Nyatakanlah padaku— Kisah Ishak dan Rebekah

Tuhan menjanjikan Abraham kalau dia akan menjadi bapa dari bangsa yang besar. Untuk bisa mewujudkan hal itu dia harus memiliki seorang anak, dan kita sudah melihat pergumulan iman yang akhirnya memberikan mereka anak. Kelahirannya merupakan hal yang indah dalam perjalanan mereka dengan Tuhan. Ishak merupakan kegembiraan besar dalam keluarga mereka! Dan dia anak yang baik—taat, melakukan tugasnya, dan tunduk pada orangtuanya. Ketaatan merupakan satu-satunya penjelasan kenapa Abraham bisa mengikat anak muda itu dan membaringkannya di mezbah pengorbanan. Tuhan menggantikan domba jantan atas ketaatan itu; Ishak diselamatkan dan mereka bertiga bisa bersukacita berkumpul lagi sebagai keluarga.

Ada banyak petunjuk yang memperlihatkan kalau mereka merupakan keluarga yang dekat. Mereka saling mengasihi. Ishak menangis selama 3 tahun atas kematian ibunya, menunjukan kasih yang mereka rasakan (Gen. 24:67).

Dengan perginya Ismael, Ishak merupakan satu-satunya anak dikeluarga dan orangtua disekelilingnya. Dia tidak pernah ingin apapun. Abraham telah menjadi sangat kaya saat itu, dan tulisan mencatat kalau dia memberikannya pada Ishak (Gen. 24:35, 36). Mungkin itu menunjukan kasih dan terlalu memanjakan dalam hubungan mereka.

Diragukan kalau Abraham dan Sarah menyadari kalau mereka bisa mempengaruhi pribadi Ishak dan membuatnya memiliki pernikahan materialis karena cara mereka membesarkannya. Kenyataannya, mereka tidak pernah berpikir tentang penikahan. Mereka menikmatinya sehingga lupa kalau dia memerlukan seorang istri jika mereka ingin menjadi bapa dan ibu dari bangsa besar. Tapi setelah Sarah meninggal, Abraham menyadari kalau dia harus berinisiatif dan merencanakan pasangan bagi anaknya. Ini bukanlah cara anak kita mendapatkan pasangan mereka, tapi pada masa dan budaya masa itu, merupakan cerita cinta yang indah.

Bagi Isaac dan Rebekah, itu merupakan awal yang baik. Abraham sudah tua saat cerita ini dimulai. Dia memanggil pelayan tertuannya, pengurus seluruh rumah tangganya, dan berkata, “engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku” (Gen. 24:3, 4). Orang Kanaan merupakan ras yang kejam, dikutuk oleh Tuhan dan akan dihancurkan. Tuhan tidak senang Ishak menikahi mereka. Walau keluarga Abraham di utara Mesopotamia juga memuja berhala, setidaknya mereka adalah orang yang bermoral dan tahu tentang Tuhan dan menghormatiNya. Dan mereka keturunan Sem yang diberkati Tuhan.

Inilah satu-satunya tempat yang masuk akal untuk menemukan istri bagi Ishak. Walau kita tidak memilihkan pasangan bagi mereka, kita harus mengajar mereka sejak awal hidup tentang pentingnya menikah dengan orang percaya (cf. 1 Cor. 7:39; 2 Cor. 6:14). Itu akan menolong mereka menemukan pilihan Tuhan jika saatnya sudah tiba untuk membuat keputusan penting itu.

Jadi pelayan tua itu memulai perjalanan ke Haran, dimana saudara Abraham tetap tinggal setelah Abraham pindah keKanaan 60 tahun lalu. Abraham meyakinkan pelayannya bahwa malaikat Tuhan akan pergi bersamanya. Dengan bimbingan ilahi, dia berhenti didekat sumur dikota Nahor, yang dinamakan dengan nama saudara Abraham. Dan dia berdoa agar Tuhan membawa gadis yang tepat dan kemudian memberikan air bagi untanya. Itu merupakan permintaan yang spesifik untuk menentukan pasangan bagi Ishak. Dan itu merupakan pelajaran bagi kita. Cara terbaik bagi anak kita untuk menemukan pasangan pilihan Tuhan adalah dengan mendoakannya. Mereka bisa mulai dari kecil untuk mendoakan tentang seseorang yang Tuhan persiapkan bagi mereka. Berdoa sejak tahun-tahun itu akan menolong mereka menjaga pikiran mereka tentang satu hal yang terpenting dalam pilihan mereka—kehendak Tuhan.

Sebelum pelayan mengatakan “Amen,” Tuhan sudah menjawab hal itu. Rebekah, merupakan cucu saudara Abraham, keluar dengan buyung dipundaknya. Alkitab berkata dia sangat cantik, dan seorang gadis. Saat dia keluar dari sumur dengan buyung yang terisi air, pelayan itu berlari menemuinya, dan berkata, “Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu.” Jawabnya: Minumlah, tuan, maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.” Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu. (Gen. 24:15-20).

Dia seorang gadis yang baik—cantik, bersemangat, ramah, mudah bergaul, tidak egois, dan enerjik. Dan saat pelayan itu tahu bahwa dia cucu saudara Abraham, dia sujut menyembah dan memuji Tuhan: “Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak menarik kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan TUHAN telah menuntun aku di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!” (Gen. 24:27).

Menjadi jelas bahwa dalam kisah ini Tuhanlah yang menentukan pasangan dalam pernikahan. Saat pelayan menyatakan kalau adanya hubungan keluarga Rebeka dengan tuannya merupakan petunjuk dari Tuhan, saudara laki-laki dan bapaknya setuju. “Semuanya ini datangnya dari TUHAN,” kata mereka (Gen. 24:50). Apapun masalah pernikahan yang dihadapi, itu bisa diselesaikan jika suami dan istri yakin kalau Tuhan telah menyatukan mereka. Kesulitan bisa diatasi dengan itu, dan harus jika Tuhan yang dipermuliakan. Tapi kalau mereka tahu pernikahan mereka diluar kehendak Tuhan maka mereka kurang semangat dalam mengusahakan hubungan mereka melalui semangat pengorbanan diri.

Rebekah menghadapi keputusan besar dalam hidupnya—meninggalkan rumah dan keluarga yang mungkin tidak bisa dia temui lagi, melakukan perjalanan hampir 500 mil dengan unta bersama orang yang asing, dan menikah dengan pria yang belum pernah dia temui. Keluarganya memanggilnya dan berkata, Maukah engkau pergi beserta orang ini? Jawabnya: Mau.(Gen. 24:58). Itu merupakan keyakinannya akan kedaulatan arahan Tuhan sehingga dia memutuskan demikian, dan juga menunjukan keberanian dan kepercayaannya.

Jelas waktu-waktu dalam perjalanan dipenuhi dengan perbincangan tentang Ishak. Pelayan tua menggambarkannya dengan jujur dan sepenuhnya. Ishak merupakan seorang yang, rendah hati, lembut, dan cinta damai. Dia akan menempuh cara apapun untuk menghindari pertikaian (cf. Gen. 26:18-25). Dia juga seorang yang pemikir, tapi pendiam dan hati-hati. Dia bukan orang yang sehebat bapaknya, tapi seorang yang baik, dan setia beriman dalam Tuhan dan peka akan misi ilahi. Dia tahu kalau melalui keturunannya Tuhan akan mendatangkan berkat keseluruh dunia (Gen. 26:3-5). Dia berbeda dari Rebeka yang bersinar, periang Rebekah—jauh berbeda. Tapi para ahli mengatakan bahwa hal yang berlawanan saling tertarik. Dan Rebekah bisa merasakan hatinya tertarik pada orang yang segera ditemui dan dinikahinya.

Ishak sedang dipadang merenung dipadang disiang hari saat arakan unta mendekat membawa muatan berharga. Rebekah keluar dari unta saat dia melihat Ishak, dan menutupi dirinya dengan cara seperti budaya disana. Setelah dia mendengar semua detil perjalanan dan bimbingan ilahi sehingga menemukan pasangannya, kita membaca, “Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal” (Gen. 24:67). Itu merupakan permulaan yang penuh kasih.

Tapi diperjalanan, pernikahan ini menjadi tawar. Lihatlah, penurunan tragis dalam hubungan mereka. Kita tidak sepenuhnya jelas apa masalahnya. Itu jelas bukan kekurangan kasih, karena Ishak benar-benar mengasihi Rebekah, dan tidak seperti sebagian suami, dia menyatakannya secara terbuka. Sekitar 40 tahun setelah mereka menikah, dia dengan penuh kasih mencumbunya didepan umum (Gen. 26:8). Itu membuat kita berpikir kalau mereka memiliki hubungan fisik yang baik. Dan itu sangat penting dalam pernikahan. Tapi seorang suami dan istri tidak bisa menghabiskan semua waktu mereka ditempat tidur. Mereka harus membangun hubungan jiwa dan roh yang dalam. Mereka harus dengan jujur berbagi apa yang ada didalam mereka, apa yang mereka pikir dan rasakan. Dan ada banyak bukti kalau Ishak dan Rebekah melakukan itu.

Satu masalah adalah tidak adanya anak. Ishak mungkin marah karena itu dan tidak mengakuinya. Mendapat anak merupakan hal penting dimasa itu dari pada sekarang, dan mereka mencobanya selama 20 tahun dan tidak berhasil. Kepahitan bisa muncul dalam diri seseorang selama itu. Tapi Ishak akhirnya pergi ketempat yang benar terhadap masalahnya. “Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung” (Gen. 25:21).

Mendapat anak tidak menyelesaikan masalah. Kembar yang akan dilahirkan hanya memperjelas masalah yang sudah nyata dalam hubungan mereka. Itu sepertinya masalah komunikasi. Rebekah dengan kepribadiannya yang bersemangat dan senang bicara. Ishak dengan kepribadian yang pendiam dan penyendiri. Dia sangat sulit diajak bicara. Mereka semakin sedikit berbagi selama waktu-waktu itu. Dan kepahitan Rebekah bertambah karena kurangnya ditemani dan kebersamaan yang dirindukan setiap wanita. Perkataannya mungkin jadi sengit. Wajahnya sudah ada garis benci dan memandang rendah. Dan pandangannya yang penuh marah semakin membuat Ishak menjauh darinya ke ketersendirian yang disukainya. Dia mungkin sudah menulikan semua yang bernada suara Rebekah. Para ahli modern mengatakan kalau hal itu mungkin.

Saat Rebekah mengandung, dia mendapat kehamilan yang sukar. Ishak sedikit menolongnya, jadi dia berteriak pada Tuhan minta jawaban, dan Tuhan menjawab: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda” (Gen. 25:23). Tidak ada petunjuk dalam Alkitab kalau dia pernah berbagi hal ini dengan suaminya, bahwa Yakub yang muda akan menerima berkat sebagai yang pertama. Penyebutan Rebekah diluar Kejadian, menunjukan janji itu hanya dia yang tahu. “dikatakan kepada Ribka: Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda’” (Rom. 9:12). Kenapa dia tidak mengatakan hal luar biasa dari Tuhan ini? Kenapa sangat sulit baginya mengatakan apapun ke Ishak?

Konselor pernikahan memperkirakan sekitar setengah dari kasus yang mereka tangani adalah tentang diamnya suami. Dalam kasus tertentu, seperti Ishak, yaitu sangat sulitnya suami untuk bicara. Mungkin dia tidak memikirkannya secara mendalam dan tidak punya banyak hal untuk dibicarakan. Mungkin dia selalu diam dan tidak tahu bagaimana berkomunikasi. Disisi lain, pria yang biasa berkomunikasi dengan istrinya mengabaikan hal itu karena dia disibukan dengan hal lain dan tidak sadar betapa pentingnya percakapan bagi istrinya. Jika istri mengeluh padanya, dia membangun tembok perlindungan yaitu diam dan menjauh.

Tapi apapun alasan dia diam, Ishak harus berusaha berkomunikasi. Istrinya butuh komunikasi dan ditemani. Tuhan menciptakannya seperti itu. Dan Tuhan bisa menolong seorang suami berkembang dalam hal ini jika dia mau menjadi pendengar yang baik. Istrinya butuh dia untuk mendengarkan dengan sungguh, tidak satu telinga ditelevisi dan satu lagi keistri, tapi keduanya mengarah memperhatikan istrinya. Ini mungkin yang sebenarnya diminta istri. Para pria, biasakanlah mendengar!

Ada beberapa kasus dimana masalahnya terbalik. Suami suka bicara dan istri sulit berkomunikasi. Apapun situasi dalam rumah tangga anda, anda bisa mempermudah pasangan anda bicara dengan mengingat beberapa prinsip sederhana. Satu, jangan mendesak; biarlah pasangan anda memilih waktu terbaik untuk bicara dengan bebas. Terima dia tanpa menghukum saat dia menyatakan perasaan dan frustrasinya. Saat anda tidak setuju, lakukan dengan baik dan hormat, jangan dengan kasar dan menghakimi. Coba mengerti orang lain daripada hanya ingin dimengerti. Jangan langsung menyimpulkan, tapi dengan sabar mendengarkannya. Dan, jangan mengomel! Mengomel merupakan salah satu penghancur komunikasi nomor satu.

Kenyataannya, tidak ada yang mengatakan Ishak dan Ribka tentang hal ini. Hubungan mereka berlanjut dari jelek ke buruk. Saat kembar dilahirkan, kepribadian mereka sangat berbeda. Alkitab berkata, “Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah.” (Gen. 25:27). Seperti yang sering terjadi saat suami dan istri memiliki hubungan yang buruk, Ishak dan Ribka menjadikan anak sebagai pengganti hubungan untuk mengisi kekosongan jiwa mereka. “Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub” (Gen. 25:28).

Ishak melihat Esau sebagai orang yang biasa diluar dimana dia tidak seperti itu, dan dia belajar menyukai kegiatan Esau seperti dia menyukai masakannya. Ribkah, sebaliknya suka Yakub. Dia tinggal dirumah. Dia mungkin bicara dengan ibunya, dan menolong kegiatan sehari-hari ibunya. Dan ibunya menemukan rasa ditemani yang tidak pernah dinikmati dengan suaminya. Itu suatu pengaturan yang menyedihkan, dan mendatangkan akibat serius yang tidak langsung dalam hidup anak-anak.

Psikolog sekarang ini memperingatkan kita 2 masalah yang sama dengan keluarga masa lalu. Mereka berkata bahwa ibu yang dominant dan ayah yang pasif memiliki kecenderungan menghasilkan anak yang bermasalah, dan favoritism dalam keluarga cenderung memberikan dampak serius pada anak. Walau seorang anak dimanja oleh satu pihak orangtua, dia dikritik dan ditolak oleh pihak lain. Hal itu tidak baik, dan membangun harga diri yang rendah dan perasaan pertentangan yang membingungkan dan membebaninya dengan rasa bersalah. Dia bertumbuh dengan rasa tidak hormat pada orangtua yang memanjakan dia dan membeci orangtua yang menolak dia. Akhirnya dia menolak keduanya dan mulai mengambil apa yang dia ingin dari kehidupan tanpa peduli siapa yang disakiti selama proses itu.

Itulah yang terjadi dalam keluarga Ishak dan Rebekah. Yakub menunjukan sikap mementingkan diri dengan mencuri hak kesulungan saudaranya (Gen. 25:29-34). Esau menunjukan perasaan muak terhadap orangtuanya dengan menikahi 2 wanita yang tidak disukai orangtuanya (Gen. 26:34, 35). Dan Ishak yang cinta damai membiarkan itu terjadi.

Penurunan tragis dari hubungan ini akhirnya, berakhir saling mengkhianati. “”Saling mengkhianati” merupakan kata terbaik untuk menggambarkan peristiwa dalam Genesis 27. Rebekah, menguping pembicaraan, mendengar perkataan Ishak pada Esau untuk membuatkannya makanan dari hasil buruan sehingga dia bisa mendapat kekuatan memberkatinya sebelum mati. Sebenarnya Ishak hidup lama setelah itu, tapi dia menjadi menarik diri, dan menderita hypochondria.

Penting untuk dimengerti bahwa dia tetap tidak tahu kalau Yakub yang seharusnya menerima berkat hak kesulungan dan menjadi pemimpin rohani keluarga. Alkitab berkata, “Karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau.” (Heb. 11:20). Isaac pikir dia memberkati Esau bukan Yakub. Roh Tuhan tidak akan berkata “karena iman” jika Ishak memberikan berkat dengan sadar akan ketidaktaatannya mengetahui kehendak Allah. Ishak tetap tidak tahu!

Ini merupakan waktu yang baik bagi Ribkah berdoa minta hikmat Tuhan, dan pergi kedalam serta bicara dengan Ishak janji Tuhan yang dibuat kepadanya sebelum kembar ini lahir. Jika ada waktu yang tepat, maka sekarang waktunya. Jika dia memberitahu Ishak dengan baik atas dasar Firman Tuhan padanya, Ribkah pasti sudah mengamankan berkat Tuhan baginya. Tapi daripada berdoa dan bicara, dia memilih pengkhianatan dan penipuan.

Merahasiakan pemikiran dan perasaan yang benar merupakan bentuk penipuan, dan penipuan menjadi jalan hidup Ribkah dan Ishak. Sekarang waktunya meledak. Penting bagi kita memperhatikan hal ini, karena hal ini bisa terjadi jika kurangnya komunikasi terjadi.

Rencana jahat Ribkah adalah meniru Esau sehingga Ishak yang sudah buta karena tua bisa dibohongi dan memberkati Yakub. Yakub tidak suka rencana ini karena Esau berbulu dan dia tidak. Sehingga saat ayahnya meletakan tangan dan merasakan itu tidak berbulu, penipuannya akan terbongkar, dan membawa kutuk daripada berkat. Tapi Ribkah menanggung kutuk itu atas dirinya dan mendorong Ishak untuk meneruskannya. Dia terdengar mengorbankan diri, tapi itu suatu dosa dan menjijikan.

Kepercayaan itu penting disetiap hubungan yang baik, dan kepercayaan tidak bisa berkembang dalam keluarga yang tidak jujur dan penipu seperti keluarga ini. Para suami dan istri yang dengan maksud menyembunyikan sesuatu dari yang lain, yang menyembunyikan kebenaran dari pasangannya, atau hal lainnya, tidak pernah bisa menikmati kepenuhan kasih Tuhan dalam hubungan mereka. Kasih hanya bisa bertumbuh dalam lingkungan yang jujur. Petrus menasihati kita untuk membuang penipuan dan kemunafikan (1 Pet. 2:1). Paulus menyuruh kita untuk bicara benar dalam kasih (Eph. 4:15).

Ribkah dan Yakub sudah lupa apa itu kebenaran. Dengan pertolongan kulit kambing, kedua penipu ini menjalankan rencana mereka. Ishak gemetar saat dia menemukan kalau dia sudah menjadi korban penipuan istri dan anaknya, tapi berkatnya tidak bisa ditarik kembali. Dia telah memberkati Yakub, “dan dia akan tetap orang yang diberkati” tegasnya (Gen. 27.33). Ishak sadar kalau Tuhan bisa membatalkan keinginan aslinya walau itu dilakukan dengan tidakan licik. Keinginannya menerima hal itu dari Tuhan merupakan pernyataan iman atas kedaulatan Tuhan yang mengatur keadaannya sehingga membawa dia ditulis dalam daftar orang beriman (Heb. 11:20).

Esau tidak punya iman sebesar itu. Dia bersumpah ingin membunuh adiknya. Tapi seperti yang kita tebak, Ribka punya ide cemerlang. Saat dia mendengar itu, dia memanggil Yakub dan berkata, “Esau, kakakmu, bermaksud membalas dendam membunuh engkau. Jadi sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku, bersiaplah engkau dan larilah kepada Laban, saudaraku, ke Haran, dan tinggallah padanya beberapa waktu lamanya, sampai kegeraman dan kemarahan kakakmu itu surut dari padamu, dan ia lupa apa yang telah engkau perbuat kepadanya; kemudian aku akan menyuruh orang menjemput engkau dari situ. Mengapa aku akan kehilangan kamu berdua pada satu hari juga?” (Gen. 27:42-45).

Ribka tidak mengajak Ishak untuk bersama-sama menyetujui rencana itu tapi kembali menipunya. Itu suatu tindakan yang ahli. Anda bisa merasakan drama menarik saat Ribka berkata, “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?” (Gen. 27:46). Jadi Ishak dengan patuh memanggil Yakub dan menyuruhnya keHaran untuk mencari istri. Satu penipuan membawa kepenipuan lain, sampai hidup penipu itu menjadi jaring keputusasaan.

Kasihan Ribkah. Dia pikir sudah melakukan hal yang baik, tapi Tuhan tidak pernah minta kita berbuat dosa untuk mencapai kehendakNya. Melalui penipuannya, Ribkah lebih menjauhkan suaminya; dia memarahi dan sepenuhnya menjauhkan hubungannya dengan anaknya yang pertama; dan walaupun dia pikir anaknya tercinta Yakub hanya akan pergi beberapa hari, tapi dia tidak pernah melihatnya lagi, saat Yakub pulang 20 tahun kemudian, Ishak tetap hidup, tapi Ribkah sudah dibaringkan disamping Abraham dan Sarah digua Makpelah.

Beberapa detil mungkin beragam, tapi pola umum sudah berulang terjadi didalam keluarga sejak itu. Mungkin hal itu terjadi kembali dalam keluarga anda. Komunikasi suatu hal penting. Anda hidup diatap yang sama, tapi anda hidup dalam dunia anda sendiri. Tidak penting siapa yang lebih salah, suami atau istri. Berhenti saling menjauhi; berbalik dan berkata, “aku butuh kamu. Aku butuh berbicara dengan kamu. Aku perlu mengetahui pikiranmu dan perasaanmu. Tolong berbagi dengan saya. Aku memerlukan pendengar dan pengertian.” Kemudian mulai membicarakannya dengan terbuka dan jujur. Raih kedalam diri anda dan bagikan apa yang menyakitkan anda, ketakutan, pergumulan frustrasi, kebutuhan anda, juga tujuan dan pemikiran anda. Kemudian saling mendengar dengan sabar, pengertian, dan saling memaafkan, dan saling menguatkan dalam kasih. Sukacita baru akan terbuka bagi anda saat anda bertumbuh bersama.

Mari kita bicarakan

    1. Apakah ada hal yang seperti kisah ini dengan anak anda sehingga menimbulkan akibat tidak menyenangkan seperti dalam penikahan Ishak? Apa yang bisa anda lakukan?

    2. Dengan cara apa anda bisa mengajar anak anda tentang pentingnya menikahi orang percaya dan mencari kehendak Tuhan dalam memilih?

    3. Kenapa anda pikir Ribkah tidak mengatakan janji Tuhan tentang anak mereka?

    4. Kenapa suami dan istri saat ini sering menyimpan sesuatu dari pasangannya? Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hal ini?

    5. Apakah anda merasa bisa dengan terbuka membagikan perasaan terdalam anda dengan pasangan anda? Jika tidak, mengapa? Bicarakan alasan ini dengan pasangan anda.

    6. Apakah pasangan anda membagikan hal yang penting dengan anda? Apakah anda betul-betul mendengar? Bagaimana anda bisa memperbaiki kekurangan dalam hal ini?

    7. Hal spesifik apa yang bisa mendorong anda berkomunikasi lebih inti dengan pasangan anda?

    8. Apakah anda peka terhadap kebutuhan pasangan anda atau melakukan sesuatu yang anda pikir terbaik untuknya? Bagaimana anda menghindari keinginan egois untuk mendapatkan keinginan anda daripada memenuhi kebutuhan pasangan anda?

    9. Bagaimana orang-orang kadang menggunakan hubungan mereka dengan anak mereka sebagai pengganti hubungan mereka dengan pasanganya? Apa alasan yang mendasari hal ini dan bagaimana ini bisa dibetulkan?

Taxonomy upgrade extras: 
Passage: 
Ad Category: