Where the world comes to study the Bible

Dari Wycliffe sampai King James (Masa Tantangan)

March 21, 2001

Pengantar: Ini adalah bagian pertama dari empat bagian ceramah yang dibawakan di Lancaster Bible College bulan March, 2001, untuk Staley Bible Lectureship. Kami harap bisa mendapat ijin untuk semua ceramah seperti rekaman audio pada Biblical Studies Foundation website. Disini ada beberapa audio dari serial tentang Textual Criticism series Dr. Wallace. Dr. Wallace bersedia sebagai pembicara seminar mengenai “Sejarah Alkitab Bahasa Inggris.” Jika gereja anda tertarik, hubungi dia di email untuk detailnya.

Kata Pengantar

Ada kata bijak kuno dari Italia mengenai nature dari terjemahan: “Traddutore, traditore!” Artinya, “Translators—traitors! / Penerjemah – penghianat” Anda bisa melihat ada yang hilang dalam terjemahan ekspresi ini: ada banyak persamaan dalam kedua pengucapan dan pengejaan dari kata-kata aslinya, tapi keduanya menjadi tercemar saat diterjemahkan dalam bahasa Inggris atau Indonesia. Bahkan terjemahan dari kata bijak ini sendiri mengilustrasikan kebenarannya! Diktum Italia lainnya menunjukan sentimen yang mirip: “Seluruh terjemahan adalah kebohongan yang sopan!”

Suatu perkataan yang tidak kurang pesimis tentang nature dari terjemahan adalah satu baris puisi Yahudi dari Hayyim Nachman Bialik, “Dia yang membaca terjemahan Alkitab adalah seperti seseorang yang mencium pengantinya melalui cadar.”1 Disatu sisi hal ini benar, tapi seperti yang dikatakan MacGregor dalam Literary History of the Bible2, “Tetap, saat cadar harus disitu, tugas penerjemah adalah membuat cadar itu sebaik mungkin. Wajah wanita yang paling cantik bisa semakin cantik oleh cadar, jika cadar itu sesuai dengan kecantikannya.”3

Bisa anda mengerti dari kata-kata diatas, alasan mengapa ada halangan besar menerjemahkan Alkitab kedalam bahasa lain. Salah satunya, penerjemah yang mengenal bahasa Yunani dan Ibrani, tidak perlu melakukan penerjemahan bagi dirinya. Dia melakukan itu untuk orang lain. Kedua, dia mungkin merasa pekerjaannya sudah hancur dari pertama. Terjemahannya tidak pernah bisa seperti dokumen asli. Standar perbandingan itu hanya menunjukan kekurangan usahannya. Ketiga, karena dia menerjemahkan Firman Tuhan, beban rohani untuk melakukan hal ini dengan benar sering menjadi beban yang berat. Setiap penerjemah tahu kalau dia juga adalah seorang penafsir, karena tidak ada terjemahan tanpa tafsiran. Dan penerjemah Alkitab tahu bahwa sebagai seorang penafsir dia adalah seorang guru, dan (seperti kata Yakobus), “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kamu tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.”4 Bagi penerjemah “hukuman berat” ini berasal dari manusia bukan Tuhan—karena setiap terjemahan Alkitab pasti dikritik oleh seseorang saat dicetak. Intinya ini adalah suatu tindakan kasih yang tidak egois dari penerjemah yang terlibat dalam tugas ini.5

Semua orang beragama bergumul dalam prilaku ini. Kita jangan heran melihat agama Islam, sebagai contoh, menganggap satu-satunya Al Quran yang sejati adalah dalam bahasa Arab. Tidak ada terjemahan yang bisa disebut Al Quran.6

Sebaliknya, ada dorongan kuat untuk menerjemahkan Alkitab kedalam bahasa yang bisa dimengerti orang awam. Dorongan ini muncul secara khusus dalam cabang kekristenan “dimulai” bulan October 31, 1517, saat biarawan Agustinian muda bernama Martin Luther menantang hirarki gereja dizamannya dengan menempelkan 95 keluhan dipintu gereja Wittenberg di Jerman.7 Protestantism dilahirkan.

Pendahuluan

Sejarah Protestantism sangat terkait dengan Alkitab dalam tiga hal:

1. Protestantism mengajarkan bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi kita, bukan tradisi atau pribadi atau pengalaman—hanya Alkitab;

2. Protestantism mengajarkan bahwa semua orang percaya memiliki keimaman, artinya, setiap orang Kristen memiliki hak istimewa dan tanggung jawab untuk mengenal Tuhan dan kehendakNya yang dinyatakan dalam Alkitab;

3. Perkembangan dari kedua prinsip ini adalah setiap orang Kristen perlu memiliki akses pada Alkitab dalam bahasanya masing-masing. Maka dari itu, Protestants—lebih dari kelompok agama lainnya—telah menerjemahkan Alkitab dan berkeinginan kuat agar semua orang bisa memiliki akses kepada Firman Tuhan. Singkatnya, kita adalah orang dari Kitab.

Alkitab harus ada bagi iman kita. Tidak hanya secara teoritis, tapi juga prakteknya. Tidak hanya melalui kotbah dan pengajaran, tapi melalui pembacaan dan mempelajarinya secara pribadi. Karena Alkitab adalah wahyu Allah kepada kita, kita tidak bisa mengenalNya tanpanya. Tanpa Alkitab, Tuhan yang anda puja adalah allah imajinasi semata.

Saat ini saya akan berbicara mengenai sejarah Alkitab bahasa Inggris. Ini merupakan sejarah yang menakjubkan dan juga berdarah. Ini adalah drama yang tinggi—suatu cerita politik dan juga pribadi, literature juga religius. “Tidak ada karya literature yang memiliki pengaruh begitu besar terhadap bahasa Inggris daripada penerjemahan Alkitab. Tapi, harga untuk menyediakan Alkitab berbahasa Inggris harus dibayar dengan darah manusia yang berusaha menerjemahkannya.”8

Saat ini, kita akan melihat masa paling awal, dari Wycliffe sampai kepada King James.

I. Dari Wycliffe sampai King James: Masa Tantangan

Sampai John Wycliffe menerjemahkan Perjanjian Baru, hanya sedikit bagian Alkitab yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris berakar kira-kira di AD 600; didalam seratus tahun, kitab Mazmur dan sebagian dari kitab-kitab Injil telah diterjemahkan. Didalam tahun 735, Venerable Bede, dihari kematiannya, menyelesaikan terjemahan Injil Yohanes. 165 tahun kemudian, Raja Alfred the Great menerjemahkan sebagian kitab Pentateuch. Beberapa orang lainnya sepanjang periode ini menerjemahkan kitab-kitab Injil atau Mazmur, dan sebagian kecil dari kitab lainnya.

Terjemahan-terjemahan ini bukan hanya tidak lengkap, tapi ada tiga masalah: (1) semua terjemahan berasal dari Vulgata Latin, bukan dari teks asli, Yunani dan Ibrani; (2) semua terjemahan itu bukan terjemahan yang baik; dan (3) sebagian besar tidak bisa diakses oleh orang awam, tapi “terjemahan-terjemahanan” untuk membantu pendeta mengerti Vulgata Latin lebih baik.

Selama 300 tahun, tidak ada terjemahan Alkitab kedalam bahasa Inggris, sejauh yang kita ketahui. Invasi orang Norman ditahun 1066 merupakan alasan mendasar: selama tiga abad selanjutnya Inggris jarang menggunakan dokumen tertulis. Orang terhormat menulis dalam bahasa Prancis—bahasa orang elit—dan dokumen resmi gereja ditulis dalam bahasa Latin. Bahasa Inggris untuk orang biasa.

John Wycliffe (c. 1328-1384) dan Alkitab terjemahannya (c. 1382)

Latar Belakang

Bayangkan, jika bisa, bagaimana hidup diabad keempat belas di Inggris. Anda kemungkinan besar adalah orang biasa, seorang petani yang berusaha keras memberikan panen yang layak bagi pemilik tanah. Seperti orang lain, anda menganggap diri Kristen, tapi bergumul untuk mengerti kehendak Tuhan. Didalam abad ini, ditahun 1348, the Bubonic Plague atau Black Death/kematian hitam menghantam Inggris, dan setidaknya salah satu dari empat teman anda dan saudara anda mati dalam beberapa bulan. Satu dari empat! Duka anda bagi yang terkasih ditambah dengan ketidakpastian tujuan kekal anda. Anda juga meragukan nasib anda. Ketakutan akan purgatory mendorong dedikasi anda. Anda kurang mendapat penghiburan dalam gereja; sebaliknya, anda terlibat dalam pemuasan diri. Gereja hanya tertarik pada uang dan harta anda. Anda ingin kehidupan yang lebih baik.

Sementara itu, Kepemimpinan menjadi krisis utama: Paus hampir tiga perempat abad diasingkan ke Avignon, Prancis yang disebut “Babylonian Captivity/penawanan Babilon.” Bagaimana orang Inggris bisa menghormati dan mentaati seorang Paus yang hidup di Prancis—musuh Inggris!

Diatas semua ini, Gereja Inggris sedang kacau. Kedudukan pemerintahan yang terbaik sering diberikan kepada pelayan (pendeta/pastor), tapi ini menyebabkan kegelisahan dalam orang bangsawan yang ingin kedudukan itu. Seperti partai Demokrat dan Republik, Inggris memiliki partai pro-pelayan dan anti-pelayan. Jika anda ingin mempertanyakan struktur otoritas keagamaan, sekarang waktunya. Banyak yang kelihatannya salah! Tapi jika anda berani bicara kepada biarawan lokal tentang menemukan kehendak Tuhan dalam Alkitab, anda akan ditegur karena menanyakannya! Selain itu, dia memang tidak mengetahui jawabannya. Dia hanya membaca Alkitab dalam bahasa Latin, dan hanya bagian – bagian penting bagi liturgy. Dia tidak pernah membaca Alkitab secara keseluruhan—seumur hidupnya. Selain itu, keahlian bahasa Latinnya tidak begitu baik—hanya menghafal beberapa doa untuk kepentingan pelayanan di gereja. Hidup—secara fisik, social, keuangan, rohani—terlihat cukup kelam di Inggris abad keempatbelas.

Kedalam suasana inilah masuknya “bintang pagi Reformasi,’ seorang bernama John Wycliffe.

Wycliffe dilahirkan diantara tahun 1325 dan 1330; dia dididik di Oxford, mendapat doctor dalam bidang Teologi diumur 40an, ditahun 1372. Dia adalah seorang teolog Oxford yang menonjol dimasanya. Walaupun dia adalah seorang pendeta Katolik Roma, dia tidak ragu untuk berbicara melawan Gereja. Wycliffe tidak menganggap pelayan memiliki hak istimewa—walaupun dia termasuk didalamnya. Dan pandangannya memiliki dasar kuat dalam Alkitab.

Dia mulai mengorek praktek dan kepercayaan yang tidak sesuai Alkitab dalam gereja. Dia tidak hanya menolak doktrin transubstantiation—ajaran Katolik bahwa roti dan anggor perjamuan kudus memang menjadi tubuh dan darah Kristus—tapi dia juga menolak seluruh hirarki gereja, termasuk otoritas kepausan. Bagi Wycliffe, Alkitablah yang memiliki otoritas tertinggi bukan Paus.

Pandangannya bukannya tidak mendapat tantangan. Dia dipecat dari kedudukannya di Oxford ditahun 1382. Diseluruh hidupnya, lima perintah Paus dikeluarkan untuk menangkapnya. Tapi karena Inggris menjauhkan diri dari Roma, dia mendapat perlindungan dari bangsawan berkuasa yang anti-pelayan. Ditahun 1384, dia mati alami dan dikubur di pemakaman gereja Lutterworth tempat dia menjadi pelayan.

Wycliffe percaya bahwa setiap manusia bertanggung jawab secara langsung dihadapan Tuhan. Tapi jika setiap orang bertanggung jawab langsung pada Tuhan, maka mereka butuh Alkitab yang diterjemahkan kedalam bahasa aslinya. Anda bisa menangkap keinginan kuat Wycliffe dan keterusterangannya dalam perkataan ini:

Para bidat menganggap orang awam tidak perlu tahu hukum Tuhan tapi sudah cukupnya pengetahuan yang diberikan pendeta kepada mereka melalui mulut, tidak layak didengar. Alkitab adalah iman gereja, dan semakin luas maksudnya diketahui, semakin baik. Maka dari itu karena orang awam perlu tahu tentang imannya, hal ini harus diajarkan dalam bahasa apapun yang bisa dengan mudah dimengerti … [Lagi pula,] Kristus dan para rasulNya mengajar dalam bahasa yang paling dimengerti oleh pendengarnya.9

Itulah yang disebut kotbah yang ‘mendarat’! Wycliffe tidak menarik pukulannya; dan dia tidak tahu bagaimana bisa sopan saat sorga dan neraka digantung seimbang!

John Wycliffe dibelakang penerjemahan PB kedalam bahasa Inggris yang selesai didalam tahun c. 1382. Dia tidak banyak berusaha dalam penerjemahannya, tapi penggerak utama dalam produksinya. PL seluruhnya diterjemahkan oleh orang lain.

Para pengikutnya, dikenal sebagai Lollards, adalah para sarjana miskin Oxford yang mengajar Firman. Mereka memiliki dampak besar diantara orang biasa, terutama karena mereka menganggap hidup mereka tidak berarti tanpa Kristus. Didalam dua decade setelah kematian Wycliffe, banyak Lollards dibakar karena usahanya, sebagian bahkan digantungkan Alkitab sementara dibakar.10

Teks

Teks yang diterjemahkan Wycliffe dan rekannya adalah dari Vulgata Latin bukan dari teks asli Yunani dan Ibrani. Sekarang, jarang orang berbicara mengenai Vulgata Latin karena itu sangat penting kita melihat Alkitab bahasa Inggris.

Vulgata adalah Alkitab resmi di Eropa Barat dari akhir abad keempat. Itu merupakan terjemahan dari Jerome atas perintah Paus Damasus. Karena bahasa Yunani mulai menghilang diEropa Barat setelah Konstantin memindahkan ibukota ketimur, bahasa Latin secara alami menjadi bahasa umum orang dibarat. Diabad pertengahan, bahasa Yunani sama sekali tidak dikenal di Eropa Barat. (Bahasa ini tidak dipelajari diuniversitas manapun sampai tahun 1458, di University of Paris.) Seluruh pelayan di barat sepanjang seribu tahun telah belajar bahasa Latin, bukan Yunani atau Ibrani. Jika ukurannya lamanya waktu, Vulgata Latin adalah terjemahan Alkitab paling berpengaruh dalam sejarah.

Kembali ke Wycliffe: Seperti yang telah saya katakan, Wycliffe tidak menerjemahkan dari teks asli Yunani dan Ibrani. Sebaik apapun Vulgata Latin, pasti ada kekurangan dalam penerjemahannya. Satu hal, bahasa Latin tidak memiliki definite article. Itu merupakan hadiah yang diberikan bahasa Yunani bagi Eropa. Tapi article ini muncul dalam PB Yunani hampir 20,000 kali—mengerti penggunaannya sangat penting bagi ratusan bagian Alkitab. Tapi, Wycliffe sama sekali tidak mengetahui hal ini, karena dia hanya menggunakan teks Latin sebagai dasar terjemahan.

Terjemahan

Alkitab Wycliffe sampai ke edisi kedua—edisi pertama ditahun 1382 dan yang kedua ditahun 1395, oleh asisten Wycliffe, John Purvey.11 Walaupun revisi Purvey merupakan peningkatan yang sangat berarti, kita tidak bisa mengatakan kedua edisi itu adalah suatu karya agung prosa Inggris. Tapi edisi pertama amat sangat literal—bahkan mengusahakan urutan kata Latin sampai-sampai bahasa Inggrisnya tidak bisa dimengerti!12 Wycliffe Bible menunjukan bahwa terjemahan “kata per kata” tidak menjamin suatu terjemahan yang akurat, karena arti aslinya tidak dikomunikasikan secara jelas dengan cara ini.

Arti Pentingnya

Apa arti penting dari terjemahan Wycliffe?

1. Merupakan Alkitab bahasa Inggris pertama yang lengkap—faktanya, Alkitab lengkap pertama dalam tiap bahasa Eropa manapun!

2. Secara tidak langsung menghancurkan kekuatan struktur politik-agama dari gereja Roma Katolik. Orang awam tidak perlu bergantung pada pendeta untuk menghadap Tuhan. Mereka bisa mengetahui kehendakNya dan menantang pemimpin rohani mereka. Tidak heran ditahun 1408 membaca Alkitab bahasa Inggris adalah pelanggaran hukum.13 Orang yang memilikinya membahayakan kebebasan dan hidupnya. Begitu kuatnya pengaruh Wycliffe sehingga ditahun 1415 Paus mengumumkan tulangnya harus digali, dibakar, dan abunya disebar di aliran Sungat.14

3. Terjemahannya diselesaikan lebih dari enam tahun sebelum penemuan cetakan yang bisa dipindah-pindah. Seluruh Alkitab Wycliffe merupakan tulisan tangan. Hal ini mengurangi pengaruhnya. Walaupun satu Alkitab bisa memakan waktu sampai satu tahun, ribuan salinan telah dibuat.

William Tyndale (c. 1494-1536) dan terjemahan Perjanjian Barunya (1525-1536)

Latar Belakang

Tidak ada terjemahan baru yang muncul diantara Alkitab Wycliffe dan Tyndale. Seratus tigapuluh tahun lewat tanpa perkembangan. Salah satu alasannya adalah hukum Inggris tahun 1408 tentang Alkitab bahasa Inggris masih berlaku. Masih beresiko membuat salinan Alkitab Wycliffe!

Sementara itu, ada tanda baik diseluruh Eropa. Alkitab bahasa Italia, Prancis, Spanyol, dan Belanda bermunculan didalam tahun 1400-an, sepertinya terinspirasi oleh usaha awal dari Wycliffe. Hal Ini menjadi latar belakang munculnya penerjemah Alkitab tunggal paling berpengaruh sepanjang masa.

Beberapa peristiwa besar terjadi diantara masa Wycliffe dan Tyndale.

1. Hampir empat puluh tahun—1378-1417—the “Great Schism” menghancurkan otoritas agama di Eropa: dimasa ini ada dua Paus yang bersaing—satu di Avignon dan yang kedua di Rome!15 Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang menjadi wakil Kristus dibumi!

2. Penemuan mesin cetak yang bisa berpindah-pindah (c. 1454). Buku tebal pertama Gutenberg: Latin Vulgate Bible.

3. 1453: Turki menginvasi Byzantium, disana Emperor Constantine 1100 tahun sebelumnya memindahkan ibukotanya. Selama 1100 tahun, pelajaran Yunani hilang dari Eropa Barat. Tapi karena invasi Byzantium, para sarjana Yunani mengambil manuscripts mereka dan pergi ke Eropa. Lima tahun kemudian, bahasa Yunani untuk pertama kali ditawarkan di universitas Eropa. Reformasi dan Renaissance lahir akibat penemuan kembali Yunani klasik dan Yunani PB.

4. Semangat menjelajah melanda. Dunia baru ditemukan ditahun 1492. Manusia menjadi berani mengambil resiko lebih dari sebelumnya.

5. Peristiwa invasi Turki Byzantium dan penemuan alat cetak menjadi katalis bagi produksi Perjanjian Baru pertama yang diterbitkan bulan March 1, 1516.

6. October 31, 1517: Reformasi lahir saat Luther menantang gereja Roma Katolik di Wittenberg.

Maka dari itu, tantangan terhadap status quo agama, kesaksian berani, pengetahuan akan sumber kuno, dan pemisahan informasi kepada orang banyak bergabung bersama dalam waktu yang menentukan dalam sejarah Eropa. Alkitab Tyndale dilahirkan dimasa ini.

William Tyndale terlatih dalam bahasa Yunani dan Ibrani. Dia mendapat gelarnya dari Oxford ditahun 1512 (diumur 16 atau 17!), dan gelar master ditahun 1515. Dia kemudian belajar di Cambridge, menyelesaikan pendidikannya. Disaat itu, dia lancar menguasai enam atau tujuh bahasa. Singkatnya, Tyndale bukan orang bodoh! Lebih jauh, gaya bahasanya luar biasa.

Saat dia sedang merenungkan untuk membuat suatu terjemahan Alkitab yang baru ditahun 1520-an, dia menjadi sadar bahwa hal ini tidak mungkin dilakukannya di Inggris.16 Ditahun 1408 aturan tentang penerjemahan Alkitab masih berlaku. Disamping itu, Tyndale tidak bisa menemukan orang di Inggris yang menguasai bahasa Ibrani. Dia kemudian berkelana ke Jerman—disana dia diperkenalkan dengan seorang rabi yang darinya dia belajar bahasa PL. Saat sedang disitu, dia menerjemahkan banyak bagian Alkitab kedalam bahasa Inggris. Dia tidak bisa kembali ke Inggris karena takut nyawanya akan hilang.

Dia berkeinginan kuat menyediakan Firman Tuhan kepada orang awam. Dia ingin anak laki-laki yang menarik bajak bisa lebih mengenai Firman Tuhan daripada sebelumnya. Doanya menjadi kenyataan.17

Ditahun 1525 dia menyelesaikan terjemahan PL yang pertama, tapi tidak dicetak sampai ditahun 1526. Tiga salinan edisi pertama masih ada sampai sekarang, hanya satu yang—baru ditemukan beberapa tahun lalu—masih betul-betul utuh.18

Tyndale dikemudian hari merevisi PB secara substansial, dan revisinya merupakan suatu karya agung. Dia bahkan menemukan beberapa kata baru yang mendapat tempat dalam kosa kata bahasa Inggris sampai lima abad kemudian—kata-kata seperti ‘Passover,’ ‘peacemaker,’ ‘scapegoat,’ bahkan adjective ‘beautiful’ dimasukan oleh Tyndale.19 Bersamaan dengan itu, dia menghasilkan lima edisi PB, tapi edisi ketiga ditahun 1534 adalah edisi yang paling diingat.

Tyndale juga melakukan karya berarti pada PL, tapi dia tidak menyelesaikan tugasnya. Sejauh yang kita ketahui, dia telah menerjemahkan sampai 2 Tawarik.

Dia diculik ditahun 1535 di Antwerp, dan dibakar tahun berikut karena usahanya dianggap bidat.20 Tuntutannya? Terjemahan Alkitab yang tidak benar. Realitasnya? Suatu terjemahan Alkitab yang luar biasa. Tapi pelayan gereja sangat takut kalau orang biasa tidak bisa mengerti Alkitab; mereka perlu pelayan dan tradisi untuk menafsirakan Alkitab bagi mereka.21, 22

Kalimat terakhir Tyndale adalah “Tuhan, bukalah mata Raja Inggris!” Tapi Tyndale tidak tahu kalau hanya beberapa bulan sebelum kematiannya suatu versi Alkitab bahasa Inggris—sebagian besar didasarkan pada karyanya—telah dicetak di Inggris dengan persetujuan Raja King Henry VIII. “Seperti yang diinginkan Tyndale, mata Raja Inggris telah terbuka saat dia menyatakan doa sebelum kematiannya.”23

Teks

Walaupun Tyndale melihat terjemahan bahasa Jermannya Luther dan Vulgata Latin untuk menolong dia menghadapi bagian yang sulit, terjemahan Pbnya didasarkan pada teks Yunani. Dia banyak menggunakan edisi ketiga Erasmus.24

Terjemahan

Edisi tahun 1534 meninggalkan edisi tahun 1526. Ini merupakan bahasa Inggris yang luar biasa dan terjemahan yang sangat baik dimasa itu. Tyndale mengenal bahasa asli Alkitab lebih dari orang Inggris lain dimasanya,25 dan dia mengenal bahasa Inggris lebih dari yang lainnya. Dia menerjemahkan dari bahasa Yunani yang baik menjadi bahasa Inggris yang baik.

Arti Pentingnya

Tidak mungkin terlalu melebihkan arti penting terjemahan Tyndale.

1. Perjanjian Baru berbahasa Inggris pertama setelah zaman ditemukannya percetakan.

2. Perjanjian Baru berbahasa Inggris pertama yang secara langsung diterjemahkan dari bahasa asli Yunani.

3. Terjemahan pertama yang menggunakan italics untuk kata-kata yang tidak ada dalam teks aslinya. (Praktek ini menariknya, berlanjut sampai sekarang dalam NASB, selain itu fakta bahwa italics sekarang secara umum digunakan dalam penulisan untuk penekanan, bukan untuk ketiadaan.)

4. Amat sangat mempengaruhi KJV: Ditahun 1940, Prof. J. Isaacs menulis tentang pencapaian Tyndale: “Ketepatannya, kesederhanaan frasenya, musiknya yang baik, memberikan otoritas pada kata-kata terjemahannya yang berdampak pada versi berikut.… sebagian besar Authorized New Testament tetap dari Tindale, dan tetap yang terbaik.”26 Kata pengantar bagi PB Tyndale menjelaskannya: “Kekaguman tetap disuarakan mereka yang menyiapkan 1611 Authorized Version bagi Raja James dengan satu suara—seperti suatu keajaiban. Tentu saja mereka melakukannya: maksudnya adalah (walau tidak pernah diakui oleh mereka) Tyndale.”27

Didalam kelanjutan yang cepat muncul tiga terjemahan, kualitasnya lebih rendah dari Tyndale, tapi menjadi latar belakang penting dalam sejarah Alkitab berbahasa Inggris.

The Coverdale Bible (1535)

The Coverdale Bible (1535) merupakan karya dari Myles Coverdale, asisten Tyndale. Dia tidak secara langsung menerjemahkan dari Yunani dan Ibrani, tapi menggunakan terjemahan Jermannya Luther, lebih dari satu teks Latin, dan sebagian PLnya Tyndale. Dia memang menyelesaikan seluruh Alkitab—karena itu Coverdale menjadi Alkitab lengkap pertama yang dicetak di Inggris. Terjemahan Coverdale lah yang diijinkan Henry VIII untuk dicetak saat Tyndale menyatakan kata-kata terakhirnya. Hal yang paling inovatif dalam Alkitab ini adalah tempat Apocrypha—kitab-kitab yang diterima Katolik Roma masuk dalam kanon tapi tidak oleh Protestan—diakhir PL bukannya tersebar diseluruh PL. Semua terjemahan PL yang lalu menempatkan Apocrypha tersebar diseluruh PL. Seluruh Alkitab Protestan mengikuti hal ini, jika memasukan Apocrypha, menempatkannya sebagai suatu lampiran—sama seperti yang dilakukan Coverdale.

Matthew’s Bible (1537)

Ditahun 1537, Matthew’s Bible muncul. Alkitab ini adalah karya John Rogers, yang nama lainnya adalah Thomas Matthew. Dia menggabungkan PL Coverdale dengan PBnya Tyndale.28 Tapi Rogers juga menambahkan sekitar 2000 catatan, sebagian besar controversial, menjadikannya sebagai revisi pertama PBnya Tyndale. Alkitab ini terkadang disebut “Wife-Beater’s Bible” karena catatan pinggir 1 Peter 3.7 yang berkata, “If [the wife] be not obedient and healpfull unto [her husband, he] endeavoureth to beate the feare of God into her…”!29 Istilah ‘Wife-Beater’s Bible’ langsung diberikan pada versi ini yang setidaknya menghibur kita bahwa banyak leluhur kita juga menganggap tafsiran ini tidak tepat! Walau tidak berkaitan dengan catatan ini, Rogers menjadi martir pertama ditahun 1555, dibawah penguasa Mary Tudor—atau ‘Bloody Mary’—monarki Katolik.30

The Great Bible (1539)

Alkitab Matthew dan Coverdale mendapat ijin Henry VIII untuk dicetak. Hal ini mendorong popularitasnya tapi juga menunjukan kelemahan, dibulan September, 1538 raja memerintahkan agar ada satu Alkitab berbahasa Inggris ditempatkan disetiap gereja. Gereja-gereja mulai menggunakan Matthew Bible karena sangat cocok untuk pembacaan umum, sedangkan Coverdale lebih kecil. Perintah raja mensyaratkan gereja memiliki “satu Alkitab yang tebal dalam bahasa Inggris”—yang menyingkirkan terjemahan lain kecuali Matthew.

Selama delapan bulan—dari September 1538 sampai April 1539—dedikasi Inggris terhadap Alkitab paling tinggi dalam sejarah. Perintah raja tidak hanya agar setiap gereja bisa mendapat satu Alkitab, tapi “kamu tidak boleh menghalangi satu orangpun … untuk membaca atau mendengar dari … Alkitab, tapi mendorongnya, mengarahkan dan menasihati setiap orang untuk membaca, dari Firman Tuhan yang hidup …” Perintah ini diikuti dengan antusias sehingga orang awam membaca Alkitab dengan keras disaat yang sama pendeta memberi kotbah! Delapan bulan kemudian raja mengeluarkan perintah melarang perilaku merusak ini.

Hal yang diperlukan adalah, suatu terjemahan yang sebaik Matthew tapi tanpa catatan! Sehingga Cromwell menugaskan Myles Coverdale untuk menerbitkan Alkitab yang baru. Alkitab ini harus lebih besar dari Matthew karena perintah raja. Inilah alasannya disebut Great Bible—bukan hanya karena kualitas tulisannya, tapi juga ukurannya. Walaupun Alkitab ini dirantai untuk melindunginya dari pencuri, orang mungkin berpikir apakah itu perlu!

Walaupun Great Bible diedit oleh Coverdale, Alkitab ini didasarkan atas Matthew Bible. Coverdale tidak tahu bahasa Yunani atau Ibrani, tapi Rogers tahu. Jadi Coverdale hanyalah mengambil Matthew’s Bible, merevisinya, dan menghapus catatan-catatannya. Ini menjadi revisi kedua dari Alkitab Tyndale, setelah Matthew’s Bible.31

Tapi para bishop, yang banyak masih Katolik Roma, diberikan Alkitab ini, karena memisahkan Apocrypha dari PL lainnya dan karena Alkitab ini tidak sama dengan Latin Vulgate.32 Tidak hanya itu, ditahun terakhir pemerintahan Henry VIII, raja mengayunkan pendulum agama sekali lagi. Ditahun 1543 Parlemen melarang setiap eksposisi Alkitab yang tidak diotorisasi—demikian juga pembacaan Alkitab secara pribadi diantara kelas bawah. Tiga tahun kemudian, Henry melebihi Parlemen dengan melarang seluruh salinan Tyndale dan Coverdale.

“Larangan terhadap Alkitab terjemahan Tyndale dan Coverdale merupakan puncak dari absurditas”33 karena Great Bible pada intinya adalah Alkitab terjemahan Tyndale dan diedit oleh Coverdale!

The Geneva Bible (1557 [PB], 1560 [whole Bible])

Saat Edward VI, anak Henry menjadi raja, Reformasi datang. Tapi pemerintahannya tidak lama. Ditahun 1553 Mary Tudor, saudara perempuan Edward naik ketahta.34 Dia membalikan dukungan Edward terhadap Protestan, mengembalikan negara kepada Catholicism. Dia secara sistematis mulai membakar baik Alkitab dan orang Protestan. Banyak sarjana Protestan lari dari Inggris ke Geneva, disana teolog reformasi terkenal, John Calvin, hidup. Disana, dia menghasilkan suatu terjemahan Alkitab yang luar biasa, walaupun aslinya muncul dalam ukuran quarto.

Salah satu dari para reformator, William Whittingham (yang menjadi Calvin’s brother-in-law), menyelesaikan terjemahan PB ditahun 1557. Dia dan para reformator lainnya mengerjakan keseluruhan Alkitab ini, dan tiga tahun kemudian PL dan PB yang direvisi muncul.

Arti penting dari Geneva Bible terletak pada beberapa hal berikut:

1. The Geneva Bible merupakan Alkitab berbahasa Inggris pertama yang seluruhnya diterjemahkan dari bahasa Yunani dan Ibrani. Merupakan Alkitab pertama yang diterjemahkan oleh suatu komite. Walaupun masih sangat bergantung pada karya Tyndale, dan bisa dianggap sebagai revisi ketiga dari Alkitab terjemahan Tyndale.35

2. Bersifat Calvinistic dalam catatannya (dan catatan-catatannya sangat banyak), memuliakan Tuhan dan keagunganNya.36

3. Merupakan Alkitab berbahasa Inggris pertama dengan pemisah ayat. Hal ini berlaku, setidaknya untuk PB, bagi edisi keempat Stephanus dari PB Yunani (1551), PB Yunani pertama (atau PB manapun) dengan pembatas ayat.37 Sebagai catatan pinggir, dampaknya tidak langsung sehat, karena tambahan angka ayat mengakibatkan dihapuskannya paragraphing. Hal ini berakibat pada prooftexting atau mengkutip satu ayat keluar dari konteks. Sampai Revised Version ditahun 1881 paragraphing kembali digunakan dalam Alkitab bahasa Inggris (dengan angka ayat diletakan dalam marjin). (Anachronistically, NASB melanjutkan kebijakan sebelumnya, hanya menulis paragraph baru dengan angka tebal.)

4. Merupakan Alkitab pertama yang menggunakan italics secara ekstensif untuk kata-kata yang tidak ada dalam teks aslinya.

5. Merupakan Alkitab yang dibawa dalam perjalanan ke Amerika dan mendarat di Plymouth. Merupakan Alkitab yang digunakan Shakespeare.

6. Alkitab Geneva aslinya dibuat dalam ukuran kuarto, karena dihasilkan di Eropa dan dikapalkan kembali ke Inggris. Maka itu, walau teks dan catatannya ekskuisit, cetakannya kecil dan volumenya tidak elegan. Tapi, walaupun Great Bible yang digunakan dalam gereja, Geneva yang digunakan dirumah.

7. Pengaruh Alkitab ini terhadap KJV sangat besar. Para penerjemah KJV menggunakannya sebanyak mereka menggunakan terjemahan Tyndale’s (tentu saja, banyak terjemahan Tyndale dimasukan kedalam Geneva). Walaupun King James tidak menyukai Geneva Bible, didalam kata pengantar asli bagi KJV terjemahan itu dikutip beberapa kali—tapi setiap kali mengutip, versi Geneva yang dikutip, bukan King James! Ini secara implicit dan pernyataan superioritas Geneva Bible.

8. Alkitab ini juga dikenal sebagai “‘Breeches’ Bible.” Hal ini dikarenakan pada Genesis 3:7 diterjemahkan, Adam dan Eve sewed fig leaves together and made them into “breeches.”38

9. Terakhir, Geneva Bible memiliki sejarah yang panjang. Selama 45-tahun pemerintahan Ratu Elizabeth hampir 100 edisi Geneva Bible diterbitkan! Bahkan limapuluh tahun setelah KJV muncul, Geneva Bible merupakan Alkitab terpopuler di Inggris. Pada akhirnya Alkitab ini tidak bertahan karena alasan politik: raja baru datang dan menginginkan terjemahannya sendiri—Alkitab yang tidak terlalu Calvinistic.

The Bishops’ Bible (1568)

“Keberhasilan Geneva Bible membuat penggunaan Great Bible digereja menjadi tidak mungkin; kekurangannya menjadi terlalu nyata jika berkaca pada versi baru.”39 Tapi Geneva Bible jelas tidak bisa dipakai dalam suatu kerangka gerejawi: terlalu Calvinistic bagi pelayan Inggris dan begitu popular diantara strata bawah yang secara politis tidak tepat untuk menggunakannya dari mimbar!40

The Bishops’ Bible masuk dalam cerita ditahun 1568. Ini merupakan Alkitab mimbar, didasarkan pada Great Bible. Alkitab ini dilihat sebagai revisi keempat dari terjemahan Tyndale. Alkitab ini disebut Bishops’ Bible karena dihasilkan oleh para bishops. Tapi kata-katanya masih terlalu kaku, tidak memuaskan. Bahkan Elizabeth tidak pernah secara resmi mengakui terjemahan ini. Terjemahan Alkitab ini tidak bisa menyaingi Geneva yang telah ada delapan tahun lebih awal dan merupakan terjemahan yang lebih baik. The Bishops’ Bible tidak pernah menyamainya dan cetakan terakhirnya muncul ditahun 1606. Ironisnya, terjemahan ini menjadi dasar resmi yang diberikan para penerjemah King James dalam membuat versi mereka.

The Rheims-Douai Bible (1582 [NT], 1609-1610 [whole Bible])

Setelah pemerintahan singkat Bloody Mary, Elizabeth masuk kedalam cerita sebagai ratu yang baru. Dia adalah seorang Protestant. Kali ini para sarjana Catholic lari ke Eropa! Harus diingat bahwa orang Protestan bukan satu-satunya kelompok yang ditindas. Darah mengalir dikedua arah.

Orang Katolik menginginkan Alkitab berbahasa Inggris sendiri. Ini bukan karena mereka setuju kalau orang awam harus mendapatkan Alkitab dalam bahasa sendiri. Tapi, karena mereka tidak bisa menghentikan orang awam membaca Alkitab, setidaknya jika mereka ingin membaca harus dari suatu versi yang “benar” dari Alkitab. Tapi didalam kata pengantar versi ini, pembacanya ditujukan bagi rohaniwan dan sejenisnya. Orang banyak dihalangi membaca Alkitab, tapi jika mereka mau membacanya, harus Alkitab yang ini.

The Rheims-Douai Bible juga memiliki beberapa pengaruh dalam pengkalimatannya pada KJV.41 Alkitab ini—seperti kasus seluruh Alkitab Katolik sampai pertengahan abad keduapuluh—hanya didasarkan pada Latin Vulgate, bukan langsung dari teks Yunani atau Ibrani. Hal ini dikarenakan Council of Trent (1544) memutuskan kalau Alkitab harus diterjemahkan kedalam bahasa Latin. Hal ini berlangsung sampai Vatican II.

Hal ini membawa kita keawal era baru, yang dimulai dengan KJV. Era pertama penerjemahan Alkitab bahasa Inggris ada didalam tahun 1382—1610, atau hampir 230 tahun. Ini merupakan periode yang ditandai oleh dua hal: disatu sisi, perhatian mendasar bahwa setiap orang Kristen harus memiliki akses kepada kehendak Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Disisi lain, hirarki gereja menghalangi usaha ini—pertama dengan membunuh penerjemah-penerjemahnya dan membakar Alkitab terjemahan mereka. Saat semua itu gagal, terjemahan yang “diotorisasi” dibuat untuk meredakan gelombang ‘bidat’ Protestan.42


1 Seperti yang dikutip oleh C. C. Ryrie in Formatting the Word of God (Dallas: Bridwell Library, 1998) 11.

2 Geddes MacGregor, A Literary History of the Bible (Nashville: Abingdon, 1968) 190.

3 Seperti yang dikutip oleh Ryrie, Formatting, 11.

4 Suatu kalimat dari Jas 3.1, menangkap semangat pernyataan ini.

5 Setelah saya menulis kata-kata ini, saya membaca perlakuan Bruce Metzger terhadap Vulgata dalam Early Versions of the New Testament. Saya terkejut dan senang, saat membaca kembali sentimen Jerome yang ditujukan kepada Paus Damasus dalam kata pengantar revisi keempat kitab Injil (p. 333 in Versions), menggemakan maksud yang sama.

6 Demikian kata Dr. Abdullah Ibn Saleh Al-‘Ubaid dalam kata pengantarnya Interpretation of the meanings of the Noble Qu’rân in the English Language, Summarized in One Volume (Riyadh, Saudi Arabia: Dar-us-Salam Publications, 1995) 11: “Terakhir, Saya ingin menegaskan bahwa terjemahan ini hanyalah terjemahan dari penafsiran arti Al Quran dan tidak bisa dianggap sebagai Al Quran atau dikatakan sebagai Al Quran tapi hanya penafsiran maksudnya, untuk membawanya lebih dekat kepada pikiran non Arab, dengan harapan Allah mungkin merangkul mereka kedalam Belas KasihanNya dengan membuka hati mereka, dan agar mereka bisa masuk kedalam agama Allah.”

7 Ada perdebatan apakah Luther benar-benar memaku ke 95 tesis dipintu gereja, karena terbukti kalau tesisnya itu kemudian dicetak dan disebarkan keseluruh Eropa.

8 Pendahuluan [oleh Donald Brake] dari The Wycliffe New Testament (an Exact Facsimile of Rawlinson 259 in the Bodleian Library of Oxford University; John Purvey’s revision; Portland, OR: International Bible Publications, 1986) v.

9 John Wycliffe, Speculum Secularium Dominorum, Opera Minora, ed. John Loserth (London: Wycliff Society, 1913) 74; mengutip dalam Pendahuluan dari Wycliffe New Testament, vii.

10 Ron Minton, The Making and Preservation of the Bible (n.p.; November, 2000) 216.

11 Oxford MS dalam Bodleian Library, 959 E, kemungkinan edisi pertama asli dari Wycliffe Bible. Gaya bahasanya sangat kaku.

12 Bruce, History, membuat perbandingan yang baik dari kedua edisi dalam Heb 1.1-4, dengan diskusi (15-16).

13 Dikenal sebagai Constitutions of Oxford. See Bruce, History, 20-23.

14 Keputusan ini tidak dijalankan sampai tahun 1428, 43 tahun setelah kematian Wycliffe.

15 F. F. Bruce, History of the Bible in English, 3rd ed. (New York: Oxford University Press, 1978) 12, mencatat bahwa “Prestise dari kepausan sudah turun demikian jauh, sebagian alasannya adalah ‘Babylonian Captivity/pembuangan Babilon’ dari Paus di Avignon, disana mereka menetap dari tahun 1309 sampai 1378, dibawah kontrol raja Prancis, musuh bebuyutan Inggris; alasan lain adalah ‘Great Schism’ yang mengikutinya, dimana hampir selama empat puluh tahun (1378-1417) ada dua Paus yang bersaing, satu di Roma dan lainnya di Avignon, Paus yang satu diakui oleh sebagian kekuatan Eropa dan yang lainnya oleh sebagian Eropa lainnya.”

16 Lebih jauh, ditahun 1523, bishop London, Cuthbert Tunstall, menolak mengijinkan karyanya diselesaikan.

17 “Jika Tuhan menyelamatkan hidupku, selama bertahun-tahun aku akan membuat seorang anak laki-laki yang menarik bajak itu bisa mengenal Alkitab lebih dari sebelumnya” katanya kepada seorang pria beragama ditahun 1523.

18 Salinan ini ditemukan ditahun 1996. Cf. Minton, Making, 226.

19 Cf. Minton, Making, 223.

20 Suatu surat yang ditemukan diabad terkahirnya dari Tyndale sendiri saat dia dipenjara menanti eksekusi. Dia meminta pakaian hangat pada yang menangkapnya karena dia cukup kedinginan, terutama kepalanya. Dia juga meminta apakah bisa mendapat Alkitab bahasa Ibrani dan kamus Ibrani untuk menghabiskan waktu dengan baik. Seperti Paulus (2 Tim 4:13), kita tidak tahu apakah permintaan itu pernah dikabulkan.

21 Kenyataannya, mereka takut kehilangan kontrol. Sekali orang biasa mendapat Alkitab, para pemimpin tidak bisa lagi menafsirkan kehendak Tuhan bagi mereka tanpa perdebatan.

22 Tyndale memang merubah beberapa hal yang jelas menganggu pelayan Katolik: kata “congregation” dari “church”; “elder” dari “priest.” Walau kata ejkklhsiva biasanya dipakai untuk nuansa teksnis dalam PB, Tyndale, dengan beberapa alasan, menerjemahkan itu sebagai “congregation/jemaat.” Ini karena “church/gereja” disaat itu sangat melekat artinya dengan struktur Roma Katolik yang sangat menolak teks itu. Beberapa saat didalam periode Reformasi, saat Gereja Protestan mampu berakar dengan kuat, pembaca bisa melihat kata “gereja” tanpa berpikir tentang Catholicism.

Terjemahannya terhadap kata presbuvtero sebagai “elder/penatua” cukup akurat (cf. Titus 1:5) dan lebih baik daripada “priest” (sacerdos).

23 Bruce, History, 52.

24 Sayangnya, edisi Tyndale tahun 1534 menaruh Comma Johanneum dari edisi ketiga Erasmus tanpa komentar atau catatan, hal ini mungkin juga mempengaruhi KJV khususnya dalam hal ini.

25 Contoh yang menarik tentang hal ini ditemukan dalam 1 Tim 2:12. Dia menerjemahkan sebagai berikut: “I suffer not a woman to teach, neither to have authority over a man: but for [her] to be in silence.” KJV menerjemahkannya “But I suffer not a woman to teach, nor to usurp authority over the man, but to be in silence.” Kunci perbedaannya ada pada penerjemahan aujqentei'n. Tyndale mengartikulasikan itu dengan “have authority,” sedangkan KJV “usurp authority.” Dari apa yang bisa saya tangkap, kata kerja itu tidak memiliki kekuatan dari kata “usurp” sampai Chrysostom memberikannya dalam tafsirannya atas teks ini (cf. Moulton-Milligan, Liddell-Scott-Jones, Knight’s article in NTS [c. 1984], etc.). Lebih jauh, “usurp” bukan arti yang predominant dari aujqentevw sampai abad kesembilan A.D. Tapi karena kata itu muncul kurang dari 125 kali diseluruh literatur Yunani (menurut penelitian TLG database menurut 64 juta kata dari Homer sampai A.D. 1453), para penerjemah KJV kehilangan hal ini. Maka dari itu, mereka bergantung pada Latinnya Erasmus (yang dia tempatkan sebagai koreksi atas terjemahan Jerome) usurpare (Oxford Latin Dictionary memberikan definisi pertama dari kata ini, “mengambil pemilikan (property) dari inisiatif sendiri (dan tanpa klaim hukum yang ketat)”).” Terjemahan Jerome, secara tidak sengaja, adalah dominare (OLD memberi definisi pertama kata kerja ini, “melakukan kedaulatan, bertindak sebagai seorang penguasa”). Maka dari itu, terjemahan Tyndale lebih akurat Yunaninya daripada terjemahan Jerome atau Erasmus (walaupun Jerome cukup literal, karena tidak ada kata kerja dalam bahasa Latin yang berhubungan dengan potestas atau auctoris. Maka itu, jika suatu kata kerja harus digunakan, dominare adalah istilah yang paling netral dan karena itu paling akurat.)

Merupakan hal yang luar biasa kalau sekarang ini orang yang membaca teks ini menganggap KJV lah yang benar. Banyak pengajar wanita membuka pernyataan mereka dengan, “I am not usurping anyone’s authority; this authority has been given me by the elders.” Tapi ini bukanlah maksud dari 1 Tim 2:12. Sebagian besar terjemahan modern mengartikan istilah ini secara netral (cf., e.g., RSV, NKJV, NIV [“have authority”], RV, ASV [“have dominion”], NASB [“exercise authority”], etc. Sangat luar biasa, bahkan NRSV, dengan kecenderungan kuatnya terhadap gender inklusifnya dan egalitarianism [seperti dalam 1 Tim 3:2: “married only once” menjadi “husband of one wife”] disini dibaca “have authority”). Fee, dalam tafsiran singkatnya, mengatakan bahwa kata kerja ini berarti “to domineer” tanpa pembenaran lebih lanjut. Hal ini jelas terlihat seperti petitio principii.

26 Dikutip dalam Bruce, 44.

27 Tyndale’s New Testament: Translated from the Greek by William Tyndale in 1534. In a modern-spelling edition and with an introduction by David Daniell. New Haven: Yale University Press, 1989.

28 “Ini diijinkan sebelum Coverdale Bible (keduanya ditahun 1537) dan melalui pemeliharaan Tuhan, revisi Alkitab Tyndale menjadi yang pertama yang diijinkan oleh raja” (Minton, Making, 235).

29 Seperti Minton, Making, 235. Bruce, History, menganggap Alkitab ini diterjemahkan oleh Bishop Becke (83-84).

30 Jika Rogers dipenggal, mungkin suatu kasus bisa dibuat dimana catatan pada 1 Pet 3.7 menjadi sebab kelemahannya, karena catatan lengkapnya berkata “If [the wife] be not obedient and healpfull unto –her husband, he] endeavoureth to beate the feare of God into her heade, that thereby she maye be compelled to learne her dutie, and to do it.” Tafsiran Bruce, walau menganggap catatan ini dibuat oleh Becke, “Kita berpikir apakah editornya menulis bagian kedua dengan bercanda; walaupun benar demikian, janganlah kita menempatkan humoria ini dalam catatan Alkitab, karena setiap pembaca disuruh memperlakukan seluruh catatan Alkitab secara serius!” (History, 84).

31 The Great Bible melalui tujuh edisi antara tahun 1539 dan 1541. Edisi kedua ditahun 1540 memiliki pengembangan yang paling banyak dari cetakan pertama, terutama dalam kitab-kitab puisi PL (Bruce, History, 70).

32 Ditahun 1542, Upper House of Convocation of Canterbury menuntut suatu revisi Great Bible, agar sesuai dengan Latin Vulgate.

33 Bruce, History, 79.

34 “tidak ada terjemahan Alkitab dibuat saat Edward VI menjadi raja (1547-1553). Edward adalah anak Henry VIII. Suatu usaha pernah dilakukan untuk mengangkat Lady Jane Gray sebagai penerus Edward, tapi Mary Tudor, salah satu anak perempuan Henry (dengan Catherine of Aragon) yang dipilih. Mary meninggal ditahun 1558 dan Elizabeth (saudara tirinya) memulai pemerintahan panjangnya.”

35 Matthew dan Great Bible adalah yang pertama.

36 Tapi, catatan yang secara eksplisit bersifat tafsiran Calvinistic sangat sedikit.

37 Stephanus meletakan angka ayat saat melakukan perjalanan dari Paris ke Lyons. Terkadang hal ini digunakan untuk menjelaskan mengapa ayat-ayat dibagi secara aneh: Stephanus pasti sedang naik kereta saat menandai kebawah angka ayatnya, saat kereta melindas halangan dijalan! Tapi petunjuk aneh ini lebih mungkin dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa dia menulis semua itu saat beristirahat dipenginapan sepanjang perjalanan.

38 Nama lain diberikan kepada beberapa Alkitab diseluruh sejarah. Sebagai contoh, salah satu edisi awal King James disebut “Wicked Bible” karena tidak menambahkan kata “not/tidak” dalam perintah ketujuh (Exod 20:14): “Engkau boleh melakukan perzinahan / Thou shalt commit adultery”!

39 Bruce, History, 92-93.

40 So Minton, Making, 243.

41 Suatu draft awal dari suatu esay dalam Catholic Biblical Encyclopedia, dibuat oleh tim sarjana internasional, terlalu melebihkan pengaruh Rheims-Douai pada KJV, dan lalai menyebutkan apapun pengaruh Tyndale pada KJV! Saya mencacat hal ini dalam pandangan saya tentang draft awal yang dikirimkan kepada saya oleh editor seniornya; bisa dilihat apakah koreksi telah dibuat.

42 Hal ini bisa berarti lebih: Anglican bishops juga tidak nyaman dengan terjemahan-terjemahan Protestant.

Related Topics: Text & Translation