Where the world comes to study the Bible

Apakah Kita Akan Saling Mengenal Disorga?

Mendasarnya pembahasan ini menuntut rasa hormat dan kerendahan hati. Kita mendekatinya dengan semangat dan doa agar Tuhan mengiluminasi hati dan pikiran kita, yang kemudian mengamankan kita dari tebakan popular dan pernyataan gegabah yang tidak berdasar. Kita seperti Robert G. Lee, seorang pendeta besar dari selatan, berkata: “saya percaya adanya surga seperti saya percaya ada Tuhan. Jika kesadaran, karakter, kasih, ingatan, persekutuan ada dalam kehidupan itu, kenapa mempertanyakannya? Biarlah Tuhan menolong saya untuk kepentingan anda menganggap pengajaran tentang surga keluar dari spekulasi menjadi kepastian.”

Manusia merupakan puncak ciptaan Tuhan, mahkota dari semua yang diciptakan Tuhan. Kemajuan yang luar biasa manusia dalam penyelidikan ilmiah, perkembangan industri, dalam pengembangan pertanian, dan dalam peradaban serta penginjilan merupakan indikasi kehebatan yang Tuhan berikan untuk digunakan manusia. Masuk akalkah untuk percaya “bahwa Dia bisa membimbing kesatu tempat –suatu lubang hitam dimana disitu bisa terkubur kepintaran dan ingatan, imajinasi dan doa didalamnya bersama dengan daun dan ulat?” Jawabannya “tidak” Jika kematian artinya melupakan karunia pemberian Tuhan serta teman dan orang yang kita kasihi dalam Tuhan, maka kekosongan dalam diri kita tidak akan terpuaskan, dan ingatan akan orang yang kita kasihi tidak lebih dari harapan yang terkubur.

Keinginan Seluruh Bangsa

Dari sejak dahulu kala manusia sudah memegang pengajaran tentang hidup sesudah kematian. Seperti tidak terputus dalam ingatan sejarah manusia, ada keyakinan kuat dalam roh manusia bahwa tujuan penciptaan tidak bisa dipenuhi dalam hidup yang singkat ini.

Filsuf masa lalu Sokrates bisa berkata bahwa “kematian membawa kita kewilayah yang dihuni oleh roh manusia yang sudah mati, apakah tidak bahagia bisa lolos dari hakim yang biasa? Apakah mungkin anda melihat ini sebagai perjalanan yang tidak penting? Apakah tidak bisa bicara dengan Orpheus, dan Homer, dan Hesiod? Percayalah, saya dengan gembira mau menderita banyak kematian kalau menyadari keistimewaan seperti itu. Betapa senangnya meninggalkan dunia ini untuk berkomunikasi dengan Palamedes, Ajax, dan yang lainnya!”

Cicero menulis: “Bagi saya, saya merasa tidak sabar untuk bergabung dengan kedua teman saya. O, suatu hari yang indah! Saat saya pensiun dari pemandangan yang lamban dan menjijikan ini, untuk bergabung dengan jemaat ilahi dari roh yang sudah pergi; dan tidak hanya dengan mereka yang baru saya sebut, tapi dengan sayangku Cato, anak terbaik dan manusia paling bernilai! . . . Jika saya menanggung kematian dengan ketabahan, bukan berarti saya tidak merasakan kehilangan: Itu bisa karena didukung oleh harapan bahwa kita tidak akan lama berpisah.”

Seorang raja liar dari bagian dunia lain juga percaya bahwa mereka bisa mengirim pesan pada temannya yang sudah mati melalui membisikan pesan ditelinga pengikutnya dan memotong kepalanya. Dilaporkan bahwa beberapa suku liar, saat seorang raja mati, ratusan pengikutnya mau mati agar raja mereka bisa dilayani dengan baik didunia roh. Bahkan Indian, dibeberapa tempat, percaya bahwa saat pemimpin suku mati, istrinya dan kerabat dekatnya juga dibunuh agar dia bisa mendapat kehormatan dan dibantu oleh orang yang sama dalam kehidupan yang akan datang.

Kepercayaan dalam pengenalan dan reuni setelah mati merupakan hal yang universal. Itu sudah tersebar luas diantara budaya filsuf dan penulis puisi, diantara, orang liar, dan digemakan melalui orang-orang dimasa kita. Kepercayaan yang umum bahwa kita akan saling mengenal dikehidupan setelah kematian. Seseorang menyatakan hatinya dalam kata-kata dibawah ini:

When the holy angels meet us
As we join their happy band,
We shall know the friends that greet us
In that glorious spirit-land.
We shall see the same eyes shining
On us as in days of yore.
We shall feel the dear arms twining
Fondly, round us as before.
Author unknown.

Hymne Gereja

Selama ini Gereja telah menyanyikan hymne yang menyatakan kepercayaan tentang hal ini.

Oh, how sweet it will be in that beautiful land,
So free from all sorrow and pain,
With songs on our lips and with harps in our hands,
To meet one another again,
To meet one another again,
With songs on our lips and with harps in our hands,
To meet one another again.

I’ll soon be at home over there,
For the end of my journey I see;
Many dear to my heart, over there,
Are watching and waiting for me.
Over there, over there,
I’ll soon be at home over there,
Over there, over there, over there,
I’ll soon be at home over there.

There’s a land that is fairer than day,
And by faith we can see it afar;
For the Father waits over the way,
To prepare us a dwelling-place there.
In the sweet by and by,
We shall meet on that beautiful shore;
In the sweet by and by,
We shall meet on that beautiful shore.

Oh, the dear ones in glory, how they beckon me to come,
And our parting at the river I recall;
To the sweet vales of Eden they will sing my welcome home,
But I long to meet my Saviour first of all.

Friends will be there I have loved long ago;
Joy like a river around me will flow;
Yet, just a smile from my Saviour, I know,
Will thro’ the ages be glory for me.

My loved ones in the Homeland
Are waiting me to come
Where neither death nor sorrow
Invades their holy home.

Saling Kenal Disorga
dalam Perjanjian Lama

Hal yang sering diulang dalam PL secara substantive mengajarkan hal ini:

lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. (Genesis 25:8).

Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya (Genesis 25:17).

Lalu meninggallah Ishak, ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya; ia tua dan suntuk umur, maka Esau dan Yakub, anak-anaknya itu, menguburkan dia. (Genesis 35:29).

Setelah Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya, ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya (Genesis 49:33).

Harun akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, sebab ia tidak akan masuk ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel, karena kamu berdua telah mendurhaka kepada titah-Ku dekat mata air Meriba (Numbers 20:24).

TUHAN berfirman kepada Musa: Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel. Sesudah engkau memandangnya, maka engkaupun juga akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, abangmu, dahulu. (Numbers 27:12, 13).

Saat Abraham meninggal, dia dikubur digua Machpelah ditanah pengembaraannya. Dia membeli tanah itu untuk dirinya bagi tempat penguburan, tapi itu bukan makam leluhurnya. Maka dari itu, bahasa Alkitab tidak berarti tubuhnya dikumpulkan bersama leluhurnya, karena beberapa dari mereka mati dan dikembalikan ke Ur Kasdim. Perhatikan juga bahwa Abraham dikumpulkan bersama bangsanya sebelum tubuhnya dikubur, sebelum dia dikumpulkan bersama mereka (verse 8) dan anaknya Isaac dan Ishmael menguburkannya dalam gua di Machpelah (verse 29). Hal yang sama juga terjadi pada Musa yang dikumpulkan bersama dengan leluhurnya tapi tubuhnya dikubur dibukit di Moab, dan “tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini” (Deuteronomy34:6). Saat kita mempelajari kehidupan karakter lainnya dalam PL yang dikatakan bahwa mereka dikumpulkan bersama dengan leluhurnya, kita menemukan bahwa itu lebih dari sekedar dikubur bersama leluhur. Mereka berkumpul bersama yang mereka kasihi dalam kumpulan roh orang yang sudah mati dengan ingatan yang penuh disorga. Suatu perkumpulan yang indah!

Sikap Daud saat kematian anaknya menunjukan bahwa raja Israel ini percaya adanya saling mengenal disorga. Dia berpuasa dan menangin agar Tuhan mengijinkan anaknya hidup. Tapi saat dia mengetahui anaknya sudah mati, Daud makan, menghapus tangisnya, dan terhibur dengan harapan yang dinyatakan dalam perkataan: “Aku yang akan pergi kepadanya” (2 Samuel 12:23). Apakh ada penghiburan bagi Daud jika dia nanti disana tidak akan mengenali anaknya? Bagaimana yang buta bisa melihat terbenamnya matahari? Bagaimana yang tuli bisa mendengar musik?

Biarlah kita disini tidak mempercayai ada bayi disorga seperti itu. Tidak ada cacat, kekurangan, atau kelainan tubuh dalam sorga. Tidak ada umur tua atau bayi dalam sorga. Kita sudah nyatakan dalam bab sebelumnya bahwa tidak ada bayi yang mati yang tidak selamat dan keneraka. Tapi mereka tidak akan muncul sebagai bayi saat dibangkitkan, seperti kata Dr. West: “Masa bayi merupakan tahap belum dewasa dan tahap keberadaan yang belum sempurna. Adam dan Hawa tidak diciptakan dari bayi, tapi orang dewasa.” Betapa suatu tragedy bagi bayi yang lemah dan tidak berdaya terus seperti itu dalam kekekalan dan kekurangan! Kita tidak mempermasalahkan bahwa orangtua akan mengenali anaknya disorga nanti. Saat kita berpikir tentang ibu Kristen yang mati saat melahirkan, dan anaknya dewasa menjadi seorang Kristen, kita tetap percaya kalau ibunya akan mengenali anaknya walau terakhir kali dia melihatnya saat bayi.

Saling Mengenal di Sorga
dalam Perjanjian Baru

Peristiwa perubahan digunung secara umum diterima sebagai bukti kuat saling kenalnya orang dalam surga. Setelah mati tubuh roh dikenali. Kenyataan ini dibuktikan saat Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes keatas gunung suci. Saat surga menampakan kemuliaannya, bersama dengan Kristus muncul Musa dan Elijah didepan para murid. Kedua nabi PL tidak muncul sebagai malaikat atau hantu, tapi seperti kata Lukas: “Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia” (Luke 9:30). Tidak hanya Musa dan Elijah dikenali oleh Tuhan, tapi mereka dikenali oleh para murid. Petrus jelas mengenal mereka, karena dia berkata: “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (verse 33). Saat kita mengingat bagaimana para murid dengan keterbatasan pandangan bisa mengenali 2 orang kudus dari sorga, jelas saat kita datang disana dengan tubuh kemuliaan dan pandangan sorgawi, kita mampu mengenali mereka yang kita kenal dibumi.

Saat orang kaya mati dan pergi keneraka, “dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.” (Luke 16:23). Ini kasus yang membuktikan baik pengenalan dan ingatan ada dikehidupan setelah kematian. Jika orang yang terhilang bisa mengenali, terlebih lagi pengenalan kita akan orang yang kita kasihi dalam rumah Kekal!

Sorga dinyatakan sebagai tempat social, dimana sukacita dan persekutuan digambarkan dengan suatu pesta. Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga” (Matthew 8:11). Jelas, nabi dan leluhur saling mengenal dalam pesta surgawi, dan demikian juga orang yang diselamatkan diseluruh dunia.

Rasul Paulus percaya dan mengajarkan bahwa surga adalah tempat saling mengenal bagi anak Tuhan. Dalam surat pertama ke Tesalonika, Paulus menulis: “Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami” (1 Thessalonians 2:19, 20). Tidak salah lagi apa yang dipikir Paulus. Dia berharap bertemu dengan orang percaya Tesalonika disorga, dan lebih jauh dia menantikan bisa membedakan mereka dari yang lainnya selama pelayanannya. Melalu Roh Kudus, Paulus juga mengajarkan bahwa mereka yang diselamatkan atas pelayanannya akan mengenal dia. Dia berkata, “seperti yang telah kamu pahamkan sebagiannya dari kami, yaitu bahwa pada hari Tuhan Yesus” (2 Corinthians 1:14). Dibagian lain Paulus berkata “semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya” (Ephesians 3:15). Sorga adalah rumah kita, dan semua yang kesana adalah satu keluarga dengan Tuhan sebagai Bapa. Betap sedihnya jika kita hidup dalam kekekalan sebagai orang asing! Itu tidak akan jadi rumah.

Tapi kuatkan dirimu dan berharaplah, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1 Corinthians 13:12). Sekarang pengetahuan kita dibatasi oleh apa yang sudah Tuhan nyatakan bagi kita, dan kita sangat memuji Dia untuk itu! Tapi dihari itu --“muka dengan muka!” harapan yang indah! Berhadapan muka dengan keluarga dan teman yang kita cintai dan sudah lama hilang. Tapi yang terindah adalah kita akan melihat Dia, “muka dengan muka.”

Face to face! O blissful moment!
Face to face--to see and know;
Face to face with my Redeemer
Jesus Christ Who loves me so.

Related Topics: Man (Anthropology), Heaven