Where the world comes to study the Bible

BAGIAN PERTAMA: RENCANA TUHAN YANG SEMPURNA

Bab 1:
Rencana Permainan

Ahli manajemen mengatakan pada kita tentang pentingnya perencanaan hidup. “Tentukan Tujuan anda sendiri,” kata mereka. “Putuskan anda ingin jadi apa dan apa yang ingin anda lakukan satu tahun dari sekarang, 5 tahun dari sekarang, 10 tahun dari sekarang. Petakan suatu rencana untuk kesana dari sini, dan mulai menjalankan rencana itu dengan tekun.”

Mereka bahkan mengusulkan agar rencana kita sampai kejadwal kita sehari-hari, sehingga hal yang kita lakukan hari itu akan berkaitan dengan pencapaian tujuan utama kita. Kata mereka, setiap hari kita harus membuat daftar hal yang kita ingin capai dalam urutan prioritas, kemudian usahakan apa yang ada didaftar itu. “Rencanakan pekerjaan anda dan kerjakan rencana anda” merupakan kalimat yang digunakan untuk mendorong kita. Diikuti oleh peringatan penting: “Gagal merencanakan yaitu merencanankan kegagalan.”

Sebagian besar dari kita ingin berhasil dalam setiap tindakan kita. Kita menikmati rasa hormat yang ada saat berhasil dan rasa kepuasan yang menemani keberhasilan. Kita bisa mendengarkan para ahli, merencanakan hidup kita, menjalankan apa yang direncanakan, dan tetap gagal. Kenapa? Karena bagi anak Tuhan ada factor lain yang dipertimbangkan: Tuhan juga memiliki rencana bagi hidup kita.

Keberhasilan sejati dari sudut pandang Tuhan hanya bisa dicapai kalau kita mengikuti rencanaNya daripada rencana kita.

Kita mungkin mencapai setiap tujuan yang kita buat bagi diri kita, dan kita mungkin menerima penghormatan dari semua teman kita dan rasa hormat dari rekan kerja kita, tapi tetap merasa ada kekosongan dalam diri kita jika kita tidak menghiraukan rencana Tuhan.

Anda bisa lihat, Tuhan menyelamatkan kita agar kita mengetahui dan melakukan kehendakNya. Dalam pesannya bagi sorang petobat baru bernama Saulus dari Tarsus, Ananias berkata, “Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya.”1 Paulus dipilih oleh Tuhan untuk bisa mengerti dan menjalankan kehendakNya. Dia menjalani seluruh kehidupannya dengan sadar mentaati rencana Tuhan bagi dirinya.

Kesadaran itu membuat perbedaan besar. Sekitar 25 tahun setelah pertobatannya, saat menghadapi penganiayaan yang berat, Paulus dengan yakin berkata, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”2 Kata “jalur” digunakan dalam perlombaan lari untuk diikuti oleh pelari, rencana perlombaan yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh para juri. Keinginan Paulus yang terbesar adalah mengikuti jalur Tuhan dalam hidupnya.

Dia memang melakukannya. Saat akhir hidupnya dia merenungkan kembali hidupnya yang lalu sebagai orang percaya dan berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”3 Dan dia menggunakan kata yang sama ditahun sebelumnya. Dia menulis saat itu, mendekati kematian dalam penjara Roma. Dia akan menjadi martir karena imannya. Tapi kehidupannya berhasil; dia memiliki sukacita penuh dan rasa puas karena dia telah menyelesaikan jalur yang Tuhan bentangkan baginya. Dia telah melaksanakan kehendak Tuhan.

Sebagian akan berkata, “Tunggu sebentar; itu Paulus seorang yang luar biasa. Pastilah Tuhan memiliki rencana bagi hidupnya, tapi bagaimana dengan saya?” Baiklah, langsung saja. Tuhan juga memiliki rencana bagi hidup anda. Sampai anda yakin Dia memilikinya, anda tetap akan menjalankan rencana anda dan memilih jalan anda sendiri. Dan suatu hari anda melihat kebelakang dan berkata, “Yah, inilah saya, ditempat saya seharusnya. Tapi kenapa saya merasa kosong?”

Jadi kita harus membangun konsep Alkitab ini sebelum kita berjalan lebih jauh yaitu: Tuhan memiliki rencana bagi hidup anda.

    Terlalu Baik untuk jadi Kenyataan?

Prinsip ini paling jelas dinyatakan dalam ayat ini: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”4 Tidak ada keraguan tentang bagaimana kita diselamatkan. Kita adalah karya Allah; kita ciptaan baru dalam Kristus Yesus melalui karya regenerasi dari RohNya.5 Dia melakukannya dari anugrahnya. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”6 Tapi ada satu alasan penting kenapa Tuhan melahir barukan kita dalam Kristus Yesus. Agar kita melakukan pekerjaan baik.

“Jadi bagaiman?” anda mungkin bertanya. “Bukankah setiap orang seharusnya melakukan pekerjaan baik? Jadi apa istimewanya?”

Keistimewaan dari pekerjaan baik yang Tuhan ingin setiap kita lakukan adalah mereka dipilih Tuhan sebelumnya. Mereka “dipersiapkan sebelumnya” artinya, mereka direncanakan oleh Tuhan bahkan sebelum kita dilahirkan. Dan sekarang tanggung jawab kita adalah menjalankan pekerjaan baik apa yang Tuhan bentangkan bagi kita sejak lama sebelumnya.

Saat seorang pelatih bola bersiap untuk pertandingan penting, dia membentangkan apa yang disebut rencana permainan, strategi untuk pertandingan. Sebelum pertandingan dimulai dia mengetahui dengan tepat apa yang mau dia lakukan terhadap pemainnya dan bagaimana mereka berespon terhadap situasi tertentu. Mereka bisa memilih strategi lain, tapi pelatih tahu kalau mereka akan bertanding dengan baik jika mereka mengikuti rencana permainan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Demikian juga, ada banyak rencana yang bisa kita pilih untuk hidup kita, kita menjalankan banyak arah yang berbeda. Tapi hanya satu rencana yang menyediakan kesempatan untuk melakukan semua pekerjaan baik dari pelatih Ilahi untuk kita capai.

Hanya ada satu jalan yang membawa kita berhubungan dengan semua orang yang Dia inginkan kita temui dan pengaruhi. Hanya ada satu arah dalam segala keadaan untuk membentuk dan memperkaya hidup kita. Kita berfungsi dengan baik saat kita tetap pada rencana permainanNya, saat kita berjalan dijalur yang dipaparkan didepan kita dan melakukan semua hal yang telah Dia rencanakan bagi kita sebelumnya.

Sebagian orang Kristen yakin kalau mereka terlalu kecil dan tidak penting bagi Tuhan sehingga Dia tertarik pada mereka. “Orang seperti Paulus, pasti. Tapi saya? Tidak mungkin!” Apakah anda tidak sadar apa yang Tuhan katakana dalam bagian ini? Setiap kita sangat penting bagiNya sehingga Dia membuat suatu rencana bagi setiap hidup sebelum kita lahir. Untuk memikirkan bahwa dia begitu memperhatikan kita hampir terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Dan itu bukan hanya bagian tertentu dalam Alkitab. Mari kita melihat bagian lainnya.

Daud berkata, “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya!”7 Konteks itu meyakinkan kita bawa saat kita masih dalam kandungan ibu kita, Tuhan sudah memperhatikan, membimbing perkembangan kita.8 Tapi yang sangat menarik adalah Dia sudah mengetahui semua hari-hari didepan kita. Sebelum saat kita pertama kali melihat cahaya, dia telah membuat arah dalam hidup kita yang Dia ingin kita jalankan dan peristiwa yang Dia ingin mengisi hari-hari kita.

Lihat kembali dalam Mazmur. “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya.”9 Jalur hidup orang percaya telah ditetapkan oleh Tuhan. Dan suatu kesukacitaan besar bagi Tuhan saat kita mengikuti rencana yang sudah diaturNya bagi kita. Hidup kita berkenan padaNya. Apakah masih ada keraguan dalam pikiran anda? Tuhan memiliki rencana bagi setiap orang percaya. Dia memiliki rencana bagi anda.

    Suatu Urutan Kesaksian

Pemaparan kenyataan sederhana ini cukup untuk meyakinkan kita, tapi ada bukti lebih lanjut. Tuhan memberi kita suatu contoh hidup yang menakjubkan untuk menyatukan kebenaran ini dengan jiwa kita. Setiap bagian Alkitab yang menunjuk pada seseorang yang melakukan kehendak Tuhan meneguhkan kembali kenyataan bahwa Tuhan benar-benar memiliki rencana bagi dia, suatu rencana untuk ditaatinya. Ada banyak contoh seperti itu dalam Alkitab, yang akan kita lihat dalam bab-bab berikut. Kita akan melihat beberapa yang luar biasa.

Pertama adalah Yesaya. Dimana tidak ada keraguan bahwa nubut nabi Yesaya tentang Pelayan Yehova menunjuk pada Tuhan Yesus Kristus, Yesaua mungkin berbicara dari pengalamannya sendiri saat dia berkata: “Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku…… Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya--maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku.”10

Tuhan memanggil Yesaya untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu. Dia membentuk Yesaya sejak dari kandungan ibunya untuk melakukan misi khusus, yaitu menyadarkan orang Israel kembali kepada Tuhan.. Tuhan meyakinkan Yesaya kalau Dia akan memberikannya kebutuhan yang diperlukan dalam tugasnya. Tuhan memiliki rencana dalam hidup Yesaya.

Kita akan melihat salah seorang nabi besar lainnya. Perhatikan perkataan Tuhan kepada Yeremia. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”11 Yeremiah menolaknya. “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda”12

Kita seringkali melakukan hal yang sama saat kita mendapatkan rencana Tuhan bagi kita. “Siapa saya Tuhan? Engkau pasti salah orang. Saya tidak bisa melakukan itu.” Tapi Tuhan memiliki jawaban. “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.……Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.”13

Yeremiah seringkali harus melihat kebelakang saat dia pertama kali belajar tentang rencana Tuhan bagi dirinya. Orang yang dia layani mencemooh dia, menolak pesannya, menyebarkan fitnah tentang dia, membuang dia kedalam penjara, dan menghancurkan hatinya dengan pemberontakan dan dosa mereka. Cukup sudah penindas Yeremia. Sebagian kecil dari kita yang ingat nama mereka walau hanya membaca sekilas. Tapi nama Yeremia disebut dengan hormat karena dia mengikuti rencana Tuhan dalam hidupnya.

Mari kita kembali ke rasul Paulus sebentar. Kita melihat kalau Tuhan menyelamatkan Paulus untuk melakukan kehendakNya, tapi ada bukti lebih lanjut bahwa Tuhan telah meletakan jalur hidupnya sebelum dia lahir. Ini penjelasannya: “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia14

Sebelum Paulus menghembuskan nafas pertamanya, Tuhan sudah merencanakan pemenjaraannya untuk pemberitaan injil bagi dunia non Yahudi. Misi Ilahi itu memberikan dia kepercayaan diri dan keberanian diseluruh kehidupan pelayanan dan sebagai orang Kristen. Dalam 5 suratnya dia memperkenalkan dirinya sebagai rasul Yesus Kristus oleh kehendak Tuhan.15 Dia tahu kalau sudah melakukan sesuai dengan keinginan Tuhan. Dia telah memenuhi rencana Tuhan dalam hidupnya.

Bagaimana bisa kita bicara tentang rencana hidup tanpa membahas tentang Anak Tuhan dibumi? Rencana Bapa untuk kehidupan Yesus jelas sudah ditetapkan sebelum dunia dijadikan,16 dan detil rencananya memenuhi kitab dalam PL. Disuatu peristiwa Yesus berkata, “segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.”17 Itu semua harus digenapi. Itu semua merupakan bagian dari rencana Bapa, dan Kristus datang untuk melakukan kehendak Bapa. Dia dengan yakin berkata, “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.”18 Melakukan kehendak Bapa merupakan sukacita dan kebahagiaan terbesar. Bagi Dia itu lebih penting daripada makanan.

Apakah anda ingat peristiwa sumur Yakub di Sikar? Para murid baru kembali dari kota dengan perbekalan, dan mereka mendesak Guru mereka yang sudah lapar dan lelah itu untuk makan. “Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”19 Saat mereka mendesakNya lebih jauh, DIa menjelaskan pernyataannya. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”20

Menyelesaikan pekerjaan BapaNya, mengikuti rencana Bapanya, memenuhi tujuan BapaNya—merupakan tujuan tertinggi Kristus. Penulis Ibrani menyatakan perasaan Juruselamat seperti berikut: “Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.’”21

Tapi sekali lagi, kita bicara tentang para nabi dan rasul dan diatas semuanya Anak Allah sendiri. Apakah disana tidak ada orang kecil yang menjadi teladan—orang tidak berarti seperti kita?

Bagaimana dengan pengemis tak dikenal yang bahkan tidak bisa melihat? Jika Tuhan memiliki suatu rencana bagi hidupnya, apakah anda merasa Tuhan lebih tertarik memiliki rencana bagi hidup anda? Orang ini dilahirkan buta, dan pemimpin agama pada masanya selalu meyalahkan hal seperti ini sebagai dosa. Jadi ketika Yesus dan muridNya meliha dia, para murid bertanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”22

Inilah jawaban Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”23 Tuhan mengijinkan orang itu mengalami tahun – tahun tidak bisa melihat agar saatnya tiba dia tidak hanya mendapat penglihatannya kembali tapi juga disingkirkannya kebutaan rohaninya dari jiwa serta menyediakan kesaksian bagi yang lain tentang pribadi dan kuasa Yesus Kristus. Itu merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk hidupnya. Dan setelah dia mengalami sukacita mengenal Kristus dan kebebasan dari pengampunan dosa, menurut saya dia pasti tidak menyesali tahun-tahun kebutaannya.

    Tidak Ada Orang Lain Seperti Anda

Jika Tuhan memiliki suatu rencana bagi pengemis buta, Dia pasti memiliki rencana bagi anda. Dan saya bisa meyakinkan anda bahwa rencanaNya adalah membentuk anda agar siap secara pribadi. Tidak ada yang seperti itu. Dan karena itu untuk anda, maka itu adalah rencana terbaik yang bisa anda ikuti.

Anda bisa lihat, Tuhan tidak pernah membuat manusia persis sama. Anda unik dan berbeda dari seluruh ciptaan lain. Dan karena Dia yang menciptakan anda, hanya Dia yang mengenal anda secara sempurna dan lengkap. Dia lebih mengenal anda dari diri anda sendiri. Maka dari itu, Dia satu-satunya yang bisa merencanakan hidup anda dengan menggunakan seluruh potensi maksimum anda.

Tuhan tahu kelebihan dan kekurangan anda. “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.”24 Dia tahu beberapa hal yang mungkin anda pikir sebagai kelebihan sebenarnya kelemahan, dan sebagian hal yang anda pikir kekurangan bisa dipakainya dengan sangat luarbiasa. Karena Dia yang menciptakan anda, Dia membangun rencana yang sesuai dengan kepribadian dan kemampuan anda. Rencannya lebih baik dari semua hal yang bisa anda rencanakan. Sebenarnya, rencanaNya sempurna. Itulah yang dikatakan Paulus: “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”25

Dia tidak hanya mengenal anda; dia juga mengetahui masa depan. Sebagian besar kita ingin hidup kita berjalan dengan baik, dan kita tahu bahwa keputusan yang kita buat akan berdampak pada hal itu. Kita juga ingin suatu yang baik bagi orang yang kita kasihi, dan kita tahu keputusan kita akan berdampak pada mereka. Jadi kita membuat rencana dan pilihan kita atas dasar apa yang terbaik bagi semua hal diatas. Tapi sayangnya kita tidak selalu tahu apa yang terbaik karena kita tidak mengetahui masa depan. Seperti kata Yeremia, “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.”26

Kita betul-betul tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi kemudian. Tapi Tuhan tahu. Dia mengenal kita dan dia mengetahui semua akibat pilihan yang kita buat. Jadi tidak masuk akal selain memilih rencanaNya. Itulah satu-satunya cara yang kita tahu pasti akan berjalan baik.

Jika anda berjalan melalui hutan rimba yang berbahaya dan tidak tahu dimana anda berada atau kemana anda harus melangkah, anda pasti bodoh kalau anda lari dari pembimbing anda dan coba menjalani jalan anda sendiri. Dia yang tahu jalannya. Dia bisa membimbing anda dengan aman. Seperti diatas, lebih bodoh lagi kalau anda mencoba membuat jalur sendiri dalam hidup kita. Pembimbing Ilahi kita mengetahui jalannya. Jalani rencanaNya akan membawa keberhasialan dan kepuasan bagi kita dan kemuliaan bagiNya.

Bab 2:
Seluruh Jalan Anda

Keputusan, keputusan dan keputusan—hidup dipenuhi dengan keputusan. Hanya sedikit hal yang lebih membuat frustrasi dari banyaknya pertanyaan yang membutuhkan keputusan. Itu semua langsung dimulai saat anda membuka mata dan meletakan kaki anda dipagi hari. Baju apa yang akan dipakai? Apa makan pagi anda? Apakah anda harus membuat makan pagi bagi anak-anak anda atau hanya memberikan uang untuk membeli makan pagi mereka? (anda tidak suka membuatnya dan anda tidak punya uang untuk membelinya setiap hari.)

Apakah anda harus mengendarai mobil atau naik bus? Jika anda mengemudi, apakah anda mengijinkan tetangga anda bersama anda atau sendirian saja ? (anda butuh uang mobil tapi anda tidak mau membuang waktu dikemacetan dan mengantar dia serta menjemputnya kembali setelah bekerja.) Apakah anda harus menerima undangan makan malam untuk besok malam—merupakan hal yang sudah anda tunggu lama—atau anda pergi keopen house sekolah anak anda?

Dan orang muda tidak luput dari pergumulan pengambilan keputusan setiap hari. Jack mencoba memutuskan apakah dia akan mengundang Jeannie atau Joannie kepesta. Jeannie berpikir apakah dia menerima undangan Jack atau menunggu yang lain. Semakin lama keputusan semakin sulit. Apakah anda akan kencan kembali dan semakin serius? Apakah anda pasangan hidupnya ? apakah anda berencana menikahinya?

Ada juga masalah pendidikan. Jalur apa yang ingin anda ambil di sekolah menengah? Kalau sudah, dimana? Apa konsentrasi pelajarannya? Panggilan hidup apa yang harus anda persiapkan? Bagaimana anda mencari pekerjaan? Dimana anda akan hidup? Bagaimana dengan kemungkinan karir dipelayanan Kristen? Sebagian keputusan penting kita buat saat kita diawal 20-an.

Kemudian saat kita berpikir semua sudah baik dan semua keputusan penting sudah dibuat, tiba-tiba kita menghadapi hal-hal seperti membeli rumah baru, atau kemungkinan pekerjaan yang berbeda, atau perpindahan konsentrasi pelajaran dinegara lain, atau keputusan bisnis penting dalam hidup kita, atau tentang memiliki anda kembali.

Bukankah baik memiliki seseorang yang bersama dengan kita setiap waktu dan mengetahui hal yang tepat untuk dilakukan disetiap situasi dan yang bisa mengatakan keputusan apa yang harus kita ambil? Ya, kita punya! Dia tidak membisikan telinga kita dan berkata, “jangan beli mobil itu; itu sudah rusak,” atua Dia berteriak, “bergabung dengan gereja itu; itu yang terbaik dikota.” Tapi Dia disana, dan Dia memperhatikan setiap detil kehidupan kita, dan Dia ingin memberikan nasihat tentang apapun yang kita mau.

    Siapa yang Berwenang Disini?

Hampir setiap orang mencari bimbingan, dan ada banyak tempat yang bisa menolong dalam dunia ini. Ada horoscopes, peramal nasib, pembaca tangan, dan perantara roh—semuanya dikutuk Alkitab.27 Ada juga pusat konseling professional dan bimbingan klinik, sebagian menolong sebagian lagi tidak.

Baik untuk mengetahui bahwa sumber utama bimbingan orang Kristen adalah Tuhan yang tidak hanya mengetahui masa depan tapi bisa melakukan sesuatu terhadap masa depan. Sebenarnya, kata Alkitab kita hidup dalam dunia milikNya. Dia menciptakannya, dia membentuk, mengaturnya, dia tertarik dengan semua didalamnya, dan dia mengontrol semua kejadian dalamnya.

Rasul Paulus memberikan kita pandangan tentang kebenaran Tuhan saat dia menyatakannya sebagai “The Apostle Paul gave us a profound insight into this magnificent truth about God when he referred to him as the one “yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.”28 Dua kata dalam ayat ini membantu kita mengerti subjek kehendak Tuhan. Pertama adalah counsel (boule„). Kata boule„ menunjuk pada suatu pertimbangan hati-hati dari suatu rencana dan tujuan. Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi kehendak Tuhan, disain atau keputusan kedaulatanNya. Karena dia Tuhan, Dia tidak bisa dikalahkan. Dan Paulus berkata bahwa Tuhan terus bekerja dialam ini kearah pencapaian rencanaNya. Dia akan menggunakan semua yang terjadi untuk memenuhi tujuanNya.29 Tujuan itu tidak berubah30 dan tidak tertahankan.31 Sebagai contoh, Tuhan pasti mengalahkan setan, menghancurkan dosa, membangun pemerintahaan kebenarannya diatas bumu, dan dimuliakan oleh umatnya selama kekekalan. Tidak ada yang bisa menghentikan Dia.

Tapi Paulus berkata kalau keputusan Tuhan datang dari kehendaknya. Dia menyebutnya “keputusan kehendaknya” (thele„ma), suatu kata yang umum digunakan untuk menunjuk pada keinginan Tuhan, apa yang dimauiNya, kehendakNya. Thele„ma merupakan kata umum bagi kehendak Tuhan dalam PB. Penting untuk dimengerti bahwa itu tidak hanya berhubungan dengan keputusan, seperti kata sebelumnya, tapi keinginannya untuk kita, apa yang dia inginkan untuk kita. Saat kita bicara tentang kehendak Tuhan atau rencana Tuhan bagi hidup kita, kita umumnya menunjuk pada apa yang dia ingin kita lakukan, bukan apa yang dia sudah putuskan kita lakukan. “Rencana Tuhan” bisa berarti keputusan kehendakNya, tidak bisa ditolak, maksud utamaNya; Tapi itu juga bisa menunjuk pada desireNya pada kita, dan karena itulah kita menggunakan kata “Rencana Tuhan” dalam buku ini.

Sementara Tuhan akan bekerja disetiap kesempatan untuk memenuhi tujuanNya dan setiap keputusannya berasal dari kehendakNya, dia tidak langsung menyelesaikan keinginannya. Dia tidak memaksa keinginanNya pada kita, juga Dia melanggar keinginanNya sendiri saat mencipta kita.

Singkatnya, Tuhan ingin semua diselamatkan. Itulah keinginan kehendakNya. Dia mengatakan demikian.32 Tapi Dia tidak ingin memaksa setiap orang untuk menerima tawaran pengampunan dan hidup. Sebagian besar akan menolak sehingga binasa selamanya.33

Lebih jauh, Tuhan ingin semua orang percaya menjalankan harapanNya bagi hidup mereka, untuk menemukan dan mengikuti rencanaNya bagi mereka, dan Dia mengatur keadaan kita sehingga menolong kita untuk melakukan kehendakNya. Tapi Dia tidak pernah memaksakan itu pada kita. Itu tetap merupakan keputusan kita. Kita bisa membuang kehendakNya jika kita mau.

Dan karena sebagian besar orang percaya dan tidak menolak kehendak Tuhan dan menolak rencanaNya, ada banyak kesakitan dan penderitaan dalam dunia. Kita tidak hanya merasakan pemberontakan kita, tapi sering juga hasil menyebarnya dosa individu dan bangsa lain.

Tapi dari semua itu satu kebenaran tetap berdiri: Tuhan akan menggunakan “semua hal”—setiap keadaan baik senang atau tidak, setiap detil kehidupan seseorang, setiap tindakan semua bangsa dibumi, setiap dosa ketidaktaatan, semuanya—untuk mencapai tujuanNya. Tuhan kita mengatur segalanya.

    Jadi Warna Kaos Kaki Apa yang Harus Saya Pakai?

Jika Tuhan adalah Tuhan “segala sesuatu,” maka logis kalau dia memperhatikan setiap hal dalam hidup kita. Dengan kata lain, rencanaNya bagi kita sampai kedetil kehidupan sehari-hari. Itu merupakan konsep baru bagi sebagian orang dan biasanya membuat perdebatan sengit. “Apakah anda ingin mengatakan bahwa Tuhan peduli terhadap warna kaos kaki yang saya pakai setiap pagi?” Itulah yang saya maksud. Tapi tunggu sebentar! Jangan buang buku ini dulu. Dengar saya dulu. Dan mulai melihat pada Firman Tuhan. Buktinya sangat banyak.

“TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.”34 Tuhan sama tertariknya terhadap hal kecil dan tidak penting saat kita keluar dan masuk, Dia juga mengawasi kita sebaliknya. Seperti pemazmur katakana,” Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.”35

Tuhan peduli saat kita duduk dan saat kita berdiri, dan bukankah itu hal biasa dalam hidup? Saat kita berjalan dia disamping kita setiap langkah, dan dia peduli saat kita berhenti dan setiap kata yang kita keluarkan. Ayub berkata bahwa Dia bahkan menghitung langkah kita.36 Nabi Yesaya berkata: “dan Tuhan akan terus membimbing engkau.”37 BimbinganNya tersedia setiap waktu untuk apapun.

Dengar kata Tuhan Yesus: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”38

Jika Tuhan peduli pada hidup burung seduit dua ekor, dia pasti peduli akan detil kehidupanmu. Dia peduli sampai mengetahui setiap helai rambut dikepalamu. Hal itu bisa menjadi masalah mendalam bagi beberapa orang, tapi sebagian orang masuk kedalam kategori umum seperti warna kaos kaki mereka, atau saat mereka akan masak, atau saat mereka akan pergi mencuci mobil mereka. Anda lihat, Tuhan tertarik dalam setiap hal.

Rasul Paulus menambahkan kesaksiannya. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”39 Paulus yakin kita tahu hal ini, tapi saya temukan tidak semua orang Kristen tahu. Mereka percaya bahwa ada keadaan dalam hidup mereka dimana Tuhan tidak mengatur, bahwa Dia tidak peduli terhadap keadaan mereka yang sukar. Bahwa Tuhan akan membuat segalanya mendatangkan kebaikan terlihat jauh dalam pikiran mereka. Tapi dia bisa, dan Dia mau, dan itu berlaku untuk “semua hal”—setiap hal kecil dalam hidup kita.

“Baiklah, saya percaya,” kata anda. “Saya percaya Tuhan tertarik terhadap setiap detil kehidupan saya. Sekarang apakah itu berarti saya perlu kuatir tentang pasangan kaos kaki mana yang Dia inginkan saya pakai pagi ini?”

Tidak, tentu tidak. Itu akan menjadi tekanan dan penindasan. Tuhan tidak ingin kita khawatir tentang apapun. Dia ingin kita hidup dalam sukacita kebebasan dari Roh Kudus. Menganggap kita harus menjalankan rencana Tuhan disetiap hal non moral akan membawa kita kesuatu halangan, dan sebagian orang mengambil jalur ini sampai kepada kehancuran emosi. Tuhan mengijinkan kita memilih pilihan kita dalam kerangka seperti diatas. Dia senang memasukan kebebasan memilih ini dalam rencanaNya bagi kita.

Kemudian apa dampak rencana Tuhan?

    Kebijakan Pintu Terbuka

Biarlah Salomo menjelaskannya. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”40

Lihat kembali kata-kata dalam janji itu: “Akuilah Dia dalam setiap lakumu.” Kita sering melewatkan bagian itu sehingga kita kehilangan hal yang penting. Mengakui Dia secara literal berarti memperhatikan dia, sadar akan kehadiranNya, sadar bahwa Dia ada disana bersama dengan kita.

Dan seberapa sering kita menyadari kedekatan Tuhan? Dalam setiap laku kita, setiap tindakan kita dalam hidup, baik kecil maupun besar. Tuhan ingin kita mengingat Dia disetiap waktu, dalam setiap hal. Jadi bukan masalah khawatir tentang apa yang dia ingin kita lakukan. Itu hanya suatu kesadaran terus menerus bahwa Tuhan yang kekal hidup dalam tubuh kita melalui RohNya, sehingga Dia tertarik dengan setiap detil hidup kita, dan Dia ingin mengatur kita sepenuhnya. Dari titik itu, bimbingan dijamin. Dia berjanji akan membimbing langkah kita.

Seumpama anda tidak bisa mengambil keputusan tentang baju mana yang akan anda pakai pagi hari. Apa yang harus anda lakukan? Saya akan menganjurkan agar anda menyampaikannya pada Teman anda—yang bersama anda setiap waktu, yang peduli tentang segalanya dalam hidup anda, yang berjanji memberikan saran tentang semua hal yang ingin anda ketahui.

Sekarang disini saya bingung. “Maksud anda saya harus mengganggu Tuhan untuk hal bodoh seperti sepasang kaos kaki?” Itulah yang dikatakan Paulus kepada kita. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”41 Bicaralah kepadaNya tentang itu dan Dia akan memberikan kepastian dari dalam.

Kembali perhatikan, berapa banyak hal Tuhan mengundang kita bicara kepadaNya. Setiap hal! Tuhan menerapkan peraturan pintu terbuka. Karena dia ingin kita tidak khawatir tentang keputusan kecil, dia membuat dirinya terbuka setiap waktu bagi kita. Dia siap mendengar dan menolong kita walau hal kecil. Dan dia selalu ada. Dia tidak tertidur.42 Dia ingin kita membiasakan diri membawa masalah kita kepadaNya kapanpun kita mau.

Sebagai tambahan agar anda tidak ragu, Petrus menambahkan kesaksiannya: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”43

Banyak orang Kristen sering berpikir bahwa Tuhan hanya tertarik pada masalah besar dalam hidup kita seperti perkawinan, pekerjaan, dan lokasi. Mereka mencari bimbingan Tuhan saat mereka menghadapi keputusan penting dipersimpangan hidup mereka, tapi tidak mengindahkan Dia setiap waktu.

Kita mungkin melewati peristiwa paling menarik dalam rencana Tuhan bagi hidup kita kecuali kita mengembangkan suatu cara hidup baru, suatu cara pandang yang berkata, “Tuhan, aku mengakui Engkau bahwa Enkau bersama dengan aku dan tertarik dengan setiap hal yang aku lakukan. Apa keinginanMu untuk saya hidupi sekarang ? Bimbing setiap langkahku.”

Dengarkan doa Paulus untuk Kolose. “Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.”44

Doa itu bisa terjawab dalam kehidupan kita seperti dalam mereka. Kita bisa menyenangkan Tuhan dalam segala cara. Setiap menit bisa menyenangkanNya. Akui Dia dalam setiap hal. Berbagi semua hal bersamanya. Biarkan Dia menjadi bagian dari semua tindakan anda. Jika kita berharap menemukan bimbingan Tuhan dalam pilihan sulit hidup, kita perlu mengakui Dia sekarang disaat biasa.

Bab 3:
Dia Akan Menjadi Pembimbing Kita

Domba adalah binatang yang unik—takut, tidak bisa melindungi diri, dan tidak terkenal karena kepintaran mereka. Sebaliknya, mereka bodoh. Mereka tidak tahu kemana mereka harus pergi, mereka tidak tahu apa yang baik bagi mereka, dan mereka berjalan tanpa pikir, menempatkan diri mereka dalam bahaya. Saya membaca tentang sekelompok domba yang masuk jurang, bertumpuk-tumpuk, kepada kematian. Domba jelas memerlukan gembala untuk membimbing mereka.

Bukankah menarik kalau Tuhan menyamakan umatNya dengan domba?45 Itu bukan suatu yang membanggakan, tapi benar. Kita tidak selalu tahu apa yang terbaik bagi kita. Bergantung pada hikmat kita, kita pasti menempatkan diri kita dalam masalah. Kita perlu seorang gembala untuk membimbing kita, dan kita perlu mengetahui keinginannya.

Saat inilah sebagian orang Kristen keluar dari permainan. Mereka percaya Tuhan memiliki rencana bagi hidup mereka dan mereka setuju bahwa rencanaNya termasuk setiap detil hidup kita, tapi mereka tidak yakin kalau Dia mau atau akan mengkomunikasikan rencanaNya dengan mereka. Mereka terlalu lama dalam gelap sehingga mereka berpikir Tuhan dengan sengaja menyembunyikan kehendaknya dari mereka. Atau kehendakNya merupakan suatu yang dalam, rahasia gelap yang hanya sebagian orang Kristen super yang bisa menemukannya. Mungkin karena kita bicara tentang mencari kehendak Tuhan sehingga mereka mendapat pemikiran kalau itu hilang atau tersembunyi atau Tuhan bermain petak umpet surgawi dengan mereka.

Rencana Tuhan bagi hidup kita terlalu penting dibanding kebodohan itu. Dia tidak senang menyulitkan kita. Dia ingin menunjukan kepada kita kehendaknya lebih daripada keinginan kita untuk mengetahuinya. Jika kita belum menemukannya, itu salah kita, bukan Tuhan. Menemukan kehendak Tuhan bukan seperti mencari suatu yang tersembunyi. Itu mengikuti Gembala Ilahi, dan tidak ada yang misterius dengan hal itu.

Kegagalan mengikutinya adalah kebodohan. Itulah maksud Paulus berkata pada jemaat Efesus. “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”46 Kegagalan mengerti rencana Tuhan untuk hidup kita adalah kebodohan, suatu kata yang berarti “tidak punya otak” atau seperti kata kita hari ini, bodoh, tolol.

Jika Tuhan ingin memanggil kita karena kita mengetahui kehendakNya, maka dia pasti menyatakannya itu pada kita. Kita dibawa kekesimpulan yang pasti bahwa kita bisa mengetahui rencana Tuhan dalam hidup kita. Jadi marilah kita melihat beberapa bukti.

    Reputasi Dipertaruhkan

Pertama lihat mazmur terkenal berikut.

TUHAN adalah gembalaku,

takkan kekurangan aku.

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,

Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku.

Ia menuntun aku di jalan yang benar

oleh karena nama-Nya.47

Dalam ayat diatas dua kali disebut tentang bimbingan Gembala. Pertama, “Dia membimbing aku ke air yang tenang”—secara literal, “air ketenangan.” Sisi hidup bisa berbatu-batu, membahayakan, kering, tidak berbuah. Tapi gembala kita mengetahui dimana tempat peristirahatan yang tenang disamping anak sungai yang tenang, menyegarkan, dan kita bisa mempercayakan dia untuk membimbing kita saat kita butuh.

Kedua, “Dia menuntun aku dijalan yang benar oleh karena namaNya.” “Jalan kebenaran” bisa juga berarti “jalur yang benar” atau “jalur kebenaran.” Apapun yang terjadi, alasan dia membimbing kita adalah untuk namaNya. NamaNya berhubungan dengan karakterNya, reputasiNya.

Gembala masa lalu harus membangun reputasi agar dipercaya dan bisa diandalakan. Kalau dia membimbing kawanan domba kejalan yang salah dan menghilangkan mereka, atau membimbing mereka dekat serigala dan kemudian mati, tidak ada pemilik domba yang mempercayakan domba mereka lagi kepada mereka. Dia melakukan pekerjaannya dengan baik untuk reputasinya. Tuhan menjaga reputasi yang sempurna dalam kesetiaanNya membimbing umatnya, dan dia tidak akan menghancurkannya sekarang. Kita bisa percaya pada kehandak rencananya kepada kita. KarakterNya memastikan itu.

Bisakah anda membayangkan seorang gembala, dimana sumber kehidupannya dari menjaga domba itu, mencoba mencuri dan menyembunyikan mereka atau menyesatkan mereka? Itu menggelikan ! Bagaimana kita berpikir seperti itu pada gembala ilahi? Pertimbangkan analogi yang lain. Bisakah anda membayangkan orangtua, yang sedang menantikan kelahiran anak mereka, menolak mengatakan pada mereka apa yang diingikan untuk mereka? Itu menggelikan. Bagaimana kita pikir itu kepada gembala ilahi? Yesus berkata, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya!”48 Kita punya hak mengharapkan pemberian yang baik dari bimbingan Tuhan karena kita anakNya. “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”49 Kita bisa mengetahui kehendak Tuhan bagi hidup kita.

Aspek lain dipertaruhkannya reputasi Tuhan adalah dalam menjawab doa. Seperti yang kita lihat, Paulus berdoa untuk Kolose agar dipenuhi pengetahui akan kehendak Tuhan.50 Epaphras bergabung dalam doa agar mereka “berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah”51 Keduanya dipimpin oleh Roh dalam membuat permohonan itu, karena Paulus diisnpirasi oleh Roh untuk menulisnya bagi kita. Apakah Tuhan menjawab doa kita? Dia menyatakannya.52 Apakah dia menjawab permohonan untuk mengetahui kehendakNya? Pasti. ReputasiNya sebagai Tuhan yang menjawab doa dipertaruhkan.

Anda bisa berdoa dengan yakin seperti pemazmur, “Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.”53 Dan anda bisa mengharapkan jawabanNya.

    Bersandar pada Janji

Jika pernyataan tentang nature Tuhan cukup, ini bukti selanjutnya. Kita tahu bahwa Tuhan akan menunjukan pada kita rencanaNya dalam hidup kita karena dia berkata demikian. Apakah anda percaya pada perkataan Tuhan? Alkitab dipenuhi dengan janji bimbingan ilahi. Mari lihat beberapa..

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”54 Menggunakan 3 kata berbeda untuk meyakinkan kita bahwa Dia akan menyatakan kehendakNya. Dia tidak hanya berkata akan mengajar kita atau membimbing kita, tapi dia akan menasihati kita, berarti dia akan membuat kita mengerti. Sebagian orang percaua Tuhan mampu menyatakan kehendakNya, tapi mereka tidak yakin mereka mampu menerimanya. Tuhan berkata dia akan memampukan kita; Dia akan menolong kita untuk mengerti itu.

Kemudian dia berkata bahwa dia akan menasihati kita dengan matanya tertujua pada kita. Dia akan memberikan kita nasihat sempurna, kemudian dengan lemah lembut mengawasi kita sewaktu kita menjalankannya. Suatu janji yang luar biasa! Kita bodoh jika tidak mengambil tawaran Tuhan.

Itulah yang dimaksud dalam ayat berikut. “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau”55 Saya suka dibandingkan dengan bagal walau lebih memilih domba. Tapi itulah saya jika menolak bimbingan Tuhan.

Berapa lama Tuhan tetap menyatakan kehendakNya? Pemazmur berkata, “Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita!”56 Tidak peduli setua apa kita. Dia tetap membimbing jalan kita sampai akhir hidup.

“baik,” kata anda, “itu waktu yang baik untuk meninggalkan saya—dipintu kematian.” Tapi saat itu Dia tidak meninggalkan kita. “Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan”57 Saat kita ada dalam dunia, Dia membimbing kita langsung kepada kemuliaan kekekalannya. Kita tidak bisa meminta lebih baik dari itu.

Kitab Amsal berisi beberapa janji pimpinan. Sebagai contoh, sebagai tambahan Proverbs 3:6 bahwa Tuhan akan membimbing jalan kita, Salomo membuat penyelidikan yang menarik: “Jalan si pemalas seperti pagar duri, tetapi jalan orang jujur adalah rata.”58 Tuhan menerangi jalan orang percaya dan menunjukan jalannya. Itulah Tuhan kita. Kita bisa bergantung pada kita untuk meratakan jalan kita.

Yesaya bersaksi tentang itu. “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.”59 Anda bisa melihat bahwa Dia Tuhan yang menuntun.

Sebagian tetap berkeras, “Tapi, dia juga membimbing yang lain kejalan yang seharusnya, tapi hidupku terlalu kusut dan membingungkan. Tidak ada harapan bagi saya.” Yesaya punya jawaban bagi anda. “Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan.”60

Tuhan tidak ingin membuat anda tersandung dalam kegelapan. Dia ingin menuntun kita kepada terang. Setan tahu hidup anda akan membawa kemuliaan bagi Tuhan saat anda mengetahui dan melakukan kehendak Tuhan, jadi dia akan menjauhkan anda dari hal itu. Tapi dia tidak bisa berhasil jika anda tidak mengijinkannya. Janji Tuhan tetap: “Aku akan menuntun,” “Aku akan membimbing,” “Aku akan membuat gelap jadi terang.” Percayalah padaNya!

    Tindakan dan Janji

“Janji, janji—itu semua hanya kata-kata,” kata anda. “Saya ingin tindakan.” Selidiki sejarah hubungan Tuhan dengan manusia, dan anda akan melihat gambaran dimana Tuhan menyatakan kehendakNya. Tidak hanya janji, karakterNya yang meyakinkan tapi tindakanNya membuktikan semuanya. Lihat beberapa contoh.

Tidak mudah bagi Abraham untuk meninggalkan ibukotanya di Ur dan pergi ketempat yang belum ditentukan, tapi Tuhan berjanji membimbing dia ketempat yang diinginkanNya.61 Dan Tuhan melakukannya. Saat Abraham mencapai Kanaan, Tuhan membimbing dia kebukit tinggi dan mengundangnya untuk melihat sejauh mungkin disemua arah. Semua yang dilihatnya adalah miliknya. Tuhan telah memberikan itu kepada dia dan keturunannya.62 Dia setia pada janjiNya. Dia membimbing Abraham ketanah perjanjian.

Abraham kemudian mengirim pelayannya sejauh 500 mil untuk mencari calon pendamping Isak. Dan Abraham berjanji kepada pelayan itu bahwa malaikat Tuhan akan menuntun jalannya.63 Orang itu tidak punya bayangan kemana dia harus mencari, tapi Tuhan menuntunny kegadis yang telah dipersiapkan bagi Isak. Dan dia tahu gadis itu yang dipilih. Pelayan itu melaporkan: “Kemudian berlututlah aku dan sujud menyembah TUHAN, serta memuji TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya.”64 Tuhan setia pada janjiNya.

Keturunan Abraham kemudian diperbudak diMesir, tapi Tuhan menyelamatkan mereka dengan luar biasa. Sekarang mereka menghadapi bahaya sepanjang perjalanan. Bagaimana mereka tahu mau kemana? Tuhan berjanji akan menunjukannya, Dan Dia melakukannya. Dia menuntun mereka dengan tiang awan saat terang dan tiang api saat malam.65

Beberapa abad kemudian, mereka ditawan kembali di Babilon. Tapi Tuhan menggerakan hati raja Cyrus untuk melepaskan mereka dan mengembalikan mereka ketanah mereka, dan Tuhan menuntun mereka pulang.

Pemazmur meringkas kesetiaan Tuhan pada bangsa Israel disepanjang sejarah mereka dengan: “Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang. Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,”66

Contoh PL berlimpah. Tapi PL juga memiliki contoh yang luar biasa, Tuhan secara supernatural menuntun seorang pejabat gereja bernama Filipus dari pengabaran injil yang berhasil di Samaria kejalan dipadang gurun dekat Gaza untuk bersaksi kepada orang Etiopia.67 Hanya Tuhan yang tahu dampaknya bagi suatu bangsa. Kita tahu bahwa kekristenan sudah tegak berdiri di Etiopia sejak awal gereja. Itu mungkin hasil dari kesaksian sida-sida itu, dan keterbukaan Filipus terhadap tuntunan Tuhan.

Petrus dituntun, berlawanan dengan keinginannya, untuk bersaksi dirumah prajurit Roma.68 Dan injil Yesus Kristus secara dramatis masuk kedunia non Yahudi. Roh Tuhan kemudian menuntun sekelompok nabi dan pengajar di Antiokia untuk menguduskan Paulus dan Barnabas secara khusus untuk tugas yang telah ditentukan bagi mereka.69 Dan dari saat itu injil Kristus Yesus mulai memasuki dunia yang sebelumnya belum dikenal. Akar dari keselamatan kita bisa dilacak kembali kepernyataan kehendak Tuhan, karena dari situ disebarkan program misi yang sampai membawa injil pada kita.

Dan sekarang Tuhan ingin melanjutkan rencanaNya bagi hidup kita. Kita tidak berbeda dengan rasul Paulus dalam hal ini. Tuhan menyelamatkannya untuk “mengetahui kehendakNya,”70 dan menyelamatkan kita untuk tujuan yang sama. Penulis Ibrani mengatakan bahwa Tuhan bisa “memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”71

Bab 4:
Selangkah demi Selangkah

Kita mengetahui dari Alkitab bahwa Tuhan memiliki rencana dalam hidup kita, termasuk detil kehidupan kita sehari-hari, dan kita bisa mengetahui persisnya hal itu. Kalau baegitu kenap banyak orang Kristen memiliki banyak pertanyaan tentang kehendak Tuhan? Kenapa mereka sulit mengerti kehendak Tuhan dan kenapa mereka kurang yakin akan kehendakNya?

Sebagai seorang pastor, saya mungkin memiliki banyak orang yang bertanya tentang hal ini lebih dari orang lain. Saya menyimpulkan bahwa sebagian orang tidak menemukan kehendak Tuhan karena mereka mencari hal yang salah. Mereka berharap Tuhan menunjukan kepada mereka keseluruhan blueprint bangunan hidup mereka saat Dia mencoba menunjukan pada mereka tempat berikut yang harus dipaku. Mereka mungkin mencari jalan lebar dan lurus saat Tuhan ingin mereka belokan mana yang harus diambil.

Jika pikiran mereka terpaku pada keselurahan gambar, mereka akan melewatkan petunjuk detil yang Tuhan coba berikan pada mereka.

    Lampu di Jalan Tol

Prinsip dasar pertama dari bimbingan Ilahi adalah: Tuhan membimbing kita selangkah demi selangkah. Pemazmur berkata, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya.”72 Bukan suatu kebetulan kalau dia menggunakan kata langkah-langkah untuk menyatakan adanya rencana Tuhan dalam hidup kita. Walau Tuhan memiliki gambar seluruh perjalanan diseluruh waktu, dia menyatakan perjalanan itu sebagai suatu urutan langkah, dan itulah cara Tuhan memberitahu kita.

Prinsip dasar bimbingan ini digambarkan dalam mazmur lainnya: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”73 Dulu orang yang melakukan perjalanan dimalam hari membawa lampu. Sewaktu dia berjalan, mengayunkan lampu itu kedepan, dia bisa melihat batu-batu dan bekas roda didepannya, sehingga dia bisa menghindarinya. Kadang kala dia mengikat lampu minyak kecil dikakinya sehingga menerangi jalan didepannya, selangkah demi selangkah, saat dia berjalan. Begitulah cara Tuhan menggunakan FirmanNya menuntun kita. Dia tidak menjanjikan sinar besar yang menerangi jalan satu mil kedepan. Dia berjanji ada lampu dikaki kita, cukup terang untuk menerangi langkah kita yang berikut.

Mungkin ilustrasinya lebih bisa dimengerti jika dalam dunia sekarang ini dengan mengendarai mobil saat malam hari. Lampu didepan mobil tidak menerangi bahaya satu mil didepan. Itu hanya membuka sudut jalan berikutnya saja. Tuhan tahu kalau kita melihat terlalu jauh dalam hidup kita. Jika Dia menunjukan seluruh rencanaNya, kita mungkin memutuskan untuk tidak mengikuti rencana itu. Itu mungkin melibatkan lebih banyak pengorbanan dari yang kita inginkan saat itu, atau mungkin terlihat terlalu sulit bagi kita untuk menghadapinya dengan tingkat pertumbuhan rohani saat itu.

Jika Tuhan mengatakan Tuhan berkata pada saya saat disekolah kalau saya suatu hari akan menjadi pastor digereja besar dan mengajar ribuan orang setiap Minggu, Saya mungkin tertawa dan berkata, “Tuhan lebih baik mencari orang yang lebih baik untuk rencana itu, menyuruh orang lain lebih baik dari kepribadian dan tempramen saya.” Saya akan menggeleng dan masuk kedalam kelas. Tapi sekarang saya melayani Firman Tuhan bagi hati-hati yang lapar.

Jika Tuhan telah mengatakan rencananya untuk pindah dari gereja di Texas ke Alabama yang ada perpecahan dan mulai suatu jemaat baru, saya mungkin berkata, “Tidak Tuhan. Saya tidak percaya saya mampu untuk itu. Saya akan tinggal disini dan menunggu kesempatan lain.” Tapi sekarang saat saya melihat kembali pengalaman itu, saya tidak mau menukarnya dengan apapun juga. Itu menguatkan iman saya kepada kedaulatan Tuhan terhadap semua hal. Tapi saya juga mengatakan dengan keyakinan bahwa saya bersyukur saya tidak tahu kemana jalan ini mengarah saat saya melangkah ke Alabama.

Sebagian langkah merupakan langkah yang panjang. Satu keputusan bisa membuat kita berjalan satu tahun kedepan mungkin seumur hidup. Tapi betapa besarnya itu, tetap satu langkah. Dan itu akan diikuti oleh beberapa langkah kecil lainnya bersama dengan gembala Ilahi hari demi hari. Jika kita melihat kelangkah berikut kita menemukan diri kita dalam gelap lagi.

Umat Israel dituntun melalui padang belantara dari hari kehari. Mereka mengikuti bimbingan tiang dari Tuhan kemanapun itu pergi. Saat itu bergerak, mereka bergerak. Saat itu berhenti, mereka menyiapkan kemah. Jika itu menetap selama satu hari, mereka tinggal satu hari. Jika itu menetap satu tahun, mereka tinggal satu tahun. Tapi ketika itu terangkat lagi, mereka membongkar kemah dan mengikutinya.74 Mereka tidak pernah tahu pasti kemana itu membawa mereka, tapi mereka percaya Gembala yang setia menuntun mereka kejalan yang benar. Dan kepercayaan mereka tidak pernah disalahgunakan. Dia menuntun mereka dengan aman ketanah perjanjian.

    Bukti A

Ini juga cara Tuhan menuntun Rasul Paulus. Hari dia bertemu Kristus, dia bertanya, “Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?” dan jawabannya, “Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu.”75 Dia taat dan mengambil satu langkah ke Damaskus, dan disana Tuhan mengatakan tuntunan umumNya bagi hidup Paulu. Dia harus menjadi saksi Kristus kepada semua manusia tentang semua yang telah dia dengar dan lihat.76

Tapi setelah gambaran luas rencana Tuhan, detilnya datang selangkah demi selangkah. Sebgai contoh, 3 tahun setelah pertobatannya dia pergi ke Yerusalem bertemu dengan para rasul dan bersaksi kepada Yahudi Yunani tentang Kristus.77 Saat dia disana, dia pergi keBait untuk berdoa dan Tuhan berbicara kepadanya kembali: “Lekaslah, segeralah tinggalkan Yerusalem, sebab mereka tidak akan menerima kesaksianmu tentang Aku.”78

Semua itu bagi Paulus tidak masuk akal. Setiap orang disini tahu kalau sebelumnya dia telah menindas orang Kristen. Pasti mereka percaya bahwa suatu yang supernatural telah terjadi dalam hidupnya dan menerima kesaksianya. Dia coba berdebat dengan Tuhan, tapi tidak berhasil. Perkataan Tuhan datang lagi: “Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain.”79 Jadi Paulus mengambil langkah berikut dalam rencana Tuhan tanpa mengetahui sedikitpun kemana itu akan membawanya, kecuali kebangsa-bangsa lain.

Pertama Tuhan menuntun dia ke Syria dan Cilicia, dimana beberapa tahun dia mengabarkan injil jauh dari pusatnya di Tarsus.80 Disanalah Barnabas menemukannya saat dia membawanya keAntiokia untuk membantu pelayanan disana.81 Itu menjadi tempat pelayanan berikut dalam pernyataan rencana Tuhan yang bertahap.

    Di Perjalanan

Langkah berikut dinyatakan saat Roh Tuhan berbicara pada para nabi dan pengajar di Antiokia dan memerintahkan mereka menguduskan Paulus dan Barnabas untuk tugas khusus. Tidak ada petunjuk kemana Tuhan ingin mereka pergi, tapi dia membimbing mereka dalam perjalanan. Dan saat mereka kembali ke Antiokia, “mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman.”82 Sangat menarik melihat Tuhan menuntun mereka selangkah demi selangkah kepada orang yang siap menerima pesan inji. Mereka mengalami hal yang sama dialami pelayan Abraham ketika mencari pasangan hidup untuk Isak. Dia tidak tahu kemana harus pergi, tapi setelah sampai dia bisa dengan yakin berkata, “TUHAN telah menuntun aku di jalan.”83

Satu bukti tuntunan selangkah demi selangkah Tuhan dalam hidup Paulus muncul dalam perjalanan misinya yang kedua. Diperintahkan Tuhan melalui pemimpin diAntiokia dia berjalan bersama Silas melalui Syria dan Cilicia, menguatkan gereja disana. Kemudian dia kembali mengunjungi gereja yang pernah dia dirikan di Galatia pada perjalanan misinya yang pertama.84 Setelah itu kita membaca, “Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas.”85

Apakah anda melihat mereka kelihatannya mencoba jalan mereka, mencari kesempatan, mundur saat Roh Tuhan menghalangi jalan mereka? Mereka ingin melakukan kehendak Tuhan dan Tuhan tidak ingin mereka salah. Dia tidak ingin mereka mengabarkan injil di Asia, dan Dia bahkan tidak mengijinkan mereka masuk Bitinia. Dan saat itu mereka tidak tahu mengapa. Mungkin mereka pikir hati disana belum siap menerima berita, atau bahaya besar sedang menanti disana. Tapi suatu penghiburan mengetahui bahwa saat kita ingin kehendak Tuhan lebih dari semuanya, Dia akan menuntun langkah kita selangkah demi selangkah, apakah kita tahu atau tidak alasan perjalanan kita.

    Tidak Ada yang Ditakuti

Orang Kristen sering khawatir tentang kemungkinan kehilangan kehendak Tuhan. Itu tidak terjadi pada orang yang benar-benar ingin melakukan kehendakNya. Kita bisa kehilangannya dengan menolaknya, tapi tidak kalau kita ingin menjalankannya.

Yesaya meyakinkan kita bahwa kalaupun kita salah melangkah, Dia akan memanggil kita kembali. “dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya, entah kamu menganan atau mengiri.’”86 Pemazmur setuju: “TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.”87 Paulus juga mengalami hal ini benar. Dia sangat ingin mengabarkan injil di Bitinia, tapi dia lebih ingin melakukan kehendak Tuhan. Jadi Tuhan menjauhkan dia dari kesalahan.

Ini mengganggu dan membingungkan sebagian orang tentang tujuan dan rencana. “Bagaimana kita bisa merencanakan kedepan jika Tuhan hanya menuntun kita selangkah demi selangkah dan kadang mencegah jalan kita serta mengirim kita kearah yang sama sekali berlawanan?”

Salomo memberikan kita jawaban. “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”88 Kita bisa membuat rencana, mencari hikmat Tuhan. Tapi kita harus menyadari bahwa rencana yang kita buat belum yang terbaik. Tuhan mungkin tidak memberikan kita tuntunan yang jelas dan detilnya sampai kita mencapai persimpangan dan perlu mengetahui arah mana yang harus diambil. Paulus memiliki rencananya saat dia meninggalkan Antiokia diperjalanan misinya yang kedua. Tapi rencananya disesuaikan dengan rencana Tuhan yang selangkah demi selangkah.

Sering pengungkapan langkah berikut lebih luar biasa dari yang lainnya. Itulah yang terjadi dengan langkah Paulus berikutnya.” Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!.”89 Kita akan membahas mimpi dan penglihatan dibab berikut, tapi kita menyebut peristiwa ini untuk menunjukan bahwa tuntunan Tuhan ke Eropa tidak salah. Paulus perlu peneguhan itu, karena dia akan tergoda untuk meragukan bimbingan Tuhan setelah disiksa dengan sangat di penjara Filipi.

Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup kita dalam pusat kehendaknya akan seperti liburan di suatu pulau. Pasti ada masalah. Tapi bersama dengan masalah ada kedamaian, sukacita, dan kekuatan. Paulus dan Silas memuji Tuhan dalam penjara dan orang menjadi mengenal Kristus.

    Tepat Waktu

Kapanpun Paulus membutuhkan tuntunan, Tuhan ada disana menyediakan itu. Dia tidak pernah terlambat. Musuh mulai melawan inji di Korintus di perjalan kedua, dan Paulus dipaksa meninggalkan sinagoge. Dia mungkin bertanya apakah harus berhenti dan meninggalkan kota. Dia tidak perlu bertanya lama. “Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini. Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka.”90 Ketika ada pertanyaan, jawaban datang—tepat disaat dibutuhkan.

Tuhan tidak melindungi Paulus dari penyiksaan selamat pelayanannya di Korintus. Tapi tidak selalu begitu. Diakhir perjalanan misinya yang ketiga dia mendapat kesempatan membagikan kebenaran dengan tua-tua di gereja Efesus. Dalam pesannya dia berkata, “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.”91 Penyiksaan menunggu dia, tapi dia tetap memiliki kepercayaan bahwa Roh Kudus tetap menuntun dia langkah demi langkah.

Dia ditangkap diYerusalem seperti yang diharapkan, dan ketika dia memberikan pembelaan dihadapan Sanhedrin, mereka menjadi sangat marah sehingga pejabat mengira mereka akan menghancurkan dia. Tapi Tuhan tetap menuntun dia. “Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.’”92

Janji itu menopang dia melalui persekongkolan yang membahayakan hidupnya, lebih dari 2 tahun pemenjaraan di Caesarea, penyiksaan dan interogasi berulang-ulang dihadapan pejabat, dan perjalanan dilaut yang berbahaya melibatkan karamnya kapal. Tapi dia akhirnya tiba di Roma dan dengan berani bersaksi tentang Kristus, seperti yang dijanjikan Tuhan.93 Satu langkah kadang mengejutkan dan kadang menyakitkan, tapi hasilnya selalu memuaskan karena langkah-langkah itu dibuat Tuhan.

Saat saya melihat kembali hidup saya, saya melihat bukti tuntunan Tuhan yang sama. Sebagai seorang mahasiswa saya berkata kepada Tuhan saya ingin melakukan kehendakNya, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya merasakan kecenderungan yang besar untuk ke Wheaton College, dan Tuhan memungkinkan itu berlawanan dengan perkiraan manusia. Setelah tahun pertama, saya memilih konsenstrasi di bidang Alkitab, percaya bahwa Tuhan mungkin memimpin kepada karir pelayanan Kristen, tapi saat itu tidak tahu itu apa.

Selama tahun-tahun di Wheaton, Tuhan menaruh Dallas Theological Seminary dengan kuat dalam pikiran saya, walau guru saya merekomendasikan seminari lain dan kebanyakan teman saya pergi kesana Tapi saya merasa keyakinan dalam diri saya dan menetapkan hal itu. Saya tahu itu kehendak Tuhan. Tujuan saya di Dallas adalah mempersiapkan diri saya lebih baik lagi melayani Tuhan, tapi tetap tidak tahu apa itu.

Saat kelulusan mendekat, sebagian professor saya mendorong saya untuk melanjutkan kejenjang lebih tinggi. Saya tidak damai dengan melanjutkan studi tanpa pelayanan bersama itu, jadi istri saya dan saya mulai berdoa untuk tuntunan Tuhan yang pasti. Dalam seminggu, sebuah gereja di Fort Worth, yang sedang mencari seorang pelayan dan pastor yang berpengalaman lebih dari setahun, akhirnya memutuskan memilih lulusan seminari yang baru lulus dan memilih saya disamping 2 nama lainnya.

Untuk alasan yang tidak diketahui, mereka mulai memproses saya, dan setelah saya berkotbah bagi mereka di 2 minggu berturut-turut mereka memanggil saya (melalui pecahan persentase yang diharuskan hukum). Jadi saya melayani digereja sambil mengambil gelar doctor secara bersamaan. Pencapaian gelar doctor sudah lama selesai, tapi pelayanan sebagai pastor terus berlanjut ditempat berbeda dimana Tuhan tunjuk, selangkah demi selangkah. Sebagian tuntunanNya biasa, sebagian lain dramatis. Saya sendiri bisa melihat jauh kedepat, tapi Tuhan tidak pernah gagal menerangi langkah berikut kemana dia inginkan.

Pengalaman anda mungkin mirip. Itu mungkin. Dimanapun anda saat ini dalam pengalaman kekeristenan anda, Tuhan siap menunjukan langkah berikutnya dalam rencanaNya bagi hidup anda.


1 Kisah 22:14,15 (NIV)

2 Kisah 20:24 (KJV)

3 II Timothy 4:7 (KJV)

4 Efesus 2:10 (NASB)

5 Cf. 2 Corinthians 5:17; Titus 3:5

6 Efesus 2:8, 9 (NASB)

7 Maz 139:16 (TLB)

8 Cf. Maz 139:13-15

9 Maz 37:23 (NASB)

10 Yesaya 49:1, 5 (TLB)

11 Yeremia 1:5 (NASB)

12 Yeremia 1:6 (NASB)

13 Yeremia 1:7-10 (NASB)

14 Galatia 1:15,16 (NASB)

15 Cf. 1 Corinthians; 2 Corinthians; Efesus; Kolose; 2 Timothy

16 Cf. Wahyu 13:8

17 Luke 18:31 (KJV)

18 Yoh 6:38 (NIV); cf. also Yoh 5:30

19 Yoh 4:32 (NIV)

20 Yoh 4:34 (NIV)

21 Ibrani 10:7 (NIV)

22 Yoh 9:2 (NASB)

23 Yoh 9:3 (NASB)

24 Maz 139:1 (TLB)

25 Roma 12:2 (KJV)

26 Yeremia 10:23 (TLB)

27 Ulangan 18:9-12; Yesaya 8:19; Galatia 5:20

28 Efesus 1:11 (KJV)

29 Cf. Maz 76:10

30 Cf. Ibrani 6:17

31 Cf. Roma 9:19; Boule„ma, a related word translated “will” in KJV.

32 Cf. 1 Timothy 2:4; 2 Petrus 3:9

33 Cf. Matius 7:13; Wahyu 20:15

34 Maz 121:8 (NASB)

35 Maz 139:1-5 (TLB)

36 Ayub 31:4

37 Yesaya 58:11 (TLB)

38 Matius 10:29-31 (NIV)

39 Roma 8:28 (KJV)

40 Amsal 3:5, 6 (Berkeley)

41 Philippians 4:6, 7 (NASB)

42 Cf. Maz 121:4

43 1 Petrus 5:7 (NIV)

44 Kolose 1:9, 10 (NIV)

45 E.g., Maz 100:3; Yoh 10:27

46 Efesus 5:17 (NASB)

47 Maz 23:1-3 (NASB)

48 Matius 7:11 (NIV)

49 Roma 8:14 (KJV)

50 Kolose 1:9

51 Kolose 4:12 (NASB)

52 Cf. Yeremia 33:3; Matius 7:7; Yoh 14:13; et. al.

53 Maz 31:3 (Amp.)

54 Maz 32:8 (NASB)

55 Maz 32:9 (NASB)

56 Maz 48:14 (KJV)

57 Maz 73:24 (TLB)

58 Amsal 15:19 (KJV)

59 Yesaya 48:17 (Berk.)

60 Yesaya 42:16 (Berk.)

61 Kejadian 12:1

62 Kejadian 13,14, 15

63 Kejadian 24:7

64 Kejadian 24:48 (NASB)

65 Keluaran 13:21, 22

66 Maz 107:7, 8 (KJV)

67 Kisah 8:26

68 Kisah 10:19, 20

69 Kisah 13:1, 2

70 Kisah 22:14 (KJV)

71 Ibrani 13:21 (NASB)

72 Maz 37:23 (NASB)

73 Maz 119:105 (Amp.)

74 Bilangan 9:15-23

75 Kisah 22:10 (NASB)

76 Kisah 22:15

77 Kisah 9:26-29; cf. also Galatia 1:18, 19

78 Kisah 22:18 (NIV)

79 Kisah 22:21 (NIV)

80 Kisah 9:30; Galatia 1:21-24

81 Kisah 11:25, 26

82 Kisah 14:27 (NIV)

83 Kejadian 24:27 (NASB)

84 Kisah 15:40-16:1

85 Kisah 16:6-8 (NIV)

86 Yesaya 30:21 (TLB)

87 Maz 25:8, 9 (TLB)

88 Amsal 16:9 (NASB)

89 Kisah 16:9 (NIV)

90 Kisah 18:9-11 (NIV)

91 Kisah 20:22, 23 (NIV)

92 Kisah 23:11 (NIV)

93 Kisah 28:16, 30, 31

Related Topics: Basics for Christians