Where the world comes to study the Bible

Mazmur 1: Dua Macam Cara Hidup

Related Media

Beberapa Pemikiran tentang Mazmur 1

Tempatnya yang Pertama dalam Kumpulan Mazmur

Berbagai Mazmur yang sekarang termasuk dalam Kitab Mazmur ditulis dalam kurun waktu 1000 tahun oleh berbagai penulis. Secara umum Mazmur dapat dibagi dalam 5 kelompok umum atau kitab-kitab yang berdasarkan “jilid” mazmur-mazmur : 1) 3-41; 2)42-72; 3)73-89; 4)90-106; 5) 107-150. Mungkin karena “jilid” mazmur-mazmur (misalnya 41,72, 89,106) memberi kesan bahwa tujuan untuk menyusun materi (misalnya, seluruh 150 mazmur) berpusat pada Daud dan perjanjian Daud, seperti bagaimana orang-orang menanggapi bencana nasional Israel dalam terang perjanjian Allah dengan Daud.1

Mazmur 1-2, yang jelas tidak termasuk dalam daftar kita di sini sebagai bagian dari lima kitab yang dianggap layak, menurut Pemazmur adalah sebuah pengenalan terhadap lagu-lagu ibadah umat Israel. Tampaknya ada beberapa bukti, baik dari sumber–sumber Yahudi maupun Kristen untuk mengindikasikan bahwa Mazmur 1 dan 2, meskipun sebenarnya komposisinya berbeda, pada suatu masa di masa lalu bergabung, dan menjadi Mazmur pertama dari kumpulan Mazmur.2 Bagaimanapun juga, keduanya menjadi pintu masuk yang cocok pada materi ini. Mazmur 1, suatu mazmur kebijaksanaan , mendemonstrasikan bahwa jalan menuju kebahagiaan adalah melalui suatu hidup yang dijalani dengan baik menurut pedoman-pedoman yang ditetapkan oleh Tuhan, dan jalan menuju kehancuran adalah menjalani hidup yang jahat, tanpa hukum --- suatu kehidupan yang tidak menurut Taurat. Raja Daud adalah contoh yang sempurna tentang orang benar yang diuraikan dalam Mazmur 1. Mazmur 2 berbicara tentang Raja yang diurapi TUHAN dan bangsa-bangsa yang mereka-reka perkara yang sia-sia. Ketaatan diperlukan. Jadi Mazmur 1 berfokus pada ketaatan tidak peduli apa pun yang terjadi di sekelilingnya ( suatu pendekatan yang bijaksana terhadap hidup), dan Mazmur 2 berfokus pada mempercayakan diri kepada Allah untuk menggenapi janji-janji-Nya akan keadilan di bumi suatu hari dengan melantik raja-Nya ( suatu pendekatan nubuatan terhadap kehidupan). Daud adalah contoh yang sempurna dari raja pilihan Allah. Kristus sudah pasti contoh mutlak, yang terbaik, dari apa yang dipaparkan mazmur ini (bnd. Kisah Para Rasul 13:33) dan juga penggenapannya. 3

Nah, mari kita perhatikan lebih detil Mazmur 1. Mortimer J. Adler, dalam Ten Philosophical Mistakes, membuat pengamatan yang tajam bahwa “orang-orang umumnya mendukung kesalahan yang dibuat oleh kebanyakan ahli-ahli filsafat modern – bahwa kebahagiaan adalah suatu keadaan psikologis daripada suatu keadaan etis, misalnya kualitas suatu kehidupan yang baik secara moral.”4 Mazmur 1, menampilkan suatu gaya hidup orang benar, sangat berarti untuk sifat kebahagiaan yang sejati.

Strukturnya

Mazmur dapat dibagi secara jelas dalam tiga bagian yang berhubungan: 1) jalan orang benar (1-3); 2) jalan orang fasik (4-5); 3) kata akhir mengenai dua jalan tersebut (6).Juga ada kemungkinan bahwa mungkin ada struktur yang lebih dalam (AB-B’A’): A= 1-2,B= 3/B’=4, A’=5. Lebih jauh, ayat terakhir tampaknya dibuat struktur : A=“sebab TUHAN mengenal,” B= “jalan orang benar/B’ = “jalan orang fasik,” A’=“menuju kebinasaan.” Dalam struktur ini “binasa” berarti tidak memiliki “Tuhan yang mengenal.”

Komentar tentang Mazmur

I. Jalan Orang Benar (1-3)

1:1Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang yang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.

Pemazmur mengatakan bahwa seorang diberkati jika ia tidak melakukan satu hal, tetapi sebaliknya melakukan hal lainnya. Orang yang diberkati harus tidak berjalan menurut mereka yang melawan Allah, yang tidak takut kepada-Nya, dan terus-menerus menganggap diri mereka di atas Dia dan hukum-Nya.

Tidak, sebaliknya seorang yang ingin diberkati, harus hidup bijaksana dalam hubungannya dengan YHWH, suka dan merenungkan Taurat (misalnya, menaatinya). Orang yang mengikuti jalan orang fasik akan mengalami penghakiman Tuhan, sementara Tuhan mengenal dan memelihara orang benar.

“Diberkati” atau “diberkatilah orang” adalah suatu rumus pernyataan/ pengumuman yang ditemukan pada sejumlah peristiwa dalam mazmur-mazmur dan tiga kali dalam Amsal (3:13; 8:34; 20:7; 28:14). Ini selalu digunakan dalam hubungan dengan manusia dan bukan Allah. Inilah adalah sejenis berkat yang dialami seseorang ketika ia hidup benar dalam konteks hubungannya dengan Allah, bukan berkat yang diberikan pendeta. Empat pasal dalam mazmur-mazmut memakai istilah/ungkapan dengan cara yang sama dengan Mazmur 1:

Mazmur 89:16 mengatakan: “Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorak, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu “Mazmur 94:12 berbicara tentang berkat dan ketaatan pada Firman : “Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu.” Ide yang sama ditemukan dalam Mazmur 112:1: “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.” Akhirnya, Mazmur 128:1 juga menghubungkan ide berbahagia dengan “jalan “ seseorang: “Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!” Penekanannya, karena itu, dalam setiap ayat dan dalam Mazmur 1, adalah bahwa berkat adalah bagi mereka yang hidup sesuai cara tertentu. Mereka bahagia, bukan sebagai hasil dari merasakan suatu perasaan tertentu (yang mungkin lebih mengacu kepada kepuasan), tetapi karena mereka telah menjalani hidup dengan baik, yaitu, menurut kebenaran Alkitabiah.

Keterangan tidak berjalan, tidak berdiri dan tidak duduk mungkin bukan suatu keterangan untuk meningkatkan dosa, semata-mata, karena baris-barisnya sama sejajar, tetapi ini dimaksudkan sebaliknya untuk menutupi beberapa dari berbagai kemungkinan skenario dalam hidup dimana seseorang dapat digodai untuk mengikuti orang-orang berdosa dalam sikap-sikap mereka dan perbuatan-perbuatan mereka5 Ini adalah jenis orang-orang yang mencari nasihat dengan diri mereka sendiri dalam keadaan berlimpah dari hikmat mereka sendiri dan mencerca firman Allah dan tidak ada tempat untuk mereka yang hidup menurut itu.

1:2 Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Pemazmur sekarang mendapatkan kualitas positif dari tindakan seseorang yang berbahagia. Orang ini suka akan Taurat dan merenungkannya siang dan malam.

Keterangan pada Taurat dari YHWH dapat mengacu hanya kepada Hukum Musa atau kepada Pentateukh (Kejadian – Ulangan). Belakangan ini mengacu kepada seluruh Perjanjian Lama. Ini dimungkinkan di sini, meskipun, dalam konteks diskusi pemazmur akan etika orang fasik dan orang benar, bahwa apa yang ada dalam pikirannya adalah apa saja dan semua instruksi yang diberikan Allah untuk keuntungan manusia dengan memimpinnya dalam jalan hidup yang benar. Ini adalah suatu hukum yang memiliki tuntutan-tuntutan tertentu, misalnya, seseorang tidak bisa hidup seperti para pendosa, namun ini juga sangat membebaskan karena ini menimbulkan kesenangan dan kesukaan dalam diri seseorang yang merenungkannya.

Istilah kesukaan muncul 126 kali dalam Perjanjian Lama dengan beberapa perbedaan kecil nuansa. Ini bisa mengindikasikan sesuatu yang bernilai atau berharga, misalnya dalam kasus batu-batu delima untuk tembok Sion yang akan datang yang dinubuatkan oleh Yesaya (54:12); batu-batu itu akan menjadi batu berharga yang didirikan oleh Tuhan sendiri. Negeri Israel dikatakan akan menjadi negeri kesukaan sebagai hasil dari berkat Allah yang kaya dan melebihi dari biasanya dalam Maleakhi 3:12. Ini juga menunjuk pada kerinduan-kerinduan dan keinginan-keinginan seseorang: 2 Samuel 23:5 menyediakan suatu persamaan yang menarik dengan ayat kita dalam Mazmur 1. Daud memberikan kata-kata terakhirnya sebelum ia meninggal dan membandingkan dirinya dengan orang-orang fasik. Ia mengatakan bahwa Allah menegakkan baginya perjanjian yang kekal, teratur dalam segala-galanya dan terjamin, namun orang dursila akan dihamburkan. Ia mengatakan segala keselamatannya dan segala kesukaannya Allah yang menumbuhkan. Istilah ini juga dapat menunjuk kepada kesukaan YHWH, kesenangan yang baik, keputusan dan kehendak (Yes. 46:10). Lebih jauh lagi, ini juga dapat mengacu kepada bisnis seseorang atau pekerjaan (bnd. Amsal 31:13). Dalam konteks Mazmur 1 istilah ini memiliki tambahan pengertian yang jelas tentang “suka dan menikmati” Taurat Tuhan sehingga orang itu merenungkannya siang dan malam. Ini bukanlah sesuatu yang pemazmur rasakan ia harus melakukan sesuatu sebanyak yang ia sukai untuk lakukan. Ia telah memilih untuk tidak berjalan di jalan orang fasik, namun sebaliknya mengambil jalan untuk merenungkan kebenaran Tuhan.

Istilah merenungkan dalam budaya kita sering membangkitkan ide, yang berkaitan dengan mistik timur, atau sejenis mimpi yang heboh atau jampi-jampi. Ini bukan begitu, tapi maksud merenungkan adalah memikirkan perintah-perintah Allah yang telah diberikan untuk hidup dengan suatu pandangan untuk mengerti itu dan membiarkannya membentuk pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan seseorang. Adalah sukar memikirkan Tuhan dan jalan-jalan-Nya dan apa yang Ia inginkan dari kita. Ini mungkin melibatkan proses mengulangi bagian yang direnungkan sampai seseorang memasukkannya ke dalam hati sehingga tidak melupakannya.

Sebuah contoh yang bagus tentang prinsip merenungkan dapat dilihat dalam Yosua 1:8. Tuhan mengatakan kepada Yosua untuk merenungkan ( Kata Ibrani yang digunakan dalam Mazmur 1) kitab Taurat supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya (bnd. Yakobus 1:22). Dan ini, tentu saja, adalah poin yang sama yang Pemazmur katakan; renungkan firman Tuhan, mengerti, ingat, dan hidup berdasarkan itu. Merenungkan, kata penulis, dilakukan siang dan malam. Sehingga, ini tak pernah berhenti. Sekte kaum Yahudi yang tinggal di Qumran merasa bahwa merenungkan Taurat terus-menerus sangat penting, seperti kata-kata berikut ini menjadikannya jelas:

(6) Dan di tempat dimana sepuluh orang berada, janganlah ketinggalan seorang pun yang mempelajari hukum Taurat siang dan malam, (7) terus-menerus, mengenai kewajiban-kewajiban terhadap orang lain. Dan biarlah banyak orang bersama-sama sepertiga tahun setiap malam, membaca kitab Taurat dan mempelajari hukum tersebut (8) dan bersama-sama diberkati6 (1QS 6:6-8a).

Bagaimana kita merenungkan firman Tuhan? Ini sukar, tapi di sini ada beberapa saran: 1) mulailah dengan suatu mazmur atau satu ayat firman Tuhan; 2) bacalah ayat berulang-ulang sampai Anda hafal, misalnya tanpa melihat dalam Alkitab; 3) ringkaskan poin utama dari mazmur dan coba cocokkan setiap ayat dengan poin utama; 4) ringkaskan prinsip-prinsip dari mazmur tersebut; 5) pikirkan bagaimana berbagai kebenaran dalam mazmur bisa Anda terapkan; 6) Minta Tuhan menolong Anda menerapkan suatu kebenaran tertentu dalam hidup Anda; 7) Terapkan kebenaran dalam hidup Anda dan saksikan perbedaan yang Tuhan buat!!!

1:3 Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang dibuatnya berhasil.

Bagi orang yang suka Taurat YHWH, yang merenungkannya siang dan malam dan membentuk hidupnya berdasarkan hal itu, ada kemakmuran, di sini digambarkan seperti sebuah pohon yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Yeremia memakai ungkapan yang sama dalam pembicaraan (lihat Yeremia 17:7-8). Keterangan mengenai gagasan sebuah pohon yang ditanam, daripada sekedar “tumbuh” mungkin mengindikasikan kemurahan ilahi dalam membawa orang tersebut dari tempat tandus ke tempat berkat. Aliran air mungkin menunjukkan saluran irigasi buatan yang menjamin suatu sumber air yang terus-menerus untuk tumbuh-tumbuhan. Sebuah pohon yang dengan sengaja ditanam dekat sumber air ini akan sungguh-sungguh menghasilkan buah. Tak bisa dielakkan ia akan berhasil. Sebagaimana Craigie dengan benar menunjukkan, pohon maupun orang benar menjadikan jelas bahwa berkat pada orang benar bukanlah suatu hadiah, namun bagian dan paket dalam menjalani hidup dalam kehendak Allah yang dinyatakan.7 Orang yang diberkati akan menghasilkan buah pada musimnya, tidak perlu segera sesudah ditanam – dan ketika situasi-situasi menjadi sulit (sebagaimana banyak mazmur menunjukkan bahwa mereka menghasilkan buah) mereka tidak akan binasa dan layu. Berkat dalam pengalaman mereka terbukti tidak perlu secara keuangan atau hal-hal lahiriah, namun dengan karakter kuat dari hidup mereka dan kehadiran Allah.

Poin yang sama, karenanya, adalah memberikan suatu gambaran akan diberkatinya orang yang berbalik dari pembicaraan dan gaya hidup yang jahat dan sebaliknya menjalani hidup bersama Allah berdasarkan Taurat. Apa saja yang dibuatnya berhasil dalam pengertian bahwa Allah memberkati hidupnya sebagai hidup yang dipimpin Taurat.

II. Jalan Orang Fasik (4-5)

1:4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

Kebalikan dari keadaan diberkati dan karakter yang kuat dari orang benar adalah karakter dan keadaan yang menyedihkan dari orang fasik. Istilah Ibrani untuk orang fasik di sini, myuvr mungkin menunjukkan mereka yang menjalani hidupnya di luar hubungan perjanjian dengan YHWH dan buktinya adalah permusuhan terhadap Allah dan umat-Nya (misalnya , Bil. 16:26; Mzm. 12:8). Ini termasuk perbedaan di antara mereka yang melayani Allah dan mereka yang berpikir bahwa banyak dalam hidupnya telah gagal: Tuhan, berbicara melalui Maleakhi: “Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.” Akhirnya, istilah ini dapat menunjukkan tindakan dosa yang kotor dan jahat atau semata-mata hidup yang ceroboh tanpa mengikuti Allah dan firman-Nya.

Orang fasik seperti sekam yang ditiupkan angin. Pemazmur membayangkan praktek menampi gandum dengan melemparkannya ke udara, sekamnya berhamburan dalam angin malam dan gandumnya jatuh ke lantai dan dikumpulkan. Sekam menggambarkan karakter yang lemah dan tak berguna dari orang fasik dan fakta bahwa Allah akan memperlakukan mereka dengan mudah8 Ini jelas dalam ayat berikutnya. Kita harus berhati-hati memikirkan secara serius tentang kejahatan dan orang-orang fasik dan apa yang akan mereka dapatkan. Ini akan menjadi suatu tema yang dikembangkan pada akhir sisa dari Kumpulan Mazmur dan sesuatu yang patut dipikirkan secara serius.

1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar.

Salah satu dari masalah-masalah tafsiran terbesar dalam ayat ini adalah mengenai arti dari penghakiman. Craigie mengusulkan bahwa istilah ini menunjukkan pada “bidang-bidang penting dalam masyarakat…mengejar keadilan dan pemerintahan.” Dalam bidang-bidang ini, ia mengatakan, orang fasik tidak akan dikenali9 Ini artinya, tentu saja, bahwa tidak ada masa depan dalam istilah Mazmur 1 dan bahwa penghakiman benar-benar secara manusia, termasuk keadaan-keadaan di masyarakat. Lainnya, seperti pengertian A.A. Anderson istilah ini mengacu kepada penghakiman Allah, termasuk baik terjadi sekarang, maupun di masa yang akan datang ketika orang fasik akan sepenuhnya dihukum10 Karena penulis mengatakan (misalnya, dalam ayat 6) bahwa jalan orang fasik akan binasa, bukan hanya orangnya, dan karena orang fasik melakukan korupsi dalam pemerintahan dan masyarakat, kami mengerti tafsiran yang belakangan lebih menyerupai suatu penekanan pada aspek penghakiman Allah secara eskatologis. Pernyataannya, lalu, bahwa orang fasik tidak akan bangkit atau berdiri artinya bahwa mereka tidak akan tahan akan penghakiman Allah pada akhirnya. Namun ini adalah suatu penghakiman yang sudah dimulai YHWH, karena pemazmur sudah dapat melihat Allah memisahkan orang fasik dengan orang benar seperti sekam dari gandum (ay.4).

Keterangan begitu pula orang berdosa dalam kumpulan orang benar menunjukkan bahwa sebagai pendosa tidak akan tahan akan penghakiman Allah sehingga pada akhirnya mereka tidak akan ditemukan dalam kumpulan orang-orang benar. Tuhan sedang memisahkan antara orang benar dan orang fasik sekarang dan suatu hari menghakimi semua orang fasik dan menyingkirkan mereka di antara orang benar. Dalam konteks kumpulan Mazmur sebagai keseluruhan akhirnya kumpulan orang benar akan menjadi komunitas Mesias dimana semua orang fasik akan cepat dan selamanya akan dibinasakan (bnd. Mzm. 2).

Hanya ada satu cara untuk menjadi bagian dari komunitas Mesias yang benar dan ini dengan mengikatkan diri pribadi dengan Mesias. Para penulis Perjanjian Baru dengan tegas mengacu kepada Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan dan bahwa ada keselamatan di dalam-Nya dan tak ada yang lain (lihat Yohanes 14:6; Kisah Para Rasul 4:11) dan ini didapatkan melalui iman kepada-Nya (Yohanes 5:24; 1 Yohanes 5:11-13). Sudahkah Anda mempercayai Kristus sebagai Juruselamat Anda?

III. Perbandingan Selesai (6)

1:6 Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bagaimana Tuhan dapat menjamin adanya suatu kumpulan orang benar yang mengenal “Taurat” dan menjaganya, dan yang memisahkan diri mereka dari mereka yang telah menolak untuk taat pada YHWH? Jawabannya adalah karena Ia tahu jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik akan binasa.

Bagaimana pemazmur bisa mengatakan bahwa Tuhan tahu jalan orang benar dan tampaknya menyatakan secara tidak langsung, pada waktu yang sama, bahwa Ia tidak tahu jalan orang fasik? Jelas, bagi Pemazmur, Tuhan tahu segala sesuatu, sehingga apa yang Ia maksudkan dengan mengenal memerlukan lebih dari sekedar persetujuan mental pada suatu fakta. Dalam hal ini Ia mengenal baik jalan orang benar maupun jalan orang fasik. Apa yang Pemazmur maksudkan, bagaimanapun, adalah bahwa Tuhan terlibat dalam memelihara orang benar dan memampukan mereka untuk taat kepada-Nya dan menghasilkan buah. Kita melihat dalam hal pohon dalam ayat 3 yang dengan sengaja ditanam dan ditempatkan dekat sebuah sumber air segar (15:1-11; lihat juga Flp. 2:12-13). Jadi Allah tahu jalan orang benar sehingga Ia meninggikan hidup mereka menurut kehendak-Nya yang dinyatakan. Inilah yang Ia tidak lakukan untuk orang fasik.

Mengenai orang fasik, Anderson mengatakan:

Karena orang yang tidak ber-Tuhan tidak mengikuti Hukum Allah, Allah tidak bisa memberikan bimbingan yang nyata untuk jalan mereka, karena Hukum adalah pemberitaan Allah untuk membimbing umat-Nya, dan konsekwensinya mereka yang menolak bimbingan tersebut juga tak mau mengakui kepedulian Allah untuk mereka, dan karena itu mereka lemah.11

Kesimpulan

Beberapa prinsip untuk hidup dapat diterapkan dari bagian firman Tuhan. Pertama, pemazmur mengatakan bahwa ada suatu tempat di mana seseorang dapat hidup di mana ada berkat. Kita tidak harus hidup seluruhnya tanpa pengertian kesejahteraan rohani dalam hidup kita. Sayang sekali, kebanyakan kita tidak sungguh-sungguh percaya bahwa ini benar. Atau kita menuntut lebih banyak dari Tuhan daripada yang Ia telah janjikan kepada kita dalam kehidupan sekarang ( kita menginginkan surga sekarang, segera) atau kita tidak minta apa-apa kepadanya, percaya sepanjang waktu bahwa kebanyakan hidup kita berlangsung sekarang ini. Tetapi, jika kita berusaha menaati-Nya kita akan merasakan kehadiran-Nya yang sampai sekarang belum kita alami (bnd. Yohanes 14:21).

Kedua, ada suatu tempat berkat dan vitalitas rohani, tapi ini tidak kita jumpai tanpa suatu harga yang harus dibayar. Jika Yesus harus membayar biaya untuk berjalan dengan Allah dalam dunia ini, maka begitu juga kita. (bnd. misalnya., Ibr. 5:7-8). Ia berkata, “Pikullah salibmu setiap hari dan ikutlah Aku”(Lukas 9:23). Salib adalah suatu alat penderitaan dan kematian. Biaya yang harus dibayar dalam mazmur ini adalah berbalik dari dosa dan hak-hal yang memikat kita ke dalamnya. Ini mungkin menyebabkan kita diejek pada tingkat tertentu, apakah sedikit dalam satu hal, atau bahkan kadang-kadang hebat dalam hal lain. Penganiayaan bisa terjadi, namun inilah harganya berkat dan berjalan dengan Allah menurut kehendak-Nya yang dinyatakan. Paulus berkata bahwa “setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Timotius 3:12).

Juga ada akibat bila tidak melakukan apa yang kita kehendaki, tapi ketika ada suatu konflik, sebaliknya melakukan apa yang Ia perintahkan. Sementara ada pengertian bahwa perintah-perintah-Nya tidak berat bagi mereka yang bersama Roh Kudus (1 Yohanes 5:3), namun begitu mereka adalah perintah-perintah, yang kita gumuli kadang-kadang – perintah-perintah yang menyebabkan kita mati sehingga orang-orang lain bisa hidup (bnd. Yohanes 12:24). Kita melakukan ini untuk berusaha menyamai bahkan melebihi juruselamat kita yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus10:45; 2 Kor. 4:5). Semakin masyarakat kita komit untuk melindungi dirinya sendiri, semakin sukar untuk meyakinkan diri kita bahwa kehendak Allah, bukan kehendak kita, adalah jalan menuju berkat. Allah menolong kita.

Ketiga, selaku orang Kristen kita perlu merenungkan kebenaran Allah sesering kita bisa, siang dan malam jika Anda mau (bnd. Kol. 3:16). Semakin kita merenungkan kebenaran Allah semakin kita menyukainya. Semakin kurang kita melakukannya, semakin kurang kita menyukainya. Kita bukan sekedar menunjukkan ini untuk mengetahui banyak tentang Alkitab. Gol semacam itu agak mudah dicapai.Sebaliknya, kita berbicara tentang memikirkan sungguh-sungguh kebenaran Allah dan bagaimana menerapkannya dalam hidup kita. Gol merenungkan adalah untuk mengenal Allah lebih baik dan menerapkan firman-Nya pada hidup kita. Ini jauh melampaui sekedar tahu fakta-fakta tentang Alkitab. Ini meminta kita untuk mempercayakan diri kepada Allah dari Alkitab.

Keempat, bertumbuh dalam karakter dan kebenaran perlu waktu. Pemazmur mengatakan bahwa pohon akan menghasilkan buah pada musimnya, mungkin tidak segera. Kita harus sabar dan terus memelihara suatu hati yang jujur dan suci seperti juga kita komit untuk melakukan apa yang benar. Paulus mengatakan begini: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Tuaian yang Paulus maksudkan adalah suatu tuaian orang-orang benar.

Kelima, ada harga pada masa sekarang untuk mereka yang berbuat jahat dan ada harga yang harus dibayar di masa depan juga. Sekarang ini para pria dan wanita mengalami murka Allah sebagaimana disebutkan Paulus dalam Roma 1:18-32. Di masa yang akan datang para pria dan wanita yang tidak percaya kepada Kristus sebagai juruselamat akan terpisah dari Allah untuk selamanya. Kabar baik dalam Kitab Roma dan seluruh Perjanjian Baru adalah bahwa murka Allah sudah diselesaikan dengan pengorbanan Kristus dan siapa saja yang percaya kepada Kristus dapat diampuni dosanya dan berpindah dari hukuman Allah ke dalam lingkup berkat-Nya.

Akhirnya, bagi mereka yang mengasihi Tuhan dan ingin menjalani suatu kehidupan yang menyenangkan hati-Nya, mereka perlu tahu bahwa hanya Allah yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya (Yudas 24-25). Yesus berkata, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yohanes 10:28). Kita tahu bahwa “Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.”


1 For more information on the structure, background, purpose, etc. of the Psalms, see Andrew E. Hill and John H. Walton, A Survey of the Old Testament (Grand Rapids: Zondervan, 1991), 274-285.

2 Peter C. Craigie, Psalms 1-50, Word Biblical Commentary, ed. John D. W. Watts, vol. 19 (Waco, Texas: Word Books, Publisher, 1983), 59.

3 For further comment on the nature and placement of the first two psalms, see Leopold Sabourin, The Psalms: Their Origin and Meaning (New York: Alba House, 1974), 371-72.

4 Mortimer J. Adler, Ten Philosophical Mistakes (New York: Collier Books, 1985), 131.

5 This is not to say that there is no difference in the degree of sin outlined in the three descriptions, but only that the point has more to do with the various circumstances in which one is tempted to sin. For a different view see Sabourin, Psalms, 372.

6 A. Dupont-Sommer, The Essene Writings from Qumran, trans. G. Vermes (Gloucester, MA: Peter Smith, 1973), 85.

7 Craigie, Psalms, 61.

8 See Allen P. Ross, “Psalms,” in The Bible Knowledge Commentary, ed. John F. Walvoord and Roy B. Zuck, vol. 1 (Wheaton, IL: Victor Books, 1985), 1:791.

9 Craigie, Psalms, 61.

10 A. A. Anderson, The Book of Psalms: 1-72, The New Century Bible Commentary, ed. Ronald E. Clements, vol. 1 (Grand Rapids: Eerdmans, 1972), 62.

11 Anderson, Psalms 63

Related Topics: Sanctification