seorang anak laki-laki ngambek di sebuah toko. Ia ingin sebuah truk dumping, tapi ibunya berkata tidak. Jadi anak itu meraung keras-keras dan semakin keras, sampai ibunya, yang merasa malu, membelikan mainan tersebut. Ketika saya mengawasi, saya mengingat apa yang ibu saya katakan pada saya ketika saya masih kecil. Ia berkata, “Jangan lekatkan hatimu pada barang-barang!” saya akui bahwa kadang-kadang, saya berontak, tapi sekarang ini saya benar-benar berterima kasih atas nasihatnya. Dan saya pikir ini seharusnya dipajang sebagai motto di setiap rumah: JANGAN LEKATKAN HATIMU PADA BARANG-BARANG.

Our Daily Bread, January 21, 1994


Matius 6:22

George Muller

Jika kita bisa melihat ke belakang ke peristiwa-peristiwa tak terduga dalam hidup kita, kita akan kagum melihat Allah secara luar biasa menyediakan keperluan-keperluan kita. Perubahan-perubahan kecil dalam hidup kita, peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak penting, kejadian-kejadian yang sering tidak bisa dijelaskan – semua adalah bagian dari pemeliharaan Allah yang penuh kasih.

Pemeliharaan-Nya yang berlimpah juga merupakan bukti penyediaan dalam hidup yang bisa diukur. Di Bristol, Inggris, George Muller mengelola panti asuhan yang menampung dua ribu anak. Suatu malam ia sadar bahwa besok tidak ada persediaan untuk makan pagi. Muller memanggil para pekerja dan menjelaskan situasinya. Dua atau tiga orang berdoa. “Sekarang sudah cukup,” ia berkata. “Mari kita bangkit dan memuji Tuhan untuk doa yang dijawab!”

Keesokan paginya mereka tidak bisa mendorong pintu depan yang besar untuk membukanya. Jadi mereka keluar dari pintu belakang dan mengelilingi gedung tersebut untuk melihat apa yang menahannya. Di depan pintu depan bertumpuk kotak-kotak makanan. Salah seorang pekerja belakangnya menyatakan, “Kami tahu Siapa yang mengirim keranjang-keranjang, tapi kami tidak tahu siapa yang mengantarkannya!”

Our Daily Bread, November 30, 1993


Matius 6:24

Harta di Bumi

Ketika seseorang mencintai harta dunia sedemikian rupa sehingga ia tidak bisa bergaul dengan baik tanpa itu, ia membuka dirinya sendiri terhadap banyak penderitaan, baik jasmani dan mental. Beberapa orang, misalnya, mengambil risiko-risiko yang bodoh untuk menjaga agar hartanya utuh. Mereka mati karena masuk ke dalam rumah yang sedang terbakar atau dibunuh karena dengan keras kepala menolak perampok-perampok bersenjata. Tampaknya mereka merasa bahwa tanpa harta hidup tidak akan berharga.

Lainnya, ketika terpaksa berpisah dengan kekayaan mereka, telah terjerumus ke dalam penderitaan sampai putus asa, bahkan sampai pada titik bunuh diri. Dalam tahun 1975, enam pria bersenapan merusak kotak-kotak deposit di sebuah bank di London dan mencuri barang-barang berharga yang nilainya lebih dari $7 juta. Seorang wanita, yang permata-permatanya dinilai $ 500,000, meratap, “Semua yang saya miliki ada di sana. Seluruh hidup saya ada dalam kotak itu.” Betapa komentar yang menyedihkan terhadap nilai-nilainya!

Our Daily Bread


Matius 6:25-34

Jam yang Terganggu Syarafnya

Dalam khotbahnya berjudul “Bagaimana Bisa Khawatir” Ralph Phelps menceritakan tentang sebuah jam yang terganggu syarafnya. Jam baru ini berdetik di atas rak dua kali dalam sedetik seperti jam yang baik yang memiliki harga diri. Kemudian ia mulai berpikir berapa kali ia harus berdetik. “Dua kali dalam sedetik artinya 120 detikan per menit,” ia merenung. “Artinya 7200 detikan per jam, 172.800 detikan sehari, 1.209.600 per minggu selama 52 minggu, dan jumlahnya 68.899.200 setahun.” Mengerikan! Langsung saja jam itu terganggu syarafnya.

Jam itu dibawa ke seorang psikiater yang menempelkan telinganya per besarnya ketika ia kemudian bertanya, “Jam, apa masalahmu?” “Oh, dokter,” ratap jam tersebut, “saya harus berdetik demikian banyak. Saya harus berdetik dua kali dalam waktu satu detik dan 120 detik per menit dan 7.200 detik sejam, dan .”

“Tunggu dulu,” potong psikiater tersebut, “Berapa detikan harus kamu lakukan setiap kali?” “Oh, hanya satu detikan setiap kali,” jawabnya. “Izinkan saya memberi nasihat,” jawab dokter tersebut. “Pulanglah ke rumahmu dan coba berdetik satu detikan setiap kali. Jangan pikirkan tentang detikan berikutnya sampai tiba saatnya. Detikkan saja satu detikan setiap kali. Itulah yang kamu bisa lakukan.”

Iman adalah mendetikkan satu detikan setiap kali. Mengetahui bahwa Allah akan memberikan kita kekuatan untuk detikan berikutnya. Menurut 1 Petrus 1:8 kita dapat memiliki suatu “sukacita yang mulia.” Sama seperti orang-orang Kristen yang tertekan dan teraniaya, kita perlu ingat bahwa sukacita ini tak pernah muncul melalui dorongan dari luar, hanya melalui pola pikir di dalam – satu iman – satu detikan setiap kali, tahu bahwa Allah akan memberikan kita kekuatan untuk detikan berikutnya.

John Scott

Swindoll, You and Your Problems

Kekuatiran

1. Kekuatiran mengabaikan logika kehidupan (ay.25)

2. Kekuatiran mengabaikan nilai kehidupan (ay.26)

3. Kekuatiran mengabaikan keterbatasan-keterbatasan kita (ay.

4. Kekuatiran mengabaikan kesetiaan Allah (ay. 28-30)

5. Kekuatiran mengabaikan kasih Allah (ay. 31-33)

6. Kekuatiran mengabaikan saat sekarang (ay.34)

Today in the Word, July, 1990, p. 33

Sarang Burung

Sebuah regu pekerja sedang membangun suatu jalan baru melalui suatu daerah pedesaan, meruntuhkan pohon-pohon ketika pekerjaan tersebut berlangsung. Seorang pengawas memperhatikan bahwa ada sebuah sarang burung di sebuah pohon dengan anak-anak burung yang belum bisa terbang. Ia menandai pohon tersebut supaya jangan ditebang.

Beberapa minggu kemudian pengawas tersebut datang lagi ke pohon tersebut. Ia naik ke bangku truk dan dari tempat yang tinggi itu bisa mengintip ke dalam sarang. Anak-anak burung itu sudah pergi. Sudah jelas mereka sudah belajar terbang. Pengawas itu memerintahkan agar pohon itu ditebang. Ketika pohon tersebut tumbang, sarang burung itu juga jatuh dan beberapa bahan yang dikumpulkan burung-burung itu untuk membuar sarang berserakan. Sebagiannya adalah sobekan dari brosur Sekolah Minggu. Pada sepotong kertas tersebut ada kata-kata: “Ia memeliharamu.”

Bits and Pieces, November, 1989, p. 23


Matius 6:3

Charles Spurgeon Dicap Serakah

Charles Spurgeon dan istrinya, menurut cerita di majalah Chaplain, akan menjual, tapi menolak untuk memberikan telur-telur yang dihasilkan ayam-ayam mereka. Bahkan kenalan-kenalan dekat diberitahu, “Kalau mau telur, kalian harus bayar.”Akibatnya beberapa orang mencap Spurgeon itu pelit dan tamak.

Mereka menerima kritikan tersebut tanpa membela diri, dan hanya setelah Nyonya Spurgeon meninggal, cerita itu terungkap. Semua keuntungan dari penjualan telur dipakai untuk menolong dua orang janda tua. Karena Spurgeon tidak ingin tangan kiri mereka tahu apa yang tangan kanan lakukan (Mat. 6:3) , mereka menahan cercaan itu dengan berdiam diri.

Sumber tak diketahui

Nama Orang Samaria yang Baik Hati

Jean Frederick Oberlin, seorang pendeta Jerman pada abad ke-18, sedang berjalan kaki dalam musim dingin ketika ia terjebak dalam badai salju yang hebat. Segera ia tersesat dalam hembusan salju dan takut bahwa ia akan mati beku. Dengan putus asa ia duduk, tidak tahu harus berjalan ke mana. Tepat ketika itu, seorang pria melintas dengan mobil box dan menyelamatkan Oberlin. Ia membawanya ke desa berikut dan memastikan bahwa ia akan dirawat. Ketika pria itu bersiap-siap untuk meneruskan perjalanannya, Oberlin berkata, “Beritahu saya nama Anda supaya sekurang-kurangnya saya bisa mengingat dan bersyukur di hadapan Allah.” Pria itu, yang telah kenal dengan Oberlin sekarang, menjawab, “Anda adalah seorang pendeta. Tolong beritahu saya nama Orang Samaria yang Baik Hati.” Oberlin berkata, “Saya tidak tahu, karena tidak disebutkan dalam Alkitab.” Dermawan itu menjawab, “Sampai Anda bisa memberitahu saya namanya, izinkan saya menyimpan nama saya.”

Sumber tidak diketahui


Matius 6:32

Persediaan Allah yang Murah Hati

Jika kita bisa melihat ke belakang ke peristiwa-peristiwa tak terduga dalam hidup kita, kita akan kagum melihat Allah secara luar biasa menyediakan keperluan-keperluan kita. Perubahan-perubahan kecil dalam hidup kita, peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak penting, kejadian-kejadian yang sering tidak bisa dijelaskan – semua adalah bagian dari pemeliharaan Allah yang penuh kasih.

Pemeliharaan-Nya yang berlimpah juga merupakan bukti penyediaan dalam hidup yang bisa diukur. Di Bristol, Inggris, George Muller mengelola panti asuhan yang menampung dua ribu anak. Suatu malam ia sadar bahwa besok tidak ada persediaan untuk makan pagi. Muller memanggil para pekerja dan menjelaskan situasinya. Dua atau tiga orang berdoa. “Sekarang sudah cukup,” ia berkata. “Mari kita bangkit dan memuji Tuhan untuk doa yang dijawab!”

Keesokan paginya mereka tidak bisa mendorong pintu depan yang besar untuk membukanya. Jadi mereka keluar dari pintu belakang dan mengelilingi gedung tersebut untuk melihat apa yang menahannya. Di depan pintu depan bertumpuk kotak-kotak makanan. Salah seorang pekerja belakangnya menyatakan, “Kami tahu Siapa yang mengirim keranjang-keranjang, tapi kami tidak tahu siapa yang mengantarkannya!”

Our Daily Bread, November 30, 1985

Roti untuk Dipegang

Dalam bukunya Psikiatri Tuhan, Charles L. Allen menceritakan kisah ini:

“Ketika Perang Dunia II hampir berakhir, tentara-tentara Sekutu mengumpulkan banyak anak-anak panti asuhan yang lapar. Mereka ditempatkan di sebuah kamp dimana mereka diberi makanan bergizi. Walaupun dipelihara dengan baik, mereka susah tidur. Tampaknya mereka kuatir dan takut. Akhirnya, seorang psikolog memberikan solusi. Setiap anak diberikan sepotong roti untuk dipegang ketika mereka masuk tidur. Roti yang sepotong itu cuma untuk dipegang, bukan dimakan. Sepotong roti itu memberikan hasil yang luar biasa. Anak-anak masuk tidur dengan naluri bahwa mereka akan punya makanan untuk esok hari. Ini membuat anak-anak itu bisa beristirahat dan tidur nyenyak.”

Our Daily Bread


Matius 6:33

Dahulukan yang Utama

Pada akhir abad ke-19 John Wanamaker membuka sebuah toko serba ada di Philadelphia. Dalam waktu beberapa tahun saja perusahaan itu sudah menjadi salah satu bisnis yang paling sukses di negara tersebut. Tapi mengelola tokonya bukan hanya satu-satunya tanggung jawab Wanamaker. Ia juga menjadi Direktur Jenderal Kantor Pos Amerika, dan ia melayani sebagai pengawas dari apa yang kemudian menjadi Sekolah Minggu terbesar di dunia di Gereja Bethany Presbyterian.

Ketika seseorang bertanya kepadanya bagaimana ia bisa memegang semua posisi itu sekaligus, ia menjelaskan, “Waktu saya masih kecil saya membaca, ‘Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.’ Sekolah Minggu adalah bisnis saya, dan yang lainnya adalah tambahannya.”

Satu bukti keinginan Wanameker untuk mendahulukan pekerjaan Tuhan dalam hidupnya adalah sebuah kamar khusus kedap suara yang ada di tokonya. Setiap hari ia diam di sana selama 30 menit berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Prioritas-prioritasnya benar!

Our Daily Bread

Doa Pagi-pagi

Pernahkah Anda perhatikan bahwa orang-orang kudus Alkitab sering menemui Allah pada waktu fajar untuk mencari pimpinan-Nya? Misalnya,

  • Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu (Kej. 19:27).
  • Yakub bangun pagi-pagi untuk beribadah kepada Allah sesudah malamnya mendapat visi dari malaikat-malaikat (Kej 28:18).
  • Musa bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Tuhan di Sinai (Kel. 34:4).
  • Yosua bergerak pagi-pagi ketika ia bersiap-siap meruntuhkan kota Yerikho (Yos. 6:12).
  • Gideon berjalan waktu fajar untuk memeriksa guntingan bulu domba yang diletakkan di tanah untuk mengetahui kehendak Allah (Hak 6:38).
  • Dan dalam Firman Tuhan hari ini kita belajar bahwa Ayub bangun pagi-pagi untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan atas nama anak-anaknya. (Ayb 1:5).

Sumber tak diketahui

Abaikan Rencana

Seorang pemain biola muda di konser ditanya rahasia suksesnya. “Abaikan rencana,” ia menjawab. Kemudian ia menjelaskan, “Bertahun-tahun yang lalu saya menemukan bahwa ada banyak hal yang menyita waktu saya. Sesudah mencuci piring bekas makan pagi, saya membereskan tempat tidur, merapikan kamar, mengelap kursi meja dan perabot-perabot, dan melakukan tugas rumah tangga lainnya. Kemudian saya mulai latihan biola. Sistem itu, bagaimanapun, gagal mencapai hasil yang diinginkan. Jadi saya menyadari bahwa saya harus membalikkan pekerjaan. Saya singkirkan segala sesuatu dengan sengaja sampai waktu latihan saya selesai. Program mengabaikan rencana itu menyebabkan sukses saya!”

Our Daily Bread

Cari Dahulu Kerajaan Allah

Henry Drummond, seorang ilmuwan pada pergantian bad, berbicara kepada sekelompok mahasiswa:

“Saudara-saudara, saya mohon agar kalian mencari dahulu Kerajaan Allah, atau tidak sama sekali. Saya menjanjikan waktu yang menyedihkan jika Saudara mencari yang kedua.”

Sumber tidak diketahui

Kekayaan dan Kemurahan

Di antara mereka yang berada dalam istana Aleksander Agung ada seorang ahli filsafat yang sangat pandai namun memiliki uang sedikit. Ia minta tolong pada Aleksander untuk memberinya dana dan dibertahu untuk mengambil apa pun yang ia perlukan dari perbendaharaan kerajaan. Namun ketika orang itu meminta jumlah kira-kira $50,000, ia ditolak – bendahara itu perlu memeriksa dulu apakah jumlah sebesar itu diizinkan. Ketika ia bertanya kepada Aleksander, penguasa itu menjawab, “Berikan uang itu segera. Filsuf itu menghormati saya secara luar biasa. Dengan meminta sejumlah besar tersebut ia memahami kekayaan maupun kemurahan hati saya.”

Today in the Word, MBI, August, 1991, p. 19


Matius 6:34

Hidup Bisa Monoton

Jalan yang terbentang di hadapan kita tampaknya terbentang bermil-mil jauhnya melintasi gurun yang gersang tanpa keluihatan oase. Bagaimana kita bisa menangani tanggung-jawab – tanggung jawab yang melelahkan ketika tidak ada kelegaan yang terlihat terhadap beban-beban kita.’

Oliver de Vinck, sejak lahir cacat parah, terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya selama 32 tahun, tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Hari lepas hari dan tahun lepas tahun orang tuanya menyuapkan makanan sesendok demi sesendok ke mulutnya, mengganti popoknya, dan masih mengurus sebuah keluarga yang bahagia.

Suatu hari kakak Oliver, Christopher bertanya pada ayahnya bagaimana mereka bisa mengurusnya. Ia menjelaskan bahwa mereka tidak menguatirkan hari-hari esok yang panjang yang mungkin akan mereka hadapi. Mereka hidup hari lepas hari, bertanya, “Dapatkah saya memberi makan Oliver hari ini” “Dan jawabannya selalu, “Ya, hari ini saya bisa melakukannya.”

Yesus mengajarkan kita bagaimana kita bisa menangani rutinitas hidup: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (6:34). Dengan iman – dan dengan doa – kita dapat membagi hidup dan sering tugas-tugas yang melelahkan ke dalam kepingan-kepingan kecil, percaya masa depan yang tak terduga pada anugerah-Nya yang berjanji bahwa “selama umurmu, kiranya kekuatanmu” (Ul. 33:25).

VCG, Our Daily Bread, Sept.-Nov. 1997, page for September 11

Khawatir: Rasa Takut yang Berlebihan

Khawatir adalah rasa takut yang berlebihan. Ini menarik minat pada kesulitan sebelum terjadi. Ini terus menguras enerji yang Tuhan berikan pada kita untuk menghadapi masalah-masalah sehari-hari dan untuk menggenapi banyak tanggung jawab kita. Oleh karena itu ini adalah sebuah dosa kesia-kesiaan.

Seorang wanita yang hidup cukup lama telah mempelajari beberapa kebenaran-kebenaran penting tentang hidup menyatakan, “Saya mengalami banyak kesulitan – kebanyakan tidak pernah terjadi!” Ia telah khawatir tentang banyak hal yang tak pernah terjadi, dan melihat kesia-siaan dari kekhawatiran-kekhawatirannya.

An unknown poet has written:

Seorang penyair tak dikenal telah menulis:

“Saya mendengar sebuah suara lembut di malam hari,

‘Jangan membawa hari-hari kemarinmu ke dalam esok hari,

Juga jangan menanggung beban minggu ini dengan beban kesedihan minggu lalu.

Angkatlah bebanmu ketika mereka datang, jangan mencoba

Membebani masa kini dengan segera.

Satu langkah dan selangkah lagi, berjalanlah;

Hiduplah hari lepas hari!”

Our Daily Bread

Tak Ada Catatan Tentang Kegagalan

Dalam buku Streams in the Desert, Nyonya Lettie B.Cowman mengisahkan tentang seorang pendeta yang berbeban berat karena merasa kuatir dan prihatin. Setelah menanggung beban tersebut beberapa waktu, suatu hari ia membayangkan bahwa ia bisa menaruh bebannya di tanah dan melangkah mundur satu atau dua langkah. Kemudian ia memandangnya dan menganalisanya. Ketika ia melakukan itu, ia mendapatkan bahwa hampir seluruhnya merupakan hal-hal yang belum terjadi. Sebagian merupakan urusan besok. Bahkan lebih besar lagi jumlah beban untuk minggu depan. Dan sekian persen adalh kekuatiran yang dibawa dari hari-hari kemarin.

Nyonya Cowman mengindikasikan bahwa pendeta ini merasa bersalah karena “suatu kesalahan yang amat bodoh yang sudah lama sekali terjadi.” Ia telah membuat kesalahan dengan membebani dirinya sendiri “sekarang” dengan hal-hal yang terjadi “kemarin dan besok.” “Jangan pernah menyerah kepada antisipasi-antisipasi yang suram,” ia menyimpulkan. “Siapa yang memberitahu bahwa musim dingin ketidakpuasan Anda akan berlangsung dari kebekuan kepada kebekuan, dari salju dan hujan batu es dan es kepada saljut yang lebih dalam? Tidakkah anda tahu bahwa siang mengikuti malam, bahwa musim semi dan musim panas menggantikan musim dingin? Berharaplah dan yakin dalam Tuhan. Ia tidak memiliki catatan tentang kegagalan.”

Our Daily Bread

Mosaik

Ketika jalan-jalan ke Italia, seorang pria mengunjungi sebuah katedral yang baru selesai bagian depannya. Di dalam, turis itu melihat seorang seniman berlutut di muka sebuah tembok besar dimana ia baru saja mulai menyusun sebuah mosaic.pada beberapa meja di dekat situ ada ribuan keping keramik warna warn. Ingin tahu, turis itu bertanya kepada seniman tersebut bagaimana ia bisa menyelesaikan proyek yang demikian besar tersebut. Seniman itu menjwa bahwa ia tahu berapa banyak yang bisa diselesaikannya dalam satu hari. Setiap pagi, ia memberi tanda suatu bagian untuk diselesaikan pada hari tersebut dan tidak menghiraukan apa yang ada di luar bagian tersebut. Inilah yang terbaik yang ia bisa lakukan, dan jika ia berusaha sebaik-baiknya, suatu hari mosaik tersebut akan selesai.

Daily Walk, March 22, 1992

Apa yang Sudah Jelas

“Urusan kita yang paling penting bukanlah melihat apa yang suram di ke jauhan, tapi melakukan apa yang sudah jelas ada di tangan kita.” Thomas Carlyle

Sumber tidak diketahui

Mil Berikutnya

Eric Sevarid, komentator terkenal dan penulis, mengatakan bahwa pelajaran yang terbaik yang pernah dipelajarinya adalah prinsip “mil berikutnya.” Ia mengingat kembali bagaimana ia mempelajari prinsip tersebut:

“Sementara Perang Dunia II, saya dan beberapa orang lainnya terjun dari pesawat terbang Angkatan Bersenjata ke hutan-hutan di gunung di perbatasan Birma-India. Perlu waktu beberapa minggu sebelum sebuah ekspedisi penolong bersenjata bisa menjangkau kami, dan kemudian kami mulai berjalan kaki, berbaris dengan susah payah ke daerah India yang berpenduduk. Kami berhadapan dengan jalan sepanjang 140 ml, melintasi gunung-gunung dalam panasnya bulan Agustus dan hujan di musim hujan.

“Dalam satu jam pertama sebuah paku sepatu but saya menusuk kaki saya; malamnya kedua kaki saya luka sebesar uang 50 sen. Dapatkah saya berjalan terpincang-pincang sejauh 140 mil? Dapatkah orang-orang lain, beberapa keadaannya lebih buruk daripada saya, menyelesaikan jarak sejauh itu?

“Kami yakin kami tidak bisa. Tetapi kami bisa sampai ke punggung bukit dengan berjalan terpincang-pincang, kami bisa mencapai dusun yang penduduknya bersahabat untuk bermalam. Dan itulah, tentu saja, yang kami lakukan.”

Eric Sevarid memakai prinsip “mil berikutnya” banyak kali selama karirnya, apakah tugas menulis sebuah buku atau menulis naskah-naskah untuk radio dan televisi.

Bits and Pieces, February, 1990, p. 11-12

Secara Bertahap Menjadi Nyata

Suatu hari Dwight Morrow dan istrinya, orang tua dari Anne Lindbergh, berada di Rugby, Inggris. Sesudah berkeliling di jalan-jalan mereka menyadari bahwa mereka telah tersesat. Pada waktu itu suatu peristiwa yang terjadi yang telah memasuki filsafat Morrow dan menjadi satu prinsip pedoman dalam hidupnya. Ia menghentikan seorang anak laki-laki Rugby yang kira-kira berusia 12 tahun. “Dapatkah kamu tolong beritahu kami jalan ke stasiun?”ia bertanya. “Baiklah,” jawab anak laki-laki itu. “Bapak belok ke kanan dekat toko sayur dan kemudian ambil jalan yang kedua ke kiri. Bapak akan sampai ke simpang empat. Dan sampai situ, Pak, lebih baik Bapak bertanya lagi.”

“Jawaban ini menjadi simbol untuk metode Dwight Morrow dalam menyelesaikan masalah-masalah yang rumit,” tulis Harold Nicolson dalam biografinya yang bagus. “Pertama, ini menyatakan secara tidak langsung suatu keraguan yang nyata mengenai kapasitas kecerdasan manusia. Kedua, adalah suatu materi pelajaran yang tidak terelakkan mengenai tahapan. Dan ketiga, ini adalah perumpamaan, bagaimana, ketika suatu tujuan akhir tidak pasti, seseorang seharusnya berusaha sebelumnya, walaupun sedikit, secara benar, daripada menempuh jurusan yang salah.

Bits and Pieces, Dec., 1991, p. 14


Matius 6:6

Telpon Umum

Dalam sebuah surat kepada teman-temannya, penulis Wendell P.Loveless menceritakan kisah ini:

Suatu malam seorang pembicara yang sedang berkunjung ke Amerika ingin menelpon. Ia masuk ke bilik telpon umum, tapi ternyata beda dengan telpon umum di negerinya. Hari mulai malam, jadi ia mengalami kesulitan menemukan nomor di buku telpon. Ia perhatikan ada sebuah lampu di langit-langit, tapi ia tidak tahu cara menyalakannya. Ketika ia berusaha lagi mencari nomor di keremangan senja, seorang yang melintas memperhatikan kesulitannya dan berkata, “Tuan, jika Anda ingin menyalakan lampu, Anda harus menutup pintunya.” Orang asing itu heran dan puas, ketika ia menutup pintu, bilik itu menjadi terang. Ia segera menemukan nomor telpon yang dicarinya dan bisa menelpon.

Sama juga, ketika ketika menyingkir ke tempat sunyi untuk berdoa, kita harus menghentikan dunia kita yang sibuk dan membuka hati kita kepada Bapa. Dunia kita yang gelap yang penuh kekecewaan dan kesulitan-kesulitan maka akan diterangi. Kita akan memasuki persekutuan dengan Allah, kita akan merasakan kehadiran-Nya, dan kita akan diyakinkan tentang persediaan-Nya bagi kita. Tuhan kita sering pergi menyendiri dengan Bapa Sorgawi. Kadang-kadang itu dilakukan sesudah suatu hari yang sibuk berkhotbah dan menyembuhkan, seperti dalam bacaan Alkitab hari ini. Pada lain waktu, ini dilakukan sebelum membuat suatu keputusan penting (Lukas 6:12).

Our Daily Bread


Matius 6:9-13

Hidup Hari Lepas Hari

Dua ayat Alkitab ini mendorong seseorang untuk menulis,

“Satu rahasia dari kehidupan Kristen yang bahagia adalah hidup pada hari ini. Yang membuat kita lelah adalah ketegangan-ketegangan yang berlangsung lama. Namun sesungguhnya, tidak ada ketegangan-ketegangan yang lama. Hidup tidak kita jalani sekaligus. Besok bukan milik kita; namun bila itu tiba, Allah akan menyediakan baik makanan maupun kekuatan setiap hari.

Sumber tidak diketahui

Hidup Saat Demi Saat

Ketika Pendeta Philip Doddridge sedang berjalan di sepanjang jalan suatu hari, ia merasa depresi dan kesepian, karena sesuatu telah terjadi dan membebani hatinya. Ketika melewati sebuah gubuk kecil, ia mendengar melalui pintu terbuka suara seorang anak sedang membaca kalimat-kalimat dalam Ulangan 33:25, “selama umurmu kiranya kekuatanmu.” Roh Kudus memakai kebenaran itu untuk menunjang semangat juangnya yang sedang menurun. Ia didorong untuk tidak melihat terlalu jauh ke depan, namun terus hidup untuk Tuhan saat demi saat dalam kesadaran bahwa Tuhan akan memeliharanya.

Rupanya D.L. Moody juga mempelajari rahasia tersebut, karena ia berkata,

“Seorang manusia tidak dapat mengambil persediaan anugerah untuk masa depan daripada ia bisa makan cukup hari ini untuk bertahan selama 6 bulan berikutnya, juga ia tidak bisa menghirup udara ke dalam paru-parunya dengan satu tarikan nafas untuk menopang hidup seminggu berikutnya. Kita diizinkan untuk menarik dari persediaan anugerah Tuhan hari lepas hari ketika kita memerlukannya!”

Allah tidak pernah memberikan kekuatan-Nya sebelumnya, jadi berhentilah memecahkan persoalan sebelum kita menghadapinya. Bapa di Surga dengan murah hati akan mencukupkan setiap kebutuhan kita – setiap kali dibutuhkan!

Jangan coba untuk menanggung beban-beban besok dengan anugerah hari ini.

Our Daily Bread, December 30, 1985

Saya Tidak Bisa Mengatakan….

  • Saya tidak bisa mengatakan Kami, jika agama saya tidak memiliki tempat untuk orang-orang lain dan keperluan-keperluan mereka.
  • Saya tidak bisa mengatakan Bapa, jika saya tidak memperlihatkan hubungan ini dalam hidup saya sehari-hari.
  • Saya tidak bisa mengatakan Yang di sorga, jika semua minat-minat dan apa yang saya kejar adalah hal-hal duniawi.
  • Saya tidak bisa mengatakan Dikuduskanlah nama-Mu, jika saya, yang disebut dengan nama-Nya, tidak kudus.
  • Saya tidak bisa mengatakan datanglah Kerajaan-Mu, jika saya tidak mau menyerahkan hak saya dan menerima pemerintahan Allah yang benar.
  • Saya tidak bisa mengatakan Jadilah kehendak-Mu, jika saya tidak mau atau marah jika kehendak Allah terjadi dalam hidup saya.
  • Saya tidak bisa mengatakan Di bumi seperti di sorga jika saya tidak benar-benar siap menyerahkan diri saya untuk melayani-Nya di sini dan sekarang.
  • Saya tidak bisa mengatakan Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya tanpa berusaha dengan jujur untuk mendapatkannya atau dengan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan dasar saudara-saudara seiman saya.
  • Saya tidak bisa mengatakan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, jika saya terus mendendam terhadap siapa saja.
  • Saya tidak bisa mengatakan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, jika saya dengan sengaja memilih untuk tinggal dalam suatu situasi dimana mungkin saya dicobai.
  • Saya tidak bisa mengatakan Lepaskanlah kami dari pada yang jahat, jika saya tidak siap bertempur dalam alam rohani dengan senjata doa.
  • Saya tidak bisa mengatakan Engkaulah yang empunya Kerajaan, jika saya tidak memberikan kepada Raja disiplin ketaatan untuk suatu hal yang memerlukan kesetiaan.
  • Saya tidak bisa mengatakan Engkaulah yang empunya kuasa, jika saya takut apa yang para tetangga dan teman-teman mungkin katakan atau lakukan.
  • Saya tidak bisa mengatakan Engkaulah yang empunya kemuliaan, jika saya lebih dulu mencari kemuliaan saya sendiri.
  • Saya tidak bisa mengatakan Selama-lamanya, jika saya terlalu khawatir terhadapan masalah-masalah setiap hari.
  • Saya tidak bisa mengatakan Amin jika tidak saya berkata dengan jujur, “Berapa pun harganya, inilah doa saya.”

Author Unknown, The Evangel, 3/27/85

Tiga Bagian

1. Pujian,

2. Prioritas-prioritas,

3. Persediaan.

Peter Dieson, The Priority of Knowing God, p.43

Hal-hal yang Perlu Didoakan

1. Bahwa nama Allah akan dimuliakan dan dihormati (9)

2. Bahwa Kerajaan Allah akan digenapi (10)

3. Bahwa kehendak Allah akan dilaksanakan (10)

4. Untuk kebutuhan-kebutuhan fisik – makanan kami yang secukupnya (11)

5. Untuk kebutuhan-kebutuhan sosial – mengampuni dan diampuni (12)

6. Untuk kebutuhan-kebutuhan rohani – pencobaan dan kelepasan (13)

S. Briscoe, Getting Into God, p. 58

Doa Murid

Dalam Doa Bapa Kami (atau Doa Murid) ada tiga hal yang perlu untuk berdoa secara efektif.

1. Pertama ada hubungan: “Bapa kami yang di sorga” (ay.9).

2. Kemudian ada tanggung jawab: “Dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu” (ay. 9,10).

3. Akhirnya ada permohonan-permohonan: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” (ay. 11-13).

Something Happens When Churches Pray, W. Wiersbe, p.118


Matius 7:1-3

Melompat ke Kesimpulan

Untuk beberapa alasan, adalah lebih mudah untuk melompat kepada kesimpulan-kesimpulan negatif tentang orang-orang daripada mengasumsikan yang terbaik tentang mereka. Ketika kita melakukan ini, kita menganggap mereka memiliki tujuan-tujuan buruk dan maksud-maksud jahat yang mungkin tidak benar. Kita juga menyatakan sesuatu tentang diri kita sendiri, karena kegagalan-kegagalan yang kita lihat dalam diri orang-orang lain sebenarnya suatu refleksi dari diri kita sendiri.

Dalam buku kecilnya Illustrations of Bible Truth, H.A. Ironside menunjuk bodohnya menghakimi orang-orang lain. Ia menghubungkan suatu insiden dalam hidup seorang pria yang disebut Uskup Potter. Ia sedang berlayar ke Eropa pada salah satu jalur lintas atlantik yang terkenal. Ketika ia naik ke kapal, ia melihat teman kamarnya, seorang penumpang lain. Sesudah melihat perlengkapan kamar, ia menuju ke meja kepala keuangan dan bertanya apakah ia bisa menitipkan arloji emasnya dan barang-barang berharga lainnya dalam lemari besi kapal. Ia menjelaskan bahwa ia tak pernah melakukan hal tersebut, tapi ia baru saja masuk ke kamar dan bertemu dengan pria yang akan tidur sekamar dengannya. Menilai penampilannya, ia takut bahwa orang itu mungkin tidak bisa dipercaya.

Kepala keuangan menerima barang-barang berharga tersebut dan menyatakan, “Oke, Uskup, saya senang menyimpankan barang-barang Anda. Pria itu baru saja dari sini dan menitipkan barang-barang berharganya karena alasan yang sama!”

Our Daily Bread

Batuk-batuk Pendek

Seorang wanita California sangat jengkel karena burung peliharaannya suka batuk-batuk pendek. Ketika gangguan yang menyebalkan itu terus berlangsung, ia membawa burung itu kepada seorang dokter hewan yang memeriksa pasien berbulu itu dengan sabar.

Lebih jauh lagi, dokter itu menemukan daripada memiliki penyakit yang aneh, burung itu hanya belajar menirukan “suara” parau pemiliknya yang disebabkan asap rokok. Ketika wanita itu diberitahu hal ini, ia amat heran. Wawasan yang didapatnya mengenai masalahnya menolongnya menghentikan kebiasaan merokok tersebut.

Our Daily Bread

Ahli Astronomi Terkenal

Pada peralihan abad ini, ahli astronomi dunia yang paling terkenal merasa pasti bahwa ada kanal-kanal di Mars. Sir Percival Lowell, mendapat penghargaan dalam studinya tentang sistem solar, sangat terpesona dengan Plamet Merah tersebut. Ketika pada tahun 1877, ia mendengar seorang ahli astronomi Italia telah melihat garis-garis lurus bersilang-silang di permukaan Mars, Lowell menghabiskan sisa tahun-tahun hidupnya mengintip ke dalam lensa teleskop raksasanya di Arizona, membuat peta terusan-terusan dan kanal-kanal yang dilihatnya. Ia yakin bahwa kanal-kanal itu adalah bukti dari kehidupan yang cerdas di Mars, mungkin suatu rasa yang lebih tua namun lebih bijaksana daripada manusia. Pengamatan Lowell diterima secara luas. Ia demikian unggul, sehingga tak seorang pun berani menentangnya.

Sekarang, tentu saja, keadaannya beda,.Roket ruang angkasa telah mengorbit di Mars dan mendarat di permukaannya. Seluruh planit telah dipetakan, dan tak seorang pun melihat sebuah kanal. Bagaimana bisa Lowell “melihat” demikian jelas sesuatu yang tak ada di sana.

Dua kemungkinan:

(l) ia begitu INGIN melihat kanal-kanal, sehingga ia melakukannya berulang-ulang, dan

(2) Kita tahu sekarang bahwa ia menderita penyakit mata yang langka yang membuat ia melihat pembuluh-pembuluh darah di dalam matanya. “Kanal-kanal” di Mars yang dilihatnya tak lebih dari pembuluh-pembuluh yang menonjol dari bola-bola matanya. Sekarang penyakit itu dikenal sebagai “sindrom Lowell.”

Ketika Yesus (Mat 7:1-3) memperingatkan bahwa “karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi” dan memperingatkan tentang “selumbar” di mata orang lain padahal ada balok di dalam matamu, tidakkah ia sedang menunjukkan pada persamaan rohani dari sindrom Lowell? Berulang kali, kita “melihat” kesalahan-kesalahan dalam diri orang-orang lain karena kita tidak mau percaya apa pun yang lebih baik tentang mereka. Dan begitu sering kita berpikir kita yang paling tahu kekurangan-kekurangan mereka, ketika faktanya visi kita dirusak oleh penyakit kita sendiri.

Glenn W. McDonald

Readers Digest


Matius 7:12

Studi tentang Kaidah Kencana

Sebuah studi yang menarik tentang prinsip Kaidah Kencana dilakukan oleh Bernard Rimland, direktur Institute for Child Behavior Research. Rimland menemukan bahwa “Orang-orang yang paling bahagia adalah mereka yang menolong orang-orang lain.” Setiap orang yang terlibat dalam studi tersebut diminta untuk mendaftarkan sepuluh orang yang paling dikenalnya dan menyebut mereka bahagia atau tidak bahagia. Kemudian mereka meneruskan daftar mereka dan menyebutkan setiap orang mementingkan diri sendiri atau tidak mementingkan diri sendiri, memakai definisi berikut untuk mementingkan diri sendiri: suatu kecenderungan yang stabil untuk mengabdikan waktu dan sumber daya seseorang bagi minat-minat pribadi dan kesejahteraannya – tidak mau dirinya menderita ketidaknyamanan untuk orang-orang lain.” (Rimland, ‘The Altruism Paradox,’ Psychological Reports 51 [1982]: 521)

Dalam menggolongkan hasil-hasilnya, Rimland menemukan bahwa semua orang yang disebut bahagia juga disebut tidak mementingkan diri sendiri. Ia menulis bahwa mereka “yang kegiatan-kegiatannya diabdikan untuk membawa kebahagiaan bagi diri mereka kemungkinan jauh kurang bahagia dibandingkan dengan mereka yang usaha-usahanya diabdikan untuk membuat orang lain bahagia” Rimland menyimpulkan: “Perbuatlah terhadap orang lain seperi engkau ingin mereka perbuat kepadamu.” (Ibid, p.522).

Martin & Diedre Bobgan, How To Counsel From Scripture, Moody Press, 1985, p. 123


Matius 7:15

Tanda Seorang Guru Palsu

Dalam Matius 7:15-20, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya tentang guru-guru palsu yang sudah pasti akan muncul; mereka tampaknya tidak berbahaya atau bahkan menarik, namun di dalam mereka itu seperti serigala – ganas, liar dan merusak.

Tanda dari nabi palsu atau guru palsu adalah melayani untuk kepentingan diri sendiri, tidak setia kepada Allah dan kebenarannya. Mungkin ia mengatakan apa seharusnya tidak dikatakan; tapi jauh lebih mungkin ia akan keliru dengan tidak mengatakan apa yang seharusnya ia katakan. Ia akan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan seperti nabi-nabi palsu dalam Perjanjian Lama yang pergi berkeliling mengatakan, “Damai sejahtera! Damai sejahtera!“ ketika tidak ada damai (Yer. 6:14). Mereka tidak mengucapkan kata-kata keras menyerukan untuk bertobat dan juga tidak menasihatkan bahwa Israel tidak rohani. Sebaliknya mereka memberi hiburan tanpa dasar, meninabobokan orang-orang ke dalam rasa aman yang palsu sehingga para pendengar mereka benar-benar tidak siap untuk penghakiman yang akhirnya akan datang kepada mereka.

Ada guru-guru dalam gereja sekarang ini yang tak pernah bicara tentang pertobatan, penyangkalan diri, panggilan untuk menjadi miskin demi Tuhan, atau tuntutan lainnya untuk menjadi murid.

Biasanya mereka populer dan diterima, namun walaupun begitu, mereka adalah nabi-nabi palsu. Kita akan tahu orang-orang semacam itu dari buah-buah mereka. Lihatlah pada orang-orang yang mereka layani. Apakah orang-orang ini benar-benar mengerti dan mengasihi Tuhan? Apakah mereka siap untuk mengambil risiko, bahkan membahayakan hidup mereka, untuk Yesus? Atau apakah mereka merasa nyaman, tidak aktif, dan puas dengan diri sendiri? Jika demikian, mereka menipu diri sendiri, dan mereka yang mendorong penipuan diri itu dengan tidak bertanggung jawab harus menjawabnya.

Siapa saja yang berada dalam suatu posisi kepemimpinan rohani yang gagal untuk mengajar tentang tuntutan yang lebih banyak, kurang nyaman, “pintu yang sempit” dan “jalan yang kasar” dalam pemuridan akan menjadi seorang nabi palsu.

Your Father Loves You by James Packer, Harold Shaw Publishers, 1986, page for September 19


Matius 7:28-29

Silsilah tradisi

Ini tepat merefleksikan tradisi Yahudi, dan tentu saja Islam, kredibilitas dari suatu pepatah, atau sedikit ajaran, tergantung dari silsilah tradisinya. Caranya disampaikan dari mulut ke mulut, sehingga ini bisa ditelusuri kembali sampai kepada orang yang memiliki otoritas besar yang biasanya menjadi asalnya.

Stephen Neill, The Supremacy of Jesus, p. 58


Matius 7:3

Dapatkah Kamu Mendengarku’

Seorang pria mengalami kesulitan berkomunikasi dengan istrinya dan menyimpulkan bahwa istrinya mulai sulit mendengar. Jadi ia memutuskan untuk melakukan tes tanpa diketahui istrinya.

Suatu malam ia duduk di sebuah kursi di sisi ruangan. Punggung istrinya di depannya dan istrinya tidak bisa melihatnya. Dengan sangat perlahan ia berbisik, “Dapatkah kamu mendengarku?” Tidak ada respon.

Dengan bergeser lebih dekat, ia bertanya lagi, “Dapatkah kamu mendengarku sekarang?” Masih juga tidak ada jawaban.

Perlahan-lahan ia semakin dekat dan membisikkan kata-kata yang sama, namun masih tidak ada jawaban.

Akhirnya ia bergeser tepat di belakang kursi istrinya dan berkata, “Dapatkah kamu mendengarku sekarang?” Betapa herannya dan kecewa istrinya menanggapi dengan suara jengkel, “Untuk keempat kalinya, ya, aku dengar?” Ini memperingatkan kita tentang menghakimi!

Our Daily Bread, June 24, 1993

Latihan untuk Siswa

Seorang guru pernah menyuruh sekelompok siswa untuk mencatat, dalam waktu tiga puluh detik, singkatan nama orang yang mereka tidak suka. Beberapa siswa hanya bisa memikirkan satu orang. Lainnya mendaftarkan sebanyak empat belas. Namun fakta yang menarik yang muncul sebagai hasil riset itu adalah mereka yang tidak menyukai jumlah terbesar orang adalah mereka yang paling tidak disukai orang banyak.

Homemade, May, 1989


Matius 7:5

Menahan Sabar

Hal-hal yang seseorang tidak dapat tingkatkan baik dirinya sendiri atau orang-orang lain, seharusnya ia tahan sabar, sampai Tuhan mengatur hal-hal sebaliknya. Bagaimanapun juga, ketika Anda memiliki kesulitan-kesulitan semacam itu, Anda harus berdoa agar Tuhan menolong Anda, dan Anda akan menahannya dengan sabar.

Usaha keras untuk sabar bertahan dengan kekurangan orang-orang lain, apa pun mereka; karena Anda juga memiliki banyak kegagalan yang harus ditanggung orang-orang lain. Jika Anda tidak bisa membuat diri Anda sendiri seperti Anda ingin menjadi, bagaimana bisa Anda mengharapkan orang lain melakukan cara yang sama dengan apa yang Anda sukai? Kita ingin orang-orang lain sempurna, dan meskipun demikian kita tidak mengoreksi kesalahan-kesalahan kita sendiri. Siapa yang akan membiarkan orang lain dikoreksi dengan keras, dan dirinya sendiri tidak dikoreksi. Kita membuat orang lain berada di bawah hukum yang ketat, namun kita tidak ingin dikekang dalam hal apa pun. Dan begitulah kita jarang memperlakukan tetangga dengan ukuran yang sama terhadap diri kita sendiri.

Thomas a’ Kempis

Source unknown


Matius 7:6

Orang Agnostik

Seorang ilmuwan agnostik pernah bertanya pada penulis Dotrothy Sayers untuk menulis sepucuk surat pada organisasi sains-nya menjelaskan alasan-alasannya untuk mempercayai iman Kristen. Surat balasannya sama sekali tidak seperti yang diharapkan ilmuwan tersebut. Surat itu berbunyi:

“Mengapa Anda menginginkan surat dari saya? Mengapa Anda tidak mau repot mencari tahu untuk diri Anda sendiri Kekristenan itu seperti apa? Anda membuang waktu untuk mempelajari istilah-istilah teknis mengenai kelistrikan. Mengapa Anda tidak lakukan itu untuk teologi? Mengapa Anda menerima bidat-bidat kuno sebagai bahasa gereja, ketika buku pegangan apa pun dari sejarah gereja akan memberitahu Anda dari mana asalnya? Mengapa Anda menolak keras doktrin Tritunggal – Allah, Satu Allah Tiga Pribadi -- begitu saja menerima ketika Einstein memberitahu anda bahwa E=MC2? Saya akui Anda bisa mempraktekkan Kekristenan tanpa mengetahui banyak teologi, sama seperti Anda bisa menyetir sebuan mobil tanpa tahu banyak tentang pembakaran di dalamnya. Tetapi ketika sesuatu tidak beres di mobil itu, Anda dengan rendah hati pergi ke montir yang mengerti; jika ada sesuatu yang salah mengenai agama, Anda begitu saja melemparkan karya-karya itu dan mengatakan bahwa ahli teologia itu seorang pendusta. Mengapa Anda menginginkan surat dari saya? Anda tak pernah bersusah-susah untuk memeriksa atau menemukan apakah saya memberikan Anda pendapat pribadi atau doktrin-doktrin Kristen. Pergilah dan lakukan pekerjaan Anda sendiri dan biarkan saya melakukan pekerjaan saya.”

From God Still Speaks in the Space Age, quoted in Connexions, a publication of Search Ministries, Vol. 1, no. 6, June 1988, p. 19-20


Matius 9:35-8

Apa yang Kita Lihat Membuat Perbedaan

Ada perbedaan apa yang kita lihat ketika kita bandingkan dengan orang-orang lain.

Matius menceritakan bagaimana Yesus telah “berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan” (9:35 NASV).

Dan kemudian Matius membuat pengamatan yang teliti:

“Melihat orang banyak itu , tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (9:36-38)

  • Yesus melihar orang banyak. Murid-murid melihat orang banyak.
  • Yesus melihat domba-domba yang tidak bergembala. Murid-murid melihat orang banyak.
  • Yesus melihat tuaian. Murid-murid hanya melihat orang banyak.

Ada lebih banyak orang Kristen sekarang ini daripada sebelumnya dalam sejarah. Ada lebih banyak orang yang belum pernah mendengar Kristus dalam istilah-istilah budaya yang bisa dimengerti daripada sebelumnya dalam sejarah. Ada lebih banyak orang di dunia daripada sebelumnya dalam sejarah.

Penduduk dunia diperkirakan berjumlah 4,5 milyar orang. Untuk mengerti sesuatu tentang luasnya jumlah tersebut, Ronald Blue, menulis dalam Bibliotheca Sacra, menyarankan bahwa kita memikirkan 1 milyar itu dalam kerangka waktu:

“Satu milyar hari yang lalu bumi mungkin belum diciptakan. Satu milyar jam yang lalu Kejadian belum ditulis. Satu milyar menit yang lalu Kristus masih berada di bumi.”

Dari 4,5 milyar penduduk bumi sekarang ini, Walbert Buhlmann, dalam The Coming of the Third Church, memperkirakan bahwa sepertiga menyebut diri mereka Kristen, sepertiga tidak menanggapi Injil dan sisanya sepertiga tak pernah mendengar nama Kristus.

Ada jutaan orang yang bisa mendengar Injil jika gereja di seluruh dunia mau menjangkau dalam wilayah geografisnya, bahasa dan budaya masyarakatnya. Tapi lebih dari setengah penduduk dunia akan mendengar Kristus hanya ketika gereja mengatasi hambatan bahasa dan budaya untuk memperkenalkan Dia.

Sumber tak dikenal

Report Inappropriate Ad