Where the world comes to study the Bible

Getirnya Kekalahan (Yosua 7:1-26)

Related Media

Translated by Berens

Pendahuluan

Setelah kemenangan yang gemilang di Yerikho, Yosua bab 7 berisi kekalahan yang mengejutkan. Tiba-tiba kita disodorkan dengan sejumlah kegagalan yang sangat bertolakbelakang dengan kemenangan yang gemilang pada keenam bab sebelumnya. Kita bisa memperoleh pelajaran yang sangat berharga dalam bab ini jika kita mau mempelajarinya sungguh-sungguh. Kemenangan yang menggembirakan dengan cepat diganti oleh getirnya kekalahan. Ini adalah cerita kehidupan, dan sesuatu yang harus kita hadapi dalam perjalanan hidup sehari-hari. Belum satu menit kita hidup dalam kemenangan kita bisa kalah pada menit berikutnya.

Jarak antara satu kemenangan besar dengan kekalahan yang mengenaskan hannyalah dalam satu langkah, dan kadang-kadang hanya dengan langkah yang pendek. Dalam kenyataannya di dunia yang berdosa ini kita bisa mengalami keberhasilan luar biasa secara rohani, dan setelah itu kita mendapati diri kita berada dalam lembah kegagalan dan keputusasaan rohani. Pada satu saat kita bisa menjadi seperti Elia yang berdiri penuh kemenangan di Gunung Karmel, dan pada saat berikutnya bersembunyi dalam gua, kuatir akan keselamatan hidup kita, dan mengeluh kepada Tuhan (1 Raja-raja 19:10).

Ai adalah tujuan berikut dalam peperangan karena lokasinya yang strategis. Sama seperti peperangan melawan Yerikho, mengalahkan Ai penting untuk bisa menguasai seluruh tanah Kanaan. Ai lebih kecil dari Yerikho, namun adalah penting untuk menguasainya karena Ai akan memberi Israel kendali atas jalan utama yang membentang sepanjang pegunungan dari utara ke selatan sepanjang dataran tinggi yang menjadi bagian utama tanah Kanaan.

Yerikho adalah tempat yang dilarang, sesuai dengan istilah Ibraninya, herem, yang artinya “sesuatu yang harus direlakan, satu larangan.” Bentuk kata kerja, haram, berarti “melarang, mengkhususkan, atau menghancurkan sama sekali.” Pada dasarnya, kata ini berarti pelarangan satu benda untuk digunankan atau disalahgunakan manusia dalam penyerahan mutlak kepada Tuhan. Kata ini berkaitan dengan kata Arab yang berarti “dilarang, khususnya untuk penggunaan pada umumnya.” Kata “harem,” artinya tempat khusus untuk para istri Muslim berasal dari kata yang sama. Jadi, menyerahkan sesuatu kepada Tuhan berarti mengkhususkannya untuk pelayanan kepada Tuhan atau berarti melarangnya dan menghancurkannya sama sekali.1

Sesuatu yang dilarang, bisa berarti dua hal.

(1) Segala yang hidup harus dihancurkan sama sekali. Ini memang tidak beradab atau primitif—sama seperti membunuh yang tidak bersalah, namun orang Kanaan bukan tidak bersalah. Mereka adalah bangsa yang bengis yang mempraktekan kenajisan yang paling luar biasa termasuk pengorbanan anak. Tuhan memberikan mereka kesempatan empatratus tahun untuk bertobat, namun pelanggaran mereka telah penuh (lihat Kejadian 15:16; Imamat 18:24-28). Satu-satunya keluarga yang berbalik kepada Tuhan (yaitu Rahab dan keluarganya) dibiarkan selamat. Seperti juga Sodom dan Gomorah, seandainya terdapat sepuluh saja orang yang benar, maka Tuhan akan menyelamatkan kota tersebut (Kejadian 18), namun karena bahkan sepuluhpun tidak ditemukan, maka Tuhan membiarkan Lot dan keluarganya saja yang diselamatkan (Kejadian 19). Lebih lanjut, jika satu kota mau bertobat seperti yang dilakukan Ninewe saat Yunus berkhotbah, maka Ia akan membiarkan kota tersebut, namun meskipun mereka sudah mendengar karya Tuhan yang penuh mujizat, mereka tidak bertobat, mereka tetap berfoya-foya dalam kehancuran mereka. Norman Geisler memberi komentar:

… peperangan yang dihadapi Israel tidak hanya peperangan agama saja; itu adalah peperangan teokrasi. Israel secara langsung diperintah oleh Tuhan dan pemusnahan tersebut merupakan perintah langsung dari Tuhan (bandingkan Keluaran 23:27-30; Ulangan 7:3-6; Yosua 8:24-26). Tidak ada bangsa yang sebelum atau sesudah Israel yang adalah satu bangsa teokratis. Jadi, perintah tersebut adalah unik, Israel sebagai negara teokrasi saat itu merupakan alat penghakiman tangan Tuhan.2

(2) Semua benda berharga seperti emas dan perak harus diberikan untuk perbendaharaan Tuhan. Ini jelas harus dilakukan sebagai satu bentuk persembahan hasil pertama dan sebagai satu bukti iman jemaat kepada Tuhan untuk keperluan dimasa depan (bandingkan Imamat 27:28-29).

Ketidakpatuhan Israel Dinyatakan
(7:1)

Bab 7 dibuka dengan satu kata kecil namun penting, kata itu adalah “tetapi,” yang membandingkan bab ini dengan bab sebelumnya, khususnya ayat 27. Pada bab-bab sebelumnya terdapat sukacita kemenangan, tetapi kemudian diganti dengan getirnya kekalahan. Kata penghubung yang membandingkan ini dirancang agar kita menaruh perhatian atas satu kebenaran penting, yaitu adanya ancaman dan perubahan hidup yang bisa terjadi kapan saja—bahwa kemenangan selalu diikuti oleh ancaman kekalahan.

Tidak pernah orang percaya berada dalam satu bahaya kejatuhan yang lebih besar dibandingkan setelah satu kemenangan yang ia alami. Kita sangat mudah melepaskan pertahanan dan mulai percaya pada kemampuan diri sendiri atau pada kemenangan-kemenangan kita di masa lalu dan bukan pada Tuhan saja. Satu kemenangan tidak menjamin kemenangan selanjutnya. Hanya jika kemenangan itu membangun keyakinan kita pada Tuhan dan hanya jika kita mengembangkan kihmat atas dasar Firman Tuhan, maka kemenangan-kemenangan kita bisa membantu peperangan kita selanjutnya, namun dasar dari kemenangan selalu adalah Tuhan sendiri dan keyakinan/ketergantungan kita kepadaNya. Bagian dalam Perjanjian Baru yang perlu disebut disini adalah 1 Korintus 10 dan khususnya ayat 12, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!”

Persoalannya sangat jelas dinyatakan bahwa, “orang Israel berubah setia dengan…” Mari kita cermati beberapa hal tentang persoalan yang dihadapi bangsa Israel ini.

(1) Kata “berubah setia” mewakili kata Ibrani yang berarti “bertindak dibawah tangan/curang.” Kata ini dipakai untuk ketidaksetiaan dalam perkawinan, dimana seorang wanita tidak setia kepada suaminya. Dosa yang dilakukan disini adalah ketidaksetiaan rohani karena menjadi sahabat dunia ini dan bukan menjadi sahabat Tuhan (Yakobus 4:4), juga adalah merupakan tindakan yang tidak beriman karena mencari kebahagiaan dan keamanan lewat hal-hal lain diluar Tuhan (1 Timotius 6:6f).

(2) Tuhan meminta pertanggungjawaban seluruh bangsa Israel atas tindakan satu orang dan Ia menahan berkatNya hingga kesalahan itu diselesaikan. Dosa berada di perkemahan Israel dan Tuhan tidak akan terus memberkati mereka selama keadaannya tidak ada perubahan. Ini tidak berarti bahwa semua bangsa Israel tidak berdosa, atau bahwa itu adalah satu-satunya dosa yang dilakukan mereka, namun dosa ini adalah dosa yang memiliki satu sifat (yaitu dosa ketidakpatuhan dan pemberontakan langsung) yang dipakai Tuhan untuk mengajarkan kepada bangsa Israel (juga kita) dua pelajaran yang penting.

a. Tuhan memandang bangsa Israel sebagai satu kesatuan. Apa yang dilakukan satu orang dianggap sebagai dosa keseluruhan bangsa karena kehidupan bersama dari orang Israel sering mengilustrasikan satu kebenaran dan peringatan kepada kita sebagai individu (1 Kor. 10). Sebagai satu peringatan kepada gereja, ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa maju untuk Tuhan dengan dosa yang jelas dalam hidup kita karena itu merupakan pemberontakan terhadap perintah dan pimpinan Tuhan (Efesus 4:30; 1 Tesalonika 5:19). Ini berkaitan dengan mengasihi dunia ini dan dengan demikian membuat diri seseorang bermusuhan dengan Tuhan (Yakobus 4).

b. Satu orang percaya berdosa akan mempengaruhi siapa saja. Sikap Akhan juga menunjukkan bagaimana orang percaya yang berada diluar persekutuan yang mengejar kehendak dan kepentingan diri sendiri bisa mempengaruhi dan menciptakan persoalan bagi keseluruhan kelompok. Nama Akhan berasal dari kata Ibrani, àa„kan, yang mirip kata àa„ko„r, yang artinya “persoalan.” Jadi Yosua akan mengumumkan bahwa Tuhan akan menimpakan masalah (àa„ko„r) kepada Akhan yang menjadi seorang “pembuat masalah” bagi bangsa Israel karena dosanya (bandingkan 7:24-25). Jadi, tempat dimana Akhan mati disebut, “lembah Akhor” (dalam bahasa Ibrani, àa„ko‚r, artinya “gangguan, atau masalah”). Ini juga mengingatkan kita pada Ibrani 12:15-16 dan 1 Korintus 5:6-7.

Meski kejahatan itu hanya dilakukan satu orang, seluruh bangsa Israel dianggap bersalah. Bangsa itu bertanggungjawab atas ketidakpatuhan dari setiap warganya dan dikenai hukuman untuk setiap pelanggar.

Rasul Paulus juga melihat prinsip solidaritas yang sama untuk gereja (1 Korintus 5:6-13). Dosa yang tidak dihakimi akan merusak satu persekutuan—“Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan?” (6).3

(3) Kita juga diingatkan bahwa tidak ada yang luput dari Tuhan yang Maha-mengetahui (Mazmur 139:1f). Tidak ada dutsa yang luput dari pengamatanNya. Kita bisa saja menipu diri kita atau orang lain, namun tidak pernah bisa menipu Tuhan. Tuhan melihat dosa dalam hidup kita dan menginginkan supaya kita menyelesaikannya, bukan menyembunyikannya. Kalau kita menghindarinya hanya akan menjauhkan kita dari kemajuan yang sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan (Amsal 28:13) dan hanya akan menciptakan permasalahan bagi orang lain. Bilangan 32:23 mengingatkan kita, “dosamu itu akan menimpa kamu.” Ini sama dengan menuai apa yang ditabur sebagai akibat alamiah dari hukum rohani dan moral dari Tuhan dan karena keterlibatan Tuhan secara pribadi, namun Bilangan tidak hanya mengajarkan bahwa dosa akan ketahuan namun juga bahwa akibat dosa kita akan dengan aktif mengejar diri kita (lihat Galatia 6:7-8).

(4) Dosa bukanlah perkara sepele bagi Tuhan. Kalimat, “Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel,” secara dramatis menuntut perhatian kita terhadap kesucian Tuhan dan kenyataan bahwa dosa bukanlah perkara yang sepele bagiNya karena itu adalah pemberontakan dan pemberontakan adalah sama dengan dosa bertenung (1 Sam. 15:23). Meski Tuhan telah mati untuk dosa-dosa kita dan berada di sebelah kanan Allah sebagai pembela dan penengah kita, Tuhan tidak akan menganggap enteng dosa kita. Dosa adalah yang bertentangan dengan sifat-sifatNya yang suci (yaitu kesucianNya, kebenaranNya, kasihNya, dsb.) dan bertentangan dengan tujuanNya yang suci untuk kita karena dosa menghalangi pimpinanNya dan bimbinganNya kepada kita.

Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah dalam diri kita, diinginNya dengan cemburu!” Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkanNya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:5-6).

Jadi, Tuhan harus menuntut penyelesaian atas dosa kita; Ia memperlakukan kita seperti Bapa dan Pengusaha kebun anggur, namun tetap memperhatikan kita (Yohanes 15:1f; Ibrani 12:5).

Kekalahan atas Ai Dinyatakan
(7:2-5)

Ai adalah kota yang lebih kecil dari Yerikho dan kekalahan tentara Israel seperti yang dijelaskan disini adalah satu-satunya peristiwa yang dicatat dalam kitab Yosua dan satu-satunya catatan mengenai penumpasan orang Yahudi dalam peperangan. Kalau demikian, bagaimana mungkin kekalahan itu terjadi begitu cepat? Seperti yang disimpulkan dalam ayat satu, akar permasalahannya adalah dosa Akhan, namun ada hal lain yang berkaitan dengan apa yang terjadi antara Yosua dan Ai yang seharusnya tidak terjadi.

Dalam ayat-ayat ini kita bisa melihat beberapa akibat dosa dalam kehidupan umat Tuhan. Dosa memang mengakibatkan banyak hal, dan tidak ada satupun yang baik.

Tidak diragukan bahwa Yosua berkeinginan untuk maju demi Tuhan dan mengalahkan banyak daerah sesuai dengan petunjuk Tuhan dan sesuai dengan rencana Tuhan bagi Israel. Namun karena sedikit percaya diri dan terlalu bersandar pada kemenangan sebelumnya terhadap Yerikho, maka secara nyata ia gagal untuk mengambil waktu sendiri bersama Tuhan untuk mencari petunjuk Tuhan dan meminta bantuan kuasaNya. Seandainya ia melakukannya, maka ia akan mengetahui dosa Akhan dan akan terlebih dahulu menyelesaikannya. Empat kesalahan fatal adalah akibatnya:

  • mereka tidak menyadari dosa Akhan,
  • mereka meremehkan kekuatan lawan,
  • mereka terlalu bersandar pada kekuatan militer mereka, dan
  • mereka berspekulasi dengan Tuhan—mereka menjadikan Tuhan sebagai jaminan.

Kemudian, ketika Tuhan memberi perintah kepada mereka untuk mengalahkan lawan, mungkin karena kepercayaan diri mereka atas kemenangan sebelumnya dan perkiraan mereka yang salah, maka Tuhan menyuruh mereka membawa “seluruh tentara” Israel (8:1). Akan tetapi, berbeda dengan Gideon Tuhan menyuruh Gideon mengurangi kekuatan mereka karena nanti mereka menjadi sombong dan menganggap kemenangan mereka bersumber pada kekuatan mereka sendiri (Hakim-Hakim 7:1f).

Berapa sering kita menjadi seperti Yosua dalam pasal 7? Karena terbiasa kerja keras, suka bertindak dan keinginan untuk menyelesaikan sesuatu dan berhasil, maka ada kecenderungan kita bertindak cepat tanpa mengambil waktu bersama Tuhan dan bersandar pada kekuatanNya dan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Tuhan. Ini bukan hanya tidak bijaksana, namun bahkan menyebabkan kita tidak sensitif terhadap musuh karena dengan demikian kita bersandar pada kekuatan dan hikmat diri sendiri. Dengan demikian dengan nyata kegagalan-kegagalan ini menghalangi kemajuan dan kemampuan kita dalam menghadapi tantangan hidup.

Akibatnya, bagian akhir ayat 5 mengatakan, “lalu tawarlah hati bangsa itu amat sangat.” Kekalahan atas Ai membuat bangsa Israel patah semangat. Ini bahkan jauh lebih penting dari kekalahan mereka itu karena ini mengakibatkan keraguan dan lemahnya harapan atau keyakinan dalam Tuhan. Bukannya mereka memeriksa diri mereka yang menjadi sumber kekalahan, mereka malah mulai meragukan Tuhan dan sangsi kalau Tuhan telah berubah pikiran atau kalau-kalau mereka telah salah memahami petunjukNya seperti yang dicatat, “Lebih baik kalau kami putuskan tadinya untuk tinggal di seberang sungai Yordan itu!” (7:7).

Dalam keberdosaan kita, kita sering seperti itu. Kita begitu cepat depresi, patah semangat, dan hilang arah dan mencoba melihat segala alasan kegagalan diluar diri kita. Kita menyalahkan orang lain atau sesuatu, kita membuat alasan-alasan, kita bersembunyi dan menjadi acuh-tak acuh, namun sering kita gagal memeriksa diri. Kita menganggap kesalahan tidak mungkin berasal dari diri kita.

Kekecewaan Yosua Dinyatakan
(7:6-9)

Konsentrasi pada Tabut Perjanjian (ayat 6)

Dalam pemaparan keadaan Yosua kita melihat satu bukti kuat mengenai kebenaran Alkitab. Umat Tuhan, termasuk para pahlawan iman yang besar, digambarkan tidak lepas dari kesalahan dan ketidaksempurnaan. Tuhan tidak hanya mau menampilkan yang baik-baik saja dalam Alkitab. Akan tetapi Ia menunjukkan sisi kemanusiaan para tokoh Alkitab bukan hanya karena memang itu adalah kenyataan, namun juga bertujuan untuk memberi penguatan kepada kita bila mengalami kegagalan dan memberi dorongan kepada kita dalam menyadari bahwa Ia bisa menggunakan kita jika kita mempercayaiNya. Kegagalan bukanlah akhir segalanya. Sesungguhnya, kegagalan bisa menjadi jalan belakang menuju keberhasilan; kegagalan mungkin adalah awal keberhasilan tergantung bagaimana kita meresponnya. Tentu, lebih baik kalau membuat kesalahan baru dan mendapat pelajaran atasnya dibandingkan dengan mengulangi kesalahan-kesalahan lama. Kalau melakukan kesalahan lama maka kekalahan kita tidak akan membawa perubahan hidup.

Dalam kekalahan atas Ai kita melihat ujian atas kepemimpinan Yosua. Seperti kata Sanders, “Ada ujian untuk kepemimpinan juga ujian tentang kepemimpinan.”4 Kegagalan bisa merupakan satu bentuk ujian. Tidak ada yang tidak pernah mengalamai kegagalan. Kegagalan, sama seperti ujian lainnya, adalah biasa bagi semua orang (1 Kor. 10:13) dan dengan demikian, cara seorang pemimpin menghadapi kegagalan (baik kegagalan dirinya maupun orang lain) akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan masa depan kepemimpinannya.

Jika kita mempelajari Alkitab maka kebanyakan mereka yang mencatat sejarah adalah orang-orang yang pernah gagal, dan diantaranya adalah kegagalan dramatis, namun mereka menolak untuk tetap berkabung dalam debu. Kegagalan dan pertobatan mereka membuat mereka lebih jelas mengenai kasih karunia Tuhan. Mereka kemudian mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang memberi kesempatan kedua kepada anak-anakNya yang pernah mengecewakanNya—juga dalam kesempatan ketiga …

Pemimpin yang berhasil adalah orang yang menyadari bahwa kegagalan bukan akhir segalanya dan ia adalah orang yang bertindak atas keyakinan ini, baik itu kegagalan karena kesalahannya atau karena orang lain. Ia harus belajar realistis dan siap untuk menyadari bahwa ia tidak mungkin selamanya benar. Tidak ada pemimpin yang sempurna atau tidak pernah melakukan kesalahan.5

Tentu saja Yosua tercengang dengan kekalahan dan aib di Ai sehingga ia bersama para tua-tua melakukan apa yang biasanya dilakukan orang Ibrani, yaitu meratap dan berkabung. Tindakan mereka dengan menjatuhkan diri ke tanah di depan tabut perjanjian menunjukkan bahwa mereka merendahkan diri dihadapan Tuhan. Yosua dan para tua-tua melakukannya bukan karena perasaan bersalah yang menemui jalan buntu, melainkan mereka melakukannya karena prihatin dan merasa perlu bantuan Tuhan; mereka membutuhkan campurtangan dan hikmat Tuhan. Namun, berdasarkan perkataan yang dicatat setelah itu dan karena dipengaruhi oleh perasaan, kelihatannya dalam tindakan mereka itu ada sedikit unsur kasihan pada diri sendiri dan keraguan.

Di zaman sekarang kita biasanya tidak merobek baju kita, jatuh tersungkur dengan wajah menghadap ke tanah, dan menabur abu diatas kepala kita. Namun kita juga memiliki kebiasaan bagaimana menunjukkan keprihatinan, kepedihan dan keraguan. Kita mungkin akan jatuh berlutut atau menaruh tangan kita diwajah dan menangis. Kalau dipengaruhi perasaan kasihan pada diri sendiri dan depresi, kebanyaan orang akan menjadi tidak aktif, kadang-kadang murung; biasanya mereka akan banyak termenung dan tidak ada konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan yang mudah sekalipun. Namun respon seperti ini tidak menghilangkan rasa sakit atau menyelesaikan persoalan. Akan tetapi ini memungkinkan kita bertumbuh lewat pengalaman.

Keluh-kesah kepada Tuhan (7-9)

Akhirnya, setelah sepanjang hari menutupi wajahnya, Yosua mengungkapkan kebingungannya dalam tiga pertanyaan dan dua pernyataan. Ia tidak menyalahkan orang lain, ia tidak mencoba mencari pelampiasan, atau memendamnya. Ia melakukan apa yang seharusnya kita semua lakukan, yakni mencurahkan isi hati kepada Tuhan.

Pertanyaan pertama (7a): “Ah, Tuhanku ALLAH, mengapa Engkau menyuruh bangsa ini menyeberangi sungai Yordan?

Kata “Ah” disini adalah ungkapan keputusasaan. Memang “Ah” adalah terjemahan harafiah bahasa Ibraninya. Biasanya ungkapan ini merupakan ungkapan dalam suasana ketidakberdayaan atau kekalahan. Sering ungkapan ini sama dengan ungkapan “Tuhan/ku ALLAH” meski tidak selalu menggambarkan suasana putus asa (Hakim-Hakim 6:22; Yeremia 1:6; 4:10; 14:13; 32:17; Yehezkiel 4:14; 9:8; 11:13). Dengan satu hembusan nafas ia berseru “Ah, Adonai Yahweh,” yang sebenarnya merupakan pengakuan bahwa Tuhan adalah yang berdaulat dan yang mengatur kehidupan, namun pada hembusan nafas berikutnya nampaknya ia menyangsikan tujuan dan janji yang diberikan Allah sebagai Allah yang berdaulat.

Dengan pertanyaan, “Mengapa Engkau menyuruh bangsa ini…,” sebenarnya ia bersikap seolah-olah Tuhan tidak berdaulat, bahwa Ia telah melakukan kesalahan, atau seolah-olah Ia telah menipu mereka. Betapa sering kita begitu rohani namun tidak lama kemudian menolak kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan melalui apa yang kita pikirkan, atau katakan, atau perbuat? Ini adalah contoh yang sangat baik bagaimana melihat persoalan dengan cara negatif bisa mempengaruhi pandangan kita tentang Allah yang kemudian akan mempengaruhi iman kita terhadap maksud, rencana, dan janji-janjiNya.

Fokus yang salah, juga bisa mengakibatkan gunung menjadi bukit kecil. Mungkin dengan bersandar pada kemenangan sebelumnya dan bukan bersandar kepada Tuhan mengakibatkan mereka hanya melihat Ai sebagai persoalan seperti satu ‘bukit kecil’ saja. Sebaliknya karena dipengaruhi kekalahan, mereka merubah bukit kecil ini menjadi ‘gunung’ yang terlalu besar bagi Allah yang Mahakuasa.

Kalau kita dirundung masalah, atau kalau kita gagal memfokuskan pikiran kepada Tuhan, maka kita akan menjadi kurang peka kepada Pribadi, rencana, janji-janji, dan tujuan-tujuan dari Tuhan. Pada saat itu, nampaknya tidak pernah terpikirkan oleh Yosua bahwa Allah mempunyai alasan untuk mengijinkan kekalahan dialaminya, atau bahwa sebenarnya mereka (Yosua dan bangsa Israel) seharusnya sadar atas kemungkinan bahwa mereka yang menjadi penyebabnya. Kalau kita salah fokus maka kita akan melupakan janji Allah atau akan meragukannya. Dengan demikian kita tidak lagi menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang memiliki segala sifat yang ilahi. Dalam keadaan ini maka kita tidak lagi melihat Tuhan sebagai harapan kita, melainkan kita akan menganggapNya jelek.

Pernyataan pertama (7b): “Lebih baik kalau kami putuskan tadinya untuk tinggal di seberang sungai Yordan itu!”

Pandangan kita akan menjadi semakin sempit dan negatif atas tujuan-tujuan Tuhan jika kita kehilangan hubungan dengan Tuhan dan mata kita terpaku pada keadaan sekitar. Kita akan mundur dan berangan-angan tentang masa lalu. Biasanya kita akan bernostalgia tentang keindahan masa lalu. Kita akan menjadi seperti Israel yang bernostalgia yang enak-enak seperti ikan, bawang puti, melon, mentimun, dsb., yang mereka nikmati sebelumnya, namun mereka lupa pada yang jelek-jelek di masa lalu seperti mandor yang kejam dan parit lumpur tempat mereka bekerja sebelumnya. Untuk memperoleh ketenangan kita rela hidup munafik dan tidak belajar apa yang menjadi kendala supaya bisa maju untuk mencapai yang lebih baik.

Disini tercipta pendapat yang keliru bahwa karena mereka telah dikalahkan, maka mereka tidak bisa maju lagi dan bahwa sebaiknya mereka tidak lagi menghadapi musuh. Kegagalan mereka sedikitnya menghambat kemampuan Tuhan untuk memberi kemenangan dimasa depan. Ini pendapat yang lumrah, namun salah. Tuhan tidak bisa dibatasi oleh kegagalan kita. Sebagai Tuhan yang Mahakuasa, Ia mampu membuat segala sesuatu untuk kebaikan untuk membuat kita menjadi semakin mirip dengan AnakNya (Roma 8:28-29).

Pertanyaan kedua (8): “Oh Tuhan, apakah yang akan kukatakan, setelah orang Israel lari membelakangi musuh-musuhnya?”

Setelah kekalahan Yerikho, pasal 6 diakhiri dengan pernyataan, “Dan TUHAN menyertai Yosua dan terdengarlah kabar tentang dia di seluruh negeri itu.” Dari pernyataan Yosua pada pasal 7 ayat 8, nampaknya sekarang ia kuatir kalau-kalau orang akan mengeluh dan tidak mau lagi untuk mengikuti kepemimpinannya. Apakah kegagalan ini akan merusak kemampuan saya untuk melakukan apa yang menjadi alasan Engkau memanggilku karena sikap dan keraguan yang mereka tunjukkan? Lebih jauh lagi, bangsa Israel menginginkan jawaban sedangkan ia pada saat ini tidak memilikinya. Apa yang bisa ia katakana kepada mereka? Ini sungguh merupakan doa untuk memperoleh hikmat (Yakobus 1:5).

Mungkin juga akibat merasa malu atau akibat menyalahkan diri sendiri karena melihat bangsa Israel berbalik dan melarikan diri, maka ia menjadi ragu kalau-kalau ia bisa memimpin pasukan lagi. Ia mungkin merasa bahwa ia telah mengecewakan mereka, dan ia menjadi prihatin atas akibat semuanya ini untuk kemampuannya dalam memimpin bangsa Israel.

Pernyataan kedua (9a): “Apabila hal itu terdengar oleh orang Kanaan dan seluruh penduduk negeri ini, mereka akan mengepung kami dan melenyapkan nama kami …”

Memang wajar kalau Yosua memprihatinkan tentang akibat kekalahan ini atas kesaksian mereka kepada bangsa-bangsa lain dan bagaimana ini bisa melemahkan mereka karena ada kemungkinan akan ada usaha untuk menentang umat Tuhan. Akankah ini menjadi landasan bagi musuh untuk melakukan serangan dalam menekan Israel dan bukan sebaliknya?

Dunia sedang mengamati kita dan cara kita menghadapi persoalan memang akan mempengaruhi sikap dunia terhadap orang Kristen:

1 Petrus 3:13-17: Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebabitu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah-lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat.

Pertanyaan ketiga (9b): “Dan apa yang akan Kaulakukan untuk memulihkan namaMu yang besar itu?”

Meskipun ia dalam segala ketakutannya, sifat Yosua dan kasihnya pada Tuhan muncul. Nampaknya keprihatinan Yosua yang paling besar adalah bahwa kabar kekalahan ini akan mengurangi hormat bangsa-bangsa kafir akan nama Tuhan. Yosua mungkin merasa bersalah atas apa yang kemungkinan akan dipikirkan orang kebanyakan, yaitu bahwa satu kegagalan akan mengakibatkan kegagalan lain menyusul; bahwa kemenangan sekarang ini akan kurang mungkin karena mereka telah gagal secara menyedihkan. Memang benar bahwa dosa kita akan mempengaruhi kesaksian kita untuk sementara; ini bisa memberi kesempatan kepada Setan untuk memiliki landasan; ini mungkin saja bisa mengakibatkan beberapa ganguan, namun Tuhan selalu bisa mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya.

Tidak ada yang bisa dicapai kalau wajah kita terbenam lumpur atau mata kita terpaku pada kegagalan dan persoalan kita. Pertama, kita harus mengakui kegagalan kita dan hal-hal yang menjadi penyebabnya kalau itu bisa dipastikan. Kemudian kita perlu belajar daripadanya. Akhirnya, kita perlu mengetahui bahwa kehendak Tuhan adalah supaya kita dipulihkan dengan segera dan supaya kita memiliki iman dalam kemurahan Tuhan. Kehendak Tuhan adalah supaya kita bangkit dan maju terus (10f).

Kalau saya bisa simpulkan, penyebab kegagalan mereka adalah:

1. Nampaknya karena kurang berdoa atau gagal mengambil waktu sendiri bersama Tuhan untuk mencari petunjukNya.

2. Jelas karena bersandar kepada hikmat manusia ketika Yosua mendengar saran dari para pengintai setelah mereka kembali dari pengintaian atas Ai (3).

3. Kemudian, mereka bersandar pada pengalaman kemenangan mereka sebelumnya bukan pada Tuhan, mereka terlalu yakin dengan kemampuan mereka, karena berpikir bahwa mereka bisa dengan mudah mengalahkan kota sekecil Ai dibandingkan dengan Yerrikho yang lenih besar (3-4).

Sekarang dalam ayat 10, perhatian kita beralih kepada petunjuk dan respon Tuhan kepada Yosua. Ini sangat instruktif karena ini tidak saja memberi kita gambaran tentang hakekat tindakan Yosua, keputusasaan dan keraguannya, namun juga menunjukkan kepada kita evaluasi Tuhan terhadap apa yang telah dilakukan Yosua (bahwa Ia tidak senang atas tindakannya) juga menunjukkan instruksiNya atas apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya.

Petunjuk Dari Allah Dinyatakan
(7:10-15)

Petunjuk kepada Yosua (10-12)

“Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua.” Dari perkataan ini kita melihat campurtangan Tuhan secara pribadi dalam kehidupan umatNya. Tuhan perduli terhadap kehidupan kita dan Ia melayani kita dan selalu bertindak untuk menyatakan diriNya dan selalu mengajar kita tentang kehidupan yang kita jalani dan tentang apa yang perlu dilakukan dalam hidup (1 Petrus 5:6-7; Ibrani 13:5-6). Persoalannya adalah apakah kita mendengarkanNya?

Perintah kepada Yosua (10a) “Bangunlah!”

Perintah ini diberikan kepada Yosua ketika wajahnya sedang menghadap tanah dengan kotoran diatas kepala seperti yang biasa dilakukan di Timur Tengah. Ia saat itu sedang putus asa dan panik. Seperti yang didisebutkan sebelumnya, jatuh dengan wajah menghadap ke tanah dengan debu di kepala merupakan bentuk kerendahan hati karena ia menangis kepada Tuhan, namun bila mencermati respon Tuhan disini, nampaknya tindakannya mungkin merupakan tindakan putus asa dan merupakan hasil dari roh yang tidak berpengharapan dan ketidakpercayaan, seperti yang dinyatakan pada ayat 7. Sekali lagi kata “Ah,” dalam bahasa Ibraninya ‘ahah, merupakan kata seru, yang isinya menunjukkan keputusasaan dan kesedihan yang mendalam.

Karena tidak ada yang bisa dilakukan jika wajah kita membenami kotoran, maka Tuhan berkata kepada Yosua untuk bangun atau bangkit dari keadaannya. Keadaan seperti ini meskipun wajar bagi manusia dan merupakan kecenderungan, seharusnya memang tidak berlangsung lama: karena ini berarti tidak menghasilkan apa-apa, karena berarti tidak menghormati Pribadi dan janji-janji Tuhan, karena ini membuat kita menjadi tawar bagi Tuhan.

Arti kata “Bangunlah!”

Kata kerja yang dipakai disini dalam bahasa Ibraninya adalah qum yang artinya bangun dari posisi tertelungkup karena alasan dan akibat tertentu. Dari arti literalnya qum memiliki arti khiasan. Bangun dipakai untuk satu tindakan persiapan untuk melakukan sesuatu, bangun dari keadaan tidak berdaya atau gagal, untuk menunjukkan hormat dan penyembahan, bangun untuk mendengar Firman Tuhan, untuk menjadi kuat dan perkasa, untuk memberi pembebasan, untuk melakukan tugas atau tanggungjawab (yaitu sebagai nabi atau hakim), dan untuk memberi kesaksian.

Beberapa pengertian ini memang sesuai dengan keadaan Yosua. Perintah ini membuat Yosua bangun dari keadaan keputusasaannya dan kesia-siaannya untuk mempersiapkan diri untuk bertindak, mendengarkan Tuhan, bertanggungjawab, dan memimpin umat Tuhan dalam pembebasan.

Meski Tuhan memahami dan bersimpati dengan persoalan dan ketakutan yang kita alami, dan meski merendahkan diri dihadapan Tuhan memang perlu, Ia tidak pernah berbelasungkawa untuk tindakan kita saat jatuh tertelungkup dalam keputusasaan dan Ia tidak pernah membiarkan kita lepas dari kasih karunia dan tuntutanNya untuk bertindak dalam kepatuhan. PerkataanNya kepada kita adalah supaya kita mengangkat wajah kita, supaya mata kita tertuju kepadaKu dan supaya kita menghadapi persoalan hidup sesuai prinsip-prinsip dan janji Alkitab.

Pertanyaan kepada Yosua: “Mengapa engkau sujud demikian?”

Pertanyaan ini mengandung teguran. Dari sudut pandang Tuhan, dari sudut rencanaNya bagi Israel dan janjiNya kepada Yosua, apakah ada alasan bagimu untuk putus asa? Ini adalah panggilan kepada Yosua untuk memandang kepada Tuhan!

Jadi ini adalah satu panggilan kepada Yosua, dan kepada kita jika kita dalam keadaan seperti Yosua, untuk mengevaluasi apa sebenarnya yang sedang kita perbuat dan mengevaluasi akar penyebab kekalahan dalam hidup. Kita perlu bertanya, apa yang ingin diajarkan Tuhan kepada kita? Apakah ini disebabkan karena sesuatu yang saya telah buat atau yang tidak saya buat?

Penjelasan kepada Yosua (11-12)
Penyebab kegagalan Israel ( 11)

Dalam Alkitab terjemahan NASB atau KJV seolah-olah dalam ayat 11 ada beberapa kesalahan yang dilakukan Israel karena setiap klausanya dihubungkan dengan kata penghubung “and,” namun agaknya setiap klausanya merupakan penjelasan lebih lanjut atas yang sebelumnya. Terjemahan versi NIV adalah yang sesuai dengan pemikiran ini: masing-masing penjelasan merupakan penjelasan lebih lanjut atas persoalan yang ada dari yang umum ke yang khusus dengan masing-masing penjelasan memberi penjelasan yang lebih tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Ayat 11 bunyinya:

(1) “Orang Israel telah berbuat dosa” (ini menyatakan hakekat kegagalan mereka dan kegagalan kita—dosa [dalam bahasa Ibraninya berarti tidak kena sasaran, kehilangan jalan atau tujuan atau tanda]),

(2) “mereka melanggar” (bahasa Ibraninya àa„bar, artinya melewati, melangkahi, melampaui, melanggar) perjanjianKu yang Kuperintahkan keapda mereka” (sekarang persoalannya menjadi semakin sepesifik),

(3) “mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu, mereka mencurinya” (ini menunjukkan bagaimana mereka melanggar perjanjian dengan mencuri—mencuri sesuatu yang dikhususkan untuk Tuhan),

(4) “mereka menyembunyikannya, dan mereka menaruhnya di antara barang-barangnya” (ini menjelaskan akibat selanjutnya, akibat dosa yang semakin membesar dan menyatakan sifat nafsu kepentingan diri atas apa yang terjadi, yang merupakan akar dari kebanyakan dosa kita).

Akibat Kegagalan Israel (12)

Kita harus memberi perhatian untuk kata “sebab itu” yang membuka ayat ini. Dalam terjemahan NIV digunakan istilah “that is why” dan NASB dan KJV menggunakan “therefore.” Dengan demikian kita ditunjukkan pada satu akibat dosa Akhan dan atas dosa yang tidak diakui secara umum—yakni kelemahan, ketidakmampuan untuk melayani dan hidup untuk Tuhan karena dosa mendukakan Roh Kudus (Efesus 4:30; 1 Tesalonika 5:10). Ini merupakan gamban kebenaran yang dikumandangkan Yohanes 15:1-7; Efesus 4:30; 1 Tesalonika 5:19; 1 Korintus 10:13; dan Amsal 28:13. Dalam Kristus kita memiliki kapasitas untuk hidup dalam kemenangan bersama Tuhan apapun yang kita hadapi, namun kemampuan untuk melakukannya tergantung pada persekutuan kita dengan sang Juru Selamat dalam kuat Roh Kudus; kita harus berjalan dalam terang (1 Yohanes 1:5-9).

Petunjuk bagi Bangsa Israel (13-15)

Dalam persiapan untuk pelayanan kepemimpinannya, Yosua sekali lagi diperintahkan untuk “bangun.” Ia tidak bisa memimpin bangsa Israel dengan wajah tertelungkup dalam kotoran atau pada saat termenung, depresi atas kekalahan. Ini pada dasarnya merupakan satu panggilan untuk memperbaharui persekutuan dan iman dalam kuasa Allah. Ini seperti perkataan Tuhan kepada Petrus dalam Lukas 22. Petrus diperingatkan bahwa Setan akan menampinya seperti gandum “dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Lukas 22:32). Petrus tidak mengijinkan kegagalannya dan penolakan yang telah ia lakukan sebelumnya membuatnya tidak bisa menjadi pemimpin dan menguatkan orang lain. Oleh sebab itu Petrus sendiri mendorong gereja dalam hal keselamatan dan pengampunan kita dalam Kristus, “siapkanlah akal budimu …” (1 Petrus 1:13). Dikaitkan dengan apa yang akan terjadi (penghakiman dan pemberian disiplin kepada Akhan dan keluarganya), jelas Yosua juga memberi perintah yang sama kepada bangsa Israel.

Kemudian, pada ayat 13, Yosua diperintahkan: “kuduskanlah bangsa itu” untuk mempersiapkan mereka menghadapi persoalan. Ia diminta supaya mereka memperhatikan dosa seseorang yang mengambil sesuatu yang dilarang yang juga merupakan akibat kegagalan mereka dalam peperangan melawan Ai. Seperti yang ditegaskan Tuhan kepada Yosua, maka ia harus membuat orang Israel sadar akan penyebab dan akibat dosa. Ini juga menyadarkan mereka untuk siap dengan apa yang harus dilakukan hari berikutnya. Mereka harus menyisihkan waktu khusus untuk kegiatan ini dan mempersiapkan hati mereka mungkin dengan berdoa dan menyembah unrtuk apa yang akan Tuhan lakukan.

Kemudian, dalam ayat 14 petunjuk khusus diberikan untuk menebus dosa ini diantara mereka. Pertama harus ada pemeriksaan suku demi suku, keluarga demi keluarga, dan akhirnya orang-demi orang. Perhatikan juga bahwa para laki-lakilah yang harus bertanggungjawab atas keluarga mereka. Pemeriksaan ini akan menyatakan pihak yang bersalah. Dalam ayat 15 dijelaskan hukuman yang harus dilaksanakan bagi pihak yang bersalah beserta alasan mengapa hukuman tegas itu perlu dilakukan.

Dosa Akhan Dinyatakan
(7:16-21)

Mencari pihak yang bersalah (16-18)

“Keesokan harinya bangunlah Yosua pagi-pagi”. Empat kali kita membaca bahwa Yosua bangun pagi-pagi untuk melaksanakan tugas penting. Yosua bukan orang yang suka menunda-nunda pekerjaan.

Kemudian, kita mendapati pada ayat 16 sampai 18 bagaimana dosa Akhan ditemukan dimulai dari pemeriksaan seluruh bangsa dan mengecil menjadi suku Yehuda, kemudian kedalam keluarga atau kaum Zerah, kemudian kedalam keluarga kaum ini hingga kedalam keluarga Karmi, dan kemudian dari keluarga itu didapati Akhan.

Sekarang, mengapa Yosua mengikuti prosedur ini dan bagaimana ia bisa sampai kepada Akhan? Jawabannya terdapat dalam ayat 14 dalam ungkapan yang diulang-ulang “yang ditunjuk oleh TUHAN.” Alkitab NASB menggunakan istilah “by lot” (dengan undian) dalam huruf miring yang tidak terdapat dalam naskah asli, namun ungkapan ini memiliki makna seperti “yang ditunjuk oleh TUHAN.”

Istilah “yang ditunjuk TUHAN” dalam ayat 16-18 mungkin dilakukan dengan menggunakan Urim dan Tumim sesuai Keluaran 28:15, 30 (bandingkan Bilangan 27:21), yang memang berkaitan dengan pelemparan undi (bandingkan Amsal 16:33; Yosua 14:1-2; 18:6).

Apakah Urim dan Tumim itu? Alkitab tidak memberi penjelasan apa itu Urim dan Tumim, namun berikut penjelasan yang bisa membantu.

Penjelasan mengenai Urim dan Tumim:

1. Dalam bahasa Ibraninya mungkin ini berarti “cahaya” dan “penyempurnaan.” Urim mungkin berasal dari kata Ibrani ‘o,r’ yang artinya “menjadi terang.” Tumim mungkin berasal dari kata Ibrani yang berarti “sempurna.”

2. Urim dimulai dengan kata pertama dalam bahasa Ibrani (aleph) dan Tumim (thu„mmi‚m) dimulai dengan huruf terakhir (taw).

3. Urim dan Tumim dicatat dalam Alkitab tanpa penjelasan, kecuali bahwa keduanya harus diletakkan pada ”tutup dada…dan diatas jantung Harun” (Keluaran 28:30), yang mungkin tidak lain adalah istilah untuk keduabelas batu permata yang berisi nama suku-suku Israel (17-21), dan diletakan di dada penghakiman diatas jantung Harun (29).6 Ada yang percaya kalau Urim dan Tumim adalah dua batu khusus.

4. Keduanya adalah alas dada penghakiman yang dipakai pada bagian luar efod. Intinya keduanya dipakai untuk mencari petunjuk ilahi dan jawaban atas pertanyaan dan krisis diluar penglihatan manusia lewat pelayanan para imam.

Dr. Hannah dalam The Bible Knowledge Commentary menyebutkan:

Bagaimana keduanya dipakai untuk mengetahui kehendak Tuhan tidaklah diketahui, namun ada yang berpendapat bahwa Urim mewakili jawaban negatif dan Tumim mewakili jawaban positif. Mungkin ini diakibatkan karena Urim…dimulai dengan huruf pertama alphabet Ibrani, dan Tumim…adalah huruf terakhir. Ada yang berpendapat bahwa keduanya hanya symbol otoritas imam untuk mendapat petunjuk dari Tuhan, atau penegasan bahwa imam bisa memperoleh penjelasan (“terang”) dan pengetahuan yang sempurna (“sempurna”) dari Tuhan.7

Mungkin, karena Taurat dibuat sesuai alphabet Ibrani (aleph sampai taw) mewakili kehendak moral dari Tuhan, maka Urim dan Tumim mewakili petunjuk Allah dalam situasi khusus yang berada diluar pengetahuan dan kemampuan manusia.

Apapun itu, keduanya adalah undian suci dan dipakai dalam keadaan krisis untuk menentukan kehendak Tuhan (lihat Ulangan 27:21). Setiap keputusan Urim berasal dari Tuhan (Amsal 16:33). Penggunaan Urim dan Tumim dalam menentukan keputusan Tuhan atau dalam mengetahui kehendakNya haruslah dilakukan oleh imam kepala karena hanya dialah yang bisa memakai efod yang berisi Urim dan Tumim.

Dalam 1 Samuel 2:28 disebutkan tiga tugas para imam: (1) mempersembahkan korban diatas mezbahKu, yakni memimpin upacara kurban di altar korban bakaran di halaman kemah suci; (2) membakar ukupan di altar Tempat Kudus (Keluaran 30:1-10), dan (3) memakai baju efod. Yang dimaksud adalah efod khusus yang dipakai imam-imam kepala. Efod merupakan alas dada yang didalamnya ada Urim dan Tumim, fungsinya adalah untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan membuat keputusan yang ada kaitan dengan melempar undi.

Allah memberi petunjuk ilahi dan Akhan kedapatan bersalah dengan menggunakan cara-cara supernatural. Ia tidak datang dengan sukarela untuk mengaku dan bertobat dan memohon belaskasihan Tuhan. Kegagalannya atas hal ini bertolakbelakang dengan sikap dalam cerita anak yang hilang dalam Perjanjian baru.

Pelajaran dari Dosa Akhan (20-21)

Seperti yang diingatkan 1 Korintus 10, apa yang terjadi kepada Akhan dicatat untuk memperingati dan memberi petunjuk kepada kita atas proses dosa. Proses dosa yang dimiliki Akhan sangatlah umum. Ia melihat, ia tergoda, dan ia mengambil. Ini sama prosesnya dengan dosa Hawa (Gen. 3:6) dan dengan dosa Daud (2 Samuel 11:2-4) dan juga dengan kita. Pendekatan yang dilakukan Yosua adalah dengan cara yang halus, namun tegas. Ia membenci dosa, namun mengasihi orang yang berdosa. Meski pengakuan Akhan adalah jujur, namun terlambat dan hanya karena telah ketahuan. Pengakuannya bukan atas dasar pertobatan atau atas dasar kesedihan suci yang membawanya pada pertobatan (2 Korintu 7:8-11).

Apakah ada pelajaran yang bisa kita pelajari disini?

(1) Pengakuan tanpa pertobatan atau perubahan pikiran adalah sia-sia. Itu tidak memulihkan persekutuan kita bukan karena pertobatan adalah sesuatu yang harus kita lakukan untuk memperoleh pengampunan Tuhan, namun karena tanpa pertobatan kita tetap bersalah dan akibatnya masih ada tembok pemisah diantara kita dengan Tuhan.

(2) Kadang-kadang pengakuan dilakukan terlambat untuk menghentikan disiplin. Alasan utama pengakuan bukan untuk menghindari persoalan atau menghindar dari hukuman Tuhan. Tujuan pengakuan adalah untuk memulihkan kembali persekutuan dan memberi hidup kepada Tuhan karena kita ingin berjalan bersama Dia dibawah kendaliNya, dan mengikuti petunjukNya (Amos 3:3).

(3) Mungkin pelajaran yang paling praktis adalah mengamati prosesnya. Alasan mengapa Akhan menyimpan jerahan menunjukkan bahwa ia sebenarnya mengetahui bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Jadi, mengapa ia tetap saja melakukannya? Mengapa Setan melakukan dosa terhadap Tuhan? Mengapa Hawa jatuh dalam tipuan ular?

(4) Kemudian, perhatikan apa yang Akhan curi. Ia mengambil emas dan perak yang menunjukkan sikap materialistis, namun juga ia mengambil jumah indah dari Babilonia yang tidak hanya berarti materialistis tapi juga ada sifat ingin tanpil menawan dan menarik perhatian orang. Dua hal ini yang merupakan godaan yang kita semua hadapi dan, kalau kita tidak menghadapinya dengan iman, bisa merasuki kehidupan kita. Dua hal ini bisa berupa keinginan untuk posisi/jabatan, kekuasaan, prestasi, kesenangan, harta benda, pujian, dan penghormatan. Ini hanyalah cara-cara atau strategi manusia untuk mendapat keamanan, pengaruh, dan kepuasan. Yeremia menyebutnya kolam yang bocor.

Sebab dua kali umatKu berbuat jahat: mereka meninggalkan aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air (Yeremia 2:13).

Kejahatan yang dilakukan manusia bersumber dari:

  • Sifat berdosa/kedagingan yang memiliki hikmat yang tidak benar (Yesaya 55:8f; Amsal 14:12; Roma 1:18f; Efesus 4:17f).
  • Dunia dan hikmat duniawi (Roma 12:2).
  • Struktur keyakinan yang salah, berpikir dari sudut pandang manusia, percaya bahwa hal-hal duniawi bisa memenuhi kebutuhan kita akan keamanan dan kebahagiaan.
  • Ketidakyakinan atas kebaikan Tuhan, hikmatNya, dan waktuNya dalam memenuhi kebutuhan kita.

Akhan, seperti Setan dan Hawa, tidak puas, tidak sabar, dan bergantung pada kekuatan diri sendiri. Ia hanya bersandar pada strategi perlindungannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dalam hidup.

Ironisnya, pada saat itu Tuhan sedang dalam proses memberikan kepada semua orang Israel tanah perjanjian dimana masing-masing orang akan memiliki tanah sendiri, rumah sendiri, dan berkat-berkat yang melimpah. Namun ketidakpuasaan karena gagal menemukan kebahagiaan dalam Tuhan, membuatnya tidak sabar yang membuat dia tergoda dan mendahului rencana Tuhan dengan menggunakan rencananya sendiri. Meski perintah mengenai godaan mengingini kepunyaan orang lain hanya sekali dalam Sepuluh Perintah, ini adalah akar dosa terhadap semua perintah dan merupakan akar dosa dari kebanyakan dosa kita.

Juga perlu ditekankan, mengingini kepunyaan orang lain berakar dari ketidakpuasan kita atas hidup dan atas kegagalan menemukan kebahagiaan di dalam Tuhan dan dalam mempercayaiNya sebagai sumber kebutuan kita untuk keamanan, pengaruh, dan kepuasan.

Bagaimana Perjanjian Baru menggambarkan dosa mengingini kepunyaan orang lain? Ini disamakan dengan penyembahan berhala (Efesus 5:5; Kolose 3:5). Apakah berhala itu? Sebenarnya, penyembahan berhala adalah mencari hal-hal lain yang hanya bisa diberikan Tuhan. Berhala bisa dalam bentuk patung kayu atau logam mulia yang menjadi tujuan doa seseorang dan tempat orang mencari bantuan. Berhala juga bisa berbentuk materialisme, yang merupakan cara hidup yang mencari keamanan dan pengaruh lewat uang, harta, kuasa, prestasi, dan kesenangan. Berhala bisa dalam bentuk sekularisme, yaitu satu filsafat hidup dimana manusia berusaha hidup terpisah dari ketergantungan pada Tuhan. Atau bisa berbentuk pemujaan manusia, yang mencari kepuasan dan keamanan lewat pujian dari orang lain. Campbell menulis:

Diperkirakan orang Amerika menjadi korban 1,700 iklan lewat berbagai media. Meski tidak ada salahnya membeli benda sebanyak 1,700, namun ada kemungkinan kita bisa terbujuk dengan filsafat dibalik semua iklan tersebut—bahwa kita akan memiliki hidup yang sempurna, dan menyenangkan kalau kita mengendarai mubil ini, menggunakan “hair spray” ini, atau jika minum minuman itu.8

Jadi, apa yang kita perlukan? Yang kita perlukan adalah mempelajari rahasia Paulus—kepuasan yang alkitabiah dalam Tuhan seperti yang disebutkan dalam Filipi 4:12-13 (juga lihat Filipi 3:13-14 dan 1 Timotius 6:6-19).

Kematian Akhan Dilaksanakan
(7:22-26)

Kalau kita membaca bagian ini, satu pertanyaan muncul dibenak seseorang, mengapa Tuhan begitu kasar kepada Akhan dan keluarganya? Berbeda dengan kemurahan yang kita dapati dalam Perjanjian Baru, hukuman yang diberikan disini sangatlah kasar. Dengan cepat kita teringat belaskasihan yang ditunjukkan Tuhan kepada wanita di sumur yang memiliki lima suami (Yohanes 4:18) dan tentang wanita yang kedapatan berzinah yang, sebagai wanita Yahudi, seharusnya dilempari dengan batu sesuai Taurat (Yohanes 8:3f).

Namun kita sering lupa dengan beberapa bagian dalam Perjanjian Baru seperti kematian Ananias dan Safira dan penghakiman saat Tribulasi yang menakutkan dimana darah manusia akan sampai ke kekang kuda karena murka Tuhan (bandingkan Wahyu 14:18-20; 19:13 dengan Yesaya 63:1-6).

Kita juga cenderung lupa atau menyepelekan kesucian Tuhan. Tuhan sering digambarkan sebagai Yang suci lebih dari semua sifat lainNya—lebih dari kasihNya, kemurahanNya, dan anugerahNya. Sebagai Tuhan yang suci, maka kebenaran dan keadilanNya sempurna, karena Ia adil, maka Ia harus menghakimi dosa (bandingkan Mazmur 50:21; Pengkhotbah 8:11-12).

Namun juga ada hal yang sering kita abaikan saat kita merenungkan bagian ini. Siapakah bangsa Israel dan apakah tujuan mereka? Mereka adalah bangsa yang dipanggil Tuhan untuk menjadi saksiNya kepada dunia dan lewat mereka Ia akan mengutus Sang Juruselamat (bandingkan Keluaran 19:4-6; Ulangan 10:15f; dengan 1 Petrus 1:14f; 2:9-12). Jadi ini berkaitan dengan prinsip melindungi kepentingan dan tujuan mayoritas dengan cara menghadapi dosa sedemikian rupa supaya ada ketakutan di hati bangsa Israel dan supaya mereka sadar betapa seriusnya akibat dosa itu. Sama seperti yang terjadi pada Ananias dan Safira, yang terjadai pada awal periode gereja, demikian juga ini adalah awal periode bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, jadi Akhan dihukum mati untuk menanamkan takut akan Tuhan di hati bangsa Israel dan untuk memberi contoh betapa seriusnya apa yang dilakukan Akhan dalam melanggar perjanjian dengan Tuhan.

Harta dan kenikmatan awal atas tanah perjanjian dan berkat-berkat atasnya serta kemampuan Israel untuk memenuhi panggilan mereka sebagai umat pilihan Tuhan tergantung pada kepatuhan kepada Tuhan yang memberikan mereka tanah perjanjian itu beserta berkat-berkatnya yang melimpah serta semua tanggungjawab (Ulangan 28-30).

Selanjutnya, kita harus mengingat bahwa Akhan memang mengakui dosanya, namun hanya melakukannya karena situasi memaksanya. Seandainya ia dengan sukarela memohon belaskasihan Tuhan, mungkin ia tetap hidup, seperti halnya Daud dan dosanya. Dr. Campbell menulis: “Melihat kenyataan bahwa Taurat melarang penghukuman atas anak-anak dari seorang ayah yang berdosa (Ulangan 24:16), maka kita menganggap bahwa anak-anak Akhan juga terlibat dalam kejahatan.”9

Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah persoalan yang diakibatkan kepada orang lain. Tuhan melakukan tindakan tegas karena sejumlah akibat yang ia timpakan kepada orang lain—ini adalah contoh mengenaskan, dimana akibatnya beberapa jiwa lenyap, Israel dikejar, dan kehormatan Tuhan berada dalam bahaya (bandingkan ayat 25). Jadi ini menjadi peringatan kepada bangsa Israel, yang menjadi nyata dengan mendirikan tugu peringatan untuk mengingatkan bangsa Israel kepada dosa Akhan dan penghakiman dari Tuhan.

Kesimpulan

Ada dua hal utama yang ingin saya tekankan dalam bab ini.

(1) Tindakan Akhan bermula dari ketidakpuasan. Namun mengapa ada ketidakpuasan sementara ia adalah satu dari orang Israel yang berkesempatan baik? Apapun alasannya, Akhan tidak puas dengan hidupnya karena ia tidak rela atau gagal menaruh hidupnya dalam pemeliharaan dan kebaikan Tuhan. Kegagalannya dalam berjalan dengan iman membuatnya ingin mencari kepuasan, keamanan, dan pengaruh dalam dunia material sehingga karena tergoda, maka ia mengambil sesuatu yang dilarang.

Karena keadaan rohaninya yang tidak memiliki kepuasan dan ingin hidup tanpa tergantung pada Tuhan, maka ia bersandar pada dirinya sendiri percaya bahwa ia bisa memenuhi keinginannya dengan menggunakan caranya sendiri. Kegagalan kita untuk mencari kepuasan dalam diri sang Juruselamat dan dalam kasih dan kasih karuniaNya sungguh akan menjadi sumber sejumlah besar penderitaan dan sikap berdosa lainnya. Tuhan menggarisbawahi masalah ini dalam Matius 6 ketika Ia memperingati murid-muridNya untuk tidak menimbun harta di dunia dan untuk tidak kuatir tentang hal-hal tertentu dalam hidup—yaitu minuman, makanan, dan pakaian. Dalam prosesnya, Ia menjelaskan bahwa usha untuk memperoleh hal-hal tertentu dalam hidup melebihi usaha untuk lebih dahulu mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya berarti tidak mempercayai pemeliharaan Tuhan. Permasalahanya disini adalah tentang iman—kurang beriman. Setelah meperlihatkan cara Tuhan memelihara burung-burung dan rerumputan, Ia berkata,

Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di lading, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? (Matius. 6:30-31).

(2) ketika Akhan berdosa dan ada dosa diantara perkemahan orang Israel, maka berkat dan kekuatan dari Allah ditangguhkan dan bangsa Israel berada dalam penghakiman atau disiplin dan kegagalan. Namun jika dosa diselesaikan seperti yang diperintahkan Tuhan, dalam kemurahanNya, maka berkat dan kekuatan dari Tuhan akan dipulihkan. Sekali lagi kita diingatkan bahwa dosa yang disadari dalam hidup akibat strategi dan keinginan diri sendiri akan menciptakan penghalang dalam hidup kita.


1 R. Laird Harris, Editor, Gleason L. Archer, Jr. Bruce K. Waltke, Associate Editors, Theological Word Book of the Old Testament, Moody Press, Chicago, Vol. 1, 1980, p. 324.

2 Norman L. Geisler, A Popular Survey of the Old Testament, Baker Book House, Grand Rapids, 1977, p. 100.

3 Frank E. Gaebelein, General Editor, Expositors Bible Commentary, Old Testament, Zondervan, Grand Rapids, 1997, electronic media.

4 J. Oswald Sanders, Spiritual Leadership, Moody Press, 1967, p. 159.

5 Sanders, p. 163-164.

6 R. Laird Harris, Editor, Gleason L. Archer, Jr. Bruce K. Waltke, Associate Editors, Theological Word Book of the Old Testament, Moody Press, Chicago, Vol. I , 1980, p. 52.

7 John D. Hannah, The Bible Knowledge Commentary, editors John F. Walvoord and Roy B. Zuck, Vol. I, Victor Books, Wheaton, IL, 1985, p. 152.

8 Donald K. Campbell, Joshua, Leader Under Fire, Victor Books, Wheaton, IL, 1989, p. 65.

9 Campbell, p. 66.

Related Topics: Suffering, Trials, Persecution