MENU

Where the world comes to study the Bible

10. Bicara Kebenaran dalam Kasih

Satu masalah umum dalam pernikahan adalah kurangnya komunikasi. Situasi ini merupakan bagian dari masyarakat, karena banyak anak dibesarkan dirumah dimana komunikasi membangun jarang terjadi. Kebersamaan keluarga diturunkan kepada hanya menonton tv bersama; siapapun yang berani berkata apapun disuruh diam karena orang lain ingin mendengar! Trend bagi setiap anggota keluarga adalah memiliki TV sendiri, jadi dia bisa menonton apa yang diinginkan tanpa gangguan atau interupsi. Semua komunikasi keluarga dihancurkan.

Faktor lain yang berkontribusi pada absennya komunikasi keluarga adalah kecenderungan kita untuk membatasi anak menyatakan perasaan mereka yang sebenarnya. Kita biasanya melihat lebih penting bertindak dan bicara dalam prilaku yang secara umum diterima daripada menyatakan pemikiran kita yang sebenarnya. Maka dari itu, setelah seorang anak melakukan sesuatu yang memalukan kita bisa mendengan ibunya berkata, “Junior, jangan pernah bilang itu lagi! Apa kata orang nanti?” Kita memang harus mempertimbangkan perasaan orang lain, tapi perhatian kita tentang pendapat orang lain mendorong Junior menyimpan pemikiran dan perasaan terdalamnya, dan menghindari sakitnya salah mengerti dan ditolak. Dia belajar menahan komunikasi.

Setelah dia masuk kedunia sekolah yang kompetitif, dan kedunia kerja. Sedikit orang yang peduli terhadap pikiran dan perasaannya; kinerjanya yang dihitung. Dia diterima oleh atasannya selama dia melakukan sesuai kualitas standar dan prosedur pekerjaan. Keamanan kerjanya terancam jika orang bisa melihat dan menemukan apa yang dipikirkannya. Jadi dia belajar menutupi apa yang ada disana, menunjukan gambaran diri yang mengesankan orang, yang menutupi kelemahan dan kesalahannya. Dibalik semua itu dia merasa seperti kartu computer. Dia ingin diterima sebagaimana dia ada, tapi tidak ada yang mau melakukannya, karena tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.

Kemudian hal yang tidak terduga terjadi—dia tertarik pada lawan jenis. Dia mulai terbuka, membagikan perasaan terdalamnya. Pasangan itu juga melakukan hal yang sama, dan itu menjadi pengalaman yang mendebarkan. Setidaknya mereka menemukan seseorang yang benar-benar mengerti, yang menerima siapa dirinya sebenarnya. Mereka menemukan banyak kesamaan, kalau mereka “dibuat untuk dirinya.” Saat pastor yang akan menikahkan mereka bertanya apakah mereka bisa berkomunikasi, mereka dengan yakin menyatakan bahwa itu salah satu asset mereka yang terbesar.

Saat pernikahan berjalan, mereka semakin sedikit bicara. Apa yang dulunya mereka pikir suatu saling pengertian menjadi awal pernyelidikan mereka terhadap misteri kepribadian masing-masing. Tapi sekarang hal baru sudah berlalu. Saat tekanan rutinitas pernikahan menumpuk, komunikasi menjadi pengalaman tidak menyenangkan. Ketegangan meningkat, salah pengertian muncul, perkataan yang tidak baik diucapkan, dan perasaan terluka. Kesadaran ini menjadi tak bisa ditanggung. Makin banyak menyatakan pendapatnya makin tidak enak suasananya, sampai mereka kembali kekeadaan sebelumnya, menutupi pemikiran terdalam mereka. Daripada bertumbuh dalam pengetahuan dan saling pengertian, dengan kesatuan yang direncanakan Tuhan bagi mereka, mereka semakin hanyut menjauh.

Jadi keluhan datang: “Dia tidak pernah bicara padaku lagi.” “Dia tidak mau memberitahukan apapun tentang pekerjaannya.” “Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya.” “Dia tidak mau berhenti bicara untuk mendengarkan aku.” Mereka terus begitu. Apakah anda tahu bahwa Alkitab bicara banyak tentang masalah komunikasi?

Pertama, Alkitab menjelaskan kenapa kita membiarkan komunikasi hancur. Setiap kita memiliki nature dosa. Disamping kelemahan dan kerapuhan, itu sangan korup dan egois. “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?”1 Sangat memalukan membukan hati kita yang licik, jadi kita memakai topeng yang bisa dihormati daripada menyatakan nature kita yang sebenarnay. Yesus berkata bahwa manusia lebih memilih kegelapan daripada terang karena keinginan mereka jahat.2 Kita lebih ingin menyimpan perasaan dan motif terdalam kita dalam kegelapan hati kita, daripada diterangi agar semua bisa melihat! Karena hati kita cenderung meluap kemulut,3 kita sering menjaga mulut kita. Kita menghindari terlalu dekat dengan seseorang, sehingga bisa membuka kelemahan kita, dan orang bisa melihat kita yang sebenarnya!

Ini tidak mengusulkan agar kita mengatakan semua dosa masa lalu pada pasangan kita. Mungkin itu yang Tuhan ingin kita lakukan; tapi itu juga bisa menjadi hal kejam yang pernah kita lakukan padanya. Kita seharusnya tidak mengudara saat hati kita dipenuhi dengan nafsu, sombong, kebencian, dan iri hati atau keraguan dan kekhawatiran.

Hal terbesar yang bisa terjadi bagi beberapa perkawinan adalah suami yang luar biasa atau istri yang lebih suci dari anda turun dari tahta pembenaran diri dan mengakui kelemahan dan kebutuhannya. Kerendahan hati seperti itu bisa menghilangkan permusuhan, mengobarkan kembali kasih yang melemah, dan membangun kembali komunikasi yang putus. Berpura-pura menjadi seorang yang bukan diri kita adalah munafik, dan tidak ada kelompok yang lebih dicela Tuhan daripada orang munafik.4

Sekali lagi, saya tidak mengusulkan agar kita membeberkan semua yang ada dalam pikiran kita. Itu bisa menyerang orang lain, dan Tuhan tidak dipermuliakan dalam hal ini. “Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.”5 Langkah pertama mengijinkan Kristus mengubah hidup kita adalah mengakui bahwa kita seperti yang sebenarnya, sehingga kita perlu diubah. Ada beberapa situasi dalam hidup menjadi lebih sengsara daripada menikahi pribadi yang kaku dan puas pada diri, seorang yang berpikir pendapatnya tidak bisa salah dan tindakannya sempurna.

Salah satu situasi konseling yang paling menyulitkan yang pernah saya hadapi melibatkan pribadi semacam itu. Fred menderita kekurangan pendengaran yang akut dan dia tidak pernah sepenuhnya menerima atau belajar hidup dengan hal itu. Itu membuatnya tidak toleran dan tidak masuk akal terhadap istri dan anaknya. Apa yang dikatakan adalah hukum; tidak pernah bisa dipertanyakan atau diragukan. Dia membuat keputusan tergesa-gesa tanpa mengetahui semua fakta dan tidak bertoleransi pada semua permintaan. Dia tidak bisa salah dimatanya, dan tidak mau disalahkan atas apapun. Duapuluh lima tahun kekerasan kepala ini berlangsung sama sekali menjauhkan dia dari anak dan membuat istrinya menjadi orang paling pahit yang pernah saya temui. Satu-satunya komunikasi yang terjadi diantara mereka adalah teriakan dan bentakan, sebagian saya dengar selama kunjungan kerumah mereka.

Dalam sesi pribadi saya dengan cerdik menjelaskan pada Fred bahwa beberapa konflik dalam hidupnya telah meningkat melalui prilaku pribadinya. Dia bangkit dari kursi dan melangkah dengan gelisah. “Itu mungkin saja,” akhirnya dia berkata, “tapi saya tidak pernah berpikir dengan cara itu.” Tindakan berikutnya menunjukan bahwa dia telah memutuskan untuk tidak pernah memikirkan dengancara itu lagi. Suatu pengakuan sebagian penyalahan bisa meluluhkan permusuhan yang sudah bertahun-tahun terbangun, dan memulai proses penyembuhan yang sangat dibutuhkan. Tapi kesombongannya tidak membiarkan dia turun. Dia memilih menutup pernikahannya daripada mengakui kesalahan apapun. Komunikasi yang berarti terputus dari sumbernya.

Alkitab menunjukan satu lagi alasan kita menolak komunikasi: kita takut akan reaksi pasangan kita. Sebagian orang langsung hancur saat mereka diberitahu tentang kelemahan mereka. Mereka bisa jadi gunung berapi, tangisan yang memancar, atau menjadi diam dalam waktu yang lama. Sekali kita belajar apa yang menyebabkan respon pasangan kita, kita takut menghasilkan situasi ini lagi. Kita tidak melihat arti dari hal ini, jadi kita menarik diri dalam keheningan dan melindungi diri. Dikali berikut saat ditanya kenapa pasangan kita tidak bicara pada kita, mari kita tanya diri kita bagaimana kita bereaksi diwaktu lalu! Kita mungkin menemukan kesalahan ada pada kita.

Pengajaran Alkitab untuk membetulkan krisis komunikasi ini adalah, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”6 Saat pasangan anda membuka hatinya dan anda ingin membalas dengan kutukan, berdoa sebelum membuka mulut anda! “Tuhan, jauhkan aku dari kemarahan; jauhkan aku dari mengatakan hal yang tidak baik. Tolong aku mendengar dengan baik dan simpatik bagi pasangan saya, mencoba mengerti perasaannya, melihat hal ini dari sudut pandangnya.” Kemudian komunikasikan dengan baik dan berarti, tidak dengan semburan emosi.

Buat aturan dengan tidak menaikan suara anda. Suara yang keras tidak menyenangkan, dan beberapa orang menikmati hal ini. Suara keras, pahit, marah, sarkasme hanya membawa pasangan kita semakin masuk didalam cangkangnya. Dengarkan Raja Salomo: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.”7 Hafalkan ayat ini. “lembut” tidak hanya pada volume suara, tapi juga pada tingkatan empati. Perkataan yang lembut seperti menuangkan air dingin keatas bara. Perkataan kasar hanya menambah api. Bagaimana anda seharusnya bereaksi saat pasangan anda membuka hatinya? Dengan kebaikan, ketenangan, kasih dan lembut. Itu membuat jalur komunikasi tetap terbuka.

Halangan lain adalah ketakutan kalau pasangan kita menggunakan informasi itu untuk melawan kita dikemudian hari. Saat perbedaan pendapat muncul, sebagian orang suka mengungkit kelemahan, kegagalan, dan kesalahan lalu. Kita tidak bisa mengharapkan pasangan kita membagikan beban jiwa mereka jika tahu mereka akan mendengar hal ini bulan depan atau tahun depan. Seorang yang mengungkit masalah yang sudah lalu lebih ingin memenangkan argument daripada membangun hubungan pribadi yang intim dengan pasangan mereka.

Perkataan “hendaklah kamu saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”8 juga tepat terhadap masalah ini. Sebagian orang protes, “tapi saya telah mengampuni. Hanya saja saya tidak bisa melupakannya.” Bagaimana Tuhan mengampuni? “Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”9 “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.”10 Jika pasangan kita bisa percaya kalau kita tidak akan menggunakan rahasia ini sebagai senjata melawan mereka, mereka akan lebih terbuka pada kita. Hanya ada satu cara untuk mendapatkan kepercayaan: dengan meminta Tuhan menolong kita mengampuni dan melupakan. Dia tidak menghilangkan ingatan itu dari otak kita, tapi mengambil luka darinya, dan menghilangkan setiap alasan untuk disebutkan kembali!

Suatu pernikahan yang bahagia hanya bisa terjadi saat setiap pasangan tahu bagaimana perasaan pasangannya tentang situasi yang mereka hadapi. Empati seperti ini membutuhkan jalur komunikasi yang terbuka. Kita sering mengembangkan pemikiran bahwa alternative terbaik daripada pertengkaran adalah diam. Kita merasa menang jika kita berdiam sementara pasangan kita membentak-bentak. Tapi diam yang seperti ini membelikan kita tiket ke rumah sakit dengan berbagai macam penyakit karena stress, dan lebih membuat pasangan kita marah. Ada alternative lain daripada pertengkaran. Itu dengan berbagi dalam kasih apa yang ada dalam hati kita! Alkitab tidak hanya menyatakan halangan komunikasi, tapi jalan untuk bisa berkomunikasi! Satu kalimat pendek dalam Ephesians 4:15 menunjukan kunci komunikasi efektif dalam rumah: “berpegang kepada kebenaran di dalam kasih.”

Prinsip pertama adalah jujur: “bicara jujur.” Hubungan pernikahan yang memuaskan meliputi keterbukaan tentang ketakutan, keinginan, motivasi, seks, uang, kelemahan, kemarahan, dan salah pengertian. Banyak masalah perkawinan bisa diselesaikan jika suami dan istri jujur dengan pasangannya. Apakah anda punya masalah yang anda simpat dari pasangan anda agar dia tidak khawatir? Jika demikian, anda menutup hidup anda dari dia dengan menunjukan bahwa dia secara emosi tidak cukup kuat untuk menolong anda menyelesaikan masalah anda. Itu merupakan penghinaan yang membuat anda semakin jauh.

Apakah anda memiliki kebutuhan yang bisa dipenuhi pasangan anda, tapi tidak dinyatakan? Anda mungkin terlalu sombong atau malu untuk mengakuinya, jadi anda mencoba menjadi martir dan menyimpannya untuk diri anda. Maka ketegangan dan dendam didalam akan terbangun sampai memerlukan konseling dari professional. Ini harga yang harus dibayar ketidak jujuran.

Prinsip kedua dari komunikasi efektif adalah kasih, “bicara dengan kasih.” Kebenaran kadang bisa kejam. Itulah alasan Tuhan mengatakan itu harus dikatakan dalam kasih. Ini meliputi memikirkan orang lain. Hal kejam dikatakan atas nama kejujuran saat alasan sebenarnya adalah untuk keluar dari penyesalan rasa bersalah. Tujuan dalam pernikahan adalah keterbukaan penuh dan keintiman jiwa dan roh. Ini, tidak terjadi dalam semalam. Itu kadang membutuhkan bertahun-tahun agar terjadi, dan sebagian pasangan tidak pernah sampai kesitu. Tapi Tuhan ingin kita tetap bertumbuh, setiap hari menyatakan sedikit jiwanya dalam kasih dan santun.

Kasih juga menolong kita memilih waktu yang tepat untuk membagikan berita buruk atau menyatakan beberapa hal yang sulit. “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”11 “alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!”12 Kedua ayat ini menunjuk pada perkataan yang diucapkan pada saat yang tepat. Biasanya bijak untuk menunggu setelah selesai makan untuk membahas hal yang tidak enak atau controversial. Kadang baik untuk menunggu sampai pagi, terutama jika pasangan kita mendapat hari yang sulit.

Jika masalah yang ingin kita bahas menyangkut beberapa kesalahan pasangan kita, kasih akan membuat kita bicara pada Tuhan lebih dahulu. Dia mungkin menunjukan bahwa masalah sebenarnya ada dalam kita—sesuatu yang harus lebih dulu kita selesaikan. Kemudian, jika Tuhan memberikan kita kebebasan untuk menyatakan itu, kasih akan menolong kita untuk menandainya dengan kata-kata penghargaan dan pujian lebih dulu, dan menyatakannya dengan membangun dan secara positif. Kita akan memberi semangat daripada melukai pasangan kita. “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.”13

Kita tidak bisa mulai bicara tentang kesalahan seseorang tanpa memperhatikan nasihat Paulus: “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”14 Sangat mudah terlihat hebat saat membicarakan kelemahan orang lain. Itu membuat kita lebih suci dari mereka! Tapi Tuhan berkata bahwa kita harus mendekati orang dengan lemah lembut, karena kita juga sama dengan mereka. Lemah lembut yang sejati merupakan buah Roh yang mengontrol dalam hidup kita; maka dari itu kita tidak bisa dengan baik membahas kesalahan pasangan kita tanpa diri dipenuhi Roh. Saat dia yang mengatur, kita akan terdengar tidak kasar, juga tidak menunjukan kalau kita tidak bersalah..

Kasih juga menjauhkan kita dari menggunakan generalisasi seperti “selalu” atau “tidak pernah.” “Kamu tidak pernah mendengarkan aku.” “Kamu selalu memotong aku.” Generalisasi seperti itu jarang benar. Kasih juga menolong kita untuk tidak bertengkar didepan orang lain, terutama anak-anak, dan bicara kelemahan pasangan kita pada orang lain. “kasih menutupi banyak sekali dosa.”15

Kasih menolong kita belajar untuk berhenti bicara. Solomon berkata bahwa ada waktu bicara dan ada waktu untuk diam.16 Tidak banyak bicara merupakan komunikasi yang berarti. Pasangan kita mungkin ingin menyatakan jiwa dan berbagi sesuatu yang sangat penting dengan kita jika kita berhenti bicara cukup lama untuk membiarkan mereka. Kasih juga menjaga kita dari memaksa pasangan untuk berbagi apa yang tidak ingin dibagikan saat itu. Kasih selalu mempertimbangkan orang lain. Itu merupakan obat rohani yang cukup kuat untuk menyembuhkan hampir semua sakit komunikasi dalam keluarga Kristen, “Bicara kebenaran dalam kasih.”

Komunikasi adalah cara kita belajar mengenal dan mengerti pasangan kita. Tuhan, sudah mengerti pasangan kita; Dia menciptakan kita. Mari kita minta Dia untuk membuka jalur komunikasi antar pribadi dan memberi kita pengertian yang dimilikiNya, sehingga hubungan pernikahan kita bertumbuh setiap hari.


1 Jeremiah 17:9, TLB.

2 John 3:19.

3 Matthew 12:34.

4 Cf. Matthew 23.

5 1 Corinthians 10:32, KJV.

6 Ephesians 4:31, 32, TLB.

7 Proverbs 15:1, TLB.

8 Ephesians 4:32, TLB.

9 Jeremiah 31:34, TLB.

10 Psalm 103:12, TLB.

11 Proverbs 25:11, TLB.

12 Proverbs 15:23, TLB.

13 Proverbs 16:24, TLB.

14 Galatians 6:1, TLB.

15 1 Peter 4:8, KJV.

16 Ecclesiastes 3:7.

Related Topics: Christian Home, Marriage, Love