Where the world comes to study the Bible

Prinsip Pemeliharaan

(Mengenal Anakmu)9

Dasar Alkitab

    Psalm 139:1-6

1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; 2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. 3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. 4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. 5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. 6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

Konsep pengetahuan anak kita hanya berupa akal sehat, tetapi mempunyai akar dalam pemeliharaan Bapa surgawi kita. Didalam Mazmur 139:1-6 Daud menemukan keamanan dan kenyamanan besar dalam pengetahuan bahwa kemaha hadiran Tuhan adalah relational, bahwa Tuhan tidak hanya mengetahui tentang dia, tetapi bahwa Ia mengenal dia dengan intim dan mengetahui semua detil dari hidupnya sebagai Seorang yang mengawasi dia, bahkan seperti Orang yang menaruh Tangannya di sekitar hidup David's ( vs 5). Membaca ini, aku jadi berpikir tentang iklan Allstate , Kamu ditangan ahlinya dengan Allstate. Sebagai jawaban atas kebenaran ini, David berseru, . pengetahuan seperti itu terlalu bagus untuk aku; terlalu tinggi, aku tidak bisa mencapainya ( NIV). Kenyataan Tuhan terlibat dalam hidup umatnya, Anak-anak rohaninya ( Heb. 12:5-7), adalah di luar pengertian Daud. meski demikian, kebenaran ini memikatnya dan memberi dia kenyamanan besar

Sebagai orangtua surgawi kita, Tuhan terlibat seluruhnya dengan anak-anakNya. Ia mengetahui penipuan kita( Ia yang merancang kita), jalan kita, dan situasi, mental, emosional, spiritual dan phisik. Ia mengetahui kelemahan kita, kekuatan, pola pikir, alasan, dan kebiasaan. Betapa contoh yang indah untuk kita sebagai orang tua. Tentu saja, orang tua adalah segalanya kecuali mahatahu, meskipun demikian saya sering berpikir kalau ibu saya mempunyai mata dibelakang kepalanya. Meskipun demikian, model dari Bapa surgawi menunjukkan bagaimana orangtua harus mengamati dan mengenal anak-anak mereka sehingga mereka bisa membedakan kebutuhan phisik, rohani, dan emosional mereka.

Lihat juga Jeremiah 1:5 untuk ilustrasi lain ttg pengetahuan dan keterlibatan pribadi Tuhan dengan umatNya. Kita perlu mencatat komentar Daud dalam ayat 1, Kamu sudah mencari aku dan mengenal aku. Yang dicari Ibraninya chaqar, mencari sampai ketemu suatu pokok atau perihal, menyelidiki, menguji secara menyeluruh. Pengetahuan adalah hasil pengujian. Karena Tuhan, yang adalah abadi dan mengetahui masa depan seperti halnya sekarang, telah diketahui sejak kekekalan. Bagi orangtua, memerlukan studi saksama untuk mengenal anak-anak mereka, setiap anak, sebagaimana mereka ada. Perhatikan, penekanan dalam seluruh ayat awal ini ada pada pengujian Tuhan, pengetahuan, dan pengenalan semua detil hidup Daud.

Seperti Bapa Surgawi menyelidiki kita, demikian juga orang tua harus menyelidiki dan mengenal anak mereka sebaik mungkin. Kenapa? Perhatikan Psalm 139:23-24.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!.

Tujuannya adalah untuk memperhatikan cara menyakitkan dalam rangka membantu seorang anak masuk ke dalam hidup yang kekal, suatu hidup berlimpah-limpah dibumi dengan penghargaan abadi di surga

Saya akan menyarankan dua aplikasi di sini:

Pertama, orang tua harus mengenal anak-anak mereka dengan intim dalam rangka memimpin mereka ke luar dari jalan yang menyakitkan (secara harafiah, jalan duka cita). Ini adalah jalan dari sudut pandang manusia, kejasmanian, ketidak dewasaan, dan dosa, menuju ke dalam jalan kedewasaan dan pertumbuhan Alkitab, jalan yang memberi anak itu arti yang benar, kepuasan, dan keamanan dengan hasil abadi.

Kedua, sebagai bagian dari proses pelatihan, anak-anak harus mengenali, menghargai, dan bereaksi terhadap peran orang tua yang diberi Allah untuk menjadi agen perubahan (tidak hanya popok!). Sperti Daud berserah kepada orangtua surgawinya, maka anak-anak harus diajar untuk lakukan yang sama melalui pemahaman dan menghormati peran yang diberikan Tuhan kepada orang tua mereka. Tak seorangpun dapat mengenal seorang anak seperti orangtuanya-jika orangtuanya memperhatikan dan berjalan dekat dengan Tuhan.

    Proverbs 20:11-12

Anak-anakpun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya. 12 Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.

Prinsip akal sehat dan pelajaran yang jelas nyata didalam dua ayat ini adalah bahwa perilaku seorang anak bisa dipelajari; itu akan mengajar orang tua tentang anak mereka jika mereka mau memberi waktu dan usaha untuk belajar, mengamati, dan lihat apa yang terjadi didalam hidup anak mereka. Tetapi apa yang dicari orangtua? Apa yang bisa mereka harapkan dari anak-anak mereka? Kitab injil menetapkan sejumlah kebenaran yang akan memandu kita, tetapi barangkali tempat untuk mulai adalah ayat dasar, Amsal 22:6

    Proverbs 22:6

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Seperti yang telah dicatat, ayat ini adalah suatu kunci seluruh tanggung jawab pelatihan anak, tetapi ada fokus tertentu di ayat ini yang menunjukan kalau suatu pelatihan anak dari orangtua harus didasarkan pada pengenalan akan anaknya. Penekanan ini tidak hanya jelas dalam bahasa Inggris seperti dalam teks Ibrani. Seperti dilihat sebelumnya, kata melatih, Ibraninya chanak, mempunyai maksud/arti utama, melatih, menginstruksikan, memulai, dan dapat juga berarti, untuk mempunyai dedikasi, mencekik atau disiplin. Didalam katakerja kita bisa melihat tanggung jawab utamanya. Orang tua ada untuk melatih dan mengajar anak-anak mereka untuk membawa kendali Tuhan ke dalam hidup anak. Dan pasti, karena anak-anak mereka adalah kepercayaan dari Tuhan, mereka harus mendedikasikan anak-anak ini kepada Tuhan dan mempersembahkan diri mereka kepada proses pelatihan.

Tetapi apa yang menjadi standard proses? Perkataan Tuhan adalah standardnya, tentu saja, tetapi ada hal lain yang harus memandu proses itu dan ini dilihat dalam, dalam jalan yang ia harus pergi. Teks Ibrani lebih kuat dari itu dan secara literal, menurut ukuran jalannya. Sesuai dengan, Ibraninya ' al pi, secara harafiah menurut mulut. Ini membawa gagasan menurut perintah, bukti atau kalimat, atau menurut ukuran. 10 Kata depan ' Al menandakan norma, standard, atau aturan dengan mana sesuatu diharapkan untuk yang diselesaikan. Pi Kata bendanya pe, mulut, pembukaan. Karena mulut atau lobang bidik kamera ukurannya beragam, mengembangkan konsep ukuran atau porsi. Dengan pemikiran ini, pe sering digunakan di kata depan yang berarti sebanding dengan. Seorang anak kecil secara normal mempunyai mulut jauh lebih kecil dibanding orang dewasa dan tidak bisa menerima sama besar seperti orang dewasa. Prinsip di sini mestinya sudah jelas. Pelatihan harus dilaksanakan menurut ukuran, kapasitas, atau kemampuan. Tetapi apa itu? Itu ditunjukkan dengan kata-kata jalannya.”

Teks Ibrani mempunyai kataganti orang berkait dengan kata benda jalan. Itu dibaca, jalannya dan tidak hanya didalam jalan yang ia perlu pergi. Jalan Ibraninya derek, jalan, perjalanan, cara. Itu digunakan untuk ( 1) suatu jalan, alur, perjalanan, tindakan, ( 2) gaya, kebiasaan, cara sebagai kondisi atau pengalaman biasa, dan ( 3) tentang tugas dan tindakan moral dan karakter baik dan jahat. 11 Dari pengenalan Alkitab dan dari pengenalan anak-anak, kita mengetahui berbagai hal tentang jalan mereka. pertama, kita mengetahui bahwa Tuhan, di dalam Kedaulatannya, mempunyai suatu rencana, suatu jalan yang dia ingin setiap anak mengikutinya. kedua, kita mengetahui bahwa tiap-tiap anak mempunyai suatu keadaan spesifik sebagai suatu individu dengan kemampuan tertentu, bakat, dan kecenderungan tertentu. Derek dari katakerja darak, untuk menginjak, berbaris, tetapi sering digunakan secara metafora meluncurkan sesuatu seperti melentur busur dalam rangka meluncurkan panah, atau suatu sergapan, atau pidato pahit, atau pertimbangan suatu arah tertentu ( cf. P. 7:13; La. 2:4; 3:12; P. 57:7; 64:3; 1 Chron. 5:18; 8:40; Isa. 21:15). Walau derek tidak mempunyai maksud/arti spesifik, penggunaan format katakerja menyediakan kita ilustrasi menarik yang mengenai sifat alami anak-anak menurut faktor warisan dan sebagaimana Tuhan telah merancang mereka.

Dengan hal ini, mari kita melihat beberapa pemikiran kunci dalam melatih anak menurut jalannya:

(1) Orang tua harus mengenal anak-anak mereka sebagai individu yang unik. Untuk melakukan ini, mereka harus dengan berdoa mengamati, belajar, dan mengenali karakteristik individu ( atau kebengkokan) dari tiap anak-anak mereka dan melatih mereka dengan tepat.

(2) Orang tua jangan pernah berpikir kalau seorang anak mendapatkan banyak pelatihan Alkitab atau pergi ke gereja sudah cukup. Pengajaran Alkitab, gereja, dan tumbuh dewasa dalam pengajaran Alkitab dirumah merupakan semua hal penting dan bagian penting dari proses, tetapi masing-masing anak perlu untuk diperlakukan sebagai individu unik dan tidak boleh langsung percaya. Orang tua harus mengambil catatan khusus dari apa yang sedang terjadi pada setiap respon anak, kelemahan, kebiasaan, sikap, dan lain lain. Lingkungan yang sama tidak berarti bahwa masing-masing anak akan menjawab dengan cara yang sama. Suatu pendekatan yang sama tidak akan berhasil. Beberapa ilustrasi Alkitab tentang respon akan yang berbeda terhadap pengajaran dan lingkungan yang sama di dalam keluarga yang sama adalah Cain dan Abel, Jacob dan Esau, dan Absolom dan Solomon.

(3) Orang tua jangan pernah mencoba untuk memaksa anak-anak mereka ke dalam jalan yang mereka sendiri. Maksud saya orang tua sering mencoba untuk memaksakan seorang anak ke dalam cetakan cita-cita mereka. Ini tak lain suatu usaha orantua, melalui pencapaian anak mereka, untuk mendapat pujian atau apapun juga yang mereka butuhkan, tetapi tidak pernah menerimanya. Sebagai contoh, suatu orangtua mungkin punya suatu mimpi melihat anak mereka menjadi seniman atau atlit besar dan melakukan segalanya untuk menggerakkan dan mendorong anak mereka kearah itu walau itu sama sekali tidak sesuai dengan bakat, kemampuan, atau keinginan anak itu sendiri- Membiarkan kehendak Tuhan jadi atas anak itu.

(4) Suatu busur dibuat oleh perancangnya untuk menekuk satu arah, sesuai caranya. Kita lihat bahwa format katakerja “jalan” digunakan suatu busur untuk meluncurkan sesuatu. Jika orang yang menggunakan busur itu tidak tahu cara busur dibengkokkan dan mencoba untuk menekuknya dengan cara yang berbeda, ia tidak akan hanya menghadapi suatu tugas sulit, tetapi ia bisa merusak busur itu. seperti juga, orang tua harus mengenali cara anak mereka dibengkokkan, baik melalui cara Tuhan yang telah merancang mereka dan cara dosa yang telah mempengaruhi mereka. Jika orangtua gagal untuk mengenali ini, mereka gagal membantu menempatkan anak mereka dalam rencana Tuhan bagi hidup mereka. Ini menyatakan bahwa anak-anak tidak seperti potongan tanah liat lembut yang bisa dibentuk sesuka orangtua. Melainkan, mereka adalah individu unik dengan suatu jalan telah ditetapkan dan perlu diketahui, diakui, dan dihadapkan dengan kebenaran Alkitab dan suatu pengamatan saksama dari orangtua.

Doktrin Manusia

Jika orang tua mau mengajar anak-anak mereka menurut Alkitab, percaya itu adalah Firman Tuhan, maka mereka harus pula mengetahui dan menerima apa yang diajarkan Alkitab tentang nature dan penciptaan manusia. Ini adalah suatu dasar yang perlu dan pemandu untuk apa yang harus harapkan dari seorang anak. Manusia modern katakan bahwa orang-orang pada dasarnya baik, dan permasalahan kita bersumber terutama dari lingkungan kita. Jika kita menyapu bersih lingkungan itu maka anak-anak akan jadi bagus. Isolasikan dan tempatkan anak-anak didalam suatu lingkungan sempurna dimana permasalahan nyaris menghilang lenyap. Tak seorangpun menyangkal bahwa lingkungan akan mempengaruhi karakter seorang anak secara negatif atau secara positif. Tentu saja, itulah mengapa Alkitab menempatkan penekanan yang kuat seperti itu pada keluarga dan pemeliharaan anak-anak. Tetapi Alkitab mengajar kita bahwa inti atau permasalahan dalam perilaku penuh dosa didalam anak-anak dan jalan yang mereka hasilkan ada diluar lingkungan. Permasalahannya adalah dosa. Meskipun diciptakan dalam gambaran Tuhan dan tanpa dosa, Adam berdosa dan ras kita jatuh. Alkitab mengajar kita:

(1) Adam’s dosa diteruskan turun temurun. Dalam Kejadian 5:1 kita diberitahu kalau Adam diciptakan serupa dengan Tuhan. Dengan suatu kepribadian ( kesadaran diri, akal, kemauan, dan emosi) manusia diciptakan segambar dengan Allah. Akan tetapi didalam ayat 3 kita lihat bahwa Adam mempunyai seorang putra yang serupa dengannya, menurut gambarannya. Dalam kaitan dengan kejatuhan ini tidak hanya termasuk phisik, mental, dan faktor emosional turunan, tetapi juga suatu nature penuh dosa atau bengkok kearah kejahatan, suatu natur yang didefinisikan Alkitab sebagai kejahatan yang tidak bisa disembuhkan, menipu, dan apa yang hanya dapat diketahui Allah ( cf. J. 17:9; Rom. 5:12; 7:17-18). Jika kita adalah untuk sungguh-sungguh mengenal diri kita dan anak-anak kita/kami, kita harus mengetahui apa yang dinyatakan Tuhan tentang hati manusia menurut FirmanNya.

Jeremiah 17:9 berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Walau nature berdosa ( di sini disebut hati) dapat dikendalikan oleh anugrah keselamatan Tuhan dan persucian didalam Kristus, itu tidak bisa dibasmi, dipindahkan, diubah atau diselamatkan. Jika, seperti kata Jeremiah dalam ayat 5-8, jalan berkat dan kutuk menjadi sangat jelas dan berbeda, mengapa seseorang memilih jalan berdosa? Jawaban sederhana. Sebab akar yang menyebabkan manusia memilih jalan dosa dan terkutuk ada dalam hati manusia—nature berdosanya. Tetapi darimana kondisi penuh dosa ini datang?

(2) Setiap anak mewarisi nature dosa dari orangtuanya. Daud menulis, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” ( P. 51:5, NIV). Daud baru saja mengaku dosanya dalam Mazmur ini dan mengakui bahwa ia tidak bisa menyalahkan lingkungan atau keadaan. Ia adalah orang yang berdosa dan sudah begitu sejak lahir. Maksud Daud ia telah dilahirkan dalam keadaan berdosa, orang berdosa dengan natur dosa, dengan kecenderungan berbuat dosa.

(3) Bahkan anak kecil juga berdosa. Lalu apa yang orangtua harapkan? “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat” ( P. 58:3, NIV). Mengapa? Sebab anak telah melakukan dosa? Tidak! Seorang anak berdosa sebab didalam anak tidak bersalah ada kecenderungan alami ke arah kejahatan seperti menceritakan kepalsuan untuk melindungi dirinya dari konsekwensi perilaku tidak baik.

(4) Seorang anak yang dibiarkan akan membawa aib kepada orangtuanya. Apa sebabnya seorang anak yang tak berdisiplin, terbiar, membawa aib bagi orangtua ( Prov. 29:15)? Sebab, sungguhpun anak-anak kecil ada didalam satu pengertian tidak bersalah, ada suatu prinsip berdosa yang sedang bekerja yang menggerakan mereka ke arah perilaku berdosa dan egois. Maka anak-anak harus diajar untuk tidak berdusta atau mencuri. Mereka harus diajar untuk menjadi tak egois, untuk mencintai dan menghormati orang lain, dan untuk menghormati otoritas.

Dua Sisi Koin

Untuk mengajar seorang anak menurut jalannya orang tua harus mengetahui dan percaya bahwa tiap-tiap anak dilahirkan dengan dua kecenderungan, kecenderungan kearah kejahatan ( kecenderungan suka menentang) dan kecenderungan kearah baik ( yang dapat digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan berkat bagi yang lain).

    Kecenderungan Kearah Kejahatan

(1) Kecenderungan umum atau warisan dosa. Dari orangtua awal, Adam, semua anak-anak menerima nature berdosa. Untuk mengajar anak-anak berarti orangtua tidak akan dikejutkan tetapi sadar akan kecenderungan pemberontakan ini dan keinginan diri sendiri yang merugikan orang lain.

Mengerti ini bisa membantu orang tua menjadi lebih sabar dan lebih sedikit frustrasi ketika malaikat kecil mereka menunjukkan kecenderungan suka menentang atau menyimpan mengejar keinginan diri sendiri. Kita mengetahui kalau manusia kecil ini juga mengalami pertempuran dengan nature berdosa mereka seperti halnya kita. Betapapun, mereka mirip orangtuanya! Pengetahuan dan Pemahaman tentang hal ini akan membantu kesabaran dan pengertian kita, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan dan mengabaikan sikap atau perilaku tidak baik. Pemahaman tentang kecenderungan ini menolong orangtua menyadari bahwa hanya dengan menceritakan kepada anak apa yang diharapkan tidaklah menyelesaikan masalah. Anak mungkin ingin melakukan apa yang benar, tapi karena nature berdosa, kelemahan, ketidak-tahuan rohani, dan pergumulan dalam dirinya, ia memerlukan bantuan yang khusus, pelatihan, dan disiplin yang disediakan oleh orangtua. Karena prinsip keberdosaan ini tidak bisa dibasmi atau sungguh-sungguh diubah dan akan bersama dengan anak seumur hidup, orangtua harus berkomitmen untuk memindahkan anak dari kendali eksternal ( hukum) ke pengawasan intern ( anugrah) sehingga anak belajar untuk hidup dari kesaksian imannya dan hubungan akrab dengan Tuhan melalui Kristus.

(2) Kelemahan Karakter atau Kecenderungan spesifik. Setiap anak mempunyai kecenderungan spesifik atau kecenderungan ke arah perilaku penuh dosa dari keluarganya melalui keturunan ( genetically) dan dari faktor lingkungan ( kondisi-kondisi di rumah dan masyarakat). Dan tiap-tiap anak berespon dengan cara yang berbeda terhadap lingkungan mereka. Yang pasti, seringkali sukar untuk mengetahui di mana akhir factor keturunan dan awal factor lingkungan, tetapi satu hal sudah pasti, atmospir di mana seorang anak dibesarkan sangat mempengaruhi kecenderungan hereditas itu.

Walau masing-masing anak mempunyai kecenderungan berdosa, masing-masing anak sangat berbeda dalam menyatakan hal itu. Ini memerlukan pengetahuan dan pengamatan saksama dari tiap anak. Satu anak mungkin mempertunjukkan kecenderungan rendah diri atau perasaan tidak mampu, sedang anak lain dalam keluarga yang sama dapat percaya diri dan berpikir ia dapat melakukan apapun dan lebih baik daripada orang lain. Keduanya memerlukan kasih karunia yang sama, tetapi dalam arah yang berbeda. Seseorang harus mempunyai kepercayaan dalam Tuhan, apa bisa Dia lakukan melalui dan dengan mereka. Kebutuhan lain adalah suatu pemahaman tentang anugrah Tuhan yang akan membantu ke arah kerendahan hati dan pada waktu yang sama memberi harapan yang berpusat pada Tuhan.

Abraham dan keturunannya menyediakan kita ilustrasi yang baik bagaimana lingkungan, barangkali dikombinasikan dengan jenis tempramen, dapat mendorong atau merintangi godaan dosa. Dalam rangka melindungi dirinya, Abraham cenderung untuk berdusta. Lebih dari satu kali ia berbohong tentang isterinya Sarah. Dia adalah perempuan yang sangat indah dan takut raja daerah itu akan membunuh dia dalam rangka mengambil Sarah, ia mengklaim dia adalah saudarinya. Saya merasa pasti ia membenarkan ini dalam pikirannya sebab dia adalah saudari tirinya( cf. Kejadian. 12 dan 20). Dengan jelas ciri karakter ini terbawa keputranya, karena dalam Kejadian 26 kita temukan Isaac melakukan dengan tepat hal yang sama untuk melindungi dirinya dari Abimelech

    Kecenderungan Kearah Kebaikan

(1) Dari Kelahiran Phisik. Alkitab mengajar kita bahwa Tuhan terlibat dengan anak-anak sejak kelahirannya ( Ia yang membuka dan menutup kandungan ) melalui keseluruhan proses pembentukan anak didalam kandungan ibunya sampai kepada kelahirannya ( cf. Kej. 4:1; 15:3; 16:2; 20:17-18; 29:31; 30:22; P. 113:9; 127:3-5; 139:13-16; J. 1:5; Prov. 16:4). Seorang anak, kemudian, mestinya tidak saja dipandang sebagai suatu kunjungan dari Tuhan, tetapi sebagai kepercayaan khusus yang diberikan Tuhan. Melalui setiap karya Tuhan, tiap-tiap anak diciptakan oleh kehendak Tuhan dan keterlibatan pribadi dengan bakat spesifik, kecenderungan, kapasitas atau kemampuan phisik, dan artistik. Ini diberikan kedalam anak dari kedaulatan pemeliharaan Tuhan. Dalam Yohanes 9:1-12 orang yang dilahirkan buta, termasuk cacat kelahiran, meskipun ini niscaya dapat terjadi sebagai hasil kejatuhan dan dosa-dunia yang terkutuk. Kita bisa melihat ini dalam masyarakat kita oleh karena alkohol dan obat/racun berhubungan erat dengan cacat kelahiran. Walaupun demikian, kita tidak pernah berpikir Tuhan tidaklah secara berdaulat terlibat. Pertimbangkan yang berikut:

Dengan masyarakat kita yang tergantung pada pemikiran manusia bukannya otoritas Alkitab dan dengan etika situasi yang sekarang diajar banyak sekolah, banyak orang hari ini mendekati hidup dan berbagai kesulitannya seperti memandang cacat kelahiran dari sudut pandang manusia bukannya dengan sudut pandang Alkitab. Seorang guru yang ingin menggambarkan kekurangan pemikiran manusia situasi seperti ini kepada suatu kelas

Bagaimana kamu akan menasehati seorang ibu hamil berdasarkan fakta berikut.

Suaminya menderita sipilis. Dia menderita TBC. Anak pertama mereka dilahirkan buta. Anak kedua mereka meninggal. Anak ketiga mereka dilahirkan tuli. Anak keempat mereka menderita TBC.

Ibu itu sedang mempertimbangkan pengguguran. Akan kamu menasehatinya untuk mengandung lagi?

Mengingat fakta ini, kebanyakan dari para siswa menyetujui bahwa dia perlu melakukan pengguguran.

Guru itu kemudian mengumumkan, “ Jika kamu berkata ‘ Ya’ kamu baru saja membunuh penggubah musik yang besar Ludwig von Beethoven!”

Maka penting bagi orang tua untuk bersandar pada pengawasan kedaulatan Tuhan dalam hubungan dengan anak-anak mereka dan belajar serta mengetahui anak-anak mereka dalam rangka mengenali kemampuan mereka, karunia, kebutuhan, dan kecenderungannya yang ditentukan oleh Allah dalam rangka membantu mengembangkan bakat mereka, karunia, dan kemampuan alami, atau untuk mengalahkan ketidak-mampuan atau kelemahan (melihat masalahnya) sehingga Tuhan bisa dimuliakan melalui hidup anak itu.

(2) Dari Kelahiran Rohani. Tujuan terbesar yang harus dimiliki Orang tua Kristen untuk anak-anak mereka adalah membawa anak mereka percaya Kristus. Percaya Kristus mendatangkan kelahiran yang baru, dilahirkan ke dalam keluarga Tuhan dan ditempatkan kedalam tubuh Kristus sebagai anggota dengan karunia rohani tertentu dan suatu tujuan khusus didalam rencana Tuhan ( cf. 1 Cor. 12:11ff; Eph. 2:10; 1 Pet. 4:10). Ini adalah suatu area penting untuk diperhatikan dan dijaga orangtua. Anak-Anak perlu diamati untuk indikasi kecenderungan rohani mereka, karunia, minat, dan karya Tuhan dalam hidup mereka dan kemudian memelihara mereka. Kecenderungan melalaikan area ini untuk pengejaran hal lain atau untuk pergi ke ekstrim lain dan mencoba untuk memaksa itu. Saya sudah melihat orang tua yang ingin pergi ke bidang misi, tetapi tidak pernah melakukannya. Sebagai hasilnya mereka mencoba untuk memaksa anak-anak mereka ke dalam misi dan ini mendorong pemberontakan atau kepada suatu area di mana mereka tidaklah cocok. Pekerjaan orang tua adalah untuk menyediakan pemeliharaan dan konteks rohani yang mengarahkan hati anak kearah Tuhan sehingga Ia mempunyai kebebasan untuk memimpin mereka menurut Kehendaknya. Setelah memberi anak-anak mereka kepada Tuhan, orang tua hanya perlu melihat anak-anak mereka mengetahui, mencintai, dan mengikuti Tuhan di mana saja Ia pimpin.

Suatu ilustrasi baik dari apa yang orang tua mestinya tidak lakukan dapat ditemukan dalam hidup Jacob dan Esau. Dua saudara laki-laki ini adalah kembar, tetapi mereka jauh dari serupa. Kej 25:27-28 mengambarkan tentang mereka dan pilih kasih yang ia tunjukkan, “Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub.” Esau adalah orang yang suka diluar, yang berbeda dengan Isaac, tetapi terutama sekali ia mencintai permainan liar. Esau adalah kesayangan Isaac, dan untuk semua hal ia mungkin sedikit perhatian ke Jacob. Sebagai anak pertama, Esau mempunyai hak dan tanggung-jawab mencakup berkat phisik dan rohani, tetapi ia sedikit menghargai hak waris keturunannya yang akan secepatnya menjadi milik Yakub berdasarkan atas janji Tuhan ( lihat Kej. 25:22-23). Esau, dengan kecenderungannya, lebih memperhatikan hal diluar rumah dan berbagai hal material, dan menunjukkan sedikit perhatian dalam berkat rohani yang adalah miliknya sebagai anak pertama yang bertanggung jawab untuk mengabadikan perjanjian Abraham (yang mencakup janji Messianic). Isaac, akan jadi pelayan Esau, pasti telah mengetahui hal ini seharusnya bertindak untuk memberi perhatian rohani pada Esau, tetapi ia gagal untuk melakukannya.

Jacob pada sisi lain adalah orang suka tinggal di rumah, tetapi ia juga berminat pada berbagai hal rohani. Jelas, ia memperoleh inspirasinya dari Rebekah, yang bukannya bersandar padan janji Tuhan, melakukan apapun bagi putra kesayangannya. Isaac tidak tertarik atau terlalu lemah untuk mengikuti perkembangan curang Jacob dan Rebekah.

Dalam ilustrasi ini ada dua saudara laki-laki yang dibesarkan dalam satu keluarga dengan kecenderungan yang berbeda. Kita juga mempunyai ibu dan bapak yang gagal untuk bekerjasama dalam mengetahui anak-anak mereka agar mereka bisa menghadapi anak-anak dengan tepat. Sebagai gantinya, perbedaan itu menjadi suatu sumber pilih kasih pribadi yang hanya menciptakan permasalahan lebih besar didalam rumah dan menyebabkan makin kuatnya perselisihan. Ironisnya, Isaac berdoa tentang perihal dua anak-anak yang berjuang dalam kandungan Rebeka dan pada waktu itu menerima pernyataan dari Tuhan. Bagaimanapun, nampak ia gagal berdoa setelah mereka dilahirkan sehingga perbedaan menjadi jelas dan pergumulan makin kuat.

Prinsip untuk Orang tua

(1) Meskipun mereka harus diberi peluang sama, anak-anak tidak diciptakan sama. Anak-Anak didalam keluarga yang sama sering sangat berbeda seperti Esau dan Jacob. Mereka mempunyai bakat berbeda, kecenderungan, kapasitas dan kemampuan berpikir, secara phisik, artistik, dan secara emosional. Orang tua perlu, oleh karena itu, mempelajari anak-anak mereka untuk mengamati kemampuan dan kecenderungan khusus mereka dan mendorongnya dengan peluang dan motivasi rohani yang sesuai untuk menemukan kemampuan dan kecenderungan itu dan kemudian membantu anak mereka mengembangkannya menurut kehendak Tuhan dengan alasan dan tujuan yang benar. Anak-Anak perlu untuk termotivasi, layaknya, untuk menjadi yang terbaik didalam bakat dan kemampuan pemberian Tuhan. Tetapi tidak setiap anak ‘berbakat,’ maksudnya orang tua mestinya tidak menaruh anak-anak di bawah tekanan emosional, berusaha untuk membuat mereka menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Pada sisi lain, beberapa anak-anak memang berbakat di banyak area dan bisa mengejar banyak hal dengan sukses. Jadi orang tua harus mengawasi kecenderungan atau kecenderungan khusus.

Sepanjang masa remaja, orang muda cenderung untuk ingin dilibatkan dalam segala hal, tetapi itu sangat tidak bijak karena remaja dan seluruh keluarga akan kelelahan untuk menyesuaikan diri dengan jadwal yang ada. Suatu pendekatan lebih bijaksana adalah membantu mereka membuat prioritas berdasar pada kemampuan, keinginan, dan kecenderungan mereka. Ingat, seseorang dapat jadi‘ Orang serba tahu, tapi tidak menguasai apapun.’ Ini juga sangat menolong untuk ingat bagaimana anak belasan tahun dapat berubah total seperti minat mereka. Ini adalah bagian dari proses tumbuh dewasa. Sekali aktivitas atau proyek dimulai, sebaiknya dorong anak itu untuk setia kepada hal itu, sedikitnya sampai pekerjaan diselesaikan atau sampai mereka sudah mengembangkan keahliannya. Ini akan memenuhi dua hal: ( a) Itu akan menghalangi mereka menjadi orang yang menunjukkan gairah besar untuk memulai satu proyek keproyek lain, tetapi tidak pernah menyelesaikan apapun. ( b) Itu juga memberi mereka waktu untuk menemukan apakah mereka benar-benar menyukainya dan jika mereka mempunyai bakat atau kemampuan untuk mengejar itu, sedikitnya dalam hidupnya nanti.

(2) Tuhan adalah Pengarang bakat. Orang tua harus bijaksana untuk mengenali dan menyediakan peluang untuk anak-anak mereka sehingga mereka dapat mngembangkan bakat mereka. Sesungguhnya, kegagalan untuk melakukannya dapat menciptakan permasalahan disiplin. Orang tua jangan pernah mencoba untuk membuat satu anak seperti yang lain, atau memberi kesan seseorang lebih penting dibanding yang lain, atau bahwa kamu menghargai bakat satu dibanding yang lain. Masing-Masing anak harus mengetahui kalau dia istimewa dalam rencana Tuhan dan dicintai, dihargai, tidak berdasar karunia, bakat atau wajahnya.


9 For some of the ideas expressed in this section of the study, I am indebted to Joe Temple whom I heard teach on this subject by tape many years ago. He was at that time pastoring a Bible teaching church in Abilene, Texas. Since that time, a book has been compiled from this series entitled Know Your Child, Baker Book House, Grand Rapids, 1974.

10 Richard Whitaker, Editor, The Abridged Brown-Driver-Briggs Hebrew-English Lexicon of the Old Testament, Logos Research Systems, Oak Harbor, WA, 1997, electronic media.

11 Brown, Driver, and Briggs, pp. 202-203.

Related Topics: Man (Anthropology), Christian Home