Previous PageTable Of Contents

Pelajaran 3 — Air Bah
Kejadian 5:28--10:32

Pendahuluan

Minggu terakhir ini diselenggarakan pemilu untuk memilih presiden Amerika Serikat. Seminggu kemudian, sementara saya menyelesaikan naskah ini, kami masih tetap tidak tahu siapa yang memenangkan pemilu ini. Sementara hari-hari berlalu, perbatasan antara kalah dan menang semakin kabur dan kabur, tak hanya di negara bagian Florida, namun juga di beberapa negara bagian yang lain. Hal ini terjadi, sebagian, disebabkan oleh banyaknya jumlah pemilih yang muncul dalam pemilihan. Kita seharusnya mengambil pelajaran dari pemilu ini bahwa tindakan beberapa orang akan mempengaruhi nasib para calon presiden dan juga nasib penduduk negara kita yang besar ini.

Dalam Alkitab, kita dapat melihat nasib banyak orang seringkali bergantung pada sifat dan perilaku dari satu orang saja. Hal ini terjadi, misalnya, dalam kasus raja-raja Israel. Juga pada periode hakim-hakim. Kita melihat prinsip yang sama berlaku dalam Kejadian 3, dimana pelanggaran Adam mengakibatkan dosa, penghukuman dan kutuk atas seluruh umat manusia. Kita melihatnya terjadi atas Kain dan Seth dalam Kejadian 4 dan 5, dimana dosa atau kesalehan masing masing mempengaruhi generasi-generasi berikutnya. Kita melihatnya sekali lagi dalam kisah air bah. Seluruh bumi menjadi jahat dan hanya layak untuk dihancurkan, dan jika bukan karena satu orang yang saleh -- Nuh -- seluruh umat manusia pasti sudah akan punah selamanya. Namun karena Nuh, beberapa orang diselamatkan, dan dengan demikian umat manusia memiliki awal yang baru.

Dalam serial saya yang sebelumnya mengenai kitab Kejadian, empat bab pelajaran diperlukan untuk meliput pasal-pasal Alkitab yang sama, namun kali ini kita akan meliputnya dalam satu bab saja. Tujuan kita dalam bab pelajaran ni adalah untuk melihat secara keseluruhan. Kita akan membahas mengenai identitas “anak-anak Tuhan” dan Nephilim dalam ayat-ayat pertama Kejadian 6. Para cendekia memiliki penafsiran yang berbeda mengenai istilah ini. Jika pemahaman atas istilah-istilah ini diperlukan untuk memahami pasal ini, maka saya percaya bahwa Tuhan akan meluangkan lebih banyak waktu untuk ini dan akan membuat artinya amat jelas bagi kita. Saya harus menyimpulkan bahwa teks ini agak membingungkan, yang memperingatkan kita agar tidak terlalu dogmatis atas hal-hal seperti ini.

Lebih jauh lagi, saya tidak akan mencoba untuk menerangkan bagaimana bisa terjadi air bah secara ilmiah. Ini disebabkan sebagian karena bidang ini bulanlah keahlian saya, dan sebagian lagi karena ini bukan inti dari kisah Nuh. Saya juga tak akan membandingkan dunia sebelum air bah dan dunia setelah air bah. Hal-hal ini mungkin menarik bagi beberapa orang dan saya mendoakan agar mereka berhasil dalam pencarian mereka, selama hal itu tidak menghalangi mereka untuk menangkap makna terobosan dari pasal ini. Dalam pelajaran ini saya akan memberikan perhatian terhadap “hukum proporsi,” dengan menandai bagian bagian dari pasal ini yang menerima penekanan terbesar.

Dunia yang Penuh Dosa

Kejadian 6:1-7, 11-12

1 Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, 2 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. 3 Berfirmanlah Tuhan: “Rohku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.” 4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. 5 Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, 6 maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya. 7 Berfirmanlah Tuhan: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”... 11 Adapun bumi itu telah rusak dihadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. 12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.

Aku harus mengakui sesuatu. Saya sering pergi ke toko kelontong untuk istri saya, atau bersama sama dengan dia, untuk “membeli beberapa barang.” Bagian bahan makanan segar selalu membuat saya kagum. Terkadang manager bagian bahan makanan segar akan menempelkan stiker pada buah yang berbunyi, “matang.” Dari waktu ke waktu, saya melihat buah yang sudah benar-benar busuk, dan saya harus mengakui kalau saya menempelkan stiker “matang” itu ke buah yang busuk itu hingga semua orang dapat melihatnya.

Saya rasa peradaban pada zaman Nuh memerlukan satu dari stiker “matang” itu. Peradaban itu telah busuk hingga ke intinya. Pada awalnya, semuanya tampak seperti berjalan dengan semestinya, tapi tidak memerlukan waktu yang lama sebelum semuanya mulai membusuk. Pada awal mulanya, Tuhan telah memberkati manusia dan memerintahkan mereka untuk “berbuah dan berkembang biak”:

28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28).

Adam dan Hawa mempunyai dua putra; Kain membunuh Habel, dan kemudian Seth, bersama dengan yang lain. Kemudian, beberapa tahun kemudian muncullah Lamekh, salah satu keturunan Adam dan Hawa melalui Kain. Kain dan Lamekh lebih pintar mengurangi (dengan melakukan pembunuhan) daripada menambah jumlah manusia, walaupun Lamekh mengganti pengurangannya atas manusia dengan mempunyai dua orang istri, bukannya satu (4:19-24). Pada saat kita mencapai pasal 6, semua hal telah berubah dari buruk menjadi amat buruk.

Dalam pemahaman saya atas ayat 1-7, Musa menjelaskan ketidakpuasan yang terus menerus atas manusia yang kemudian pada puncaknya timbul kebutuhan untuk melakukan penghakiman atas seluruh bumi. Dua ayat pertama dari pasal 6 menjelaskan bagaimana umat manusia telah bertambah banyak. Manusia--anak-anak Allah--menikahi wanita-wanita dan bersama-sama mereka mempunyai anak-anak. Semua ini bisa tampak sebagai sesuatu yang positif, jika tidak dilihat dari cara mereka memilih istri--mereka memilih wanita-wanita yang tampak paling baik bagi mereka (6:2). Terutama sesudah kejatuhan manusia, orang tentu akan berharap bahwa laki-laki dan perempuan akan mencari pasangan hidup yang saleh, tapi tampaknya hal ini tidak terjadi sama sekali. Laki-laki dan perempuan menikah dan bertambah banyak, tapi berdasarkan nafsu kedagingan belaka. Tak heran kita menemukan perkataan Tuhan dalam ayat ketiga, yang menyatakan bahwa RohNya tidak akan tinggal di dalam manusia selama-lamanya. Seakan akan Tuhan berkata, “Aku menciptakan manusia, namun ia begitu dikuasai oleh daging hingga rohnya tak lagi sejalan dengan RohKu. Aku tidak akan membiarkan ini terus terjadi. Aku akan mempersingkat hari-hari manusia hingga 120 tahun saja.”

Masalah berikutnya timbul dalam Kejadian 6:4. Sementara pernikahan dan proses bertambah banyak terus terjadi, sebuah ras raksasa yang disebut Nefilim muncul. Orang-orang ini merupakan orang-orang dengan fisik yang superior, namun dari ayat ayat berikutnya, kita menemukan bahwa keadaan moral umat manusia dalam kondisi yang bobrok. Saat Tuhan melihat mahluk ciptaanNya, Ia meliahat bahwa kejahatan manusia besar di bumi; segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata (6:5). Waktunya telah tiba untuk berurusan dengan kerusakan yang dibuat manusia atas karya cipta Tuhan.

Di masa lalu, saya terlibat dalam penginjilan di penjara. Seminar-seminar di dalam beberapa penjara merupakan kesenangan yang besar buat saya. Satu hal yang saya takutkan adalah bahwa suatu hari saya diminta duduk bersama tahanan yang sedang dihukum mati karena kesalahan-kesalahan yang dibuatnya. Untungnya, hal ini ta pernah terjadi. Jika menyaksikan kematian sorang tahanan yang bersalah saja menimbulkan kepedihan, pikirkan penderitaan yang dialami seseorang jika melihat seluruh ciptaan Tuhan dihukum mati. Seseorang mungkin bertanya bagaimana bisa Allah yang menciptakan semua mahluk hidup dapat menghancurkan mereka semua. Jawabannya, kawanku, dapat ditemukan dalam besarnya dosa dan kejahatan yang telah dibawa oleh dosa manusia ke dalam karya cipta Tuhan.

Ambillah waktu sejenak untuk merenungkan besarnya dosa dan kejahatan yang diakibatkan oleh jatuhnya Adam dan Hawa, dan kelanjutan dosa dosa keturunan mereka. Seluruh umat manusia telah menjadi jahat, seperti yang dapat kita lihat dalam ayat 5:

Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.

Dari pagi hingga malam, hati manusia dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang jahat. Mereka tidak memikirkan apapun juga kecuali dosa. Dan itu semua tidak berakhir hanya dalam pikiran saja; bumi telah rusak dan penuh dengan kekerasan (ayat 11). Pada saat saya melihat penggunaan kata “jahat,” saya menemukan bahwa kata kerja yang sama sering digunakan dengan arti “menghancurkan” atau “menjadikan tak berguna” (lihat Kejadian 9:11, 15; 13:10; 18:28, 32; 19:13, 14, 29; 38:9). Itulah yang dilakukan dosa manusia pada bumi. Hari ini, kita mungkin berkata, manusia telah “menghancurkan” seluruh bumi. Yang dimaksud disini adalah bahwa Tuhan tidak menghancurkan sesuatu yang indah dan berguna (walaupun Ia pasti dapat melakukannya kalau Ia mau); Ia menghancurkan sesuatu yang tak bernilai dan jahat.

Saya memerlukan waktu beberapa lama untuk menghargai fakta bahwa dosa manusia benar-benar jahat atau menghancurkan bumi. Ayat 11 mengatakan bahwa “bumi” telah menjadi jahat. Dosa manusia mempengaruhi segalanya. Tanah menjadi jahat karena dosa manusia (lihat Imamat 18:25-28). Tak hanya tanah yang menjadi jahat, tapi bahkan juga mahluk-mahluk hidup:

13 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.... 17 Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa” (Kejadian 6:13, 17, penekanan oleh saya).

Dukacita Membawa Kebaikan
Kejadian 6:3, 6-7

3 Berfirmanlah Tuhan: “RohKu tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.” .... 6 maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya. 7 Berfirmanlah Tuhan: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Di dalam teks tersebut dikatakan bahwa Tuhan menyesal Ia telah menciptakan manusia di bumi dan hatiNya menjadi pilu (6:6). Akibatnya, Ia memutuskan untuk meniadakan manusia, beserta dengan semua mahluk yang bernafas (6:7). Apakah ayat ini memberitahukan pada kita bahwa ada kejadian yang tak terduga telah mengejutkan Tuhan? Apakah Musa memberitahukan pada kita bahwa Tuhan menyadari bahwa Ia telah membuat kesalahan besar? Jauh dari itu! Kita lihat, sekali lagi, bahwa Tuhan terlibat secara intim dengan ciptaanNya dan Ia mencintai ciptaanNya sepenuh hati. Tuhan menciptakan segala-galanya, termasuk umat manusia, Ia tahu kalau manusia akan gagal dalam ujian di taman Eden. Melalui kejatuhan manusia dan masuknya dosa ke dalam bumi inilah Tuhan mampu memanifestasikan sifat-sifatNya yang luar biasa:

5 Turunlah Tuhan dalam awan, lalu berdiri disana dekat Musa serta menyerukan nama Tuhan. 6 Berjalanlah Tuhan lewat dari depannya dan berseru: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya, 7 yang meneguhkan kasih setiaNya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat” (Keluaran 34:5-7).

Hanya didalam konteks dosa kasih karunia Allah dapat dilihat sepenuhnya. Bertentangan dengan kejahatan manusia, keadilan Tuhan tampak dengan sangat jelas. Banyak orang yang salah paham dengan mengatakan bahwa jika Tuhan itu Tuhan, maka Ia tidak akan membiarkan ada sesuatu yang terjadi yang dapat membuatNya sedih atau menderita. Kita hanya dapat membayangkan seberapa besar penderitaan yang dialami Tuhan ketika Ia menumpahkan murkanya pada PutraNya di Kalvari, selagi Ia mati sebagai ganti kita, dengan menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung. Namun kita juga mengetahui bahwa ini adalah bagian dari rencana Tuhan yang telah ada sejak dahulu kala.

22 “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. 23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. 24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kisah Para Rasul 2:22-24).

Maksud saya adalah bahwa Allah sengaja melakukan beberapa hal tertentu yang diketahuiNya akan membuatNya sengsara. Fakta bahwa Allah mengalami penderitaan karena Ia menciptakan manusia tidak berarti bahwa Ia tidak mengetahui bahwa umat manusia akan gagal, membuatNya sedih. Semua pasangan suami istri yang memutuskan untuk mempunyai anak-anak harus mengetahui bahwa akan ada saat-saat dimana mereka akan mengalami kesedihan yang besar, dan ini terjadi bukan hanya pada sang wanita pada saat ia melahirkan anaknya. Tuhan menyesal karena manusia telah menjadi sangat jahat, namun penyesalan bukan berarti Tuhan tidak mengetahui hasil dari tindakan penciptaanNya.

Nuh: Orang yang Saleh

Kejadian 5:28-29; 6:9

5:28 Setelah Lamekh hidup seratus delapan puluh dua tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki, 29 dan memberi nama Nuh kepadanya, katanya: “Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh Tuhan.” .... 6:9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

Garis keturunan Kain berubah dari buruk (Kain) menjadi semakin buruk (Lamekh). Garis keturunan Seth mengandung suatu janji. Pada saat Seth hidup orang mulai “memanggil nama Tuhan” (4:26). Henokh, salah satu keturunan Seth, adalah seseorang yang “berjalan bersama Tuhan,” dan dia diangkat ke surga (5:24). Dengan kehlahiran Nuh, terbit suatu harapan; ayahnya mengungkapkan harapan bahwa putranya kelak akan membalik kutukan Tuhan (5:29). Ia dipakai Tuhan sebagai penyelamat, dan dengan demikian, ia memberikan bayangan akan kedatangan Sang Juru Selamat Agung, Tuhan Yesus Kristus. Kita akan membicarakan hal ini nanti. Kita diberitahu bahwa Nuh adalah seorang yang benar, di tengah tengah masyarakat yang jahat, Nuh tampil beda, seorang diri, sebagai hamba Tuhan. Ia “tidak bercela diantara orang-orang sezamannya,” seseorang yang seperti Henokh, yang “berjalan bersama Tuhan” (6:9).

Hal ini bukan berarti bahwa Nuh adalah seseorang yang sempurna, seseorang yang diampuni Tuhan karena ia sama sekali tak berdosa. Nuh adalah pendosa, yang keselamatannya merupakan kasih karunia, dan bukan hasil usahanya sendiri:

Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan (Kejadian 6:8).

Kasih karunia Allah yang menyelamatkan Nuh. Dan dia, seperti hamba Tuhan yang lain--dalam Perjanjian LAma dan Baru-- diselamatkan oleh iman:

5 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. 6 Tetapi tanpa iman, tak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. 7 Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya (Ibrani 11:5-7, penekanan oleh saya).

Berlawanan dengan Adam, yang tidak taat kepada Tuhan, iman Nuh tampak jelas dalam ketaatannya pada perintah-perintah Allah:

Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya (6:22).

Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan Tuhan kepadanya (7:5).

Jika ketidaktaatan Adam terjadi dalam sekejab mata, ketaatan Nuh ditunjukkan dalam tahun tahun ia membangun bahteranya.

Tuhan Memberikan Rencana dan Janji

Kejadian 6:13-22

13 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. 14 Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kau buat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. 15 Beginilah kau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. 16 Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasangkanlah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas. 17 Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. 18 Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjianKu, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan istrimu dan istri anak-anakmu. 19 Dan dari segala yang hidup, dari segala mahluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang kedalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kau bawa. 20 Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. 21 Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.” 22 Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.

Saya teringat pada model mobil Volvo yang lama saat saya membaca instruksi-instruksi pembuatan bahtera ini. Seseorang pernah berkata tentang volvo tersebut, “Bentuknya seperti kotak, tapi mobil ini aman.” Kurasa kalau kita melihat bahtera itu kita mungkin berkata, “Modelnya jelek (dan mungkin kotak juga), tapi bahtera ini aman.” Saya rasa orang sudah bisa membuat perahu pada saat itu, tapi tak ada seorangpun yang dapat membayangkan perlunya membuat kapal sebesar bahtera tersebut. Pikirkanlah: bahtera itu panjangnya 450 kaki, lebarnya 75 kaki, dan tingginya 45 kaki. Di gereja kami, kelas sekolah minggu Ibu Roberts mengukur gedung baru kami dan menemukan bahwa gedung itu kira kira ukurannya sama tapi tingginya tidak setinggi bahtera Nuh. Ini merupakan karya besar, dan dari gambar gamabar yang pernah kulihat, bahtera ini bukanlah sesuatu yang akan dibanggakan oleh Frank Lloyd Wright. Bagaimanapun bahtera ini merupakan suatu kebutuhan.

Seseorang pernah berkata bahwa bahtera ini mirip dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Dari penampilan luarnya, Tuhan kita bukanlah seseorang yang penampilan fisiknya menarik:

2 Sebagai taruk Ia tumbuh dihadapan Tuhan dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang Dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun Dia tidak masuk hitungan (Yesaya 53:2-3).

Dapatkah Anda mebayangkan bagaimana reaksi orang-orang terhadap pembangunan bahtera ini? Pertama, bahtera itu begitu besar. Kedua, bahtera ini begitu buruk rupanya. Ketiga, bahtera itu tampak tak berguna sama sekali. Keempat, bahtera ini menyinggung karena ia menyiratkan sesuatu yang buruk. Ia merupakan tanda lahiriah akan datangnya penghakiman Tuhan atas dunia. Nuh adalah “pengkotbah” yang paling ganjil. Setiap hari yang ia habiskan untuk membangun bahtera merupakan sebuah kotbah, peringatan akan datangnya murka Tuhan ke atas para pendosa. Siapa yang mau diingatkan terus menerus akan dosa-dosanya dan penghakiman Tuhan yang akan segera datang?

Bahtera itu pasti merupakan lokasi kunjungan turis. Orang-orang datang dari tempat yang jauh untuk melihatnya, dan mungkin mentertawakannya. Mereka bahkan mungkin datang untuk mendengarkan “orang gila” Nuh ini memperingatkan semua yang melihatnya bahwa hari penghakiman Tuhan sudah dekat. Jika Nuh hidup di jaman kita, dewan kota akan berusaha untuk mengubah hukum peruntukan lahan supaya bahtera ini bisa dibongkar. Namun lambat laun, orang-orang yang tinggal didekat situ mungkin mulai mengacuhkannya. Lagipula, siapa yang mengira bahwa bahtera ini akan selesai pembuatannya? Siapa yang akan mengira bahwa bahtera ini akan dibutuhkan?

Saya tidak ingin berbicara panjang lebar mengenai bahtera dan penampilannya, tapi saya ingin menyebutkan bahwa bahtera ini merupakan kapal yang fungsinya bukan untuk hiasan, dan bahtera itu tidak mempunyai aksesoris yang mungkin kita inginkan. Contohnya, bahtera itu hanya memiliki satu pintu. Tampaknya bahtera ini tidak memiliki jendela di bagian bawah, dan mungkin ada lubang ventilasi selebar 18 inch di bagian atas (yang merupakan kebutuhan bagi kapal yang penuh berisi binatang). Tampaknya bahtera ini hanya memiliki satu jendela, dan sepengetahuan saya, jendela ini letaknya jauh di atas sehingga Nuh tak dapat melihat keluar melalui jendela ini dan melihat daratan (atau air) dibawah bahtera. Anda pasti ingat kalau Nuh harus melepaskan merpati (dari jendela), untuk mengetahui apakah air telah surut. Ia sendiri tak dapat melihat keluar. Dan pada akhirnya, Tuhanlah yang memberikan perintah untuk meninggalkan bahtera dan keluar (8:15).

Saya rasa semua desain bahtera ini sangat fungsional. Contohnya, Anda tak ingin ada pintu-pintu atau jendela-jendela di sebuah kapal yang diperlukan untuk menangkis hujan lebat atau bertahan melawan pukulan air yang mengamuk. Anda tak ingin banyak tempat yang mungkin akan bocor atau bisa dimasuki guyuran hujan atau ombak. Karena itu seluruh bagian bawah bahtera tidak boleh ada lubang kecuali untuk satu pintu (dan kita nggak benar benar yakin dimana tepatnya pintu ini berada). Ada alasan lain lagi untuk desain bahtera yang demikian itu. Begitu air bah terjadi dan manusia menyadari kalau ternyata Nuh benar, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk naik ke atas bahtera, tapi saya yakin dengan desain yang demikian, hal ini mustahil dilakukan. Yang terakhir, tak ada jendela untuk melihat keluar di atas kapal ini disebabkan karena badai merupakan pemandangan yang menakutkan, dan menyaksikan tetangga-tetangganya yang sedang menjemput ajal di luar akan sangat membuatnya menderita. Saya yakin Tuhan telah mendesain bahtera itu sedemikian sehingga Nuh dan keluarganya tidak akan melihat hancurnya kehidupan di luar bahtera. Saya cenderung berpikir bahwa hal ini juga akan terjadi di masa yang akan datang. Saya meragukan di surga ada jendela untuk melihat ke neraka, sehingga seluruh isi surga dapat melihat penderitaan mereka yang terhilang. Mungkin nerakalah yang ada jendelanya, mengarah ke surga (Lukas 16:23).

Bersama dengan instruksi-instruksinya mengenai rancangan dan pembangunan bahtera, Tuhan memberi sebuah janji kepada Nuh. Perjanjian Nuh akan dibuat resmi kepada Nuh setelah terjadinya air bah, tapi Tuhan ingin meyakinkan Nuh akan hasilnya sebelum serangan hebat air bah terjadi. Seberapa lebih mudahnya bagi kita untuk menjalani pencobaan dan ujian jika kita telah mengetahui hasilnya sebelum semuanya terjadi. Tuhan berjanji pada Nuh bahwa Ia akan membuat perjanjian dengannya dan keluarganya, dan kemudian memerintahkannya untuk mengumpulkan makanan dan memasangkan semua mahluk hidup untukdibawa ke dalam bahtera. Dari binatang yang bersih, Nuh harus membawa tujuh pasang (7:2-3); satu pasang dari setiap binatang yang tidak bersih (6:19-20).

Air Bah

Kejadian 7:1--8:19

Setelah bertahun-tahun dibangun, bahtera itu akhirnya selesai. Tuhan memerintahkan Nuh untuk membawa binatang-binatang masuk ke dalam bahtera, dan Nuh melakukannya (7:1-9). Tujuh hari kemudian air bah terjadi. Tampaknya Nuh membutuhkan waktu seminggu untuk memasukkan semua binatang-binatang ke dalam bahtera. Barangkali Tuhan memberi waktu bagi binatang-binatang itu untuk menyesuaikan diri sebelum trauma air bah tiba.Hari dimana air bah akhirnya datang adalah hari dimana Nuh dan keluarganya memasuki bahtera, dan Tuhan menutup pintunya. Hari keselamatan tiba-tiba tertutup bagi umat manusia di bumi. Selama 40 hari dan malam, langit memuntahkan hujan, dan air juga meluap dari dalam tanah (7:10-23). Jika air bah turun lebih dari 40 hari, ia akan berkuasa di bumi selama 150 hari lagi (7:24).

Lebih dari enam bulan sejak air bah dimulai, Tuhan mengingat mereka yang telah diselamatkanNya dalam bahtera dan memulai proses pengeringan air. Tuhan membuat angin menghembus di muka bumi, membuat air surut selama 150 hari lagi (8:1-3). Bahtera itu kemudian mendarat di atas pegunungan Ararat (8:4). Nuh kemudian melepaskan seekor burung gagak, namun burung itu kembali karena bumi belum mampu memberi kehidupan. Seekor merpati dilepaskan dan ia tidak kembali (8:12). Nuh membuka penutup bahtera dan melihat keluar, tapi tak ada yang meninggalkan bahtera itu selama dua bulan (8:13-14). Akhirnya, Tuhan memberikan perintah untuk meninggalkan bahtera karena sekarang tanah telah kering (8:15-19).

Nuh menghabiskan waktu bertahun tahun membangun bahtera, dan saat ia keluar dari bahtera dan kembali ke bumi, hal pertama yang dilakukannya adalah membangun altar dimana ia mengorbankansatu dari setiap burung dan hewan yang bersih (8:20). Sejauh pengetahuan saya, persembahan korban ini adalah kehendak Nuh sendiri. Kita tidak melihat adanya perintah dari Tuhan agar ia melakukan itu. Tuhan bereaksi dengan kegembiraan karena persembahan itu. Tuhan berjanji bahwa Ia takkan pernah lagi menghancurkan bumi dengan cara demikian, walaupun sifat dosa manusia masih tetap ada. Janji akan musim yang takkan berhenti-henti (8:22) tampaknya menyiratkan bahwa tahun air bah benar benar menyingkirkan semua sifat-sifat normal keempat musim.

Perjanjian Nuh

Kejadian 9:1-17

1 Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. 2 Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. 3 Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. 4 Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan. 5 Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.

6 Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membut manusia itu menurut gambarNya sendiri.

7 Dan kamu, beranak cuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah diatasnya.”

8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjianKu dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala mahluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak, dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjianKu dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.”

12 Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala mahluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun temurun, untuk selama-lamanya: 13 BusurKu Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjianKu yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala mahluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjianKu yang kekal antara Allah dengan segala yang hidup, segala mahluk yang ada di bumi”

17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala mahluk yang ada di bumi.”

Ini adalah perkenalan kita kepada perjanjian-perjanjian alkitabiah karena ini adalah perjanjian yang pertama dalam Alkitab. Perjanjian Abraham akan segera menyusul (Kejadian 12:1-3, dsb). Inilah yang dikenal sebagai perjanjian tak bersyarat. Yaitu, Tuhan berjanji untuk menepati perjanjian ini, tak peduli apapun yang dilakukan manusia. Bahkan kita dapat mengatakan bahwa perjanjian ini dibuat dengan pengetahuan bahwa manusia akan terus berbuat dosa (lihat 8:21). Janji yang sesungguhnya diberikan dalam Kejadian 9:9-17. Janji ini merupakan sebuah perjanjian bukan hanya antara Allah dan Nuh, tapi antara Allah dengan semua mahluk hidup (9:9-10,16). Perjanjian ini adalah “perjanjian kekal,” antara Tuhan dan Nuh, dan setiap generasi setelah dia (9:12). Allah berjanji bahwa Ia takkan lagi menghakimi bumi dengan perantaraan air bah (9:11). Sebagai tanda perjanjian itu, jaminan bahwa Tuhan akan memegang janjiNya, adalah pelangi. Setiap kali turun hujan, manusia dapat melihat ke atas dan melihat pelangi, dan diingatkan bahwa hujan ini takkan menghancurkan mereka (benarlah, hujan itu merupakan alat Tuhan untuk mengairi ladang mereka).

Walau Perjanjian Nuh tidak bersyarat, ada beberapa printah yang diberikan pada Nuh dan keturunannya yang harus ditaati. Nuh dan keluarganya adalah sebuah awal yang baru bagi umat manusia. Untuk menandai awal yang baru ini, Tuhan mengganti beberapa peraturan yang terdahulu. Pada saat penciptaan yang pertama, manusia dan binatang hanya memakan tumbuh-tumbuhan hidup, tapi tidak memakan binatang (1:30); sekarang Tuhan memberitahu Nuh dan keluarganya bahwa mereka boleh makan daging apa saja yang mereka inginkan (9:3). Perubahan dalam peraturan makan inimerupakan salah satu indikator bahwa perjanjian yang baru telah terbentuk. Karena itu, pada saat Hukum Musa diberikan, manusia tak lagi dapat makan segala daging yang mereka inginkan; mereka hanya boleh makan daging binatang yang bersih. Dan pada saat Perjanjian Baru terbentuk, manusia sekali lagi boleh memakan daging apa saja yang mereka inginkan, kecuali daging yang telah dipersembahkan pada berhala (Markus 7:14-19; Kisah Para Rasul 10-11; 15:29; 1 Korintus 8-10).

Ada perintah yang sangat khusus yang diberikan berkenaan dengan darah. Untuk mengendalikan kekerasan yang menandai dunia sebelum air bah, Tuhan tak hanya mengutuk pembunuhan; Ia mengenakan hukuman mati bagi mereka yang bersalah karena pembunuhan (9:6). Mengambil nyawa manusia sama dengan melawan Tuhan, karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (9:6). Nilai nyawa manusia ditentukan dengan akibat jika nyawa itu diambil. Nyawa si pembunuh akan diambil karena dosanya. Perhatikan bahwa sementara hukum ini memperkuat institusi hukuman berat, hukum ini diberikan jauh sebelum Hukum Musa diberikan.

Dalam teks ini, makna yang mendalam diberikan pada darah . Darah dipandang sebagai dasar kehidupan. Dengan menumpahkan darah manusia atau binatang berarti mengambil hidup manusia atau binatang itu. Manusia tidak boleh menumpahkan darah sesamanya manusia, dan tak boleh makan darah binatang yang dimakannya. Disini Tuhan menyertakan makna yang mendalam pada darah, dan waktu yang akan menyingkapkan seberapa pentingnya darah ini. Penumpahan darah dalam kitannya dengan pengorbanan hewan akan menghapuskan dosa, dan penumpahan darah Tuhan kita merupakan pembayaran agung atas dosa (lihat Ibrani pasal 9).

Anak-anak Nuh dan Aib Ayah Mereka

Kejadian 9:18-27

18 Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera ialah Sem, Ham dan Yafet; Ham adalah bapa Kanaan. 19 Yang tiga inilah anak-anak Nuh, dan dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi. 20 Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. 21 Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. 22 Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. 23 Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. 24 Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, 25 berkatalah ia:

“Terkutuklah Kanaan,

hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina

bagi saudara-saudaranya.”

26 Lagi katanya:

“Terpujilah Tuhan, Allah Sem,

tetapi hendaklah Kanaan

menjadi hamba baginya.

27 Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet,

dan hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem,

tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.”

28 Nuh masih hidup tiga ratus lima puluh tahun sesudah air bah. 29 Jadi Nuh mencapai umur sembilan ratus lima puluh tahun, lalu ia mati.

Insiden dalam hidup Nuh ini bukanlah masukan yang kecil bagi umat manusia. Pertama-tama, ini merupakan peringatan akan kenyataan bahwa walaupun Nuh adalah orang saleh, ia bukanlah orang yang sempurna. Namun sulit untuk menentukan tingkat kesalahannya. Apakah manusia telah belajar untuk membuat anggur sebelum saat itu? Saya cenderung untuk berpendapat demikian. Apakah Nuh mabuk secara tak sengaja, atau dia bertanggung jawab atas kemabukannya itu? Kurasa dia ikut andil dalam kesalahan ini. Adam pergi ke taman, makan buah terlarang dan karena itu ia berdosa. Sekarang kita melihat Nuh menanam kebun anggur, makan buahnya, menjadi mabuk, dan berbaring telanjang di kemahnya.

Kalau bukan karena anak bungsunya, Ham, dosa Nuh takkan diketahui umum. dari suara-suara dari dalam tenda orang pasti mengetahui kalau ia mabuk, tapi ketelanjangannya hanya akan diketahui oleh orang yang melanggar privasi kemah Nuh. Dalam keadaan mabuk, reputasi dan kesopanan Nuh berada di tangan anak-anaknya. Ham melihat dosa Nuh sebagai sesuatu yang menakjubkan, dan ia menikmatinya, dan mmberitahukannya pada saudara-saudaranya. Saudara-saudara Ham tampaknya memberikan teladan pada kata-kata dalam Alkitab, “kasih menutupi berbagai-bagai pelanggaran” (Amsal 10:12; 1 Petrus 4:8). Keduan orang ini tidak ingin melihat ketelanjangan ayahnya; mereka bahka tidak mau melihat keadaan Nuh yang memalukan saat menutupinya. Mereka mengambil kain Nuh (“sehelai kain,” 9:23) dan berjalan mundur, menutupkannya ke tubuh ayah mereka sedemikian sehingga mereka tidak pernah melihat kemaluan ayah mereka.

Saya pernah mendengar tafsiran teks ini yang melenceng dari yang sesungguhnya, dan saya rasa sudah merupakan tugas saya untuk memberitahukan pada saudara bahwa tafsiran-tafsiran itu tidak benar. Anda pasti memperhatikan bahwa walau Ham si anak bungsu (9:24) berdosa terhadap ayahnya, anak bungsu Ham lah (10:6), yang dikutuk. Anak bungsu Nuh menikmati aib ayahnya dan memanggil saudara-saudaranya untuk menyaksikannya juga. Sebagai kutukan, anak bungsu Ham, Kanaan, dikutuk. Dari orang inilah asal bangsa Kanaan, bangsa yang sangat tak bermoral yang akan tinggal di tanah Kanaan, dan yang diperintahkan Tuhan pada bangsa Israel untuk dihancurkan. Kita dapat melihat dari asal muasal bangsa ini mengapa bangsa ini begitu tak bermoral dan jahat, dan mengapa bangsa Israel tidak boleh berhubungan ataupun menikahi mereka.

Pelajaran yang Harus Diambil oleh Bangsa Israel

Ada banyak pelajaran yang dapat diambil oleh bangsa Israel dari kisah Nuh dan air bah. Dari sini ada perjanjian pertama yang dibuat Allah dengan umat manusia. Perjanjian ini adalah perjanjian yang benar benar diikat oleh kesetiaan Tuhan dan bukan oleh ketidaksetiaan manusia. Peristiwa ini merupakan sebagian latar belakang dari hukum yang diberikan Tuhan pada Israek di Gunung Sinai. Dasar dari hukuman yang hebat ditemukan disini. Perbedaan antara binatang yang bersih dan tidak bersih telah dilaksanakan pada jaman air bah. Ini merupakan contoh lain dari persembahan korban bagi Tuhan, untuk menyenangkan hatiNya. Perjanjian Nuh adalah dasar dari jaminan bagi Israel bahwa Tuhan tidak akan memusnahkan seluruh ciptaanNya dengan air bah lagi.

Air bah itu sendiri merupakan contoh dari kuasa Tuhan dan kedaulatanNya atas seluruh mahluk hidup sebagai Sang Pencipta. Tuhan mempunyai hak dan kekuatan untuk menghancurkan bumi dan semua yang hidup di atasnya. Tuhan yang telah mengubah kumpulan air yang tak berbentuk menjadi ciptaan yang teratur adalah Allah yang mampu membalik proses tersebut, dan menghancurkan semua kehidupan di bumi dengan perantaraan air bah. Tuhan yang sama adalah Tuhan yang dapat membelah air di Laut Merah (Keluaran 11:14). Tuhan mampu membuat padang gurun di tengah-tengah lautan, dan dapat menimbulkan sungai di padang belantara (Yesaya 43:19-20).

Kisah air bah mengandung makna yang penting bagi bangsa Israel berkaitan dengan penghakiman Tuhan dan belas kasihan yang ditunjukkanNya. Mereka akan melihat bahwa Tuhan adalah Tuhan yang kudus, yang akan bersabar terhadap dosa-dosa manusia selama satu musim, untuk memberi kesempatan pada para pendosa untuk bertobat. Tetapi akan ada hari pembalasan, pada suatu hari. Bangsa Israel harus belajar bahwa walau Allah bersabar, Ia juga akan menghakimi para pendosa. Ini telah berlaku bagi bangsa Kanaan:

12 Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. 13 Firman Tuhan kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orabg asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. 14 Tetapi bangsa yang memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. 15 Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. 16 tetapi keturunan yang keempat akan kembali kesini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.” 17 Ketika matahair telah terbenam, dan hari menjadi gelap,maka kelihatanlag perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat diantara potongan-potongan daging itu. 18 Pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: 19 yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, 20 orang Het, orang Feris, orang Refaim, 21 orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus” (Kejadian 15:12-21).

Bangsa Israel disiapkan untuk memiliki tanah Kanaan. Kini mereka memahami asal muasal orang Kanaan, dan mereka memahami secara lebih mendalam lagi mengapa orang-orang ini harus dihancurkan. Mereka tidak boleh membiarkan orang Kanaan tinggal di tanah itu, dan mereka tak berani menikah dengan orang Kanaan. Bangsa Israel juga harus belajar dari peristiwa air bah bahwa Tuhan melindungi orang yang benar dan menyelamatkannya dari penghakiman. Seperti dalam kasus Nuh dan keluarganya, mungkin hanya sisanya saja yang diselamatkan, namun memegang janjiNya melalui diselamatkannya sisa yang hidup benar. Hal ini selalu Ia lakukan:

27 Dan Yesaya berseru tentang Israel: “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan. 28 Sebab apa yang telah difirmankanNya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.” 29 Dan seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya:

“Seandainya Tuhan semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan,

kita sudah menjadi seperti Sodom

dan sama seperti Gomora” (Roma 9:27-29).

Pelajaran Bagi Manusia Masa Kini

Tak perlu dikatakan lagi bahwa banyak dri pelajaran pelajaran bagi bangsa Israel juga berlaku bagi hamba-hamba Tuhan masa kini. Namun marilah kita melihat kembali teks ini, baik dari sudut waktu kita dan sudut pandang digenapinya rencana keselamatan Tuhan di dalam Yesus Kristus.

Saya yakin bahwa pasal ini mengatakan kepada kita dua hal yang sangat penting dan kontroversial: pengguguran kandungan dan penghukuman utama. Kedua hal ini berasal dari kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah:

“Siapa yang menumpahkan darah manusia,

darahnya akan tertumpah oleh manusia,

sebab Allah membuat manusia itu

menurut gambarNya sendiri” (Kejadian 9:6).

Saya telah banyak mendengar istilah-istilah teknis yang digunakan untuk membicarakan masalah pengguguran kandungan. Satu hal yang sering dipermasalahkan adalah kapan kehidupan dimulai. Saya rasa teks kita membuat masalah ini menjadi sederhana. Tuhan mengatakan bahwa pembunuhan adalah penumpahan darah. Cara manusia menangani darah--bahkan darah binatang yang disembelih--adalah masalah penghormatan terhadap kehidupan dan Firman Tuhan. Menumpahkan darah yang tak berdosa adalah sama dengan melawan Tuhan. Jika hidup ada di dalam darah seperti yang dikatakan oleh teks kita (9:4), maka kehidupan dimulai pada saat adanya darah. Menurut pemahaman saya akan teks ini dan implikasi-implikasinya, semua pengguguran kandungan yang menumpahkan darah anak yang belum dilahirkan tersebut adalah pembunuhan, diluar kondisi-kondisi ekstrim yang harus dikecualikan (seperti pada timbulnya pilihan untuk menyelamatkan nyawa sang anak atau sang ibu).

Perhatikan bagaimana Tuhan kita kemudian menerapkan prinsip ini (kehidupan ada dalam darah) pada penyelamatan manusia:

51 Akulah roti hidup yang turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu adalah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” 52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan dagingNya pada kita untuk dimakan.” 53 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu. 54 Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir jaman. 55 Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. 56 Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal didalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yohanes 6:51-56, penekanan oleh saya).

Kehidupan ada di dalam darah. Hidup kekal da dalam darah Tuhhan kita Yesus Kristus, yang kekal adanya. Memakan dagingNya dan meminum darahNya adalah ungkapan untuk mempercayai kematianNya di atas kayu salib di Kalvari sebagai penebusan bagi dosa-dosa kita.

Berapa kali argumen ini diajukan: “Kamu percaya kalau pengguguran kandungan itu salah, namun kamu tidak setuju dengan penghukuman utama. Bukankah hal ini tidak konsisten?” Tentu saja tidak. Mengambil nyawa anak yang tak berdosa dengan cara digugurkan adalah pembunuhan. Mencabut nyawa seorang pembunuh bukan merupakan suatu pembunuhan. Tindakan itu adalah tindakan ketaatan pada Tuhan. Hal itu merupakan harga yang setara dengan darah tak berdosa yang telah ditumpahkan si pembunuh. Penghukuman utama bukanlah merupakan pilihan saya; itu merupakan perintah Tuhan. Penghukuman ini adalah ukuran dengan mana Tuhan menghargai kehidupan. Dan dalam konteks kisah Kejadian 4-9, penghukuman tersebut merupakan sarana Tuhan untuk mengerem kekekerasan yang dilakukan manusia.

Kisah kemabukan dan ketelanjangan Nuh dan dosa Ham dan hukuman yang dialaminya merupakan kisah untuk mengajar kita, jika kita bersedia mendengar. Kisah ini dengan jelas mengajar kita bagaimana kita harus bersikap dengan dosa orang lain. Kasih harus menutupi banyak sekali dosa, sama seperti kedua anak Nuh menutupi ketelanjangan ayah mereka. Hari ini, kita dikonfrontasikan dengan ketelanjangan dan didorong untuk menikmatinya. Pornografi hanyalah salah satu kekejian yang merupakan bagian dari masalah yang jauh lebih besar. Kita harus berusaha keras menghindari melihat dosa dan ketelanjangan ini. Kita harus berusaha menjadi seperti kedua anak Nuh, dan tidak seperti Ham. Dan kita, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengingat kalau pakaian diberikan pada kita untuk menutupi ketelanjangan kita, bukan untuk menunjukkannya. Apa yang dilakukan Nuh dalam keadaan mabuk, banyak dilakukan orang dengan sengaja. Seberapa sering kita “telanjang dan tidak merasa malu,” padahal keadaan sekarang tidaklah sama seperti keadaan saat Adam dan Hawa belum jatuh ke dalam dosa.

Petrus menggunakan kisah Nuh dan air bah dari Perjanjian Lama untuk membuat sebuah pernyataan penting bagi para hamba Tuhan dalam masa Perjanjian Baru:

1 Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula diantara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. 2 Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. 3 Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan cerita-cerita isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda. 4 Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; 5 dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; 6 dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa masa kemudian, 7 tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja,-- 8 sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa-- 9 maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, 10 terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah.

Tak lama kemudian, dalam suratnya, Petrus memberitahu kita bahwa orang-orang jahat akan mencemooh peringatan Tuhan tentang penghakiman ilahi:

3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari jaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. 4 Kata mereka: “Dimanakah janji tentang kedatanganNya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” 5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, 6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. 7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik (2 Petrus 3:3-7).

Tuhan kita juga memberitahukan pada kita bahwa pada hari-hari terakhir, orang akan menjadi lupa akan datangnya murka Allah:

22 Dan Ia berkata kepada murid-muridNya: “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu daripada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. 23 Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat ia ada disana; lihat, ia ada disini! Jangan kamu pergi kesitu, jangan kamu ikut. 24 Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatanganNya. 25 Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini. 26 Dan sama seperti terjadi pada jaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: 27 mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. 28 Demikian juga yang terjadi pada jaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. 19 Tetapi pada hari Lot keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. 30 Demikianlah halnya kelak pada hari, dimana Anak Manusia menyatakan diriNya. 31 Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. 32 Ingatlah akan istri Lot! (Lukas 17:22-32).

Yesus mengatakan bahwa pada jaman Nuh, orang tak menyadari akan datangnya penghakiman. Ini bukanlah karena mereka tidak diperingatkan. Ada bahtera dan Nuh, yang pekerjaan dan kata-katanya merupakan sebuah kotbah, di depan mata mereka. Di luar semua peringatan tersebut, orang terus melakukan kegiatan sehari-hari mereka seakan-akan tak ada bahaya yang sedang menanti. Sepertinya seakan-akan iblis telah berkata kepada mereka sekali lagi, “Kamu pasti tidak akan mati!” Air bah adalah peringatan keras bahwa janji penghakiman Allah pasti akan datang. Tuhan tahu menyelamatkan orang saleh, tapi Ia juga tahu “menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman.”

Saya sangat menyukai fakta bahwa Petrus menyebut Nuh sebagai seorang “pemberita kebenaran” (2 Petrus 2:5). Saya tak percaya kalau Nuh memiliki sebuah mimbar kotbah, atau bahwa ia pergi ke jalan-jalan di kota dengan membawa papan yang berisi tulisan kutukan di atasnya. Saya yakin Nuh adalah seorang pemberita kebenaran melalui cara hidupnya. Hari demi hari Nuh hidup sesuai dengan Firman Allah. Ia percaya bahwa air bah akan datang, walaupun ia tak pernah melihat ada air bah selama hidupnya. Ia yakin bahwa air bah tersebut merupakan cara Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya dan keluarganya. Gaya hidupnya mendeklarasikan bahwa ia hidup sekarang untuk masa depan, seperti yang telah dinyatakan oleh Tuhan. Berapa banyak orang yang akan merasa bahwa cara hidupnya salah dengan melihat cara hidup kita? Apakah kita hidup seakan-akan semua benda-benda materi yang ada dalam hidup ini akan terbakar oleh api? Apakah kita hidup dengan cara yang dapat memperingatkan para pendosa akan datangnya penghakiman Tuhan? Nuh adalah orang yang harus kita teladani, bukan dengan jalan membangun sebuah bahtera, tapi dengan jalan kita hidup seakan-akan nubuatan Alkitab benar-benar akan terjadi. Akan ada hari dimana penghakiman Allah akan datang ke atas dunia ini. Tuhan akan menyelamatkan kita dari murkaNya, tapi para pendosa pasti akan binasa. Marilah kita hidup seperti semua ini benar adanya.

Pada saat saya mempersiapkan pelajaran ini, saya menyadari bahwa Perjanjian Nuh sangat relevan dengan para hamba Tuhan saat ini. Kita takkan berada disini saat ini jika bukan karena perjanjian ini. Perjanjian Nuh bukan hanya untuk kebaikan Nuh saja, atau bahkan untuk bangsa Israel pada jaman Musa. Perjanjian Nuh adalah jaminan ilahi bahwa Tuhan takkan pernah lagi menghakimi dunia ini secara universal oleh sebab dosa dengan jalan menghancurkan bumi sampai dengan saat kematian Tuhan Yesus Kristus. Sangat jelas sekali dikatakan dalam Kejadian bahwa manusia terus bertahan dalam dosanya setelah air bah. Saat Tuhan berjanji bahwa Ia takkan menghancurkan bumi dengan air bah, Ia tahu bahwa manusia adalah pendosa dari sejak ia lahir. Tapi perjanjian ini menjamin bahwa Ia takkan menghakimi dunia secara universal sampai saat Ia menghakimi dunia ini melalui pribadi Yesus Kristus. Saat Tuhan kita mati di atas kayu salib di Kalvari, Ia menanggung murka Allah atas para pendosa. Berapa kali dunia ini semestinya telah dihancurkan Allah sejak dari jaman Nuh hingga saat Yesus disalibkan, tapi Tuhan menunggu dengan sabar hingga hari dimana PutraNya akan mati di atas kayu salib di Kalvari. Tuhan kita akan kembali, dan kali ini, Ia datang untuk menghakimi dunia, setelah Ia menebus dosa manusia, dan setelah manusia menolak tawaran keselamatan.

Saat saya membaca komentar-komentar mengenai teks kita dalam kitab Kejadian, penulis menekankan fakta bahwa (seperti yang dilihatnya) semua anggota keluarga Nuh adalah orang-orang yang saleh--bahwa mereka adalah sisa-sisa orang saleh yang diselamatkan Tuhan. Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka semua mentaati perintah-perintah Allah. Tapi pada saat saya melihat teks, teks itu tidak mengatakan demikian:

Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang kulihat benar di hadapanKu diantara orang jaman ini (Kejadian 7:1, penekanan dan komentar oleh saya)

Dalam terjemahan New American Bible ditulis demikian:

Kemudian Allah berfirman pada Nuh, “Masuklah ke dalam bahtera, kamu dan seluruh keluargamu; sebab hanya engkau yang kulihat benar dihadapanKu saat ini.

Kata hanya ditulis miring karena penerjemah menulisnya demikian. Mereka melakukannya karena kata “engkau” menunjuk pada satu orang yang tunggal, bukan jamak. Keluarga Nuh tidak diselamatkan karena mereka benar, tapi karena hanya Nuh saja yang benar. Dan jika ada pertanyaan mengenai hal ini, Yehezkiel memperjelasnya dengan amat baik:

12 Kemudian datanglah Firman Tuhan kepadaku: 13 “Hai anak manusia, kalau sesuatu negeri berdosa kepadaKu dengan berubah setia dan Aku mengacungkan tanganKu melawannya dengan memusnahkan persediaan makanannya dan mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, 14 biarpun di tengah-tengahnya ada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, mereka akan menyelamatkan nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan Allah. 15 Atau jikalau Aku membuat binatang buas berkeliaran di negeri itu, yang memunahkan penduduknya, sehingga negeri itu menjadi sunyi sepi, dan tidak seorangpun berani melintasinya karena binatang buas itu, 16 dan biarpun ditengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan; hanya mereka sendiri akan diselamatkan, tetapi negeri itu akan menjadi sunyi sepi. 17 Atau jikalau Aku membawa pedang atas negeri itu dan Aku berfirman: Hai pedang, jelajahilah negeri itu!, dan Aku melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, 18 dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, mereka tidak akan menyelamatkan anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan, tetapi hanya mereka sendiri akan diselamatkan. 19 Atau jikalau Aku mendatangkan sampar atas negeri itu dan Aku mencurahkan amarahKu atasnya sehingga darah mengalir dengan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, 20 dan biarpun Nuh, Daniel dan Ayub berada di tengah-tengahnya, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan, melainkan mereka hanya akan menyelamatkan nyawanya sendiri karena kebenaran mereka (Yehezkiel 14:12-20, penekanan oleh saya).

Inti dari maksud Tuhan dinyatakan dengan sangat jelas. Keluarga Nuh diselamatkan karena kebenaran Nuh, bukan karena kebenaran mereka. Kebenaran dari satu orang ini membuat dia menjadi sisa dari orang yang benar. Keluarganya juga merupakan sisa, namun oleh sebab kebenaran Nuh, bukan karena kebenaran mereka. Pikirkanlah sejenak. Di seluruh dunia jaman itu, hanya ada satu orang yang dapat disebut Allah sebagai orang benar. Dan satu orang itu adalah penyelamat umat manusia. Oleh karena kebenaran Nuh, keluarganya diselamatkan, dan melalui keluarganya, bumi dipenuhi kembali oleh manusia.

Bukankah ini merupakan gambaran Kristus? Sepanjang sejarah manusia, tak pernah ada manusia yang secara total benar, kecuali satu, Tuhan kita Yesus Kristus. Karena kebenaranNya setiap orang dapat diselamatkan. Karena hanya Dia yang benar maka pengorbananNya di atas kayu salib di Kalvari dapat membayar hutang dosa-dosa kita. Ia adalah “Domba Allah yang tak bernoda,” yang menanggung dosa dunia ini. Saat kita melakukan perjamuan kudus, kita menggunakan roti yang tak beragi. Ini merupakan melambangkan fakta bahwa Ia sama sekali tak berdosa. Oleh karena Ia tanpa dosa maka Ia dapat mati untuk menebus dosa-dosa kita. Nuh merupakan prototype Kristus karena Nuh menunjukkan pada kita bahwa manusia dapat diselamatkan oleh satu Orang, yang sungguh-sungguh benar.

Kisah Nuh dalam Kejadian merupakan kisah tentang penghakiman Tuhan, tapi penekanan terletak pada keselamatan yang diberikan Tuhan pada Nuh dan keluarganya. Kita tidak diberi penjelasan mengenai seruan orang-orang yang jahat, saat mereka berseru mohon belas kasihan, atau usaha mereka untuk naik ke atas bahtera. Kita dibawa masuk ke dalam bahtera, dan bukan di luarnya. Namun dengan menekankan pada keselamatan yang dari Tuhan, kita tak berani mengabaikan ataupun mengecilkan penghakimanNya atas dunia ini.

Kami memiliki miniatur bahtera Nuh di rumah kami, dan cucu perempuan kami yang masih kecil, Lindsey Grace, sangat menyukainya. Ia tak dapat bermain dengan bahtera miniatur ini seorang diri, maka ia meminta salah seorang dari kami untuk menurunkannya sehingga ia dapat mengamat amatinya. Ia sangat menyukai bahtera mini ini dan ia dapat menyebutkan nama semua hewan yang kepalanya muncul dari dalam bahtera. Namun saya harus mengatakan pada saudara bahwa kisah Nuh dan bahteranya bukanlah sebuah kisah yang lucu. Kisah ini tidak ditulis sehingga anak-anak kecil dapat melihat beraneka hewan didalamnya seakan-akan mereka sedang berada di kebun binatang. Ini adalah kisah tentang dosa manusia, dan penghakiman ilahi, dan keselamatan beberapa manusia karena satu Orang. Marilah kita selalu mengingat pesan bijaksana dari kisah ini.


Previous PageTable Of Contents