Where the world comes to study the Bible

Habakkuk

Apakah anda pernah menonton berita sore yang diakhiri dengan semua kejahatan dan ketidakadilan di dunia dan dalam keputusasaan bertanya, “Mengapa Tuhan tidak melakukan sesuatu? Mengapa orang jahat dan tidak jujur makmur. Mengapa mereka terpilih untuk duduk di Gedung Putih? Sebenarnya itu bukan perasaan yang baru. Seorang nabi yang bernama Habakuk merasakan hal itu sekitar tahun 620 B.C. dan menulis tentang hal itu.

Kata Habakuk artinya adalah “memeluk” atau “bergumul.” Seperti biasanya, nama seorang nabi berkaitan dengan pesan yang dia sampaikan. Karena isi dari kitab ini menceritakan pergumulan berat Habakuk tentang masalah yang sulit untuk dipecahkan. Apabila Tuhan itu baik mengapa ada kejahatan di dalam dunia? Dan apabila memang ada orang jahat mengapa mereka harus makmur? Apa yang sedang Tuhan kerjakan? Topik yang sama dapat kita jumpai dalam Kitab Zefanya 1:12. Mereka berpikir bahwa Tuhan itu tidak melakukan apa yang baik maupun yang jahat. Karena beranggapan bahwa Tuhan tidak terlibat maka mereka terus hidup di dalam dosa. Habakuk adalah seorang nabi yang baik, dia takut akan Tuhan dan melakukan apa yang baik, tetapi dia menghadapi suatu fakta yang tidak adil.

Warren Wiersbe memberi judul bukunya tentang Habakuk: From Worry to Worship (Dari kekuatiran kepada Pujian). Dr. Martyn Lloyd-Jones memberi judul bukunya, “From Fear to Faith.” (dari ketakutan kepada iman). Habakuk mengawali kitabnya dengan kekuatiran akan dunia di sekitar dia dan Tuhan sepertinya tidak peduli, tetapi dia mengakhirinya dengan memuji Tuhan.1 Ketika dia mendengar siapa yang datang, di ayat 3:16 dikatakan bahwa dia gemetar, tetapi akhirnya dia mengekspresikan imannya di akhir dari kitab ini. Apa yang mereka ingin sampaikan melalui judul buku mereka adalah sebuah perkembangan yang dibuat Habakuk dari mempertanyakan Tuhan sampai mempercayai Dia. Mari kita lihat bagaimana perkembangan iman itu bias terjadi.

Pertanyaan Habakuk (1:2-4)

Habakuk mengekspresikan yang dimiliki oleh kebanyakan orang saleh. Dia marah atas kejahatan dan ketidak adilan yang ada dalam masyarakat. Dia mendaftarkan setidaknya enam masalah yang berbeda yang menekankan betapa buruk situasi yang sedang terjadi. Ada penindasan, kelaliman, aniaya, kekerasan, perbantahan dan pertikaian yang berkembang di dalam masyarakat.

Di ayat 4 dia berkata, "hukum kehilangan kekuatannya" Firman Tuhan tidak lagi menjadi standar kehidupan. Habakuk mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang bagus. Mengapa orang jahat tidak mengalami penghukuman? Mengepa orang fasik makmur? Mengapa Tuhan tidak melakukan sesuatu?

Di ayat 2, Habakuk berseru, “Berapa lama lagi TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?” Dia seakan-akan menuduh Tuhan tidak peduli dan tidak aktif.

Bebrapa orang berpikir bahwa seorang yang beriman tidak akan pernah mempertanyakan Tuhan. Mereka hanya duduk dan menunggu dengan setia dan sabar. Akan tetapi satu hal yang kita pelajari dari Habakuk adalah bahwa itu adalah pemahaman yang salah. Orang yang percaya kepada Tuhan bias mem[pertanyakan Tuhan.

Jawaban Tuhan (1:5-11)

Tuhan menjawab Habakuk. Dia membangkitkan bangsa asing, Babel untuk menyerang dan menghancurkan Yehuda. Tuhan berkata, “jadilah heran dan tercengang-cengang,” (ay 5).2 Mengapa? Karena mereka sangat jahat. Mereka lebih buruk dari orang Yahudi.3 Ayat 6-11 menjelaskan kejatan-kejatahan mereka. Alasan dari penjelasan ini adalah untuk menunjukkan bahwa mereka sangat kuat, tidak ada yang dapat menghentikan mereka. Mereka sudah pasti akan menghancurkan Yehuda.

Sebagian besar dari kita telah berdoa karena kejahatan di masyarakat dan berharap terjadinya kebangunan. Bagaimana jika Tuhan mengirimkan Uni Soviet atau Sadam Hussein untuk menyerang Amerika, untuk mendirikan komunisme atau pemerintahan yang dictator, memenjarakan semua orang Kristen, dsb. Bagaimana menurut anda jawaban yang seperti itu? Apakah anda akan berkata bahwa Tuhan tidak menjawab doa anda?

Hal ini menunjukkan kepada kita prinsip yang lain yang bias kita pelajari dari Habakuk. Tuhan tidak selalu menjawab kita seperti yang kita harapkan. Biasanya kiya telah memikirkan jawaban seperti apa yang kita inginkan. Ketika Ia menjawabnya secara berbeda, bagaimana respon anda?

Bagaimana respon Habakuk terhadap jawaban Tuhan?

Respon Habakuk (1:12-2:1)

Apabila kita membaca ayat 12-13a, tampaknya Habakuk menerima jawaban dan puas. Akan tetapi ayat 13b menunjukkan bahwa walaupun dia menerima jawaban Tuhan, dia tidak menyukai jawaban tersebut.

Dia memulai di ayat 12 dengan ungkapan bahwa Allah adalah kekal. Menurut saya ide tentang immutabilitas. Bahwa Allah tidak berubah, termasuk disini. Fakta bahwa Allah tidak berubah adalah penting karena itu artinya Tuhan akan menggenapi janjiNya kepada Israel. Habakuk tahu bahwa Tuhan tidak akan secara total menghancurkan karena janjiNya. Itulah sebabnya dia berkata, “Kita tidak akan mati.”

Ekspresi dari ratapan Habakuk ini menunjukkan bahwa dia sebagai nabi percaya sepenuhnya kepada Allah tetapi tidak bisa sepenuhnya memahami jawaban yang Allah berikan. Dalam ayat 13 Habakuk heran mengapa Tuhan yang membenci dosa justru akan memakai bangsa yang penuh dengan kejahatan untuk menghukum Yehuda. Lagi pula sekalipun Yehuda memiliki masalah, namun setidaknya dalam pandangan umum mereka masih lebih baik dari pada bangsa Babilon. (Setidaknya hal itu benear menurut perpektif manusia. Namun apabila kita ingat Amos, yang membandingkan Israel dengan bangsa-bangsa lainnya, kasus yang sama terjadi disini bagi Yehuda. Dalam perspektif Allah mereka tidak jauh lebih baik bahkan lebih buruk dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka telah diberi Hukum Allah sementara bangsa-bangsa lain tidak. Hal sama diterapkan disini. Mereka tidak lebih baik di mata Tuhan.) dan jawaban Tuhan mengindikasikan bahwa segala sesuatu akan bertambah buruk, bukannya baik.

Ayat 16 ketika dia berkata bahwa mereka mempersembahkan korban uuk pukatnya, kata “pukat” disini adalah mesin perang atau kekuatan Babilon. Bangsa Babilonia berpikir bahwa karena kekuatan mereka sendirilah, mereka berhasil (bd. 1:11). Mereka sama sekali tidak memberikan penghargaan kepada Tuhan. Habakuk heran bagaimana Tuhan bias mengijinkan mereka untuk terus seperti itu. Dan dia mempertanyakan hal ini di ayat 17.

Apa yang bisa kita pelajari dari bagian ini?

Ketika anda berbicara dengan seseorang yang baru saja mengalami tragedi, jangan memberitahu mereka, “Tuhan itu baik. Dia mengasihi kamu dan Dia akan memberikan yang terbaik lalu mengutip Roma 8:28-29.” Menurut saya, tidak apaapa, barangkali jika diperlukan menangis dengan mereka, terluka dengan mereka, mempertanyakan dengan mereka. Bantu mereka untuk dapat melewati rasa sakit, jangan mengabaikannya. Tentu saja anda tidak mau berada disana, akan tetapi itu adalah bagian dari proses. Seringkali, orang-orang Kristen berpikir bahwa bagian mempertanyakan dari sebuah proses adalah salah. Faktanya, Martin Lloyd-Jones membuat pernyataan itu dalam tafsirannya terhadap Kitab Habakuk. Dia berkata, “Seharusnya tidak ada keraguan, pertanyaan, ketidakpastian tentang kebaikan dan kekudusan serta kuasa Tuhan.”4 Saya tidak setuju. Itu adalah peryataan yang tidak mungkin. Manusia memiliki perasaan dan pertanyaan-pertanyaan. Anda bisa menekan atau mengekspresikannya.

Ada sebuah keseimbangan antara mengasihani diri, pasrah dalam keputusasaan, atau tetap marah kepada Tuhan. Biasanya, respon yang tepat adalah yang ditengah-tengah. Howard Hendricks saya dengar pernah berkata “Manusia kadangkala mencapai keseimbangan ketika mereka berayun dari ekstrim yang satu ke ekstrim yang lainnya.”

Habakuk telah menerima satu jawaban dan dia memiliki lebih banyak pertanyaan. Dalam pasal 2:1 dikatakan bahwa dia akan menunggu jawaban berikutnya dari Tuhan. Dia mencari pemahaman.

Jawaban Tuhan (2:2-20)

Inti jawaban dari Tuhan adalah: jangan kuatir dengan Babilon, mereka juga akan mendapatkan bagiannya sendiri.

Dia memberitahu Habakuk untuk menuliskannya.5 Apa yang akan terjadi sudah pasti terjadi, dia harus maju dan menuliskannya. Memang tampak membingungkan (vs 3) tetapi akan terjadi.

Dalam pasal 2:4 dikatakan bahwa “Orang benar akan hidup oleh percayanya.” Bebrapa terjemahan menggunakan kata “kesetiaan.” Kedua ide tersebut termasuk di dalamnya. Anda tidak bisa benar-benar memisahkan kedua kata itu. Iman adalah apa yang anda percayai. Kesetiaan adalah bertindak sesuai dengan apa yang anda percayai. Yakobus membahas hal ini dalam Yakobus 2.

Barangkali anda berkata bahwa iman dan kesetiaan tidak benar seperti ilustrasi tentang seseorang yang “tahu” bahwa merokok itu buruk tetapi tidak berhenti. Apabila anda bias benar-benar mengetahui hati mereka, anda akan mengetahui bahwa mereka tidak berpikir tentang apa yang akan menimpa mereka. Sindrom yang sama seperti orang yang berpikir bahwa kecelakaan hanya akan terjadi pada orang lain.

Apakah iman? Iman adalah percaya kepada Tuhan atas seluruh hidup kita. Kita melihat hal ini dijelaskan dalam Hosea.

Apakah kesetiaan itu? Itu adalah kesetiaan kepada Firman Tuhan. Mengikuti standart moral dari 10 perintah Allah yang kita simpulkan sebagai “mengasihi Tuhan” dan “mengasihi sesame”. Masih ada orang benar di Yehuda. Selalu ada orang-orang sisa dan Tuhan selalu menjaga mereka di tengah-tengah penghakiman. Kita melihat hal ini diulangi beberapa kali dalam kitab nabi-nabi. Ayat ini memberitahu mereka dan Habakuk apa yang harus mereka lakukan.

2:5. Konteks asli dari ayat ini menggambarkan Babilon sebagai pemabuk yang rakus yang tidak pernah bisa dipuaskan dengan anggur. Sejak jaman kuno bangsa Babilon dikenal dengan konsumsi anggurnya yang sangat banyak (Dan 5). Mereka dikenal karena kemabukan mereka. Dan karena pesta kemabukan itulah pada akhirnya bangsa Persia dan bisa menyelinap dan mengalahkan mereka.6 Babilonia tidak pernah puas dengan ukuran dari kerajaan mereka dan selalu berusaha memperluas dengan menyerang bangsa lain. Hanya relasi dengan Tuhan yang dapat memuaskan.

Menurut saya ada sebuah konsep yang penting untuk dipikirkan tentang ayat 4-5. Orang yang congkak mementingkan diri sendiri dan menganiaya orang lain. Kontras dengan orang benar yang rendah hati dan memperlakukan orang lain lebih penting dari dirinya sendiri serta melakukan kebaikan bagi mereka.

Selanjutnya Habakuk memberukan seri pidoato “celaka lah” untuk mendeskripsikan bangsa Babilonia sekalipun Babilonia tidak disebutkan secara spesifik.

  • Cekalalah7 orang yang sombong 2:4-5
  • Cekalalah orang yang rakus 2:6-8
  • Cekalalah orang yang tidak jujur 2:9-11
  • Cekalalah orang yang melakukan kejahatan 2:12-14
  • Cekalalah orang yang immoral 2:15-17
  • Cekalalah orang yang menyembah berhala 2:18-20

Orang congkat berpikir bahwa mereka layak mendapatkan yang lebih baik. Mereka ingin lebih. Mereka akan melakukan apa pun untuk mendapatkannya. Orang yang sensual selalu mencari pemuasan melalui pengalaman-pengalaman- biasanya secara seksual. Para penyembah berhala mencari hal-hal yang lain selalin Tuhan untuk membuat hidup mereka berhasil. Karakteristik ini sangat cocok untuk abad ke 20.

2:16-17 menunjukkan bahwa waktu penghakiman mereka juga akan segera tiba.

Doa Pujian Habakuk (3:1-19)

Dalam pasal pertama, Habakuk sangat lemah. Dia putus asa karena kejahatan yang ada di sekitarnya. Dalam pasal dua, dia pergi ke atas menara untuk menanti jawaban kedua. Sekarang di pasal tiga, kita melihat dia memuji Tuhan dan frase terakhir dari kitab ini adalah “Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” Buku ini menceritakan tentang pertumbuhan spiritual Habakuk ke arah Tuhan.

Habakuk sekarang mengerti dan menaikkan pujian karena Tuhan memegang kendali.

  • Dia memohon belas kasih di tengah-tengah penghukuman (1-2). Dia takut akan apa yang akan terjadi. Dia tahu bahwa itu akan buruk. Tidak diragukan lagi bahwa dia akan menderita juga. Mungkin tidak secara pribadi, akan tetapi setidaknya melalui pengalaman menyaksikan kematian dan kehancuran orang-orang di sekitar dia.
  • Dia memuji kemuliaan dan kuasa Tuhan (3-15).
  • Dia berjanji untuk menantikan Tuhan (16-19). Apa yang akan terjadi sangat menakutkan, tetapi dia berkomitmen untuk menanti dan percaya kepada Tuhan.

Di awal saya telah menyinggung bahwa nama Habakuk berarti “memeluk” atau “bergumul.” Kita melihat dia bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, akan tetapi apa yang menjadi respon finalnya? Memeluk Tuhan dan percaya kepada Dia.

PRINSIP-PRINSIP:

(1) Tuhan kadangkala seperti tidak aktif, tetapi Dia terlibat. 1:12 menunjukkan bahwa Babilonia berada di bawah kendali Allah, dan Dia menggunakan mereka untuk mencapai tujuanNya.

(2) Tuhan adalah Kudus. Dalam 1:13 Habakuk berkata bahwa Tuhan tidak dapat setuju dengan kejahatan. Ini seharusnya menjadi pemikiran yang hebat ketika kita bergumul dengan pencobaan, dosa dan kebiasan-kebiasaan buruk (yang merupakan eufimisme bagi dosa), dsb.

(3) Tuhan mendengar dan menjawab doa

(4) Tuhan kadangkala memberikan jawaban yang tidak kita sangka-sangka. Ketika kita berdoa, biasanya kita memikirkan cara yang kita inginkan agar Tuhan menjawab kita. Ketika Dia menjawab dengan cara yang berbeda, kita berpikir bahwa Dia sama sekali tidak menjawab kita.

(5) Tuhan itu adil dan baik. Dia menghakimi orang yang jahat dan mempedulikan orang benar.

(6) Orang benar hidup karena iman dan kesetiaan. Ini artinya kita benar-benar percaya bahwa Tuhan itu baik dan adil. Dan kita hidup sesuai dengan itu. Siatuasi-siatuasi seperti apakah yang mengharuskan anda melakukan hal itu?

  • Di gereja anda? Dari pada pindah gereja ketika segala sesuatu tidak sesuai dengan cara anda atau ketika ada masalah, barangkali anda perlu setia kepada gereja itu dan berusaha melayani mereka. Mungkin itu bukan pilihan yang terbaik, tetapi perlu untuk dipikirkan.
  • Dalam pernikahan anda? Apabila seseorang memiliki masalah dalam pernikahan, cara termudah adalah cerai. Akan tetapi cara yang benar dan tepat adalah menghadapi masalah dan tetap setia kepada pasangan serta berusaha menyelesaikannya. Bahkan sekalipun masalah itu tidak akan pernah selesai, anda tetap harus setia kepada pasangan. (Mis. Hosea.)

Sebagai kesimpulan, menurut saya pesan dari kitab Habakuk ini sangat menghibur bagi kita, karena kita hidup dalam masyarakat yang jahat. Kita bisa membaca kembali apa yang dituliskan oleh Habakuk. Lihat bahwa itu terbukti benar, bahwa Tuhan benar-benar mengendalikan, bahwa Tuhan melindungi orang benar sekalipun mereka dibuang ke Babilonia (mis. Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego) dan pada akhirnya Dia membawa mereka kembali ke tanah perjanjian. Oleh sebab itu, iman saya bisa diteguhkan melalui nubuatan para nabi dan kejadian sejarah yang membuktikan bahwa Firman Tuhan adalah benar.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, nubuat bukan sekedar informasi ringan untuk memberitahu kita tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Hal ini saya yakini kebenarannya karena itu menolong saya untuk melihat bahwa Tuhan yang memegang kendali dan Tuhan akan melindungi umatNya. Itu merupakan penghiburan bagi masa sekarang dan pengharapan bagi masa yang akan datang.


1 Wiersbe, From Worry to Worship, p. 8.

2 Beberapa orang beranggapan bahwa Babilonia bukan merupakan kekuatan yang besar pada jaman itu, oleh sebab itu Habakuk sebenarnya ditulis lebih awal, pada masa kekuasaan Asyur. Akan tetapi frase “jadilah heran dan tercengang-cengang,” kemungkinan menunjuk kepada fakta yang mengherankan bahwa Tuhan menggunakan bangsa yang begitu jahat seperti Babilonia. Oleh karena itu, sekalipun penanggalan kitab ini tidak diberikan secara langsung, kita bisa mengasumsikan bahwa kitab ini ditulis kira-kira sebelum Kasdim (1:6) menyerang Yerusalem pada tahun 605 BC, dan sesaat setelah bangsa Kasdim menjadi terkenal sebagai kekuatan dunia. Jadi kemungkinan kitab ini ditulis antara tahun 605 dan 625 BC.

3 Hal ini merupakan kebenaran yang dipercaya manusia. Pesan dari Amos 1-3 menunjukkan bahwa Tuhan beranggapan bangsa Israel jauh lebih buruk dari pada bangsa-bangsa di sekitar mereka karena Israel telah memiliki pewahyuan khusus dan seharusnya tahu lebih baik. Akan tetapi dosa mereka, tidak kelihatan lebih buruk daripada bangsa-bangsa di sekitar mereka.

4 Lloyd-Jones, From Fear to Faith, p. 50.

5 Tidak ada seorang pun yang yakin akan arti dari kalimat ini, “supaya orang sambil lalu dapat membacanya”. Itu bisa berarti, tuliskan besar-besar “dalam sebuah tanda” supaya orang yang terburu-buru bisa membacanya. Juga bisa berarti- tuliskan dengan sederhana supaya orang bisa membaca dengan cepat dan mengerti. Bisa juga- tuliskanlah supaya yang membaca bisa berlari untuk memberi tahu orang lain. Atau—tuliskanlah supaya yang membacanya bisa melarikan diri dari Babilonia. Akan tetapi kita tahu dari Yeremiah bahwa mereka tidak seharusnya lari dari Babilonia. Mereka yang melarikan diri mati. Mereka yang tetap tinggal dan menerima hukuman, tetap hidup. Salah satu kemungkinan lainnya adalah,-- tuliskanlah, supaya ketika waktunya tiba, kamu akan tahu bahwa penghukuman datangnya dari Tuhan, bukan nasip.

6 F.C. Cook, editor, The Holy Bible with Commentary, VI, 665. Cited from “An Exposition of Habakkuk,” Gordon Rasmussen, DTS Thesis, 1956. p. 47.

7 Bukan secara teknis ‘celaka’. Kata hinneh artinya “lihat” bukan hoy yang artinya “aduh.”