Where the world comes to study the Bible

Menganggap Semuanya Kebahagiaan? Jangan Bercanda!

Related Media

Penerjemah: Yoppi Margianto

Pembukaan: Palu, Kikir dan Perapian

Allah menggunakan berbagai macam pengujian dalam hidup kita untuk membentuk, menyadarkan, dan mematangkan kita, membuat kita menjadi orang-orang yang menyerupai Kristus. Sumber-sumber pengujian ini dapat diumpamakan dengan beberapa hal, misalnya sebuah palu, sebuah file atau sebuah perapian.

Palu adalah sebuah alat yang berguna, tulis A.W. Tozer, tetapi tidak bagi paku. Bila ia mempunyai perasaan dan otak, pasti pendapatnya akan berbeda. Karena paku hanya tahu bahwa palu adalah musuhnya, bahkan musuh yang brutal dan tanpa perasaan, yang selalu memaksanya untuk tunduk, dipukul sampai masuk ke dalam suatu tempat. Itulah pandangan paku tentang palu, dan pandangan itu benar, kecuali untuk satu hal. Paku lupa bahwa baik dirinya maupun palu sama-sama merupakan hamba dari tukang yang sama. Jadi seandainya paku dapat mengingat bahwa palu dipegang oleh si tukang, maka kemarahannya terhadap palu pun akan lenyap. Si tukang bangunanlah yang memutuskan kepala siapa yang akan dipukul berikutnya dan paku yang mana yang akan digunakan untuk memukul. Itu adalah hak mutlaknya. Seandainya si paku menyerah kepada kehendak si tukang kayu dan sedikit saja dapat memahami rencana si tukang kayu di masa depan, maka ia akan menyerah kepada palu itu tanpa mengeluh.

Kikir lebih lagi menyakitkan, karena urusannya adalah menggigit logam yang lunak, memotong dan menyingkirkan ujung logam itu sampai logam itu terbentuk sesuai keinginannya. Tetapi sesungguhnya, bukan kikir itu yang memiliki keinginan, karena ia hanya melayani tuannya, sebagaimana logam itu juga. Sang tuanlah dan bukan kikir itu yang memutuskan seberapa banyak yang harus dibuang, bentuk apa yang harus dibuat pada logam itu, dan seberapa lama pengikiran itu akan berlangsung. Jadi, biarlah sang logam menerima saja keinginan sang tuan dan tidak perlu mendikte kapan dan bagaimana ia harus dikikir.

Perapian adalah yang paling mengerikan. Kejam dan ganas, ia melalap apapun yang dapat dibakarnya yang memasukinya dan tidak pernah mengurangi amukannya sampai semuanya menjadi abu. Siapapun yang menolak untuk dibakar pasti akan luluh dan tidak berdaya, tanpa kehendak atau rencana sang perapian. Ketika segala sesuatu sudah luluh dan terbakar, barulah si perapian meredakan amukannya yang merusak.1

Penderitaan sama sekali tidak menyenangkan. Kadang-kadang Allah menggunakan sebuah palu—atau paling tidak mirip seperti itu—dan di lain waktu Ia menggunakan kikir yang menyakitkan. Bahkan Ia dapat menggunakan perapian, meskipun mungkin tidak sering, karena Ia tahu bahwa kita terbuat dari debu. Penderitaan mungkin membuat kita lelah dan tak berdaya, tetapi satu hal yang harus Anda ingat sebagai orang Kristen, adalah bahwa Allah bersama dengan Anda dalam seluruh pergumulan itu. Ia telah memfokuskan seluruh energi-Nya pada diri Anda dan tidak akan meninggalkan Anda sendirian, meskipun mungkin saat itu Anda merasa Ia telah meninggalkan Anda dan menjauh dari pemikiran Anda.

Bagaimana Seharusnya Kita Meresponi Penderitaan (dan Mengapa)

Bagaimana seharusnya kita meresponi penderitaan? Kadangkala kita menolak keras penderitaan itu. Sangat sulit bagi kita untuk memikirkan bahwa Bapa kita di surga tega mengijinkan hal itu terjadi, merancangkan penderitaan sebagai bagian dari rencana-Nya bagi hidup kita. Kita bertahan di dalam ilusi ini meskipun Alkitab dengan jelas mengajarkan kita bahwa Allah menciptakan baik terang maupun gelap, baik damai maupun malapetaka, meskipun semuanya itu demi kebaikan kita.

Terdapat beberapa alasan mengapa kita harus menderita. Kadangkala kita menderita karena kita telah bertindak dengan tidak sabar dan salah mengambil keputusan. Maka kita masuk ke dalam proses tabur tuai, dan Allah mengijinkan hal itu terjadi untuk mengajar kita bahwa kemuliaan-Nya dan kebaikan kita, itulah yang selalu dipikirkan-Nya. Bukan berarti bahwa Anda tidak dapat meminta Allah untuk mengakhiri pencobaan ini. Mungkin saja Ia berkata, “Tidak,” tetapi di dalam hikmat dan belas kasih-Nya yang tak terbatas, Ia dapat mengabulkan permintaan Anda bila Anda merendahkan hati dan berbalik kepada Juruselamat Anda. Namun mungkin lebih baik bagi kita untuk meminta hikmat dalam situasi seperti itu, daripada meminta Allah untuk lekas-lekas menyelesaikannya. Biar bagaimanapun, belas kasihan Allah tetap tak terbatas, dan Ia pasti mendengarkan umat-Nya yang berseru meminta pertolongan (Keluaran 3:7)!

Tetapi ada waktu-waktu di dalam hidup kita ketika kita menderita meskipun kita merasa tidak melakukan kesalahan. Kita semua menyadari bahwa setiap hari kita berbuat dosa, tetapi itu tidak sama dengan kita secara sadar melakukan dosa yang berat atau membangun suatu sikap yang tidak percaya atau moral yang cemar. Pendeknya, ada waktu-waktu ketika kita menderita—baik karena orang lain maupun keadaan-keadaan yang dipakai Allah bagi kita—semata-mata karena Allah sedang bekerja di dalam hidup kita untuk memurnikan, menguatkan, dan memperbesar ruangan di dalam hati kita bagi-Nya. Renungkanlah, apakah akhir-akhir ini Allah membawa sebuah palu dalam kehidupan Anda? Apakah Ia sedang bekerja dengan sebuah kikir? Atau apakah Anda merasa seperti sedang berada dalam perapian? Apa sesungguhnya hikmat Allah yang bisa Anda peroleh dalam situasi seperti ini? Dengarkanlah Yakobus berbicara:

1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. 5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya. 6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. 7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

Penderitaan tidaklah menyenangkan. Dan Yakobus pun tidak mengatakan bahwa itu adalah kesenangan! Melainkan ia berkata, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan.” Pergi ke Disneyland jelas merupakan kesenangan. Namun menderita setiap hari karena penyakit, kehilangan pekerjaan, atau mengalami kerugian…, jelas semua itu bukan kesenangan! Tetapi pengujian seperti itu dapat kita jalani dalam sukacita, kalau kita menganggapnya sebagai sebuah palu, kikir, atau perapian!

Mungkin Anda bertanya, “Bagaimana aku dapat menganggap pengujian-pengujian yang mengurung aku seperti kawanan serigala lapar, sebagai kebahagiaan?

Bukankah para psikiater berkata bahwa sikap seperti itu sebenarnya menunjukkan penyangkalan semata-mata? Dan bukankah para ahli berkata bahwa orang-orang seperti itu harus mendapatkan pemulihan atau didiamkan saja sebelum akhirnya meledak?

Tetapi sekali lagi, Yakobus tidak berkata, “Jangan akui bahwa engkau sedang berada dalam peperangan yang keras sekarang.” Ia tidak berkata, “Matikanlah rasa sakit itu, dengan menonton film, atau bentuk-bentuk hiburan yang lain.” Sesungguhnya ia mengatakan kepada kita untuk mempertimbangkan (consider, LAI: menganggap) pencobaan-pencobaan kita itu, artinya, ia mendorong kita untuk memiliki pemahaman yang dalam akan apa yang sedang terjadi di dalam kehidupan kita. Dan ia meminta kita untuk melakukan hal itu dengan cara tertentu, berdasarkan apa yang akan terjadi di dalam dan melalui kita sebagai hasilnya.

Pertama, Yakobus mendorong kita untuk mempertimbangkan, atau memandang pencobaan-pencobaan itu sebagai kebahagiaan. Dan, ia tidak sedang bercanda! Kita didorong untuk menyambut kesulitan seperti kita menyambut seorang teman lama. Bayangkanlah seorang teman yang tidak pernah berjumpa dengan Anda selama bertahun-tahun. Bayangkanlah bertemu dengannya lagi. Apakah Anda akan memalingkan muka Anda? Apakah Anda akan menawarkan teman Anda itu sikap yang marah, pahit dan cemberut? Tidak! Anda akan mengundangnya ke rumah. Anda akan membuka hati untuknya dan menerimanya dengan sukacita! Begitulah juga seharusnya dengan pencobaan… paling tidak menurut Yakobus.

Namun Yakobus tidak hanya meminta kita untuk menyambut pencobaan-pencobaan dengan sukacita! Sukacita kita jangan dicampur dengan apapun, hanya sukacita saja, yang mengalir seperti aliran air, tak ternodai oleh ketidakpercayaan atau kepahitan.

Tetapi mengapa? Mengapa kita harus menganggap pencobaan-pencobaan di dalam hidup kita sebagai kebahagiaan? Jawaban: Karena kita tahu bahwa pencobaan sedang digenapi di dalam kita. Kita diberikan kesempatan untuk mengecapnya supaya kita dapat menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam hal kesabaran dan ketekunan. Pendeknya, kita dimatangkan dan diperlengkapi, dengan suatu iman yang murni dan tak tercemar. Kita mengalami pengujian supaya kita tidak kekurangan apapun!

Pernahkah Anda berpikir seperti itu sebelumnya? Bila Anda sangat rindu untuk bertumbuh di dalam Kristus, untuk menikmati keintiman yang lebih dalam dengan-Nya, dan untuk mencerminkan ketekunan-Nya di dalam pengalaman hidup Anda, maka Anda sudah menjadi orang Kristen yang semakin menyerupai Kristus! Pada akhirnya, keluarga Anda yang diuntungkan. Pada akhirnya, gereja Anda akan diberkati. Pada akhirnya, dunia akan diubahkan!

Tetapi terdapat kenyataan kedua yang memampukan kita untuk bersukacita di tengah-tengah pencobaan dan itu adalah: pada waktu kita diuji, mesti ada Seseorang yang memberikan pengujian itu! Jadi, kita tahu bahwa kita tidak sedang menderita untuk sesuatu, melainkan untuk dan dengan Seseorang… Kita sedang menderita bersama dengan tangan Kristus sendiri yang penuh darah tertikam paku. Ia telah merancangkan suatu pengujian yang khusus supaya melaluinya Ia akan menggendong kita—Ya menggendong kita, dengan tangan-Nya yang berlubang paku itu!

Kesimpulan

Jika Anda sudah mengenal Dia, dan hari ini tidak ada pencobaan yang khusus yang sedang Anda jalani, pertimbangkanlah diri Anda sedang diberkati dan bersyukurlah kepada Tuhan. Tetapi bila Anda mengenal-Nya, dan Anda sedang melewati api hari ini, anggaplah hal itu sebagai suatu sukacita; sambutlah pencobaan-pencobaan itu seperti Anda menyambut teman lama! Ketahuilah bahwa Kristus sendirilah yang sedang mengerjakan rencana-Nya yang besar di dalam hidup Anda dan bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan Anda dari kasih-Nya (Roma 8:38-39). Dia sedang mengerjakan buah-buah rohani di dalam diri Anda supaya Anda dapat semakin matang dan lengkap dan supaya Anda pada akhirnya dapat menikmati-Nya lebih lagi.

Bila Anda tidak mengenal Tuhan hari ini, maka dengarkanlah apa yang sedang Ia katakan kepada Anda melalui kesulitan hidup Anda. Anda tidak diciptakan untuk “menanggungnya sendirian.” Anda dirancang untuk suatu hubungan dengan orang lain, dan yang terpenting, dengan Pribadi yang Utama. Pengujian adalah ketukan Allah pada pintu hati Anda. Jangan katakan kepada-Nya bahwa Ia salah alamat. Melainkan, sambutlah Dia dan perhatikanlah bagaimana segala sesuatu akan berubah!


1 A. W. Tozer, The Root of the Righteous, dikutip di dalam Charles Swindoll, ed. The Tardy Oxcart, 581.

Related Topics: Devotionals