Where the world comes to study the Bible

Kesadaran Jiwa Setelah Mati

Apakah jiwa sadar setelah mati? Ini bukan pertanyaan barui. Selama berabad-abad beberapa orang beragama berpendapat bahwa jiwa tetap ada setelah mati tapi tidak sadar. Setelah menyelidiki, sebagian dari anda mungkin terkejut mengetahui begitu banyak yang percaya akan tertidurnya jiwa. Karena ketertarikan dunia akan kematian, sekte sesat memangsa masyarakat, mengklaim memiliki pengetahuan penuh akan hal ini, Kelompok seperti itu adalah Saksi Yehova, spirtualis dan yang menyebarkan kesimpulan canggih bahwa kematian membuat tubuh kembali kedebu dan jiwa jadi tidak sadar.

Pernyataan seperti itu menyimpang dari Alkitab tentang jiwa setelah kematian. “Saat kematian, bukan tubuh tapi jiwa yang mati.” “Sementara dari kematian sampai jiwa dibangkitkan dari ketidaksadarannya.” “Bahkan rasul tidak sadar selama berabad-abad.” Pernyataan seperti diatas dibuat oleh pengajar seperti Russell dan Rutherford, tapi ini pendapat manusia, menipu Alkitab. Pemikiran ini dibaca dari Alkitab, tapi tidak pernah ada dalam inspirasi penulis.

Manusia Diciptakan Untuk Ada Selamanya

Setiap manusia masuk kedunia dengan keberadaan yang tiada akhir. Benar bahwa saat mati jiwa terpisah dari tubuh. Ini tidak konsisten dengan pengajaran Alkitab yang mengatakan bahwa saat mati jiwa jatuh kedalam ketidaksadaran atau ketidur yang dalam. Jika melihat sekilas, kelihatannya Alkitab mengajarkan hal ini, maka kita baik meneliti bagian dimana kematian disebut sebagai tertidur. Beberapa teks telah dibohongi oleh para sarjana yang mengambilnya keluar dari konteks untuk membuktikan bahwa kematian fisik merupakan peristirahatan semua kesadaran dan agar bisa dijelaskan dengan bagian lain tentang subjek ini.

Dalam Pengkhotbah kita membaca “orang yang mati tak tahu apa-apa” (Ecclesiastes 9:5). Kita semua setuju kalau orang mati dan tubuh yang hancur sama sekali tidak punya kesadaran masa lalu, sekarang, atau masa depan. Tapi apakah pengajar “jiwa tertidur” dibenarkan menggunakan ayat diatas sebagai bukti keadaan jiwa yang taksadar setelah kematian? Kami percaya bahwa metode menggunakan suatu teks untuk mendukung teori yang salah ditolak dalam Alkitab, membuktikan bahwa mereka yang melakukan itu tidak jujur. Mereka yang mengajar “jiwa tertidur” sulit untuk menyatukan pandangan mereka dengan pernyataan yang dibuat penulis yang sama dalam Pengkhotbah:

dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya (Ecclesiastes 12:7).

Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu (Ecclesiastes 3:20).

Now we know that this verse is speaking of the body, for in the next verse we read:

Siapakah yang mengetahui, apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi ? (Ecclesiastes 3:21).

Hanya Tubuh Manusia yang Mati (atau tertidur)

Dalam Alkitab kita membaca bahwa manusia tertidur, tapi tidur selalu diidentikan dengan tubuh. Tidak satu kalipun Alkitab mengatakan jiwa tertidur. Inilah bahayanya mengidentifikasi manusia hanya dengan tubuhnya dan mengabaikan kenyataan bagian lain. Manusia terdiri dari 3 bagian; tubuh, jiwa dan roh. Jadi tubuh sendiri bukan keseluruhan manusia. Maka dari itu tidak bisa disimpulkan bahwa kematian tubuh adalah kematian keseluruhan manusia.

Salah satu ayat yang disalah mengerti ada dalam kitab Daniel:

Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal (Daniel 12:2).

Sebagian sarjana mempertanyakan apakah ayat ini berkaitan dengan kebangkitan fisik. Dr. A. C. Gaebelein dalam tafsiran Daniel berkata bahwa jika kebangkitan fisik diajarkan dalam ayat ini, bagian ini akan berbenturan dengan pernyataan kebangkitan dalam PB, karena tidak ada kebangkitan umum bagi yang benar dan salah secara bersamaan. “Kami mengulangi bahwa bagian ini tidak ada hubungannya dengan kebangkitan fisik. Kebangkitan fisik digunakan sebagai figure kebangkitan bangsa Israel saat itu. Mereka tertidur secara nasional dalam debu dunia, dikubur diantara non-Yahudi. Tapi disaat yang sama terjadi pemulihan nasional, menyatukan kembali Yudah dan Israel.

Itu figure yang sama yang digunakan dalam penglihatan tulang kering dalam Ezekiel 37. Penglihatan ini dibuat oleh dua orang yang mengembangkan teori kesempatan kedua dan harapan yang lebih besar bagi orang mati dalam ketidakpercayaan untuk mendukung pengajaran jahat mereka; tapi setiap orang bisa melihat kalau bukan kebangkitan tubuh, tapi kebangkitan bangsa dan pemulihan bangsa. Kuburan nasional mereka, bukan secara literal, akan terbuka dan Tuhan akan mengembalikan mereka dari seluruh bangsa dimana mereka tersebar. Perbedaan yang sama juga terdapat dalam hal yang sudah kita bahas. Orang Yahudi yang banyak, yang membuang kepercayaan dalam Tuhan dan FirmanNya, yang menerima dosa manusia dan mengakui raja yang jahat, akan menghadapi kehinaan kekal, tapi yang sisanya akan memiliki semua yang dijanjikan kepada mereka dan menjadi pewaris Kerajaan itu, yang sudah disiapkan dari dunia diciptakan. Dan selain berkat nasional yang mereka terima, mereka akan menerima kehidupan kekal, karena mereka dilahirkan kembali.” Kita sudah mengutip sangat panjang agar pembaca tidak terlibat dengan pandangan ini.

Bagaimanapun, jika tafsiran kedua ayat diatas tidak benar, tapi kebangkitan tubuh yang dimaksud, jelas Daniel tidak menunjuk apapun selain kebangkitan tubuh..

Perjanjian Baru Mengajarkan
Keberadaan Kesadaran Manusia Selamanya

Kutipan beberapa ayat PB bisa menjelaskan bahwa kesadaran manusia itu tidak ada akhir.

dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.(Matthew 27:52).

Please notice how the Holy Spirit says that the “bodies” slept. Jesus said:

Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya . . . Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: Lazarus sudah mati” (John 11:11, 14).

Kematian bagi Tuhan kita tidak lebih dari tidur. Ini merupakan istilah dalam Alkitab, karena tidak ada penghentian kesadaran. Tubuh lazarus yang mati. Tentang tubuhnya sehingga Marta berkata “sudah berbau busuk: karena dia sudah mati 4 hari.” Saat Yesus menjelaskan bahwa Lazarus sudah mati, Dia maksudkan adalah tubuhnya karena Dia menambahkan: “ Aku akan membangunkannya dari tidur,” Dia melakukannya dengan membangkitkan tubuh Lazarus dari kematian. Kita membaca dalam ayat 44: “datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh.” Bagian Lazarus yang mati adalah bagian yang dibungkus yaitu “tangan dan kaki, serta wajahnya.”

Karena jiwa manusia tidak mati, dan jiwa merupakan bagian manusia seperti tubuh, maka kita bisa katakan bahwa yang mati itu hidup. Penulis menjadi yakin bahwa tidak ada penghentian kesadaran manusia saat berpikir tentang kematian manusia. Pikirkan tentang perkataan terakhir Tuhan saat Dia dikayu salib. Dia berkata: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luke 23:46). Hanya beberapa abad lalu, Kristus datang dari Bapa, RohNya berdiam dalam tubuh yang sudah disiapkan Tuhan dalam kandungan perawan. Dia datang untuk memberi hidup dan keabadian melalui InjilNya. Dia datang, bukan untuk membawa keabadian, tapi menyatakannya dan memperlihatkan pada manusia bahwa dia bisa mendapat hidup kekal.

Melalui pemenuhan tugasNya, Dia memenuhi setiap tuntutan hukum Tuhan yang adil. Dia menawarkan hidupNya sebagai ganti dosa, dan pergi dari hidup ini. Yesus tahu bahwa BapaNya melihat, mendengar dengan sungguh-sungguh; jadi dengan yakin Dia bicara kepada Bapa bahwa tugasNya sudah selesai. Disini Kristus mengajarkan keselamatan bagian roh manusia setelah tubuhnya mati. Kematian bagi Yesus hanya merupakan jalan masuk kehadirat Tuhan, bukan kondisi yang tidak sadar. Dia tahu semua tentang hidup dan mati, dan Dia meninggalkan kita dengan kepastian Ilahi bahwa hanya tubuh yang mati. Roh terus ada dalam keadaan sadar.

Satu lagi perkataan Tuhan diatas salib membuktikan bahwa kematian hanya menyentuh bagian fisik manusia. Mari kita pertimbangkan penjahat yang ada disisi Tuhan. Orang ini tidak bergabung mengejek, tapi dia mengakui Kristus dihadapan musuh Roma. Dengan jiwa yang penuh penyesalan dan iman yang sederhana dia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luke 23:42). Dunia tidak pernah lupa perkataan Yesus bagi penjahat yang sekarat itu. Dengan jiwa penjahat mendekati batasan neraka, Juruselamat yang sedang sekarat berkata kepada pendosa ini: “Pada hari ini juga engkau bersamaKu diFirdaus.” Mereka membunuh tubuhnya, tapi Yesus berjanji padanya bahwa tidak ada waktu menunngu atau ketidaksadaran jiwa. Yesus meyakinkan dia sebelum hari H nya tiba, dia tetap hidup dengan Kristus diFirdaus. Perkataan Kristus diatas salib menunjukan bahwa Dia ada dalam kehidupan yang indah setelah yang percaya pergi dari dunia ini. Jika kita menyebut sekarang, maka “sekarang”- bukan periode yang lama - tapi langsung, disaat dia naik kehadapanNya. Kematian tubuh merupakan pintu masuk kepada hidup yang lebih besar dimana jiwa melewatinya.

Tidak ada kelambanan atau ketidaksadaran setelah kematian. Dr. Rimmer menulis: “fenomena tidur hanya untuk daging semata. Jiwa, roh, dan mental tidak pernah tidur, dan itulah kenapa kita bermimpi. Dalam penyelidikan mimpi, ditemukan bahwa seluruh mimpi merupakan hasil pengalaman masa lalu. Pengalaman masa lalu bisa mental atau fisik, tapi semua mimpi membenarkan kejadian lalu. Saat tubuh masuk kedalam keadaan tidur, roh atau jiwa, dimana kesadaran diri ada masuk kedalam pengembaraan yang disebut manusia dengan tidur.” Ada kekuatan hebat dari pikiran saat tubuh tertidur.

Stefanus martir memiliki pendapat kuat akan adanya kesadaran bagian roh manusia. Saat mereka melempari Stefanus dengan batu sampai mati, kita membaca bahwa “dia tertidur.” Ini tidak bisa menunjuk pada jiwa, karena tubuhnya yang dilempari batu. Saat tubuh Stefanus mati, bumi mundur tapi pintu surga mendekat. Dia tahu bahwa dia masuk kedalam lingkungan kehidupan. Dia berdoa: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Acts 7:59). Murid Kristus tidak menunda kematian dan melawannya. Pembunuhnya tidak takut. Dia ingat perkataan Yesus: “janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi” (Luke 12:4). Kepastian keabadian dan hidup kekal yang memampukan pelayan Kristus untuk menanggung penderitaan, menghadapi semua lawan, dan mati jika mereka dipanggil untuk itu. Hinaan dan ejekan musuh Kristus tidak bisa menipu kita keluar dari hadapan Tuhan dan tempat yang sudah disiapkanNya bagi kita.

Rasul Paulus memberikan gambaran singkat dalam pengalaman diri yang hanya muncul sekali dalam tulisannya.

Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau--entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya--orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, --entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya-- ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia (2 Corinthians 12:1-4).

Dalam satu pengalaman Paulus yang kaya ini terdapat materi berharga untuk pembahasan kita. Pengalaman Paulus begitu pribadi untuk dikatakan. Tidak ada keraguan bahwa Paulus menunjuk itu pada dirinya, walau dia mengatakannya dalam orang ketiga. Empat belas tahun sebelum menulis surat ini, Paulus berkata dia diangkat “kesurga tingkat tiga,” yang juga disebut “Firdaus” Alkitab bicara tentang 3 surga. Ada lingkungan surga dimana burung terbang, surga dimana bintang bersinar, dan surga ketiga disebut Firdaus, dimana Tuhan dan kemuliaannya ada. Kedalam surga tingkat ketigalah kehadapan Tuhan, Paulus dibawa. Jika kita membaca urutan perjalanan Paulus dan pekerjaannya kita menemukan sebelum 14 tahun penulisan surat Korintus ida sedang melayani di Lystra (Acts 14:19). Disana Yahudi melemparinya dengan batu dan menyeretnya keluar kota dan mereka mengira dia sudah mati. Secara umum dipercaya bahwa pengalamanya disorga terjadi di Lystra saat dia terbaring tidak sadarkan diri. Dia mengatakan sangat dimuliakan melihat kemuliaan disorga sehingga dia tidak tahu apakah masih ditubuhnya --“ entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya.” Jangan mengabaikan pengajaran disini. Pengajaran ini begitu jelas dan mengalahkan teori “jiwa tertidur.”

Ada 3 peristiwa Tuhan membangkitkan yang mati. Setiap kali dia mendekati yang mati dan berbicara seakan dia hidup. Kepada anak janda Nain Dia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah” (Luke 7:14). Saat Kristus datang keanak perempuan Yairus, kita diceritakan: “Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: Hai anak bangunlah!” (Luke 8:54). Akhirnya, Dia berkata pada saudara laki-laki Maria dan Martha: “Lazarus, keluarlah” (John 11:43). Dalam setiap peristiwa Yesys bicara seolah mereka hidup. Kita hanya bisa menjawab bahwa setiap mereka masih hidup. Seperti kata G. Campbell Morgan: “Tubuhnya mati. Manusianya tidak. Tidak ada manusia yang mati saat tubuhnya terbaring mati!” Jiwa manusia tidak akan masuk kedalam keadaan tidak sadar.

Dalam cerita Kristus tentang orang kaya dan Lazarus yang sudah kita simpulkan dan tetapkan bahwa jiwa sadar setelah kematian. Manusia mati dan dikubur. Walau tubuh mereka dikubur, tapi mereka masih hidup dan sadar. Orang kaya di Neraka bisa melihat, mendengar, bicara, dan merasakan (Luke 16:19-31).

Biarlah yang belum selamat mendengar peringatan Tuhan. Ada kehidupan setelah kematian. Orang yang selamat dan tidak dipisahkan. Orang yang terhilang jelas membawa kenangan yang lalu, dan hukuman karena menolak Kristus akan kekal.

Tapi biarlah setiap orang percaya berani dan dihibur. Saat kita keluar dari bait, manusia sebenarnya akan meninggalkan tubuh dan masuk kedalam hadirat Tuhan.

Related Topics: Man (Anthropology), Eschatology (Things to Come)