Balok dan Selumbar

Kritik merupakan bagian dari hidup kita, suatu bagian dari masyarakat kita. Kita punya kritik musik, kritik seni dan kritik drama. Kita memiliki kritik pemerintahan, kritik bisnis, kritik pekerja. Saat presiden baru Amerika Serikat diangkat, bisa dimengerti dia mendapat bulan madu yang singkat, tapi kemudian kritik mulai menghantam mereka dan pola alami mulai berlangsung. Kita kelihatannya terobsesi dengan kelemahan dan kesalahan orang lain dan kita yakin kalau itu hal yang benar. Kita percaya kritik kita akan mendorong orang lain mengusahakan lebih baik lagi. Itu cara yang demokratis.

Sayangnya, kita membawa mentalitas yang sama kedalam keluarga. Kita mencoba mengubah pasangan kita dan membentuk anak kita melalui kritik. Kita sebagai orang Kristen juga membawa cara hidup yang sama kedalam gereja. Kita menegur orang Kristen yang tidak sesuai dengan harapan kita, dan kita menemukan kesalahan pemimpin kita karena tidak melakukan hal sesuai dengan cara kita. Dan kita terus berkata kalau itu hal yang benar. Itu akan membuat mereka lebih baik. Itu cara yang demokratis.

Tapi dalam pengalaman sebagai orang Kristen kita berbenturan dengan perkataan Tuhan kita Yesus Kristus di dalam kothbah dibukit tentang kritik (Matthew 7:1-5), dan kita dihadapkan dengan keputusan. Apakah kita akan meneruskan melakukannya, atau kita berubah untuk sesuai dengan kehendakNya?

Itu bisa menolong kita memutuskan jika kita mengerti apa yang sebenarnya Kristus katakan. Lihat perintah itu sendiri, peringatan yang Dia berikan dan hukuman yang diberikan jika kita tidak taat.

Perintah

Itu hanya perkataan yang singkat—“Jangan menghakimi.” Apa artinya? Kata hakim memiliki arti membedakan atau memilih. Seorang hakim mengamati bukti, menilai, kemudian memilih kesimpulan tertentu. Itu bisa positif. Itu juga bisa berarti persetujuan, pembebasan. Dan bahkan penghukuman negative juga diperlukan pada saatnya. Dalam bagian ini, Yesus menunjukan bahwa orang itu yang hidupnya murni bisa mengambil selumbar dari mata saudaranya (Matthew 7:5). Itu merupakan bentuk penghakiman yang akan kita hadapi dalma bab berikut—menolong saudara siman mengatasi kesalahannya.

Dalam ayat berikutnya (v. 6) Yesus berkata, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Kristus menggunakan anjing dan babi untuk menggambarkan orang najis yang memperlakukan hal rohani dengan hina. Untuk taat pada ayat itu, kita jelas harus membuat penghakiman. Kita harus memutuskan siapa anjing dan babi itu. Kemudian Yesus berkata, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil” (John 7:24). Itu merupakan perintah untuk menghakimi dengan adil dan atas dasar kebenaran dan fakta daripada tampak luar, yaitu dalam hal menghakimi. Apakah Yesus berlawanan dengan dirinya? Jelas tidak. Apa maksudNya yang sebenarnya?

Kebanyakan penafsir Alkitab harus setujua bahwa Dia sedang memperingatkan kita tentang semangat mencari-cari kesalahan, prilaku negative yang menyebabkan kita menyalahkan orang lain karena hal yang kita tidak suka dalam mereka, menuduh mereka, menyalahkan mereka dan mengeluhkan mereka karena mereka tidak memenuhi harapan kita. Hal ini menunjukan dua kesalahan: Pertama, kita cenderung untuk menekankan kesalahan orang lain daripadan kekuatannya. Kedua, kita cenderung menekankan kesalahan orang lain daripada diri kita. Satu kata yang merangkum semua itu adalah kritik. Kenapa Yesus menyuruh kita untuk tidak menekankan kesalahan orang lain? Apakah dia melihat kita semua cenderung untuk melakukan hal itu?

Yesus Kristus adalah Allah yang Maha Tahu dalam daging. Dia mengetahui hati kita, dan jelas Dia tahu kalau kita membutuhkan peringatan ini dalam tingkatan tertentu. Ini merupakan salah satu dosa umum diantara orang Kristen, olahraga dalam ruangan (atau luar ruangan) yang kita senangi. Saya ingat pernah membaca suatu kisah tentang Ozark duduk ditoko melolong, seperti yang sering dilakukannya. Orang asing masuk dan bertanya pada petugas toko, “Apa yang terjadi dengan anjing itu?” “Dia sedang duduk diatas sebuah cocklebur,” jawabnya. “Kenapa dia tidak melepaskan diri?” “Karena dia lebih suka berteriak.” Saya takut ada orang Kristen seperti itu. Mereka senang berteriak satu sama lain tentang hal yang tidak mereka sukai. Kenapa kita melakukan itu?

Alasan yang paling umum adalah keegoisan. Apa yang orang lain lakukan sering tidak membuat kita nyaman, menghabiskan uang dan waktu, melakukan sesuatu berlawanan dengan keinginan kita atau tidak setuju dengan kita yang sangat menghargai waktu. Kita ingin semua lancar, menyenangkan dan sesuai bagi kita, jadi kita menemukan kesalahan mereka yang berbuat selain dari itu. Sebagai contoh, saya memiliki rencana untuk sora hari, tapi saat saya pulang kerja istri saya belum membuat makan malam. Saya mengkritik dia untuk pengaturan waktu yang tidak baik karena dengan keterlambatan ini menunda apa yang sudah saya rencanakan. Kita mungkin mengkritik teman sekamar karena kamar mandi yang kotor, karena kita harus membersihkannya. Kita mungkin mengkritik pastor karena dia tidak mengatur kothbahnya seperti yang kita inginkan, dan karena itu kita harus bekerja lebih keras untuk mengertinya.

Salah satu alasan lagi untuk kritik adalah itu bisa berasal dari rendah diri kita, yang muncul dalam bentuk kesombongan. Menyerang orang lain untuk memuji diri kita; itu memberi kita rasa lebih baik. Jika kita bisa menunjukan pada yang lain kegagalan mereka, itu membuat kita merasa lebih pintar dari mereka dalam hal itu. Saat kita mengkritik pasangan kita, kita sebenarnya berkata, “Aku tidak seburuk yang kamu pikir, Aku mungkin lebih baik dari kamu.”

Dalam penyelidikannya tentang arti kasih, Dr. Ed Wheat menulis, “Ingat, anda tidak akan pernah bisa meningkatkan atau menyalakan kembali emosi kasih melalui menimbun rasa kegagalan atas diri pasangan anda. Saya tidak melebih-lebihkan hal ini. Jangan pernah meletakan rasa bersalah atas pasangan anda..”1 Dan sekali lagi, “… mengerti kesalahan dan jangan pernah mengkritik.”2 Itu nasihat yang baik. Itulah makna perkataan Yesus—“Jangan menghakimi.”

Pernakah anda bertanya kenapa kritik merupakan kebiasaan bodoh? Disatu sisi, pengenalan kita terhadap orang lain hanya sebagian. Kita tidak tahu semua fakta. Kita mungkin tidak tahu kenapa mereka mengatakan atau melakukan hal yang kita kritik. Kita tidak tahu tekanan apa yang mereka hadapi, pengaruh yang membentuk mereka, kekuatan cobaan yang ditempatkan dijalan mereka, motivasi yang menyebabkan tindakan mereka. Hanya Tuhan yang mengetahui semua fakta dan bisa menilai dengan akurat, jadi Dialah satu-satunya yang berhak untuk mengkritik. Saat kita melakukan itu, kita berperan sebagai Tuhan.

Disisi yang lain, penghakiman kita bisa salah. Bahkan sekalipun kita mengetahui semua fakta, kita bisa menafsirkannya secara salah. Kita sebagai manusia bisa salah. Anggota juri, bisa mendengar fakta yang sama disidang, tapi bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Hanya Tuhan yang bisa melihat semua fakta dengan benar. Jadi Dialah satu-satunya yang memiliki hak untuk mengkritik. Saat kita melakukannya, kita berperan sebagai Tuhan.

Alasan ketiga kritik merupakan kebodohan adalah kita tidak bertanggung jawab atas apa yang orang lain lakukan. Kita bukan tuan mereka. Paulus menulis “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri” (Romans 14:4). Kita hanya bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!” (Romans 14:12,13). Saat kita melakukannya kita berperan sebagai Tuhan.

Alasan keempat kritik merupakan kebodohan adalah itu menghancurkan daripada membangun. Saat itu diarahkan kekita, itu tidak membuat kita berubah lebih baik, tapi memberi dampak berlawanan. Itu menyebabkan kita mempertahankan diri, membenarkan tindakan kita, mencoba membuktikan bahwa kita tidak seburuk tuduhan itu. Itu mensabotase pertumbuhan rohani kita. Kritik membawa keputusasaan dan mengasihani diri. Kita merasa bersalah karena kita pikir kita tidak akan bisa memuaskan kritik kita dan karena kita harus menderita tuduhan tidak adil dari dia. Kita jarang bertumbuh saat kita sedang merajuk. Kritik juga menghancurkan hubungan. Itu memisahkan dan membangun tembok diantara mereka. Saya merasa kritik itu tidak menyenangkan, jadi kecenderungan kita adalah menghindari orang yang melakukannya. Beberapa suami dan istri saling menjauhkan diri karena alasan itu dan pernikahan mereka akhirnya gagal. Mereka mengembangkan kebiasaan saling mengkritik tindakan dan ucapan pasangannya. Sebagai hasilnya, suami terlambat kerja, kemudian kabur ketempat lain untuk menghindari rumah. Istri lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman dan tetangga atau mencari kesenangan lain diluar untuk memenuhi pikirannya. Mereka berdua menginginkan kedekatan dan intimasi, tapi semangan kritik mereka membuat tembok diantara mereka.

Saya bisa mengatakan satuh hal terakhir alasan kita harus menghindari kritik. Itu memusnahkan energi yang seharusnya digunakan untuk kemuliaan Tuhan. Kita semua tahu bahwa kita harus percaya Tuhan saat kita dikritik, tapi kita juga manusia. Kita menghabiskan banyak waktu memikirkan dan mengkhawatirkan tentang perkataan tidak enak dari orang lain terhadap kita, dan itu mengeringkan kita secara emosi. Itu mungkin membuat kita terjaga dimalam hari dan sangat mempengaruhi kerja kita besok harinya. Seperti yang sudah kita ketahui, kritik sering diarahkan pada pemimpin Kristen—pastor, tua-tua, majelis dalam gereja. Sedewasa apapun mereka, itu tetap menyakitkan dan menghalangi kemampuan mereka untuk melayani secara efektif. Mereka perlu belajar bagaimana menerima kritik, tapi itu tidak menghilangkan tanggung jawab orang yang melontarkannya. Mereka akan bertanggung jawab pada Tuhan untuk kerusakan yang mereka lakukan terhadap pekerjaan Tuhan.

Kritik negative merupakan racun yang membunuh semangat pemimpin Kristen dan menghalangi mereka mengembangkan pekerjaan Tuhan. Itu merupakan penyakit yang menular yang menyebar diantara umat Tuhan, dan bisa mengubah komunitas kasih orang percaya menjadi ladang pertempuran. Itu merupakan martil yang menghancurkan pernikahan, dan kehidupan. Itulah alasan Yesus berkata, “Jangan menghakimi.” Berhenti berdiam atas kelemahan orang lain.

Peringatan

Perhatikan apa yang Yesus tambahkan atas seruan untuk tidak menghakimi—“supaya kamu tidak dihakimi” (Matthew 7:1). Dia terus menjelaskan peringatan ini dalam ayat berikutnya, “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Ini yang kita sebut sebagai prinsip boomerang. Kita mendapat apa yang kita lakukan pada orang lain. Jika kita memberi mereka kritik negative, menuduh mereka, memarahi mereka, dan menghakimi motivasi mereka, kita tidak akan menikmati hasilnya. Disatu sisi, mereka akan menghakimi kita terlalu kritis dan mulai menjauhi kita, kebalikan dari harapan kita.

Mari saya ilustrasikan apa maksud saya. Mitos Yunani menceritakan seorang dewa bernama Momus yang merupakan dewa yang suka mengejek. Tidak peduli semua dewa lain digunung Olimpus memuji seseorang, Momus mengkritiknya. Satu kali Jupiter, Minerva dan Neptune mengadakan suatu kontes untuk melihat siapa yang bisa membuat hal yang paling sempurna. Cerita berlangsung, Jupiter membuat manusia, Neptune banteng dan Minerva kuda. Momus menemukan kesalahan dalam manusia karena dia tidak memiliki jendela didadanya dimana pikiran jiwanya bisa terbaca. Dia mengkritik banteng karena tanduknya tidak dibawah mata agar bisa melihat apa yang diterjangnya, dan kuda karena tidak ada kendali sehingga bisa disingkirkan dari tetangga yang buruk. Momus menjadi tidak popular diatara dewa lain sehingga akhirnya mereka membuangnya dari gunung.

Sebagian dari kita bertanya kenapa orang menghindari kita dan kenapa lingkaran teman kita menghilang. Bisakah itu karena kita mendorong mereka melalui kesalahan mereka? Mereka mungkin memperlakukan kita seperti itu juga, mengkritik kita karena kita mengkritik mereka, menjauhkan kita, “Jangan menghakimi supaya kamu tidak dihakimi.”

Saat kita menghakimi seseorang, kita biasanya memberikan standar yang tinggi padanya. Dia akan menggunakan standar yang sama untuk menghakimi kita. Dan Tuhan bisa berlaku sama seperti itu. Ukuran yang kita gunakan bagi yang lain bisa menjadi ukuran Tuhan bagi kita. Apakah anda mengertai kenapa? Karena kita umumnya melakukan hal yang sama seperti orang lain lakukan.

Paulus menyatakan prinsip ini: “Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama” (Romans 2:1). Dia mengatakan hal ini pada orang Yahudi yang menghakimi non Yahudi karena dalam hal yang sama mereka juga bersalah, tapi pernyataan ini merupakan pengertian mendalam terhadap nature manusia. Hal yang paling kita kritik dalam diri orang lain biasanya merupakan hal yang kita sendiri juga kurang. Kita tidak menyukai hal itu, tapi kita cenderung mengabaikannya. Melihan hal itu dalam diri orang lain mengingatkan kita, tapi daripada menghadapinya dalam hidup kita, kita menfokuskan perhatian pada orang lain. Selama kita melakukan ini, kita tidak bisa mengabaikan untuk merubah diri kita. Dan jika kita bisa memperhatikan itu, itu tidak akan memberi tekanan pada kita untuk berubah.

Tapi itu tidak akan berhasil. Prinsip boomerang kembali kekita. Saat kita menyatakan kekurangan mereka, yang lain bisa berkata pada kita, “Oh, jadi itu masalahmu?” Mungkin anda pernah mendengar seseorang berkata, “Anda seorang penggosip yang kejam.” Dalam segala hal dia merupakan orang yang terus menjelekan orang lain. Orang yang sangat keras pada orang lain biasanya memiliki banyak hal yang disembunyikan. Sebagai contoh, atasan yang paling keras terhadap bawahan yang kemudian menjadi pencuri, biasanya seorang yang menyembunyikan kesalahan besar dalam bisnis. Pemimpin gereja yang paling menghakimi orang percaya yang terlibat dosa mungkin menyembunyikan dosanya sendiri.

Tapi itu tidak bisa terus disembunyikan. Jika kita tidak mengatasinya, Tuhan pasti. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matthew 7:1,2).

Kontradiksi

Kristus menambahkan satu hal lagi mengenai kritik, yaitu orang yang tidak sempurna menunjuk ketidaksempurnaan orang lain. Kristus menekankan kekonyolan itu saat Dia berkata, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu?” (Matthew 7:3,4). Kata butir datang dari kata kerja yang artinya “mengeringkan” Itu menunjuk pada materi kecil yang bisa masuk pada mata, seperti debu, kapur, jerami, atau wol. Itu bisa menunjuk pada hampir semua hal yang kecil. Balok sangat tepat, suatu papan berat yang biasa digunakan untuk palang dalam bangunan. Ada pelajaran bagi kita dari balok dan selumbar.

Bisakah anda membayangkan seseorang dengan balok menyangkut dimatanya—suatu potongan kayu, batang pohon, atau kayu bangunan? Dan dia sedang mencoba mengeluarkan debu dari mata temanya. Itu suatu pemandangan yang lucu. Dan itulah maksud Tuhan. Orang yang malang dengan butiran debu dimatanya bisa berakhir tidak ada mata, dan benjol dikepalanya, dan kehilangan gigi, dan mungkin yang lebih besar lagi. Maksudnya adalah kita biasanya menyalahkan sesuatu yang kita sendiri melakukannya, dan orang lain terlukan saat kita mencoba memperbaiki mereka sebelum kita memperbaiki diri kita dulu.

Seseorang yang menyalahkan orang lain tapi sebenarnya lebih salah dari orang itu disebut munafik. Kata Yesus, “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matthew 7:5). Seorang munafik adalah wanita yang berkata, “Jika suami saya lebih bertanggung jawab, pernikahan kita akan meningkat,” dimana dia sendiri tidak memenuhi tanggung jawabnya. Atau seorang pria yang berkata, “Kita bisa lebih bahagia jiwa istri saya belajar menghargai uang,” disaat dia baru membeli senapan baru, atau satu set peralatan golf. Seorang munafik adalah seorang yang berkata,”Gereja tidak memikirkan memenangkan jiwa,” dimana dia sendiri tidak membawa orang kepada Kristus. Atau “Gereja itu tidak peduli pada manusia,” dimana dia sendiri hampir tidak mungkin disuruh menolong orang lain. Seorang munafik adalah pastor yang menulis keluhan pada dewan misi tentang seorang misionaris yang sering mendengar pertandingan sepak bola melalui radio, dimana dia sendiri penggemar olahraga terbesar digerejanya.

Biarlah Tuhan membuat kita melihat hidup kita sendiri dan membuat kita terlibat dalam kritik diri yang jujur. Kapanpun anda menyalahkan orang lain, minta Tuhan menunjukan kesalahan anda sendiri. Kemudian minta Dia menolong anda bertumbuh dalam wilayah itu. Berdoalah seperti Daud, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Psalm 139:23,24, KJV). Doa itu akan menjaga kita tidak terlalu kritis pada orang lain. Dan itu membawa kesembuhan dalam hidup kita dan hubungan kita.


1 Ed Wheat, Love Life for Every Married Couple (Grand Rapids: Zondervan Publishing Company, 1980), p. 126.

2 Ibid., p. 141

Taxonomy upgrade extras: 
Passage: 
Ad Category: