MENU

Where the world comes to study the Bible

Kitab Wahyu: Pendahuluan, Argumen dan Garisbesar

Related Media

Maret 12, 20031

Translated by Berens Dien

I. Pendahuluan

A. Pengarang

Meski pengarang memperkenalkan dirinya sebagai “Yohanes” (1:9), tidak ada petunjuk Yohanes yang mana yang dimaksudkan. Sudah menjadi anggapan tradisi bahwa pengarangnya adalah rasul Yohanes. Berikut adalah bukti yang mendukung dan yang menentang bahwa rasul Yohanes adalah pengarangnya.

1. Bukti Eskternal

a. Yang menolak kepengarangan apostolik
1) Dionysius

Meski kebanyakan pihak dari zaman mula-mula mendukung bahwa pengarangnya bersifat apostolik (maksudnya pengarangnya adalah Yohanes), ada beberapa yang tidak, khususnya Dionysius dari Alexandria. Dengan cara membandingkan Injil Yohanes dengan Wahyu Dionysius berkesimpulan bahwa kedua pengarangnya tidak mungkin adalah orang yang sama. Karena dia yakin bahwa kitab Injil yang keempat itu bersifat apostolik, maka ia harus menolak sifat apostolik dalam kitab Wahyu. Dionysius tidak memberitahu kepada kita adlah motivasi atas penolakan tersebut. Namun seperti yang dikemukakan Walvoord, “Alasan penolakan kepengarangan apostolik banyak didasarkan pada suasana teologis di abad ke-tiga. Pada saat itu aliran teologi Alexandria, termasuk didalamnya Dionysius, menentang doktrin kerajaan milenial yang dengan gamblang diajarkan pada pasal 20 dengan mengacu pada seribu tahun.”2

Namun apakah Dionysius benar? Guthrie memberi tiga alasan mengapa kesaksian Dionysius perlu dikesampingkan.

Kritik Dionysius “tidak didasarkan pada kesaksian zaman mula-mula, namun pada penilaian subjektif. Oleh sebab itu, kritik tersebut bukan mewakili kesaksian orang-orang Kristen pada abad ke-tiga, melainkan hanya merupakan penilaian yang berbeda dari kritik abad ke-duapuluh.”3

(2) “Pernyataan Dionysius yang berkaitan dengan bahasa Yunani cenderung salah karena ia kelihatannya tidak melihat citarasa Semitik dibalik bahasa Yunani dalam Injil, dan pendapatnya mengenai Wahyu tidak menjawab penilaian kritis yang modern yang pada umumnya yakin bahwa keanehan tatabahasanya bukan disebabkan oleh karena kebodohan.”4

(3) “Saran alternatif yang diberikan Dionysius tidak meyakinkan, karena padangannya mengenai ‘Yohanes yang kedua’ itu jelas menjadi kesaksian kehidupannya yang ceroboh.”5

Dengan sangat yakin,  Guthrie telah terlalu melebih-lebihkan. Kita akan melihat alasan kedua diatas kemudian akan membahas yang pertama dan yang ketiga sekaligus. Akan tetapi perlu diperhatikan disini bahwa Dionysius sebenarnya mendasarkan pendapatnya itu (apapun motivasi yang ia miliki) pada bukti-bukti internal dan eksternal. Sebenarnya, pendapatnya itu sangat kuat sehingga selama bebeapa waktu saya menjadi meyakininya!

Pertama, dalam menilai persoalan linguistik, Guthrie sedang menanggapi pernyataan Dionysius bahwa siapapun yang menulis Wahyu pasti bukan yang menulis Injil, karena bahasa Yunani yang dipakai dalam Wahyu adalah sungguh berbeda, bahkan sebenarnya sungguh jelek (Dionysius menamakannya bahasa “barbar”), sedangkan bahasa Yunani dalam Injil yang ke-empat menggunakan bahasa Yunani yang lumayan. Guthrie melukiskan satu gambaran yang seragam mengenai pandangan modern yang sebenarnya sama sekali tidak seragam: bahasa Yunani dalam Injil ke-empat, menurut beberapa sarjana, adalah bahasa Yunani sangat baik dengan hampir tidak memiliki unsur Semitisme,6 dan bahasa Yunani yang solestik dalam Wahyu kapanpun tidak bisa disebabkan oleh maksud tertentu.7

Kedua, meski Dionysius tidak menyatakannya secara langsung, namun ia mendasarkan pandangannya pada kesimpulan di zaman mula-mula. Maksudnya, nampaknya ia tidak hanya semata-mata mengadopsi sejumlah tulisan mengenai pernyataan terkenal dari Papias tentang “penatua Yohanes,” dalam menyimpulkan bahwa Yohanes adalah orang yang berbeda dari rasul Yohanes. Untuk itu sebaiknya kita melihat komentar Papias, karena ada banyak hal yang bergantung pada komentarnya tersebut.

2) Papias

Meski pernyataan Papias tidak mengatakan apapun mengenai siapa pengarang kitab Wahyu, nampaknya pernyataan Papias tersebut memungkinkan adanya dua Yohanes yang tinggal di Efesus yang terkenal itu. Dalam Fragments of Papias 2:3-4 ia berkata demikian:8

(2:3) Namun saya tidak akan mundur [untuk mengatakan] kepada anda sama seperti dalam banyak hal yang telah saya pelajari dengan baik dari para penatua—dan [sama seperti dalam banyak hal] saya mampu mengingat menyusun dengan sistematis dengan dalam interpretasi,9 sementara [di saat yang sama] menegaskan kebenaran atasnya. Karena saya tidak senang dengan mereka yang mengemukakan banyak hal (meski hal seperti itu disukai jemaat10), kecuali dengan mereka yang mengajarkan kebenaran. Saya juga tidak senang dengan mereka yang mengingat perintah-perintah yang lain, kecuali [hanya] dengan mereka yang [mengingat perintah-perintah] dari Tuhan yang telah diberikan dalam iman dan yang datang darinya dalam kebenaran.

(2:4) Namun kalau di satu tempat seseorang akan datang11 untuk memperingatkan para penatua, [perlu diketahui bahwa] saya [juga] telah sering menilai perkataan para penatua—[yakni,] apa yang Andreas atau Petrus atau Filipus atau Tomas atau Yakobus atau Yohanes atau Matius atau murid Tuhan lainnya telah katakan, bahkan apa yang Ariston dan penatua Yohanes, yang adalah murid Tuhan, telah kemukakan baru-baru ini. Karena saya tidak tergoda [dalam pandangan bahwa] perkataan dalam kitab-kitab itu memberi keuntungan pada saya sedikitpun sama seperti kebanyakan dari perkataan yang dari suara yang hidup dan teguh.

Perkataan yang terkenal diatas, yang dikutip dalam Eusebius, HE 3.38.4, dipakai sebagi bukti kuat bahwa rasul Yohanes itu dan penatua Yohanes itu bukanlah orang yang sama, dan bahwa penatua Yohanes itulah yang menulis Wahyu (cf. HE 3.38.5f.). Meski Guthrie telah sangat melebih-lebihkan pandangan yang menentang “bukti yang kuat” ini, namun ada beberapa kemungkinan bahwa keduanya memaksudkan Yohanes sebagai orang yang sama. Bukti untuk ini adalah sebagai berikut.

(1) Pertama, perlu dicatat bahwa hanya dua gelar yang dikemukakan disini—yakni penatua dan murid (bukan rasul). Keduanya menyebutkan Yohanes, langsung atau tidak langsung, memiliki gelar tersebut kepada orang tersebut. Jadi, ‘penatua Yohanes’ bukan satu gelar yang lebih rendah, karena disini Papias tidak menyebutkan ‘rasul Petrus,’ dsb.

(2) Sebutan kedua terhadap Yohanes adalah satu-satunya sebutan yang diberikan dalam daftar yang memiliki kata sandang definit (ὁ πρεσβύτερος ᾿Ιωάννης). Artikel ini mungkin bersifat anaforis. (Meski orang akan berharap kata sandangnya bersama πρεσβύτερος, kalau Papias memperkenalkannya sebagai untuk pertama kali maka cara yang paling wajar untuk melakukannya adalah dengan posisi atributif yang ketiga:(jΙωάννης ὁ πρεσβύτερος). Namun secara jujur, kata sandang tersebut jelas tidak bersifat anaforisdan orang mungkin akan dengan wajar berharap ada sejumlah qualifier jika Papias berkehendak untuk menyatakan dengan jelas Yohanes yang satu dari yang lainnya.

(3) Seperti yang dikemukakan I. T. Beckwith, penatua Yohanes “telah cukup dikenal sebagai rasul Yohanes, karena seperti yang terdapat dalam teksnya, disini ia disebut sebagai murid Tuhan, dan tidak ada Yohanes yang lain yang dikenal diantara murid Tuhan dalam Perjanjian Baru, atau yang selain dari kutipan dari Papias, menurut tradisi tiga abad  yang pertama” (Apocalypse, 363). Tentu saja, tidak ada seorang pun yang bernama Ariston dalam daftar murid Tuhan, kecuali yang disebutkan disini, jadi argumen ini tidak terlalu kuat seperti pada sebelumnya. (Lagi pula, seperti yang diakui Beckwith, kelompok kedua hampir tidak mungkin merupakan murid Tuhan secara persoal, karena Papias membicarakan mereka sebagai orang-orang yang masih berbicara [λέγουσω] pada abad c. AD 125—jadi, menganggap bahwa ειπεν dan λέγουσω bukan kata kerja dalam ungkapan langsung (yang sesuai dengan bagaimana kita menterjemahkannya).

(4) Ada kemungkinan Papias menganggap kelompok yang pertama semuanya sebagai pengarang Injil (meski secara tekhnis hanya Matius dan Yohanes yang termasuk dalam kelompok ini, dan kelompok orang yang kedua sebagai murid Tuhan yang mengenalnya secara pribadi. Ia nampaknya memaksudkan demikian dalam kalimat yang mengikutinya. Jika demikian, maka dalam satu hal Papias tidak hanya sedang membicarakan dua ‘Yohanes’ yang berbeda, melainkan dua macam ‘Yohanes’ yang berbeda— Injil (suara yang ditulis) dan orangnya (suara yang hidup). Jadi ia tidak perlu memperketat kaitannya (meski Injil yang keempat mungkin ditulis oleh ‘suara yang hidup’—apalagi jika ‘suara yang hidup’ itu lebih berarti.

(5) Akhirnya, Larfield (Die beiden Johannes von Ephesus [1914], 113-36) telah memberi satu peneguhan tekstual (lihat Beckwith, 365, untuk satu kesimpulan) yang bisa mengurangi ketegangan.

Kita tidak bermaksud berinterkasi dengan argumen-argumen ini, juga tidak bermaksud menjelaskannya dengan mendetai; kami hanya bermaksud membuat sketsa kerangka kerja bagaimana pernyataan Papias bisa dipahami secara berbeda. Namun, perlu dikemukankan disini bahwa (1) ada beberapa keraguan bahwa Papias sungguh menyebutkan dua orang yang bernama Yohanes, meski Dionysius kemungkinan menjadikan pernyataan ini sebagai landasan. (2) Meski kalau memang Papias membicarakan dua orang berbeda yang bernama Yohanes, ini tidak membuktikan apa-apa mengenai kepengarangan apostolik. Kasusnya jelas masih perlu diselesaikan dengan cara lain.

b. Yang mendukung kepengarangan apostolik

Daftar penulis bapak Gereja yang menerima kepengarangan apostolik sungguh mengesankan dan terjadi sejak awal: Justin Martyr, Irenaeus, Tertullian, Clement dari Alexandria, Origen, Hippolytus. Kalu Origen termasuk dalam daftar itu sangatlah berarti, karena di sama seperti Dionusius adalah dari aliran Alexandria. Seperti yang telah dikemukakan Guthrie, “sedikit kitab Perjanjian Baru yang memperoleh penegasan sejak awal.”12 Namun, perlu disebutkan disini bahwa kitab Wahyu, meski dengan segala dukungannya, mengalami pergumulan pengkanonan lebih lama dari kitab PB manapun. Akan tetapi, kitab Wahyu tidak ditolak terutama mengenai kepengarangannya, melainkan mengenai persoalan perspektif teologis—yakni, berkaitan dengan chiliasm.

2. Bukti Internal

Secara internal, bukti yang mendukung kepengarangan apostolik tidaklah terlalu kuat. Sejujurnya, ini adalah yang meresahkan banyak sarjana saat ini.

a. Yang mendukung kepengarangan apostolik

Ada tiga argumentasi internal yang mendukung kepengarangan apostolik.

1) Dari kitab Wahyu. Pertama, ia dikenal dengan namanya saja oleh ketujuh gereja yang ia tulis. Ini akan lebih bisa dipercaya jika tulisan tersebut memang ditulis oleh rasul Yohanes. Kedua, ia mengharapkan gereja-gereja tersebut memberi respon yang baik dan mentaati tulisannya, karena ia menyampaikannya dengan otoritas (cf. 1:3; 22:9, 18ff.).13 Ketiga, meski ia menulis dalam bentuk gendre nubuatan gaya Yahui kuno, ada satu keunikan dalam tulisannya:  kalau tulisan nubuatan gaya Yahudi diasalkan pada orang-orang mulia jauh di masa lampau (misalnya, kepada Enoch, Ezra, Baruch), pengarangnya disini dengan jelas menyatakan dirinya sebagai “Yohanes saudara dan sekutumu.”14

2) Dari penjelasan Yohanes yang bersifat sinoptis. Dikenal dengan salah seorang dari “anak-anakguruh,” sifatnya bisa dilihat dalam tulisannya ini. Guthrie membicarakan banyak mengenai hal ini, meski hampir tidak pernah memberi komentar bahwa kebanyakan yang terdapat dalam kitab Wahyu itu dikarenakan oleh sifatnya yang bersifat nubuatan.

3) Dari satu perbandingan dengan tulisan Yohanes lainnya. Ini merupakan argumen yang terkuat yang mendukung kepengarangannya. Secara khusus ada kesamaan kuat antara tulisan ini dengan Injil yang keempat. Keduanya memiliki ide-ide yang sama, motif-motif teologi yang sama, istilah-istilah yang sama. Misalnya, hanya dalam Injil keempat dan dalam kitab Wahyu λόγος digunakan untuk Kristus. Selanjutnya, penggunaan simbol tujuh yang diulang-ulang dalam kitab ini  terdapat dalam injil Yohanes sebagai bagian dari argumennya (tujuh tanda, tujuh pernyataan “AKULAH”, dsb.). Memang, orang bisa berkata bahwa Wahyu lebih mendekati Injil keempat dalam pikiran dan gaya dibandingkan dengan kitab lainnya dalam kanon PB.

b. Yang menolak kepengarangan apostolik

Demikian juga ada tiga argumen yang menentang kepengarangan apostolik.

1) Persoalan sejarah. Ada laporan bertentangan di zaman dahulu mengenai kematian rasul Yohanes. Selanjutnya, kalau tulisan ini ditanggalkan pada akhir abad pertama—dan meski rasul Yohanes masih hidup pada zaman tersebut—bisakah orang setua itu menulis sejelas itu? Akan tetapi tidak perlu banyak memikirkan hal ini karena tradisi mengenai kematian Yohanes agak lunak, dan karena kita tidak mengetahui berapa usianya saat ia dipanggil sebagai murid (saat itu ia bisa saja baru berumur 20 awal, mungkin lebih muda), kita tidak bisa memberi komentar mengenai kekuatannya pada usia yang ke-90an.

2) Persoalan teologis. Persoalan teologi lebih kuat dibanding persoalan sejarah. Penekanan para Trinitas sebagai seorang penilik Patmos cukup berbeda dari yang dilakukan oleh Yohanes si penginjil. Allah adalah Pencipta, Kristus adalah Pahlawan, sedangkan Roh Kudus bukan satu melainkan tujuh (1:4). Perbedaan ini tidak terlalu berarti kalau kita menyadari bentuk tulisan dan tujuan kitab ini. Namun ada satu perbedaan teologis yang sangat berarti.

Kalau Injil keempat menekankan eskatologi yang telah nyata, Wahyu menekankan eskatologi futuristik. Kenyatannya akan sulit untuk menemukan doa perspektif eskatologis yang lebih ekstrim dalam kamom. Eskatologi yang ditekankan Yohanes penginjil adalah ‘yang sudah,’ namun yang menulis wahyu bersifat ‘belum terjadi.” Hal ini ditambah dengan argumentasi linguistik saya akui pernah menyakinkan saya selama beberapa waktu. Saya sebelumnya berpikir sungguh tidak mungkin penulis Injil bisa tertarik dengan eskatologi futuristik. Namun setelah yakin bahwa kemungkinan Yohanes penginjil jugalah yang menulis ketiga surat Yohanes, orang bisa melihat bagaimana ia bisa membuat pernyataan-pernyataan eskatologisnya. Sebenarnya, dalam rekonstruksi historis yang kami lakukan, kami menyarankan bahwa Injil Yohanes ditulis tidak lama sebelum perang Yahudi pecah, ketiga surat Yohanes ditulis saat peperangan terjadi, dan kitab Wahyu ditulis sedikit jauh setelah peperangan tersebut. Peperangan yang dialami orang Yahudi sungguh mempengaruhi pandangan dan cara menulis Yohanes, dan kalau dia menulis Wahyu 30 tahun sesudahnya, ia memiliki waktu untuk merenungi motif teologi yang baru (bagi dirinya). Selanjutnya, kalau tulisan ini ditulis di zaman pemerintaahan Domitian yang penuh teror, penulis dengan mudah bisa melihat satu pengenapannya di zamannya, jika bukan di akhir zaman. Pada akhirnya, perbedaan teologis tidak bisa saling dipertentangkan, meski keduanya mungkin memang  memiliki kerangka waktu yang berbeda. Dengan demikian, rasul Yohanes mungkin yang menulis keduanya.

3) Persoalan Linguistik. Banyak kesalahan tatbahasa dalam kitab Wahyu! “Pengarannya nampaknya tidak mengenal aturan-aturan dasar mengenai keteraturan. Ia menempatkan nominatif  bertolakbelakang [sic] dengan kasus-kasus lain, penggunaan partisipel secara tidak beraturan, susunan kalimat yang tidak lengkap, menambahkan kata ganti yang tidak perlu, mencampuraduk gender, kata bilangan dan kasus dan ia memperkenalkan beberapa susunan aneh. Kelihatannya sangatlah tidak meragukan bahwa penggunaan taabahasa dalam kitab ini berbeda dengan yang terdapat dalam Injil. Namun yang menjadi persoalan sebenarna adalah apakah orang yang sama yang membuat perbedaan-perbedaan ini.”15

Mengenai persoalan lingustik, nampaknya tidak mungkin orang yang sama yang mengarang Injil dan Wahyu yang hanya berselang beberapa tahun saja. Tidak hanya perbedaan linguistik, namun juga ada perbedaan dalam memahami tuisan-tulisan dalam Alkitab. Banyak sarjana yang mendukung kepengarangan apostolik untuk kedua buku itu akan berpendapat bahwa kitab Wahyu ditulis lebih dulu kemudian injil Yohanes. Alasannya adalah bahwa rasul Yohanes memerlukan waktu untuk memperbaiki bahasa Yunaninya. Namun pendapat ini salah dalam dua hal (1) itu mengabaikan persoalan psikologis: bukankah seseorang yang telah berusia 50an telah memiliki cara yang mapan dalam berbicara dan berpikir? Apakah mungkin ia bisa memperbaiki bahasanya selama tigapuluh tahun kemudian, kalau ia berbicara dan menulis dengan cara tertentu selama lebih dari setengah abad? (2) Pandangan ini beranggapan bahwa bahasa Yunani dalam Wahyu dikarenakan oleh kebodohan pengarangnya dalam sintaksis bahasa Yunani, dimana kenyataannya kemungkinan ada faktor lain yang menyebabkannya.

Kami setuju bahwa tidak mungkin Yohanes menulis kedua kitab itu di waktu yang sama. Bukti linguistik (juga dalam penggunaan Alkitab) meyakinkan kami akan hal ini. Namun kami ingin mengemukakan pandangan lain: seiring bertambahnya usia rasul Yohanes, bahasa alkitab PL telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kosakatanya. Kami yakin ia menulis Injil pada usia 60an. Tigapuluh tahun kemudian setelah menggembalakan jemaat di Asia Kecil, bahasa Yohanes bisa saja dengan mudah menjadi sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Alkitab yang ia ajarkan. Ini biasanya terjadi pada pengkhotba lanjut usia yang menggunakan Alkitab King James selama hidupnya. Pada usiannya yang semakin tua ia akan hampir kurang bisa memahami ungkapan-ungkapan modern! Dalam kitab Wahyu setidaknya ada hampir 40 referensi dari PL, meski tidak satupun yang langsung menggunakan sintaksis asli dari PL yang ia pakai, meski sintaksi seperti itu akan tidak sesuai dengan konteks tulisannya sendiri (cf. 1:4-5, etc.). Kebanyakan diantaranya memang disengaja; tapi banyak juga yang tidak. Namun saat Yohanes menjadi semakin tua, bahasa alkitab menjadi bagian dari struktur linguistik yang ia buat.

Sebagai kesimpulan, kami berpikir bahwa keseimbangan bukti yang ada masih mendukung kepengarangan apostolik, meski pada saat rasul Yohanes menulis Injil keempat pasti lebih dulu dari saatnya ia menulis kitab Wahyu dalam beberapa tahun. Yohanes adalah pengarang kitab Wahyu. Adolph Schlatter, “yang mendukung kepengarangan apostolik dalam tulisan-tulisan Yohanes, menunjukkan bahwa tidak ada rasul lain yang memberi ajaran yang sebegitu lengkap—iman dalam Injil, kasih dalam surat-surat, dan harapan dalam Wahyu.”16 Kita bisa menambahkan disini bahwa karena Yohanes nampaknya mengenal Tuhan lebih dekat dari murid-murid lainnya saat Kristus datang pada kali yang pertama, nampaknya wajar kalau dia juga dipilih untuk melihatNYa dalam kedatanganNya pada kali yang kedua dengan cara yang paling intim. Sebenarnya, atas analogi perkataan Yesus dalam Matt 16:28, yang digenapi dalam Transfigurasi (17:1ff.), maka mungkin saja Wahyu Yesus Kristus yang ditulis oleh Yohanes adalah satu penggenapan Yohanes 21:21-23.

B. Penanggalan

Tanpa memastikan penanggalan yang mendetail, kami yakin bahwa kitab ini ditulis pada zaman pemerintahan Domitian (c. 95-96 CE), bukan di zaman pemerintahan Nero. Meski ada alasan yang baik kalau menanggalkannya pada pemerintahan Nero (lihat Robinson), dalam hal pembahasan kita mengenai kepengarangan apostolik juga karena perbedaan linguistik dibandingkan dengan Injil yang keempat, kami lebih suka penanggalan tradisional (karena kami telah yakin dengan tahun ke 60an untuk Injil).17

C. Penerima

Kitab Wahyu ditulis kepada ketujuh jemaat di dataran Asia Kecil. Meski beberapa sarjana lebih suka melihat ketujuh jemaat ini sebagai wakil dari ketujuh zaman yang berbeda dalam sejarah gereja, namun tidak ada pembenaran untuk pandangan seperti ini yang didukung oleh teks itu sendiri ataupun dari sejarh gereja. Akan tetapi ketujuh gereja ini mungkin dipilih karena mewakili macam-macam gereja dan orang Kristen yang dikenal Yohanes dan yang ia layani.

D. Latarbelakang dan Tujuan

1. Latarbelakang

Latarbelakan tulisan ini sangat mungkin terjadi saat penganiayaan gencar terjadi pada orang-orang Kristen (1:9). Jika ini berkaitan dengan penganiayaan yang dilakukan oleh Domitianic, maka Penilik Patmos ini akan berpikir sampaikapan eskaton itu akan terjadi. Kemungkinan besar ia menyakini bahwa penganiayaan yang ia alami menunjukkan bahwa akhir zaman itu telah sangat dekat. Saat itu berakhir, ada satu gelombang penggenapan (sama seperti saat Hadrian meratakan Yerusalem pada 135 CE akan menjadi gelombang ketiga, dst.). Namun harapan eskatologis selalu ada dalam tulisan-tulisan PB—khususnya dalam masa-masa sulit, sama seperti pentingnya kesabaran yang selalu diperlukan.

2. Tujuan

Kitab Wahyu ditujukan untuk mendorong orang percaya dalam penganiayaan di zaman Romawi, dengan mengungkapkan bahwa Mesias mereka masih memegang kendali dan pada akhirnya akan menjadi pemenang. Dikaitkan dengan keadaan di zaman sekarang, meski saya meyakini posisi futuris ada banyak kebenaran dalam posisi preteris. Paling tidak Yohanes menggunakan keadaan di zamannya sebagai referensi awal dalam interpretasi teksnya, dan lebih dari itu, ia sendiri mungkin menulis tulisannya dengan cara seperti itu karena ia berpikir akhir zaman telah sangat dekat. Sejalan dengan tujuan ini, maka orang yang menafsirkan Wahyu dengan satu aliran saja akan kehilangan banyak yang disiratkan dalam kitab ini.18

E. Aliran-aliran Interpretasi19

Ada empat aliran interpretasi (dalam hal skema kronologi kitab Wahyu,  bukan dalam hal aliran eskatologi semata): preteris, historis, futuris, dan idealis.

(1) Pendekatan preteris percaya bahwa “Wahyu hanyalah satu gambaran keadaan kekaisaran abad pertama.”20 Meski, seperti yang telah kami jelaskan, kita tidak bisa memisahkan interpretasi kitab ini dari latarbelakangnya (dengan demikian ada kebenaran dalam pendekataan ini), namun pandangan seperti ini tidak bisa dengan memadai menjelaskan semua data dalam kitab Wahyu, karena pengarangnya menyatakan dengan gamblang bahwa kitab ini adalah tulisan yang menjelaskan masa depan (cf. 4:1).

(2) Pendekatan historis (atau historikis-berlanjut) “melihat kitab Wahyu sebagai satu presntasi simbolis keseluruhan sejarah gereja  sejak awal abad pertama hingga akhir zaman.”21  Namun ada beberapa persoalan dengan pandangan ini. “Pertama, identifikasi yang pasti atas kejadian-kejadian sejarah dengan simbol-simbolnya tidak pernah bisa lengkap dibuat, bahkan setelah kejadian-kejadian tersebut terjadi…. Kedua, para penafsir aliran historikal tidak pernah bisa dengan memuaskan menjelaskan mengapa satu nubuatan umum harus dibuat menguntungkan kekaisaran Roma bagian barat…. Ketiga, kalau memang pendekatan historis-berlanjut benar, maka prediskinya akan cukup mudah agar para pembacanya [yang mula-mula] bisa memahami apa maksudnya [cf. 22:10].”22

(3) Pendekatan futuris berpendapat bahwa “semua versi dari Wahyu 4:1 hingga bagian akhir kitab ini akan nanti digenapi pada periode segerea sebelum dan mengikuti kedatangan Kristus yang kedua.”23 Pendekatan ini adalah yang paling memuaskan karena (1) kemungkinan bahwa 1:19 dimaksudkan untuk menjadi garisbesar kitab ini; (2) terminus ad quem atas kedatangan Kristus yang kedua sebenarnya mendukung hal in, karena “saat kejadian-kejadian ini mengarah pada terminus ini dalam suksesi yang dekat, orang akan mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan berkata bahwa banyak dari kejadian ini masih harus terjadi di mas depan karena penggenapannya belum terjadi dan karena simbol-simbolnya nampaknya merupakan pergantian kejadian-kejadian yang terjadi dengan cepat dan bukan merupakan satu proses yang lama”;24 dan (3) “semakin seseorang menggunakan interpretasi literal, maka semakin ia akan menjadi seorang futuris.”25

(4) Pendekatan idealis beanggapan, “Wahyu mewakili konflik abadi antara kebaikan dan kejahatan yang berlangsung di sepanjang masa, meski dalam hal ini hal itu memiliki aplikasi tertentu bagi zaman gereja.”26 Namun sama seperti pandangan aliran preteris, pendekatan ini mengabaikan elemen prediktif dalam kitab ini. Singkatnya, “pandangan idealist memang memiliki banyak kebenaran. Kesalahannya tidak terdapat dalam apa yang ditegaskannya melainkan banyak dalam apa yang dibantahnya.”27

Pendakatan kita terhadap kitab Wahyu pada dasarnya adalah dari perspektif futuris, meski aliran preteris dan idealis tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan karena nampaknya juga ini merupakan bagian dari tujuan pengarangnya.

E. Tema

Tema kitab ini dinyatakan dalam ayat pertama: “Wahyu Yesus Kristus.” Kitab Wahyu adalah wahyu dari Dia maupun tentang Dia, dan pada dasarnya merupakan satu wahyu tentang Dia yang akan datang sebagai pahlawan dan raja. Pada intinya kitab ini menyatakan: “Yesus akan menang!”

II. Argument

Yohanes memulai suratnya yang berkelipatan tujuh ini dengan mengumandangkan sumber pewahuan kitab ini (1:1-3), diikuti salam kepada gereja-gereja di Asia Kecil (1:4-8).

Ini segera diikuti oleh visi mengenai Kristus yang dimuliakan (1:9-20) dimana terdapat garisbesar untuk kitab ini (1:19), yakni apa yang telah terjadi (1:1-20), apa yang sedang terjadi (2:1–3:22), dan apa yang akan terjadi (4:1–22:21). Setelah menggambarkan latarbelakangnya (1:9-11), Yohanes menampilkan suasana yang agung dan menakutkan mengenai Kristus yang telah dibangkitkan dan dimuliakan (1:12-16). Sama seperti Yesaya di zaman dulu (cf. Isa 6), karena Yohanes mengalami visi yang jelas mengenai Allah, ia merasakan keberdosaan yang mendalam (cf. 1:17). Tuhan yang telah dimuliakan kemudian menugaskan kepadnya untuk menulis kitab ini (1:19-20).

Bagian kedua dipenuhi oleh pesan Tuhan kepada ketujuh jemaat—yakni apa yang sedang terjadi (2:1–3:22). Satu pesan yang singkat, umumnya berisi teguran dan janji, dan berisi penjelasan diri mengenai Tuhan yang telah dimuliakan ditulis kepada jemaat di: Efesus (2:1-7), Smirna (2:8-11), Pergamus (2:12-17), Tiatira (2:8-29), Sardis (3:1-6), Filadelphia (3:7-13), dan Laodikia (3:14-22).

Bagian terbesar kitab ini berisi apa yang akan terjadi di masa depan, atau tentang penggenapan semua hal (4:1–22:21). Yohanes mulai dengan tayangan pendahuluan di sorga (4:1–5:14), yang mengungkapkan Allah yang suci mulia (4:1-11) dan karya penebusan dari Anak Domba, Singa dari suku Yehuda (5:1-14). Karena visi yang mengikutinya akan menjadi menakutkan mengenai kehancuran manusia dan penghakiman dari Allah, kedua tema kembar ini perlu dinyatakan kepada rasul Yohanes dengan cara yang berbeda terlebih dahulu. Jadi Yohanes memperkenalkan masa tribulasi (4:1–18:24) dengan cara terlebih dahulu merasakan kekudusan Allah dan upah penebusan. Hanya dengan cara demikian ia bisa melihat visi sesudahnya dengan benar.

Setelah itu diikuti sejumlah penghakiman, yang semuanya dikelompokkan menjadi tujuh. Kelompok penghakiman yang pertama ada tujuh materai penghakiman (6:1–8:1), meski itu dinyatakan dalam dua gelombang. Keenam yang pertama dinyatakan dengan mendetai (6:1-17), diikuti oleh satu bagian sisipan (7:1-17). Dalam sisipan ini dinyatakan bagaimana 144,000 orang Israel dimateraikan (7:1-8) dan penyembahan yang dilakukan sejumlah orang percaya yang adalah martir di zaman tribulasi (kemungkinan adalah orang-orang yang bukan Yahudi) yang melakukan penyembahan (7:9-17). Ditengah-tengah murka Allah yang ditumpahkan dalam bentuk tujuh materai, terdapat visi mengenai pengharapan dan keselamatan. Sekali lagi motif kekudusan Allah (7:15-16) dan penebusan dari Kristus (7:17) adalah hal yang melekat erat. Segera setelah penglihatan yang mulia ini, ketujuh materai ini ditumpahkan (8:1).

Ketujuh kelompok penghakiman berikut adalah ketujuh sangkakala (8:2–11:19), yang dirancang bergaya Mesir. Penghakiman sangkakala-sangkakala bersifat lebih drastis, pasti, dan final dibandingkan dengan penghakiman dari materai, namun tidak se-universal seperti penghakiman cawan yang mengikutinya. Sekali lagi setelah satu penjelasan enam penghakiman (8:2–9:21), ada sisipan yang mengikutinya (10:1–11:14), yang berkaitan dengan kitab kecil (10:1-11) dan dua saksi (11:1-14). Sebagai satu bagian singkat yang tedus sebelum terjadi badai, satu sisipan sebelum terjadinya penghakiman terakhir diberikan kepada Yohanes. Dan sama seperti pada sisipan yang pertama, yang ini mengingatkan dia akan kemuliaan Allah (10:6a), dan pentingnya untuknya melanjutkan tugas yang diberikan kepadanya—meski ia mengalami ketidaknyamanan (10:6b-11), dan ketidaksabaran manusia, meski mereka memiliki saksi (11:1-14). Ketujuh sangkakala kemudian dinyatakan (11:15-19), meski tidak ada yang khusus dalam penghakiman ini (sama seperti pada materai yang ketujuh).28

Kemudian dalam pergantian yang cepat, tiga sisipan dinyatakan. Pertama, dijelaskan tentang wanita dan perang (12:1-18). Ular yang berperang melawan wanita itu adalah Setan; kekerasannya terhadap wanita itu, yang adalah Israel dan anaknya, yakni Mesias, digambarkan dengan jelas. Sisipan pertama ini menjelaskan kejadian yang sama seperti yang terdapat dalam pasal 6-11, meski dari sudut yang berbeda. Kalau pada pasal-pasal  sebelumnya dinampakkan tayangan tentang Allah, namun disini Setan ditayangkan. Sisipan setelah itu adalah mengenai dua binatang (13:1-18). Setelah rencana Setan untuk memusnahkan wanita dan anaknya itu gagal, ia kemudian mengambil langkah selanjutnya. Dalam pasal 13 terdapat akhir dari hal itu. Sekarang binatang-binatang itu mengincar para orang suci (13:7), juga seisi dunia ini (13:8).

Sisipan keenam kembali mengenai pandangan ilahi (14:1-20), yakni, penghakiman oleh Anak Domba. Tayangannya pertama menggambarkan 144,000 orang menyembahNya (14:1-5), diikuti oleh pengumuman mengenai kehancuran di dunia oleh tiga malaikat (14:6-12). Di tengah-tengan prediksi penghakiman yang akan datang berkat diberikan kepada para orang suci yang menjadi martir di masa tersebut (14:13). Kemudian Anak Domba itu digambarkan sebagai penuai (14:14-16) yang menuai penghakiman global yang berakibat pertumpahan darah diantara penghuni bumi (14:17-20).

Rangkaian penghakiman terakhir adalah tujuh cawan penghakiman (15:1–18:24). Ada pendahuluan yang panjang mengawali penghakiman-penghakiman ini (15:1–16:1), yang menunjukkan pada akibat-akibat yang terjadi saat penghakiman-penghakiman itu dilaksanakan (15:5–16:1), meski didahului dengan catatan berisi harapan dan keteguhan yang dilihat dalam angkatan  baru yang terdiri dari para martir yang menyanyi di sorga (15:1-4). Kemudian datanglah penghakiman-penghakiman tersebut (16:2-21). Enam dari tujuh penghakiman ini adalah tulah yang sama dengan yang diberikan kepada orang Mesir, meski kali ini lebih memuncak dan universal.

Segera setelah cawan penghakiman yang ketujuhterdapat penghakiman terhadap si pelacur besar (17:1-18). Namanya adalah “rahasia, Babel” (17:5), jadi ini tidak mengacu pada nama kota sesungguhnya, seperti yang bisa dilihat dalam tafsiran yang diberikan (17:18). Semangat Babel terdapat pada kota sekuler: di zaman Yohanes itu adalah Roma, sedangkan di zaman kita sekarang adalah Washington. Kejatuhan kota ini kemudian digambarkan dalam 18:1-24. Namun kota ini tidak bersifat politik atau agamawi seperti dalam pasal 17, melainkan bersifat komersial, seperti yang bisa dilihat oleh mereka yang meratapi pemusnahannya (18:9-19). Meski para pedangan dan nahkoda kapal meratapinya, sukacita dialami oleh mereka yang kudus (18:20).

Bagian utama yang terakhir pada bagian yang ketiga ini adalah mengenai ketujuh hal terakhir (19:1–22:5). Satu transisi diberikan untuk kerajaan milenial (19:1–20:15), namun terfokus pada dua wanita: pada si pelacur dan pada pengantin (19:1-10). Sekali lagi, penghakiman diberi diselah-sela berkat. Kemudian dalam pergantian yang cepat, datang ketujuh hal terakhir (19:11–22:5)—keenam yang pertama dinyatakan dalam urutan kronologisyang berkaitan dengan kerajaan milenial.

Pertama, kedatangan Kristus kali yang kedua dinyatakan (19:11-16). Kedua, peperangan di akhir zaman dinyatakan dengan pesta bagi burung-burung (19:17-21). Ketiga, Setan diikat selama seribu tahun (20:1-3). Keempat, kerajaan mileniul digambarkan (20:4-6). Kelima, pada akhir seribu tahun, Setan sekali lagi dilepaskan dan dihancurkan (20:7-10). Keenam, takhta putih agung dinyatakan pada akhir milenium (20:11-15).

Hal terakhir yang ketujuh (21:1–22:5) suasana keabadian. Tindakan Allah dalam menciptakan langit dan bumi yang baru perlu diimani karena itu dikumandangkan dari takhta (21:3-8). Yohanes menceritakan kepada kita apa yang ia lihat yakni Yerusalem baru (21:9–22:5). Kota ini dibangun kembali seluruhnya dan sungguh gemerlap (21:9-21), dimana tidak ada bait suci karena Allah dan Anak Domba adalah bait suci (21:22-27). Ditengah-tengahnya adalah sungai kehidupan (22:1-3a), dan Allah dan Anak Domba mentediakan terang baginya (22:3b-5).

Setelah akhir visi mengenai masa depan ini, Yohanes memberi kesimpulan dengan cara mengundang pembaca (22:6-21). Ada tiga pihak yang memberi kesaksian mengenai kebenaran kitab ini: malaikat (22:6-11), Yesus sendiri (22:12-17), dan Yohanes (22:18-21).

III. Garisbesar29

I. Apa yang telah terjadi: pada Kristus (1:1-20)

A. Pendahuluan (1:1-8)

1. Prolog (1:1-3)

2. Salam (1:4-8)

B. Penglihatan tentang Kristus (1:9-20)

1. Latar (1:9-11)

2. Tayangan (1:12-16)

3. Sejumlah Respon dan perintah (1:17-20)

II. Apa yang sedang terjadi: pada Gereja (2:1–3:22)

A. Pesan kepada jemaat Efesus (2:1-7)

B. Pesan kepada jemaat Smirna (2:8-11)

C. Pesan kepada jemaat Pergamus (2:12-17)

D. Pesan kepada jemaat Tiatira (2:18-29)

E. Pesan kepada jemaat Sardis (3:1-6)

F. Pesan kepada jemaat Filadelfia (3:7-13)

G. Pesan kepada jemaat Laodikia (3:14-22)

III. Apa yang akan terjadi: Penggenapan (4:1–22:21)

Zaman Tribulasi (4:1–18:24)

A. Pendahuluan: Penglihatan dari Sorga (4:1–5:14)

1. Takhta Tuhan Allah Mahakuasa (4:1-11)

2. Kitab Singa dari Yehuda (5:1-14)

B. Ketujuh Materai Penghakiman (6:1–8:1)

1. Materai pertama (6:1-2)

2. Materai kedua(6:3-4)

3. Materai  ketiga (6:5-6)

4. Materai keempat (6:7-8)

5. Materai kelima (6:9-11)

6. Materai keenam (6:12-17)

(Sisipan pertama: 144,000 orang Israel dan orang banyak yang tidak terhitung [7:1-17])

a. Pemateraian 144,000 orang Israel (7:1-8)

b. Penyembahan dari orang-orang kudus zaman Tribulasi (7:9-17)

7. Materai ketujuh(8:1)

C. Tujuh Sangkakala Penghakiman (8:2–11:19)

1. Sangkakala pertama (8:2-7)

2. Sangkakala kedua (8:8-9)

3. Sangkakala ketiga (8:10-11)

4. Sangkakala keempat (8:12-13)

5. Sangkakala kelima (9:1-12)

6. Sangkakala keenam (9:13-21)

(Sisipan kedua: Kitab kecil dan dua saksi [10:1–11:14])

a. Kitab kecil (10:1-11)

b. Dua saksi (11:1-14)

7. Sangkakala ketujuh (11:15-19)

(Sisipan ketiga: Perempuan dan Perang [12:1-18])

a. Lahirnya Anak laki-laki (12:1-6)

b. Peperangan di Sorga (12:7-12)

c. Penganiayaan perempuan itu (12:13-18)

(Sisipan keempat: Dua binatang [13:1-18])

a. Binatang dari laut (13:2-10)

b. Binatang dari bumi (13:11-18)

(Sisipan kelima: Penghakiman oleh Anak Domba [14:1-20])

a. 144,000 peneymbah Anak Domba (14:1-5)

b. Tiga pengumuman penghakiman dari malaikat (14:6-12)

1) Terhadap seluruh dunia (14:6-7)

2) Terhadap Babel (14:8)

3) Terhadap penyembah binatang itu (14:9-12)

c. Berkat untuk para Martir (14:13)

d. Penghakiman atas tuaian (14:14-16)

e. Penghakiman atas pohon anggur (14:17-20)

D. Tujuh cawan penghakiman (15:1–18:24)

1. Pengumuman penghakiman angung (15:1–16:21)

a. Pendhuluan atas cawan penghakiman (15:1–16:1)

1) Nyanyian Musa dinyanyikan para martir (15:1-4)

2) Tayangan di Sorga tentang para malaikat (15:5–16:1)

b. Cawan pertama (16:2)

c. Cawan kedua (16:3)

d. Cawan ketiga (16:4-7)

e. Cawan keempat (16:8-9)

f. Cawan kelima (16:10-11)

g. Cawan keenam (16:12-16)

h. Cawan ketujuh (16:17-21)

2. Penghakiman atas si Pelacur besar (17:1-18)

a. Penglihatan tentang si pelacur (17:1-6)

b. Arti penglihatan itu (17:7-18)

1) Keadaan di masa sekarang (17:7-8)

2) Penghakiman di masa akan datang (17:9-18)

a) Ketujuh kepala (17:9-11)

b) Sepuluh tanduk (17:12-14)

c) Wanita pelacur (17:15-18)

3. Jatuhnya kota besar (18:1-24)

a. Pengumuman atas jatuhnya Babel (18:1-3)

b. Penyebab kejatuhan (18:4-8)

c. Ratapan atas kejatuhannya (18:9-19)

1) Oleh raja-raja (18:9-10)

2) Oleh pedangang (18:11-17)

3) Oleh para nahkoda (18:18-19)

d. Sukacita atas kejatuhannya (18:20)

e. Akibat kejatuhannya (18:21-24)

E. Tujuh hal terakhir (19:1–22:5)

Kerajaan Seribu tahun (19:1–20:15)

1. Pendahuluan: Pujian atas penghakiman atas wanita Pelacur dan atas perkawinan Penganting (19:1-10)

a. Penghakiman atas wanita pelacur itu (19:1-5)

b. Perkawinan pengantin (19:6-10)

2. Hal terakhir yang pertama: Kedatanga Kristus Keduakali (19:11-16)

3. Hal terakhir yang kedua: Perjamuan dan penyembelihan (19:17-21)

4. Hal terakhir yang ketiga: Setan diikat (20:1-3)

5. Hal terakhir yang keempat: Kerajaan Mesias (20:4-6)

6. Hal terakhir yang kelima: Setan dilepaskan (20:7-10)

7. Hal terakhir yang keenam: Takhta Putih Agung (20:11-15)

Keabadian (21:1–22:5)

8. Hal terakhir yang ketujuh: Langit dan bumi baru (21:1–22:5)

a. Penglihatan dikumandangkan (21:1-2)

b. Langit dan bumi baru: Dikumandangkan dari Takhta (21:1-8)

c. Yerusalem baru: dilihat oleh Yohanes (21:9–22:5)

1) Kota baru (21:9-21)

2) “Bukan-Bait Suci” (21:22-27)

3) Sungai kehidupan (22:1-3a)

4) Cahaya Anak Domba (22:3b-5)

F. Epilog (22:6-21)

1. Kesaksian dari malaikat (22:6-11)

2. Kesaksian dari Yesus (22:12-17)

3. Kesaksian dari Yohanes (22:18-21)


1 Sebenarnya ditulis pada bulan Januari 1992. Hanya sedikit modifikasi telah dibuat.

2 J. F. Walvoord, The Revelation of Jesus Christ, 12.

3 Guthrie, 936. Semua referensi atas Guthrie untuk kitab ini mengacu pada bukunya dalam edisi pertama (1970), bukan dalam edisi refisi.

4 Ibid.

5 Ibid.

6 Lihat E. C. Colwell, The Character of the Greek of the Fourth Gospel (Disertasi Doktor di University of Chicago, 1930; diterbitkan pada 1931).

7 Persoalan mengenai linguistik akan dibahas lebih mendalam pada bagian berikut, dalam bukti internal.

8 Berikut ini adalah terjemahan yang saya lakukan.

9 συγκατατάξαι ταῖς ἑρμηνείαις—atau, mungkin, ‘dirangkaikan dengan penjelasan tampahan lainnya.’

10 ὥσπερ οἱ πολλοί—secara harafiah, ‘sama seperti yang banyak [adalah].’ Jelas ada permainan kata antara ‘namyak hal’ (τὰ πολλά) dan ‘banyak orang’ (οἱ πολλοί).

11 εἰ...ἔλθοι—protasis atas kondisi kelas keempat.

12 Guthrie, 933.

13 Satu pandangan Guthrie, meski perlu diketahui bahwa pernyataan-pernyataan ini adalah wajar dalam literatur yang bersifat wahyu dan yang akan diharapkan oleh pengarang manapun untuk menyampaikan pesannya dalam bentuk tulisan seperti ini. Di saat yang sama, tulisan seperti ini biasanya memerlukan nama yang memiliki otoritas, dan kadang kalau dalam bentuk pseudopigrafik.  Hal ini sebenarnya mendukung kepengarangan apostolik karena pengarang kitab Wahyu tidak merasa perlu untuk menyatakan identitasnya secara eksplisit lebih dari hanya sekedar nama saja.

14 Guthrie mengemukakan bahwa wahyu Petrus kurang bagus dibandingkan dengan tulisan ini karena “nampaknya dimunculkan untuk dikompetisikan dengannya” (937).

15 Guthrie, 940.

16 Guthrie, 949, n. 1.

17 Lihat Guthrie mengenai argumentasi untuk kedua pandangan ini, 949-61. JUga, lihat tesis master oleh Ragan Ewing (Dallas Theological Seminary, 2002) untuk argumentasi-argumentasi yang baik di zaman sebelum 70-an.

18 Sebenarnya, ada kebenaran dalam pandangan idealist, karena pada eskaton yang terakhir, pergumulan antara kebaikan dan kejahatan akan sirna, sebagai satu contoh nyata, atas apa yang selalu dikaitkan dalam perjuangan seperti itu pada prinsipnya.

19 Dalam menghadapi hal ini, lihat M. C. Tenney, Interpreting Revelation, 136-46. Komentar kami disini perlu lebih ringkas.

20 Tenney, ibid., 136.

21 Ibid., 137.

22 Ibid., 138-39.

23 Ibid., 139.

24 Ibid., 142.

25 Ibid.

26 Ibid., 143.

27 Ibid.

28 Karena alasan ini dan alasan-alasan lain juga, yang menuntun saya untuk meyakini bahwa baik pemahaman mengenai penghakiman yang bersifat suksesif maupun yang bersifat rekapitulasi adalah benar. Dalam pendekatan kita, keenam materai penghakiman yang pertama terjadi pada paruh pertama 70 minggu yang dinubuatkan Daniel. Materai yang ketujuh terdapat dalam paruh kedua 70 minggu tersebut. Dalam paruh minggu kedua terdapat ketujuh sangkakala meski enam diantaranya terdapat dalam perempat yang ketiga dalam tribulasi. Terompet ketujuh terdapat dalam perempat yang keempat. Akhirnya, cawan penghakiman yang ketujuh akan semuanya dituangkan pada akhir quartal tribulasi. Tidak hanya pandangan ini cukup simetris (seperti kitab Wahyu itu sendiri), namun nampaknya hal itu mengungkapkan satu intensitas tertentu terhadap penghakiman seiring waktu.

29 Sebenarnya kitab Wahyu telah memiliki garisbesar sendiri, seperti yang terdapat dalam 1:19 sebagai kunci kitab Wahyu (seperti yang digunakan oleh aliran futurist). Garisbesar yang digunakan dalam tulisan ini adalah satu modifikasi dari apa yang dipelajari dari S. Lewis Johnson, Jr., dalam matakuliah “The Book of Revelation” (Dallas Seminary, 1976). Dalam bagiam utama kitab Wahyu (yakni pasal 4–22) terdapat variasi dalam cara bagaimana membuat bagirsbesarnya, yakni bisa yang bersifat kronologis (tribulasi, kerajaan milenial, kekekalan), atau dengan mengikuti susunan yang berkaitan dengan beberapa hal yang berjumlah “tujuh.” Seperti apa yang kami lakukan dalam sejumlah kitab PB, satu pendekatan linear saja hanya memiliki kebenaran setengah. Sebagai kompensasinya, kami akan memasukkan garisbesar kedua yang kami tulis dalam huruf miring (seperti yang kami lakukan dalam perjalanan-perjalanan misi Paulus dalam Kisah Para Rasul), meski itu tidak merupakan bagian resmi dalam garisbesarnya.

Related Topics: Introductions, Arguments, Outlines